
Setelah berhasil membujuk Kurobane-senpai untuk ikut bersama kami ke Tokyo dan juga meyakinkannya agar dapat bergabung dengan kami, kami bertiga berkumpul di Himawari Orphanage dimana Murasaki-san sudah menunggu disana dan siap mengantar kami.
Murasaki-san yang memperhatikan kalau ada wajah yang baru ia lihat dengan ramah menyapanya.
"Sepertinya kita kedatangan satu tamu disini ya?"
"Sebentar lagi dia akan menjadi bagian dari kita, Oita-san."
"Eh?! Aku kan—"
"Jadi tidak usah terlalu sungkan dengannya."
"…"
Herlin bahkan tidak memberikan ia sedikit pun kesempatan untuk bicara. Dasar monster.
"Benarkah? Baguslah kalau begitu. Ngomong-ngomong namaku Murasaki Oita, namamu?"
"Ah, nama saya Kurobane Mei. Senang bertemu denganmu, Murasaki-san."
"Yahoo! Aku ada disini juga, lho." Ada seseorang yang menyapa kami dari balik mobil.
"Ishikawa-san?! Kau juga ikut dengan kami?" tanyaku.
"Aku masih bagian dari organisasi ini, jadi tentu saja aku ikut."
Setelah bergabung dengan Black Rain, aku jarang sekali melihat Ishikawa-san bersama dengan kami. Sepertinya dia mendapatkan tugas yang banyak dari Murasaki-san, entah kenapa aku jadi kasihan dengannya.
"Ngomong-ngomong kau yang disana …" Ishikawa-san beralih ke Kurobane-senpai.
"Eh! Aku?"
"Apa kau juga dipaksa ikut oleh mereka?" tanya Ishikawa-san.
"Ah … Nn, begitulah."
"Kalau begitu kau akan segera bergabung dengan kami. Selamat datang ya."
"Y-Ya?"
Kurobane-senpai memiringkan kepalanya karena tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Ishikawa-san.
Sementara Ishikawa-san melemparkan sebuah pedang yang masih berada di dalam sarungnya kearahku. Aku pun langsung menangkapnya.
"Ini pedangku?"
"Karena bersama dengan kami, jadi kau boleh membawanya kali ini."
Aku yang mendengar hal itu kemudian tersenyum dan bersorak 'Yes' kecil. Sudah lama aku tidak menyentuh pedang ini. Oita-san melarangku untuk membawanya pulang kerumah karena akan menimbulkan keributan. Tapi mereka masih belum tau kalau ibuku sudah tiada, jadi aku tidak terlalu memaksa untuk membawanya pulang bersamaku.
Prok…
Murasaki-san menepuk tangannya sekali dan membuat perhatian kami semua tertuju padanya.
"Kalau begitu, ayo kita berangkat."
"Iya!"
**
Setelah perkenalan dan persiapan singkat itu, kami berlima akhirnya berangkat menuju Tokyo menggunakan mobil. Ini adalah kedua kalinya aku ke Tokyo bersama dengan organisasi ini, yang sebelumnya adalah saat aku mengikuti turnamen The One.
Perjalanan yang cukup panjang kami tempuh dengan menggunakan mobil. Meskipun kami adalah sebuah organisasi, tapi percakapan santai yang kami lakukan selama perjalanan sangatlah sedikit. Ya meskipun kami belum lama kenal sih.
Karena bosan dan tidak ada hal yang bisa dilakukan, aku pun tertidur selama perjalanan dan tak menyadari kalau akhirnya kami telah dekat dengan tujuannya.
Mobil kami memasuki sebuah area luas yang di depannya terpampang sebuah papan nama "Red Flame's Dojo". Penampakannya seperti sebuah Dojo dan tempat latihan biasa. Di area dalam Dojo tersebut banyak orang-orang yang sedang berlatih menggunakan pedang kayu.
Setelah turun dari mobil, kami disambut oleh beberapa orang yang sepertinya sudah disiapkan untuk menyambut kedatangan kami.
"Apakah anda Tuan Murasaki Oita dari Black Rain?"
Seorang pria yang terlihat seumuran dengan Oita-san datang menyambut kami dengan sopannya diikuti oleh dua orang lain dibelakangnya.
"Ya benar sekali, dan mereka semua adalah anggotaku." Oita-san menunjuk kearah kami semua yang berada di belakangnya.
"Kalau begitu silahkan ikuti kami."
Mereka kemudian berjalan menuntun kami semua. Kami melewati orang-orang yang sedang berlatih menggunakan pedang kayu sama dengan yang kami lihat sebelumnya, dengan seorang instruktur yang mengawasi mereka.
Kami dituntun ke sebuah ruangan dan salah satu dari mereka membukakan pintu lalu menyuruh kami untuk langsung masuk. Di dalam, kami sudah ditunggu oleh dua orang yang wajahnya tidak asing bagiku.
"Selamat datang di tempat kami, Oita dan yang lainnya."
Orang yang menyapa kami adalah Kurayami Ryuzaki. Perwakilan dari Red Flame yang sebelumnya aku temui di Turnamen The One. Sementara itu orang disebelahnya adalah Hayashi Satou, salah satu anggota terbaik yang dimiliki oleh Organisasi Red Flame.
"Sepertinya perjalanan kalian lumayan panjang ya? Bagaimana kalau kalian duduk dan minum teh terlebih dahulu."
Kami berlima kemudian duduk berseberangan meja dengan perwakilan dari Red Flame. Seseorang kemudian datang dan menuangkan teh ke cangkir-cangkir kosong yang ada diatas meja.
__ADS_1
Ryuzaki kemudian meneguk teh itu dan kemudian memulai pembicaraan.
"Apa aku perlu memperkenalkan diriku terlebih dahulu? Sepertinya ada wajah baru yang kulihat disini," ucap Ryuzaki sambil sedikit melirik kearah Kurobane-senpai.
"Tidak, tidak perlu. Aku akan memperkenalkanmu pada dia nanti. Aku lebih tertarik dengan alasan kau mengundang kami kesini, Ryuzaki," balas Oita-san.
"Hmm… begitu ya? Sayang sekali."
Ryuzaki kemudian menaruh cangkir teh yang telah ia minum setengah ke atas meja.
"Seperti yang kau tahu, Oita. Saat itu aku datang ke turnamen hanya untuk menghadiri rapatmu, tapi aku terlanjur ikut menonton sedikit pertandingan yang berlangsung."
"Lalu?"
"Aku melihatnya bertanding, dan aku menyukainya." Ryuzaki kemudian menengok kearahku.
Aku yang sadar kalau yang ia maksud adalah aku, kemudian menunjuk kearah diriku sendiri. "Aku?"
"Tentu saja kau, memangnya siapa lagi?"
Aku sebenarnya masih bingung dan tidak tahu harus berkata apa. Tapi Oita-san mendahuluiku untuk menjawabnya.
"Lalu jika kau menyukainya, kau mau apa? Tidak mungkin kan kalau kau jauh-jauh mengundang kami semua kesini hanya untuk bicara soal itu."
"Tentu saja bukan hanya itu. Melihat pertarungan terakhirmu melawan Oukami, sepertinya kau tidak memiliki kecocokan dengan pedangmu itu."
"Eh?! Ini?"
Aku kemudian mengeluarkan pedangku dari sarungnya. Besi pada pedang ini sebenarnya sudah kusam dan ada sedikit rusak di bagian matanya padahal baru beberapa kali dipakai. Kualitasnya benar-benar terpancar dari harganya yang murah itu. Kenapa dulu aku bisa tertarik dengan pedang ini ya.
"Sepertinya kondisi pedangmu juga cepat rusak karena kau mengalirkan listrik ke pedang itu. Jadi dia tidak kuat untuk menahan beban tersebut," ucap Cecilia.
Sepertinya ucapan Cecilia ada benarnya. Lagipula apa yang bisa diharapkan dari sebuah pedang murah.
"Hah…" Aku hanya bisa bernafas pasrah.
"Sekarang kau menyesali keputusanmu?" Herlin tiba-tiba bertanya seolah mengejekku.
"Berisik," balasku cepat.
Aku pun kembali menyarungkan pedangku dengan perasaan sedih.
"Maka dari itu, karena aku menyukaimu, aku ingin memberimu hadiah sebuah pedang baru yang bisa kau pilih sendiri."
"A-Apa kau yakin? Ma-Maksudku, kau tidak perlu repot-repot untuk—"
"Tidak apa-apa, tidak usah dipikirkan."
"Ya baiklah, dimana aku bisa melihat pedang itu?" ucapku lemas.
"Kalau begitu, ikuti aku."
Kemudian kami berjalan ke sebuah ruangan lainnya tidak jauh dari ruangan sebelumnya. Ruangan tersebut berisi berbagai macam jenis pedang. Mulai dari katana sampai jenis longsword pun ada disini. Benar-benar seperti ruang harta karun bagi pecinta pedang.
"Hebat!"
"Silahkan dipilih, kau bisa memilih yang manapun yang kau suka," ucap Ryuzaki.
Aku pun berkeliling tempat itu dan melihat macam-macam pedang yang ada disini. Sementara itu yang lain juga ikut melihat-lihat, meskipun pedang bukanlah hal yang cocok bagi mereka, sih.
Setelah lama berkeliling, aku belum menemukan sesuatu yang cocok denganku, setidaknya untuk saat ini. Entah kenapa semua pedang disini rasanya tidak ada bedanya bagiku.
"Hah… Ini tidak ada bedanya dengan yang sebelumnya," keluhku.
"Iraya, mau kubantu?" tiba-tiba Cecilia menawarkan bantuan.
"Hn? Apa bedanya jika kau yang memilihnya?"
"Aku bisa merasakan mana pedang yang bagus lewat pengalaman dan goresan yang terukir di pedang tersebut."
"Ah, Nn… Kalau begitu mohon bantuannya." Aku tidak terlalu mengerti sebenarnya.
"Ehehem… Sekarang tutup matamu dan coba rasakan disekitarmu mana yang paling menarik bagimu."
Aku menutup mataku dan menunggu apa yang sedang dilakukan oleh Cecilia. Setelah beberapa saat, aku merasakan sesuatu yang berbeda.
Walau dalam keadaan memejamkan mata, aku bisa merasakan perasaan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Sebuah pedang yang lemah dan kusam yang telah dipakai berkali-kali, lalu sebuah pedang baru yang belum pernah dipakai sama sekali. Aku bisa merasakan perbedaannya.
Saat aku sedang terlena karena banyaknya perasaan yang berbeda di dalam pikiranku, perhatianku teralihkan dengan sebuah pedang yang berada di dekatku. Aku bisa merasakan kalau dia sudah melewati banyak pertempuran dan walau masih tetap kuat, entah kenapa ia dapat berakhir di tempat ini.
Aku membuka mataku dan berjalan ke pedang tersebut. Pedang itu terlihat seperti pedang pada umumnya, tapi apa yang dia lewati benar-benar berbeda dari semua pedang yang ada disini.
Ryuzaki yang melihatku kemudian menghampiriku dan mengomentari tentang pedang yang menarik perhatianku ini.
"Kau tertarik dengan yang itu?" tanya Ryuzaki.
"Ah, iya, begitulah."
"Kau punya mata yang bagus, Iraya-kun. Pedang ini adalah pedang lamaku, karena telah lama kugunakan, lama kelamaan ketahanan dan ketajamannya menjadi semakin berkurang. Apa kau masih tetap tertarik?"
__ADS_1
Aku mengangkat pedang itu setinggi-tingginya, memperhatikan setiap detil yang ada di pedang itu. Tidak salah lagi, ini hanyalah pedang biasa. Tidak ada ukiran yang indah atau bentuk yang unik. Tapi sepertinya ini akan menjadi favoritku.
"Tentu. Aku akan mengambil yang ini."
"Kalau begitu, mau mencobanya?"
**
Kami dibawa ke sebuah bangunan tempat murid-murid disini melakukan latih tanding. Ini adalah sebuah arena bertanding. Sebenarnya aku tidak tau apa-apa tentang teknik berpedang atau Kendo, jadi mungkin aku akan ditertawakan oleh orang-orang yang ada disini.
"Kamu akan melakukan latih tanding bersama dengan orang yang ada disini. Tapi karena murid-murid disini belum berpengalaman, jadi aku yang akan memilihkan lawannya," ucap Ryuzaki.
"Ya, silahkan saja."
Mau siapapun lawannya aku pasti akan kalah sih, hehe. Ryuzaki kemudian menunjuk orang yang akan menjadi lawanku.
"Hayashi-kun, kau akan menjadi lawan dari Iraya-kun."
Orang yang Ryuzaki tunjuk adalah Hayashi Satou. Aku juga melihatnya saat di Turnamen The One, tapi aku tidak pernah melihatnya bertarung. Dia kelihatan kuat, sepertinya aku akan kalah telak kali ini.
"Kau ini, padahal di tubuhmu sudah ada makhluk kuat sepertiku. Tapi pemikiran pesimismu itu masih belum bisa dihilangkan ya, dasar payah," ucap Cecilia mengejek.
"Berisik," balasku cepat.
Kami berdua sekarang berdiri berhadapan di arena. Sementara yang lainnya menonton dari jarak yang cukup jauh. Kami berdua menunggu aba-aba dari Ryuzaki yang bertindak sebagai wasitnya.
"Tapi sebelum itu, bagaimana kalau kita buat ini menjadi sedikit lebih menarik?" ucap Ryuzaki.
"Caranya?"
"Bagaimana kalau kita bertaruh?"
"Bertaruh?"
"Benar, taruhannya adalah jika Hayashi-kun menang melawan Iraya-kun, maka semua anggota Black Rain termasuk Murasaki Oita akan menjadi bagian dari Red Flame. Dan jika Iraya-kun menang, maka Red Flame akan memberikan bantuan apapun jika Black Rain membutuhkan bantuan di masa depan. Bagaimana?"
"Ap—"
"Apa maksudmu?"
Aku dan Ishikawa-san spontan berteriak mendengar apa yang Ryuzaki katakan. Herlin dan Oita-san hanya diam sambil merubah ekspresinya ke ekspresi curiga dan waspada. Sementara Kurobane-senpai yang mendengar hal tersebut bingung dan bertanya-tanya, meskipun dia mengerti kalau ada yang tidak beres disini.
"Apa tujuanmu sebenarnya, Ryuzaki?" tanya Oita-san.
"Seperti yang kau tahu Oita, organisasimu hanyalah sebuah organisasi kecil yang berisikan tidak lebih dari sepuluh orang. Sementara organisasi Kuni no Hashira lainnya memiliki lebih dari 100 anggota.
Kuni no Hashira dari dulu memang hanya terdiri dari tiga wilayah. Setelah keberadaanmu di Kyoto dan kami semua mengakui kekuatanmu, kami memutuskan untuk memberimu kebebasan untuk mendirikan organisasi sebagai anggota dari Kuni no Hashira keempat. Tapi anggotamu tidak bertambah banyak selama rentang waktu itu, kau bahkan hanya memiliki kafe sebagai markas organisasimu.
Jadi lebih baik untuk mengajakmu dan anggotamu bergabung bersama kami. Akan sayang jika kekuatanmu itu disia-siakan, apalagi setelah melihat anggota-anggotamu itu."
Ryuzaki melirik kearahku dan Herlin. Ia menganggap kami berdua seperti berlian yang bersanding dengan batu kali.
"Bagaimana dengan tawaranku tadi? Menarik, bukan?"
Ryuzaki menatap Oita-san dengan tatapan penuh ambisi. Ia berpikir kalau ini adalah tawaran yang sangat bagus sehingga hanya orang bodoh saja yang akan menolaknya.
"Pfft… Ahahahaha… Hahaha…"
Oita-san tertawa sangat keras sampai mengeluarkan air mata. Ini pertama kalinya aku melihatnya tertawa sekeras itu. Ucapan Ryuzaki seperti sebuah lawakan lucu baginya.
"Hn?"
"Hah… Kau bisa bicara hal yang menarik juga ya, Ryuzaki? Iraya-kun hanya perlu menang, kan? Kalau begitu dia pasti akan melakukannya," ucap Oita-san.
"Kenapa kau begitu yakin?" tanya Ryuzaki.
"Aku mendirikan organisasiku karena aku menemukan anak-anak ini, kalau kau tidak ingin mengakuiku sebagai bagian Kuni no Hashira lagi aku tidak keberatan. Karena aku selalu menduga kalau hal menarik akan terjadi jika aku bersama mereka. Sebagai sebuah organisasi! Jadi aku tidak akan membubarkannya begitu saja. Apa jawabanku kurang jelas? Aku menerima tantanganmu!"
"Hmm… Kau memang menyebalkan," ucap Ryuzaki sambil sedikit tersenyum.
"Kita akan memulai pertandingannya! Bersiap di posisi masing-masing!"
Jadi masa depan organisasi ini ada di tanganku ya? Merepotkan sekali. Tapi semangatku tiba-tiba bertambah, jantungku juga berdebar semakin kencang.
"Pastikan kau tidak melakukan hal bodoh," ucap Cecilia.
"Tenang saja, aku akan menang. Lagipula apapun yang terjadi aku harus menang. Aku tidak ingin rumah keduaku hilang!"
Di sisi arena, Kurobane-senpai menghampiri Herlin yang sedang fokus kearah arena.
"Herlin-chan, kan? Apa kau percaya anak itu bisa menang? Dia terlihat seperti orang yang bodoh dan tidak menarik bagiku."
"Aku mengakuinya kalau dia memang terlihat seperti itu, tapi dia tidak akan kalah semudah itu."
"Dan kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Karena dia adalah anak muridku. Aku percaya dengan kemampuannya."
"Heh… Begitu ya."
__ADS_1
Bersambung