Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 48 : Aku Akan Bangkit Kembali!


__ADS_3

Kini aku berada di bukit belakang. Sendirian. Tidak ada Herlin yang biasanya menemani ku latihan. Aku memutuskan untuk berlatih sendiri, mengayunkan pedang tanpa henti setelah pulang sekolah.


Aku juga sengaja tidak memberitahu Herlin kalau aku latihan di tempat ini. Kami memiliki dua tempat latihan, satu untuk latihan sparing yang paling sering kami pakai dan satunya lagi yang cukup jarang, digunakan untuk meningkatkan stamina, teknik berpedang, dan lainnya.


Dan sekarang aku berada di tempat kedua. Herlin juga jarang ke sini, makanya ini adalah tempat yang tepat untuk menyendiri.


Seperti yang ku bilang sebelumnya, mengayunkan pedang dalam gerakan statis tanpa henti adalah hal yang sedang ku lakukan sekarang. Tanpa makan siang, tanpa mengganti pakaian, tanpa sepatah kata keluar dari mulut, aku terus mengayunkan pedang.


“Iraya ....”


Suara seseorang memanggil. Tapi itu adalah suara yang berasal dari kepalaku-- alias Cecilia, jadi itu tidak mengganggu konsentrasi yang telah ku bangun sejak tadi. Aku masih terus mengayunkan pedang ku.


Malam itu, ketika menemukan tubuh tak bernyawa Ibu, diriku telah berjanji di dalam hati kalau aku akan membunuh pelakunya. Lalu ketika Cecilia memeriksa keseluruhan rumah, ia berhasil menemukan jejak aura samar yang tertinggal.


Meski ia tidak tahu pemiliknya, tapi jika mengingatnya, aku yakin kita pasti akan bertemu lagi. Karena jika Cecilia bisa merasakan aura nya, pasti itu adalah seorang Exception. Dan Cecilia juga bilang kalau pemilik aura itu lebih kuat dariku, jadi di sini lah aku sekarang.


Mengayunkan pedang ratusan kali dari siang sampai matahari hampir terbenam.


“Bisa kau hentikan hal sia-sia ini?”


Cecilia kembali berbicara yang membuatku menghentikan ayunan pedangku. “Apa maksudmu sia-sia?” tanyaku.


“Tenangkan pikiranmu. Bukankah lebih baik sekarang memberitahu teman-temanmu di Black Rain?”


Itu juga sebenarnya tidak salah. Tapi ini adalah urusanku sendiri, jika menghubungi mereka, sama saja dengan mengakui kelemahan ku yang tidak bisa menyelesaikan urusanku sendiri.


“Tidak. Aku tidak bisa. Tidak boleh.”


“Tapi kau masih lemah! Apa kau tidak sadar itu?! Kau tidak bisa mengalahkan orang yang sudah membunuh Ibumu!”


Cecilia menampar ku dengan kenyataan, membuatku menggigit bibir menahan kesal. Dia benar. Dan karena benar, hal itu membuatku kesal. Kenapa aku harus selemah ini? Sangat lemah sampai tidak bisa melindungi orang yang aku sayangi.


“Yang kau lakukan sekarang hanya untuk memuaskan rasa egois mu saja! Kau tidak sedang berpikir jernih, Iraya!”


Aku mengepal keras. Semua yang dikatakan Cecilia benar, tapi kenapa semakin mendengarnya, semakin membuat ingin memberontak? Apa karena itu adalah fakta yang tak terbantahkan?


Kemudian aku menghadap ke area hutan yang masih memiliki pohon rindang lalu memasang kuda-kuda. Sedikit lemah karena tangan kiri yang sedang di gips memang, jadi ku lakukan semaksimal mungkin.


Lalu setelah itu, memfokuskan aura pada tangan kanan lalu bilah pedang. Percikan-percikan listrik yang terkumpul di bilah pedang. Cahaya yang berkilauan hingga menutupi seluruh bilah pedang, kemudian dilepaskan dalam satu tebasan yang menghancurkan apa saja yang dilewatinya.


Atau begitu yang ku pikirkan.


Ternyata yang terbelah hanya beberapa pohon di bagian pohon dan bahkan barisan ke empat pohon masih berdiri utuh.


“....”


“Apa kau sudah puas?” tanya Cecilia.


Tentu saja tidak. Dari hasil tebasan tadi sudah terlihat kalau aku tidak sekuat yang kukira. Saat turnamen The One, aku kira aku adalah orang hebat sampai terpikir untuk menyembunyikan kekuatan. Tapi kenyataannya tidak seperti itu.


“Aku ini ... bodoh, ya?”


“Ya, sangat bodoh.”


Dan seakan menegaskan jawaban Cecilia, hujan turun dengan deras secara tiba-tiba. Membasahi seluruh tubuhku yang masih terdiam sambil menunduk murung.


“Untuk sekarang, mari kita turun dulu, okay? Kau bisa masuk angin jika hujan-hujanan begini.”


“Baik.”


**


Saat sudah turun bukit dengan hujan-hujanan karena aku tidak bawa payung, tiba-tiba seseorang memanggil namaku dari belakang. Kali ini bukan Cecilia, suara yang memanggilku lebih lembut. Jadi aku menengok ke arah sumber suara.


"Iraya-kun, kenapa hujan-hujanan begini?" Dia adalah adalah Yuuki-san.


"Yuuki-san? Itu ... kebetulan aku tidak bawa payung."


"Oh iya, karena dekat, mau mampir dulu ke panti sebentar?"


Aku mengiyakan ajakan dari Yuuki-san, tidak ada alasan khusus juga untuk menolaknya. Setelah sampai, Yuuki-san menyuruh ku untuk menunggu di sini sebentar.


Selagi menunggu, aku melihat ke sekitaran bangunan ini. Cat warna-warni dengan bentuk lucu di dinding yang bertujuan untuk membuat suasana ramai sudah terlihat sedikit pudar dan terkelupas. Sepertinya sudah lama tidak diperbaharui.


Beberapa saat kemudian, akhirnya Yuuki-san kembali. Kini di tangannya ia membawa handuk berwarna biru dan sebuah baju ganti. "Untuk sementara ganti baju dulu, masuk angin itu tidak bisa diremehkan meski kamu kuat, lho."


“Hehe ... aku mengerti,” balasku seadanya.


Aku kemudian mengeringkan kepala dan mengganti baju dengan baju yang disiapkan Yuuki-san. Entah kenapa rasanya baju ini sedikit kekecilan dan aku mencium wangi yang tidak asing dari baju ini.


"Itu baju Herlin-chan, loh." Yuuki-san berbicara seolah bisa menebak pikiran ku yang tentunya terkejut.


"Hehe … reaksi mu lucu tahu, Iraya-kun," ucapnya sambil tertawa kecil. "Meski itu baju miliknya, tapi hanya di pakai beberapa kali karena terlalu besar, kok."


"Heh~"


Tetap saja ini adalah baju yang pernah dipakai Herlin dan wangi parfum-nya masih bisa aku rasakan walau pun secara samar-samar.

__ADS_1


Lalu setelah itu, suasana canggung menyerang kami berdua. Aku dan Yuuki-san hanya tersenyum tipis karena tidak tahu apa yang ingin dibicarakan di situasi seperti ini. Tapi untungnya Yuuki-san memulai pembicaraan kembali.


"Iraya-kun, belakangan kau jarang berkunjung ke Haiiro Cafe, ya?"


"Ah, iya, akhir-akhir ini aku sedang sibuk melakukan sesuatu."


Yuuki-san sempat memperhatikan ku untuk beberapa saat, dan sepertinya ia tahu beberapa hal dari itu. “Sepertinya kau juga kurang istirahat, ya?"


"S-Soal itu ...." Kata-kataku menggantung.


"Apa memang sangat berat? Jika kamu mau, aku mungkin bisa--"


"Maaf, Yuuki-san ...!"


Aku memotong kata-kata Yuuki-san. Perasaan yang dia miliki sangat kuat sampai bisa tahu kalau aku sedang ada dalam masalah. Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau aku yang akan menyelesaikannya sendiri. Aku tidak ingin merepotkan orang lain.


"… Aku tidak apa-apa, hanya sedang sedikit sibuk saja." Jadi daripada ia terus mencoba mengulurkan tangan, maka biar aku saja yang memotongnya.


"….”


Yuuki-san juga nampak terkejut karena aku memotong kata-katanya secara tiba-tiba, tapi dia masih bisa tetap mempertahankan senyum ramah kepadaku.


“Begitu, ya? Kalau begitu semoga beruntung.”


“Iya ... terima kasih.”


Obrolan kami memotong waktu dan hujan di luar sudah mulai mereda. Sepertinya sudah saatnya pulang, aku juga tidak mau terlalu lama berada di sini. Bisa merepotkan jika bertemu dengan Herlin karena dia pasti akan membuat ku berbicara yang sebenarnya.


"Kalau begitu, Yuuki-san. Aku permisi du--!"


Tapi Yuuki-san memelukku secara tiba-tiba. Bahkan saat mencoba melepaskannya, ia semakin mengeratkan pelukannya. "Sepertinya kau memiliki masalah yang tidak ingin diceritakan, ya? Tidak apa-apa, aku mengerti. Tapi setidaknya untuk sekarang, kau bisa beristirahat sebentar di sini."


“....”


Pelukan ini membuatku mengingat suatu perasaan yang tidak asing. Perasaan hangat dan nyaman yang sudah lama tidak aku rasakan, perasaan yang sama seperti pelukan seorang ibu. Perasaan ... yang benar-benar aku rindukan.


Memang awalnya bingung apa yang harus ku lakukan, tapi aku tahu sekarang. Rasa gelisah, marah, tidak nyaman semuanya seolah luntur bersamaan dengan air mata yang mulai jatuh ke pipi ku.


"… Maaf." Aku meminta maaf karena telah bersikap bodoh dan keras kepala.


Sementara Yuuki-san hanya mengelus-elus kepalaku lembut, menenangkan dan meyakinkan ku kalau semuanya akan baik-baik saja. Aku berada dalam posisi itu cukup lama


Dan setelah dirasa cukup, aku melepas pelukan Yuuki-san.


"Terima kasih, Yuuki-san. Sekarang aku sudah tidak apa-apa, kok. Aku sudah kembali ke diriku yang biasanya!" Aku menampilkan senyum untuk pertama kalinya pada hari ini.


"Meski itu sedikit terasa memalukan, sih."


Kami berdua tertawa kecil karenanya. Aku pun kemudian berjalan keluar dan sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada Yuuki-san. Tidak lupa membawa plastik yang berisi baju basah milikku.


**


Sementara itu di tempat lain dan di waktu yang hampir bersamaan, beberapa orang sedang berkumpul dan sepertinya ingin membahas sesuatu yang penting. Di sebuah ruangan rapat dengan banyak meja dan kursi tanpa penerangan, hanya bermandikan cahaya bulan yang melewati ventilasi ruangan, membuat suasana menjadi dingin dan menegangkan.


"Tch! Apa yang sebenarnya Bos pikirkan? Mengumpulkan semua orang malam-malam begini?" Seorang lelaki dengan rambut putih berantakan—Ardenter, duduk di salah satu kursi dengan kedua kakinya berada di atas meja.


"Tenangkan dirimu, katanya pertemuan ini hanya sebentar saja." Seorang perempuan dengan Katana di pinggangnya—Nimis, bersandar nyaman di tembok dengan kedua tangan melipat di depan dada.


"Ya, tunggu saja sebentar lagi. Bukankah sifatnya ini sudah menjadi hal yang biasa bagi kalian?" Seorang gadis duduk di atas meja sambil mengayunkan kakinya santai layaknya anak kecil yang menunggu dengan ceria—Caramel.


Selain mereka bertiga, di ruangan itu juga terdapat tiga orang lainnya. Dan seperti yang bisa ditebak, mereka juga merupakan anggota Assassin lainnya. Dari penampilannya memang mereka seperti orang biasa kecuali satu orang pendiam yang memiliki tubuh besar, kira-kira tingginya 2,5 meter.


Sepuluh menit telah berlalu, tapi tidak ada tanda-tanda orang yang mereka panggil 'Bos' itu datang, membuat Ardenter yang sudah bosan menunggu kembali mengeluh kesal.


"Baiklah, ini sudah kelewatan! Bukankah seharusnya dia sudah datang sekarang?"


Tapi sesaat setelah Ardenter mengeluh, pintu ruangan tiba-tiba terbuka dan dua orang masuk ke dalam. Seorang pria berpenampilan menarik dengan perkiraan umur sekitar 25 tahunan dengan tinggi normal dan rambut pirang pendek.


Di belakangnya mengekor seorang yang menggunakan jubah terusan coklat sampai mata kaki dengan tutupan kepala dan sebuah topeng wajah dengan motif tersenyum, membuatnya terlihat semakin misterius.


"Kau terlambat, Bos sialan!" protes Ardenter.


"Aku tadi ada urusan jadinya sedikit terlambat. Dan pada pertemuan kali ini kita akan membahas tentang hal itu." Pria berambut pirang itu tersenyum sinis di akhir kalimatnya.


"Hal itu?"


"Maksud anda?"


"Ya, mengambil kembali Subject C dari tangan inangnya sekarang."


Tidak ada respon spesial dari orang-orang yang ada di dalam ruangan itu. Nimis dan Ardenter hanya menampilkan sedikit reaksi, mungkin karena hanya mereka yang pernah menghadapi Inang Subject C secara langsung. Sedangkan Caramel hanya tersenyum kecil mengingat kejadian sebelumnya saat di turnamen. Untuk sisanya tampak tak terlalu peduli.


"Sebelum kita membahas hal itu lebih jauh, aku ingin mengenalkan seseorang kepada kalian."


Bos kemudian mempersilakan orang yang memakai jubah tadi untuk maju agar yang lainnya dapat melihat dengan jelas.


"Mulai sekarang, dia akan bergabung bersama kalian. Dia ini sedikit spesial, jadi kalian bisa memperlakukannya baik-baik. Panggil saja dia Delta.”

__ADS_1


Bos menepuk lembut punggung Delta. Sementara Delta hanya menanggapi dengan sebuah anggukan tanda perkenalan biasa.


"Hm ... Spesial, ya?"


Seperti biasa, Caramel yang sedang duduk tiba-tiba berdiri dan menghampiri Delta. Sifat santai serta sedikit kekanak-kanakkan miliknya membuat pertemuan ini menjadi berkurang ketegangannya.


"Apa yang membuatmu spesial, Delta-san?"


Wajah mereka berdua bertemu. Jarak yang sangat dekat. Topeng putih dengan seringai lebar, satu mata bagian kanan berbentuk salib dan bagian kiri berbentuk bulan sabit menghadap ke bawah dan mahkota kecil di atasnya.


Caramel mencoba mengintip ke dalam lubang matanya, tapi ia tidak bisa melihat apa-apa. Hanya kegelapan tanpa ujung. Sementara Delta tidak terlihat terprovokasi, hanya melihat balik ke Caramel.


Lalu Bos menjawab pertanyaan Caramel. Membuat semua orang yang mendengarnya—kecuali Delta tentu saja—terkejut.


"Delta adalah Subject D."


"Subject D …?"


Nimis menggumam kecil. Yang lain masih menatap Delta dengan tajam dan waspada. Suasana menjadi tegang ketika semua tahu kalau Delta bukanlah manusia biasa, melainkan seorang makhluk percobaan.


"Okay, itu berada di luar ekspektasi ku. Tapi mari kita tidak usah tegang begini. Aku yakin Bos memiliki penjelasan untuk ini, kan?" Caramel mencoba mencairkan suasana. "Karena sepengetahuan ku, Ayakashi Corp. hanya membuat percobaan dari tiga makhluk saja. Tapi kenapa tiba-tiba ada seorang manusia yang dijadikan bahan percobaan?" tanya Caramel penasaran.


“Ini adalah permintaan dari pendiri Ayakashi Corp.—Nakamura sendiri, jadi aku tidak bisa membantahnya. Ngomong-ngomong, dia sudah melakukan satu tugas, yaitu membunuh orang tua dari inang Subject C."


"Membunuh orang tuanya? Kenapa tidak Sang Inang langsung?" tanya Ardenter.


"Jika inangnya mati, maka Subject C yang ada di dalamnya juga akan ikut mati. Kita harus memanfaatkan kemarahan Sang Inang lebih jauh lagi, dan itu adalah tugas yang akan ku berikan pada Delta."


"Aku mengerti.” Caramel kemudian mengulurkan tangannya. “Kalau begitu salam kenal Delta-san, namaku Caramel. Aku harap kita bisa akrab, meski sepertinya sulit untuk itu." Delta menerima jabat tangan Caramel.


"Aku Nimis."


"Namaku Ardenter."


"Perkenalkan, namaku Ivis." Seorang pria yang kira-kira berumur 40 tahunan. Dengan rambut putih dan sedikit kerutan, ia memakai pakaian formal rapi seperti seorang yang penting.


"Yahoo! Aku Lennova. Semoga kita bisa akrab ya, Delta." Suara ceria dari seorang anak yang belum sepenuhnya tumbuh dewasa. Dengan rambut panjang berwarna pink tua dan wajah imut serta sticker love di pipi kirinya.


"Baram." Seorang laki-laki yang memiliki tinggi sekitar 2,5 meter dan memiliki rambut panjang sebahu. Dia sangat pendiam dan bahkan bisa berdiam diri tanpa melakukan apa-apa selama pertemuan tadi.


"Oh iya, sebenarnya panggilanku adalah Astaroth. Tapi yang lainnya terbiasa memanggil ku Bos. Jadi biasakan dirimu dengan itu, ya?"


Delta mengangguk mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Bos.


Setelah perkenalan yang singkat itu, Bos kembali melanjutkan perbincangan nya untuk lanjut membahas tentang tugas dari Caramel, yaitu membawa Inang Subject C alias Iraya ke hadapan mereka sekarang.


"Caramel, sepertinya kau gagal melaksanakan tugasmu kali ini ya?" ucap Bos.


"Ara, ara, Bos ... Kau tidak bisa menyalahkan ku untuk yang satu ini. Salahkan orang yang salah memberi ku informasi."


Caramel melirik ke arah Nimis. Tapi Nimis menyadarinya dan tidak senang akan hal itu, ia menganggap kalau ia sudah menjalankan tugasnya seperti seharusnya.


"Aku sudah memberikan informasi yang benar!"


"Jika benar begitu, kenapa aku tidak menemuinya saat berada di sana?"


"Tanyakan itu pada dirimu sendiri!" Nimis memberikan tatapan tajam kepada Caramel. Hubungan mereka memang tidak pernah baik. Entah apa yang mereka berdua lewati sampai memiliki hubungan rumit seperti ini.


"Sudahlah, tidak ada gunanya bertengkar di saat seperti ini. Meski Caramel tidak bisa menangkapnya, kita akan tetap melakukan rencananya seperti yang sudah dijadwalkan."


"Tch!"


“Hmph!”


Mereka berdua berhasil dilerai oleh Bos. Meski sepertinya urusan mereka masih belum benar-benar selesai.


"Itu saja untuk kali ini, kalian bisa pergi jika kalian mau. Kita akan berkumpul lagi saat aku memanggil kalian lagi."


Bos membubarkan pertemuan kali ini. Satu persatu mereka semua keluar dari ruangan itu. Tapi ketika Caramel juga ingin keluar, ia ditahan sebentar oleh Bos.


"Caramel, berhenti bermain-main."


“Hmm ...? Apa maksudmu, Bos?”


“Sepertinya kau punya ketertarikan lebih dengan Inang Subject C itu. Aku tidak peduli soal itu, tapi yang kuinginkan adalah jangan membuat rencananya tertunda lebih lama lagi.”


“....”


Bos kemudian pergi dari ruangan ini, meninggalkan Caramel sendirian yang masih berdiri memproses perkataan Bos sebelumnya. Keheningan terjadi beberapa saat, tapi setelah itu, Caramel tertawa keras di ruang rapat kosong ini.


"Ahahaha …! Aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan apa pun darinya, ya?”


Caramel kemudian mengeluarkan gantungan kunci berbentuk panda yang ia ambil saat misi sebelumnya. Ia kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi dan memperhatikannya dengan seringai puas di wajahnya.


“Kau benar-benar menarik, Satou Iraya!”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2