Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 148 : Room and Door


__ADS_3

Baram?! Aku pernah mendengar namanya. Saat mendapatkan misi menjadi bodyguard di Nagoya dua tahun lalu. Aku dengar salah satu dari kami juga melawannya dan dia berakhir dengan luka parah di sekujur tubuhnya.


Tapi untuk melihatnya secara langsung, ini adalah pertama kalinya untukku. Dan dia besar gila, oi! Apa-apaan manusia satu ini? Aku tidak tahu kalau manusia normal bisa tumbuh sampai hampir tiga meter, kecuali dia punya kelainan genetik atau semacamnya.


Dan kebanyakan orang yang tumbuh menjulang seperti dirinya memiliki masalah ketika berdiri atau berjalan, tapi hal tersebut sepertinya sama sekali bukan masalah bagi dirinya. Petarung sejati, ya? Seseorang yang diakui langsung oleh Nigiyaka-san, mari kita lihat bagaimana kita berdua bisa bertahan melawannya.


"Apa kau bermurah hati ingin memberitahuku siapa yang mengirim mu untuk membunuhku?" tanya Baram.


"Aku tidak bisa mengatakannya, itu melanggar perjanjian." Balas Nigiyaka-san singkat.


"Begitu. Aku sudah cukup lama meninggalkan sisi dunia itu, setelah kalah dengan seseorang dua tahun lalu di Nagoya, aku memutuskan untuk keluar dan menyingkir beberapa saat."


Pria ini keluar? Jadi dia bukan bagian dari dunia Assassin lagi? Perasaan lega yang entah berasal darimana tiba-tiba muncul di dadaku, kenapa bisa? Mungkin itu juga merupakan harapanku pada diri sendiri supaya suatu saat nanti juga bisa keluar dari dunia ini.


Tapi jika seorang Assassin memutuskan keluar atau pensiun, maka ....


"Keluar? Berarti kau sudah siap menghadapi konsekuensinya?"


"Ya, sudah ada beberapa orang yang datang."


Seperti yang Nigiyaka-san bilang, jika seseorang keluar maka dia harus siap menanggung konsekuensinya. Pensiunan Assassin akan menjadi buronan dari Assassin lainnya dan kepalanya menjadi berharga, itu sudah merupakan peraturan tak tertulis di dunia Assassin.


Membuat seseorang tidak punya pilihan lain selain bertarung selama sisa hidupnya. Benar-benar kesepakatan paling bajingan yang pernah terpikirkan oleh para bajingan.


Tapi anehnya secara sembrono, seorang gadis kecil polos masuk ke neraka itu hanya karena dia butuh uang dengan cepat. Bicara tentang menjadi seorang idiot. Membicarakan kebodohan gadis kecil itu membuatku hanya bisa tersenyum miris.


Tapi seperti yang ia katakan, beberapa orang datang untuk membunuhnya. Aku tidak bisa memperkirakan apa yang ada di dalam pikiran orang-orang bodoh itu, tentu saja mereka tidak memiliki kesempatan sedikitpun melawannya.


Ngomong-ngomong, dia bilang kalah dengan seseorang dua tahun lalu di Nagoya. Bukankah itu saat Black Rain menjalani misi menjadi bodyguard Rainbow Cookies? Berarti ada seseorang — kemungkinan besar salah satu dari kami, yang berhasil mengalahkannya.


"Dua tahun lalu? Apa yang mengalahkanmu adalah seseorang dari Black Rain?!" tanyaku.


"Black Rain? Tidak, bukan ...."


Bukan salah satu dari kami? Tapi seingatku kejadian paling heboh dua tahun lalu di Nagoya adalah saat kerusuhan pada konser Rainbow Cookies.


"... Seorang cecunguk kotor, aku tidak bisa merasakan jiwa ksatria sama sekali di dalam dirinya. Tapi aku kalah dengan trik kotor miliknya." Matanya menyorot ke bawah dan tangannya mengepal. Aku bisa merasakan tatapan dendam mendalam pada sorotan matanya.


"Setelah aku menyingkir, aku memutuskan untuk membuka bar ini. Awalnya hanya untuk mengaplikasikan apa yang sudah Ivis ajarkan padaku tentang memasak, tapi beberapa Assassin datang mencoba membunuhku dan gagal."


"Apa yang terjadi pada mereka?"


Aku memberikan tatapan datar atas pertanyaan Nigiyaka-san pada Baram. Apa kau serius, Nigiyaka-san? Tentu saja orang-orang ceroboh itu mati.


"Sebagian ada yang aku habisi di tempat, tapi ... sebagian lagi bergabung denganku."


Mata kami berdua melebar. Aku yakin itu adalah sesuatu yang jarang terjadi di sini, merekrut pembunuh yang mencoba membunuhmu ke pihakmu.


"Apa kau serius?"


"Bos tidak bohong." Orang berkacamata itu menimpali.


"Eh?"


"Karena aku — Ruler, adalah salah satu dari Assassin yang bergabung dengan Bos setelah mencoba membunuhnya."


Ternyata orang berkacamata ini adalah seorang Assassin! Padahal penampilannya tidak lebih baik dari seorang pekerja kantoran, jika kau mengacu pada proporsi tubuhnya yang hampir tidak memiliki otot.


Dan juga nama panggilannya adalah Ruler. Apa-apaan itu? Alat ukur? Tidak keren sama sekali.


"Ruler, lalu orang yang menginterogasi kalian, Cupid, adalah beberapa orang yang memihak kepadaku setelah mencoba membunuhku. Aku hanya ingin membuka bar dan membuat orang mencicipi apa yang telah aku pelajari dari Ivis."


Tatapan dendamnya menghilang. Kini ia mendongak ke atas, ke arah satu-satunya sumber cahaya di ruangan ini. Kali ini tatapannya dipenuhi sorot mata harapan, mengharap sesuatu yang jauh, yang mungkin saja mustahil untuk digapai.


Tapi Baram terus memandang dan mendambakannya tanpa henti. Lalu kemudian berhenti, dan fokusnya kembali kepada kami. Melihat hal itu, Nigiyaka-san hanya bisa tersenyum tipis dan membuat kami semua bingung.


"Ada sesuatu yang lucu?" tanya Baram.


"Tidak, sepertinya kita berdua sudah kehilangan jiwa ksatria kita. Diriku karena pengkhianatan, sementara kau karena pengharapan."


Baram terkejut, matanya melebar. Tapi ia bisa memahami maksud Nigiyaka-san dan lengkungan tercipta di ujung bibirnya. "Entahlah. Tapi seorang berjiwa ksatria akan memeluk ideologi miliknya sampai dia mati," lanjutnya.


"Ya, aku juga begitu."


Tidak kuduga. Percakapan santai terjadi padahal kami akan saling membunuh. Aku kemudian berpikir ulang soal hubungan mereka. Rekan, ya? Mereka adalah dua orang yang bisa saling menukar tawa dalam kondisi apapun.

__ADS_1


Tapi semua seluruh tawa dan obrolan santai tadi langsung hilang secepat saat ia datang. Wajah mereka berdua kini jauh lebih serius dan aura nya menjadi sangat mengintimidasi siapapun yang dapat merasakannya.


"Aku tidak akan menahan diri, Nimis."


"Jangan kira tanpa Katana ku, kau bisa membunuhku dengan mudah, Baram."


Mereka berdua mulai memasang kuda-kuda. Kuda-kuda Nimis berbeda tanpa Katana nya. "Fokus, Dantalion." Dan dia selalu memperingatkan ku untuk tidak kehilangan fokus.


"Baik."


"Apa kalian sudah tahu kalau keluar dari sini hampir mustahil?" ucap Baram.


"Kau juga bilang begitu? Aku hanya harus mengalahkan kalian berdua lalu memikirkan cara untuk keluar dari sini."


"Kalau memang begitu, kalian akan jadi yang pertama. Karena aku tidak terkalahkan di sini."


Baram mengepalkan tangannya. Energi yang besar terpusat di kepalannya, seperti mengisyaratkan kalau kami tidak boleh kehilangan fokus dan terkena pukulannya.


"Ruler, apa kau siap?"


"Kapanpun Anda siap, Bos."


"Kalau begitu, akan aku lakukan dengan cepat."


Dia mulai bergerak dan melesat dengan sangat cepat, membuat mata kami berdua melebar. Satu detik? Setengah? Tidak, bahkan lebih cepat dari itu. Jarak hampir sepuluh meter langsung dipersempit dengan kecepatan gila, dan dia mengincar langsung ke wajah Nigiyaka-san.


Kecepatan gila itu membuatku tidak sempat bereaksi, saat aku sadar, yang bisa aku cerna adalah Baram sudah berada di sampingku dan Nigiyaka-san terpental menubruk tembok dengan keras.


"Ap—?!"


Tidak ada waktu untuk kaget! Kini Baram mengalihkan perhatiannya padaku. Aku langsung menciptakan bor udara di kedua tanganku dan menyerangnya dengan beladiri hand-to-hand.


Pukulan dan tendangan terus aku lancarkan dan Baram hanya menghindar tanpa usaha. Bor udara yang melapisi pukulan aku ciptakan supaya area pukulan semakin luas, lalu juga menusuk tubuh musuh dengan lebih mudah.


Tapi itu percuma jika tidak kena.


Sekalipun tidak ada yang kena, dan lenganku malah ditangkap yang membuatku tidak bisa pergi kemana-mana. Cengkeramannya pria tiga meter ini terlalu kuat bagiku! Bahkan bor udara seakan tidak melukainya sama sekali.


Dia mengangkat tangan lainnya yang bebas dan bersiap memukulku. Ini gawat! Jika terkena secara langsung, aku bisa kehilangan kesadaran untuk beberapa saat. Gawat! Gawat! Gawat! Meskipun aku tahu itu akan datang, tapi tidak banyak hal yang bisa ku lakukan.


Serangan api cukup besar tiba-tiba datang di antara kami berdua — menjadi penyelamatku, sebelum pukulannya bisa sampai kepadaku. Arahnya berasal dari ... Nigiyaka-san! Ternyata masih sadar. Dan dia berhasil menyelamatkanku pada detik-detik terakhir.


Serangan api kejutan tadi membuat Baram melepaskan tanganku dan melompat mundur, sementara aku menghampiri Nigiyaka-san. Kondisinya cukup berantakan, tangan yang sebelumnya menyemburkan api bergetar dan mulutnya mengeluarkan darah segar.


"Kau tidak apa-apa, Nimis?!"


"Kecepatannya tidak wajar."


"Eh?"


"Dia memang cepat, tapi hanya sedikit lebih cepat dari Ardenter dan aku masih bisa mengikutinya. Dalam dua tahun menjadi secepat ini? Aku menolak untuk percaya, pasti ada sesuatu pada kecepatannya," gumam Nigiyaka-san.


Memang benar. Kecepatannya tidak bisa dipercaya, tapi bagaimana kalau itu memang kekuatan aslinya? Apa ada yang bisa kita perbuat? Apa kita hanya akan mengumpat dalam hati? Tidak, pasti kecepatannya punya sebuah kelemahan.


"Tidak usah khawatir." Aku mulai berbicara.


"Kau punya sesuatu?"


"Tidak, tapi secepat mungkin kita harus mengatasi kecepatannya. Lagipula pandangan kita otomatis lebih luas darinya karena kita dua orang, jadi mari lindungi titik buta masing-masing."


Nigiyaka-san diam dalam persetujuannya. Hanya itu yang bisa kita lakukan, daripada menduga-duga tidak jelas, lebih baik kita melakukan apa yang kita bisa. Nigiyaka-san kemudian berdiri di sampingku dan mengatur nafasnya — aku juga melakukan hal yang sama.


"Oh? Kalian ingin balik melawan?"


Tapi kami mengabaikan pertanyaannya, karena jawabannya sudah sangat jelas. "Meski tanpa Katana, tetap lakukan seperti yang di latihan," perintah Nigiyaka-san.


"Aku mengerti."


Tubuhku kini diselimuti oleh selendang angin yang mengelilingiku lembut. Aku sengaja membentuknya menjadi bentuk selendang, karena ini adalah bentuk paling efektif dan berguna dalam pertahanan serta penyerangan.


Sementara Nigiyaka-san mengubah beberapa hal dari yang biasa kami lakukan di latihan. Kini ia menciptakan sebuah api yang dapat ia pegang, panjang api tersebut kira-kira dua per tiga dari pegangannya — Nigiyaka-san membuat Katana dari api miliknya.


Aku tidak tahu seberapa efektif itu, tapi Iraya-kun juga dulu membuat hal yang mirip sebelum ia memiliki pegangan pada pedangnya. Meskipun ia terus mengeluh karena panas atau sakit ketika memegangnya.


"Kau siap?"

__ADS_1


"Ya."


Kami melesat secara bersamaan, Baram juga tidak mau kalah dan langsung membalasnya. Ia kembali mengincar Nigiyaka-san dengan pukulannya. Tapi Nigiyaka-san melakukan gerakan diluar dugaanku, ia malah menebaskan pedang api nya ke arahku yang membuatku refleks menunduk.


Tebasan yang aku kira bakal menebas angin setelah menunduk, malah menimbulkan bunyi keras seolah menghantam sesuatu.


"Kau menebak gerakanku?"


Aku bisa mendengar suara Baram di sampingku, padahal sebelumnya dia mencoba menyerang Nigiyaka-san. Lagi-lagi kecepatan gila dia tunjukkan. Dan entah dengan keberuntungan atau pengalaman dari Nigiyaka-san, ia berhasil menebak serangan Baram sekaligus menyelamatkanku.


"Ingat kalau kita pernah bersama cukup lama!"


Nigiyaka-san memukulnya menjauh dariku dan dia juga langsung menghampirinya. Baram tidak melepaskannya begitu saja, ia meladeni setiap serangan yang diberikan Nigiyaka-san dengan sangat baik sehingga membuat pertarungan itu terlihat seimbang.


Terlihat?


Hehe ... Kata-kata yang cukup sombong untuk ku ucapkan.


Karena sekarang mataku hampir tidak bisa mengikuti pergerakan mereka berdua. Api membara yang mengekor di setiap serangan Nigiyaka-san membuatku setidaknya bisa menebak apa yang terjadi di sana. Tapi selebihnya, abu-abu.


Beberapa menit terlewat dan adu jual beli serangan masih terus terjadi di antara mereka. Sementara aku memilih untuk diam. Tidak ada celah bagiku untuk masuk, perasaanku mengatakan jika aku ikut campur, aku hanya akan jadi penghambat.


"Ugh ...!!"


"Nimis!"


Perlahan tapi pasti Nigiyaka-san mulai dipukul mundur oleh Baram, dan kecepatannya juga memang sejak awal merepotkan. Dan pada akhirnya, dia terpental karena tendangan Baram masuk telak ke arah perutnya.


Beruntung aku bisa menangkapnya sebelum Nigiyaka-san menabrak objek keras lainnya di sini. Ia memuntahkan darahnya lebih banyak dari sebelumnya, mengisyaratkan kalau serangan barusan mengenai organ dalamnya.


"Nimis! Bertahanlah!"


"Kau memang kuat, Nimis. Tapi tanpa Katana dan Ardenter di sisimu, terlihat jelas kalau kau kehilangan sesuatu yang penting dalam pertarungan, tidak ada yang bisa menyangkalnya."


"Mungkin ... kau benar." Nigiyaka-san masih mencoba menjawab meskipun setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu keluar darah.


"Jangan bicara dulu, kumohon. Lukamu bisa semakin parah," pintaku.


Tapi dia tidak mendengarkanku. Ia terus melanjutkan kata-katanya dengan kepayahan. "Tapi walau kondisi ku tidak sempurna seperti ini, aku masih bisa mengungkap rahasia kecepatanmu."


"Apa?"


Seringai keluar dari mulutnya. "Laki-laki itu adalah rahasianya, kan?" Lalu dia menunjuk ke laki-laki kacamata — Ruler, yang sedari tadi menonton pertarungan kami. Ruler juga terkejut karena tiba-tiba ditunjuk oleh Nigiyaka-san.


"Apa maksudmu?" tanya Ruler.


"Jangan pura-pura bodoh ... awalnya memang sulit, tapi aku merasakan keanehan setiap kali Baram melakukan gerakan cepat gilanya. Aura yang memang dari awal sudah menguasai tempat ini tiba-tiba bertambah menjadi dua kali lipat lalu kemudian menghilang kembali."


Nigiyaka-san berdiri dengan sedikit kepayahan dan menghadap ke arah Ruler untuk membuktikan kalau hipotesis nya benar.


"Dan aura nya sangat mirip dengan milikmu. Dengan begitu ... rahasia kecepatan Baram adalah kau."


Hening terjadi untuk beberapa saat. Ruler masih menunjukkan wajah terkejutnya, sementara Nigiyaka-san dan juga diriku masih menunggu responnya.


Aku benar-benar tidak mengikuti perkataan Nigiyaka-san dari tadi. Karena aku terlalu fokus pada cara untuk mengalahkan Baram dan mengatasi kecepatannya. Mengungkap rahasia kecepatannya? Tidak terpikirkan sama sekali!


Tapi kemudian ia bereaksi. Dengan sebuah seringai licik dan tepuk tangan.


"Selamat. Assassin top memang hebat, bisa menebak hal itu dengan hampir tepat dengan petunjuk yang sangat sedikit. Ya, itu benar ... Bos memang sudah sangat cepat, tapi berkat kemampuanku, aku membuatnya menjadi lebih cepat — tidak, mungkin kata yang lebih tepat adalah memindahkan posisinya ke tempat yang ku inginkan."


Mataku melebar ketika dia mengungkapkan kekuatannya. Dan kekuatannya tidak hanya sampai di situ, ia juga masih memiliki rahasia lainnya.


"Tapi itu tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Aku butuh tempat yang tepat untuk melakukannya, seperti misalnya ruangan yang terbuat dari aura ku."


"Apa?! Jadi maksudmu—!"


"Aku menamakan Unique Skill ini 'Room And Door'. Selama orang itu berada di dalam 'Room' milikku, aku bisa memindahkan orang itu seperti membukakan 'Door' untuknya ke tempat yang aku mau selama berada di dalam 'Room'."


Lagi-lagi Unique Skill. Kemampuan curang yang tidak aku mengerti sama sekali. Penggunanya bisa membalikkan keadaan selama dia memilikinya. Sialan.


"Orang yang sudah masuk ke dalam 'Room' tidak bisa keluar dari sini sebelum aku izinkan. Mungkin ini rapuh dari luar, tapi aku sudah menyembunyikannya di tempat rahasia. Dan jika dari dalam, 'Room' tidak akan bisa dihancurkan!"


Aku mengerti sekarang. Ketika pingsan kami dibawa ke sini dan itu menjadi akar semua masalah. Terlebih lagi dia memberitahukan jurusnya. Itu berarti dia sudah yakin dengan kemenangannya. Jika jadi dia, mungkin aku juga melakukan hal yang sama.


Tapi itu berarti kami dalam masalah besar, ya? Bagaimana ini? Nigiyaka-san sudah terluka sementara aku tidak yakin kalau kekuatanku sendiri bisa membawa perubahan besar. Ini benar-benar gawat.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2