Crisis World XX

Crisis World XX
Chapter 127 : Jalan Yang Aku Pilih


__ADS_3

Aku tidak peduli lagi.


Aku benar-benar sudah tidak peduli.


Dia tidak adil! Kekuatannya tidak adil! Pikiranku saat ini adalah ingin kabur darinya, tapi dalam lubuk hatiku terdalam mengatakan kalau aku tidak bisa kabur dari orang ini.


Meskipun aku bahkan tidak menyuruh Baram untuk pergi dari sini, aku sendiri tidak yakin kalau kita berdua cukup untuk mengalahkannya. Dia bisa bertarung terus menerus asal bumi ini masih ada!


Tapi untuk sekarang aku harus tenang. Aku membuat lima klon lain untuk membantuku melawannya, meskipun aku tidak tahu ini akan membantu atau tidak. Tapi aku tidak akan kalah semudah itu, setidaknya harga diriku menolaknya.


Aoda masih berdiri di sana dengan waspada. Kini di kedua tangannya masing-masing ada sebuah pistol magnum dan pedang berukuran medium. Aku belum tahu cara bertarungnya, tapi yang pernah aku dengar adalah jika pergerakannya cukup cepat dan tentakel talinya berperan besar dalam pertarungannya.


Baiklah. Aku harus menarik nafasku perlahan dan mengeluarkannya, mengeluh di saat seperti ini sama sekali tidak ada gunanya. Aku memang sudah tidak peduli dengan pertarungan ini dan dirinya, tapi jika aku tidak memenangkan pertarungan ini ataupun kabur, maka tidak ada artinya untukku.


Aku harus terus hidup.


Masih ada seseorang yang ingin kutemui dan ingin kuhajar dia tepat di wajah. Aku tidak ingin diriku berakhir pada manusia tentakel aneh ini, itu akhir yang terlalu hina untuk diriku yang indah. Dan untuk sekarang aku harus fokus dulu pada pertarungan ini.


Dia seperti biasa tidak menyerang duluan, aku rasa dia adalah tipe orang yang menganalisa kekuatan musuhnya terlebih dahulu sebelum menyerang. Hehe .... Akan kubuat dia menyesal karena membuang banyak waktu!


Agar tidak repot, aku akan memanggil para klonku dengan sebutan klon 1 sampai klon 5. Kami berenam kemudian maju secara bersamaan dan Aoda memperkuat pertahanannya.


Klon 1 dan Klon 2 akan aku fokuskan pada pertahananku dan mereka bisa fokus pada elemen tanah. Aku rasa dua klon untuk pertahanan adalah jumlah yang pas, mengingat dari tadi kecepatannya gerakannya masih standar. Hanya refleksnya saja yang luar biasa.


Lalu ada Klon 3. Dia akan menjadi petarung jarak jauhku dengan elemen air dan es. Aku akan membuatnya sebisa mungkin fokusnya terbagi dan menyulitkan dia. Dan terlebih lagi, jarum dan duri es sebelumnya bisa menembus tubuhnya berbeda dengan duri yang terbuat dari tanah.


Selanjutnya adalah Klon 4. Dia akan fokus pada elemen api. Ilmu beladiri ditambah dengan api yang membara sepertinya akan membuatnya cukup kewalahan, selain itu aku juga percaya diri dengan kemampuan api ku. Itu adalah elemen yang paling aku kuasai selain air.


Lalu yang terakhir adalah klon 5. Bersama dengan Klon 4 aku akan menggunakan dia sebagai petarung jarak dekat. Dengan menggunakan elemen listrik itu dan konduktornya yang adalah tiang rambu jalan, aku akan mencoba melawan pedang yang akan ia gunakan.


Elemen listrik ini adalah elemen yang paling tidak aku kuasai. Jika aku menggunakannya tanpa konduktor, maka listriknya akan menjalar ke seluruh tubuhku dan menyetrum diriku sendiri. Jadi aku masih perlu menggunakan konduktor jika ingin menggunakan elemen listrik, lagipula ini adalah elemen terkuat untuk menyerang.


Yosh! Sekarang aku sudah siap. Aku tidak akan kalah dalam pertarungan ini!


Dia menggunakan pistol dan pedang sebagai senjatanya. Jadi aku sudah tahu teknik bertarung apa yang akan ia gunakan. Aku, Klon 4, dan Klon 5 kemudian dengan cepat melesat menuju Aoda. Klon 3 sebagai petarung jarak jauh sudah siap membantuku.


"Akhirnya kau bergerak juga!" Aoda mulai membidik pistol Magnum nya pada gerakan kami bertiga. Ia sempat berpikir beberapa detik sebelum menembak, jadi aku merasa kalau ia belum tahu tubuhku yang asli.


"??!!"


Mataku sedikit melebar karena peluru Magnum nya tidak mengarah ke kami bertiga. Tapi mengarah lurus ke Klon 3 sebagai penyerang jarak jauh, meskipun begitu itu percuma!


Tembok es muncul di depan tubuhnya dilapisi dengan tembok tanah tebal dari Klon 1 dan Klon 2 dan dampak yang dihasilkan cukup besar sehingga hanya menyisakan tembok es saja. Tapi walaupun begitu, aku berhasil menahan serangannya.


Pelurunya tidak meledak atau jatuh ke tanah, melainkan menghilang begitu saja. Sepertinya peluru itu juga terbuat dari auranya, jadi ia akan menghilang jika sudah tidak diperlukan.


Aku melupakan itu untuk sesaat. Sekarang saatnya untuk menyerangnya karena jarak kami sudah dipersempit. Klon 5 menyerangnya dengan senjata yang dilapisi listrik. Menggema bunyi 'Triing!' di udara karena mengenai pedang Aoda.


Saat posisi mereka berdua terkunci, Aoda sudah mengokang pistol Magnum nya dan mengarahkannya pada wajah Klon 5 dalam jarak yang sangat dekat. Tapi sebelum ia menarik pelatuknya, Klon 4 menyemburkan api yang membuat Aoda mau tidak mau harus melompat mundur ke belakang.


Saat ia masih melayang di udara, aku langsung menyerangnya dengan tinjuku. Ia juga mencoba menahan dan menangkisnya. Terjadi jual beli pukulan di udara dalam waktu singkat sebelum akhirnya aku memenangkan pertarungan singkat itu dan menjatuhkan pedangnya.


Dalam hal beladiri jarak dekat, aku lebih unggul darinya. Sepertinya dia memang tipe petarung jarak jauh. Dari belakangku, Klon 4 dan Klon 5 sudah menyiapkan serangannya masing-masing dan aku langsung menyingkir dari sana.


Klon 5 menebas angin dengan tiang dan menyebabkan gelombang listrik, sementara Klon 4 menyemburkan api besar dengan kedua tangannya. Api yang disemburkan Klon 4 tidak memiliki akurasi yang baik, tapi karena ukurannya yang besar itu sudah cukup.


Posisi Aoda sedang tidak siap, jadi aku yakin kalau dia akan terkena serangan itu. Kombinasi serangan api yang dibaluti percikan-percikan listrik di sekitarnya adalah kombo serangan yang lumayan kuat yang bahkan bisa membuat Bos Astaroth terluka.

__ADS_1


Aoda juga tidak menyerah begitu saja. Tatapannya menjadi lebih serius dan tali tentakel aura keluar dari belakang tubuhnya mencari dan menangkap pedang yang tidak bisa dijangkau oleh tubuh Aoda.


Setelah menangkap dan memberikannya pada tangan kirinya sendiri, ia membidik dengan pistol Magnum pada serangan api listrik dan menembaknya dengan peluru aura yang berbentuk sedikit berbeda.


Peluru bulat cukup besar yang bersinar dan dengan kecepatan yang lebih rendah dari sebelumnya. Peluru itu meluncur mulus menuju ke serangan api listrik dan sebelum mengenainya, Aoda membelah udara dengan pedangnya dan gelombangnya mengenai pelurunya dan menciptakan ledakan eksplosif besar.


Ledakan itu menyebabkan cahaya yang membuat tempat pertarungan mereka berdua seperti siang hari— meskipun hanya sesaat.


Ledakan tersebut juga membuat aspal jalanan hancur berantakan dan menciptakan lubang sebesar kira-kira 5 meter. Aku juga bisa melihat pipa air bawah tanah yang hancur dan menyemburkan air dari sana.


"Serangan yang menakjubkan."


Suara Aoda dapat kudengar dari balik asap yang perlahan menghilang. Kami kini terpisah oleh lubang bekas ledakan itu. Tubuhku sudah mulai kelelahan. Bos Astaroth saat itu pernah menawarkan untuk belajar teknik penyembuhan, tapi saat itu aku menolaknya karena aku berpikir serangan yang lebih dibutuhkan daripada hal itu.


Tapi setelah bertarung dengannya, pemikiranku jadi terbuka dan ternyata aku salah. Sekarang aku hanya bisa melakukan serangan habis-habisan satu kali lagi, jika itu juga tidak berhasil maka aku akan mundur.


Aku melihat wajah Aoda, tidak ada luka yang begitu signifikan di tubuhnya mungkin karena sudah ia sembuhkan. Meskipun jaketnya sudah hancur lebur dan ia juga sudah melepaskannya dari tadi, tapi selain itu semuanya baik-baik saja.


"Jika aku samakan, mungkin seranganmu hampir sama merusaknya dengan naga itu. Bahkan mungkin lebih." Dia mulai berbicara. Aku tidak tahu pujian itu sungguhan atau tidak, tapi aku akan mulai memulihkan tenagaku seperti tadi. "Aku sudah menghisap hampir seluruh seranganmu dan efeknya masih sebesar ini." Ia menunjuk ke lubang yang ada di depannya.


Aku mengerti sekarang. Jadi dia tidak hanya bisa memakan batu untuk memulihkan energinya, tapi serangan seperti itu juga bisa dimakan olehnya. Bicara soal rakus.


"Apa jangan-jangan yang dikatakan Oita tentang makhluk percobaan keempat itu benar, ya?" gumam Aoda.


Aku yakin dia mengucapkan sesuatu di akhir tapi ucapannya terlalu kecil sehingga aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Tapi aku yakin itu tidak terlalu penting.


"Ah, maaf sudah membuatmu menunggu. Tapi sepertinya kita harus mengakhiri pertarungan kita. Masih ada sesuatu yang harus aku urus di tempat lain."


Ia mengatakan itu dengan santai seolah ia bisa mengakhiri pertarungan semaunya. Harga diriku benar-benar sudah dihancurkan oleh orang ini, tapi lagi-lagi tidak ada yang bisa aku lakukan.


Kekuatan kami mungkin setara dan bahkan aku unggul dalam segi kecepatan. Tapi Unique Skill 'Eater' miliknya benar-benar diluar kemampuanku, tidak ada yang terpikirkan di kepalaku bagaimana cara mengatasinya.


Aoda mulai mengarahkan pistolnya lagi. Aku juga memasang kuda-kuda lagi meski sudah lebih lemah dari sebelumnya. Dan dia pun menembak sebanyak dua kali.


Peluru itu melewati samping telingaku. Kecepatannya lebih cepat dari peluru yang ia gunakan untuk menghadang serangan api listrik sebelumnya hingga aku tidak sempat bereaksi. Dan itu dengan cepat melesat ke Klon 1.


Klon 1 dan Klon 2 yang menyadari hal itu langsung membuat sebuah tembok tanah tebal berlapis. Tapi peluru pertama begitu kecil, cepat, dan tajam sehingga dapat menembus tembok tanah lapis pertama dengan mudah. Dan pada lapisan kedua, peluru tersebut pecah menjadi butiran-butiran peledak yang menempel di sana.


Duaaarr...


Lapisan tembok tanah terakhir tersebut meledak. Sekaligus membuat Klon 1 dan Klon 2 terpental akibat ledakan tersebut. Mereka dan aku tidak menyangka kalau peluru itu mengandung bahan peledak.


Aoda kemudian melompat dari seberang lubang itu ke sampingku dan berjalan melewatiku begitu saja. Dia menunjukkan titik butanya yang membuatnya begitu lengah untuk diserang, jadi aku mencoba untuk menyerangnya.


"Jangan bergerak."


Ucapannya bagaikan perintah bagiku yang membuat tubuhku berhenti secara otomatis. Ini bukan karena pengaruh skill atau kemampuan lainnya, ini murni karena ada firasat buruk jika aku melanjutkan seranganku. Jadi aku memilih untuk berhenti.


"Kau tidak bisa mengalahkanku. Apalagi dengan kondisimu yang seperti itu."


Aku benci mengakuinya tapi dia memang benar. Bahkan saat kondisiku masih fit pun kesempatanku untuk menang tidak sampai lima puluh persen, apalagi dengan kondisiku yang sekarang.


Tapi tentu saja aku tidak ingin menyerah begitu saja!


Aoda melihat ke tanah dan menyadari getaran tanah aneh di bawah kakinya. Untuk sekarang aku akan membatasi pergerakannya dan lari dari sini, para Klon ku juga bisa membuat banyak waktu untukku kabur.


"Dasar bodoh."

__ADS_1


Aoda mengambil dua langkah ringan mundur ke belakang ke dalam lubang bekas ledakan sebelumnya. Sementara tanahku terus menjalar ke atas hingga setinggi 10 meter.


Tapi perhatianku langsung teralihkan ketika sebuah tinju telak mengenai perutku. Itu memang terlihat seperti sebuah pukulan manusia biasa.


Tapi aku dapat merasakan aura melapisi tinju Aoda dan melukai setidaknya beberapa organ dalam di perutku sehingga terjadi pendarahan internal di sana. Darah juga keluar dari mulutku dan terkena bagian dalam topeng ini


Tanah yang aku ciptakan langsung hancur berkeping-keping begitu juga dengan para Klon ku yang langsung melebur dan berubah menjadi partikel-partikel yang terbang dan menghilang di udara.


Dan kini hanya menyisakan diriku sendiri yang mundur beberapa meter ke belakang lalu jatuh terlutut sambil memegangi perutku yang terluka cukup parah.


Sementara Aoda berjalan ke arahku dan aku melihat keatas tepat ke wajahnya. Kami bertatapan cukup lama sembari Aoda menghilangkan Pistol Magnum dan pedangnya.


"Aku tidak akan membunuhmu dulu, kau tahu? Kau terlalu berharga untuk mati."


Aoda memotong dengan empat jarinya di depan wajahku. Meskipun aku tahu itu tajam tapi aku tidak merasakan sakit sama sekali, karena yang dia incar adalah topengku. Kini aku menampilkan wajahku, dengan raut wajah marah dan mulut yang sebelumnya mengalirkan darah.


"Hmm ...? Kau lebih muda dari dugaanku. Kau masih SMP? Dan juga kau perempuan?" tanya Aoda bingung.


"Aku sudah SMA!" Entah kenapa aku marah ketika dia menganggapku masih SMP. Jadi aku meluruskannya.


"Ternyata kau bisa bicara. Kalau begitu ini akan menjadi lebih mudah bagiku."


Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada diriku nanti, tapi tadi dia bilang kalau dia tidak akan membunuhku jadi kemungkinan besar aku hanya akan ditahan dan diinterogasi.


"Tunggu. Sepertinya aku mengenal dirimu." Ia bicara lagi setelah memperhatikan wajahku lebih lama. "Bukankah kau anak dari pemilik Ayakashi Corp. itu? Yang berada di Kyoto? Aku lupa namamu, sih."


Aku membuang wajahku. Lebih memalukan ketika dia mengenalku hanya karena ayahku. Seakan aku ini tidak bisa apa-apa tanpanya, lagipula semua orang juga selalu begitu padaku.


"Sepertinya aku benar." Dia menciptakan semacam borgol dari auranya dan memasangkannya di tanganku. Ternyata dugaanku benar. Aku akan ditahan di suatu tempat. "Apa aku akan mati?" tanyaku.


"Aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Tapi semakin kooperatif dirimu, mungkin saja hukumanmu bisa diringankan."


Diringankan, ya? Hukuman yang bisa aku pikirkan hanyalah selain hukuman mati adalah dipenjara seumur hidup dan itu tidak lebih baik daripada hukuman mati.


Kalau aku pikir-pikir lagi, sepertinya aku tidak akan bisa memukul wajahnya. Tiba-tiba wajah senyum ramahnya di atap sekolah waktu itu muncul di kepalaku. Entah kenapa mengingatnya semakin membuatku kesal tapi juga ingin menangis.


Apa selama ini aku berada di jalan yang tepat?


Sebelumnya memang sempat terpikirkan, tapi akhir-akhir ini aku jadi selalu memikirkannya. Aku juga tidak pernah dengar kalau aku harus kuat jika mau berada di samping Satou-san.


Kini aku sedang berjalan di samping Aoda. Aku tidak tahu bertanya hal ini adalah hal yang benar atau tidak, tapi aku hanya penasaran saja.


"Nee ...."


"Ada apa?"


"Apa kau mengenal Satou Iraya?"


"Hnm? Ah ... anak itu? Sepertinya aku tahu dia. Sebelumnya dia menyebabkan masalah dengan memakai arena pertarungan milik White Cloud tanpa izin. Memangnya kenapa?"


Itu berarti dia ada di dekat sini, ya? Aku dengar Black Rain secara tidak sengaja juga memiliki misi di sini jadi tentu saja dia ikut.


"Apa menurutmu ... aku lebih kuat darinya?" Aku bertanya tanpa melihat mata Aoda tapi aku tahu kalau dia berhenti berjalan. Aku tidak mengharapkan jawaban yang kuinginkan tapi tetap saja itu membuatku gugup.


Ia berpikir sebentar dan kemudian menjawab pertanyaanku. "Ya. Kurasa kau bisa mengalahkannya." Dia mengucapkannya dengan jujur dan tanpa ada maksud apa-apa.


Itu jawaban yang sederhana. Tapi entah kenapa mataku tidak bisa menahan air mata yang tiba-tiba jatuh begitu saja. Jawaban itu entah kenapa membuatku senang dan lega seperti semua beban keluar dari dalam tubuhku.

__ADS_1


"Begitu, ya?" Kami berdua kemudian berjalan lagi ke tempat aku akan ditahan.


Bersambung


__ADS_2