
Pagi hari yang cerah seperti biasanya kembali menyapaku. Burung-burung berkicauan, angin semilir pagi pun dapat dirasakan kesejukannya. Tapi di pagi yang tenang ini, aku tidak bisa terus bangun siang lagi.
Benar, hari ini aku sudah mulai sekolah lagi.
"Hoaamm ...."
Aku berjalan keluar kamarku dengan keadaan yang masih setengah sadar untuk menuju ke kamar mandi. Jam dinding masih menunjukkan pukul 6 pagi sehingga aku masih memiliki banyak waktu.
"Selamat pagi, Iraya!"
"Pagi."
"Pagi .... Hmm? Kalian berdua jadi sering bangun pagi, ya?"
Saat aku turun ke ruang tamu, sudah ada Tetsu dan Caramel dengan wajah segarnya menandakan kalau mereka sudah bangun dari tadi.
Aku memaklumi kalau Tetsu selalu bangun pagi karena dia memiliki tugas sebagai asisten rumah tangga di sini. Tapi aku tidak menyangka kalau Caramel juga ikut bangun pagi, aku kira dia ini orang yang pemalas atau semacamnya.
Dan tanpa sadar aku melamun sambil melihat ke arah Caramel yang kemudian disadari olehnya.
"Ada apa? Apa kau berpikir kalau aku adalah gadis yang suma bermalas-malasan di rumah orang begitu?"
"Ya ... sedikit."
"Kau bahkan tidak menyangkalnya." Caramel memandang datar ke arahku sebentar sebelum akhirnya menghela nafas pasrah.
"Hah ... terserah kau saja menganggap aku bagaimana."
"Apa jangan-jangan kau memang begitu?"
"Dulu memang seperti itu karena saat bersama Bos dulu dia selalu memanjakanku, tapi sekarang saat bersamamu sepertinya aku harus sedikit demi sedikit merubahnya."
'Saat bersama Bos', ya? Kata-katanya itu mengingatkanku kalau sebelumnya ia adalah musuhku, tapi sekarang kami malah tinggal serumah.
Sejujurnya aku masih belum mengerti alasan kenapa dia bisa berkhianat dari Astaroth untuk memihakku. Kalau dipikir-pikir aku juga tidak bisa memberikan hal yang setara untuk Caramel dengan pasa saat dia masih bersama Astaroth.
"Hei Caramel, aku mau tanya sesuatu."
"Ada apa?"
"Apa kau punya alasan tertentu kenapa kau ikut bersamaku saat ini?"
"Masih membahas hal itu? Bukannya saat itu kau yang ingin memberitahuku bagaimana arti dari keluarga itu?"
"Ya itu memang benar, sih. Tapi kan waktu itu kau bisa saja menolakku. Meskipun pastinya Herlin dan yang lainnya sudah pasti akan mati jika kau melakukannya."
"Hmm ... benar juga ya."
Caramel terdiam sebentar dan melihat ke atas atap. Ia memikirkan jawaban dariku untuk beberapa saat dan kemudian baru menjawabnya.
"Karena kata-katamu malam itu, tapi mungkin bukan itu jawaban yang kau cari."
Aku mengangguk karena memang bukan itulah jawaban yang aku cari. Caramel pun memikirkan jawaban lainnya untuk menjawab pertanyaanku yang satu ini.
"Mungkin karena kau yang telah menyadarkanku."
"Menyadarkanmu?"
"Iya, kau menyadarkanku kalau jalan yang aku pilih saat bersama Bos adalah jalan yang salah. Awalnya aku berpikir kalau kau adalah anak bodoh yang kebetulan cakap berbicara saja.
Tapi kemudian aku memikirkannya kembali kalau kata-katamu tidak sepenuhnya salah. Dan saat kau memohon padaku untuk melepaskanmu lalu mulai berbicara omong kosong yang membuatku berharap padamu.
Di situlah aku mulai yakin kalau kau memang bisa mendapatkan apa saja yang kau inginkan. Mungkin kau memang tidak bisa meraihnya dengan tanganmu sendiri karena tanganmu terlalu kecil. Tapi kau memiliki orang-orang baik yang bersedia membantumu.
Aku jadi berpikir 'kalau misalnya aku mengikuti orang ini, apakah keberuntungannya juga bisa menular kepadaku?'. Jadi mungkin itulah yang membuat keputusanku bulat pada malam itu untuk melepaskanmu."
"Ka-kau ...."
Aku terdiam karena jawaban yang Caramel berikan ternyata lebih dalam dari yang aku kira. Ia yang melihatku terkejut pun hanya bisa tersenyum.
"Apa jawabanku kurang jelas? Aku memihak padamu karena aku ingin memanfaatkan keberuntunganmu untuk mencapai tujuanku. Meskipun pada akhirnya tujuan utamaku untuk bertemu kembali dengan orang tuaku tidak berjalan terlalu mulus, sih.
Tapi sebagai gantinya, aku akan terus berada di sisimu. Apapun yang terjadi padamu kedepannya nanti, aku akan terus mendukung pilihanmu. Mau itu sekedar berhenti dari Black Rain atau sampai menaklukkan dunia, aku akan terus mendukungnya.
Atau bahkan jika nanti pada akhirnya kau tidak memilihku untuk menjadi pendamping hidupmu selamanya, aku tetap akan mendukungmu. Karena bagiku sekarang, kau adalah satu-satunya yang aku miliki saat ini."
Jawaban yang sangat jelas dan dalam. Itu bahkan tidak bisa disebut jawaban lagi, karena ia juga mengucapkan pengakuannya padaku. Meskipun dulu pernah aku tolak, sih.
Setelah mendengar jawabannya itu. Aku kemudian melihat ke arah lain selain mata Caramel dan mengelus-elus kepalaku malu. Wajahku juga memerah karena aku tidak menyangka kalau jawaban itu yang akan keluar.
"Begini ya, aku itu tidak se istimewa itu. Tapi terima kasih atas jawabanmu, aku akan terus mengingatnya di dalam hatiku."
Ia kemudian tersenyum tipis saat aku berbicara seperti itu.
Prok...
Caramel kemudian menepuk tangannya sekali untuk mengakhiri pembicaraan ini dan kemudian mendorongku masuk ke dalam kamar mandi.
"Baiklah, baiklah, sekarang waktunya mandi. Kau akan terlambat ke sekolah jika masih belum siap-siap sekarang."
"Aku tahu, aku tahu! Ya ampun kau ini."
Saat aku sudah berada di dalam kamar mandi dan Caramel telah menutup pintunya, ia dan Tetsu sempat berbicara sebentar sambil Tetsu menyiapkan bekal serta sarapan kami semua.
"Apa itu pembicaraan yang cocok sebagai obrolan pagi?" tanya Tetsu.
"Entahlah, bagaimana menurutmu, Tetsu?"
"Aku tidak mengerti. Aku tidak pernah mengerti tentang perasaan manusia. Saat masih bersama manusia, aku hidup di zaman perang yang jarang mengenal cinta dan kasih sayang. Semuanya tentang strategi, darah, dan membunuh."
"Begitu, ya."
"Benar. Jadi aku sangat senang bisa menjadi asisten rumah tangga Iraya. Memasak, membersihkan rumah, dan lainnya. Meskipun memang sering terasa membosankan, tapi aku menyukai rasa bosan itu daripada kehidupan perang pada tuanku sebelumnya."
"Tapi mari lupakan itu semua! Ayo kita sarapan, Caramel! Aku sedang belajar resep baru." Tetsu langsung mengalihkan pembicaraan berat itu ke pembicaraan ringan masa kini.
__ADS_1
"Ehehe ... mana, mana, ayo kita cepat makan sebelum Iraya selesai mandi."
"Ayo!"
**
Lalu aku pun berangkat ke sekolah. Mereka berdua benar-benar tidak menyisakan sarapannya untukku dan aku malah dikasih telur mata sapi biasa.
"Hah ... mereka itu."
Padahal mereka berdua tinggal di dalam rumahku, tapi malah aku yang merasa seperti menumpang di sana.
"Tapi mereka membantumu masak dan bersih-bersih, kan?" ucap Cecilia.
"Kalau itu, sih ...."
"Sementara kau cuma datang ke rumah lalu tidur, makan, dan latihan saja, kan?"
"I-itu ...."
"Kalau begitu kau tidak punya hak untuk protes."
"Hah ... kurasa kau benar.".
Bahkan Cecilia yang ada di dalam kepalaku ini tidak mendukungku. Pertarungan tiga lawan satu melawan para perempuan ini benar-benar diluar kemampuanku.
"Pagi!"
"Lagi-lagi kau melamun sambil jalan?"
"Hmm?"
Tiba-tiba ada beberapa orang yang memanggilku dari belakang dan saat menengok ternyata mereka hanyalah tiga orang yang biasa aku temui saja. Herlin, Kudou, dan Hira.
"Oh, hanya kalian."
"Sebenarnya kau ini teman kami atau bukan, sih?" ucap Kudou datar.
"Semangat sedikit dong! Ini kan hari pertama kita sekolah setelah insiden itu."
Kudou merangkulku dan mengajakku untuk bersemangat di pagi hari ini. Cuacanya memang cerah, tapi pembicaraan pagi tadi serta keisengan Caramel dan Tetsu membuatku sudah lelah duluan.
"Justru karena ini hari pertama sekolah makanya aku tidak semangat."
"Kau ini masyarakat gagal, ya?" ucap Hira.
Jleb...
"Bukan hanya gagal, dia juga terasingkan dan tidak punya teman," lanjut Herlin.
Jleb... Jleb...
"Hn, hn, sudah pasti dia akan single selamanya." Hira melanjutkannya lagi.
Jleb... Jleb... Jleb...
"Kumohon ... hentikan, aku bisa mati," ucapku yang sudah sekarat ini.
"Ngomong-ngomong yang lain, ayo kita jalani masa sekolah kita dengan semangat!" ucap Hira.
"Ayo!"
"Iya."
Mereka kemudian berjalan meninggalkanku dan pada akhirnya aku pun menyusul mereka semua yang sudah berjalan duluan.
Dalam perjalanan, aku masih memikirkan soal kelas yang akan kami masuki nanti. Karena yang tersisa dari semua orang di kelas 10-A hanyalah kami berempat, jadi kami akan dibagi ke dalam dua kelas yaitu kelas 10-B dan 10-C.
Dan itu berarti aku akan berpisah dari dua orang yang ada di sini. Padahal aku ingin terus satu kelas dengan Kudou dan Hira, tapi sepertinya itu tidak bisa terjadi.
"Oh iya, apa kalian berdua sudah tahu tentang pembagian kelas—"
"Kami berdua kelas C." Kudou dan Hira mematahkan harapanku dengan kejam secara bersamaan.
"Baik-baik tanpa kami ya, Iraya," ucap Kudou.
"Aku tidak butuh itu! Lagipula siapa yang membagi kelasnya?! Aku ingin bertemu dengannya!"
"Tidak apa, bukan? Lagian kita masih bertemu saat istirahat dan pulang sekolah. Selain itu, seharusnya kau senang karena bisa sekelas dengannya lagi."
Hira menunjuk ke orang di sampingku yang sedang berjalan sambil memainkan HPnya. Orang itu adalah Herlin. Aku memang mendengar rumor kalau Herlin jadi anak tercantik di kelas 10 setelah tidak adanya Hasuki-san. Wajar saja kalau mereka menyebutku beruntung.
Tapi hal itu tidak seenak yang mereka duga. Aku yang kembali dicurangi oleh takdir pun tidak bisa melakukan apa-apa selain menghela nafas berat dan menerima semuanya.
Setelah itu kami pun berjalan sampai ke sekolah dan bel masuk sekolah pun sudah berbunyi. Itu artinya kami akan segera masuk ke kelas baru, yaitu kelas 10-B.
"Hari ini kalian kedatangan murid yang akan menjadi teman baru kalian di kelas ini. Silahkan perkenalkan diri kalian, Satou-kun, Ririsaka-kun."
"Namaku Satou Iraya, senang bertemu dengan kalian."
"Namaku Ririsaka Herlin, mohon kerjasamanya untuk kedepannya."
Reaksi yang kami berdua dapatkan tentu saja berbeda. Saat aku yang melakukan pengenalan diri, reaksi mereka biasa saja. Sementara saat Herlin yang mengenalkan diri, suasana menjadi berisik dan senang terutama para anak lelaki.
Herlin juga menyadari kalau ternyata ia satu kelas dengan Anna-san. Selain keberadaan Anna-san, aku juga memperhatikan murid-murid lainnya dan menyadari kalau ada sekelompok gadis yang memberikan tatapan tidak senang kepada Herlin. Apa itu hanya perasaanku saja?
Lalu ada juga anak perempuan yang duduk di depan pojok dekat dengan pintu keluar. Ia juga memperhatikan Herlin dengan tatapan aneh.
Sebenarnya ada apa sih dengan kelas B ini? Sepertinya Herlin mendapatkan perhatian lebih dari mereka, entah itu baik maupun buruk.
"Silahkan duduk di kursi yang kosong di belakang."
Setelah guru mempersilahkan kami, kami pun duduk di bagian belakang di samping Anna-san yang memang duduk di pojok belakang. Dan pelajaran pun kembali di mulai.
"Akhirnya kita sekelas ya, Herlin-san," ucap Anna-san dengan sedikit berbisik.
__ADS_1
"Ya."
"Mulai sekarang mohon bantuannya, ya."
"Aku juga, Anna-san."
Tapi obrolan Herlin dengan Anna-san tidak berlangsung terlalu lama karena mereka harus fokus lagi dengan pelajaran. Dan tidak ada yang istimewa saat pelajaran berlangsung sehingga waktu berlalu dengan cepat sampai ke jam istirahat.
"Baiklah, sampai sini saja untuk hari ini. Saya permisi dulu."
Aku meregangkan tubuhku karena berada dalam posisi duduk diam cukup lama ternyata membuat tubuhku lumayan kaku. Kondisi kelas langsung ramai ketika guru keluar dari pintu, banyak pembicaraan yang aku tidak mengerti yang keluar dari teman kelas baruku.
"Apa kau tahu? Konsernya akan diadakan sebentar lagi, lho."
"Benarkah?! Kali ini akan diadakan di mana?"
"Sepertinya kali ini berada di Nagoya."
"Tch! Kenapa mereka jarang ke Kyoto, ya? Tapi untung aku masih bisa melihatnya lewat Youtube."
"Kau benar."
Setelah menguping sedikit dan masih tidak mengerti, aku pun kemudian mengeluarkan bekal makan yang dibuatkan oleh Tetsu dan ingin berjalan keluar dari sini.
"Kau mau kemana?" tanya Herlin.
"Aku mau makan bareng Kudou dan Hira, kalian makan berdua di sini?"
"Ya begitulah. Oh iya karena kau ingin keluar, sekalian belikan aku minuman di kantin, pakai uangmu dulu nanti aku ganti."
"Iya, iya."
"Oh iya, Iraya."
"Ada apa lagi?"
"Nanti siang latihannya kita tunda dulu, kita akan pergi ke suatu tempat nanti."
"Suatu tempat? Apa tempat itu adalah tempat yang mencurigakan?"
"Tenang saja, itu tidak terlalu mencurigakan dan kau juga pernah kesana sebelumnya."
"Aku tidak tahu batas dari 'terlalu' milikmu itu tapi baiklah."
Setelah Herlin menitip minuman padaku, aku pun langsung berjalan keluar. Dan saat ingin keluar dari kelas, mataku dan mata perempuan pendiam yang duduk di dekat pintu pun sempat bertatapan. Meskipun itu hanya berlangsung kurang dari satu detik.
**
Dan setelah pulang sekolah, kami berdua pun berjalan menuju ke tempat yang telah Herlin beritahu tadi. Ternyata tempat yang 'tidak terlalu mencurigakan' itu adalah tempatnya Nezumi, si pemilik toko senjata langganan Herlin.
"Oh jadi kita akan kesini," ucapku.
"Iya, aku tidak bisa bilang tempat semacam ini sembarangan di sekolah."
"Tapi aku rasa mereka tidak akan percaya, sih."
Toko senjata kuno seperti panah, pedang, dan lainnya di zaman sekarang itu sepertinya mungkin akan dianggap museum atau toko souvenir. Dan pelayannya juga, penampilannya seolah seperti tidak niat bekerja.
Tok... Tok... Tok...
"Tunggu sebentar!"
Setelah Herlin mengetuk pintu, seseorang langsung menjawab dan kemudian membukakan pintu untuk kami.
"Hmm? Oh! Sudah lama sekali kalian tidak kesini, apa kalian ingin membeli senjata baru lagi?" ucap Nezumi.
"Ya begitulah, orang ini menghancurkan pedangnya saat pertarungan dan dia tidak punya penggantinya."
Meskipun pedang murah yang aku beli di sini sudah lama hancur dan digantikan oleh pedang dari Ryuzaki-san, sih. Tapi sayangnya saat melawan Astaroth, pedang itu juga dihancurkan olehnya.
"Nee Iraya, kau kan dapat menciptakan senjatamu sendiri, kenapa kau masih membutuhkan pedang asli?" tanya Cecilia tiba-tiba.
"Oh, itu. Prosesnya tidak sebentar, memakan banyak tenaga saat menciptakannya, mempertahankan wujudnya juga butuh waktu yang lama. Jadi tidak efektif bagiku saat bertarung, selain itu, Tetsu saat ini masih tidak punya rumah, jadi sekalian aku ingin memberikan rumah bagi Tetsu."
"Jadi begitu."
"Hn? Apa kau berbicara sesuatu?" tanya Nezumi yang mendengarku bicara dengan Cecilia.
"Abaikan saja, dia memang suka berbicara sendiri seperti itu. Ngomong-ngomong, boleh aku lihat-lihat dulu?"
"Ah, iya, tentu, silahkan masuk."
Di dalamnya seperti biasa banyak terdapat berbagai jenis senjata dan masih belum terlalu banyak berubah, kecuali ada seseorang yang tidak aku kenal di sini.
Dia terlihat seperti pria berumur dengan tubuh kekar karena sering digunakan untuk bekerja dan membuat senjata. Setelah melihat kami, ia kemudian menghentikan kegiatannya dan menyambut kami.
"Oh, Herlin-chan! Selamat datang! Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di tempat ini. Apa kau berubah pikiran dan akhirnya ingin memakai senjata buatanku?"
"Bukan aku, tapi anak ini."
"Hnm?"
"H-Halo, namaku Satou Iraya."
Pria itu kemudian memperhatikanku sebentar dan sadar akan sesuatu.
"Oh! Jadi kau anggota baru Black Rain yang dibicarakan Murasaki-san dulu, ya? Ahahaha! Kau pasti sangat menarik sampai Murasaki-san bisa merekrutmu."
"Ehehehe ... aku hanya siswa SMA biasa, kok."
"Apa kau memiliki pedang yang cocok untuknya? Ngomong-ngomong dia ini pengguna pedang."
"Pengguna pedang, ya? Beruntung sekali kau bertemu denganku, karena aku adalah ahlinya."
Ia tersenyum percaya diri ketika Herlin membicarakan soal pedang. Sepertinya kali ini aku akan mendapatkan senjata yang lebih bagus dari pedang murah sebelumnya. Semoga saja.
__ADS_1
Bersambung