Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 149 : Akhir yang Tak Diinginkan


__ADS_3

Bagaimana ini? Nigiyaka-san sudah terluka sementara aku tidak yakin kalau kekuatanku sendiri bisa membawa perubahan besar.


Tidak usah berpikir untuk keluar dari sini terlebih dahulu, bertahan hidup dari serangannya adalah yang paling penting saat ini. Apa yang bisa ku lakukan? Nigiyaka-san sudah memberi petunjuk besar dengan mengungkap rahasia kecepatan milik Baram, tapi jika tidak bisa mengikutinya, itu tidak lebih dari sebuah rahasia umum saja.


Apa saja. Apa yang bisa ku lakukan untuk melawan seseorang dengan kecepatan super? Otakku! Bekerjalah untuk sekali ini saja! Jika tidak bisa mengikutinya, apa ada sesuatu? Ingat semua pelajaran dan pengalaman pertarungan mu. Sesuatu yang membuatku bisa bertahan dari serangannya.


Tunggu ....


... Bertahan?


"Iraya ... kun?"


Aku tiba-tiba menggumamkan namanya entah darimana. Ini memang bukan pengalaman pertarungan milikku sendiri, tapi dua tahun lalu aku pernah melihatnya di Turnamen The One. Pertarungan antara Satou Iraya melawan Hayate Kendou.


Saat itu, aku masih belum mengenalnya dan menganggapnya seperti anak kecil yang sombong. Maksudku, anak bodoh mana yang ikut ke Turnamen bergengsi seperti itu di saat lawan-lawannya adalah petarung berbakat dan penuh pengalaman?


Dan Iraya-kun secara kebetulan menjadi peserta pertama yang bertarung di tahun itu, membuat semua mata — termasuk aku, tertuju padanya. Awalnya dia tidak terlihat bisa apa-apa, bahkan aku juga berharap kalau dia akan kalah.


Bukan karena jahat atau bagaimana, sebuah luka kecil mungkin harga yang pantas untuk membayar kebodohannya agar dia sadar dengan kekuatannya saat itu.


Tapi ternyata aku salah.


Iraya-kun bersimpuh di arena dan menutup matanya. Dia gila. Lawannya adalah seseorang yang mengandalkan kecepatan setara anak panah yang sedang dilesatkan, tapi anak sombong ini malah duduk bersimpuh. Jadi aku bingung dengan apa yang ia lakukan.


Tapi kemudian pada serangan berikutnya, ia secara ajaib berhasil menepis serangan dari titik buta miliknya tanpa melihat. Yang membuat satu ruangan menjadi heboh, bahkan aku sendiri tidak mempercayai apa yang baru saja ku lihat.


Jadi aku mencoba memeriksanya lebih teliti, apa yang membuatnya bisa melakukan itu. Saat itu, aku memfokuskan aura ke mataku dan melihatnya dengan sangat jelas. Kalau dia tidak telanjang —bukan telanjang dalam hal pakaian, dasar kalian orang-orang mesum— tapi tidak telanjang dalam hal aura.


Aura semacam kubah mengelilinginya yang sedang bersimpuh itu dan lawannya menyerang menembus bagian kubahnya, jadi dia bisa mengetahui segala serangan yang mengganggu kubah pribadinya.


Dan berterima kasih pada Iraya-kun dua tahun lalu, aku tidak percaya kalau akan belajar sesuatu darinya, tapi aku akan menggunakan metode yang sama dengan yang digunakan Iraya-kun.


Jadi aku berdiri dengan tekad yang tegap. Entah ini akan berpengaruh banyak atau tidak, tapi kini aku berdiri di depan Nigiyaka-san yang masih terluka. Ia tentu bingung dengan sikapku.


"Apa yang ingin kau lakukan?"


"Maaf karena telah menjadi beban, Nigiyaka-san. Tapi ... tidak lagi. Aku tidak tahu ini akan berhasil mengalahkannya atau hanya memperpanjang nafas saja, tapi aku muak karena terus berdiri di belakangmu. Sesekali, aku ingin jadi orang yang berdiri di depan, melindungi orang-orang yang aku sayangi!"


Aura milikku membentuk pusaran angin dan mulai bergerak lebih cepat serta lebih ribut dari biasanya. Tentu saja ini tidak akan menakuti Baram atau semacamnya, tapi hanya ini yang aku punya saat ini.


Angin ribut tadi perlahan membentuk selendang transparan yang terus bergerak. Itu terasa lebih solid dan lebih panjang dari biasanya. Mengitari leher sampai ke pinggang dan antara dua kaki.


Setelah itu kubah aura yang sangat transparan sulit untuk bisa dilihat oleh mata telanjang mengelilingi ku dan Nigiyaka-san. Persiapanku selesai. Sisanya adalah bagaimana aku bisa memanfaatkan ini.


Nigiyaka-san dan Baram juga menyadari kubah aura yang aku buat. Ini memang terlihat seperti mainan anak kecil di mata mereka, lagipula teknik perluasan aura adalah salah satu hal pertama yang diajarkan Herlin-chan dulu.


"Ini ...?" Nigiyaka-san melihat ke sekeliling kami.


Baram juga sadar, tapi terkesan tidak peduli. Ia tetap fokus pada serangan yang akan ia lakukan. "Ruler, pertahankan seperti tadi." Dia memerintah anak buahnya lagi.


"Baik, Bos!"


Tubuh Baram mencondong ke depan dan kuda-kudanya mulai bergerak. Ia akan menyerang! Dan beberapa saat kemudian, Baram telah hilang dari pandanganku. Kemana? Ada di mana? Jangan kehilangan fokus! Dan rasakan ....


... Keberadaannya!


Aku menarik kepalaku ke belakang dan mengangkat selendang untuk memblokir serangannya. Baram muncul dari sebelahku dengan sebuah tinju yang bisa membuatku luka berat.


Ajaibnya, selendang aura berhasil menepis serangannya dan kepalaku juga dapat bereaksi tepat waktu membuat aku tidak terkena pukulannya secara telak. Berhasil! Rencanaku berhasil! Apa-apaan perasaan senang ini?!


Aku tidak bisa mengendalikan senyuman yang keluar dari mulutku, hal itu membuat selendang dan kubah aura mulai tak beratur dan menipis.


"Jangan lengah!"


"??!!"


Teriakan Nigiyaka-san menyadarkan ku dari fantasi kesenangan sementara yang menyelimuti ku. Dia benar, aku belum menang. Mataku kembali fokus dan mencari dari mana serangan Baram berikutnya akan datang.


Dari sana!


Dari belakang ku!


Lagi-lagi dari sana!


Aku mulai bisa membacanya. Serangan-serangan Baram memang terlihat acak dan asal-asalan, tapi sebenarnya itu memiliki pola.


Ia memikirkan segalanya dengan matang; Apa yang akan musuhnya lakukan setelah menangkis serangan pertamanya? Gerakan apa yang selanjutnya musuh lakukan? Apa musuh akan menyerang lagi atau terus bertahan?


Serangannya berbicara sangat keras menunjukkannya. Dia memikirkan itu semua saat sedang bertarung dengan intensitas tinggi. Orang yang mengerikan dan benar-benar tidak ingin aku jadikan lawan.


Tapi mari hentikan pengandaian tak berarti itu, lima menit sudah berlalu semenjak serangan beruntun dilakukan oleh Baram dan aku masih terus mencoba menangkis dan menepisnya. Selendang ini sangat berguna untuk memblok serangan musuh karena sifatnya yang elastis dan solid.


"??!!"


Baram berhenti menyerang. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan olehnya, tapi ini bagus untuk mengatur nafas. Nafasku mulai terengah-engah karena serangan tak habis-habis darinya, tapi harus tetap waspada karena mungkin saja dia akan melakukan serangan yang lebih berbahaya lagi.


"Kurasa sudah cukup."


"A-apa?! Kau tidak lihat kalau aku masih—!"


Tiba-tiba satu kakiku terlutut ke tanah. Eh? Luka sebanyak ini ... Sejak kapan? Padahal aku yakin kalau berhasil menepis serangannya. Tapi kenapa bisa ada luka sebanyak ini?


Tidak lama, satu kaki yang masih berjuang mempertahankan keseimbangannya akhirnya jatuh terlutut mengikuti yang lainnya. Luka sayatan di seluruh tubuh, diikuti kepalaku mulai pusing hebat dan baru muncul muntah darah yang cukup banyak. Apa yang sebenarnya terjadi?!


"K-kau melakukan sesuatu?" tanyaku.


"Tidak ada. Mungkin kau merasa kalau menepis semua seranganku, tapi sebenarnya tidak semuanya. Masih ada beberapa yang masuk, jadi aku hanya memastikan kalau luka yang ku berikan cukup untuk membuatmu tumbang."


"D-dasar ... sialan."


Muntah darah kembali terjadi. Ini bukan luka sayatan di luar saja, organ dalam ku juga terluka. Gawat.


"Sekarang saatnya menyelesaikan semuanya. Ruler, kau tidak perlu ikut campur, ini adalah urusan pribadiku."


"Aku mengerti, Bos."


Apa dia merasa sudah menang dari kami? Nigiyaka-san sepertinya masih tidak bisa bertarung, jadi semuanya tergantung pada diriku. Ayo berdiri, dasar kaki sialan! Percuma. Mencoba mengerang sekeras apapun untuk menambah kekuatan, tapi jika memang sudah tidak kuat, hasilnya tetap akan sama.


"Percuma saja. Tubuhmu sudah tak bisa diandalkan. Ini adalah akhir untuk kalian."


Dia berjalan ke arah kami berdua yang sedang berusaha keras untuk bangun. Menatap ke bawah seolah kami hanyalah sampah rendahan. Baram kemudian mengumpulkan aura di kepalan tangannya, dengan jumlah yang sangat banyak.


Energinya begitu pekat hingga aku tidak bisa melihat kepalan tangannya.


"Matilah!"

__ADS_1


"??!!!"


Tapi saat Baram ingin menghantam kami berdua, sebuah gempa kecil terjadi di ruangan ini. Remah-remah bangunan juga jatuh dari atap dan membuat perhatian kami semua teralihkan. Dan bagi kami, itu adalah waktu yang sangat ajaib tepatnya karena menyelamatkan kami pada detik-detik terakhir.


Baram menengok ke atas dan melihatnya lebih teliti lagi. "Ruler!" Lalu ia memanggil anak buahnya untuk memastikan apa yang terjadi.


"B-baik, Bos! Aku tidak tahu apa yang terjadi, dan setelah ku periksa lagi, aku merasakan sesuatu yang mencoba menerobos masuk."


Sesuatu mencoba menerobos masuk? Tapi bukankah tempat ini rahasia? Lagipula orang bodoh mana yang berusaha masuk ke tempat tanpa pintu keluar ini?


Gempa kecil kembali terjadi, kali ini frekuensinya menjadi lebih sering dan berdekatan. Meskipun begitu, itu tidak mengubah pemikiran Baram untuk segera menghabisi kami. Dan juga aura di kepalan tangannya sama sekali belum menghilang dari tadi.


"Aku akan mengurus masalah itu nanti, sekarang ada yang harus aku urus dulu!"


"Awas!"


Tinjunya mengarah pada Nigiyaka-san dan aku—maupun selendang ku—tidak bisa bergerak cukup cepat untuk menahannya. Tapi Nigiyaka-san malah menyeringai yang membuat aku dan Baram bingung, padahal maut sudah ada di depan matanya.


"Tepat waktu sekali."


"??!!"


Sebelum sempat menyentuh Nigiyaka-san, tembok di belakang kami tiba-tiba hancur dengan keras. Penyebab getaran yang terus-terusan terjadi barusan akhirnya dapat diungkap siapa penyebabnya.


"Akhirnya ketemu."


"Akihito-san?!"


Benar. Orang yang menerobosnya adalah Akihito-san yang sebelumnya berpisah dengan kami di awal pintu masuk. Aku tidak tahu bagaimana caranya dia bisa menemukan kami di sini, tapi keajaiban seperti ini tentu saja tidak akan ku tolak.


Tanpa basa-basi, Akihito-san langsung meninju wajah Baram. Tapi sebelum itu bisa menyentuhnya, Baram terlebih dahulu berpindah tempat mundur ke sebelah Ruler. Lagi-lagi kemampuan teleportasi menjengkelkan itu.


"Kalian masih bisa bertarung?" tanya Ardenter.


"Tentu saja." Nigiyaka-san menjawab tanpa ragu lalu langsung berdiri dan berjalan ke samping Akihito-san.


"A-aku juga ... Aduh!" Sementara aku juga ingin memberikan tanda positif, tapi luka di tubuhku tidak bisa berbohong dan membuat bahkan berdiri saja sudah gemetaran.


"Tidak perlu memaksakan diri." Akihito-san menenangkan ku.


Tapi itu sama sekali tidak membuatku tenang. Justru sebaliknya, aku merasa tidak berguna. Lagi-lagi seperti ini.


Menundukkan kepala lalu menggigit bibir. Apa aku benar-benar hanya akan selalu diselamatkan setiap saat? Bahkan tidak bisa berdiri untuk melindungi orang-orang yang ku sayangi?! Mati saja sana, dasar gadis penakut!


Apa selamanya ... aku akan menjadi seekor kucing penakut? Itu yang selalu terbayang dan menciptakan trauma di dalam kepalaku. Aku tidak ingin menjadi seperti itu lagi.


"Dantalion."


Tiba-tiba Nigiyaka-san memanggil dan membuatku mendongakkan kepala. "Kau menyelamatkan nyawaku. Tidak ada yang bisa merubah fakta itu. Istirahat saat terluka juga penting bagi seorang Assassin, jadi lakukan lah."


"T-tapi—"


"Dan bukankah sudah ku bilang untuk memanggil kami dengan nama panggilan dan bukan nama asli?"


"?!!" Aku menutup mulutku dengan tangan karena kesalahanku. Terlalu semangat saat melihat Akihito-san membuatku secara tak sadar menyebut nama aslinya. "A-aku mengerti, Nimis, Ardenter!"


Jadi yang bisa ku lakukan sekarang hanya melihat, ya? Tapi jika ini perintah langsung darinya, mau bagaimana lagi. Aku menyerah untuk berusaha bangun dan akhirnya duduk di lantai. Sekarang akan ku berikan sisanya pada kalian.


"B-bagaimana mungkin kau bisa menemukan tempat ini?!" Ruler terlihat terkejut.


"Awalnya aku tidak tahu, tapi orang-orang di sini secara baik hati memberitahuku setelah aku 'bersikap lembut' pada mereka." Akihito-san menyeringai. "Setelah menemukan tempat ini, ternyata bagian luarnya lebih mudah dihancurkan dari yang aku kira, padahal mereka bilang kalau tempat ini tidak akan bisa dihancurkan dari dalam. Apa mereka lupa kalau aku melakukannya dari luar?" lanjutnya.


Akihito-san melemparkan Katana milik Nigiyaka-san padanya yang kemudian ia tangkap sempurna. "Bisa-bisanya pergi tanpa senjatamu, kau pikir kita sedang berwisata?"


"Aku sudah cukup kuat walau tanpa Katana ku." Sementara Nigiyaka-san menghunuskan Katana dan memasang kuda-kudanya.


"Katakan itu saat tidak ada luka di tubuhmu, dasar nenek tua."


Bahkan mereka masih bisa bercanda santai di situasi yang aku anggap sebagai hidup dan mati. Apa itu hanya sebagai cara untuk meredakan ketegangan? Atau memang mereka benar-benar bisa menghadapi situasi ini?


"Ah~ Menyebalkan sekali," gumamku. Apa suatu saat nanti aku bisa menjadi sekuat mereka, ya? Menertawakan situasi hidup mati layaknya mainan anak kecil.


"Kau siap?" tanya Akihito-san.


"Kapanpun kau siap." Dan Nigiyaka-san menjawab dengan mantab.


"Ruler, persiapkan dirimu." Sementara Baram juga lebih diam dari biasanya. Karena dengan datangnya Akihito-san kali ini, tentu merubah segalanya. Dan Ruler juga sudah siap dengan apapun yang akan datang ke mereka.


Nigiyaka-san mengambil nafas panjang. "Hinokami no Chikara ...." Dan bilah Katana mulai mengeluarkan aura yang berubah menjadi kobaran api hebat. "... Hi no Zangeki, Ichinen!"


Dan tebasan kobar api itu bergerak cepat bersamaan dengan Akihito-san yang bergerak selaras dengannya. Dari belakang sini, Akihito-san dan kobaran api itu seakan bergerak beriringan tapi tidak menghancurkan satu sama lain, seolah saling mengerti.


Lalu serangan Nigiyaka-san sampai ke Baram yang berhasil menahannya. Meskipun meninggalkan bekas hitam di tangannya, itu tidak mengganggu Baram sama sekali. Yang jadi masalah baginya adalah Akihito-san telah menghilang dari pandangannya.


"H-hilang?!"


"Arrkgkkhh ...!!!"


Tapi Baram terlambat menyadarinya. Ternyata yang diincar mereka berdua adalah Ruler terlebih dahulu. Dengan brass knuckles sebagai senjata Akihito-san, ia menciptakan luka yang cukup dalam.


"Ruler!"


"Lihat kemana kau?"


"??!!"


Tidak diberikan kesempatan sama sekali, Nigiyaka-san kini sudah berada di depan Baram yang sedang menengok ke belakang, bersiap menebasnya dengan Katana berkopar api.


"Hyaakhh!"


Tebasan Nigiyaka-san secara mengejutkan berhasil di tangkap meski telapak tangan berdarah adalah harga yang harus dibayar oleh Baram.


"Ardenter!"


Nigiyaka-san berteriak yang membuat Baram waspada dan menengok ke belakang, tapi Akihito-san belum bergerak sama sekali dari dekat Ruler dan Baram sadar kalau itu hanyalah jebakan.


"Hinokami no Chikara : Bakuretsu!"


Kali ini bukan kobaran api yang tercipta, melainkan sebuah ledakan yang membuat Baram mengalami luka bakar dan terpental cukup jauh ke belakang. Dia sudah tidak bisa mengandalkan teleportasi Ruler lagi karena Akihito-san sudah menghajarnya duluan.


"Sialan. Kalian berdua memang benar-benar merepotkan. Dari dulu selalu saja begitu!"


"Memang begini kami adanya. Sekarang saatnya mengakhiri pertarungan ini, tempat ini juga sepertinya akan segera hancur."


Aku melihat ke sekitar. Karena saking seriusnya memperhatikan mereka membuatku tidak sadar kalau keadaan di sekitar sudah sangat parah. Bagaimana tidak, retakan di semua bagian ruangan ini sudah semakin parah dan bisa kapan saja rubuh.

__ADS_1


"Kau benar. Ini akan menjadi akhir dari pertarungan ini."


Akihito-san berdiri beriringan dengan Nigiyaka-san saling memasang kuda-kudanya masing-masing sementara Baram yang berdiri sendiri dengan luka bakar dan pakaian juga lumayan compang-camping. Aura mereka bertiga begitu besar dan terasa menusuk, ini benar-benar akan jadi momen terakhir dalam pertarungan ini.


"??!!"


Lalu mereka bertiga ... menghilang dari pandanganku. Sisanya adalah angin besar yang tercipta di tengah antara aku dan Ruler. Mereka benar-benar menghilang, kecepatannya tidak bisa aku ikuti dengan mataku. Jadi aku tidak bisa menentukan siapa yang unggul dari dua pihak.


Tidak sampai tiga puluh detik, mereka berdua berhenti menyerang dan mengambil jarak hampir sama seperti sebelumnya dengan posisi sambil saling membelakangi. Hening terjadi di ruangan hampir hancur ini karena aku tidak terjadi apa yang terjadi pada pertarungan tiga puluh detik sebelumnya.


"Ahaakh!"


"Nigiyaka-san!"


Tapi yang bereaksi duluan adalah Nigiyaka-san mengeluarkan batuk darah, lalu kemudian Akihito-san yang terlutut dengan tubuh gemetaran. Apa maksudnya ini?! Apa itu artinya mereka kalah?! Baram sama sekali belum bergerak dari posisinya membelakangi kami.


"Apa kalian berdua baik-baik saja?!"


"Sudah berakhir." Nigiyaka-san berbicara.


"A-apa? Jangan bilang ..., kalian berdua kalah?"


"Tidak ...." Akihito-san menimpaliku. "... Sudah berakhir untuknya."


Eh? Aku melihat ke arah Baram. Jelas kalau dia masih berdiri — meskipun dari tadi belum bergerak sama sekali. Tapi pada akhirnya, pertanyaan dalam hatiku terjawab.


Ia ambruk telentang ke lantai.


Darah perlahan-lahan tapi banyak mulai keluar dari luka besar yang ada di sekujur tubuhnya. Bahkan untuk orang sepertinya, jika kehilangan darah sebanyak itu tetap akan membahayakan nyawanya.


"Kau mengalahkanku, sialan." Tapi dia masih bisa berbicara sambil terkekeh. "Meskipun memang satu lawan dua, aku masih tetap tidak menyangka kalau kalian berdua bisa mengalahkanku," lanjutnya. Tidak ada nada kesal atau dendam pada kata-katanya. Lebih seperti menerima dan lega.


Nigiyaka-san yang sebelumnya batuk darah kemudian mulai mengembalikan kekuatannya dan berjalan mendekati Baram. Ia berdiri di hadapannya dan menodongkan pedangnya ke hidung Baram.


"Ada kata-kata terakhir?"


Baram lagi-lagi terkekeh. "Apa kau tidak bosan mendengar suaraku sampai dengan baik hatinya membiarkanku mengucapkan kata-kata terakhir?"


"...."


"Tapi benar juga, ya? Kata-kata terakhir apa yang akan aku berikan?"


Baram terdiam sejenak memikirkan kata-kata yang tepat untuk ia ucapkan terakhir kalinya. Lagipula ini adalah kata-kata terakhir, ini bisa semacam wasiat yang ditinggalkan olehnya. Tapi tidak butuh waktu lama untuknya memikirkan kata-kata yang ingin ia ucapkan, malah itu seperti sebuah permintaan.


"Apa kau bisa untuk tidak membunuh anak buahku setelah menghabisiku?"


"...."


Nigiyaka-san tidak menjawabnya. Ia langsung mengangkat pedangnya tinggi dan Baram memejamkan matanya. Setelah itu ia menghujam pedangnya ke bawah, hanya untuk mendarat di lantai di sebelah kepala Baram.


"Ah~ Sepertinya aku salah target~ Dasar Caramel itu, selalu memberikan informasi yang salah." Tiba-tiba Nigiyaka-san berbicara sesuatu yang aneh.


"Eh?"


"Ini bukan bar 'BunnyBee' yang banyak dibicarakan itu, kan? Ternyata ini bar 'KittenBee', toh."


Aku tidak mengerti dengan yang dimaksud Nigiyaka-san. Sudah jelas kalau kita berada di bar 'BunnyBee' dan deskripsi Bos yang mereka miliki juga sama. Tapi kenapa ...?


"Tidak ... kau tidak salah—"


"Aku salah ..., kan?"


Suara Baram memelan ketika ujung Katana Nigiyaka-san kembali mengarah ke hidung Baram dan suara Nigiyaka-san seperti mengancam. Aku rasa Baram tahu tugas yang harus dia lakukan sekarang.


"Y-ya, kau salah tempat. Ini adalah 'KittenBee'."


Setelah Baram memberitahunya seperti itu, Nigiyaka-san langsung menarik kembali Katana-nya dan pergi keluar dari sini bersama ku dan Akihito-san. Tapi sebelum keluar dari tempat ini, ia dihentikan sebentar oleh ucapan Baram.


"Kau mengabaikan tugasmu sebagai seorang Assassin? Harga diri mu benar-benar sudah hilang, Nimis, Ardenter."


"...."


Nigiyaka-san memikirkan kata-kata itu sebentar dan Akihito-san juga diam seperti memikirkan hal yang sama. Tapi ia sama sekali tidak menjawabnya dan langsung pergi begitu saja dari sini.


**


Saat keluar, ternyata kami berada di bagian samping gedung. Posisinya tidak terlalu jauh dari Bar utama, dan masih sangat dekat. Tapi bukan itu masalahnya sekarang! Kita baru saja mengabaikan misi, lho! Aku tidak percaya kalau dua Assassin paling hebat ini bisa melakukan hal seperti itu.


"Apa yang kalian lakukan barusan?! Kalian bisa saja membunuh mereka barusan!" Aku memprotes tindakan mereka.


Tapi Akihito-san menengok ke arah Nigiyaka-san, seolah ia berharap kalau dia lah yang akan menjelaskan semuanya. "Baram adalah kenalanku saat masih bersama. Dan dia adalah orang yang paling ku hormati, tapi dia sudah bukan orang yang sama seperti dulu. Dia melunak, dan aku seperti tak mengenalnya."


"Apa itu bisa menjadi sebuah alasan untuk mengabaikan misi?!"


"Bocah." Akihito-san memanggilku.


"Hn?"


"Apa kau lupa kalau kami berdua sudah keluar dari dunia Assassin? Kami kembali ke neraka tak berdasar ini untuk membantu Black Rain dan juga membantumu. Tentu aku masih peduli dengan misi, uang, atau semacamnya, tapi aku akan lebih mementingkan keinginan ku sekarang."


"Hah?! Itu sangat berbeda dari yang kalian ajarkan kepadaku dulu! Ada apa dengan kalian?! 'Pentingkan misi daripada perasaan apapun yang terjadi', tapi kalian malah melanggarnya sendiri! Kenapa kalian bisa melunak begini, dasar munafik?!"


Ah! Aku baru sadar kalau aku berbicara cukup kasar pada mereka karena terbawa emosi. Tapi yang aku katakan ke mereka saat ini adalah pemikiranku terhadap mereka saat ini. Nimis dan Ardenter yang aku kenal tidak seperti ini, mereka jauh lebih keren dari ini!


"Munafik?"


"Melunak ...?"


Bukannya kesal, mereka berdua malah tersenyum mendengarnya. "Kurasa kau benar, semenjak masuk Black Rain, aku berubah menjadi lebih lunak," ujar Nigiyaka-san.


"Dan munafik adalah kata yang cocok untuk orang sepertiku." Akihito-san juga tidak menolaknya.


"Oi! Aku belum selesai bicara!"


"Maaf, Mei." Nigiyaka-san berbicara dan dengan wajah yang lebih serius. "Aku tidak bisa menepati kata-kataku saat mengajarimu. Perasaan menguasaiku sebelumnya, membuatku ragu untuk membunuhnya. Terlebih ... aku rindu masakan Ivis, dan hanya tempat ini yang mungkin masih menyediakannya," lanjutnya.


Mereka berdua berjalan mendahuluiku dan keduanya mengelus kepalaku ketika lewat yang masih membuatku terdiam. Aku masih belum menerima jawaban mereka dan masih meminta penjelasan lebih.


"Lalu bagaimana dengan orang yang menyewa kita?"


"Aku, Akihito, dan Caramel akan mengurusnya. Kami akan memanggilmu saat semuanya sudah terencana."


"T-tapi ...."


Tapi mereka tidak menjawabku lebih dari ini, sepertinya sudah cukup hari ini. Tubuhku sakit semua dan aku hanya ingin pulang. Apa ini hasil yang ingin ku dapatkan hari ini? Tentu saja tidak. Hah ... Terkadang aku menyesal untuk meminta mereka mengajariku. Latihannya macam setan dan orangnya plin plan begini.

__ADS_1


Aku melihat ke atas ke arah langit malam. Apa yang sedang kau lakukan sekarang, Herlin-chan? Aku merindukanmu.


Bersambung


__ADS_2