
"Kalau begitu aku akan serius."
"Sudah aku tunggu dari tadi, dasar sialan."
Jadi maksudmu kau tidak serius dari tadi? Yang benar saja?! Apa ini terlihat main-main bagi dirinya. Tapi sekarang jika benar-benar dia serius, tentu pertarungan ini akan menjadi lebih ketat. Aku tidak tahu sejauh apa perubahannya ketika dia serius.
Zwuushh...
"A-Apa?!"
Baram menghilang dari tempat dia berdiri dan seketika berada di sampingku. Aku dapat merasakan aura membunuh yang kuat dan tendangan penuh tenaga kini berada di samping kepalaku, jika tidak menghindar aku akan mati!
Aku berhasil menarik kepalaku pada detik-detik terakhir, membuat tendangan Baram menghempas angin dan efek serangannya membelah semua yang dilewatinya retak menjadi dua dari lantai sampai dinding.
Beberapa butir keringat turun dari dahiku ketika melihat bekas retakannya. Tapi aku tidak bisa memperhatikannya terlalu lama, karena serangan berikutnya segera datang.
Kuda-kudanya berubah. Kini ia lebih banyak menyerang menggunakan kaki daripada pukulan-pukulan tak beraturan seperti sebelumnya. Apa-apaan perubahan drastis gaya pertarungan yang tak masuk akal ini!
Baram kembali mengarahkan tendangannya, kali ini dengan tendangan vertikal dari atas ke bawah. Aku melompat mundur ke belakang, itu lebih mudah dihindari— setidaknya daripada serangan yang sebelumnya. Tapi dampak serangannya lebih besar dari sebelumnya dan menyebabkan seluruh lantai ini rubuh.
"Uwoow!"
Kami berdua jatuh ke lantai di bawah kami. Tapi meskipun sedang jatuh bebas, Baram tidak mengendurkan serangannya. Ia menghampiriku dengan melompat dari satu puing keramik ke puing lainnya sebagai pijakan dan dengan cepat melesat ke arahku.
Gawat. Aku yang tidak memiliki pijakan tidak bisa menghindar di udara dan terpaksa harus menahan serangannya. Kali ini ia mengarahkan pukulan, tapi saat aku menyilangkan tanganku, sesuatu mengenai pinggangku dengan telak.
Pukulan yang sebelumnya hanyalah sebuah tipuan dan serangan yang asli adalah tendangannya. Aku terpental ke samping, tapi Baram terus mengejar dan menyerangku tanpa henti. Sampai pada akhirnya, ia memukulku ke bawah sampai menimbulkan kawah seukuruan tubuhku.
Benturan dengan tanah itu membuatku muntah darah dan sakit di seluruh tubuhku. Sialan. Jadi ini yang dia maksud dengan serius, aku benar-benar tidak diberi kesempatan untuk menyerang dan untuk mengeluarkan apapun.
Beberapa bagian zirah auraku sudah mulai hancur di sana sini. Aku harus mencari cara untuk mengatasi kecepatannya atau hal itu akan menjadi sesuatu yang gawat.
Aku membutuhkan sesuatu.
Tiba-tiba dalam bayanganku terdapat sebuah ruangan gelap gulita tanpa cahaya sedikitpun. Aku tidak tahu itu berasal dari mana, tapi pikiranku tiba-tiba membayangkan ruangan gelap itu. Setelah ruang gelap, aku melihat sebuah sumber api kecil di ruangan gelap itu— sangat kecil bahkan jika kau menginjaknya, api itu akan padam.
"??!!"
Braakhh...
Kembali lagi. Sebentar saja aku berpikir, dia sudah melesat dan menyerangku lagi. Beruntung kali ini aku dapat menghindarinya dan rol belakang menjauh darinya untuk beberapa saat.
Aku berdiri dengan kepayahan, tidak tegak tapi mengambil kuda-kuda sambil memegangi perutku yang rasanya seperti hancur di dalam.
Zwuushh...
Tapi kembali dia dapat menjangkauku dengan mudah, mempersempit jarak di antara kita berdua dan wajahnya sudah berada persis di depan mataku. Ia mengarahkan tinjunya tepat ke depan wajahku dan mengenainya dengan telak, membuatku kembali terpental menabrak tembok.
"Hnm?"
Tapi saat aku terkena pukulannya, aku berhasil mendaratkan sebuah sayatan kecil di pipi Baram— meskipun itu sangat tidak sebanding dengan pukulan yang aku terima.
"Kau masih belum menyerah, ya?" ucapnya.
"Menyerah? Aku tidak tahu apa yang kau katakan. Bajingan kotor sepertiku tidak punya apa-apa selain kemenangan dan senyuman orang-orang yang aku selamatkan, jadi tidak boleh ada kata kalah di dalam kamusku!"
Aku kembali berdiri. Mulut dan hidungku sudah mengeluarkan darah. Meskipun aku bermulut besar tadi, tapi itu murni hanya sebuah gertakan. Jika aku tidak bisa menemukan sesuatu yang berguna dalam waktu dekat, aku akan mati dalam pertarungan ini.
"???"
Ruangan gelap itu kembali muncul di dalam kepalaku. Kali ini api yang berada di lantai menjadi lebih besar dari sebelumnya, tapi itu tidak cukup untuk membuat ruangan itu menjadi lebih terang. Seakan bagaikan api unggun di dalam hutan belantara yang tidak bisa menerangi seluruh penjuru hutan.
Aku tidak bisa berhenti membayangkannya sejak tadi. Tapi aku membutuhkan sesuatu saat ini, hal mutlak yang dapat menahan semua serangannya. Apa aku bisa menemukannya dalam waktu darurat seperti ini? Aku sendiri juga tidak tahu.
Aku harus fokus lagi pada pertarungan. Nafasku mulai tidak teratur dan zirah auraku juga mulai luntur. Ini tidak bagus. Baram kembali mengambil kuda-kuda, kali ini dengan kuda-kuda yang berbeda dari sebelumnya. Sial. Sebenarnya ada berapa teknik beladiri yang ia miliki, sih?
"Aku akan mengakhiri hidupmu yang menyedihkan itu!"
"Coba saja kalau bisa!"
Baram melesat kembali ke arahku, sementara aku menunggunya berada dalam jarak seranganku. Dengan cepat dia sampai, aku kemudian mengincar ke arah wajahnya dengan pukulan brass knuckles telak.
Tapi dia dengan lihai menghindarinya seolah hal itu lambat dalam pandangannya. Bersamaan dengan itu, ia menangkap pukulanku dan menarik tanganku ke belakang, membuatku dalam posisi terkunci.
Aku mencoba memberontak melepaskan diri dari kunciannya, tapi ia mengetahui hal itu dan mematahkan siku tangan kananku dengan lututnya.
"ArrgGhh ...!!"
"Kau lengah di detik-detik akhir."
Baram kemudian menendang punggungku dan membiarkanku terpental menjauh lagi. Ia berjalan pelan ke arahku lalu menendang dan memukulku lagi. Aku bagaikan sebuah boneka yang sedang ditendang ke sana sini oleh bocah SD. Sial. Ini menyebalkan sekali.
__ADS_1
Setelah cukup lama aku ditendang kesana kemari, akhirnya Baram berhenti ketika aku bersandar di sebuah dinding perkantoran yang hampir rubuh. Tembok di belakangku menempel darahku yang mengalir perlahan tanpa henti dari luka di tubuhku.
Ia tidak lagi menendangku, melainkan terdiam memperhatikanku.
"Apa kau sudah mengerti?"
"Hah ... hah ... hah ...." Aku mencoba untuk mengangkat tubuhku dan berdiri, tapi rasa sakit di sekujur tubuhku tidak bisa menipuku.
"Semua trik kotormu itu tidak ada yang berpengaruh terhadapku. Karena dewa perang tahu siapa yang menghormati pertarungan dan siapa yang tidak. Apa kau bahkan tidak mengerti hal semudah itu?"
Aku tidak bisa mendengar ocehannya dengan jelas. Sepertinya darah sudah memasuki lubang telingaku jadi tidak ada suara yang terlalu jelas bagiku lagi saat ini.
"Dan bahkan jika kau mati disini sekarang, tidak ada orang yang peduli dengan hal itu. Dunia akan terus berjalan, organisasimu akan terus beroperasi, tidak akan ada yang berubah sama sekali.
Bahkan jika aku menganggapmu cukup kuat, tapi itu tidak membuatmu bisa mengalahkanku. Dalam hal fisik, hanya Bos saja yang lebih baik dariku di organisasiku sebelumnya. Dan kau dengan entengnya mengajakku beradu kekuatan, bahkan sampai menggunakan trik-trik kotor."
Awan malam ini bergerak dengan cukup cepat, membuat sinar bulan purnama yang awalnya tertutup kini terlihat dengan jelas dan masuk lewat lubang-lubang puing, menyinari tempatku bersandar saat ini dan tempat Baram berdiri.
"Aku salah mengharapkan pertarungan mendebarkan melawanmu dulu, seharusnya aku menghentikan Satou Iraya, bukan dirimu. Menjijikan."
Baram melihatku dengan tatapan jijik. Tapi aku tidak bisa menyangkalnya. Aku memang seseorang yang menggunakan apapun untuk meraih kemenangan. Asalkan itu demi senyuman orang banyak, satu atau dua orang mati bukanlah hal yang besar bagiku.
Aku tidak cukup kuat untuk menyelamatkan semua orang sendiri— tanganku terlalu kecil untuk melakukan hal besar seperti itu. Jadi aku mengorbankan sebuah minoritas agar mayoritas bisa tetap hidup.
Aku juga tidak bisa menganggap cara yang aku lakukan itu benar. Tapi aku tidak punya pilihan lain, hanya itu yang bisa aku lakukan. Jika seseorang tahu dengan pemikiranku ini, maka tidak ada seorang pun yang tidak menaruh kebenciannya kepada diriku.
Blaarr...
Lagi-lagi imajinasi kobaran api di ruangan gelap itu muncul kembali. Apa itu imajinasi sebelum seseorang mati? Entahlah, aku tidak pernah merasakannya. Tapi kobaran api itu menjadi lebih besar daripada sebelumnya.
Entah itu akibat imajinasi api itu atau bukan, tapi tiba-tiba aku memiliki sedikit kekuatan untuk berdiri.
Aku pun mendorong tubuhku dan menyeimbangkannya lagi— kini aku berhasil berdiri meskipun tidak terlalu seimbang sambil memegangi tangan kananku yang patah.
"Sebenarnya ... apa yang coba kau buktikan?" Baram terlihat kesal ketika aku kembali berdiri dan tidak menyerah.
"Apa kau mencoba untuk menjadi keren sebelum kematianmu? Tidak akan ada yang melihatnya, tidak akan ada yang peduli juga! Kau akan mati seperti tikus got tanpa harga! Apa kau masih belum mengerti juga?!"
"Ahahaha .... Kau salah tentang satu hal, Baram."
"Hn?"
"Ada seseorang yang akan sedih jika aku tidak kembali. Karena aku yang tidak berharga ini ..., tidak semenyedihkan yang kau kira." Aku menunjukkan senyuman sombongku.
Ada banyak orang yang menungguku. Aku tidak boleh mati di sini sekarang. Karena ada yang menunggu kemenanganku!
"Begitu, ya? Kalau begitu matilah dengan rasa penuh penyesalan, Oukami Yuu!"
Dia melesat ke arahku. Lebih cepat dan lebih tidak bisa kuikuti dengan mata sekaratku ini. Serangan ini lebih kuat dan lebih mematikan dari yang sebelum-sebelumnya. Aku juga tidak bisa menghindarinya dengan tepat.
Sepertinya ... sudah selesai.
Oh iya, satu lagi.
Dalam semilidetik pemikiranku sebelum serangan Baram sampai padaku, aku sempat berpikir sesuatu. Jika ada sesuatu yang paling aku inginkan dalam pertarungan ini adalah .... Aku menginginkan kemampuan Arisu.
BLAAARR...
Api dalam ruangan gelap itu berkobar hebat. Memenuhi ruangan itu dan tidak ada kegelapan lagi di sana. Aku juga menyadarinya kalau aku sekarang berada di ruangan dengan kobaran api hebat itu.
Aku melihat ke kedua telapak tanganku yang masih utuh dan salah satunya masih bisa aku gerakkan, lalu tidak ada darah yang sebelumnya bercucuran di sekujur tubuhku.
Meskipun keadaan ini masih membingungkan untukku, tapi aku melangkahkan kakiku tanpa sadar ke pusat kobaran api itu, seolah ada seseorang yang menyuruhku untuk melakukannya.
Aku mengulurkan tanganku mencoba meraih dan menyentuh kobaran api itu. Dan ketika ujung jari tengahku menyentuhnya, ia langsung menyebar dengan cepat ke seluruh tubuhku seolah badanku dilumuri bensin.
Mataku melebar dan aku sempat terkejut, tapi aku menyadari kalau tidak ada rasa panas yang berarti yang diciptakan api ini. Melainkan sebuah kekuatan asing yang kini masuk dan menjelajah otakku.
Kekuatan asing itu perlahan menjadi kekuatan yang dapat aku kendalikan seolah itu adalah kekuatan yang aku pelajari sejak lama. Dan setelah mengetahui hal ini, aku pun menutup mataku. Kobaran api itu menghilang dan berubah menjadi partikel aura melimpah yang terbang ke atas.
Lalu aku membuka mataku.
Aku kembali ke dalam pertarungan, serangan Baram sebelumnya juga ada di depan wajahku. Tapi kali ini aku tidak merasa pasrah seperti sebelumnya, seolah aku bisa menghadapinya dengan kekuatan yang baru aku dapatkan barusan.
"Unique Skill : Untouchable."
Setelah aku merapalkan kata itu, serangan Baram sampai kepadaku. Menimbulkan dentuman serta efek yang menghancurkan semua yang ada di sekitar serangannya.
Baram sudah yakin dengan serangannya. Tidak ada keraguan kalau serangannya meleset, ia yakin kalau dirinya sudah memenangkan pertarungan ini. Tapi ada sebuah perasaan gelisah di dalam hatinya yang ia sendiri tidak mengerti.
Dan kegelisahannya itu pun menjadi kenyataan. Tinju yang ia gunakan untuk memukulku berlumuran darah. Tapi itu bukanlah darahku, melainkan darah Baram sendiri.
__ADS_1
"Apa?!"
"Apa kau pikir aku sudah kalah?"
Dari balik debu, aku yang tadinya sekarat dan babak belur— sekarang juga masih, sih. Tapi kini aku berdiri, tangan kananku yang patah juga belum sembuh. Sepertinya kobaran api itu memang hanyalah imajinasiku saja dan diriku yang sembuh juga demikian.
Tapi keadaanku sedikit berbeda, setiap inci tubuhku dilapisi oleh aura milikku. Kekuatan ini berbeda dengan kekuatan yang aku milikku. Aku juga masih bingung tapi sepertinya sekarang aku memilikinya. Unique Skill, ya? Ujung bibirku terangkat, akhirnya aku berhasil membangkitkannya!
Sementara Baram yang masih terkejut melompat mundur ke belakang. Wajahnya terlihat tidak senang dan geram.
"Sekarang trik kotor apalagi yang kau pakai?! Kau seharusnya sudah mati!"
"Seperti yang kau lihat, aku sekarang sudah tidak bisa dikalahkan olehmu."
"Apa?"
"Karena aku telah berhasil membangkitkan .... Puncak trik kotor milikku."
"Puncak trik kotor? Apa-apaan itu?!"
"Segala serangan fisik yang kau berikan padaku tidak akan mempan lagi padaku. Ini adalah teknik mutlak di mana aku tidak akan bisa disentuh oleh serangan fisik. Dengan kata lain, kau sudah tidak memiliki kesempatan untuk menang."
Zwuushh...
Tapi Baram tidak terima dengan hal itu dan langsung menyerangku. Ia juga tidak percaya dengan perkataanku, jadi dia ingin membuktikannya sendiri, ya?
"Untouchable." Tapi aku tidak berusaha menahan— bergerak pun tidak. Aku hanya merapalkan satu kata itu dan lapisan aura melapisi seluruh tubuhku.
Baram mengincar bagian wajahku. Tapi ketika pukulannya mengenai aura yang melapisiku, tinjunya kembali berdarah dan ia terpental ke belakang. Cukup jauh karena sepertinya itu merefleksikan serangan yang ia hasilkan sendiri.
"Sudah kubilang percuma."
"Tidak mungkin! Dasar bajingan! Beraninya kau memakai hal tidak logis seperti itu!"
"Sudah aku bilang padamu, aku akan menggunakan semua hal yang bisa membuatku menang."
"Tidak mungkin! Jangan bercanda! Dasar bajingan penakut!"
Dia benar-benar marah, ya? Aku dikatain terus dari tadi olehnya. Tapi aku tidak bisa menyalahkannya, sih. Jika aku jadi dia, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. "Sekarang bagaimana?"
"Ha?!"
"Apa kau masih mau melanjutkan pertarungan tak seimbang ini?"
"Tch!"
Dia kelihatan kebingungan. Tentu saja jawaban yang paling tepat adalah mundur. Tapi dia adalah orang dengan harga diri yang tinggi, jadi dia tidak akan memilih hal seperti itu. Dia pasti lebih baik mati daripada kalah.
"Jika kau tidak menjawabnya, maka aku yang akan menjawab." Mungkin aku akan dibilang tidak waras oleh Ketua karena mengatakan ini, tapi saat ini dia tidak ada jadi akan aku lakukan yang aku inginkan. "Aku tidak akan melihat jika kau pergi sekarang."
"Apa?"
"Seperti yang kubilang, aku tidak akan melihat jika ada pria dua meter lebih yang pergi dari tempat ini sekarang."
"Dengan kata lain, kau melepaskanku?"
"Aku tidak pernah bilang begitu. Satu mataku sudah tertutup darah, jadi penglihatanku agak buram."
Dia menggigit bibirnya. "Jangan bercanda! Apa kau menghinaku?!" Itu dia. Dia adalah pria merepotkan yang paling tidak aku sukai karena merepotkan. "Apa kau menyuruhku kabur dari medan pertempuran?!"
"Sudah kubilang, aku tidak meli—"
"Kau hanya mengganti kata-katanya! Aku lebih baik mati di sini daripada dikasihani oleh bajingan kotor sepertimu!"
"...."
Benar-benar merepotkan. Aku mengelus-elus kepalaku memikirkan cara supaya kata-kataku dapat dimengerti olehnya. Jadi aku membuat sebuah belati dari auraku dan menjatuhkannya di depanku.
"Anggap belati itu adalah harga dirimu. Kau tidak perlu membuang harga dirimu selamanya. Yang perlu kau lakukan hanya menjatuhkannya sebentar ke tanah lalu mengambilnya lagi. Tidak ada yang protes akan hal itu, meskipun 'belati' milikmu sedikit kotor, tapi itu lebih baik daripada hilang selamanya."
Baram sepertinya mulai mengerti apa yang aku maksud, jadi aku mengambil kembali belati itu dan menghilangkannya.
"Aku tidak akan membunuhmu— setidaknya tidak sekarang. Karena kondisiku saat ini juga tidak memungkinkan. Tapi jika kau ingin melawanku lagi, persiapkan dirimu baik-baik. Karena pada saat itu, aku tidak akan segan-segan membunuhmu!"
Aku mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Ia yang seorang petarung sejati pasti mendambakan pertarungan yang adil, maka akan kuberikan padanya nanti, jika kita bertemu lagi.
Setelah beberapa saat terdiam dan kelihatannya berpikir, Baram mulai bergerak. Ia memukul lantai yang ada di depannya dengan sekuat tenaga dan setelah itu ia berbalik badan— sepertinya itu caranya menjatuhkan sementara harga dirinya.
Sebelum benar-benar pergi, Baram menengok ke arahku. Ia dengan tatapan serius dan aura membunuh kemudian berbicara padaku. "Lain kali, aku pasti akan membunuhmu, Oukami Yuu."
Aku hanya tersenyum mendengarnya. "Ya, akan aku tunggu sampai kapanpun, Baram."
__ADS_1
Setelah itu dia pergi dari sana dan aku dengan cepat tidak dapat merasakan auranya lagi. Tidak aku sangka pertarunganku berakhir cukup baik, meskipun tubuhku babak belur habis-habisan, tapi aku berhasil mendapatkan hal yang lebih baik.
Bersambung