
Sementara itu di tempat Oita-san dan Astaroth sedang bertarung. Pertarungan mereka berjalan begitu kacau dan brutal. Apapun yang mereka pijak dan lewati semuanya akan hancur berkeping-keping karena kekuatan mereka.
Keduanya sama-sama mengeluarkan seringai yang menandakan kalau mereka berdua benar-benar menikmati saat-saat seperti ini.
Seakan sudah lama tidak mengeluarkan kekuatan penuh masing-masing, mereka seakan tidak memperdulikan sekitarnya dan bertarung seperti orang kesurupan.
Pukulan demi pukulan dilancarkan silih berganti oleh keduanya, jual beli serangan tidak berhenti sedetik pun untuk sekedar beristirahat. Tapi di salah satu momen saat Astaroth memukul Oita-san jatuh ke bawah dan menghancurkan rumah yang ada di bawahnya, pertarungan mereka terhenti sebentar karena Oita-san melihat penghuni rumah yang baru saja ia hancurkan.
Mata Oita-san dan penghuni rumah itu bertatapan secara langsung. Perbedaan terlihat mencolok dimana yang satunya mengeluarkan tatapan ketakutan dan yang satunya tatapan normal.
Kreek…
Plafon rumah yang sudah setengah hancur tadi tiba-tiba retak dan jatuh tepat di atas kepala penghuni rumah tadi. Dengan sigap, Oita-san langsung menggendongnya menjauh dan menurunkannya tepat di luar rumah ditempat yang sudah bisa dikatakan aman.
"Cepat pergi dari sini! Disini berbahaya!"
"Te-terima ka— Hiiikh!"
Belum sempat ia berterima kasih pada Oita-san, Oita-san sudah menghilang dari pandangannya karena terkena pukulan telak tepat di pipinya dari Astaroth.
"Apa yang kau lakukan?! Mengalihkan perhatianmu di tengah pertarungan begitu?!"
"Tentu saja aku menolong orang! Apa kau tidak lihat?!"
"Tinggalkan saja orang-orang tidak berguna itu dan fokus padaku!"
"Kau ini seperti perempuan yang meminta perhatian pada pacarnya, ya?"
Meskipun pukulan tadi mengenai telak ke Oita-san. Tapi itu tidak membuatnya kesakitan atau kelihatannya seperti itu. Astaroth mendorong kepalan tinjunya yang masih memukul pipi Oita-san yang membuatnya terpental cukup jauh.
Oita-san akhirnya berhenti terpental ketika ia menabrak sebuah pohon besar yang pada akhirnya pohon itu pun juga tumbang karena terkena tabrakan tadi. Oita-san kemudian berdiri dan membersihkan pipinya yang tergores dan kotor.
"Wah, wah, wah. Sepertinya skornya satu kosong untukmu, ya?" ucap Oita-san.
"Tidak ada niatan untuk membuatnya seimbang lagi?"
Astaroth melompat dan berhenti saat ia sudah berada di dalam jarak pandang Oita-san.
**
Murasaki Oita PoV
"Tcuih …."
Aku membuang saliva yang bercampur darah segar ke sampingku akibat pukulan yang dilancarkan oleh Astaroth sebelumnya. Pukulannya cukup telak karena fokusku terbelah.
Di satu sisi, aku harus melawan Astaroth saat ini. Tapi di sisi lain kerusakan yang kami berikan akibat pertarungan juga tidak bisa aku abaikan. Banyak warga-warga biasa yang sekarang sedang terjebak di dalam reruntuhan rumah karena pertarunganku dengan Astaroth.
Aku bisa merasakan keberadaan mereka karena Unique Skill milikku. Selain bisa membangkitkan kekuatan seperti yang aku lakukan sebelumnya pada Iraya-kun, aku juga bisa mengetahui seseorang yang berada di sekitarku apakah dia masih hidup atau tidak, dia seorang Exception atau bukan, berkat kemampuan ini.
Kesampingkan hal itu dulu, sekarang aku harus menentukan mana yang akan aku prioritaskan saat ini, melawan Astaroth atau mengamankan para warga sekitar. Dan aku memilih pilihan yang kedua.
Aku tersenyum miris atas pilihan yang aku tahu akan merugikan diriku sendiri, tapi masih tetap aku lakukan. Astaroth yang menyadari senyuman yang keluar dari mulutku kemudian bertanya padaku.
"Apa yang lucu?"
"Tidak. Aku hanya berpikir kalau aku ini bodoh saja."
"Apa-apaan itu? Aku tidak tahu aku harus senang atau malah kasihan mendengarnya," ucap Astaroth.
"Kedua-duanya juga tidak apa-apa."
Aku memfokuskan auraku dan terlihat aura berwarna hitam dengan gradasi warna ungu yang mengelilingi tubuhku. Hanya dengan mengeluarkan aura saja sudah menghasilkan angin kencang yang cukup untuk menerbangkan jemuran jika berada di dekat sini, tapi sayangnya itu tidak berarti apa-apa kepada Astaroth.
Beberapa detik kemudian, di sampingku tercipta sebanyak sepuluh tiruan diriku yang mirip denganku. Hanya saja tiruanku tidak menunjukkan ekspresi apapun dan wajahnya terkesan datar dan tidak berjiwa.
Aku membuat bayangan ini untuk menyebar dan menolong orang-orang sekitar lalu membawa mereka ke tempat yang jauh dari sini dan lebih aman.
Aku sudah mengkonfirmasi orang yang harus kuselamatkan. Jumlahnya ada sekitar 1.532 orang yang berada disekitar sini dan berada dalam radius pertarunganku. seperempatnya terluka bervariasi antara luka ringan, luka sedang, sampai luka yang serius.
Seharusnya aku bisa membuat lebih banyak tiruanku. Tapi orang di depanku bukanlah lawan yang bisa kuremehkan, jadi aku rasa sepuluh sudah cukup untuk sekarang. Jika aku kehabisan tenaga karena membuat banyak tiruan, justru itu akan jadi bahaya untuk diriku sendiri.
"Pergilah!"
Setelah aba-aba yang kuberikan, kesepuluh tiruanku pun berpencar dengan cepat dan mulai menuju ke orang-orang yang membutuhkan pertolongan.
Tapi Astaroth yang melihatku membuat banyak tiruan seperti tadi terlihat tidak senang. Ia merasa kalau dirinya diremehkan karena aku membagi fokusku untuk menyelamatkan warga terlebih dahulu.
"Kau benar-benar tidak menganggap pertarungan ini serius, ya?" tanya Astaroth.
"Maaf saja, ya. Tapi aku tidak bisa membiarkan orang-orang tidak berdosa mati begitu saja, apalagi itu terjadi di daerahku. Kau mungkin memang tidak mengerti karena kau tidak pernah memikul tanggung jawab seperti itu."
"Heh … 'tanggung jawab', ya?"
Kata-kataku barusan sepertinya memicu sebuah ingatan lama dari Astaroth karena wajahnya berubah. Sementara dari pihak Astaroth sendiri, ia mengingat sosok dari seseorang yang menyuruhnya untuk pergi kesini. Ia menyadarkan dirinya lagi dengan mendecakkan lidahnya. Lalu tatapannya kembali fokus padaku
"Jangan sombong Murasaki Oita, jangan pikir kalau kau saja yang punya tanggung jawab yang besar disini."
__ADS_1
"Hmm? Jika kau juga sama denganku berarti harusnya kau mengerti."
"Kau benar, aku sangat mengerti hal itu."
Tap… Braakkhh… Blaarr…
Astaroth melesat dengan cepat sampai menghancurkan pijakannya yang sebelumnya langsung menuju tepat ke wajahku. Meskipun kecepatannya sangat cepat tapi aku masih bisa menahannya dengan menyilangkan kedua tanganku di depan wajahku.
Kami sempat beradu ketahanan. Kekuatan yang beradu itu menyebabkan area sekitar kami dalam radius 10 meter hancur dan menyisakan tanah berlubang yang cukup dalam.
Srrtt… Blaaaaaarrr…
Saat kami sedang beradu, Astaroth masih sempat membuat sebuah bola api berukuran bola basket yang berputar-putar di udara dan berjumlah ratusan buah. Hanya berada di dekatnya saja, hawa panasnya sudah sangat terasa dan membakar pohon-pohon yang berada disini.
"Apa yang—?!"
"Coba bertahan dari ini!"
Astaroth mengarahkan ratusan bola api itu tepat kearahku yang sedang terkunci dengannya saat ini. Ledakan besar terjadi dan menyebabkan area ini menjadi hutan mati dengan banyaknya pohon mati yang terbakar. Bahkan malam yang gelap ini sekilas sempat menjadi seterang siang hari akibat serangan tadi.
Astaroth terdiam sebentar dan memeriksa keadaanku sekarang. Tapi lagi-lagi wajahnya menunjukkan ketidaksenangannya saat melihat siluet tubuhku yang semakin lama semakin jelas saat asap ini mulai menghilang perlahan.
"Apa yang kau tahan lagi?"
Aku masih berdiri tegak seperti biasanya. Tapi penampilanku tidak bisa berbohong karena saat ini aku terlihat sangat kacau. Dengan baju bagian lengan dan kaki yang sudah mulai robek-robek, dan rambutku juga yang mulai berantakan. Wajahku pun juga tidak kalah kotornya dengan bajuku, tapi aku masih bisa tersenyum mendengar pertanyaan dari Astaroth.
"Tidak apa-apa, hanya bersenang-senang sedikit saja."
Kuakui kekuatanku berkurang lumayan banyak karena sedang mempertahankan tiruanku yang saat ini sedang menyelamatkan para warga. Jadi aku tidak bisa mengeluarkan serangan terbaikku dan yang bisa kulakukan saat ini hanyalah menunggu.
Bluub... Bluub...
"?!!"
Tanah yang sedang aku pijak saat ini tiba-tiba melunak dan kedua kakiku masuk ke dalamnya. Lalu sesaat kemudian, tanah tadi kembali mengeras dan mengurung kedua kakiku sehingga aku tidak bisa bergerak kemana-mana.
Swuush...
Dengan cepat Astaroth melesat ke arahku dan menyerangku menggunakan pukulannya. Tapi kali ini serangannya sedikit berbeda, pada tinjunya dilapisi campuran batuan dan tanah yang membuat tinjunya sangat besar. Ia menjatuhkan tinju sekaligus badannya agar gravitasi membuat pukulannya itu semakin kencang.
Duuaarr...
Pukulan Astaroth membuat lubang besar dan menghancurkan area disekitarnya. Tapi sayangnya ia masih belum bisa mengenaiku karena aku sempat menghindar beberapa detik sebelum tinjunya sampai.
Kekuatan orang ini memang bukan main. Aku harus mengulur waktu sampai mereka semua selesai mengevakuasi warga. Tapi aku yakin tidak akan semudah itu karena lawannya adalah dia.
Aku mundur masuk ke dalam hutan lebih dalam sekaligus untuk mengecohnya. Aku menengok ke belakang dan tidak ada siapapun yang mengejarku. Apa dia sudah kehilangan jejakku?
Tapi tembok lumpur itu terlalu cair untuk dijadikan pijakan sehingga kakiku menembusnya. Lalu setelah menembus sampai ke betis, tanah itu kembali mengeras dan menjebakku lagi.
"Sial! Jebakan seperti ini lagi?!"
Saat ini posisi tubuhku sedang dalam posisi horizontal dengan kaki yang terjebak. Aku juga bisa merasakan kalau energi yang besar datang ke arahku dalam jumlah yang banyak.
Blaaar... Blaaar... Blaaar...
Kumpulan bola api datang dari balik pepohonan rindang seakan memiliki pikirannya sendiri dan melesat ke arahku. Tapi aku segera memberontak dengan keras dan menghancurkan jebakan tembok lumpur tadi sehingga aku bisa menghindari bola api itu.
Belum selesai sampai disitu, saat aku masih jatuh dan ingin berpijak di bumi, dengan cepat Astaroth datang dari bagian bukit yang gelap sambil berancang-ancang untuk memukulku. Aku hanya menyilangkan kedua tanganku di depan dan menerima tinju yang dilancarkan oleh Astaroth.
Braaakhh...
Aku terpental dan menghancurkan tembok lumpur yang tadi menjebakku. Astaroth yang tadinya terus mengeluarkan seringai, tiba-tiba hal itu hilang dari wajahnya. Saat ini wajahnya dipenuhi perasaan bingung dan bertanya-tanya sambil terus berjalan ke arahku.
Sementara aku kembali berdiri membersihkan debu-debu yang ada di bajuku akibat menembus banyak benda dan pohon tadi.
"Kau tahu, padahal aku sudah menantikan saat-saat seperti ini. Tapi kau malah menahan dirimu dan membuatku tidak bergairah …," ucap Astaroth dengan nada kehilangan semangat.
"Mungkin kau saja yang tidak berusaha lebih keras untuk membuatku mengeluarkan semua kemampuanku," ucapku memprovokasinya.
Tapi ia sudah terlihat tidak tertarik lagi. Sepertinya aku terlalu menahan diri, ya? Meski begitu, memang inilah yang bisa kulakukan untuk sekarang agar tiruanku tidak kehilangan kekuatannya.
"… Baiklah kalau begitu, jika kau tidak bisa menghiburku … aku akan langsung membunuhmu saja," lanjut Astaroth.
"Kau kelihatan percaya diri sekali, ya?"
Meski aku bicara begitu. Tapi aku tahu kalau yang diucapkannya tadi bukan main-main. Aku bisa merasakan dari dirinya suatu kekuatan yang amat besar yang bahkan sangat berbahaya bagi diriku. Orang ini—Astaroth benar-benar ingin membunuhku saat ini juga.
**
Sementara itu di tempat lain, di tempat bekas pertarungan yang Astaroth dan Oita-san. Suasananya benar-benar mengerikan, banyak rumah dan jalanan-jalanan yang hancur karenanya.
Banyak warga-warga yang tadinya sedang tidur nyenyak terbangun dan tidak tahu menahu soal apa yang terjadi saat ini. Beberapa dari mereka berpikir kalau telah terjadi gempa yang besar saat mereka terlelap, tapi gempa tidak menyebabkan kebakaran yang besar dan hawa panas seperti saat ini.
Kebingungan dan ketakutan menyelimuti warga saat ini. Tidak terkecuali seorang anak kecil yang menangis di tengah rumahnya yang sudah setengah hancur dan terbakar.
"Uwaaa …!! Ibu, Ayah! Kalian dimana?!" teriak gadis itu.
__ADS_1
Saat ia sedang menangis, tiba-tiba seseorang memanggilnya. Ia adalah ibunya yang langsung berlari ke arahnya. Tapi disaat bersamaan, kerangka rumah mereka yang sudah rapuh terbakar jatuh tepat diatas anak kecil itu dan siap menghantam kepala kecilnya.
"Tidak!"
Brraaakkhh…
Kerangka rumah itu jatuh ke tanah, tapi ia tidak mengenai apapun sebelum jatuh ke tanah. Gadis kecil yang menutup matanya karena takut kemudian membuka matanya ketika sadar kalau ia ternyata tidak apa-apa.
Ternyata saat ini ia sedang digendong oleh seseorang dengan baju tuxedo merah marun lengkap dan rambut klimis berwarna ungu. Dengan wajah yang tak berekspresi, ia membawa gadis kecil itu kembali ke pelukan ibunya.
"Te-terima kasih banyak," ucap ibunya sambil menundukkan kepala.
"Tidak aman jika terus berada disini, cepat berlindung ke tempat yang aman."
"Ba-Baiklah."
Ibu dan anak itu langsung pergi dari hadapannya dengan berlari kecil menuju ke tempat yang lebih aman. Sementara orang tadi—tiruan Oita-san itu kembali menengok keatas dan melesat mencari orang-orang yang perlu diselamatkan.
Selain dia, ada sembilan tiruan lainnya yang juga sedang bertugas menyelamatkan orang-orang. Tapi pekerjaan mereka bukanlah pekerjaan yang mudah, karena ada lebih dari seribu orang yang perlu diselamatkan jadi membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Lalu ada seseorang yang memakai jubah berwarna putih dengan panjang yang tak wajar. Jubah itu terlihat berukuran terlalu besar bagi dirinya sehingga hampir menutupi seluruh bagian wajahnya kecuali bagian mulutnya.
Ia terlihat sedang bersembunyi di sebuah gang kecil di saat kekacauan ini sedang terjadi dan nampak kebingungan. Dan di saat itu pula datang salah satu tiruan Oita-san yang datang dari atas langit dan menanyai keadaannya.
"Apa kau terluka?"
"Tidak, aku baik-baik saja."
"Jika kau bisa berjalan, cepat pergi ke titik yang sudah ditentukan. Berbahaya jika kau terus berada di sini," ucap tiruan Oita-san.
"Aku mengerti."
Setelah tiruan Oita-san itu mengetahui kalau orang berjubah putih itu baik-baik saja, ia pun langsung meninggalkannya setelah memberinya peringatan untuk segera pergi ke tempat yang aman.
Sementara orang berjubah putih tadi hanya melihat ke arah tiruan Oita-san yang sudah hilang dari tadi.
"Dia, kalau tidak salah ...."
Ia bergumam dan mencoba menebak siapa yang berbicara dengannya tadi. Tapi ia segera menghiraukannya dan memilih untuk pergi ke tempat aman yang sudah diberitahukan sebelumnya.
Malam itu dipenuhi dengan sepuluh orang yang melesat cepat kesana kemari, melompat dari atap rumah satu ke atap rumah lainnya, bergantian dalam menyelamatkan orang-orang.
Secara tidak langsung saat ini Oita-san saat ini sedang bertarung di dua tempat yang berbeda. Tidak heran jika staminanya semakin lama semakin menipis walaupun yang asli hanya menahan serangan Astaroth saja.
**
Kembali ke pertarungan Oita-san. Yap, kembali ke pertarunganku yang sepertinya tidak seimbang ini. Astaroth sedang mengumpulkan auranya yang jelas-jelas sangat besar dan siap diarahkan kearahku.
Aku sengaja membawanya ke daerah di bagian bukit belakang yang sepi penduduk dan sekaligus meminimalisir adanya korban. Tapi di lain sisi, aku juga khawatir kalau bekas pertarunganku akan menimbulkan bekas yang luar biasa. Hehehe … sepertinya aku terlalu memusingkan hal-hal sepele.
"Matilah dalam satu serangan ini, Murasaki Oita."
Syiiing… Blaaaaaarrr…
Bola energi yang dari tadi dikumpulkan oleh Astaroth kali ini besarnya sudah mencapai lima kali tinggi tubuhnya dan ia pun melepaskannya ke arahku.
Bola energi itu sangat kuat sampai-sampai menghancurkan apa saja yang ia lewati. Mulai dari tanah, pepohonan, bahkan batu keras pun juga tidak luput dari keganasannya. Sementara aku masih berdiri diam disini, dengan mata yang melebar dan hanya ada satu pikiranku saat ini.
Jika aku tidak menghindar. Aku akan mati.
Blaaaaaarrr… Blaaaaaarrr…
Setelah bola energi itu menghilang, meninggalkan jejak yang bagaikan sesuatu yang besar merusak tanah dan menciptakan lubang atau bibir gua baru pada bukit ini. Astaroth pun berjalan beberapa langkah.
Ia sedang memperhatikan apakah target yang ditujunya sudah habis oleh serangannya tadi atau belum. Tapi sayangnya prediksinya meleset, karena aku masih hidup sekarang.
"Kau mencari sesuatu?"
Astaroth menengok ke belakang lalu mendongakkan kepalanya keatas. Seringai tercipta di matanya saat melihatku yang saat ini melayang di udara. Ia memfokuskan auranya ke area kedua matanya dan menyadari kalau ada sesuatu yang membuatku melayang di atas udara saat ini.
Ziiing…
"Benar sekali, memang seharusnya begitu. Kau tidak akan mati semudah itu, bukan?!" teriak Astaroth.
"Ahahaha … jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan ekspektasimu turun."
Benar sekali. Karena pertarunganku di tempat lain sudah selesai. Beberapa aura dari sepuluh tempat yang berbeda melesat kembali ke dalam tubuhku dan tubuhku rasanya seakan kembali mendapatkan energi baru.
Aku berjalan turun dengan menggunakan Invisible Hands yang aku gunakan sebagai tangga dan berjalan dengan santainya kembali ke tanah. Meskipun seharusnya namanya adalah Invisible Hands, tapi dengan kemampuan Astaroth, ia bisa melihatnya dengan jelas tanpa ada kendala sama sekali.
Invisible Hands—Materi yang aku ciptakan dari kemampuanku sebagai Transformation. Membuat banyak benda seperti sarung tangan yang bergerak bebas sesuai keinginanku selama masih berada di dalam jangkauanku. Invisible Hands itu seakan beterbangan bebas di sekitarku jika seseorang bisa melihatnya. Tapi sayangnya tidak banyak yang bisa melihat kemampuanku yang satu ini.
Sudah cukup untuk basa basi penjelasannya, saatnya kembali ke pertarunganku. Aku kali ini telah berada di hadapan Astaroth. Dengan penampilan yang lebih berantakan dari dirinya yang masih terlihat segar bugar karena aku yang sudah mendapatkan beberapa serangan telak dari dirinya.
Tapi sekarang berbeda. Karena aku akan mengeluarkan kemampuan penuhku saat ini.
"Permainannya akan dimulai lagi," ucapku.
__ADS_1
"Aku sudah siap dari tadi," ucap Astaroth.
Bersambung