Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 91 : Pengorbanan Oita-san


__ADS_3

"Untuk saat ini, satu masalah dapat terselesaikan."


"Kau benar."


Aku bersama yang lainnya berhasil menghancurkan satu meteor buatan Astaroth. Dan aku juga baru menyadari kalau dua meteor yang ditahan oleh Oita-san juga sudah hancur tak bersisa-sisa, meskipun aku tidak tahu sekarang Oita-san sedang berada di mana.


Zwuusshh… Brraaakkhh…


Tiba-tiba sesuatu jatuh dengan sangat cepat di dekat kami dan menimbulkan debu yang tinggi yang menghalangi pandangan kami. Saat debu itu menghilang, aku kemudian dapat dengan jelas melihat ada dua orang lain di sana. Mereka adalah Oita-san dan Astaroth.


"O-Oita-san …."


"Jangan bergerak dari situ."


"Eh? Ta-tapi …."


"Aku bilang jangan bergerak!"


Peringatan itu sepertinya bukan hanya tertuju untukku, melainkan untuk semuanya yang ada di sini. Ia bilang begitu karena khawatir dengan kami kalau dia tidak bisa melindungi kami dari musuh yang ada di depannya.


Tapi aku tidak peduli dengan hal itu untuk saat ini, karena yang aku pedulikan saat ini adalah Oita-san.


Mataku melebar saat aku melihat kondisi tubuhnya saat ini. Aku ingin berteriak dan segera bergerak ke arahnya, tapi sayangnya aku tidak bisa melakukannya. Di bagian ulu hati sampai tembus ke belakangnya, terdapat lubang yang cukup besar.


Kedua tangan Oita-san juga terlapisi dengan darahnya sendiri. Aku juga bisa melihat sedikit gemetar dari jari-jari di tangannya.


"Hah … hah … hah …."


Darah menetes tak henti-hentinya dari dalam sana yang membuat jas Oita-san hampir keseluruhannya tertutup oleh darahnya sendiri. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena Oita-san membelakangiku saat ini, tapi aku bisa mendengar dari nafas yang ia keluarkan, ia sudah terengah-engah kelelahan.


**


*Beberapa Saat Sebelumnya*


Saat pertarungan Oita-san dan Astaroth masih terjadi di udara, Astaroth telah membuat tiga meteor dari kekuatannya yang membuat Oita-san kewalahan. Ia kemudian menjatuhkan meteor tersebut secara bersamaan ke permukaan.


"Mati."


"Tcih! Dasar orang gila!"


Zruuutt…


Oita-san menghilangkan Invisible Hands yang berada di sekitar tubuhnya dan merubahnya menjadi dua Invisible Hands raksasa yang dibuatnya untuk menahan dua meteor tadi sekaligus.


Saat ia ingin membuat Invisible Hands yang ketiga, Astaroth langsung melesat dengan cepat karena melihat ada celah yang bisa dimanfaatkan. Saat Oita-san sedang sibuk dengan meteor itu, Astaroth langsung menyerang Oita-san dengan tangan kosong tepat ke arah ulu hatinya.


Craaassh…


"Hnngh …!"


Tangan Astaroth tadi menembus ulu hati Oita-san sampai menembus ke punggungnya. Tangan Astaroth yang melewati punggung itu dilapisi oleh darah dari Oita-san. Tapi Oita-san tidak diam begitu saja dan menyerang bagian pundak Astaroth yang membuat bagian lengan sampai pundak Astaroth putus dan tertinggal di tubuh Oita-san.


"Ambil ini!"


Oita-san mengurungkan niatnya untuk menahan meteor ketiga karena diserang oleh Astaroth. Ia menahan pergerakan Astaroth dengan menangkapnya dengan Invisible Hands miliknya.


Oita-san khawatir jika meteor yang tidak dapat ditahannya dapat menghancurkan kota Kyoto sampai ia melihat ke bawah dan tidak fokus pada Astaroth. Tapi kekhawatirannya seketika hilang saat ia melihat seseorang menuju ke bawah meteor tadi.


"Herlin-chan?!"


Ia tersenyum melihat Herlin yang mulai bergerak. Meskipun mulutnya terus mengeluarkan darah karena serangan Astaroth sebelumnya, tapi Oita-san tidak terlalu memperdulikannya. Karena yang paling penting saat ini adalah kota Kyoto dan keselamatan teman-temannya.


Melihat Oita-san tertawa membuat Astaroth bingung sekaligus kesal. Apalagi ia merasa tidak dipedulikan sama sekali dari tadi oleh Oita-san.


"Apa yang kau tertawakan?! Kau sekarang dalam keadaan sekarat, kau tahu?!"


"Aku tahu. Tapi meski begitu …."


"Hmm?"


"… Aku bangga pada mereka!"


Kraaakk… Kraaakk… Duuummm… Duuummm…


Oita-san dengan sekuat tenaganya menghancurkan kedua meteor besar itu sambil menahan pergerakan Astaroth. Sementara Astaroth sendiri yang melihat rencananya yang lain gagal menjadi semakin marah.


Ia berhasil menghancurkan Invisible Hands dengan kemampuan fisiknya saja. Dan langsung melesat ke arah Oita-san, kali ini Oita-san lebih siap dan berhasil menahan serangan Astaroth.


Meskipun ia sadar kalau Invisible Hands miliknya menjadi jauh lebih lemah akibat dirinya sendiri yang sudah terluka parah, tapi itu tidak membuatnya berhenti bertarung secara seimbang melawan Astaroth.


Buugghh…


Astaroth berhasil mengarahkan pukulannya tepat ke pipi Oita-san. Ia berhasil menembus dan menghancurkan Invisible Hands yang coba melindungi Oita-san, hal itu membuat Oita-san terpental jauh ke bawah dan Astaroth ingin menghajarnya lebih jauh lagi.


"Kesini kau!"


"Satu dibalas satu!"


Kraaakk…

__ADS_1


Oita-san membalas pukulan Astaroth tadi dengan tendangan ke arah kepalanya. Meskipun ia berhasil menahannya dengan lengannya, tapi tendangan Oita-san terlalu kuat sehingga mematahkan tulang serta tangkisan Astaroth dan mengirimnya ke tanah terlebih dahulu sebelum Oita-san.


Zwuusshh… Braakkhh…


Dan saat mendarat itulah Oita-san melihat kalau ada Iraya dan yang lainnya di belakangnya. Mereka juga berhasil menghancurkan satu meteor yang tidak sempat dihancurkan oleh Oita-san.


Tapi ia tidak punya waktu untuk mengapresiasi mereka saat ini karena kondisi mereka sedang terdesak.


**


Kembali ke masa sekarang, aku tidak tahu apa yang terjadi pada Oita-san sampai kondisinya parah seperti ini, tapi yang pasti aku tidak bisa diam saja melihatnya terluka.


Aku mencoba memikirkan sesuatu yang bisa aku lakukan untuk membantu Oita-san. Pedang Tetsu saat ini aman berada di dalam sarungnya, apa aku harus mengeluarkannya untuk berjaga-jaga. Atau aku hanya perlu menggunakan bantuan Cecilia saja.


Berbagai macam pikiran tercipta kepalaku tapi aku tidak tahu hal yang tepat yang bisa kulakukan untuk membantu, sampai Cecilia kemudian berbicara di dalam kepalaku.


"Iraya."


"Ada apa?"


"Untuk sekarang kau turuti perintah dia dulu."


"Apa? Kau mau aku melihat Oita-san dibantai begitu saja?"


"Bukan begitu, aku yakin kalau dia memiliki sebuah rencana yang tidak terpikirkan oleh kita."


"Rencana? Dengan tubuhnya yang seperti itu?"


"Aku tahu rasa khawatirmu saat ini, Iraya. Tapi dia adalah seseorang yang pastinya punya rencana walau dalam kesulitan seperti apa pun."


Cecilia mencoba membuatku tenang dan menyuruhku menuruti perkataan Oita-san. Meskipun awalnya aku menolaknya, tapi setelah aku pikir secara matang, dia adalah orang yang membuat tiga meteor besar itu. Melawannya secara langsung mungkin sama saja dengan bunuh diri.


Herlin juga sedang tidak sadarkan diri, lalu kondisi yang lainnya juga tidak fit. Aku menggerakkan gigiku dan kemudian menarik nafas panjang. Baiklah, untuk kali ini aku akan menuruti perkataannya.


Sementara pemimpin para Assassin itu—Astaroth menyadari keberadaanku di belakang Oita-san. Kondisinya juga sama parahnya dengan Oita-san, dimana tangan kanan sampai bahunya putus besar kemungkinan karena serangan Oita-san.


"Kau berhasil keluar? Apa yang sebenarnya dilakukan bocah itu?"


Sepertinya ucapannya merujuk pada Caramel. Meskipun aku tidak memungkiri kalau aku tak akan keluar kalau tanpa bantuannya. Dan sekarang aku akan menepati janjiku padanya, lihat saja nanti!


"Ya biarlah, setelah ini semua selesai aku hanya tinggal menangkapmu lagi dan melakukan eksperimennya lagi. Lalu kalian berdua …."


Kali ini tatapan Astaroth berubah menuju ke Nimis dan Ardenter. Ia melihat pemandangan aneh di sana dimana aku dan mereka bisa saling akur satu sama lain.


"… Kalian berkhianat? Sudah kuduga hal itu, seharusnya aku menghancurkan kalian sebelumnya."


"Kalau itu memang niatku. Orang Jepang seperti kalian lebih baik mati saja."


Lagi-lagi ia menampilkan tatapan dingin dan ingin membunuh. Aku tidak tahu apa yang membuatnya sebenci itu dengan Orang Jepang, bahkan bawahannya sendiri.


Astaroth kemudian kembali berfokus pada Oita-san yang membiarkannya untuk berbicara, sementara ia masih bernafas terengah-engah akibat lukanya. Ia tidak bergerak dari tadi dan hanya memperhatikan pergerakan Astaroth saja.


"Kau sudah tamat, Murasaki Oita. Lukamu itu sudah tidak bisa disembuhkan lagi. Sementara aku …."


Zrrtt… Srryuut…


Hanya dalam sekejap mata saja tangan yang tadi putus dan terluka langsung kembali sembuh seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Astaroth pun memamerkan tangannya yang sudah sembuh itu kepada Oita-san.


"… Lihat ini, seperti baru. Lalu apa yang bisa kau lakukan sekarang? Ulu hatimu sudah berlubang, beberapa rusukmu juga sudah patah, kau juga pastinya merasa kedinginan karena banyak keluar dari tubuhmu, kan?"


"O-Oita-san, bi-biarkan aku …."


"Jangan bergerak! Ini perintah langsung dariku!"


Tapi Oita-san masih bersikeras untuk menolak bantuan dariku. Sial, aku tahu aku tidak bisa membantunya, tapi tidak melakukan apa-apa justru lebih menyakitkan. Ini seperti saat itu, saat aku melihat ibuku yang sudah terbujur kaku dan aku tidak bisa melakukan apa-apa. Sial!


Lalu Oita-san mulai berbicara kepada Astaroth kali ini.


"Aku tidak tahu apakah aku bisa mengalahkanmu atau tidak, tapi yang pasti aku sangat membencimu. Selama bertahun-tahun aku membawa rasa benci ini bersamaku dan terus menjadi kuat, dan aku tidak boleh mati saat ini. Karena jika aku mati, aku tahu kau akan berbuat seenaknya kepada mereka. Kepada kotaku, keluargaku, dan orang-orang tak berdosa lainnya.


Dan kalaupun aku mati melawanmu nanti …."


Blaaaaaarrr…


Ledakan aura yang sangat besar terjadi pada tubuh Oita-san. Sinarnya sangat terang sampai aku dan yang lainnya harus menghalangi cahaya berlebih karenanya. Bahkan dengan kondisi tubuhnya yang sekarang, Oita-san masih bisa mengeluarkan aura sebesar itu.


"Dia terlalu memaksakan diri!" teriak Cecilia tiba-tiba.


"Apa?!"


"Tubuhnya sudah terlalu lemah untuk menampung kekuatan sebesar itu, dia memaksakan dirinya sampai melebihi batasnya."


"Sialan! Oita-san!"


Aku berteriak memanggil nama Oita-san. Tapi ia tidak membalasnya, ia hanya menengok sedikit ke arahku sambil mengeluarkan senyum tulus yang biasa ia keluarkan sebelumnya.


Degh…


Senyuman itu. Sekilas aku melihat wajah ibuku saat melihat senyuman yang dikeluarkan oleh Oita-san. Tanpa sadar air mata jatuh membasahi pipiku diiringi dengan Oita-san yang kembali fokus menghadapi Astaroth.

__ADS_1


"… Kalaupun aku mati saat melawanmu, aku akan membawamu bersamaku, Astaroth!"


"Coba saja, Oita!"


Blaaaaaarrr… Duuuaaarrr…


Ledakan yang sangat besar lagi-lagi terjadi akibat mereka saling mengadu kekuatan. Kecepatannya tidak bisa diikuti oleh mataku bahkan saat aku menambahkan aura Cecilia di dalamnya. Pertarungan ini benar-benar diluar levelku.


Craaassh…


Oita-san dalam sepersekian detik kembali mengeluarkan Invisible Hands dan memotong kedua tangan Astaroth, tapi itu tidak membuat Astaroth gentar sedikitpun. Ia malah kembali menendang rusuk kiri Oita-san yang sebelumnya sudah patah.


Kraaakk…


"Haaakhh !!!"


Suara rusuknya yang hancur diabaikan begitu saja oleh Oita-san dan tidak menghentikan serangan beruntunnya. Kedua tangan Astaroth yang tadinya putus kembali beregenerasi dan mencoba menyerang wajah Oita-san dengan pukulan telak, tapi masih bisa dihindari dengan sedikit gerakan olehnya.


Craaasshh…


Justru kali ini Oita-san yang kembali menyerang, Invisible Hands menangkap tangan Astaroth yang mencoba memukul Oita-san. Ia membalas pukulannya dengan telak pada wajah Astaroth kali ini.


Dengan aura pada tinjunya, ia mengarahkannya tepat ke tengah-tengah kedua mata Astaroth dan pukulannya pun menembus wajahnya sampai ke bagian belakang kepalanya, menembus tengkorak kerasnya.


Serpihan otak, tulang tengkorak, dan darah masih tertinggal pada tinju Oita-san saat ini, tapi itu tetap saja tidak membuat Astaroth mati. Ia malah menahan tinju Oita-san agar tidak keluar dari dalam kepalanya.


Sraakkh… Sraakkh…


Dengan kemampuan Elemental miliknya, Astaroth mencoba membuat duri tanah berukuran sedang yang ia lesatkan ke arah jantung Oita-san. Tapi dengan cekatan, Oita-san masih bisa menahannya meskipun lengan dan telapak tangannya menjadi korban. Meskipun itu berhasil menembus tangan Oita-san, tapi duri tanah tadi tersangkut di sana dan jantung Oita-san masih aman untuk saat ini.


Merasa kalau rencananya gagal, Astaroth mencari cara lain selagi ia mencoba meregenerasi kepalanya. Ia melepaskan tangan yang menahan tinju Oita-san tadi dan regenerasi kepalanya pun mulai berjalan.


Tubuh Oita-san semakin melemah dan Astaroth pun bisa merasakan hal itu, jadi ia pun tidak menyia-nyiakan waktu lagi dan kembali menyerang. Kali ini ia membuat duri tajam di belakang tubuhnya dalam titik buta Oita-san dan bersiap untuk melesatkannya.


Sementara Oita-san yang sadar kalau lawannya sangat susah untuk dibunuh akhirnya memilih cara terakhir yang bisa ia lakukan. Tubuhnya tidak bisa bertahan lebih lama lagi dan ini adalah cara terakhir yang terpikirkan olehnya.


Oita-san mengacungkan dua jari telunjuk dan tengahnya dan bersiap untuk menusuk sesuatu dengan itu. Serangan besar tidak mempan, serangan ke organ vital juga tidak bisa, jadi ini adalah cara terakhir.


"Mati kau!"


"Tidak, kau yang mati!"


Craaassh… Craaassh…


Keduanya sama-sama berhasil mengenai lawannya masing-masing. Dua jari Oita-san berhasil masuk tepat ke jantung Astaroth, sementara duri tanah buatan Astaroth juga berhasil menembus jantung Oita-san sampai ke punggungnya.


Pertarungan sengit itu pun akhirnya berhenti. Meskipun terasa lama bagi mereka berdua, tapi nyatanya pertarungan mereka hanya terjadi selama 10 detik saja. Sinar yang menyilaukan serta debu-debu yang beterbangan akibat pertarungan mereka berdua perlahan menghilang dan akhirnya aku bisa melihat dengan jelas hasil akhirnya.


Mataku melebar saat melihat hasil akhirnya. Air mataku semakin deras keluar saat sebuah duri tanah menancap tepat di jantungnya. Teriakan keras juga aku keluarkan saat mereka berdua masih terdiam satu sama lain.


"Tidak … OITA-SAAAANN !!!"


Oita-san pun perlahan mencabut dua jarinya dari dalam jantung Astaroth dan berjalan mundur secara sempoyongan ke dekat kami. Ia seakan masih berusaha untuk melindungi kami meskipun dengan keadaannya yang sekarang.


Srrkk…


Duri tanah yang melubangi dada Oita-san perlahan menghilang menjadi butiran-butiran tanah dan meninggalkan lubang yang cukup besar di dadanya. Ia yang awalnya memasang kuda-kudanya juga akhirnya melepaskan kuda-kudanya dan tangannya jatuh lemas, begitu juga dengan pandangannya yang tertunduk.


Tidak ada yang berani bergerak dari tempatnya berdiri saat ini karena masih berusaha mematuhi perintah dari Oita-san. Kakiku gemetar dari tadi ingin bergerak dan membantunya, tanganku juga sudah siap untuk menghunuskan pedang. Tapi seakan ada yang menahan pergerakanku dari tadi yang membuatku tidak bisa bergerak.


Sementara Astaroth yang keadaannya juga tidak kalah kacau dari Oita-san hanya berdiri diam dengan ekspresi datar saja. Ia sudah memastikan kalau dirinya lah yang memenangkan pertarungan ini, tapi tiba-tiba matanya melebar saat Oita-san mengangkat kepalanya dan bertatapan langsung dengannya.


Dengan tubuh yang terluka parah, energi yang sudah terkuras habis, lubang di beberapa bagian tubuhnya, lalu mulut dan hidung yang mengeluarkan darah dan nafas yang terengah-engah, ia masih bisa membuat Astaroth terkejut dengan ekspresi yang ditunjukkan olehnya.


"Kenapa … kau masih bisa tersenyum?"


"Hah … hah … hah …. Mau sekeras apapun usahamu nanti ... pada akhirnya ... kemenangan tetap ada di tangan kami."


"Kau …."


Ziiing…


Jawaban tak masuk akal itu membuat Astaroth kesal dan marah. Ia kemudian membuat sebuah bola energi plasma yang sebesar tubuhnya, meskipun tidak sebesar meteor tadi tapi tetap saja kekuatannya tidak main-main.


"… Matilah bersama dengan harapanmu itu."


Astaroth kemudian melepaskan bola plasma langsung ke arah Oita-san. Ia yang sudah tidak memiliki tenaga untuk menghindar hanya bisa menatapi kematian yang sudah berada di depan matanya.


Sebelum terkena bola plasma itu, Oita-san menengok ke belakang dan berbicara kepadaku. Meskipun aku tidak bisa mendengar suaranya tapi aku bisa membaca pergerakan bibirnya. Dan kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Oita-san yang dapat kubaca adalah ….


"Sisanya kuserahkan pada kalian."


"OITA-SAAAANN !!!"


Duuuuaaarrrr…


Ledakan yang terjadi sangat besar dan aku bisa melihat sekilas sebuah tangan hitam melindungi kami semua dari efek ledakan itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2