Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 87 : Serangan di Osaka


__ADS_3

Meskipun serangan yang berada di Tokyo sudah berhasil dihentikan oleh Ryuzaki dan para Exception lainnya disana, tapi masalah belum selesai begitu saja karena serangan di Osaka dan Nagoya belum berhasil dihentikan.


Daerah Kyoto yang dikuasai oleh Black Rain juga masih belum menunjukkan tanda-tanda akan memenangkan pertarungan karena kedua pihak masih sama-sama seimbang dengan para Assassin itu. Bahkan Oita-san dan Astaroth masih bisa berbincang-bincang dalam sela-sela pertarungan mereka.


"Hah … hah … hah … kau tahu? Apa kau sudah mulai kelelahan? Nampaknya pemenang pertarungan ini sudah semakin kelihatan jelas," ucap Astaroth.


"Hah … hah … hehe … terus saja bicara. Ucapanmu tidak akan ada artinya lagi saat kau mati."


Meskipun keduanya sudah kelelahan, tapi pertarungan mereka masih jauh dari kata selesai. Dan saat jeda itu, Oita-san sempat mengatakan sesuatu.


"Oi Astaroth, kau pikir seranganmu di kota-kota lain akan berhasil? Hehe … aku meragukan hal itu."


"Kenapa tiba-tiba kau berbicara seperti itu?"


"Karena aku yakin mereka akan melakukan apapun untuk melindungi sesuatu yang mereka sayangi, entah itu kota atau orang-orang dekat mereka."


Oita-san mengatakan hal itu berdasarkan pengalaman yang ia rasakan saat Hayashi bertarung dengan Iraya. Tiba-tiba Iraya menjadi sangat kuat dan berhasil mengalahkan Hayashi dalam pertarungan yang tidak seimbang itu.


Jadi Oita-san yakin, asalkan ada sesuatu yang ingin mereka lindungi, mereka akan menjadi lebih kuat dari biasanya.


**


Sementara itu di Osaka, serangan besar juga sedang terjadi disana. Dan raksasa yang menyerangnya adalah seekor ular raksasa yang dinamai oleh Astaroth sebagai World Serpent.


Yukimura Ren sebagai pemimpin dari Yellow Thunder, yaitu salah satu anggota Kuni no Hashira yang bertempat di Osaka tentu saja tidak akan tinggal diam. Ia menyuruh anggota-anggotanya yang lain untuk menyelamatkan para warga terlebih dahulu dan mencoba meminimalisir korban yang berjatuhan.


Dan setelah itu, Yukimura sendiri yang akan melawan World Serpent yang sedang mondar-mandir menghancurkan kota tanpa ada yang mengganggunya. Ular itu menyerang seluruh orang yang ada dibawahnya tanpa pandang bulu.


Meskipun tubuhnya besar, tapi gerakannya lincah dan cepat bagaikan ular biasanya. Seakan gravitasi tidak bekerja pada makhluk satu ini. Tapi meski begitu, Yukimura tidak gentar sama sekali dan berdiri di depan World Serpent yang sedang melesat ke arahnya.


"Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan kotaku lebih dari ini!"


"SiiiSssHhhHh …!!!"


Desisan ular keluar dari World Serpent bersamaan dengan dia yang mempercepat gerakannya langsung lurus menuju Yukimura.


Tapi tiba-tiba Yukimura mengeluarkan aura yang sangat besar dan tubuhnya juga ikut membesar setinggi kira-kira 15 meter. Ular itu membuka mulutnya lebar-lebar dan bersiap menelan Yukimura yang sudah membesar bulat-bulat. Tapi Yukimura tidak membiarkannya semudah itu karena, ia menahan agar dirinya tidak dimakan hidup-hidup.


Duuummm… Duaaarrrr…


"Mau memakanku? Aku sarankan kau cari mangsa yang lain seperti kelinci atau tupai sana!"


Karena Yukimura menahan pergerakan World Serpent secara paksa menimbulkan dentuman keras akibat hantaman mereka berdua. Tapi tidak berhenti sampai disitu saja, Ular itu masih berusaha untuk menyerang meskipun pergerakannya sudah ditahan.


Cyuusshh…


"Apa?!"


Yukimura yang sedang menahan mulut World Serpent yang terbuka tiba-tiba dibuat terkejut karena terdapat cairan racun yang berwarna ungu pekat yang disemprotkan dari saluran racun dari dalam mulutnya. Beruntung Yukimura masih dapat menghindari semprotan racun itu dan menyemprot ke belakangnya.


Cssshhh…


Saat ia menengok ke belakang kearah racun yang sudah mengenai aspal jalanan, racun itu ternyata mengandung semacam asam yang dapat melelehkan sesuatu. Terbukti dari aspal di belakangnya yang mulai meleleh.


Yukimura kembali fokus kepada musuh yang berada di depannya saat ini. Ia sadar kalau musuh di depannya lebih berbahaya daripada sekedar menghancurkan bangunan dengan tubuhnya saja.


Jadi ia mencoba memikirkan suatu cara agar ular ini tidak menimbulkan kerusakan lebih dari yang sudah ia lakukan sekarang.


Kerugian bagi kota Osaka pasti sangat besar mengingat banyak gedung perkantoran, perumahan, serta tempat-tempat umum yang hancur. Yukimura mencoba melirik ke kanan dan kirinya sambil mencari tempat yang bisa ia gunakan sebagai tempat pertarungan.


Dan ia menemukannya.


Sungai Yodo, sungai panjang yang melintasi kota Osaka. Lebarnya cukup besar dan muat untuk besar tubuh ular itu serta tubuh Yukimura sendiri. Jadi Sungai Yodo adalah tempat yang tepat dan juga paling dekat dengan tempat pertarungan mereka saat ini.


"Baiklah!"


Yukimura merubah posisinya yang tadi sedang menahan mulut ular itu menjadi menutupnya dan mengunci leher ular itu dengan kedua tangannya.


"Sial! Kau berat sekali!"


Brrruukkkk…


Dan dengan sekuat tenaga, Yukimura mengangkat ular sepanjang 25 meter itu keatas dan membantingnya ke belakang dengan keras. Ia berhasil melakukannya dan membuat ular itu berada dalam posisi terbalik, sementara Yukimura langsung berdiri dan melepas kunciannya dari leher World Serpent.


"Hahaha …. Ternyata bantingan itu bukan hanya untuk manusia!"


Yukimura tertawa keras dan membuat ular itu terprovokasi. Tidak lama baginya untuk memutar badannya kembali dan bersiap untuk menyerang Yukimura lagi. Desisan kemarahan kembali terdengar dari ular itu, kali ini ia menghentikan niatnya untuk menghancurkan kota dan fokus kepada Yukimura saja.


"Ohoho … kau marah? Memang seharusnya begitu! Sekarang ikuti aku!"


Yukimura berlari menuju ke arah Sungai Yodo yang sejak awal ia berencana untuk pergi dan bertarung di sana. Dan karena World Serpent sudah terpancing emosi dan berfokus pada Yukimura, ia pun akhirnya terpancing olehnya dan mengikuti Yukimura ke Sungai Yodo.


Setelah berlari sampai ke Sungai Yodo, Yukimura kemudian melompat ke dalam air dan ternyata airnya tidak mencapai tinggi lututnya. Padahal sungai ini cukup dalam dan terlihat seperti kolam renang anak-anak bagi Yukimura yang sekarang.


Di belakangnya, nampak World Serpent yang menggeliat dan melesat sangat cepat mengejar Yukimura. Ia juga sudah sampai di Sungai Yodo dan masuk ke dalam air juga. Sama seperti Yukimura, Sungai Yodo juga bagaikan kolam renang anak-anak bagi World Serpent.


"Sekarang aku bisa lebih leluasa," gumam Yukimura.


"ShiiisSshhHh …!!"


Pertarungan mereka akan kembali dimulai, tapi di tempat yang berbeda dan Yukimura bisa mengeluarkan semua kemampuannya.


Di tempat lain, di tempat yang cukup jauh dari area pertarungan Yukimura melawan World Serpent. Ada seorang pria tua yang sedang berdiri di tengah jalan yang hancur karena serangan World Serpent tanpa takut.


Ia adalah Ivis, salah satu anggota Assassin yang melepas para monster-monster ke jalan dan juga World Serpent. Dengan pakaian butler yang selalu ia pakai membuatnya seakan menjadi seseorang yang penting dan berwibawa.


"Pertarungan mereka akan segera dimulai. Aku akan melaporkan hasilnya kepada Astaroth-sama."


"Kyaa!!"

__ADS_1


Tiba-tiba ada seseorang yang terjatuh di depannya, seorang wanita dewasa yang memakai baju kantoran. Penampilannya terlihat sangat kotor dan wajahnya menunjukkan raut ketakutan.


Ivis kemudian berjalan mendekati wanita itu dan mengulurkan tangannya berniat untuk membantunya berdiri dan wanita itu dengan senang hati menerimanya.


"Apa anda tidak apa-apa?" tanya Ivis.


"Te-terima kasih— Hiiih!"


Di belakang wanita itu ternyata ada salah satu monster yang mengejarnya dan melihat keberadaan wanita itu. Wanita itu sangat ketakutan dan berlindung di balik Ivis.


"Tolong aku!"


"Maafkan aku, tapi apa yang bisa dilakukan oleh kakek tua sepertiku?"


"Kyaa!"


Mendengar kalau Ivis tidak bisa membantunya membuat wanita itu putus asa dan berlari meninggalkan Ivis dengan monster itu berdua. Ia berlari dengan sisa tenaganya yang tersisa, tapi sayangnya monster itu berlari lebih cepat darinya.


"GroaAakHh …!!!"


"Tidak!!"


Craasshh…


Teriakan wanita itu seketika berhenti ketika kepalanya sudah masuk ke dalam mulut monster itu dan kuku tajamnya juga sudah menembus dada sampai ke punggungnya. Monster itu kemudian langsung memakan perempuan yang sudah mati itu di tempat itu juga.


Sementara Ivis tidak bereaksi apa-apa dengan yang sudah terjadi di depannya, seakan itu adalah hal yang biasa bagi dirinya. Ia kemudian berjalan meninggalkan monster yang sedang sibuk makan itu sendirian.


"Masih banyak yang harus kuurus," ucapnya sambil berjalan pergi.


**


Keadaan di daerah perumahan dan pusat perbelanjaan sangat kacau. Daerah Osaka tidak memiliki Exception sebanyak yang berada di kota Tokyo, jadi mereka merasa kesulitan menghadapi gempuran ratusan monster ini.


Monster-monster itu tidak hanya menyerang manusia tapi juga memakannya seakan mereka adalah hewan karnivora yang kelaparan. Tidak pandang bulu siapapun manusia yang ada di depannya, monster itu pasti akan menyerangnya.


Di salah satu rumah yang semua lampunya telah dimatikan, orang di dalamnya terlihat tengah berjaga di dalam ruang tamu berjaga-jaga jika ada monster yang masuk ke dalam rumahnya. Dan rumah itu adalah rumah milik Hayate Kendou.


"Sebenarnya apa yang sedang terjadi saat ini?"


Sebelumnya ia sempat melihat keluar rumah lewat jendela dan melihat Yukimura yang sedang bertarung melawan seekor ular raksasa. Lalu juga ada peringatan soal berkumpul di kantor Yellow Thunder untuk tempat yang aman dari para monster.


Ia tidak tahu apapun karena ia sedang tidur sebelumnya dan saat ia bangun, keadaannya langsung menjadi kacau begini. Sebenarnya ia sudah mendapat panggilan karena ia adalah seorang Exception dan disuruh untuk membantu mengalahkan para monster yang berkeliaran.


Tapi ia mengesampingkan hal itu dulu, karena ia masih memiliki hal yang lebih penting saat ini.


"Hoaamm … Kendou-nii, kenapa berisik sekali?"


"Psst … diam sebentar, Hana-chan."


Seorang perempuan yang sepantaran anak SMP keluar dari kamar dalam keadaan masih mengantuk dan mengusap-usap matanya. Tapi ia langsung sadar saat kakaknya menyuruhnya untuk diam dengan cara menutup mulutnya dengan kedua tangan kakaknya.


"A-Ada apa?!" tanya Hana-chan.


"Kesini."


Braaakhh…


Saat suaranya semakin mendekat, Hayate menarik Hana-chan masuk kembali ke dalam kamarnya dan mereka berdua pun bersembunyi di dalam. Monster setinggi tiga meter itu masuk ke dalam rumah Hayate dengan mendobrak pintu depan.


Sepertinya ia tertarik masuk ke rumah Hayate karena mendengar percakapan mereka berdua. Monster itu berjalan pelan sambil mencari keberadaan Hayate dan adiknya yang sedang bersembunyi di dalam kamar. Ia menengok ke kanan dan kiri lalu tertarik pada salah satu pintu, yaitu pintu kamar.


Monster tadi kemudian mendekati pintu kamar itu dan lalu membukanya.


Syiiing… Swuuushh… Craaassh…


Saat membuka pintu kamar, monster itu langsung ambruk dan mati dengan pisau dapur yang tertancap di belakang kepalanya. Hayate bukan tanpa persiapan tadinya. Ia sudah mengambil pisau dapur sebagai senjata dadakan untuk melindungi dirinya dan dugaannya pun benar.


Dan soal serangannya barusan, ia menempelkan sedikit auranya pada pisau itu dan melemparnya melewati samping kepala monster itu. Saat sudah melesat melewati belakang kepalanya, Hayate langsung melakukan teleportasi kesana dan menusuk kepala belakang monster itu.


Semuanya terjadi sangat cepat dan selesai hanya dalam sekali kedipan mata Hana-chan saja. Setelah monster itu mati, Hayate langsung menghampiri adiknya lagi. Ia masih duduk menyandar di tembok sambil memasang wajah ketakutan dan kedua tangannya masih berada di mulutnya. Hayate pun mendekat dan mencoba menenangkannya.


"Rumah kita sudah tidak aman. Kita harus pergi ke tempat yang lebih aman di kantor Yellow Thunder, apa kau mengerti?"


Hana-chan hanya mengangguk pelan saja menuruti apa yang kakaknya katakan. Meskipun saat ini ia masih mengenakan piyama tidurnya, tapi mereka tidak memiliki waktu untuk berganti baju.


Setelah bersiap sebentar, akhirnya mereka berdua keluar dengan perlahan dari rumah. Diluar suasananya lebih kacau dari yang mereka duga dengan Yukimura dan seekor ular raksasa yang sedang bertarung di kejauhan, membuat semuanya seakan menjadi paket lengkap.


"Kacau sekali," gumam Hayate.


"Bagaimana ini, Kendou-nii?"


"Tenang saja, aku akan memikirkan sesuatu."


Ada banyak monster yang berkeliaran di jalanan depan rumah Hayate. Sebenarnya mudah baginya untuk melewati monster-monster itu jika ia sendirian, tapi saat ini ia bersama dengan adiknya yang tidak mungkin ia tinggal sendiri. Jadi ia harus memikirkan rencana lain.


"Untuk sekarang, kita jalan perlahan sejauh yang kita bisa," ucap Hayate.


Adiknya hanya mengangguk setuju dan kemudian mengikuti Hayate dari belakang secara perlahan. Mereka mencoba setenang mungkin dan tidak ingin terlihat oleh monster itu.


Sejauh ini mereka masih berhasil untuk berjalan mengendap-endap, tapi hal itu tidak berlangsung lama karena satu kejadian yang membuat mereka ketahuan.


"Hiii!"


Hana-chan tidak sengaja berteriak karena melihat mayat yang jatuh tepat di depannya. Hal itu membuat monster-monster tadi mengetahui keberadaan mereka berdua.


"GrrRrouggHh …!!!"


"Sial! Ayo, Hana-chan!"

__ADS_1


Hayate berlari dan menarik tangan Hana-chan yang berada di belakangnya karena bersembunyi sudah tidak ada gunanya lagi. Monster-monster itu berlari dengan sangat cepat meskipun Hayate masih lebih cepat dari mereka.


Tapi Hana-chan tidak bisa mengimbangi kecepatan Hayate yang menarik tangannya saat ini dan ia pun kemudian terjatuh.


"Uwaa—! Eh?"


Sebelum Hana-chan terjatuh, Hayate masih bisa menangkapnya dengan baik dan menggendongnya seperti seorang Putri. Ia tidak memperlambat langkahnya sama sekali dan masih terus berlari.


"Pegangan yang erat!"


"Ba-Baik."


Ada dua monster yang menghalangi jalan mereka dan Hayate sudah bersiap untuk melempar anak panah yang sengaja ia bawa. Tanpa menggunakan busur panahnya, Hayate melempar anak panah tadi di tengah-tengah kedua monster itu sampai melewati mereka.


Syiiing…


Hayate berhasil berteleportasi melewati kedua monster itu tanpa kesulitan yang berarti dan ia juga tidak berhenti berlari. Tapi berbeda dengan Hana-chan yang tiba-tiba merasakan pusing dan mual seakan ingin muntah.


"Ke-Kendou-nii …."


"Jika ingin muntah tahan sebentar lagi, kita akan segera sampai di tujuan kita."


Tinggal beberapa blok lagi sebelum mereka sampai di kantor Yellow Thunder. Tapi halangan mereka juga tidak kalah berat, selain monster-monster tadi, jalanan rusak juga menjadi hambatan yang cukup merepotkan bagi Hayate.


Setelah berlari selama beberapa menit, akhirnya mereka berdua bisa melihat gerbang depan kantor Yellow Thunder.


"Itu dia! Kita akan segera sampai! Apa—?"


Tapi tiba-tiba ada banyak monster yang datang mengelilingi Hayate. Mereka tidak membiarkan Hayate untuk pergi dan bersiap untuk menjadikannya makanan mereka.


"GrrRrouggHh …!!!"


"Tcih! Makhluk sialan, aku akan mengurus kalian nanti!"


Ada sekitar sepuluh monster yang mengelilingi Hayate dan adiknya saat ini. Keadaan ini cukup gawat bagi Hayate sekarang. Hana-chan juga terlihat sangat ketakutan dan memegang baju Hayate dengan sangat erat.


"Berpikirlah!"


Hayate berpikir sangat keras dan setelah beberapa saat akhirnya ia menemukan suatu ide yang tentu saja tidak akan membahayakan adiknya. Hayate kemudian menurunkan adiknya yang dari tadi sedang ia gendong.


Hayate kemudian mengambil semua anak panah yang ada di dalam sarungnya dan mengarahkannya ke atas dan ke depan pintu gerbang kantor Yellow Thunder.


Sekarang persiapannya telah selesai dan Hayate pun berbicara kepada Hana-chan.


"Tahan rasa pusingnya sedikit lagi, ya?"


"Hn?"


Meskipun Hana-chan masih belum mengerti dengan yang dimaksud oleh Hayate, tapi ia mempercayakan semuanya kepada kakaknya karena ia tahu kalau Hayate tidak pernah membahayakan adiknya.


"Aku mengerti."


"GrrRrouggHh …!!!"


Monster itu mulai menyerang dan berlari kearah Hayate yang berada di tengah lingkaran mereka. Sementara Hayate hanya memeluk adiknya dengan erat begitu pula dengan Hana-chan yang memeluknya sambil menutup matanya.


Syiiing…


Saat Hana-chan membuka matanya, mereka berdua sudah berada di depan gerbang kantor Yellow Thunder dan Hayate melepaskan pelukannya dari Hana-chan.


"Apa kau merasa pusing?"


"Nn, sedikit."


"Tapi sekarang kau sudah aman, kalau kau masuk ke dalam maka tidak ada lagi yang perlu kau khawatirkan."


Craasshh… Craaassh… Craaassh…


Tiba-tiba sepuluh monster yang tadi menyerang Hayate semuanya dibunuh oleh beberapa Exception dari Yellow Thunder yang sedang berjaga di sekitar kantornya. Setelah membunuh semuanya salah satu dari mereka mendekati Hayate.


"Hayate, akhirnya kau datang juga."


"Maaf aku terlambat, ada sesuatu yang harus aku urus."


"Jika sudah selesai cepat bergabung bersama kami karena kami sedang kekurangan orang saat ini."


"Aku mengerti."


Exception itu pun kemudian pergi dan kembali berpatroli di sekitar kantor Yellow Thunder. Sementara Hayate juga ingin pergi bersama mereka, tapi Hana-chan tiba-tiba berteriak menghentikannya.


"Kakak juga ingin pergi kesana juga?! Di sana berbahaya!"


"Hmm? Apa kau meremehkan kekuatan kakakmu? Padahal aku ini kuat, lho."


"Aku tahu, sih. Tapi kan mereka banyak membunuh orang."


Hayate hanya tersenyum melihat adiknya khawatir kepadanya. Meskipun begitu ia senang karena berarti adiknya menyayangi dirinya. Hayate pun kemudian mendekati Hana-chan.


"Aku pasti kembali dengan selamat. Oh iya, nanti setelah ini aku akan membuatkanmu kari kesukaanmu sejak kecil, bagaimana?"


"A-Aku bukan anak kecil lagi!" teriak Hana-chan.


"Ehehe … maaf, maaf."


"Hah ... kakak ini. Baiklah, hati-hati di jalan."


Hayate mengangguk pelan lalu kemudian membalikkan badannya dan segera pergi mengejar Exception lain yang sudah pergi duluan. Tapi sebelum itu ia sempat berbicara sesuatu.


"Aku pergi dulu." Dan kemudian ia pun pergi.

__ADS_1


Yukimura, Hayate, dan yang lainnya sedang berjuang menyelamatkan kota dan orang-orang tersayang yang ada di dalamnya dari serangan monster ini. Agar bisa melanjutkan kehidupan normal yang biasa mereka jalani.


Bersambung


__ADS_2