Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 74 : Uji Tanding Dengan Mei-senpai


__ADS_3

Pagi di Haiiro Cafe saat Cafe belum buka, Oita-san masuk ke dalam dan menemukan kalau Yuuki-san sedang menyusun cangkir-cangkir di rak gantung. Ia yang sadar akan kehadiran Oita-san kemudian memanggilnya.


"Oita-san?"


"Baru mau membuka Cafe? Bisa tolong buatkan aku secangkir kopi?" ucap Oita-san yang langsung masuk dan duduk di salah satu kursi pelanggan.


"Baik."


Oita-san kemudian mengeluarkan smartphone nya dan memeriksa apakah ada pesan penting atau tidak. Dan tidak lama, Yuuki-san datang sambil membawa secangkir kopi panas.


"Terima kasih. Oh iya, kau bilang Herlin menungguku? Nanti aku akan datang ke panti asuhan siang ini."


"Kalau soal itu …."


Oita-san yang ingin menyeruput kopinya kemudian berhenti karena perkataan menggantung dari Yuuki-san.


"Ada apa?"


"Dia bilang kalau dia tidak ingin diganggu untuk beberapa saat ini."


"Tidak ingin diganggu?"


**


Sementara itu di bukit belakang, akan terjadi duel antara Herlin dengan Mei-senpai.


"Mau mengetesnya denganku?"


"Eh? Tidak …, aku baru saja berlatih tadi—"


"Hoo! Boleh juga! Ini akan jadi latihan yang bagus untukmu, Herlin," ucap Tetsu menyelak pembicaraan Herlin.


"Benar begitu, kan?!"


"Ya benar sekali!"


Latihan hari pertama yang awalnya ia pikir akan berjalan aman dan damai. Tapi tiba-tiba datang seseorang yang tidak ia duga, yaitu Mei-senpai yang tadinya ingin menariknya pulang karena belum mengetahui kalau luka pada tubuhnya sudah disembuhkan oleh Cecilia.


Tapi setelah mengetahui yang sebenarnya, sekarang Mei-senpai malah mengajak Herlin untuk berduel dengannya sekaligus mengetes bagaimana perkembangan teknik berpedang Herlin. Padahal ia baru mempelajarinya terhitung mulai hari ini.


Tapi Herlin tidak bisa berbuat apa-apa, Tetsu yang awalnya sebagai pengajarnya sekarang malah heboh sendiri karena tertarik pada duel yang akan mereka berdua lakukan sebentar lagi.


Dengan pasrah, Herlin pun berjalan mengambil jarak untuk bersiap berduel dengan Mei-senpai. Begitu juga dengan Mei-senpai yang sudah melakukan pemanasan kecil.


"Apa kau sudah siap, Herlin?"


"Kenapa Senpai bersemangat sekali? Aku ini baru mempelajarinya hari ini saja, loh."


"Bersemangat? Tentu saja aku bersemangat! Kau selalu membuatku kelelahan di setiap latihan kita, kali ini aku akan membalasnya dengan sungguh-sungguh."


"Jadi Senpai mau balas dendam, ya?" tanya Herlin datar.


Sepertinya itu tujuan sebenarnya Senpai mengajak Herlin berduel. Ia jadi sempat berpikir kalau mulai di latihan nanti, Herlin akan mengurangi porsi latihannya. Karena latihan yang ia berikan mungkin terlalu berat dan melelahkan.


Tapi itu tidak bisa melepaskannya dari duel kali ini. Herlin kemudian memasang kuda-kuda yang baru saja ia pelajari sebelumnya. Kaki kanannya berada satu langkah di depan kaki kirinya dan menggenggam pedang dengan kedua tangannya.


Sementara Senpai tidak terlalu menanggapi Herlin secara serius dan hanya melompat-lompat kecil saja untuk melemaskan otot-ototnya.


Tetsu kemudian berdiri di tengah-tengah mereka berdua dan bertindak sebagai wasit. Ia mengangkat satu tangannya tinggi-tinggi dan bersiap untuk memulai duelnya.


"Bersiap …!"


"… Mulai!"


Saat Tetsu menjatuhkan tangannya, hembusan angin kencang seiring dengan menghilangnya Mei-senpai dari pijakannya sebelumnya dengan cepat membuat Michi-chan yang melihatnya melebarkan matanya karena terkejut.


"Senpai … cepat sekali!"


Sementara Herlin yang sudah tahu kalau Senpai telah bergerak, masih belum melakukan apa-apa. Matanya yang biasanya ia alirkan dengan aura, kali ini tidak ia alirkan dan penglihatannya setara dengan manusia biasa. Hal itu membuat ia tidak bisa mengikuti pergerakan Mei-senpai yang dengan cepat melesat kearahnya.


Terlalu cepat pikir Herlin. Dan sebagai nilai tambah, refleks Herlin juga tidak terlalu bagus sehingga ia benar-benar menjadi sasaran empuk bagi Mei-senpai.


Mei-senpai datang ke depan Herlin begitu saja dan berhenti ketika jaraknya kira-kira sekitar satu meter di depan Herlin. Tanpa jeda, Mei-senpai langsung memukul tepat ke arah wajah Herlin.


Tapi pukulannya tidak sampai dan masih menyisakan jarak beberapa senti dari wajah Herlin. Herlin yang sudah bersiap untuk serangan itu sedikit terkejut karena pukulan Senpai tidak sampai kepadanya. Ia sempat berpikir kalau itu hanyalah gertakan dari Senpai.


Swuuushh…


Tapi dugaan Herlin langsung sirna, karena beberapa detik kemudian hembusan angin kencang tercipta tepat di depan wajahnya yang membuatnya menutup matanya dan kuda-kudanya sedikit goyah.


Tapi hal itu tidak berlangsung lama, Herlin segera mengecek keberadaan Mei-senpai lagi yang tadi berada di depannya. Dugaannya benar, Mei-senpai sudah hilang dari hadapannya.


Herlin mencari Senpai ke kanan dan kirinya. Dan ia langsung menyadari keberadaannya saat sebuah teriakan terdengar olehnya.


"Di atasmu, Herlin-chan!"


Herlin langsung mendongak ke atas dan menemukan kalau Senpai sedang terbang dengan memanipulasi angin di bawah kedua kakinya.


Senpai kemudian mengangkat kakinya tinggi dan menendangnya ke arah bawah secara vertikal di udara yang menciptakan hembusan angin kencang dan tajam mengarah pada Herlin.


Kali ini Herlin melakukan tindakan yang berbeda. Ia melompat mundur ke belakang dan sebisa mungkin menghindari hembusan angin tadi. Karena Tetsu memperingatkannya untuk memakai strategi bertahan dan serang. Maka menghindar adalah salah satu cara bertahan.


Mei-senpai yang bingung karena Herlin tidak kunjung menyerangnya kemudian mulai bertanya.


"Nee, Herlin-chan … kenapa kau tidak menyerangku?"


"Apa hal itu perlu diperjelas lagi?"


"Memangnya kenapa?"


"Aku saat ini adalah manusia biasa yang memegang pedang. Sementara Senpai adalah seorang Exception yang bisa terbang, tentu saja aku memilih bertahan. Lagipula bukankah Senpai mengeluarkan kekuatan terbaik Senpai saat melawanku saat ini, membuktikan kalau Senpai itu lemah?"


Jleb…


Sebuah panah imajiner tiba-tiba menusuk dada Senpai akibat kata-kata dari Herlin. Padahal daritadi Herlin yang tertekan oleh Mei-senpai, tapi malah dia yang terkena serangan duluan—meskipun secara mental.


"Kata-kata yang keluar dari mulutmu memang yang terbaik."


Cecilia tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tertawanya saat mendengar Herlin memancing amarah seseorang, pantas saja Iraya kadang sering kesal dengan perkataannya. Tapi sepertinya itu telah membuat Mei-senpai menjadi marah. Cecilia dan Herlin yang merasakan kalau aura milik Mei-senpai keluar lebih banyak lagi.


"Tu-Tunggu … Mei-senpai, aku cuma bercanda."


"Herlin-chan …, aku akan mengajarimu bagaimana cara berbicara pada orang yang lebih tua dengan benar."


"Senpai …, aku cuma orang biasa saat ini. Jika kau menyerangku dengan aura sebanyak itu aku akan—"


Meskipun Herlin sudah memohon untuk meminta keringanan. Tapi sepertinya Mei-senpai sudah benar-benar kesal dengan Herlin. Jadi apapun yang dikatakan Herlin saat ini tidak berpengaruh apa-apa padanya.


"Wah … sepertinya kau dalam bahaya nih," ucap Cecilia dengan nada kekhawatiran yang seperti bercanda.


"Jangan cuma bicara dan cepat bantu aku. Aku bisa terluka lebih parah dari yang kemarin."

__ADS_1


"Lagian kau sepertinya sudah terlalu berlebihan tadi."


"Aku akan minta maaf padanya nanti, tapi sekarang bantu aku dulu."


Zwuusshh…


Hembusan angin di sekitar Mei-senpai semakin kencang dan tidak beraturan layaknya badai topan. Ia sepertinya tidak menahan diri sama sekali saat ini.


"Se-Senpai … kurasa itu sudah terlalu berlebihan."


Kemarahan Mei-senpai karena diremehkan benar-benar telah mencapai puncaknya. Apalagi ia harus menahannya setiap hari pada saat latihan. Ini adalah kesempatan terbesarnya untuk membalas Herlin.


"Kau bahkan tidak memasang kuda-kudamu ya, Herlin-chan? Baiklah, aku akan menyerangmu dengan sungguh-sungguh."


"Tunggu, Mei-senpai?!"


Ia kemudian mengarahkan tangannya ke arah Herlin yang ada dibawahnya. Angin yang berhembus kencang tadi sekarang menjadi seirama dan melesat menuju ke arah Herlin. Herlin yang sudah tidak bisa menghindarinya lagi karena area serangannya yang mencakup seluruh tempat mereka berduel akhirnya hanya bisa melindungi kepalanya dengan menggunakan pedang Tetsu.


Zwuusshh… Braaaakkkhh…


"Mei-senpai! Mei-senpai itu sudah berlebihan!"


"Eh?"


Teriakan Michi-chan langsung menyadarkan Senpai yang dari tadi termakan amarahnya sendiri. Ia kemudian sadar akan serangan yang tadi ia berikan dan melihat kearah bawah.


Debu dari tanah yang hancur akibat serangannya menutupi area itu membuat ia tidak bisa melihat keberadaan Herlin.


"A-Aku kelewatan!"


Swuuushh…


Mei-senpai menerbangkan debu-debu tadi agar ia bisa melihat keadaan Herlin sekarang. Mei-senpai berpikir kalau ia harus meminta maaf karena yang ia lakukan sudah sangat kelewatan.


Setelah debu disekitarnya hilang, ia akhirnya menemukan Herlin. Tapi ia terkejut karena Herlin masih berdiri sehat dan tidak terluka sama sekali. Bahkan tanah di sekitar area dalam jarak satu meter tidak terkena dampak serangan Mei-senpai.


Ziiing…


"Ya ampun, akhirnya aku pakai cara terakhir," ucap Herlin.


"Herlin-chan?! Apa kau tidak apa-apa?!"


Mei-senpai langsung turun dari atas dan menghampiri Herlin. Ia kemudian menghilangkan aura berbentuk bulat yang melindungi dirinya.


"Aku tidak apa-apa. Tapi tadi itu benar-benar nyaris sekali."


Menyadari kesalahannya tadi, Mei-senpai langsung menundukkan kepalanya setara sembilan puluh derajat lalu meminta maaf pada Herlin. Meskipun ia marah tapi tetap saja hal yang ia lakukan sudah keterlaluan.


"Aku minta maaf! Yang sudah kulakukan benar-benar sudah kelewatan!"


Melihat Senpai yang sudah meminta maaf dengan sungguh-sungguh seperti itu, membuat Herlin menjadi tidak enak untuk memarahinya. Ia juga tidak bisa menyalahkannya karena yang membuatnya hilang kendali seperti tadi adalah dia sendiri.


"Seharusnya aku juga minta maaf. Sepertinya Senpai tertekan dengan pola latihanku dan perkataanku yang kasar. Jadi aku juga minta maaf."


Herlin juga ikut menundukkan kepalanya meskipun tidak sedalam Mei-senpai. Dan saat mereka berdua sama-sama meminta maaf, suasananya berubah menjadi canggung. Tapi saat suasana ini menguasai mereka berdua, tiba-tiba dari belakang Herlin keluar seseorang yang langsung mencairkan suasana.


"Baiklah, kalian berdua sudah saling meminta maaf dan semuanya akan baik-baik saja."


"Ka-Kau …?"


"Kau belum pernah melihatku, ya? Benar, aku ini Cecilia. Spirit yang selalu berada di dalam tubuh Iraya."


Karena Herlin menyebut kata 'hantu' pada Cecilia, bayangan Mei-senpai pada Cecilia adalah makhluk yang mengerikan dan berbahaya. Tapi ternyata ia lebih mirip seorang manusia biasa daripada sesosok hantu.


"Jadi dia Cecilia, lalu kalau Tetsu …."


"Aku adalah Spirit yang hidup di pedangnya Iraya!"


"Cecilia dan Tetsu. Dia memiliki dua Spirit di pihaknya."


"Mengejutkan, bukan? Orang sepertinya dapat berteman dan bekerja sama dengan baik bersama Spirit-Spirit ini."


Mei-senpai melihat kearah Tetsu dan Cecilia. Tetsu yang sadar kalau ia sedang diperhatikan dalam diam kemudian memberikan pose tangan 'peace' dan mendekat kepada Cecilia. Ia masih belum mengetahui bagaimana sifat asli dari Spirit ini, tapi menurutnya mungkin mereka tidak berbahaya.


"Oh iya, lalu waktu bertarung denganku, kenapa kau bersikeras untuk tidak mengeluarkan auramu?"


"Karena aku memiliki Cecilia. Selama dia berada di dalam tubuhku, aku tidak mau mengeluarkan auraku—lebih tepatnya tidak bisa."


"Apa yang terjadi jika kau mengeluarkan auramu?"


"Dalam beberapa menit, tubuhku aku akan meledak karena auraku tidak cocok dengannya."


"Me-Meledak?!"


"Karena itu aku mempelajari teknik berpedang. Jika tidak bisa, maka aku tidak lebih dari gadis SMA biasa."


"Begitu, ya?"


"Jadi apakah Senpai mau membantu latihanku?"


"Tentu saja! Dengan senang hati!"


Herlin dan Mei-senpai kemudian berjabat tangan dan setuju untuk membantu latihannya. Tetsu dengan tiba-tiba menumpuk tangannya diatas jabatan tangan mereka berdua, lalu Cecilia juga melakukan hal yang sama.


"Kalian …?"


"Bukan hanya kalian berdua yang akan bertarung. Tentu saja aku dan Tetsu akan ikut."


"Betul sekali!"


Lalu Herlin dan Mei-senpai mengubah jabatan tangan mereka menjadi tumpukan tangan atau tos yang biasa dilakukan oleh sebuah tim. Tapi tidak berhenti sampai disitu, mereka semua kemudian menatap kearah Michi-chan yang membuatnya salah tingkah.


"E-Eh?! A-Ada apa?"


"Kau juga membantuku di awal-awal, Michi-chan. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian."


"Ka-Kalau begitu …."


Meskipun dengan malu-malu dan hati-hati, Michi-chan perlahan mendekati mereka semua dan menaruh tangannya diatas tangan mereka semua dengan perlahan. Ia belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya, tapi ini benar-benar menyenangkan.


"Apa kami juga boleh ikut membantu?"


"Eh?"


Saat mereka semua ingin berteriak sorak, tiba-tiba ada dua orang datang menyelak mereka. Mereka berdua adalah Kudou dan Hira. Dan Hira juga membawa sebuah kantong plastik penuh yang tampak berat.


"Oh? Temannya Iraya?" tanya Cecilia.


"Bagaimana kalian berdua bisa tahu kalau kami ada disini?"


"Iraya pernah bergumam soal bukit belakang, bukit belakang seperti orang bodoh. Kukira dia hanya berkhayal, ternyata dia memang benar-benar melakukan sesuatu disini. Mungkin kami tidak akan membantu banyak, tapi apakah ini cukup?"

__ADS_1


Hira mengangkat dan menunjukkan sebuah kantong plastik putih yang ia bawa dari tadi. Ternyata di dalamnya terdapat minuman ringan dan minuman berenergi untuk mereka semua yang ada disini.


"Tentu saja itu cukup!"


"Ehehehe!" Kudou tidak berbicara apa-apa dan hanya menanggapinya dengan tawa.


Lalu mereka berdua pun berjalan ke arah yang lainnya dan menumpuk tangan mereka berdua diatas yang lainnya.


"Ayo kita selamatkan Iraya bersama-sama!"


"Yaaa!"


Dan kami pun bersorak kencang dan melemparkan tangan kami tinggi-tinggi ke atas langit.


Setelah itu pelatihan Herlin kembali dimulai. Selain melakukan pemanasan seribu kali mengayunkan pedang, Tetsu juga mengajarkan hal-hal lainnya berdasarkan pengalaman beratus-ratus tahun tinggal di dalamnya bersama dengan ahli pedang.


Cecilia juga ikut membantu latihannya dengan memberitahu hal-hal yang terjadi di dalam tubuh Herlin. Seperti contohnya, jika nafas Herlin sudah mulai tidak beraturan, Cecilia akan memberitahunya dan Herlin pun menormalkannya lagi.


Ada juga Mei-senpai yang ketika latihan ketat Herlin oleh Tetsu berakhir, Mei-senpai dengan siap akan menjadi latihan duelnya. Ini juga dibutuhkan olehnya untuk membiasakan Herlin melawan para Assassin itu.


Dan selain mereka bertiga, ada juga Kudou dan Hira yang setiap hari datang kesini untuk membawakan mereka minuman. Begitu pula dengan Michi-chan yang datang untuk memberikan Herlin semangat.


Semuanya saling membantu untuk mengharapkan hasil yang terbaik. Dan setelah itu, seminggu telah berlalu dan latihan ini telah mencapai ujungnya.


**


Saat ini hari sudah malam, Herlin dan yang lainnya sudah mau pulang ke rumah masing-masing. Tapi tiba-tiba Cecilia yang berada di dalam tubuh Herlin mengajak Herlin untuk berbicara.


"Selamat tinggal semua."


"Sampai jumpa besok!"


Kudou, Hira, dan Michi-chan sudah berjalan pulang dan sekarang hanya menyisakan Mei-senpai dan Tetsu saja. Herlin juga sudah menyarungkan pedangnya dan bersiap untuk pulang.


"Kita juga pulang, ya?" ajak Mei-senpai.


"Nn."


"Ayo!"


"Tunggu sebentar!"


Herlin menghentikan langkahnya ketika Cecilia tiba-tiba berteriak di dalam kepalanya. Mei-senpai yang melihat tingkah aneh Herlin pun kemudian bertanya kepadanya.


"Herlin-chan? Ada apa?"


"Oh~ paling Cecilia sedang berbicara di dalam kepalanya,"


"Cecilia? Di dalam kepalanya?"


Herlin memberikan isyarat untuk diam sebentar kepada Tetsu dan Mei-senpai menggunakan tangannya. Ia pun kemudian melanjutkan pembicaraannya.


"Ada apa, Cecilia?"


"Kurasa latihanmu sudah cukup sampai disini."


"Memangnya kenapa?"


"Aku punya firasat kalau kita harus membalas serangan mereka secepatnya, kalau tidak kita akan terlambat."


"Apa maksudmu?"


"Entahlah."


Seperti mengatakannya dengan setengah-setengah, membuat Herlin tambah bingung dengan apa yang dimaksudkan oleh Cecilia. Tapi satu hal yang pasti, kalau hal baik tidak akan terjadi.


"Apa yang dikatakan oleh Cecilia?" tanya Mei-senpai.


"Aku juga tidak mengerti, tapi kurasa kita harus menemui Oita-san sekarang."


"Sekarang juga?"


"Iya."


"Kalau begitu, aku akan kembali ke dalam pedang. Aku sudah mulai mengantuk," ucap Tetsu sambil menutupi mulutnya yang menguap dengan tangannya.


Setelah itu, cahaya yang menyilaukan keluar dari tubuh Tetsu dan lama kelamaan hilang bersamaan dengan tubuh Tetsu.


"Ayo kita pergi."


"Baik."


Mereka berdua akhirnya menuju ke Haiiro Cafe malam itu juga. Dan saat sampai disana, mereka langsung masuk ke dalam ruangan Oita-san yang kebetulan juga sedang duduk di bangkunya yang biasa.


"Herlin-chan, akhirnya kau datang juga. Sudah seminggu kau tidak berkunjung kesini. Apa ada sesuatu terjadi padamu setelah mengunjungi rumah Iraya waktu itu?"


"Benar, aku mengetahui beberapa hal baru tentang Iraya. Dan selama seminggu ini aku sudah berlatih."


"Berlatih?"


Oita-san melirik kearah pedang milik Iraya yang melekat pada punggung Herlin lengkap dengan sarungnya.


"Apa itu ada hubungannya dengan pedang milik Iraya yang sekarang kau bawa?"


"Benar, aku melatih kemampuan berpedangku. Aku sedang tidak bisa mengeluarkan auraku karena ada Cecilia yang berada di dalam tubuhku."


Oita-san melebarkan matanya sedikit. Dia tiba-tiba mengeluarkan sebuah seringai yang langsung ia tutupi menggunakan tangannya. Lalu setelah beberapa saat, ia bisa mengontrol seringainya dan berbicara seperti biasa lagi.


"Apa ada hubungannya antara kau yang tidak bisa mengeluarkan aura dengan Subject C yang berada di dalam tubuhmu?"


"Ada. Karena aura kami berdua tidak cocok, jika aku mengeluarkan auraku sebentar saja, maka aku akan merasakan panas yang membakar tubuhku dari dalam. Kemungkinan terburuknya tubuhku bisa meledak."


"Jadi begitu, ya. Lalu apa yang mau kau bicarakan malam-malam begini?"


"Kita harus melakukan serangan balasan secepatnya, Oita-san. Aku sudah melatih kemampuanku selama seminggu ini, ditambah lagi ada Cecilia di dalam tubuhku. Aku yakin kalau kita bisa menang."


Oita-san tidak langsung menjawabnya, melainkan ia melirik kearah Mei-senpai yang sudah berdiri tadi bersama dengan Herlin.


"Bagaimana denganmu, Mei-chan?"


"Aku juga setuju dengan Herlin. Jika kita terlalu lama membuang-buang waktu, itu bisa menjadi keuntungan bagi musuh."


Oita-san kemudian tersenyum dan bangun dari tempat duduknya dan berbicara sesuatu.


"Kalau begitu kita akan berkumpul lagi pada tengah malam. Aku juga akan memanggil Ishikawa-san."


"Baik!"


Akhirnya pertarungan mereka akan kembali dimulai. Dengan lawan yang sama tapi dengan kekuatan yang berbeda. Untuk menyelamatkan seorang keluarga. Mereka akan mempertaruhkan nyawa mereka.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2