Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 59 : Herlin vs Astaroth


__ADS_3

Di tempat lain dan di waktu yang bersamaan dengan awal pertarungan Iraya dan Kurobane-senpai berlangsung. Tiba-tiba Herlin yang sedang fokus untuk mengalirkan auranya ke arah pabrik, dikejutkan oleh sesosok laki-laki yang bisa menyadari keberadaannya walaupun ia sudah menyembunyikannya.


Siapa orang itu?


Dengan ekspresi yang masih shock dan panik, Herlin menengok kearah orang yang tiba-tiba memanggilnya.


Seorang pria yang tergolong muda dan kira-kira 23-25 tahun. Dengan rambut pirang yang mencolok karena disinari sinar bulan. Iris mata indah berwarna hijau permata yang menatap tajam kearah Herlin. Walaupun dengan sebuah senyum yang terlihat ramah, tapi Herlin bisa mengetahui kalau senyum yang ia keluarkan adalah senyum yang dibuat-buat alias palsu.


Dengan masih mengalirkan auranya secara konsisten, Herlin mulai menghadap kearah pria itu dan mulai siaga. Ia mulai berpikir jika dirinya kurang waspada akibat terlalu fokus untuk mengalirkan aura ke pabrik, makanya pria ini bisa mendekatinya tanpa terdeteksi.


"Aku tanya sekali lagi …. Apa yang sedang kau lakukan malam-malam begini disini, nona?"


"…."


Ia menyapa Herlin dengan ramah. Senyumnya perlahan hilang ketika Herlin tidak menjawab pertanyaannya dan mulai merasa gelisah dan terancam.


"Apa pertanyaan ku kurang jelas?"


Pria itu memastikannya dengan bertanya sekali lagi. Tapi Herlin tidak menghiraukan pertanyaannya dan masih terus awas terhadap pergerakannya.


Herlin merasakan perbedaan kekuatan yang terlampau jauh pada pria yang berada dihadapannya saat ini hanya dari aura yang ada disekitarnya saja. Jika bertarung dengannya, maka ia tidak memiliki kesempatan untuk menang. Yang bisa dia lakukan saat ini adalah mengulur waktu sampai teman-temannya berhasil menghancurkan eksperimen yang ada di pabrik.


"Siapa kau?" Herlin bertanya.


"Ah … maaf, dimana tata kramaku."


Pria itu menyilangkan tangan kanannya di depan dada dan menunduk sedikit sebagai posisi untuk memperkenalkan diri.


"Salam kenal, namaku Astaroth."


Astaroth? Ia tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya, tapi kekuatannya bukan main-main. Dengan tenang, Herlin kemudian menanggapi omongan dari Astaroth.


"Tadi kau bertanya apa yang aku lakukan disini sekarang? Bukankah aku harus menanyakan pertanyaan yang sama kepadamu, Astaroth-san?"


Herlin tidak menjawab pertanyaannya, ia malah balik bertanya. Dia tidak mau sedikit pun informasi tentang dirinya bocor. Jadi sebisa mungkin bagi dirinya untuk tidak terpancing menjawab pertanyaannya.


"Benar juga …."


Astaroth menggantung kata-katanya. Ia berpikir sebentar untuk menjawab pertanyaan Herlin.


"Tadinya aku sedang jalan-jalan malam dan tidak sengaja melihatmu disini. Jadi aku bergegas untuk menghampirimu," ucap Astaroth.


Kata-katanya yang barusan adalah bohong. Cukup mustahil bagi orang biasa untuk secara kebetulan menyadari keberadaan Herlin, karena ia sudah menghilangkan hawa keberadaannya dan tempatnya saat ini pun cukup gelap dan minim penerangan.


"Jadi begitu. Maafkan aku karena sudah mengganggu jalan-jalan malam mu. Aku saat ini sedang kabur dari rumah karena bertengkar dengan orang tuaku dan karena kelelahan, aku beristirahat sebentar disini."


Meskipun sepertinya percuma, tapi Herlin tetap berbicara bohong. Ucapan bohong yang tidak masuk akal lebih baik daripada harus mengatakan jujur.


"Wah, wah, itu tidak baik. Apa mau kuantar ke suatu tempat agar kau bisa istirahat?"


Tap…


"…?!"


Astaroth melangkah mendekati Herlin. Tapi saat ia melangkahkan satu kakinya, dia merasakan suatu sensasi. Butiran keringat keluar dari dahinya. Instingnya mengatakan kalau perempuan ini memiliki sesuatu yang mengancam nyawanya. Ia kemudian tersenyum dan membatalkan niatnya untuk mendekati Herlin dan kembali berbicara.


"Sayang sekali, sepertinya aku tidak bisa mendekatimu."


"Ya, sebaiknya jangan."


Jeda hening terjadi diantara dialog mereka berdua. Dan setelah itu, Astaroth tiba-tiba tertawa.


"Ahahaha …! Menyenangkan sekali bermain peran seperti tadi, 'kan?"


"Ya, benar-benar menyenangkan."


Astaroth masih tertawa kecil. Dan tiba-tiba Herlin yang balik bertanya kepada Astaroth.


"Jadi … apa kau sudah tahu siapa aku yang sebenarnya?"


"Hn? Ah, soal itu tentu saja aku tahu. Ririsaka Herlin dari Black Rain."

__ADS_1


Astaroth membuat sebuah seringai di akhir kalimatnya. Herlin yang melihat itu berusaha tetap tenang dan tampil tanpa ekspresi seperti biasanya. Meskipun ia juga merasa gelisah karena dirinya sudah dikenal oleh lawan.


"Dan kau adalah salah satu dari Assassin milik Ayakashi Corp.?"


"Benar sekali, bisa dibilang aku adalah ketuanya."


Astaroth melihat kearah pabrik yang jaraknya cukup jauh dari sini.


"Sepertinya teman-temanmu sedang bersenang-senang disana ya?"


"Begitulah. Kalau begitu kenapa kau tidak bergabung kesana dan ikut bersenang-senang juga?"


"Ah, soal itu …."


"… Aku yakin disini pasti lebih menyenangkan," gumamnya pelan.


Zwuushhh…


Tiba-tiba Astaroth hilang dari tempat ia berdiri sebelumnya, meninggalkan sebuah bekas hembusan angin di pijakannya yang sebelumnya. Herlin yang daritadi tidak berpaling dari Astaroth bahkan sampai kehilangan jejaknya.


Dan dengan cepat Astaroth sudah berada tepat di depan wajah Herlin. Ia bergerak dari jarak kira-kira lima meter dari tempatnya sebelumnya dalam kurun waktu kurang dari satu detik.


"…?!"


Herlin yang belum siap untuk mendapat serangan dari Astaroth kemudian mencoba melompat mundur ke belakang.


Tapi Astaroth juga dengan cepat mengarahkan tangannya ke arah leher Herlin yang bertujuan untuk mencekiknya. Namun refleks dari tangan Herlin yang mencoba menepis tangan Astaroth sangat cepat ditambah dengan kemampuan Mind Power miliknya, ia pun berhasil menepis tangan Astaroth.


Dan saat ia sedang terguling ke belakang, tanpa jeda Herlin mencoba untuk mengunci pergerakan Astaroth. Dan Herlin pun langsung bergegas untuk kembali bangun.


Astaroth yang sadar kalau pergerakannya sedang ditahan oleh Herlin kemudian mencoba sedikit bergerak, tapi usaha yang ia keluarkan terlalu sedikit dan Herlin tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.


Ziiing…


Herlin langsung mengangkat puluhan benda seperti batu dan pohon yang berat masing-masing benda tersebut adalah lebih dari seratus kilogram. Ia pun langsung melemparkan semua benda itu secara bersamaan dan menyerang Astaroth secara bertubi-tubi.


Braaakkk… Braaakkk… Braaakkk…


Herlin kemudian menghentikan serangannya. Ia tidak tahu apakah itu akan berhasil atau tidak. Tapi setidaknya ini sudah mengulur banyak waktu bagi yang lainnya.


"Sial, aku menghentikan aliran auraku sejak tadi."


Herlin baru sadar kalau ia sudah berhenti mengalirkan auranya sejak awal pertarungannya tadi dengan Astaroth. Ia kemudian melihat kearah pabrik itu dan berharap semoga mereka berdua baik-baik saja.


Degh…


Tiba-tiba Herlin merasakan tulang punggungnya merinding. Ia dengan refleks yang cepat berbalik badan kebelakang. Dan dia sudah disambut oleh sebuah tangan yang mengarah tepat ke arah leher Herlin.


"Ukhh …!"


"Seranganmu boleh juga, meskipun masih sedikit ceroboh. Aku yakin kau jarang melawan orang yang setara denganmu. Jadinya seranganmu masih mentah."


Orang yang mencekiknya saat ini adalah Astaroth. Ia berhasil lolos dari serangan bertubi-tubi Herlin, padahal Herlin sudah yakin kalau serangannya berhasil mengenai musuhnya ini.


Astaroth mengangkat tubuh Herlin tinggi sampai kakinya tidak menyentuh tanah. Herlin berusaha untuk melepaskan cekikan Astaroth, tapi percuma. Astaroth sudah mengeluarkan aura yang lebih banyak jadi tidak akan semudah itu untuk lepas dari cekikannya.


"Percuma saja melawan seperti itu. Pada akhirnya kau tetap akan mati," ucap Astaroth.


Mata Astaroth bertatapan langsung dengan mata Herlin. Ia sempat menikmati keindahan mata Herlin sebelum menghancurkannya. Tapi ia kemudian mengatakan sesuatu.


"Kau punya mata yang indah. Akan sayang jika mata seindah itu untuk hancur bersama denganmu."


Astaroth mengarahkan tangannya yang lain menuju ke mata Herlin. Ia bertujuan untuk mengambil bola matanya sebelum ia membunuh Herlin. Tapi tiba-tiba sesuatu yang mengejutkan mereka berdua terjadi.


Duuuuaaarrrr…


Sebuah ledakan besar terjadi dari arah pabrik yang membuat mereka berdua sontak menengok kearah pabrik tersebut. Besarnya ledakan dan tingginya kepulan asap hitam itu membuat Herlin tanpa sadar menggumamkan sesuatu.


"Iraya … Senpai …."


Kriiing… Kriiing…

__ADS_1


Tiba-tiba telepon genggam yang ada di kantong celana Astaroth berbunyi. Tangan yang tadinya ingin ia gunakan untuk mengambil mata Herlin terpaksa harus mengangkat telepon tersebut.


"Halo? …. Apa?! Eksperimennya telah dibangkitkan?! Apa yang sebenarnya para peneliti itu lakukan?! …."


Saat Astaroth sedang mengangkat telepon. Ia sedikit melemahkan penjagaannya kepada Herlin yang dari tadi sedang ia cekik. Tanpa menyia-nyiakan hal itu. Herlin menggerakkan mulutnya dua kali tanpa bersuara.


Astaroth sudah selesai mengangkat teleponnya dan menaruh kembali telepon genggamnya di kantongnya lagi. Dan saat ia melihat kearah Herlin, ia sedikit kaget dengannya.


"…?! Apa-apaan tatapan itu?"


Herlin menatapnya dengan tatapan membunuh. Seakan-akan ia memiliki kebencian mendalam terhadap Astaroth dan ingin segera membunuhnya.


"Mata ini … adalah hasil dari kasih sayang orang tuaku."


"Apa yang— Eh …?!"


Degh…


Tiba-tiba bulu kuduk Astaroth berdiri. Instingnya yang tajam mengatakan ia harus menengok ke kanan. Saat menengok, ia merasakan aura yang kuat melesat kearahnya. Astaroth pun langsung melepaskan cekikannya dan melompat mundur ke belakang yang membuat Herlin terjatuh.


Craasshh…


Semburan darah yang cukup banyak keluar dari leher Astaroth yang membuatnya harus menutupinya dengan tangannya. Ia kembali fokus ke arah Herlin. Tapi Herlin sudah berdiri dengan sebuah batu yang sangat besar berada di atasnya.


"Ini untuk cekikanmu tadi."


Braakkhh…


Herlin melemparkan batu yang besarnya berkali-kali lipat dari tubuhnya. Astaroth mengumpulkan aura di telapak tangannya lalu kemudian memukul batu besar itu menjadi hancur berkeping-keping.


Tapi saat ia ingin kembali melihat kearah Herlin, sosoknya sudah menghilang dari pandangannya.


Tanpa berlama-lama, Astaroth kemudian berdiri. Ia tidak menyesali kegagalannya membunuh Herlin untuk saat ini. Ia memilih untuk kembali ke pabrik dan menghadapi musuh yang saat ini sedang mengacau di pabrik.


"Jika tidak dapat yang besar, setidaknya aku akan menangkap buruan utamanya," gumamnya.


**


Sementara itu Herlin mundur untuk sementara waktu, ia beristirahat sebentar untuk memulihkan kondisi tubuhnya.


"Ahaakh …!"


Herlin memuntahkan darah dari mulutnya akibat cekikan yang dilakukan oleh Astaroth. Cekikan itu sangat kuat sampai membuat Herlin kesulitan bernafas dan menjadi lemas.


"Tubuhku lemah sekali!" ucapnya kesal.


Ia kemudian memikirkan lawan yang baru saja ia lawan. Penampilannya sedikit tidak asing bagi Herlin. Apalagi iris mata hijau yang indah itu.


"Mustahil, kan?"


Herlin menggeleng-gelengkan kepala untuk mengusir pemikiran yang tidak masuk akal di dalam kepalanya.


Blaaaaaarrr…


Saat Herlin sedang berpikir, tiba-tiba ia melihat sebuah kilatan cahaya petir yang muncul di dekat pabrik.


"Cahaya itu …. Tidak, aku tidak boleh istirahat sekarang. Yang lain sedang berjuang, aku tidak boleh bermalas-malasan disini!"


Herlin kemudian berdiri. Meskipun kondisi tubuhnya sudah lemah, tapi ia tetap memaksakan diri untuk pergi ke tempat pertarungan.


"Aku harus pergi!"


"Benar sekali, kau harus pergi."


"…?!"


Tiba-tiba ada seseorang yang menjawab gumaman Herlin. Kondisinya saat ini sedang tidak bagus, tapi malah bertemu dengan musuh lainnya. Tidak ada pilihan lain, Herlin akan bertarung bersama Banshee sekarang.


Herlin kemudian menengok dan yang ia lihat adalah seseorang yang tidak ia duga.


"Oita-san!"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2