
Pertarungan yang kujalani saat ini tidak terlalu menguntungkanku. Meskipun aku hampir selalu bisa menghindari semua serangannya, tapi darah yang mengalir dari dahiku ini bukanlah pertanda yang baik.
Posisiku saat ini terpisah oleh barrier yang mengurung empat vampir buatan Hitoni sepanjang 10 meter. Lebar barrier buatanku adalah 12 meter, sementara panjangnya hampir 15 meter. Tempat yang cukup sempit untuk seorang petarung yang mengandalkan kecepatan.
Tapi aku sedang berada dalam dilema saat ini, semakin lebar barrier yang aku buat maka semakin tipis barrier tersebut akan tercipta, terlebih lagi barrier yang menahan keempat vampir ini juga akan ikut menipis.
Selain itu waktu penciptaannya juga akan memakan waktu yang tidak sebentar. Ah! Aku baru menyadari kalau kemampuanku banyak kelemahannya! Padahal aku kira barrier sebesar ini sudah cukup, tapi siapa sangka malah ada pemburu bounty yang datang. Benar-benar timing terburuk.
"Grkhh ...!"
Aku melirik ke arah vampir. Mereka mulai memberikan respon lagi, tapi barrier tajam buatanku masih menusuknya. Jadi aku rasa hal itu akan menghambat regenerasinya. Aku harap.
Dia sepertinya juga sadar kalau vampir miliknya sudah mulai siap untuk menyerang lagi. Senyum kegilaan di wajahnya juga masih belum hilang, kepercayaan diri yang dia miliki sekarang sepertinya sudah sangat tinggi.
Ya, aku bisa memahami hal itu. Kecepatannya kini sudah di atas rata-rata meskipun memiliki batas waktu. Dia tinggal bergerak ke arahku dan menyerangku sebelum aku menyadarinya. Tapi, dia keliru soal satu hal.
Meskipun aku tipe yang jarang bergerak saat bertarung, tapi kalau soal bertarung melawan musuh yang cepat. Aku sudah sering! Dia mulai bergerak lagi, kali ini gerakannya acak dan tidak lurus seperti sebelumnya. Seluruh gerakan yang dilakukannya menciptakan garis cahaya di bekas pijakannya.
"HaaAkhH!!!"
Dia berhenti di belakang kananku, tepat pada posisi butaku. Tapi itu percuma karena aku sudah melindungi diriku dengan barrier yang menutupi tubuhku dari berbagai sisi.
Traang...
Kali ini tendangan telaknya kembali menghantam barrier-ku dengan keras. Tapi kekuatannya masih kurang untuk menghancurkannya. Tanpa jeda, dia menghilang dari posisinya sebelumnya. Mataku lagi-lagi tidak bisa mengikutinya, tapi inderaku yang lain menjadi lebih tajam dalam pertarungan ini— salah satunya pendengaran.
Dari samping kiri, kanan, depan, dan belakangku akan datang serangan secara bersamaan. Aku menutupi mataku dengan kedua lenganku karena cahayanya yang menyilaukan.
Saat aku menyadari sesuatu dari empat serangan berbagai penjuru itu ada yang aneh. Benar. Hitoni tidak ada di manapun. Aku menengok ke kanan dan kiri dengan cepat untuk mencari keberadaannya.
"Di sini!"
"??!!"
Aku menengok ke atas merespon ucapannya. Kali ini ia memegang sebuah pedang— tidak, struktur bilahnya tidak lebih solid dari pedang karena itu terbuat dari aura yang dipadatkan, tapi dia dapat memegang gagangnya dengan kedua tangannya. Energi listrik liar yang bergerak kesana kemari, istilah yang tepat untuk bilahnya adalah cambuk.
"HeeYaakhh!"
Hitoni menghantam barrier kecilku dengan cambuk listriknya. Beberapa detik bertahan di posisi itu sampai pada akhirnya suara retakan kecil tercipta yang lama kelamaan menjadi besar.
Aku harus kabur.
Pikiranku selaras dengan refleks tubuhku yang mendorongnya ke belakang menembus barrier kecil ini. Tapi dalam sekelebat pandangan mataku, aku melihat sebuah seringai kecil tercipta pada ujung bibir Hitoni di balik silaunya cambuk listrik.
"Akhirnya kau keluar juga!"
Ia dengan cepat menghilangkan cambuk listriknya masih dalam posisi yang sama. Dan memposisikan tangannya membuat gestur seperti ingin menembak pistol. "Kena kau!"
Dia menembakkan bola listrik seukuran bola pingpong dari ujung jari telunjuknya. Tiga dalam kurun waktu kurang dari satu detik tepat ke wajahku yang masih menatapnya dengan ekspresi terkejut.
Aku mengangkat tangan kiriku terbuka mencoba mengorbankannya agar ia yang terkena bola listrik itu. Aku kembali dapat melihat seringai kemenangan Hitoni di balik sela-sela jariku. Jika aku terkena itu, meskipun kecil aku yakin dampaknya besar kepada tubuhku.
Ketika Hitoni berpikir kalau aku akan menghadangnya dengan tangan kiriku, dengan sudut yang sulit untuk dilihatnya, aku menjentikkan jari tangan kananku dan menciptakan sebuah barrier kubus terbang yang memerangkap bola listrik paling depan.
"Apa?!"
Dua bola listrik di belakangnya memantul kembali ke arah Hitoni. Meskipun ia cepat, tapi jarak pantulan yang terlalu dekat membuatnya tidak punya waktu untuk menghindar dan memilih untuk menghalanginya dengan kedua lengannya.
Dua bola listrik itu tidak berdampak besar pada tubuh Hitoni, hanya kaku sesaat akibat terkena kejutan listrik. Tapi itu yang aku manfaatkan saat ini. Aku melakukan gestur jari ke atas dan sebuah barrier kubus tercipta di udara.
"Sialan!"
"Tch!"
Dia masih bisa kabur. Di detik-detik terakhir, penciptaan barrier-ku telat beberapa saat dan dia berhasil lolos lewat celah kecil itu. Aku harus membuatnya tidak bergerak setidaknya dua detik supaya aku bisa memerangkapnya.
Seranganku tidak berhenti sampai di situ. Dia melontarkan tubuhnya dan mendarat secara horizontal di dinding barrier-ku. Aku kembali menciptakan barrier tajam dari dinding berharap dapat mengenainya.
__ADS_1
Tapi itu tidak berjalan mulus. Hitoni berlari di dinding seperti sedang berlari di jalan lurus diikuti oleh barrier tajam yang timbul mengekornya. Ia melompat ke sisi lain barrier sambil terus mendekatiku, begitu juga dengan barrier tajam yang mengikutinya dari belakang.
Selang lima detik kemudian, ia sudah mencapai titik di mana dirinya bisa menyerangku. Hitoni langsung melesat dan mengarahkan tangan yang ia alirkan dengan listrik biru mencoba menembus jantungku.
Dan seakan sudah terbiasa dengan gerakan sederhana yang satu itu, aku melompat ke samping mendekati dinding barrier menghindari serangannya. Hitoni menyerang udara dan tidak berhasil mengenaiku sampai serangannya menghancurkan aspal di tempat pendaratannya yang menghasilkan debu membuat penglihatanku padanya sedikit terhalang.
Untuk sekarang aku berhasil kembali menghindari serangannya. Kini inderaku sudah mulai terbiasa dengan gerakan kilatnya, itu berarti aku memiliki kesempatan menang yang besar jika aku berhasil menebak pergerakannya dan menjebaknya.
Debu yang menutupi Hitoni menghilang dan aku bisa melihatnya terlutut karena tangan kanannya yang digunakan untuk menyerang terjebak di dalam aspal, ia juga tidak terlihat berusaha keluar. Bagus! Ini kesempatanku!
Aku bersiap untuk membentuk barrier dengan gestur tangan lagi. Meskipun saat ini kakiku sedang tidak menapak, di sampingku adalah dinding barrier. Dengan begitu aku tidak terlalu kehilangan keseimbanganku. Kena ka—
"ArrkKkhHh !!!"
A-apa yang terjadi? Saat aku menempelkan bahuku pada dinding barrier, tiba-tiba aku terkena setruman listrik telak yang tak terduga. Darimana asalnya? Dari dinding? Tapi bagaimana bisa? Aku kembali melihat tempat Hitoni berlari di dinding barrier sebelumnya. Aku dapat melihat percikan listrik biru tertinggal di sana.
Jadi begitu. Bekas pijakannya juga dapat meninggalkan setruman listrik. Sialan. Aku lengah. Aku kembali melihat ke tempat dimana Hitoni berlutut sebelumnya, tapi dirinya sudah menghilang dari sana dan tepat di depan wajahku. Senyum gila miliknya sangat dekat.
"Mati kau!"
Craashh...
Mataku melebat. Aku bisa merasakan tangannya yang penuh dengan sensasi terbakar dan kejutan listrik masuk menembus tubuhku. Batuk darah juga mengikuti efek dari tertembusnya tubuhku, mengalir deras dari dalam mulutku.
Ia mencabut tangannya dari sana. Membuatku jatuh tersungkur ke hadapannya.
"Khahaha ...! Boleh juga kau, gadis kecil! Di detik-detik terakhir kau menghindari serangan tepat di jantung dan malah menembus belikatmu sehingga kau tidak langsung mati. Mau bagaimana pun kau itu memang mantan Assassin, sih."
Tubuhku tidak mau bergerak. Sudah aku paksakan dengan seluruh tenaga dan tekadku, tapi mereka tidak mau menurutiku. Sialan! Ayo bangun! Bergerak! Bergerak! Bergerak! Apa kau akan mati semudah itu, sialan?! Bergerak, dasar Caramel bodoh! Bangun! Bangun! Bangun! Gerakkan tubuhmu!
Tapi aku tetap tidak bisa bergerak.
Aku mencoba menengok ke atas dengan kepayahan. Selain cahaya bulan dan api dari kebakaran yang terjadi saat ini, rasanya aku melihat cahaya lain. Entah itu merupakan imajinasiku atau bukan. Selain itu udaranya juga semakin dingin, malam ini memang dingin, tapi sekarang menjadi lebih dingin lagi. Apa karena aku tengkurap di atas air, ya?
Tunggu, sejak kapan ada air di sini? Oh iya, ternyata itu adalah darahku sendiri. Sialan. Tubuhku tidak mau bergerak, setidaknya aku ingin menutup lukaku agar darahnya tidak mengalir deras. Ayo! Lakukan hal itu, tubuhku!
Eh? Tubuhku terasa ringan. Aku bergerak meskipun tidak sesuai keinginanku— dan ada rasa sakit pada rambutku seolah ditarik paksa. Saat aku menyadarinya, wajah di depanku yang menyadarkanku. Ternyata Hitoni yang mengangkatku dan siap untuk mengakhiriku.
"Kau sudah tidak bisa apa-apa lagi, Pensiunan Assassin. Aku bahkan tidak tahu apakah kau bisa mendengarku atau tidak." Dia kembali berceloteh dengan seringai biasanya.
"Untuk menghargai pertarungan kita, aku akan membiarkanmu mengucapkan kata-kata terakhir. Itu pun jika kau punya."
Kata-kata terakhir? Heh ... kematianku tidak seistimewa itu sampai harus memikirkan kata-kata terakhir. Tapi jika disuruh memilih, jujur aku tidak tahu. Aku belum memikirkannya karena kejadian ini benar-benar mendadak.
Aku melihat ke belakang Hitoni dan memperhatikan barrier-ku yang mulai retak dan menipis. Ada banyak juga orang terinfeksi yang masih mencoba untuk menembusnya, dan ini adalah kesempatan mereka karena barrier-ku sudah mulai melemah.
Aku mendukungmu, para zombie! Makan orang ini dan kalahkan dia! Aku malah bicara tidak jelas dalam hati padahal tadinya aku sedang memikirkan kata-kata terakhirku.
Selain orang-orang yang mencoba masuk, ada juga mereka yang sudah mencapai batasnya dan tergeletak tidak bernyawa. Lukanya juga tidak kalah mengenaskan, kulit dan daging kepalanya telah menghilang karena terbakar dan menyisakan tengkoraknya.
Entah kenapa itu mengingatkanku pada saat aku membantu Herlin dulu, tiba-tiba ia meminta bantuanku padahal kami saling membenci. Dan saat itu ia memasukkan beberapa jenis The Unseen salah satunya adalah manusia tengkorak tanpa kulit dan daging.
Tunggu.
Tengkorak? The Unseen?
Aku membelalakan mataku. Aku sangat bodoh karena baru menyadarinya sekarang. Kenapa aku tidak terpikirkan saat sedang melawannya dari tadi. Mataku kembali fokus pada Hitoni yang sedang menunggu, dia cukup sabar untuk hal-hal seperti ini.
Tapi kali ini aku telah menentukan kata-kata terakhirku. Iraya juga pernah bilang kalau aku harus menamainya dengan sesuatu yang keren, jadi aku sudah memilikinya saat ini.
Aku membuka mulut dan mengambil udara untuk berbicara. "Kyu ...."
"Kyu?"
"Cube ... of Death."
Setelah aku menyebutkan kata itu, semua barrier yang aku buat— baik yang besar, yang mengurung vampir, dan yang tajam, semuanya hancur. Barrier itu berganti dengan sebuah barrier kubus yang ukurannya hanya 9×9 meter. Tapi karena Hitoni tidak bisa mengukurnya, jadi ini seperti luas baginya.
__ADS_1
Suasananya sangat berbeda dari barrier buatanku sebelumnya. Kami yang berada di dalamnya seakan di bawa ke tempat lain— ke sebuah hutan yang penuh dengan kabut, pepohonan rimbun, dan cahaya redup.
"Oi! Apa yang sudah kau lakukan?! Dimana kita?"
Aku tidak akan menjawabnya. Biarkan dia bingung dengan perubahan ini dan ketakutan olehnya. Vampir yang sebelumnya terkurung juga menunggu bingung di belakang Hitoni. Tapi aku juga tidak tahu apakah rencana ini akan berhasil atau tidak, karena semuanya tergantung pada The Unseen yang Herlin masukkan kesini.
"?!!"
Sudah dimulai. Aku mendengar sebuah langkah kaki di sampingku dan Hitoni juga awas terhadap hal itu. Beberapa tengkorak berjalan pelan ke arah Hitoni dan vampirnya.
Hitoni mencoba menyerangnya dengan serangan listrik yang membuat salah satu tengkorak itu langsung hancur berantakan. Meskipun masih ada tengkorak lainnya.
"Apa, sih. Ternyata lebih lemah dari dugaanku," ucapnya.
Ya, kurasa memang tidak terlalu bisa diandalkan. Dulu Herlin menggunakannya untuk menakut-nakuti siswi biasa, jadi dia tentu saja tidak berbahaya. Sialan. Salah aku berharap padanya.
"Eh?"
Respon bingung Hitoni membuatku penasaran dan melihat ke arah tengkorak lagi. Perlahan tapi pasti tengkorak itu mulai beregenerasi dan tulang-tulangnya kembali ke posisi normalnya, lalu mulai kembali berjalan.
"Ti-tidak mungkin."
Hitoni melepaskan jambakannya dari rambutku. Ia mulai menyerang dengan kedua tangannya dan menghancurkan beberapa tengkorak sekaligus, tapi lagi mereka seakan abadi dan terus beregenerasi.
"Oi! Cepat serang mereka! Apa yang kalian lakukan, dasar orang-orang bodoh?!"
Hitoni menyuruh vampir bawahannya untuk menyerang tengkorak. Dan menurutinya, mereka melesat cepat untuk menghancurkan para tengkorak— meskipun kurasa itu percuma, karena pastinya mereka bisa beregenerasi lagi.
Craashh... Craashh...
"E-Ekh?!"
Oke, sebentar. Ini aku juga sama terkejutnya dengan Hitoni yang mengeluarkan suara kaget jelek itu. Tiba-tiba kepala para vampir itu terpisah dari tubuh seolah dipotong menggunakan benda tajam, padahal para tengkorak itu tidak membawa apapun.
Dan seakan menjawab kebingunganku itu, beberapa sosok berjalan dengan rapi dan berbaris dari balik kabut. Sebuah regu samurai yang berisi sembilan orang dengan satu pemimpin di depannya datang.
Mereka kurasa adalah arwah dari para prajurit samurai yang gugur di masa lalu. Karena pemimpin regu samurai itu tidak memiliki kepala dan tertancap sebuah pedang tanto di perutnya.
Beberapa prajurit lain juga memiliki penampilan yang mengenaskan. Seperti luka bekas tebasan lebar di dada sampai ke perutnya, ada juga yang sekujur tubuhnya dipenuhi dengan panah, dan bahkan ada yang isi perutnya bergelantungan keluar dari perutnya.
Tunggu. Bukankah ini terlalu hebat? Apa dia benar-benar ingin balas dendam pada siswi SMA biasa dengan semua ini?
"Sialan! Vampir-vampirku!"
Oh iya, saking kagumnya aku sampai lupa kalau Hitoni ada di sana. Efek dari pil elemennya baru saja menghilang dan dia sudah kembali seperti semula. Tentu saja ia ketakutan setelah melihat semua ini.
Para prajurit samurai itu mulai membantai vampir-vampir itu yang terus menerus beregenerasi. Mereka tidak memberikan vampir itu kesempatan untuk beregenerasi penuh ke wujud sempurnanya.
Sementara Hitoni yang ketakutan berlari menjauh dan masuk ke dalam kabut yang menghalangi pandanganku terhadapnya. Barrier ini cukup kecil sih, jadi dia tidak punya banyak tempat untuk kabur.
Aku yang masih terbaring tengkurap mengalirkan auraku untuk melihat kemana Hitoni berlari. Dan yang aku lihat kembali mengejutkanku, aku dapat melihat aura pada tubuhnya. Dia sedang berhadapan dengan sesuatu yang hanya duduk diam bersila sementara lehernya memanjang bebas dan bertarung melawan Hitoni.
"Ja-jangan bilang ... Rokurokubi?" tanyaku.
Aku pasti akan menanyakan hal ini pada Herlin nanti. Dia merubah teknik baruku menjadi kebun binatang The Unseen pribadinya.
Sementara pertarungan Hitoni dengan Rokurokubi sudah bisa ditebak. Efek samping setelah meminum pil elemen cukup besar dan itu tidak bisa langsung sembuh begitu saja. Jadi dalam satu kesempatan, Rokurokubi melahap kepala Hitoni dan menggigitnya lalu melemparnya ke atas dan menelan seluruh tubuhnya sekaligus.
Setelah tuannya mati, pengaruh Cairan Vampir juga menghilang dan mereka berubah menjadi mayat manusia lagi. Sementara aku menghilangkan Cube of Death milikku dan kembali ke depan stasiun radio.
Aku membuat sebuah barrier kecil yang hanya muat untuk diriku yang sedang tengkurap saat ini, lalu membuatnya tidak tembus pandang dari luar sehingga tidak ada orang terinfeksi yang dapat melihatku.
Meski aku sudah memenangkan pertarungan, tapi kondisi lukaku sendiri cukup parah. Jadi yang bisa aku lakukan saat ini adalah tidak banyak bergerak dan mengandalkan skill penyembuhan milikku yang tidak seberapa.
"Haha .... Aku harus berterima kasih padanya nanti."
Bersambung
__ADS_1