
Rencana Taman Hiburan kemarin bisa kubilang sukses besar. Meskipun Oukami sedikit bodoh karena lupa untuk mengungkapkan perasaannya yang membuat uangku terlihat sia-sia.
Tapi saat Herlin terdiam menikmati kembang api malam itu, membuatku tidak jadi menyesal telah mengeluarkan uangku—Ya walaupun senyumannya tidak keluar sama sekali, sih.
Dan sekarang adalah hari yang ditunggu-tunggu. Pekerjaan kami akan segera dimulai nanti malam pukul tujuh malam. Tapi entah kenapa, Ishikawa-san menyuruh kami untuk bangun jam 6 pagi.
"Hoaamm ...." Mulutku dan Herlin menguap lebar meskipun ia menutupinya dengan tangan.
"Kenapa kalian masih mengantuk begitu? Bukankah sudah aku suruh untuk mandi?" tanya Ishikawa-san.
"Banyak hal terjadi malam tadi, jadi aku kurang tidur. Mandi saja tidak cukup untuk menghilangkan rasa ngantuknya."
"Lalu bagaimana denganmu, Herlin?"
"Aku juga sama."
"Yang penting kalian bisa menyelesaikan misi dengan baik, ini misi penting untuk menyelamatkan keuangan Black Rain, kalian mengerti?!"
"Ya, ya. Sudahlah ayo cepat berangkat."
Tidak ada yang menanggapi dengan serius ucapan semangat dari Ishikawa-san. Dan mereka pun langsung pergi keluar ke mobil. Sementara Caramel kemudian menghampiriku.
"Bagaimana rencana semalam? Apakah berhasil?"
"Tentu saja! Semua yang kurencanakan berjalan dengan baik ... kurasa." Aku menengok ke arah Oukami yang juga sudah menunggu di sini dan setelah sadar kalau aku meliriknya, ia memberikanku jempol ke atas yang aku juga balas dengan hal yang sama.
"Tapi aku juga berterima kasih padamu karena sudah membuat rencana semalam jadi mungkin. Terima kasih, ya."
"Ehehe ... mudah saja untukku!" Dengan tos yang mengakhiri pembicaraan kami berdua, kami pun mengikuti yang lainnya berjalan ke mobil yang sudah disediakan.
Kami berangkat menuju ke tempat konsernya, yaitu sebuah dome yang biasa dipakai untuk menggelar konser ataupun sejenisnya. Kami datang sepagi ini karena harus mengurus banyak hal seperti meeting dengan divisi lain. Kebetulan kami terpilih ke salah satu divisi keamanan, yaitu bodyguard para anggota Rainbow Cookies.
Setelah sampai di tempatnya, aku sedikit terkagum dengan kemegahan dan banyaknya orang yang bekerja di sini, bahkan ada banyak sukarelawan yang ikut membantu menyukseskan konser Rainbow Cookies ini.
"Woah ... ramai sekali."
"Tentu saja. Ini salah satu konser terbesar tahun ini dan mereka butuh banyak orang untuk menyukseskannya," jelas Ishikawa-san.
"Mereka itu ternyata hebat sekali, ya?"
"Ya. Koyomi Arisu yang merupakan Idol nomor satu Jepang memutuskan untuk membuat grup Idol dan otomatis langsung menyalip grup Idol lainnya menjadi grup Idol nomor satu Jepang. Mereka memang sangat hebat. Setidaknya itu yang aku dengar."
Selagi aku melihat banyak orang yang mendirikan tiang-tiang konsernya, aku jadi berpikir kalau ternyata aku akan menjadi bodyguard orang yang sangat terkenal. Dan sepertinya aku tidak heran kenapa Oukami bisa menyukainya.
Saat aku sedang asyik-asyiknya melamun dan membayangkan betapa hebatnya diriku, tiba-tiba ada seseorang yang meneriaki kami semua.
"Oi! Kalian kumpulan orang-orang nganggur!"
"Eh?"
Pria dengan baju tanpa lengan dan tampilan kepala botak licin, lalu otot-otot yang kekar serta tubuhnya yang tinggi besar dan tatapan sangar membuatnya terlihat seperti orang yang pekerja keras.
"Kenapa kalian diam saja di sini? Apa kalian tidak lihat kalau yang lainnya sedang bekerja keras? Apa kalian tidak malu melihat diri kalian sendiri yang masih memiliki tangan dan kaki tapi malah bermalas-malasan?"
Wah ... omongannya tajam sekali. Aku yakin pasti ada beberapa orang yang tersindir dengan kata-katanya barusan. Tapi Ishikawa-san tidak terlalu menanggapinya dan langsung berbicara dengannya.
"Ah, maaf, tapi kami berada di divisi lain jadi baru datang jam segini."
"Divisi lain? Memangnya dari divisi mana kalian?"
"Kami adalah bodyguard Rainbow Cookies untuk konser sekarang."
"...."
Saat Ishikawa-san bilang begitu, semua kegiatan di tempat ini berhenti serentak. Pekerja lainnya melihat ke arah kami dalam diam. Eh? Kenapa tiba-tiba jadi diam canggung seperti ini? Apa Ishikawa-san salah bicara atau semacamnya.
"Ti-tidak mungkin!"
"Apa benar kalian yang jadi bodyguard Rainbow Cookies?!"
"Itu bohong, kan?! Itu bohong, kan?!"
Pekerja yang lain kemudian berebutan menghampiri kami dan menanyakan banyak pertanyaan. Seperti bagaimana caranya kami menjadi bodyguard, ada juga yang iri, lalu ada juga yang tidak percaya.
"E-Etto ... ano ...." Aku mencoba menjawab pertanyaan mereka, tapi terlalu banyak yang ditanyakan hingga satupun tidak ada yang bisa aku jawab.
"SEMUANYA, KEMBALI KE TEMPAT KALIAN MASING-MASING!"
Teriakan pria botak tadi menjadi pusat perhatian mereka semua dan secara teratur mereka mundur dan kembali ke posnya masing-masing. Wajah para pekerja tersebut terlihat takut dan aku mendengar beberapa bisik-bisik para pekerja.
"Gawat, bos sudah marah. Ayo kembali."
"Ayo, ayo."
"Sial, apa pekerjaanku bakal ditambah, ya?"
__ADS_1
Sepertinya mereka semua takut pada pria botak ini. Ya, aku kalau disuruh menghadapinya sendiri juga tidak berani, sih. Penampilannya memang sudah buat orang takut duluan. Tapi tiba-tiba pria botak itu menghampiriku, sepertinya dia sadar kalau aku memperhatikannya dari tadi.
"Apa yang kau lihat?"
"Ti-tidak ada, maaf!"
"Apa kau punya kartu pengenal yang membuatku bisa mempercayaimu kalau kau menjadi bodyguard Rainbow Cookies?"
Dia menunduk dan menyelaraskan kepalanya agar setara tinggiku. Wajah seramnya benar-benar dekat dan sedang sibuk menginterogasiku. Sialan, tidak ada seorang yang mau membantuku, kah.
Dan saat aku sedang meminta bantuan lewat wajah takutku, Ishikawa-san masuk di saat yang tepat. "Tentu saja kami punya." Ishikawa-san! Aku mencintaimu! Dia kemudian mengeluarkan beberapa lembaran dokumen yang berisi foto kami semua dan di bawahnya sudah ditandatangani oleh Koyomi Arisu.
Pria botak itu kemudian memeriksa foto dan wajah asli kami apakah serupa, dan ketika merasa semuanya sudah benar ia mengembalikan dokumen tadi kepada Ishikawa-san.
"Baiklah, kalian sudah bisa dipercaya."
"Hah ...." Aku menghela nafas karena kemarahannya sudah mereda dan wajahnya juga menjauh dariku.
"Tapi! Karena kalian sudah datang kesini, jangan harap kalian bisa santai! Selagi masih memiliki tangan dan kaki di hadapanku, kau tidak akan bisa istirahat. Cepat bantu divisi yang lain sana!"
Pada akhirnya kita malah dapat pekerjaan yang bukan bagian kami. Ishikawa-san juga tidak memprotesnya dan dengan senang hati menerimanya. Kalau Ishikawa-san tidak protes, tentu saja aku yang protes.
"Ishikawa-san! Kenapa kita harus mengerjakan yang bukan bagian kita? Bukankah ini tidak benar?"
"Mungkin kau benar, tapi aku sengaja melakukan ini untuk organisasi kita juga."
"Kenapa begitu?!"
"Lagipula ...." Ishikawa-san terlihat suram menjelaskan alasannya. "... Ada seseorang yang memakai arena White Cloud tanpa izin lalu merusaknya. Jadi aku harus bekerja lebih keras supaya dendanya dikurangi, dan ini adalah salah satu caranya," lanjutnya.
"Gekh!"
Ishikawa-san menyindir seseorang dan tentu saja ada orang yang merasa melakukannya. Aku menengok ke arah lain supaya tidak ada yang tahu kalau itu perbuatanku, tapi semuanya sudah tahu.
"Bodoh."
Herlin tiba-tiba menusukku dengan kata-katanya yang membuatku jatuh ke lantai. Tapi aku langsung bangun dan dengan nada dan senyuman yang aku paksakan, aku bersemangat untuk membantu divisi yang lain.
"A-Ayo kita bantu divisi yang lain! Ehehe-hehe-he."
Pada akhirnya kami semua berpisah dan membantu para sukarelawan dan pekerja yang lain. Ada yang membantu menyusun kerangka-kerangka besi untuk penunjang panggung, ada juga yang membantu mengangkat kayu-kayu besar lalu mengecatnya.
Kami semua bekerja keras dan hal itu cukup melelahkan. Kami bekerja tidak mengenal waktu dan tiba-tiba waktu sudah menunjukkan pukul 12 tengah siang tepat waktunya istirahat.
Aku duduk di sebuah kursi panjang sendirian sambil melihat pekerja lain yang juga beristirahat dan memakan bekalnya. Sementara aku di sini hanya mengipas-ngipasi wajahku karena cukup banyak orang di sini yang membuat tempat ini pengap.
Setelah meminum beberapa teguk, aku kemudian mengajak Oukami bicara. "Nee, apa kau pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya?"
"Hah? Hmm ..., aku sudah sering menjadi bodyguard dari Rainbow Cookies di berbagai konser, tapi kalau sampai membantu mereka menyiapkan panggung sepertinya ini adalah pertama kalinya bagiku."
"Ma-maafkan aku." Entah kenapa aku langsung refleks meminta maaf ketika berpikir kalau ini adalah salahku.
"Jika kepada organisasimu mungkin kau harus minta maaf, tapi jika sedang bersamaku, seharusnya aku yang minta maaf."
"Soal itu ...."
"Seharusnya aku tidak dibutakan oleh harga diriku dan secara sembarangan mengajakmu bertarung." Dia mengakui kalau itu kesalahannya. Sikapnya yang dulu sudah benar-benar berubah setelah aku memberitahukan tentang Cecilia.
"Tapi aku rasa kau harus mengubah sikapmu yang itu."
"Kenapa?"
"Tidak semua orang yang kau anggap lemah memang lemah, siapa tahu mereka hanya menyembunyikan kekuatannya. Kita tidak ada yang tahu."
"Kurasa ..., kau benar soal yang itu."
Ujung bibirku terangkat. Semoga setelah ini ia tidak terlalu arogan lagi, ya meskipun hal itu sulit dihilangkan, sih. Aku kemudian berdiri dan meregangkan tubuhku. "Ayo! Kita bantu yang lain lagi!" ajakku pada Oukami.
"Ya."
"Kurasa sudah cukup bantu-bantunya."
"Eh?" Kami berdua terkejut ketika seseorang—yang ternyata Herlin masuk ke dalam obrolan kami. Aku juga heran dengan pakaian yang dikenakan Herlin saat ini. Dia mengenakan seragam bodyguard yang ia berikan sebelumnya padaku.
"Memangnya kenapa?" tanya Oukami.
"Sekarang sudah waktunya menjemput para Idol itu."
Aku melihat kearah yang lainnya. Mereka semua ternyata juga sudah berganti pakaian ke seragam mereka, dan hanya kami berdua saja yang masih pakai baju biasa.
"Cepat ganti baju kalian, setelah itu kita langsung berangkat," ucap Herlin yang kemudian pergi ke teman-teman yang lain.
Tanpa basa-basi lagi, aku dan Oukami langsung mengganti seragam kami dan kemudian menyusul yang lainnya ke dalam mobil. Kami akan berangkat ke hotel tempat anggota Rainbow Cookies menginap.
Sekitar jam satu siang, akhirnya kami sampai di depan hotelnya. Suasana di pintu depan hotel sudah sangat ramai dengan para media atau fans fanatik yang sudah menunggu mereka dari tadi.
__ADS_1
"Ramai sekali, apa kau yakin kita bisa masuk?"
"Tenang saja, selama ada kartu pengenal kita tidak akan menemukan masalah berarti."
Dan seperti yang Ishikawa-san bilang, setelah menunjukkan kartu pengenal kami pun dapat masuk ke dalam dengan mulus.
Seseorang yang bisa dibilang manajer Rainbow Cookies datang menemui kami setelah berada di dalam, ia memberi beberapa pengetahuan dasar tentang apa saja yang tidak boleh dilakukan kepada para anggota Rainbow Cookies.
Setelah briefing dengan manajer mereka selesai, manajer tadi masuk ke dalam dan setelah beberapa saat, lima orang perempuan keluar dari dalam ruangan hotel. Dan salah satu dari mereka ada wajah yang kukenal— Yap. Siapa lagi kalau bukan Arisu.
"Jadi kita punya bodyguard perempuan sekarang?" tanya salah satu dari mereka.
Sebagai bodyguard, tentu saja aku disuruh menghafal nama-nama mereka dan yang berbicara barusan adalah Usagy Pecola, member pertama yang direkrut oleh Arisu secara langsung. Dan kemudian ada Oniri Ayamy di sampingnya sebagai yang kedua.
"Wah! Ada gadis seumuran kita?! Kalau boleh tahu berapa umurmu?"
"E-enam belas tahun."
"Imutnya! Nee, nee! Apa kau mau bergabung ke Rainbow Cookies?"
"Benar tuh! Pasti Arisu-senpai akan mengizinkannya! Hanya tinggal latihan menyanyi dan menari saja!"
"I-itu ...."
Lalu gadis yang semangat ketika melihat Herlin lalu langsung memegang kedua tangannya dan bertanya adalah Ria Aderia dengan Akai Edna yang satu tahun lebih tua darinya, mereka berhasil lolos dari audisi menjadi anggota Rainbow Cookies keempat dan kelima.
"Ria-chan, Edna-chan ..., ayo fokus lagi."
"Baik~" Dengan jawaban lemas, ia kemudian melepas tangan Herlin dan kembali ke teman-temannya.
Dan tentu saja satu orang lagi, target Oukami yang aku bantu tadi malam, Koyomi Arisu. Pandangan pertama dia kepadaku tidak terlalu bagus dan sepertinya dia juga tidak tahu kalau Rencana Taman Hiburan semalam adalah rencanaku. Tapi tidak apa-apa, karena aku adalah pahlawan dari balik bayangan.
"Iraya, kepalamu sehat?" Herlin memanggilku ketika dia melihat aku cengar-cengir sendiri.
Mengabaikan hal itu, kami pun langsung berangkat menuju tempat yang sebelumnya sudah kami bangun itu. Melewati kerumunan fans dan media yang berkumpul di pintu depan, meskipun sempat berdesak-desakan, akhirnya anggota Rainbow Cookies dapat masuk ke dalam mobilnya.
Sementara aku dan yang lainnya masuk mobil lain di belakangnya mengikuti mobil mereka.
"Adu-du-duh." Aku mengusap-usap pipiku.
"Kenapa kau?" tanya Herlin.
"Para media itu berdesak-desakan sampai kamera dan mic mereka mengenai wajahku."
"Ahahaha! Kau seharusnya memasang wajah seram pada mereka, Iraya! Seperti yang aku lakukan!"
"Kurasa kau benar, di bagianmu tidak ada yang berani mendekat. Bagaimana denganmu, Herlin?"
"Kalau aku .... Aku diwawancarai mereka tadi."
"Kok bisa?!"
Aku tidak mengerti lagi dengan para wartawan itu. Pantas saja di bagian Herlin begitu teratur dan sejahtera, sepertinya hanya bagianku yang tidak teratur.
"Kedengarannya menyenangkan ya bekerja sebagai bodyguard?" Tiba-tiba supir kami mengajak kami berbicara. Seorang supir yang sudah kelihatan berumur dengan rambut putih di kepalanya. "Andai aku masih muda, mungkin aku juga akan mencoba mendaftar menjadi bodyguard seperti kalian, anakku adalah penggemar berat mereka."
"Mungkin anda salah mengartikannya, tapi pekerjaan ini jauh dari kata menyenangkan," jawabku.
"Tapi aku juga tidak yakin kalau anda akan terpilih menjadi bodyguard mereka, pak. Karena salah satu persyaratannya adalah anda harus seorang Exception," lanjut Oukami.
"Ah, kata-kata yang sedang tren itu, ya? Apa dari mereka ada yang seorang Exception?"
"Ada, leader mereka adalah seorang Exception."
"Eh? Jadi Arisu adalah Exception?"
"Kau baru tahu? Kemana saja kau selama ini?"
"Aku baru tahu. Tunggu, apa yang lainnya sudah tahu?" Aku menengok ke arah yang lainnya dan mereka semua diam menandakan kalau hanya aku yang tidak tahu di sini.
"Ahahaha ... aku doakan tugas kalian baik-baik saja."
Dan pembicaraan kami dengan supir itu pun selesai. Tapi dalam diam, Nigiyaka-san sekilas menatap curiga supir itu, meskipun ia langsung mengabaikannya dan menganggap itu hanyalah perasaannya saja.
Dan setelah itu pun, kami sampai dan tidak lupa berterima kasih pada supir tadi lalu berjalan menuju ke dalam dome.
Sementara itu, di dalam mobil tadi sang supir mengangkat telepon untuk menelepon seseorang. "Halo ... semuanya masih berjalan lancar."
"Bagus kalau begitu, bagaimana topeng buatanku?"
Supir itu melepaskan topeng penyamaran yang hampir tidak memiliki beda dengan kulit manusia asli. Dan setelah melepaskannya, wajah orang sebenarnya kemudian terlihat. "Bekerja dengan sangat baik. Bahkan Nimis dan Ardenter tidak mengenaliku," ucap Ivis.
"Bagus kalau begitu, lanjutkan kerjamu dan lakukan sesuai rencana."
Ivis kemudian mengambil topeng lainnya dari dalam dashboard mobil dan kemudian mengenakannya lagi, membuatnya berubah menjadi orang lain lagi. "Akan aku lakukan, Lennova."
__ADS_1
Bersambung