Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 146 : Interogasi


__ADS_3

Baiklah. Dipukul sampai pingsan lalu kedua kaki dan tanganku diikat di kursi bukanlah sesuatu yang aku bayangkan akan terjadi padaku malam ini, tapi sayangnya takdir berkata lain.


Belum lagi Nigiyaka-san juga mengalami hal yang sama denganku. Seorang Assassin dengan pengalaman sepertinya memiliki nasib yang sama dengan amatiran sepertiku, bukankah itu yang namanya gawat?


Dan jika kau pikir itu tidak bisa bertambah buruk, di depan kami ada seorang wanita dengan kostum sipir yang bisa dibilang cukup menggoda. Wajah sipir wanita ini juga cukup cantik. Tapi aku yakin dia tidak datang untuk memberikan kabar baik kepada kami.


"Tidak aku sangka akhirnya datang juga giliranku untuk menginterogasi pengacau."


Kami disebut pengacau. Yah ... itu tidak salah karena kami hampir mengalahkan seluruh pria botak di bar ini. Meskipun semua itu ada tujuannya, kalau menurut Nigiyaka-san.


"Aku tidak mengacau, aku hanya membela diri," ucap Nigiyaka-san.


"Membela diri? Dari puluhan pria besar yang menyerangmu dan menang, kau sebut itu membela diri?"


"Kau bisa menyebutnya begitu, karena mau bagaimana pun mereka yang memulainya."


Nigiyaka-san cukup yakin dengan kata-katanya karena jika memeriksa CCTV pun aku rasa dia tidak berkata bohong. Tapi sebenarnya dia yang memprovokasi mereka, sih. Dan caranya memprovokasi juga bisa aku bilang ... bagaimana, ya? Kekanak-kanakan.


Penjaga sipir itu kemudian duduk di meja interogasi. Seseorang lalu datang sambil membawa sebuah rekaman CCTV dan menaruhnya di depan kami, ia juga memberikan remot kepada penjaga sipir. Dan setelah itu, ia langsung keluar dari ruangan ini.


"Mari kita lihat apa kau benar-benar hanya seorang 'korban' atau bukan."


Dan penjaga sipir memulai ulang rekaman CCTV, bisa dilihat kalau awalnya memang Nigiyaka-san menjegal kaki salah satu orang botak itu, dan amarahnya semakin tersulut ketika ia menyiramkan minuman mahal ku ke arahnya.


Oh, iya! Aku belum membuat siapapun membayar tentang minuman mahal yang aku beli. Tidak mungkin untuk memintanya pada Nigiyaka-san karena pasti dia akan menghajarku, jadi aku akan minta ke orang lain selain dia.


Ngomong-ngomong, rekaman CCTV terus berlanjut sampai kami mengalahkan mereka semua. Lalu penjaga sipir pun mematikan rekamannya. "Lihat, kan? Dia yang memukul duluan." Nigiyaka-san masih mencoba untuk membuat dirinya terlihat tidak bersalah.


"Dan tentu saja karena ada sesuatu yang memancingnya, kan? misalnya, sebuah jegalan kaki dan siraman minuman."


"Waktu itu kakiku kebetulan ada di sana ketika dia lewat, lalu jariku juga kebetulan licin dan tanpa sengaja malah jatuh ke arahnya. Itu semua tidak disengaja."


"Kebetulan, ya? Sungguh kebetulan yang aneh."


"Benar. Sangat aneh."


Mereka berdua saling memandang tidak ada yang mau mengalah. Dengan semua alasan Nigiyaka-san utarakan barusan, aku tidak yakin kalau dia akan mempercayainya.


"Baiklah."


Eh?


"Aku tidak tahu bagaimana caranya, tapi untuk sekarang aku percaya kalau yang terjadi di rekaman tadi adalah sebuah ketidaksengajaan."


Dia percaya begitu saja?! Apa-apaan sipir yang terlalu berpikir positif ini? Jika aku jadi dirinya, maka aku akan langsung memenjarakannya, menyiksanya, dan membuatnya membayar minuman mahal yang ia tumpahkan.


Tapi ketika aku sedang berpikir tentang bagaimana caranya seseorang mau mengganti minuman mahal itu, perhatian penjaga sipir kini mengarah kepadaku dan meninggalkan Nigiyaka-san yang untuk saat ini 'tidak bersalah'.


Dia mendekatkan wajahnya. Sangat dekat. Terlalu dekat! Hidung kami hampir bersentuhan dan mata kami tak berjarak. Aku mencoba untuk menggerakkan pupil ku ke arah lain agar tidak langsung menatap matanya.


"Sekarang ... Mari kita bicara denganmu."


Aku tidak ada hubungannya, aku tidak terlibat, anggap saja aku orang malang yang kehilangan minuman mahalnya. Tapi meski sudah mencoba untuk mengabaikannya, dia tidak memindahkan pandangannya sama sekali. Yang akhirnya membuatku menyerah.


"Hah ... baiklah, kau mau tanya apa?"


"Bagus. Kau lebih penurut dari yang satunya." Ia menjauhkan wajahnya dari wajahku dan mulai bertanya. "Karena kau berbicara dengannya dalam rekaman CCTV dan juga menghajar pengunjung lainnya, kau juga kami tangkap. Apa ada pembelaan?"


"Tidak ada." Aku menjawab pasrah. Lagipula buktinya juga sudah ada di CCTV, jadi untuk apa aku berbohong lebih jauh.


Atau itu yang aku pikirkan.


Aku melirik ke arah Nigiyaka-san dan tatapannya kesal. Eh? Apa aku melakukan kesalahan? Dia kemudian menggelengkan kepalanya masih sambil menatapku kesal. Apa maksudnya itu? Aku tidak bisa membaca kode sesederhana itu.


Penjaga sipir sepertinya cukup puas dengan jawabanku sebelumnya. "Baiklah, ini pertanyaan terakhir. Jika menjawab dengan benar, maka kita akan berpindah." Oh! Akhirnya sampai ke pertanyaan terakhir, setelah ini mungkin saja kita bisa berpindah dari ruangan membosankan ini.

__ADS_1


"Apa yang seorang Exception lakukan di sini?"


"??!!"


Pertanyaan itu membuat mataku melebar. Dia tahu soal 'Exception', yang berarti kalau penjaga sipir bukanlah manusia biasa. Sepertinya dia melihat ekspresiku yang gelisah dan langsung mengumpulkan aura di tangannya.


Ia menciptakan sebuah pecutan berwarna hitam dan langsung menebas dan melingkarkan pecutan itu di leherku. "Jangan coba macam-macam di tempat ini, aku juga tidak akan membiarkan interogasi pertamaku gagal." Kata-katanya menjadi lebih dingin.


"Gkhh ...!"


Dia mencekikku sangat kuat. Aku tidak bisa bernafas padahal ini hanya sebuah pecutan. A-aku ... harus membebaskan diri sebelum kehilangan kesadaran.


Aku mencoba memfokuskan aura pada kedua tangan dan beberapa helai rambutku mulai naik, tapi anehnya dalam sekejap mereka langsung turun seolah kemampuanku tidak sampai ke mereka. Apa yang sebenarnya terjadi?


Lama-lama tubuhku melemas dan auraku tidak keluar dengan sempurna. Rasanya seperti ... semua kekuatanku disedot keluar. Karena mengeluarkan aura tidak ada gunanya, aku mencoba meronta sekeras mungkin tapi kedua tanganku terikat sangat kuat.


"Kau mau melakukan sesuatu yang lucu? Sayang sekali, tapi pecutan ini bukan pecutan biasa. Aku bisa menyerap energimu dan kalau aku tidak menghentikannya, nyawamu bisa dalam bahaya, lho."


"D-dasar ... j*lang ...."


Ini gawat. Aku tidak bisa melakukan apa-apa — bahkan sekedar meronta pun sulit. Sesuatu ... aku harus memikirkan sesuatu untuk keluar dari situasi ini. Tapi itu berarti semakin lama aku berpikir, maka semakin banyak juga kekuatanku yang disedot olehnya.


"To ... tolong a—"


"Ya ampun ... kau benar-benar amatir dalam hal interogasi, ya?"


Tapi tiba-tiba Nigiyaka-san berbicara sesuatu dan itu juga menghentikan sedotan dari pecutan si sipir ini karena perhatiannya teralihkan. Aku sampai lupa kalau Nigiyaka-san ada di sini bersamaku karena sibuk mencari solusi.


Itu sepertinya sebuah provokasi dan berhasil menarik si sipir.


"Apa kau bilang sesuatu?"


Dia melepaskan cekikikan pecutan miliknya dari leherku yang membuatku batuk dan mencoba mengambil nafas sebanyak yang aku bisa. Sialan, kenapa tidak dari tadi, Nigiyaka-san?! Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, walaupun tentu saja aku masih kesal.


"Aku bilang, kau benar-benar amatir dalam hal interogasi. Dan lebih baik diganti oleh orang yang lain saja."


"Pantas saja kau tidak pernah dipilih untuk menginterogasi seseorang. Jika aku jadi bosmu, tentu saja aku akan menyuruh orang lain daripada orang bodoh sepertimu."


Urat kekesalan muncul di dahi penjaga sipir dan dengan cepat, langsung menyabet wajah Nigiyaka-san dengan pecutan. Tidak ada bekas luka berarti di wajahnya, meskipun ketika meludah, air liurnya berubah merah karena bercampur darah.


"Tahu apa kau soal Bos? Dia adalah orang terhormat yang menyuruh laki-laki menginterogasi laki-laki, dan perempuan menginterogasi perempuan. Kebetulan kalian adalah perempuan pengacau pertama, jadi aku akan bermain sampai puas dengan kalian!"


Ia kembali memecut Nigiyaka-san berkali-kali dalam keadaan kesal. Aku bahkan menutup mataku karena tidak ingin melihatnya lebih jauh, ia memecutnya dengan sekuat tenaga dan Nigiyaka-san juga dalam keadaan tak bisa melawan.


Tapi pecutan itu berhenti dan kini penjaga sipir mulai mencekik lehernya dan menyerap energi Nigiyaka-san. Seringai puas di wajahnya tidak pernah hilang dari awal ia memecutnya.


Sementara Nigiyaka-san juga tidak pernah menghilangkan tatapan tajam pada penjaga sipir. Walaupun wajahnya kini memerah dan banyak luka bekas pecutan.


"Aku akan membuatmu kehabisan tenaga!"


"Benarkah? Amatir banyak bicara sepertimu bisa melakukan hal itu? Aku kagum jika kau bisa benar-benar melakukannya dan tidak hanya omong kosong."


"Diam!"


Dia mencekiknya lebih keras daripada saat mencekikku. "Hentikan!" Aku mencoba menghentikannya karena gawat jika ini terus dibiarkan. Penjaga sipir juga terlihat terkena provokasi Nigiyaka-san dan ingin menghabisinya. Jangan bicara lebih dari ini, Nigiyaka-san. Atau nyawamu bisa dalam bahaya.


Namun, semua percuma. Meronta pun sulit bagiku karena aura yang diserap oleh sipir itu sebelumnya terlalu banyak. Sialan. Siapapun tolong hentikan dia. Akihito-san!


Saat aku memohon di dalam hati, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan aku merasa lega karena mungkin itu adalah sesuatu yang menjawab harapanku. Tapi ternyata dugaanku salah, harapan yang sebelumnya sudah tinggi kini jatuh ke tanah dan hancur berkeping-keping karena yang datang bukan Akihito-san.


Aku tidak mengenalnya. Tapi laki-laki itu mendorong sebuah meja besi dengan roda di bawahnya. Lalu di atas meja itu terdapat berbagai benda yang terlihat sangat menyeramkan.


Ada tang, palu, alat yang digunakan untuk mencabut kuku, dan lain sebagainya. Yang lebih menyeramkan lagi adalah di setiap alat itu terdapat darah kering bukti kalau itu bukan alat biasa. Itu adalah alat penyiksaan.


Penjaga sipir kemudian mengendurkan cekikan pecutan di leher Nigiyaka-san yang membuatnya bisa sedikit bernafas — walaupun sepertinya tidak terlalu lama. Ia menghampiri laki-laki tadi dan membawa dua kartu identitas.

__ADS_1


Tunggu sebentar. Itu kartu identitasku! Kenapa itu bisa bersamanya?! Dan juga satu kartu lagi sepertinya adalah milik Nigiyaka-san.


"Akhirnya aku bisa menggunakan alat-alat ini. Hah ... aku tidak sabar mendengar suara jeritan kalian, pasti sangat melepaskan stress." Dia mengambil tang yang ada bekas darahnya dan mendekatkannya pada pipinya dengan seringai di wajah.


Aku menelan saliva keringku khawatir. Dia psikopat! Wanita ini psikopat! Aku tidak ingin berakhir di sini karena seorang psikopat. Harus keluar ... keluar dari sini bagaimanapun caranya!


"Tenang." Nigiyaka-san menyadari kegelisahanku. Wajahnya sangat berantakan karena luka sekarang.


"Eh?" Aku menengok padanya.


"Kita akan keluar dari sini sebentar lagi," gumamnya pelan.


Aku tidak mengerti apa yang dia rencanakan. Tapi sudah jelas kalau sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk tenang, Nigiyaka-san! Kita harus segera memikirkan cara untuk keluar dari sini secepat mungkin.


"Ini identitas mereka, Bu."


"Mana, mana. Mari kita lihat nama korban pertamaku."


Laki-laki itu memberikan kartu identitas milikku dan Nigiyaka-san dan penjaga sipir memeriksanya. "Kurobane Mei, 20 tahun. Oho~ Sepertinya korban pertama kita masih cukup muda, ya?" lanjutnya.


"Tch!"


"Lalu yang satu lagi ..., Nigiyaka Eiko, 27 tahun. Hmm ... tidak ada yang spesial dari dirimu. Jadi tanpa berlama-lama lagi, bisa kita mulai pestanya?"


"Ti-tidak ... Siapapun tolong aku! Aku tidak mau mati di sini! Nigiyaka-san!" Ia berjalan ke arahku dengan seringai yang menyeramkan, sementara aku mencoba meronta dan melepaskan diri dari ikatan ini.


"Bagus sekali. Berteriak lah sekencang mungkin, teriakanmu adalah musik di telingaku."


"Aku tidak menyangka kau bisa sebodoh ini," ucap Nigiyaka-san.


"Apa?"


"Padahal sudah melihat wajahku dan bahkan mengetahui nama asliku, tapi kau masih tidak tahu sedang berurusan dengan siapa? Amatir memang kelewatan bodohnya."


Penjaga sipir itu memiringkan kepalanya. Ia masih tidak tahu siapa sebenarnya Nigiyaka-san itu. Dan akhirnya Nigiyaka-san menyebutkan sebuah kata yang membuat penjaga sipir sadar siapa yang sedang ia lawan.


"Masih tidak kenal? Kalau begitu, bagaimana dengan ini ... 'Nimis'. Pernah dengar namanya?"


Dan ketika Nigiyaka-san menyebut nama samarannya, penjaga sipir itu terkejut sampai matanya melebar. "Ni-Nimis?! Orang yang Bos bilang harus diwaspadai itu?! Kenapa orang sepertimu ada di sini?!"


"Sepertinya Bos mu tahu soal aku. Itu berarti aku tidak perlu menjelaskan panjang lebar, kan? Aku datang untuk membunuh Bos mu!"


"Si-sialan!"


Penjaga sipir kembali menciptakan pecutan dari auranya, tapi kali ini pecutan itu berhasil di tangkap ketika ia ingin memecut Nigiyaka-san lagi. Ikatannya sudah terlepas — tidak, lebih tepatnya dibakar dengan cepat.


"Tidak mungkin! Kau masih punya kekuatan untuk mengeluarkan auramu?! Monster macam apa kau?!"


"Monster? Sayangnya bukan, aku adalah malaikat maut mu. Seorang Assassin!"


Setelah itu, api merambat dari genggaman Nigiyaka-san membakar pecutan penjaga sipir sampai ke tubuhnya. Api tersebut bahkan tidak berhenti sampai akhirnya membakar seluruh tubuhnya.


"Arrgkhh ... Panas! Siapapun! Cepat padamkan! Aku belum mau mati! Aku belum boleh mati!"


"Sebenarnya aku ingin balas dendam lebih dari ini karena telah memecut ku berkali-kali, tapi karena aku masih ada misi, segini saja mungkin cukup."


Penjaga sipir yang masih dalam keadaan terbakar mencoba meraih Nigiyaka-san, tapi sebelum bisa mengenai tubuhnya, ia sudah jatuh ke tanah. Tewas dengan luka bakar yang mengenaskan.


Sementara aku yang menyaksikan itu tidak bisa berkata apa-apa. Inilah Assassin yang sebenarnya, bukan malah berteriak minta tolong seperti anak kecil yang bodoh. Kemudian Nigiyaka-san melepaskan semua ikatanku."


"Ma-Ma—"


"Simpan ucapan maaf mu untuk nanti, sekarang mari kita keluar dari sini dulu."


"... Baik."

__ADS_1


Kami pun segera keluar dari sana. Oh iya, laki-laki yang mendorong meja roda dengan banyak alat penyiksaan di atasnya juga dibakar sampai hangus oleh Nigiyaka-san. Supaya tidak ada saksi dan informasi kalau kami kabur tidak bocor.


Bersambung


__ADS_2