
Tadi ada Ishikawa-san di sini, tapi dia langsung pergi begitu saja. Padahal masih banyak yang aku mau bicarakan dengannya. Sepertinya jenis kekuatannya, atau bagaimana dia bisa membangkitkan kekuatannya, hal-hal semacam itu.
Dan jika dia punya urusan dengan Oita-san, itu berarti ada hubungannya tentang misi atau semacamnya.
Oh! Apa berarti Ishikawa-san akan bergabung bersama kami?! Itu berita yang sangat aku nanti-nantikan. Dia terlihat seperti orang yang santai dan seru untuk diajak bicara. Tidak seperti orang-orang yang ada di sini, aneh semua.
"Kenapa kau bisa berpikir kalau orang itu akan bergabung kesini?" tanya Cecilia.
"Yah ... yang sedang kita bicarakan di sini itu Oita-san, lho. Tidak mungkin orang penting dan kuat seperti dirinya bakal membuang-buang waktunya untuk hal yang tidak perlu."
Setidaknya itulah yang aku pikirkan tentangnya, atau mungkin saja aku salah. Siapa tahu dia membicarakan sesuatu seperti menjual barang-barang terlarang atau yang lainnya. Aku bisa membayangkan kalau Oita-san dan Ishikawa-san sedang bertemu pada malam hari di tempat sepi dan saling bertransaksi dengan pakaian mencurigakan seperti jaket hitam dan yang lainnya.
Atau mungkin, mereka punya sisi lembut dan membicarakan masa kecil mereka atau tipe wanita yang disukai. Membayangkan mereka meminum teh atau kopi sambil bercengkrama dan tertawa, rasanya cukup damai walaupun sedikit tidak cocok.
Tapi kemudian aku bisa mendengar desah nafas kecewa di dalam kepalaku. "Kadang aku menyesal secara tidak sengaja membaca pikiranmu, isinya tidak penting semua," ucap Cecilia.
"Hoho! Apa itu artinya kau akan berhenti mengintip pikiranku?"
"Ya, akan aku kurangi ..., demi kesehatan mentalku."
Entah bagaimana caranya, aku berhasil membereskan hal yang merepotkan secara tidak sengaja. Tapi untuk sekarang kita kesampingkan dulu hal itu, sepertinya Herlin ingin memberitahuku sesuatu saat ini.
Kami duduk di salah satu meja sambil memesan minuman yang telah dibawakan oleh Yuuki-san.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?"
"Sebelum itu, apa saat libur musim panas kau senggang?"
"Aku rasa begitu, paling hanya bermain dengan Kudou dan Hira. Sisanya tidak terlalu penting."
"Seharusnya aku tidak usah tanya hal yang sudah pasti," gumam Herlin kecil.
"Apa maksudmu dengan itu, hah?! Apa kau pikir aku ini seorang pengangguran yang hanya punya sedikit teman?!"
"Tidak usah membaca pikiranku, kau jadi terlihat jauh lebih menyedihkan."
Perkataannya membuat panah imajiner lagi-lagi menusukku. Dia benar-benar menganggapku remeh dalam urusan mempunyai teman.
Tapi setelah itu, dia kembali menjadi serius. Setelah meminum habis minumannya dan melepas kunciran rambut serta kacamatanya, Herlin kembali melanjutkan pembicaraan.
"Pada libur musim panas nanti, aku akan mengikutsertakan mu ... dalam sebuah turnamen."
"Tu-turnamen? Turnamen seperti apa?"
"Heh~ Apa Iraya-kun akan ikut turnamen yang itu? Entah kenapa terasa nostalgia." Tiba-tiba Oita-san masuk ke dalam pembicaraan kami.
"Benar. Turnamen yang aku maksud adalah Turnamen The One."
"Turnamen ... The One?"
Dari penjelasan yang diberikan oleh Oita-san, Turnamen The One adalah turnamen untuk menentukan siapa yang paling kuat bagi Exception yang diselenggarakan oleh Kuni no Hashira. Oh iya, aku baru tahu kalau ada organisasi lebih besar dari Black Rain yang menaungi para Exception.
Kembali ke penjelasan soal turnamen itu, sepertinya turnamen itu sudah memasuki tahun ke delapan pada musim panas nanti digelar. Banyak Exception dari organisasi-organisasi kecil maupun besar yang ikut dalam turnamen ini.
"... Kira-kira begitu," jelas Oita-san.
Ternyata ada yang begituan juga ya di sini. Tapi aku rasa ini adalah hal yang wajar, karena mereka ingin mengetes kekuatan yang mereka miliki dalam sebuah turnamen resmi. Terlebih, dunia ini sudah cukup damai jika ingin bertarung dalam taraf hidup mati.
"Entah kenapa kedengarannya merepotkan."
"Tapi, apa kau yakin ingin mendaftarkan Iraya-kun ke turnamen ini? Apa dia sudah siap untuk itu?"
"Itulah yang ingin aku tahu. Aku ingin melihatnya bertarung dengan mata kepalaku sendiri secara serius. Selama ini, yang dia lakukan hanyalah latihan denganku. Lalu saat bertemu dengan Assassin, yang bisa dia lakukan hanya lari."
Aku tidak bisa memprotes yang satu itu. Herlin menyuruhku lari saat itu karena dia yakin kalau aku hanya akan membebaninya, dan hasilnya saat itu Herlin babak belur melawan dua Assassin itu, beruntung ada Oita-san yang datang tepat waktu.
Lalu saat di Desa Shibata, aku hanya melawan para serigala-serigala zombie sementara yang aku dengar Herlin melawan ketuanya. Jadi bisa dibilang, aku belum pernah mendapatkan lawan-lawan yang setara.
Aku yang tenggelam dalam pikiranku sepertinya diketahui oleh Herlin. "Oi kau dengar tidak, bodoh?"
"Hah?! Siapa yang kau sebut bodoh?!" Dia menutup telinganya karena teriakanku. Tch. Dia membuatku kesal.
"Kalau begitu, aku harap kau beruntung, Iraya-kun. Dan mungkin saja, bisa membalaskan dendam Herlin-chan."
"Eh? Dia juga pernah ikut turnamen itu?"
"Tsk." Dan sepertinya dia memiliki kenangan buruk di sana terlihat dari ekspresinya yang tidak enak sekarang.
"Benar juga, kalau tidak salah ... sekitar dua tahun lalu. Dan dia berada di lima besar dari tiga puluh dua peserta."
"Kalau sekarang aku sangat mungkin bisa jadi juara dengan mudah. Tapi aku tidak mau ikut turnamen itu lagi, mengingatnya saja sudah membuatku muak."
Aku menganga terkejut. Dua tahun lalu itu berarti dia masih kelas dua SMP! Anak SMP, lho! Dan dia bisa mendapat posisi lima besar?! Aku tidak tahu lawannya saja yang lemah atau monster ini memang terlampau kuat, tapi itu tetap saja gila.
"Hah ... Pikiranmu pasti sedang yang aneh-aneh lagi, kan?" tanya Herlin.
"Ti-tidak ...." Sialan. Aku harus mengurangi melamun di dekatnya. Dia terlihat seperti bisa membaca pikiranku dan aku tidak perlu dua orang yang bisa membacanya.
__ADS_1
"Kau pasti berpikir aku yang masih bocah saja bisa kelima, itu berarti lawannya lemah atau semacamnya, kan?"
Di-dia beneran bisa menebaknya! Apa-apaan itu?! Apa itu juga termasuk kemampuan dari Mind Power miliknya? Semua orang di sini cenayang apa bagaimana, sih?
"Kau terlalu mudah ditebak. Pemikiran seperti itu yang membuatmu kalah dalam pertarungan, kelengahanmu akan membawamu pada kematian. Ingat itu baik-baik."
"Tch."
Omelannya benar-benar menyebalkan, tapi di saat yang bersamaan juga benar. Makanya aku kesal mendengarnya. Dia terdengar seperti nenek-nenek yang sedang memarahi cucunya.
"Oi, apa kau mengerti?!"
"Iya, iya! Aku mengerti!"
Aku melihat ke arah telapak tanganku. Meskipun merepotkan, tapi aku jadi sedikit menantikannya. Eh? Tiba-tiba aku jadi kepikiran sesuatu. Senjata utamaku adalah pedang yang terbuat dari aura Cecilia, bagaimana kalau aku menjadikannya sebagai senjata rahasia.
Hehe. Seringai tercipta di wajahku ketika memikirkan hal itu.
"Nee, Herlin, apa aku bisa meminta sesuatu?"
"Hn? Minta apa?"
"Aku ingin melakukan sedikit kejahilan kepada musuhku nanti."
**
Kami sekarang sedang menuju ke suatu tempat untuk membeli sesuatu sesuai permintaanku. Tidak kusangka kalau Herlin mau menuruti permintaanku yang ini, sepertinya dia serius ingin melihatku dengan performa terbaik saat turnamen nanti.
Herlin bilang dia sering kesini bersama Oita-san, jadi mungkin ini adalah langganannya. Karena itu aku tidak banyak protes. Tapi tetap saja, perjalanan yang kami lewati cukup aneh.
Kami berbelok ke sebuah gang yang berada diantara dua bangunan tinggi. Gang ini lebih kotor dan busuk dari gang biasanya, bagaimana tidak, banyak sekali sampah yang meluap dari tempatnya. Terlebih lagi, genangan air dari gedung-gedung ini juga membuat tempat ini jadi lebih lembab dan bau busuk menyengat.
"Hei, Herlin, apa kau yakin kita tidak salah tempat." Aku menutup hidungku karena bau sampah yang menyengat ini.
"Diamlah. Ikuti saja aku."
Setelah berjalan lebih dalam lagi, Herlin kemudian berhenti di depan sebuah pintu yang terbuat dari kayu. Tidak ada plakat atau apapun yang membuktikan identitas pintu ini merupakan toko atau apapun, jadi bisa saja ini adalah rumah orang.
Tapi Herlin langsung masuk tanpa ragu— mau tidak mau aku juga, dan di dalam ternyata adalah sebuah bar. Tapi kondisinya cukup memprihatinkan. Bar ini sangat sepi dan hanya ada beberapa orang di sini.
Dan aku mewajarkan itu. Apalagi dengan perjalanan yang harus ditempuh untuk sampai ke tempat ini, kurasa kebanyakan orang bahkan tidak akan tahu kalau ada bar di sekitar sini.
Saat baru masuk, kami berdua langsung disambut oleh seorang laki-laki muda yang sepertinya adalah pelayan di sini.
"Wah, wah. Selamat datang, Herlin-chan. Jarang sekali melihatmu datang kesini tanpa Murasaki-san." Lalu dia melirik ke arahku. "Apa kau ingin pamer dan berencana untuk kencan di sini?"
"Aku kira kau sudah punya pacar setelah menolakku sebelumnya."
"Hn?"
Mereka melihat ke arahku dengan aneh. Yang tersedak meskipun tidak sedang minum apa-apa. Apa aku tidak salah dengar kalau dia ditolak oleh Herlin?! Berarti dia sempat menyatakan cintanya, dong?!
Laki-laki ini, jika bukan karena penampilannya yang sangat berantakan. Aku rasa wajahnya lumayan. Dengan rambut pirang pucat yang tak kalah berantakan. Sebenarnya seberapa tinggi selera gadis satu ini? Bukan berarti itu berpengaruh apapun padaku, sih.
"Aku mengerti, kalau begitu ayo ikuti aku."
Lalu orang itu— Nezumi, berjalan ke bagian dalam bar diikuti oleh kami berdua. Kami melewati pintu yang tergantung sebuah papan kecil bertuliskan "Hanya Orang Berkepentingan".
Dan setelah masuk, barulah aku menyaksikan sebuah pemandangan yang menakjubkan. Ruangan yang dipenuhi oleh berbagai macam senjata. Mulai dari pedang, tameng, panah, dan lainnya. Aku tidak menyangka kalau masih ada hal mirip anime dan manga di masa modern seperti sekarang.
"Ini adalah semua senjata yang kami miliki. Kualitasnya tidak kalah dari yang ada di pusat, lho." ucap Nezumi.
Aku dan Herlin mulai berkeliling. Yang kubutuhkan adalah sesuatu yang bisa dipakai saat turnamen nanti, dengan kata lain sebuah pedang. Hmm ... ada banyak sekali di sini.
"Hah ... apa senjata dari aura buatanku tidak cukup?" tanya Cecilia tidak percaya.
"Sudah kubilang, kan? Itu kita siapkan sebagai kejutan. Lagipula, mempertahankan wujudnya dalam waktu yang lama itu tidak mudah."
"Alasan."
Lalu aku kembali berkeliling dan menemukan sebuah tong dengan banyak jenis pedang. Ada sebuah pedang dengan dua bilah di sisinya. Tapi itu tidak cocok, karena terlalu panjang dari yang biasa aku pakai.
Aku mengambil pedang lainnya. Kali ini mata pedangnya lebih lebar dari yang tadi. Bukan yang ini juga.
Herlin juga sudah berhenti berkeliling dan sepertinya tidak menemukan sesuatu yang cocok untukku. "Tidak ada yang cocok," ucapku lemas.
"Hmm ... Apa tidak ada yang lain?" tanya Herlin.
"Aku akan coba tanya ayahku dulu." Nezumi kemudian pergi keluar dan mengeluarkan telpon dari kantong celananya untuk menelepon ayahnya.
Saat dia keluar dari ruangan dan menutup pintu, tiba-tiba sebuah pedang jatuh karena terkena guncangan dari pintu yang Nezumi tutup. Aku mengambil pedang itu dan mengukurnya. Pedang dengan satu mata pisau. Beratnya juga pas. Ini dia! Ini dia yang aku cari!
"Sudah ketemu! Aku akan memilih yang ini!"
Herlin kemudian mendekat. Dia terdiam sebentar ketika melihatnya. Ohoho! Apakah dia terkesima dengan pedang pilihanku?! Hehe ... tentu saja, tentu saja. Pilihanku memang tidak pernah salah.
Aku bahkan menunjukkan beberapa gerakan dengan pedang baru ini.
__ADS_1
"Aku tahu aku keren. Jadi jangan terlalu terkesima begitu, dong."
"Kau ... yakin ingin memilih sampah itu?"
"Sa-Sampah?! Kau mengejekku, hah?!"
Sebelum Herlin bisa membalas apapun lagi, Nezumi kemudian masuk dan juga memberitahu kami kalau tidak ada senjata lain selain yang ada di ruangan ini. Tapi itu tidak masalah, karena aku sudah menemukan yang akan aku beli.
"Kau ... memilih yang itu?"
"Tentu."
Tapi dia tidak terlalu peduli. Karena aku rasa yang dia pikirkan adalah senjatanya kini telah terjual. "Baiklah kalau begitu. Harganya 15.000 Yen untuk itu."
"Ma-Mahal juga ...."
Untuk sekarang aku tidak membawa uang sebanyak itu, tapi kemudian aku melihat ke arah Herlin. Memberikan kode kepadanya tentang kesulitanku saat ini. Dan dia sepertinya menyadarinya.
"Dasar miskin."
"Tolonglah! Aku sedang tidak bawa uang sebanyak itu sekarang."
"Tch. Nezumi, berikan aku bonnya. Nanti Oita-san yang akan membayarnya."
"Yes!"
Dan dengan membawa nama Oita-san, akhirnya kami pun berhasil membeli senjata baru untukku. Setelah itu Nezumi akan membungkusnya dan mengantarnya ke Haiiro Cafe.
Kenapa tidak langsung aku bawa, jika kalian bertanya? Tentu saja karena aku tidak mau kena masalah, bisa-bisa aku ditangkap polisi karena membawa senjata tajam tanpa izin.
Setelah berhasil mendapatkan pedang baru, kami melanjutkan perjalanan menuju ke bukit belakang untuk latihan seperti biasa. Sampai otakku mengingat sesuatu yang sangat penting di tengah jalan.
Saking kagetnya, aku berteriak dan menarik tangan Herlin menuju jalan yang sebaliknya dari bukit belakang.
"Kenapa tiba-tiba? Kau membuatku kaget."
"Ayo ikut aku."
"Tunggu dulu." Tapi Herlin melepaskan genggaman tanganku secara paksa. "Ada apa dengan isi kepalamu? Kenapa tiba-tiba bertingkah aneh seperti itu?"
"Aku melupakan sesuatu yang sangat penting! Kenapa kau juga bisa lupa, sih?! Ini sesuatu yang tidak kalah penting dari turnamen itu!"
"Apa yang dari tadi kau bicarakan, sih?"
"Ujian akhir semester! Jika kau gagal dalam ujian itu maka kau akan mendapat pelajaran tambahan di liburan musim panas nanti. Selama aku memperhatikanmu di kelas, kau sama sekali tidak serius dalam belajar!"
Benar. Herlin awalnya masuk ke sekolah untuk membantu masalahku, tapi karena dia tidak keluar setelah membantu, itu artinya Herlin juga harus lulus dalam ujian akhir ini.
"Pokoknya, kau harus belajar untuk ujian nanti! Kita tunda saja latihannya, sekarang ada yang lebih penting."
"Makanya, tunggu seben—"
Tapi aku tidak mendengarkan Herlin dan langsung menarik tangannya lagi.
Setelah itu, kami pun belajar sampai sore hari di Haiiro Cafe. Walaupun lambat dan cukup malas-malasan, tapi Herlin berhasil telah lulus dasar agar dia tidak mengulang. Dan aku rasa, sudah tidak perlu ada yang aku khawatirkan lagi.
"Hah ... akhirnya." Aku menyandarkan tubuhku lelah.
"Aku tidak percaya kau pintar dalam belajar, aku kira isi kepalamu cuma hiasan saja," ucap Herlin.
"Heh! Walau begini, aku hampir tidak pernah remedial. Jangan remehkan sistem belajar kebut semalam yang aku ciptakan!"
"Meski begitu, ada satu hal yang belum kau ajarkan, kan?"
Herlin tiba-tiba membuka buku paket matematika.
"Gekh!"
"Sekarang, bisa kau ajari aku yang ini, tuan pintar?" Herlin memberikanku soal-soal matematika yang tidak aku mengerti. "Ada apa? Mana rasa percaya dirimu yang tadi?" Dia mendorong-dorong buku paket itu ke pipiku padahal aku sudah berusaha menghindar.
Tekanan yang dia berikan sangat besar, aku tidak bisa menang darinya jika dia sudah menyudutkanku seperti ini.
"A-aku—"
"Oh, itu dia! Iraya!"
Bagaikan oasis yang berada di tengah padang gurun gersang. Dua orang datang di saat yang tepat memberikanku kesegaran. Dia adalah Kudou dan Hira.
"Kudengar kau butuh bantuan dalam belajar?" Hira menyeringai karena kepintaran yang ia miliki saat ini dapat menolong kami semua. "Mohon bantuannya, Guru!" Tidak ada lagi harga diri sebagai orang pintar bagiku jika sudah di depan Hira.
"Ah ... Ririsaka-san, halo." Kudou yang melihat Herlin pun tidak lupa menyapanya.
"Juga."
Belajar bersama pun dimulai. Tidak aku sangka-sangka ternyata hasilnya berjalan cukup baik, terutama Herlin yang mulai sedikit serius. Pada akhirnya, kegiatan belajar bersama kami berlangsung sampai malam.
Dan beberapa hari kemudian, ujian akhir pun dimulai.
__ADS_1
Bersambung