Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 98 : Perjalanan Menuju Jepang


__ADS_3

Pada malam yang tenang dan sepi, seseorang sedang tidur dengan nyaman dan pulasnya. Seorang perempuan sedang tidur di kamar luas yang berukuran sekitar 8×8 meter persegi.


Dengan dekorasi yang mewah serta furnitur-furnitur berlapiskan emas dan perak membuatnya terlihat sangat mahal dan berharga. Perempuan itu tidur di tempat tidur untuk dua orang dengan kelambu yang menutupinya sehingga tidak ada serangga yang dapat masuk dan mengganggu kenyamanan tidurnya.


Selain kasur yang mewah serta nyaman, di kamarnya juga terdapat banyak sekali boneka dengan berbagai jenis. Mulai dari yang terbuat dari kain flanel, keramik, kayu, bahkan dari plastik pun juga tidak ketinggalan tersusun rapi di rak kaca setinggi 3 meter.


Lalu ada juga meja rias dengan lilin aromaterapi berwarna merah yang terlihat sudah habis dan berbagai macam perhiasan serta alat kosmetik lengkap di sana.


Kembali ke susunan boneka yang terdapat di rak kaca besar tadi, dari semua banyak jenis boneka terdapat sekitar lima boneka keramik yang paling menonjol.


Mereka memiliki penampilan yang mirip dan terlihat seperti terinspirasi dari manusia sungguhan dan salah satu dari mereka mirip dengan orang yang berada di Jepang saat ini, yaitu Astaroth.


Lalu cuaca yang awalnya tenang dan nyaman untuk tidur, tiba-tiba berubah menjadi berawan dan mendung. Cahaya bulan serta bintang yang menyinari langit malam itu pun juga seketika hilang dan suara guntur mulai terdengar.


Gluduk... Gluduk...


"Nghn ...."


Perempuan itu mulai terganggu dengan suara guntur tadi dan menggumam serta merubah posisi tidurnya agar lebih nyaman.


Blaaarr... Kraaakk...


"Hakh—?!"


Mata perempuan itu terbuka dan terkejut. Suara petir yang menyambar tadi membuatnya terbangun dan membuat dadanya sedikit berdebar-debar. Ia pun terbangun dan duduk di atas tempat tidurnya.


Ia melihat keluar jendela yang jendelanya tidak tertutup sempurna dengan tirai tersebut. Perempuan itu dapat melihat cahaya petir yang sesekali menyambar dari balik tirai itu.


Perempuan itu kemudian turun dari tempat tidurnya dan mengambil segelas air putih yang sudah ia siapkan di meja kecil di sebelah tempat tidurnya. Setelah meminum beberapa teguk sampai tersisa setengah, ia kembali menaruhnya di tempatnya sebelumnya.


Setelah tenang dan sudah lumayan tersadar, ia sudah tidak terlalu mengantuk lagi sekarang dan ingin berkeliling di sekitar kamarnya. Ia juga menyalakan lampu tidur yang juga berada di meja kecilnya karena menganggap ruangan di sini terlalu gelap.


Pandangannya setelah menyalakan lampu langsung tertuju pada boneka di rak kacanya. Terlihat kalau perempuan itu sangat menyukai boneka karena ini adalah hal yang membuatnya tersenyum pertama kali setelah bangun tidur dari tadi.


Ia memperhatikan mereka semua layaknya teman berharga. Tapi ada satu hal yang membuat senyumannya tiba-tiba menghilang, yaitu sebuah retakan besar di salah satu boneka keramiknya.


Ia membuka pintu rak kacanya dan mengambil boneka keramik tersebut. Perempuan itu memperhatikannya dengan baik dan sadar kalau retakan itu berada di bagian wajah boneka keramik yang mirip dengan Astaroth.


"Apa yang terjadi padamu di sana, paman?"


Praang...


Perempuan itu kemudian menjatuhkan boneka retak tadi ke tanah dan tentu saja itu hancur menjadi kepingan-kepingan kecil. Setelah menghancurkannya sampai tidak dikenali lagi, ia mengambil salah satu kepingan yang memiliki ujung yang tajam.


"Ayo kita temui dia," gumam perempuan itu.


Srying...


Setelah mengambil salah satu serpihan boneka keramik tadi, perempuan itu kemudian mengarahkannya ke urat nadi tangan kirinya dan kemudian mengirisnya sampai mengalir darah segar dari sana.


Darah yang tertinggal pada serpihan itu kemudian ia jilat sampai bersih dan sesuatu yang aneh terjadi.


Zwuushh...


Sekelebat potongan-potongan ingatan tiba-tiba muncul di dalam pikiran perempuan itu yang membuat matanya melebar. Dan di akhir potongan ingatan tadi, ia dapat melihat tubuh Astaroth yang tergeletak di tanah dengan kepala yang terpisah dari tubuhnya.


Dan potongan ingatan dalam sebuah film cepat yang terputar di dalam pikiran perempuan itu pun akhirnya selesai. Ia seperti shock dan tidak bisa berkata apa-apa setelah melihat hal yang terjadi.


Blaamm...


"Seana-sama! Aku mendengar suara benda pecah dari kamar an—Seana-sama?"


Tiba-tiba seorang laki-laki masuk ke dalam kamar perempuan—Seana itu. Ia memakai pakaian butler lengkap menandakan kalau ia adalah pelayan di tempat ini.


Laki-laki itu terlihat khawatir dan semakin khawatir saat melihat Seana berdiri diam di depan rak kaca koleksi bonekanya. Ia juga melihat di lantai banyak serpihan-serpihan keramik yang berantakan dan darah yang mengucur dari tangan Seana.


"Tangan anda—"


"Aku tidak apa-apa, Dillon."

__ADS_1


"Eh?"


"Aku ... tidak apa-apa."


Seana menengok ke arah pelayannya—Dillon. Ia berusaha berekspresi biasa saja meskipun air mata tetap turun ke pipinya. Sementara Dillon hanya bisa menghampiri Seana dan mengobati tangan kirinya dengan perban yang ada di laci meja riasnya.


Setelah selesai mengobatinya, Dillon kembali mundur dan menjaga jarak serta menunduk untuk menunggu perintah berikutnya dari Seana-sama. Ia tidak bisa terlalu dekat dengan Seana-sama karena dirinya hanyalah seorang pelayan.


"Maaf aku lancang ingin tahu seperti ini, tapi apa yang sedang anda lakukan sampai melukai diri anda sendiri, Seana-sama?"


"Kau tidak perlu khawatir seperti itu, ini sudah sering aku lakukan."


"Makanya aku menyarankan anda untuk berhenti melakukannya. Anda tidak bisa melukai kulit anda terus menerus seperti itu, lagipula anda juga membuat saya khawatir."


Seana tersenyum karena pelayannya yang terlihat sangat peduli padanya dan mengkhawatirkannya. Ia bisa sedikit menghibur dirinya tapi tetap ingin mengurus hal itu, hal yang ia lihat di dalam ingatannya.


Tapi ia tidak bisa pergi begitu saja saat ini. Ia harus memberitahukan hal ini kepada semua orang, kalau Astaroth sudah mati. Tapi Seana memilih untuk tidak melakukannya, ia akan merahasiakan hal ini untuk dirinya sendiri.


"Terima kasih telah mengkhawatirkanku."


"Itu memang tugasku sebagai pelayan anda."


"Kalau begitu maukah kau menemaniku ke suatu tempat?"


"Tentu saja, anda bisa mengandalkan saya. Tapi kalau boleh tahu, kita akan pergi kemana?"


"Jepang."


"Eh?"


"Kita akan pergi ke Jepang."


Seana melihat ke arah jendela yang tirainya sudah ia buka sepenuhnya. Ia akan datang sendiri ke Jepang dan akan mengurus semuanya di sana, sampai pelaku yang membunuh Astaroth ia tangkap dan bunuh dengan tangannya sendiri.


**


Pada pagi harinya, Seana sedang berada di kamarnya setelah menyelesaikan sarapan di ruang makan. Saat sedang senggang seperti ini, biasanya ia merawat dan menyisir rambut boneka-bonekanya seperti yang sedang ia lakukan saat ini.


Setelah menyisirnya dengan beberapa sisiran, ia mengangkat bonekanya tinggi-tinggi dan memperhatikannya sambil tersenyum.


"Kau cantik seperti biasanya, ibu," gumam Seana.


Tepat setelah ia bicara seperti itu, pelayannya—Dillon datang dan melapor pada Seana. Ia melaporkan kepadanya kalau mereka berdua siap berangkat, dan tinggal satu hal lagi yang harus dilakukan.


"Seana-sama." Dillon berlutut dan menunggu Seana berbicara.


"Apa persiapannya sudah selesai semua?"


"Ya, semuanya sudah aku urus. Tapi masih ada satu hal yang harus anda lakukan sendiri."


"Aku tahu itu. Hal yang paling merepotkan dari semuanya."


Seana kemudian keluar dari kamarnya dan Dillon pun mengekor di belakangnya. Ia berjalan ke sebuah lorong kosong besar yang penuh dengan hiasan emas dan karpet merah di sepanjang lorong.


Mereka berjalan terus sampai berhenti di depan sebuah pintu besar yang tertutup rapat. Dillon kemudian dengan sigap dan peka langsung membukakan pintu tersebut dan mereka berdua pun masuk ke dalamnya.


Ruangan yang mereka masuki adalah sebuah ruang tahta dengan ruangan yang cukup luas dan karpet merah yang belum berhenti sampai ke ujung ruangan ini. Dan di ujung ruangan ini terdapat singgasana dan seseorang yang duduk di sana.


Seorang wanita yang duduk dengan wajah galak dan tatapan tajam memperhatikan Seana dan Dillon yang berjalan mendekatinya. Wanita itu memakai gaun merah yang mekar pada bagian roknya, dengan ikatan bondol pada rambut pirangnya. Dia adalah ratu sekaligus pemilik kastil ini.


Setelah berada pada jarak yang cukup dekat, Seana dan Dillon berlutut dan menundukkan wajahnya sebelum akhirnya berbicara.


"Ibunda, aku meminta izin untuk bertemu dengan paman Griffin di Jepang."


"Bertemu kakakku? Apa yang ingin kau lakukan di sana? Kau hanya akan mengganggu penelitiannya saja."


"Aku berjanji aku tidak akan mengganggunya, ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengannya. Selain itu, aku juga sedikit penasaran dengan apa yang dia lakukan di sana."


"Hmm ...."

__ADS_1


Ibunda Seana merasa curiga terhadap perilaku anaknya saat ini. Sementara Seana sendiri hanya menunduk mencoba untuk menunggu apakah ia akan diizinkan atau tidak.


Ini adalah bagian yang paling merepotkan dari menjadi tanggung jawab seseorang, tidak bisa bebas kemanapun yang mereka mau dan harus melapor apa pun yang terjadi padanya.


Tapi setelah suasana canggung serta menegangkan yang terasa kuat di ruang tahta itu, ibunda Seana pun memulai pembicaraan dan memberikan jawabannya.


"Baiklah, aku izinkan. Tapi kau tidak boleh pergi kesana sendirian."


"Tenang saja ibunda, aku akan mengajak Dillon bersamaku untuk perjalanan kali ini."


Seringai tipis tercipta di wajah Seana yang langsung menghilang ketika ia mengangkat wajahnya menghadap ibundanya.


"Terima kasih, ibunda."


Seana dan Dillon pun kemudian berjalan keluar dari ruang tahta tadi setelah mendapat jawaban yang memuaskan bagi mereka berdua, meskipun mereka tidak bisa menunjukkan rasa senangnya sekarang.


"Tunggu ...."


Tapi sebelum ia keluar dari ruang tahta, ibunda Seana kembali memanggilnya lagi. Mereka berdua pun menghentikan langkah mereka dan tanpa berbalik menunggu perkataan selanjutnya dari ibundanya.


"... Apa kau merahasiakan sesuatu dariku, Seana?"


Seana tidak langsung menjawabnya. Ia khawatir kalau wajah paniknya dapat terlihat jika ia berbalik sekarang, karena matanya sedikit melebar saat ini menganggap kalau ibunya tahu rencananya.


Saat dalam keadaan panik seperti itu, pelayannya—Dillon memegang pundaknya karena tahu kalau Seana sedang dalam kepanikan. Ia menggelengkan kepalanya meyakinkan kalau ibunda Seana tidak mengetahui rencananya dan itu hanyalah intuisinya semata.


Seana pun menarik nafasnya dalam-dalam dan keringat kekhawatiran di dahinya pun menghilang. Ia pun berbalik dan menjawab pertanyaan ibundanya dengan sedikit senyuman yang terlihat sedikit dipaksakan.


"Tentu saja tidak, ibunda. Aku tidak akan berani berbohong seperti itu pada ibunda."


"Begitu. Kalau begitu ya sudah."


Sepertinya untuk saat ini rencana Seana berhasil dan mereka berdua pun keluar dari sana.


Di depan pintu kastil, saat Seana dan Dillon sudah ingin berangkat mereka masih mengecek apakah persiapan mereka sudah siap semua. Seana memakai sebuah cape berwarna coklat kacang yang menutupi bagian belakang tubuhnya sampai kaki, sementara bagian depannya hanya menutupi bagian atas dadanya saja yang dijepit dengan sebuah peniti dengan model pita hitam.


Sementara Dillon sendiri tidak banyak berhias dan hanya memakai pakaian butler lengkap saja. Dan setelah dirasa tidak ada yang ketinggalan, mereka pun akhirnya berangkat.


Saat dalam perjalanan, semuanya terasa membosankan bagi Seana. Jadi ia mengajak berbicara Dillon meskipun saat ini ia terlihat sedang sibuk mengerjakan sesuatu.


"Nee, Dillon."


"Apa anda memanggil saya, Seana-sama?"


"Aku memang bilang kalau kita ingin pergi ke Jepang, tapi apa kau tahu cara agar kita bisa sampai kesana dengan cepat dan aman?" tanya Seana.


"Hnm? Kalau itu aku sudah memikirkannya dengan matang. Cara tercepat kita sampai kesana adalah dengan naik pesawat terbang."


"Pesawat? Oh ... maksudmu benda terbang yang biasa lewat di atas istana itu? Apa benda itu bisa dinaiki seseorang?"


"Iya, tenang saja. Oh iya, saya ingin bertanya satu hal pada anda, Seana-sama. Saat anda sampai di sana, apa anda akan mengerti dan bisa Bahasa Jepang?"


"Aku bisa jika hanya percakapan biasa, tapi huruf kanji mereka masih sedikit yang aku hafal. Lagipula aku sudah mempelajari beberapa bahasa di dalam kastil, bagaimana denganmu, Dillon?"


"Kalau aku sendiri tidak akan ada masalah, dulu aku sempat disuruh Griffin-sama untuk belajar Bahasa Jepang."


"Begitu, ya."


Seana kemudian melamun dan tersenyum menunggu apa yang akan ia lihat di Jepang. Meskipun ia sudah tahu kalau pamannya sudah mati, tapi ia akan segera kesana dan menyelidiki semuanya.


"Lagipula ... aku ini hanyalah seorang putri yang terisolasi dari dunia luar," gumam Seana kecil.


Karena saat ini, mereka sedang berada di atas perahu kano yang hanya cukup untuk beberapa orang. Sementara Dillon yang sedang mendayung sampai mereka sampai di daratan utama.


Kastil mereka berada di sebuah pulau kecil di tengah danau yang juga tertutup dan tersamarkan dengan baik oleh alam berkat gundukan-gundukan bukit batu yang secara alami menutupinya.


Hanya ada beberapa jalan keluar dan masuk kecil yang sulit dideteksi dari jauh. Jika mau melihat kastil itu dengan jelas, harus lewat jalur udara. Tapi tidak ada manusia yang melakukannya karena mereka tidak tahu keberadaan kastil itu, serta kastil itu sudah diberi pelindung aura yang membuatnya tersamarkan dari dunia luar.


Orang-orang yang tinggal di dalam kastil itu juga tidak banyak, hanya beberapa orang dan beberapa pelayan saja. Tidak ada penjaganya sama sekali karena kemampuan para pelayan dan pemilik kastil itu sudah cukup kuat untuk melindungi dirinya sendiri.

__ADS_1


Seana yang sedang melamun sambil berpangku tangan pun dadanya sedikit berdebar-debar karena tidak sabar hal baru apa yang akan ia lihat di Jepang nanti.


Bersambung


__ADS_2