Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 70 : Kebenaran yang Terungkap


__ADS_3

Caramel melihat kearahku setelah menutup teleponnya dan menghampiriku dengan sebuah seringai di wajahnya.


"Tunggu sebentar ya, Iraya-kun."


Setelah itu ia keluar dari gedung bersama dengan anggota Assassin lainnya meninggalkanku sendiri di dalam sini. Mereka semua seperti akan melakukan sesuatu padaku.


Setelah mereka semua keluar, suasana disini menjadi sepi. Yang menemaniku hanyalah semilir angin dan suara beberapa benda rongsok yang bergerak sendiri. Aku memperhatikan benda yang bergerak sendiri tadi dan sekarang pergerakannya semakin liar.


Apa-apaan itu? Dan kemudian aku menyadari sesuatu, bangunan tua seperti ini biasanya ditakuti orang karena rumor-rumor buruk yang beredar disini seperti hantu gentayangan atau semacamnya. Tapi sayangnya rumor tidak jelas seperti itu tidak sedikitpun mempengaruhiku.


Sruukk… Sruukk…


Gerakan dan suaranya semakin keras dan tiba-tiba keluar sesuatu dari sana dibarengi dengan sebuah decitan kecil.


"Hmm …?"


Hanya tikus rupanya. Setelah mencoba menakutiku dan muncul tiba-tiba seperti tadi, ia pun pergi begitu saja seperti tanpa dosa. Aku hanya menghela nafas dan bersyukur kalau itu bukanlah orang yang datang untuk menyelamatkanku. Karena jika mereka datang secepat ini, rencanaku menyelamatkan Cecilia akan gagal.


Aku benar-benar berharap padamu saat ini, Herlin. Jika kau gagal menyadarinya, maka rencanaku bisa gagal dan aku mungkin juga bisa mati disini. Aku menghela nafas pasrah di dalam hati dan hanya bisa menunggu saat ini. Ya, untuk saat ini.


Sementara itu diluar reruntuhan gereja tua ini, para anggota Assassin yang terdiri dari Caramel, Nimis, Ardenter, dan Delta menunggu seperti ingin menyambut seseorang. Tapi sepertinya orang yang mereka tunggu belum datang.


"Apa benar Bos datang sebentar lagi?" tanya Ardenter.


"Tadi sih dia bilang seperti itu. Tapi kalau mengingat kalau dia itu Bos sih …, mungkin saja dia akan sedikit terlambat."


"Kita tunggu saja, sebentar lagi mungkin dia akan datang," ucap Nimis.


"Hah?! Tunggu sebentar lagi? Apa kau lupa kalau dia selalu mengumpulkan satu jam sebelum dia datang?! Kali ini pasti seperti itu lagi!"


"Soal itu …."


Tiba-tiba ada seseorang yang menimpali perkataan Ardenter. Berbeda dengan yang dikatakan oleh Ardenter, kali ini Bos benar-benar datang setelah dia menelepon Caramel. Ia juga membawa sesuatu seperti sebuah koper hitam. Sepertinya ia pergi selama beberapa hari ini mencari koper hitam itu.


"… Kau tau kalau aku sedang sibuk melakukan sesuatu. Makanya aku selalu datang terlambat."


"Ara, Bos … akhirnya kau datang juga. Apa sudah dapat barangnya?"


"Ya. Cukup sulit mencarinya di reruntuhan laboratorium itu, tapi untungnya benda itu tidak hancur."


Mereka semua melihat kearah koper hitam yang dibawa oleh Astaroth. Meskipun model kopernya bagus, tapi benda di dalamnya jauh lebih bagus dan bernilai daripada kopernya itu sendiri.


"Apa isi koper ini?"


"Nanti kau juga tahu, sekarang ayo masuk ke dalam sebelum ada yang melihat kita."


"Baik~" ucap Caramel.


Mereka semua pun masuk ke dalam dan akan segera melakukan sesuatu. Mungkin saja, sesuatu yang tidak disukai oleh Iraya.


Sementara itu di dalam reruntuhan gereja, aku yang sedang bosannya menunggu mereka datang pun hanya bisa memperhatikan lingkungan disini. Benar-benar kotor dan mengerikan.


"HhHmm!!"


'Aku bosan!' Aku berteriak atau lebih tepat dibilang menggumam cukup keras sampai suaraku menggema disini. Dan tanpa sadar, aku melepaskan ikatan tali pada lenganku.


"Hn?!"


Dengan buru-buru aku memasang kembali ikatan tali di kedua lenganku dan menaruhnya kembali di belakang kursi seperti sedia kala. Mereka bahkan tidak mengencangkan ikatannya, seolah membiarkanku bergerak bebas. Apa mereka mengujiku?


Ya, aku tidak akan kabur dari sini sih karena memang itu rencanaku. Mungkin mereka pikir aku ini bodoh, tapi kenyataannya aku bisa melihatnya.


Ziiing…


Aku mengalirkan aura ke area mataku dan melihat sesuatu. Aura transparan berbentuk kubus besar yang menutupi seluruh reruntuhan gereja ini. Kenyataannya aku bisa melihatnya. Melihat kalau aku sebenarnya terkurung di dalam kotak ini.


Ini perbuatan gadis bernama Caramel itu, ya? Mempertahankan bentuk auranya dengan ukuran sebesar ini dalam waktu berhari-hari, dia hebat juga. Saat aku sedang memuji kehebatan Caramel di dalam hatiku, tiba-tiba aku mendengar suara banyak orang yang datang kesini. Para Assassin itu telah kembali.


Saat melihatku, Caramel merasa bingung dan heran. Ia kemudian menghampiriku dan bertanya sesuatu kepadaku.


"Nee, Iraya-kun …, kenapa kau tidak mencoba kabur saat kami tidak ada?"


"Mmhh … hmmph …!" jawabku tidak jelas.


"Bos, ini boleh kubuka?"


"Terserah."


Setelah mendapat izin dari Bos nya, Caramel pun membuka penutup mulutku dan akhirnya aku pun bisa berbicara dan menjawab pertanyaannya.


"Puaahh …!"


"Sekarang kau sudah bisa bicara."


"Mana mungkin aku kabur, setelah melihat kotak besar yang mengurung bangunan ini."


"Wah! Jadi kau bisa melihatnya?! Kau hebat sekali!"


"Kau pikir aku ini bocah sekolah dasar?!"


"Ara, tidak usah marah seperti itu. Aku barusan memujimu, loh."


"Pujianmu lebih terdengar seperti hinaan, kau tau."


"Cukup basa-basinya, Caramel. Kita akan mulai prosesnya sekarang."


"Baik, baik~"


Bos itu menghentikan pembicaraan kami berdua dan menaruh sebuah koper hitam di lantai. Ia kemudian membukanya dan terlihat beberapa suntikan dengan cairan berwarna merah darah di dalamnya.


"Oi! Apa yang akan kau lakukan?!"

__ADS_1


Bos itu mengeluarkan salah satu suntikan dan sudah menyiapkannya untuk disuntikkan kepadaku. Nimis dan Ardenter kemudian berada di samping kanan dan kiriku lalu memegangi pundak dan badanku agar tidak bergerak kemana-mana.


"Oi! Jangan menyentuhku!"


"Kau diam saja!"


Bos itu sudah semakin mendekat dan mulai mengarahkan suntikan itu kearah leherku. Aku mencoba untuk menghindar tapi karena Nimis dan Ardenter yang memegangiku aku jadi tidak bisa bergerak dan akhirnya jarum suntik itu menembus tepat di leherku.


Sedikit demi sedikit cairan berwarna merah darah yang ada di dalam suntikan itu masuk ke dalam tubuhku. Setelah semuanya sudah masuk, Bos itu menjatuhkan suntikan yang sudah kosong tadi dan menunggu hasil yang terjadi padaku. Nimis dan Ardenter juga melepaskan pegangannya dari diriku.


Beberapa saat telah berlalu, tapi tidak ada yang terjadi. Aku melihat tubuhku sendiri dan tidak ada perubahan yang aneh.


"Hmm? Aku tidak merasakan apa-apa."


Degh…


"Akhh …!! Ap-Apa ini?"


"Cairannya sudah mulai bereaksi."


Tiba-tiba tubuhku merasakan panas seperti terbakar di sekujur tubuhku pada waktu yang bersamaan. Aku berteriak kesakitan karena panas yang tidak kunjung berhenti. Urat-urat mulai muncul di kulitku karena menahan rasa sakit. Dan secara perlahan, akar rambutku mulai berubah warna menjadi hijau. Sama seperti warna rambut Cecilia.


Saat menahan rasa sakit ini, tiba-tiba aku teringat sesuatu. Rasanya aku pernah mengalami hal yang serupa dengan ini.


Saat itu kalau tidak salah saat Cecilia ingin bersatu denganku. Benar, ini mirip dengan proses penyatuan milik Cecilia. Apa mereka mencoba untuk membiarkan Cecilia mengambil tubuhku secara paksa dengan cairan itu? Sial, mereka ingin menggunakan tubuhku sebagai wadah Cecilia.


Tidak akan kubiarkan!


Aku mengeluarkan sedikit auraku untuk menahan menyebarnya cairan itu di dalam tubuhku. Dan setelah beberapa menit berlalu, urat-urat yang tadinya mengeras sampai timbul di kulitku kembali mengendur, akar rambutku yang hijau pun juga kembali ke warna rambutku sebelumnya. Bahkan iris mataku juga sudah kembali normal dan tidak berwarna oranye lagi.


Bisa dibilang saat ini aku berhasil menekan penyebaran cairan itu di dalam tubuhku. Meskipun harus menahan rasa sakit seperti terbakar tadi, sih.


"Hmm … seperti dugaanku, satu suntikan itu kurang."


"Hah … hah …. Sialan kau …."


Ia mengambil satu suntikan lagi dan kembali bersiap untuk menyuntikkannya lagi kepadaku. Nimis dan Ardenter juga sudah kembali memegangiku lagi. Sialan! Mau sampai berapa kali mereka membakarku.


Ia sudah siap untuk menyuntikkannya lagi kepadaku dan sudah tinggal menyuntik leherku saja. Tapi kemudian ia berhenti seperti tiba-tiba teringat sesuatu.


"Sebelum itu, Caramel …."


"Iya?"


"Aku sedikit curiga padanya. Bisakah kau memeriksanya?"


"Memeriksa apa?"


"Memeriksa apakah Subject C masih ada di dalam tubuhnya atau tidak. Kau sudah menguncinya agar mereka tidak bisa menyatu, kan?"


"Ya, aku memang sudah menguncinya sih. Tapi jika Bos menyuruhku untuk memeriksanya …."


Ia semakin mendekat kearahku dan kemudian memegang kedua pundakku dengan kedua tangannya. Nimis dan Ardenter yang tadinya memegangiku tiba-tiba menjauh.


"Oi, kalian berdua! Tolong aku!"


"Tidak mau." Mereka berdua menjawab dengan kompak dan serempak dengan nada tak acuh dan cepat.


"Kenapa kau minta tolong, Iraya-kun? Bukankah kau seharusnya bersyukur dicium oleh gadis secantik aku."


"Orang yang menganggap dirinya sendiri cantik berarti dia itu jelek! Menjauh dariku, Caramel!"


"Ara, kau jahat sekali. Terang-terangan bilang kalau seorang gadis muda itu jelek bukankah kau sedikit berlebihan?"


"Menjauh dariku dulu! Baru akan kupikirkan setelah itu!"


Tapi kata-kataku tidak mempengaruhinya sama sekali. Wajahnya tetap terus mendekat padaku dan pada akhirnya kamipun berciuman. Cukup lama kami berciuman dan tidak ada yang terjadi, Caramel juga tidak melepaskan bibirnya dari bibirku.


Sementara itu pada pihak Caramel sendiri. Setelah beberapa detik berciuman dengan Iraya, kesadarannya tiba-tiba berpindah ke suatu tempat yang tidak ia ketahui.


Ia kemudian membuka matanya dan telah berada di sebuah tempat dengan lantai bersih berwarna putih dengan hanya terdapat sebuah sumber cahaya yang berada di depannya, sementara yang lainnya gelap gulita.


Caramel kemudian menghampiri sumber cahaya itu. Ia memperhatikannya cukup lama dan tidak menemukan apa-apa selain cahaya saja.


"Kenapa disini kosong sekali? Kalau begitu …."


Caramel mencoba mencari aura yang sebelumnya sudah ia tanamkan pada Iraya di ciuman sebelumnya dan ia pun menemukannya. Meskipun tidak bisa melihat karena ruangan yang gelap ini, tapi Caramel bisa merasakan dengan jelas aura yang sudah ia tanamkan sebelumnya. Dan ia merasakan kalau auranya sudah membentuk kotak dan mengurung tempat ini.


"Sudah kuduga kalau tidak mungkin ada masalah, aku sudah mengurungnya dan tidak mungkin ia bisa keluar. Lagipula yang melakukannya adalah aku."


Degh…


"Ap—?!"


Tapi tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang memperhatikannya dari belakang yang membuat bulu kuduknya merinding dan butiran keringat keluar dari dahinya.


Instingnya mengatakan kalau ia menengok sekarang, dia akan terbunuh. Maka dari itu ia memilih untuk tidak bergerak dan memutuskan untuk keluar dari ruangan ini.


"Sialan kau Subject C …! Tunggu saja nanti!"


Ia pun keluar dari situ dan kesadarannya kembali lagi ke tempat sebelumnya. Caramel pun melepaskan ciumannya dan kemudian menjauh dari Iraya.


"Apa dia ada di dalam?"


"Aku tidak melihatnya, tapi rasa takut akan kematian itu … tidak salah lagi, dia masih ada di dalam."


"Baiklah, ayo kita mulai lagi."


Bos itu kembali bersiap untuk menyuntikku. Nimis dan Ardenter juga sudah siap di posisinya. Dan aku pun kembali disuntik dan rasa panas kembali datang membakar seluruh tubuhku.


"ArkKkhh …!!"

__ADS_1


Mereka kembali ingin menukar kesadaranku dengan kesadaran Cecilia. Tidak akan kubiarkan! Aku masih terus melawannya, tapi cairan yang masuk ke dalam tubuhku kali ini lebih banyak dari sebelumnya, sehingga aku kesulitan menahan kesadaranku.


"Hah … hah … hah …."


"Sepertinya kita butuh satu suntikan lagi."


Sialan. Aku sudah tidak kuat lagi, kesadaranku benar-benar sudah mulai berkurang. Iris mataku mulai berubah menjadi oranye lagi. Rambutku juga hampir keseluruhannya sudah berwarna hijau. Ini gawat.


Bos itu kemudian menyuntikkan satu suntikan lagi kearah leherku, ini sudah ketiga kalinya ia melakukannya. Tubuhku kembali merasakan sensasi terbakar. Kali ini rasanya lebih panas dari sebelumnya—tidak, kurasa hanya tubuhku saja yang sudah melemah.


"ArrrghHh …!!!"


Kali ini pikiranku sudah kosong. Dan juga tiba-tiba mulutku bergerak sendiri tanpa bisa kukendalikan. Rambutku juga berubah menjadi warna hijau sempurna dan bermata oranye, persis seperti penampilan Cecilia.


Suara yang berbeda dan lebih mengerikan dari suaraku sebelumnya.


"Manusia …. Apa yang kalian inginkan dariku?"


Setelah kata-kata itu keluar dari mulutku, aku sudah tidak tau lagi apa yang terjadi setelah itu.


Sementara itu di lain sisi, setelah tiga suntikan yang masuk ke dalam tubuh Iraya, akhirnya Astaroth berhasil mewujudkan keinginannya. Yaitu membangkitkan Subject C. Para Assassin yang lainnya mundur beberapa langkah karena mengetahui kengerian Subject C ini. Hanya Astaroth dan Delta saja yang tidak bergerak dari tempatnya sebelumnya.


"Akhirnya kau kembali ke tempat kau yang seharusnya, wahai ciptaanku."


Nimis yang merasakan aura mengerikan dari tubuh Iraya kemudian menggumamkan sesuatu.


"Aku tau itu pasti tidak mungkin …. Tidak mungkin berteman dengan monster seperti ini."


Seiringan dengan bangkitnya kesadaran Subject C, Astaroth pun mendekatinya dan mulai berbicara kepadanya.


**


Sementara di tempat lain, yaitu lebih tepatnya di depan rumah Iraya. Terlihat Herlin yang sedang berdiri diam disana. Ia tidak segera masuk ke dalam karena belum tau alasan apa yang ia harus berikan kepada ibunya Iraya.


"Sebenarnya apa yang harus kukatakan?"


Herlin tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya, di satu sisi ia juga tidak ingin membuatnya khawatir. Jadi alasan yang harus ia pilih adalah alasan yang paling masuk akal dan manusiawi bagi yang bisa diterima oleh seorang ibu.


"'Iraya sedang dibawa oleh seseorang saat ini, tunggu beberapa saat nanti dia pasti akan kembali', apa begitu?"


Tidak. Herlin tau kalau itu tidak masuk akal sama sekali. Ia bahkan sempat terpuruk dan menghina dirinya sendiri karena tidak bisa melakukan hal sederhana seperti ini. Tapi setelah beberapa saat, ia kemudian berdiri karena malu banyak orang yang lewat disini.


"Apapun itu, untuk sekarang lebih baik aku masuk dulu," ucap Herlin meyakinkan dirinya sendiri.


Ia pun kemudian membuka pintu rumah Iraya secara perlahan. Ia mengintip apakah ada seseorang di dalamnya. Pintunya tidak terkunci, itu berarti ada orang di dalam.


"Per-Permisi …."


"Iraya …!!! Akhirnya kau pulang juga! Kemana saja kau beberapa hari ini?!"


Dari dalam rumah, tiba-tiba ada anak kecil berlari dengan cepat menuju kearah pintu depan. Tanpa melihat siapa yang datang, anak kecil berambut abu-abu itu melompat dan memeluk Herlin.


"Anak kecil …?"


"Iraya! Kemana saja kau? Aku lapar, kau tau?! Eh— Siapa kau?"


Anak kecil itu—Tetsu, yang baru sadar kalau yang masuk ke dalam rumah bukanlah Iraya, menanyakan Herlin dengan wajah bingung. Ia juga sedikit menjauh dari Herlin seperti waspada kepadanya.


"Etto … salam kenal, aku temannya Iraya, Ririsaka Herlin."


"Sa-Salam kenal juga, namaku Tetsu, aku …. Eh? Aku ini siapanya Iraya, ya?"


Herlin yang melihatnya bingung sendiri juga ikut bingung. Iraya tidak pernah bilang kalau dia punya seorang adik perempuan.


"Ba-Bagaimana ini? Aku tidak boleh bilang ke orang lain kalau aku ini Spirit. Aku ini …, aku ini …."


Saat Herlin mendengar kata 'Spirit' keluar dari mulutnya, ia pun langsung menghentikan tingkah kikuknya dan menanyakan sebuah pertanyaan kepadanya.


"Tu-Tunggu sebentar …!"


"I-Iya?"


"Tadi kau bilang 'Spirit'?"


"Ekh?! Akhh …!! Bodohnya aku! Kenapa aku bilang itu di depannya?! Bisa-bisa aku tidak dapat makanan dari Iraya nanti! Arghh!! Etto … Herlin-san, kumohon lupakan saja hal yang kukatakan tadi, ya?"


"Tenang saja, aku tau apa yang dimaksud Spirit itu. Itu berarti kau bukan adik perempuan Iraya atau semacamnya, ya?"


"Nn! Tapi aku memiliki jabatan yang lebih penting dirumah ini. Aku adalah seorang asisten rumah tangga!"


Tetsu menyombongkan jabatan itu. Karena dari yang ia tahu dari Iraya, asisten rumah tangga adalah jabatan yang hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mendapatkan jabatan itu, makanya dia bangga dengan julukan itu.


"Ba-Baik …. Ngomong-ngomong, apa ibunya Iraya ada di rumah sekarang?"


"Ibunya? Dia tidak ada di rumah."


"Apa kau tau kapan dia pulang?"


"Entahlah, ia tidak pernah pulang bahkan saat aku baru berada disini."


"Eh? Apa maksudmu?"


"Artinya dia sudah tidak pernah pulang kesini saat Tetsu pertama datang kesini."


Tiba-tiba ada seseorang yang menimpali pembicaraan mereka berdua. Orang itu keluar dari dalam dan menunjukkan dirinya dihadapan Herlin. Herlin terkejut dengan orang yang ada di depannya saat ini, ia tidak menyangka kalau ia berada disini.


"Cecilia …? Kenapa kau bisa ada disini?"


"Ya bisa dibilang, ini semua karena rencana Iraya."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2