Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 80 : Asal Usul Delta


__ADS_3

Beberapa waktu lalu, saat penangkapan Satou Iraya oleh Nimis dan Ardenter gagal. Hasuki Nakamura atau lebih dikenal sebagai CEO dari Ayakashi Corp. memutuskan untuk memasukkan seseorang yang ia percayai ke dalam Kelompok Assassin itu.


"Kalau begitu, aku akan memasukkan satu orang perwakilan dari Ayakashi Corp. untuk bergabung dengan kelompok kalian."


"Satu orang? Tapi aku tidak memutuskan hal itu sendiri," ucap Nimis.


"Benar juga, kau bukanlah pemimpinnya. Aku harus berbicara dengannya secara langsung, kapan aku bisa menemuinya?"


"Tidak perlu repot-repot mencariku."


Tiba-tiba seseorang membuka pintu dan masuk ke dalam seperti sudah menunggu saatnya untuk dipanggil. Nimis dan Ardenter terkejut karena ia tidak menyangka kalau Bos—Astaroth akan datang kesini saat ini.


"Aku dengar kalau kau ingin memasukkan seseorang ke dalam kelompokku, apa itu benar? Jika benar begitu, maka aku sendiri yang akan menentukannya apakah dia bisa masuk kesini atau tidak," jelas Astaroth.


"Baiklah, terserah padamu saja."


Nakamura pun kemudian bangun dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari ruangan ini bersama dengan Astaroth yang berjalan di sampingnya.


Sementara itu Ardenter dan Nimis yang masih berada di sana ditinggalkan begitu saja oleh mereka berdua. Tapi Astaroth sempat berbicara sesuatu pada mereka berdua sebelum mereka pergi.


"Untuk misi kali ini, aku tidak akan memberikan hukuman apa-apa pada kalian. Sekarang pergilah dan perkuat diri kalian sendiri."


Mereka berdua pun hanya bisa melihat punggung Nakamura dan Astaroth yang berjalan menjauh, lalu kemudian Nimis dan Ardenter pun keluar dari ruangan itu juga setelah menunggu mereka berjalan cukup lama.


Sementara itu Astaroth dan Nakamura berjalan menuju mobil dan masuk ke dalamnya, setelah itu ia berangkat menuju ke Kyoto, tempat kediaman Nakamura berada. Disana juga ada kantor cabang dari Ayakashi Corp. yang berbentuk sebuah laboratorium.


Selama perjalanan kesana, mereka sempat berbincang sedikit soal orang yang Nakamura maksudkan untuk dimasukkan ke dalam Kelompok Assassin milik Astaroth.


"Jadi soal orang itu, bisa kau ceritakan tentangnya?" tanya Astaroth.


"Tidak perlu kujelaskan panjang lebar, orang itu adalah seseorang yang paling kupercayai dan juga kusayangi. Tidak ada keraguanku padanya, lagipula dia memiliki darahku di dalam tubuhnya."


"Darahmu? Maksudnya …."


"Benar, dia adalah putriku. Hasuki Chifu."


Keheningan sempat terjadi diantara mereka berdua karena orang yang dimaksudkan oleh Nakamura benar-benar tidak terpikirkan oleh Astaroth sendiri. Tapi setelah itu ia mengeluarkan seringai kecil dan mulai berbicara normal lagi.


"Kenapa tiba-tiba kau memilih memasukkannya ke dalam kelompokku? Bukankah saat itu kau sendiri yang bilang kalau kami tidak boleh menyentuhnya?" tanya Astaroth.


"Itu belum saatnya bagi kalian untuk menyentuhnya, tapi sekarang aku yakin kalau ia sudah siap. Entah kenapa setelah penyerangan di sekolah, sifatnya berubah menjadi lebih dewasa dan tidak egois seperti anak kecil lagi."


"Mungkin saja ada seseorang yang mempengaruhinya?"


"Bisa jadi, dan orang itu bukanlah aku. Jadi itu membuatku kesal."


Nakamura meninju lembut pahanya sendiri seperti menahan rasa kesal yang ada di dalam dirinya. Sementara Astaroth hanya melihatnya saja dan tidak memberikan reaksi berlebihan.


"Oleh karena itu, aku ingin membuatnya menjadi masa depanku dan meneruskan pekerjaanku."


"Tapi tunggu dulu …."


"Hn?"


Astaroth menghentikan ocehan dari Nakamura. Ia bisa saja menerima Hasuki Chifu menjadi anggota barunya, tapi jika ia hanya menjadi beban baginya dia tidak akan menerimanya dan akan menolaknya mentah-mentah.


"… Jika dia berguna, maka tanpa ragu aku akan menerimanya. Tapi aku masih tidak yakin dengan kemampuan anakmu, apalagi ia hanya seorang bocah biasa."


"Aku mengerti maksudmu. Tapi tenang saja, ia memiliki kemampuan itu. Saat itu aku pernah melihatnya di dalam kamarnya, ada beberapa Chifu di sana dan mereka semua bergerak seakan memiliki pemikirannya sendiri."


"Klon? Jadi dia bisa membentuk klon dirinya sendiri?"


"Kau bisa bilang begitu, dan untuk selanjutnya kau bisa membuatnya lebih kuat lagi."


"Lebih kuat? Maksudmu aku boleh melakukan sesuatu kepadanya?"


"Lakukan saja sesukamu. Kau kehilangan satu bahan eksperimen yang kabur, kan?"


Astaroth yang mendengar itu tidak melakukan reaksi lain selain tersenyum. Tapi ia mencoba untuk menahannya sekuat yang ia bisa. Astaroth tidak menyangka kalau ia bekerja sama dengan orang sebusuk Hasuki Nakamura, tapi itu bukan masalah, malah itu menjadi keuntungan baginya pikir Astaroth.


Setelah diam sebentar, Astaroth pun mulai berbicara lagi.


"Kau … menjual anakmu sendiri, kau tahu?"


"Menjual Chifu? Ahahaha …! Kau lucu sekali. Aku sama sekali tidak menjualnya, itu adalah bukti kasih sayangku kepadanya. Sekarang mungkin kau tidak mengerti, tapi saat kau punya anak nanti aku yakin kau akan mengerti," ucap Nakamura.


"Terserah katamu."


Lalu pembicaraan mereka berakhir disitu. Dan setelah beberapa saat menunggu, mereka pun sampai ke dalam area kediaman Hasuki dan mereka berdua masuk ke dalam rumah.


"Kita akan menunggu di ruanganku," ajak Nakamura.


Karena saat sampai di sana hari sudah malam, mereka disambut beberapa maid yang sedia bekerja saat disuruh untuk menyambut tuannya bahkan saat jam-jam larut begini.


Nakamura dan Astaroth kemudian masuk ke dalam ruangan dan para maid itu pun menyediakan dua teh dan cerutu untuk Nakamura.


"Apa anakmu ada disini?"


"Kurasa dia sedang berada di kamarnya."


Nakamura menyuruh salah satu maid untuk pergi ke kamar Chifu dan memanggilnya kesini. Ia bilang ada sesuatu yang ingin ia bicarakan.


Setelah sedikit menundukkan kepalanya untuk menunjukkan rasa hormat, maid itu pun pergi dari ruangan itu. Sambil menunggu, Astaroth dan Nakamura sedikit berbicara untuk menghabiskan waktu.


"Jadi apa yang harus aku lakukan untuk memperkuatnya?"


"Lakukan apa yang menurutmu cocok untuk dirinya, dulu dia adalah anak yang egois dan serakah. Aku yakin dia akan menerimanya dan menjadi lebih kuat."


"Kalau begitu akan kulakukan yang aku bisa."


Kriiieett…


Saat mereka sedang berbicara, tiba-tiba terdengar suara pintu yang terbuka dan dari luar terlihat seorang anak perempuan yang masuk dengan wajah yang sudah mulai mengantuk.


"Ayah? Apa ayah memanggilku?"


"Ah benar, kita akan pergi saat ini juga, jadi siapkan dirimu."

__ADS_1


"Pergi? Sekarang juga?"


"Benar, kita akan pergi ke tempat teman ayah."


Astaroth kemudian berdiri setelah Nakamura memperkenalkannya kepada Chifu. Ia menaruh tangan kanannya di dada dan sedikit menunduk untuk memberinya salam perkenalan.


"Salam kenal, namaku Astaroth."


"Sa-Salam kenal …?" balas Chifu bingung.


Meskipun masih bingung dengan tujuan ayahnya pergi pada malam selarut ini, tapi akhirnya Chifu pun mematuhinya dan mengikutinya menuju ke tempat yang ayahnya maksud.


Mereka bertiga pun berangkat menuju sebuah laboratorium milik Astaroth dan masuk ke dalamnya. Di luar area itu terdapat banyak sekali penjaga dengan seragam lengkap dan memegang senjata yang membuat Chifu sedikit ketakutan dengan tempat ini.


Saat sampai di dalam gedung laboratorium itu, banyak orang yang bekerja dengan memakai jas lab putih dan Nakamura pun juga mengenakannya.


Mereka pun mulai berjalan lebih dalam lagi dan kemudian masuk ke sebuah ruangan dengan banyak tabung kaca besar berisi air di dalamnya dan ada sebuah kursi kosong yang berada di tengah-tengah ruangan ini.


"Jadi disini, kah?" gumam Nakamura.


"Benar, anakmu tinggal duduk disana saja."


"Baiklah kalau begitu."


"Tu-Tunggu sebentar! Apa yang ayah ingin lakukan kepadaku?"


Chifu berjalan mundur perlahan seakan ketakutan ketika ayahnya dan Astaroth mulai berbicara soal menyuruhnya duduk di kursi itu.


"Chifu, ini untuk kebaikanmu sendiri. Ayah akan membuatmu menjadi lebih baik lagi setelah ini."


"Ti-Tidak! Aku tidak mau yang seperti ini!"


"Hah … aku tahu akhirnya akan jadi seperti ini," desah Astaroth lemas.


Untuk mencegah Chifu menolak permintaannya, Nakamura kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong jasnya dan itu adalah sebuah foto laki-laki yang dikenali oleh Chifu.


"Apa kau mengenal dia?"


"I-Iraya?! Bagaimana ayah bisa mendapatkan fotonya?"


"Itu tidak penting. Tapi yang harus kau tahu adalah kalau dia bukanlah laki-laki biasa."


"A-Apa maksud ayah?"


"Dia memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh manusia biasa, kami biasa menyebutnya sebagai Exception. Apa kau ingat makhluk-makhluk yang menyerang sekolahmu waktu itu?" tanya Astaroth.


Chifu tentu saja mengingatnya. Dari situlah pandangannya terhadap Iraya berubah dan karena peristiwa itu juga ia berubah menjadi orang yang lebih baik lagi.


"Aku mengingatnya, memangnya kenapa?"


"Salah satu temannya memanggilnya untuk menyerang sekolahmu, namanya adalah Ririsaka Herlin."


"Ti-Tidak mungkin, mereka tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Mereka semua adalah orang-orang baik! Tidak mungkin mereka melakukan hal seperti itu!"


"Apa dia pernah melakukan sesuatu yang diluar akal sehat di depanmu?"


"Kau tidak menjawabnya, tapi ekspresimu berkata lain."


"Tapi tetap saja …."


"Apa kau ingin setara dengan temanmu itu, Chifu? Apa kau merasa tertinggal dengan temanmu itu? Apa kau menyadari kalau nantinya hubungan kalian akan semakin menjauh jika kau tidak berhasil mengejarnya?" ucap Nakamura.


Chifu tidak langsung menjawabnya. Ia masih tidak mempercayai kalau temannya memiliki kemampuan yang seperti itu. Meskipun ia sadar, kalau ia juga punya kemampuan aneh yang tidak pernah ia tampilkan kepada orang lain.


Lalu Chifu menutup matanya sebentar dan kemudian menghela nafasnya. Lalu setelah itu ia bertanya pada Nakamura.


"Apa dengan ini aku bisa setara dengan Iraya?"


"Tentu saja, ayahmu bisa menjamin ini," ucap Nakamura.


Meskipun sempat ragu dengan ayahnya sendiri, tapi Chifu akhirnya memilih untuk mempercayainya. Ia pun kemudian berjalan dan duduk di kursi kosong yang berada di tengah-tengah ruangan.


Setelah itu Astaroth menghampirinya dan membawakan tiga buah suntikan yang ia keluarkan dari koper. Lalu ia pun segera menyuntikkannya kearah Chifu yang sedang duduk, tapi sebelum itu Astaroth memborgol tangan Chifu pada tangan kursi itu.


Lalu setelah itu mulai menyuntikkannya ke leher Chifu. Setelah disuntikkan cairan itu, Chifu mulai berteriak keras karena kesakitan. Beruntung karena tangannya di borgol ia jadi tidak bisa bergerak terlalu banyak.


Nakamura dan Astaroth juga hanya terdiam saja melihat Chifu berteriak kesakitan dan tidak melakukan apa-apa. Setelah beberapa saat, akhirnya Chifu berhenti berteriak karena kelelahan dan tubuhnya dibasahi oleh keringat.


"Hah … hah … hah …."


Setelah Chifu berhenti berteriak, Nakamura kemudian menghampirinya yang sedang kelelahan dan memegang dahinya.


Ia memeriksa suhu tubuhnya dan menyadari kalau suhu tubuhnya sangat tinggi dan tangan Nakamura hampir kaget karena panasnya. Lalu ia pun bertanya pada Astaroth.


"Panasnya terlalu tinggi, apa kau bisa melakukan sesuatu terhadap ini?"


"Semua bergantung padanya, hanya dia sendiri yang bisa mengatasinya."


"Begitu."


Nakamura kemudian menunduk dan menyetarakan kepalanya agar setara dengan Chifu. Ia pun berbicara pada Chifu yang sedang mencoba menahan panas dan rasa lelahnya.


"Chifu, apa kau masih bertahan?"


"Aku … masih bisa …."


"Coba pada suntikan kedua nanti, kau bayangkan sesuatu yang dapat meredakan panas di tubuhmu."


"Meredakan … panas … di tubuhku?"


Astaroth kemudian mulai menyuntikkan suntikan kedua pada leher Chifu yang membuat Nakamura menjauh. Teriakan kembali terdengar dari Chifu, teriakan kesakitan yang nampaknya tidak bisa ia tahan sama sekali.


Lalu ia teringat ucapan ayahnya tadi, untuk membayangkan sesuatu yang bisa meredakan panas tubuhku. Sesuatu yang dingin, sesuatu seperti es.


Lama kelamaan teriakan Chifu mereda dan ia pun menutup matanya sehingga bisa jadi lebih fokus lagi untuk membayangkannya. Saat ini ia sedang membayangkan sebuah es yang mengelilingi tubuhnya membuat suhu tubuhnya turun drastis dan keringatnya tadi seketika hilang.


Bahkan bukan hanya tubuhnya yang mendingin, suhu di ruangan ini pun juga ikut turun akibat Chifu.

__ADS_1


"Mengagumkan," gumam Astaroth.


"Hebat! Hebat sekali, Chifu! Kau memang anak kebanggaanku!"


Chifu kemudian membuka matanya lagi dan melihat wajah ayahnya yang sedang menunjukkan senyuman senang karena ia bisa mengendalikan kekuatan ini.


"Aku akan menyuntikkannya sekali lagi, setelah itu prosesnya akan selesai."


"Ya."


Astaroth kemudian menyuntikkannya sekali lagi. Kali ini ekspresi dari Chifu lebih tenang dari yang sebelumnya. Tidak ada ekspresi sakit berlebihan dan ia seakan sudah terbiasa dengan cairan yang masuk ke dalam tubuhnya itu, meskipun tubuhnya masih bergetar karena kesakitan dan hal tersebut memang tidak bisa dihindarkan.


"Prosesnya sudah selesai," ucap Astaroth.


Astaroth kemudian melepas borgol di tangan Chifu dan membiarkannya berdiri saat ini. Sementara Chifu mencoba merasakan perubahan yang terjadi saat ini di dalam tubuhnya, ia merasakan perbedaan yang sangat jauh dari sebelum ia disuntikkan.


Chifu mengarahkan tangannya ke bagian dinding ruangan ini dan mengumpulkan aura di telapak tangannya.


Blaaaaaarrr…


Lalu sebuah semburan api yang besar keluar dari telapak tangannya. Setelah itu Chifu mengangkat tangan kirinya dan sebuah semburan es keluar dari telapak kirinya.


Ia melihat kearah kedua telapak tangannya tadi. Yang satu berwarna kemerahan, sementara satunya lebih pucat dari biasanya. Lalu Chifu juga menyadari sesuatu setelah melihat dari pantulan es yang ia buat sendiri.


Kulitnya menjadi lebih pucat dari sebelumnya, warna rambutnya juga memudar dan tidak semerah yang dulu lagi.


"Selamat Chifu, kau sekarang sudah setara dengan temanmu itu," ucap Nakamura.


"Apa benar begitu, ayah?"


"Tentu saja."


"Oh iya, sebelumnya ayahmu sudah berjanji untuk menitipkanmu padaku dan aku akan memasukkanmu ke dalam kelompokku."


"Aku tidak masalah …," ucap Chifu tanpa ragu.


"… Tapi aku punya satu persyaratan."


"Apa itu?"


"Anggota kelompokmu tidak ada yang boleh mengetahui identitasku. Hanya kalian berdua saja yang mengetahui hal ini."


"Baiklah, itu adalah syarat yang mudah. Untuk sekarang lebih baik kau istirahat terlebih dahulu untuk membiasakan dirimu, lalu setelah itu aku akan memberimu misi pertamamu."


Astaroth mengeluarkan sebuah foto dari saku jasnya yang kemudian diterima oleh Chifu. Foto itu berisi seorang perempuan dewasa yang kelihatan sudah berusia 40-an. Ia pun lalu menyimpannya.


**


Kembali ke pertarungan Iraya dan Herlin melawan Hasuki Chifu saat ini.


Tentu saja kami terkejut melihat Hasuki-san yang menjadi lawan kami saat. Terlebih lagi saat aku mendengar kalau ia sudah mati, aku bahkan tidak tahu kalau ia pernah diserang. Lalu aku mengingat penyerangan di sekolah waktu itu. Jadi pada saat Herlin dan Hasuki-san turun ke bawah, ya?


"Lalu orang yang saat itu dibunuh oleh Nimis …?" tanya Herlin.


"Oh itu, itu salah satu dari klonku," jawab Hasuki-san dengan santainya.


"Klon …? Ini bohong, kan? Kenapa kau bergabung bersama mereka dan jadi seperti ini?!"


"Aku memiliki alasanku sendiri, Herlin-chan. Dan satu-satunya cara untuk mendapatkannya adalah dengan bergabung ke dalam kelompok Bos."


"Tidak mungkin …. Kau bahkan membunuh orang tua Iraya."


Pikiranku berhenti saat Herlin tiba-tiba mengatakan hal itu. Aku lalu menengok kearah Herlin dan bertanya maksud dia berbicara seperti itu.


"He-Herlin … tadi apa yang kau katakan?"


"Orang tua Iraya?"


Chifu memiringkan kepalanya bingung. Tapi tiba-tiba ia mengingat sesuatu dan kemudian mengambil sebuah foto dari dalam saku bajunya dan lalu melemparkannya kearah kami berdua ke atas tanah.


"Maksudmu dia? Aku tidak menyangka kalau itu adalah orang tuamu, jadi mau bagaimana lagi."


Aku mengambil sebuah foto yang tergeletak di tanah itu dan memperhatikannya secara seksama. Wanita dewasa itu, aku mengenal wajahnya. Tidak salah lagi, yang di dalam foto itu adalah ibuku.


Degh…


Tiba-tiba kepalaku berputar dan pusing yang tidak tertahankan sampai membuatku memegangi kepalaku setelah melihat foto itu. Aku bahkan hampir kehilangan keseimbanganku karena hal itu, beruntungnya aku tidak kehilangan kesadaran dan masih bisa terlutut menahan rasa sakitnya.


Herlin pun kemudian menghampiriku dan memeriksa keadaanku.


"Iraya?! Kau tidak apa-apa?!"


Orang di depanku. Delta—tidak, Hasuki-san, dia membunuh ibuku? Ini sebuah kebohongan, kan? Itu sebuah candaan yang tidak lucu, kan? Pemikiranku tiba-tiba kosong karena hal yang tidak aku duga itu. Perasaan amarah yang hebat serasa membara di dalam dadaku.


Meskipun aku berusaha untuk menepis hal yang diucapkan oleh Herlin, tapi itu tidak merubah apapun di kenyataannya. Ibuku telah meninggal. Dan orang yang melakukannya sekarang ada di hadapanku.


Tujuanku selama ini ada di depanku. Aku akan membalaskan dendam ibuku, tidak peduli siapapun itu. Hasuki-san yang kukenal sekarang sudah hilang, yang sekarang di depanku hanyalah seorang pembunuh saja.


Degh... Degh...


Tapi tiba-tiba rasa sakitnya kembali datang. Kali ini rasa sakitnya melebihi batas kemampuanku dan aku juga tidak bisa mengendalikan tubuhku. Kesadaranku hampir hilang dan pandanganku mulai buram.


Lalu tanpa sadar, tiba-tiba tanganku bergerak sendiri menuju ke arah leher Herlin dan mencekiknya.


Greb…


"I-Iraya … apa yang …."


"Ini gawat!"


Tetsu langsung berlari dengan cepat menuju kearahku yang sedang mencekik Herlin dan mengangkatnya sampai kakinya tidak menyentuh tanah. Herlin mencoba untuk melepaskan cekikanku, tapi aku menggunakan auraku sehingga ia kesulitan untuk melepaskannya.


"Oh ... cairan yang disuntikkan sudah mulai menguasainya, ya? Sepertinya itu salahnya sendiri karena tidak bisa mengendalikan emosinya dan perasaannya jadi labil. Sehingga cairan itu dapat lebih mudah menguasai tubuhnya. Kasihan sekali," gumam Chifu.


"I-Iraya … kumohon … sadarlah …!"


Herlin berusaha menyadarkanku, sementara Tetsu juga berlari kearahku untuk membantu Herlin menghadapiku yang sedang tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2