
Seringai terpancar lebar dari wajah kami berdua ketika aku sudah turun dari langit. Kesepuluh tiruanku juga sudah kembali ke dalam tubuhku dan membuat kekuatanku seakan terisi kembali.
"Apa ini yang kau inginkan?" tanyaku.
"Benar sekali, kekuatan yang hampir setara denganku ini … aku sangat ingin melawannya!"
"Kau ini maniak atau apa? Ya terserahlah, kali ini aku akan melawanmu dengan serius."
"Serang aku!"
Ctiik…
Aku menjentikkan jariku dan setelah itu beberapa Invisible Hands milikku mulai terbang ke arah Astaroth dan berniat untuk menyerangnya. Mereka bergerak sangat cepat di dalam kendaliku, orang biasa tidak akan bisa mengikuti kecepatannya. Tapi orang satu ini malah tersenyum kegirangan karenanya.
Astaroth membelah semua Invisible Hands milikku dengan tangan kosong yang ia lapisi dengan aura. Tapi sayangnya kekuatanku tidak berhenti sampai disitu saja.
"Apa?"
Invisible Hands yang tadi sudah Astaroth belah kembali beregenerasi dan bersiap untuk menyerangnya lagi. Ia tidak berpikir kalau kekuatanku hanya segitu saja, kan? Ya semoga saja tidak. Karena aku akan memberikan neraka sesungguhnya pada dia.
"Bagus, bagus, bagus. Kau memang lawan yang layak untuk kukalahkan, Murasaki Oita!"
"Iya, iya, sudah cukup teriak-teriaknya dan fokus pada seranganku."
Syiiing…
Astaroth membuat bola api berukuran kecil dengan kedua tangannya. Tapi lama kelamaan ukuran bola api itu semakin besar dan semakin besar lagi. Sambil tertawa kegirangan, ia kemudian melepaskannya begitu saja dan membiarkannya meledak di dekatnya.
"Terima ini!"
Duuuaaarrr…
Ledakan bola api itu sangat besar dan menghancurkan apapun yang berada di dekatnya dalam radius jarak 50 meter, termasuk aku. Tapi aku masih bisa berlindung dengan Invisible Hands milikku yang aku perbesar dan mengelilingi sekitarku, jadi tidak ada sedikitpun serangannya yang mengenaiku.
Tanah yang aku pijak juga ikut hancur karena ledakan tadi, tapi aku tidak berpindah sama sekali karena Invisible Hands milikku aku jadikan sebagai pijakan dan membuatku tidak perlu turun lagi.
Bisa dibilang ini merupakan pertahanan mutlakku dimana tidak ada yang bisa menembusnya—ya setidaknya sampai sekarang belum ada.
Kembali ke pertarunganku, setelah mengeluarkan ledakan tadi dan berhasil menghancurkan Invisible Hands yang berada di dekatnya, aku tidak melihat keberadaan Astaroth saat ini. Hawa keberadaannya juga menghilang dan ia menyembunyikannya dengan sangat baik.
Tapi ia keliru akan satu hal.
Bibirku terangkat karena menyadari hal itu. Sayangnya aku ini adalah pemilik Unique Skill, Knowing. Aku bisa merasakan keberadaan seseorang, bahkan di tingkat sekecil apapun hawa keberadaannya. Itulah kenapa aku menyebut ini sebagai pertahanan mutlakku.
Tap…
Aku bisa menyadari keberadaan Astaroth yang saat ini sedang berada di belakangku dan siap untuk menghancurkan kepalaku. Aku kemudian menengok ke belakang pada saat yang tepat, Astaroth sedikit terkejut karena aku berhasil menyadari keberadaannya pada saat ia ingin menyerang. Tapi ia tetap menyerangku.
Tangannya sudah terlapisi oleh aura panas dengan hawa yang membakar dan ia mengarahkannya langsung ke arah kepalaku. Tapi Invisible Hands bekerja dengan sangat baik, sebelum serangannya sampai ke kepalaku, ia sudah menghalanginya.
Duaaarrrr…
Ledakan lagi-lagi terjadi akibat benturan aura yang terjadi di antara kami berdua. Meskipun ledakannya lebih kecil dari yang tadi, tapi tetap saja itu termasuk ledakan yang besar.
Setelah ledakannya menghilang dan hanya tersisa asapnya yang juga berangsur-angsur menghilang, Astaroth masih tetap berada di tempat yang sama. Bukan karena keinginannya sendiri, tapi karena tangan yang ia gunakan untuk menyerang tadi tertahan oleh Invisible Hands milikku.
"Ta-tanganku?!"
"Waktunya serangan balik!"
Aku meregenerasi Invisible Hands yang tadi terkena ledakan sebelumnya dan langsung melesat menuju ke tubuh Astaroth dari berbagai arah, menembusnya dan membuat tubuhnya berlubang bagaikan sarang madu.
Craaassh… Craaassh… Craaassh…
"Ahaakhh …."
Dada, lengan, paha, betis, dan bagian lainnya sudah berlubang karena seranganku. Mulutnya juga mengeluarkan darah yang mengucur jatuh ke arah dagunya. Tapi ia masih belum menyerah. Dengan tangan kirinya yang masih bebas, ia mencoba untuk mengeluarkan auranya lagi dan menyerangku lagi.
Tapi hal itu percuma. Aku dengan mudah menangkap lengannya dan kembali mengunci pergerakannya, serangan yang Astaroth coba lakukan juga gagal dan menghilang.
"Percuma saja!"
Craaasshh…
Aku memutuskan tangan Astaroth dari lengannya dan darah langsung mengucur deras dari arah lukanya yang terbuka membuatnya berteriak keras.
Meskipun ia berteriak kencang, tapi tangan kanannya masih tertahan pada Invisible Hands milikku. Aku berpikir kalau ia akan menyerah atau kembali berbicara hal omong kosong lagi seperti hal yang biasa ia lakukan, tapi kali ini hal yang dilakukannya berikutnya berada di luar bayanganku.
Craaasshh…
Ia menarik tangan kanannya yang masih tertahan dengan kuat. Saking kuatnya itu menimbulkan bunyi yang keras dan bagian lengan sampai sikunya tertinggal disana, walaupun akhirnya ia terbebas dan jatuh ke tanah.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan?" tanyaku.
Tapi suaraku terlalu kecil dan jarak antara aku dengan Astaroth juga terlalu jauh jadi dia tidak menjawabnya. Ia terlihat sangat kacau dibawah sana dengan darah yang menutupi hampir seluruh tubuhnya dan kedua lengannya yang sudah tidak ada.
"Sudah berakhir, kah?"
"Hehehe …."
__ADS_1
"Hn?"
Saat aku sudah berpikir kalau pertarungan kami saat ini sudah berakhir, ternyata dugaanku salah. Astaroth malah tertawa bahkan saat sekarang tubuhnya sedang berada dalam kondisi mengenaskan.
"Kenapa … kau tertawa?"
"Kau benar-benar membuatku dalam kondisi yang berantakan ya, Murasaki Oita? Tapi jangan pikir kalau ini sudah berakhir."
Astaroth berdiri dengan susah payah tanpa bantuan tangannya. Tapi ia tetap mengeluarkan seringainya lalu setelah beberapa saat terjadi sebuah kejutan pada tubuh Astaroth.
Lubang-lubang luka yang ada di seluruh tubuhnya tiba-tiba beregenerasi kembali dan sehat seperti baru lagi. Kedua lengannya yang tadi putus juga perlahan namun pasti kembali sembuh seperti semula. Pantas saja ia bisa dengan mudahnya memutus lengannya sendiri seperti tadi.
"Kemampuan regenerasinya … diluar dugaanku," gumamku.
"Baiklah, ayo kita mulai lagi." Astaroth sudah pulih seperti sedia kala dan siap untuk bertarung lagi.
"Tcih."
Astaroth melesat kearahku dengan cepat dan aku juga melakukan hal yang sama, diikuti dengan Invisible Hands milikku. Saat jaraknya sudah dekat, ia bersiap untuk meninjuku, tapi dengan pertahanan mutlakku aku bisa dengan tepat menahan pukulannya.
Daaakkh… Buaakhh…
Saat pukulannya sudah kutahan, aku membalas pukulannya yang dengan telak masuk ke pipinya. Tapi hal itu tidak membuatnya terhempas dan masih berada di tempat yang sama.
Meskipun begitu, ia tidak melakukan serangan balasan lagi dan hanya tersenyum sambil melihat kearahku.
"?!!"
Sruukk… Sruukk… Braaakhh…
Tepat dari bawah tanah tempatku saat ini berada. Terdapat tanah besar dengan ujung tajam yang banyak dan cepat langsung menuju ke arahku. Jarakku dari tanah saat ini adalah sekitar 10 meter lebih, tapi pergerakan tanah itu bisa sampai padaku kurang dari setengah detik.
Tapi lagi-lagi aku masih bisa menghadangnya sekaligus menghancurkannya dengan Invisible Hands yang aku perbesar ukurannya. Beruntung aku memiliki kemampuan Knowing ini, aku yakin sekali jika yang melawan Astaroth adalah anggota Black Rain yang lain, aku yakin mereka tidak akan selamat.
Kembali ke pertarunganku, setelah melancarkan serangan super cepat tadi, Astaroth masih belum selesai dengan hal itu.
"Kali ini apa lagi?!"
Akar-akar pohon kali ini datang dari belakang tubuhku. Mereka berjumlah banyak sekali dan seakan memiliki pikirannya sendiri. Aku melihat kearah Astaroth yang pipinya masih menempel pada tinjuku, ia terlihat tersenyum dan seakan menandakan kalau dia lah dalang semua serangan ini.
Aku tidak bisa terus diam disini. Meskipun kemampuanku berhasil menghancurkan akar itu, tapi ada terlalu banyak akar pohon yang mengarah ke arahku. Jadi aku mendorong Astaroth jatuh ke tanah dan segera melesat menghindari akar pohon itu.
Braaakhh… Braakkhh…
Akar pohon itu bergerak lebih cepat dari perkiraanku dan pergerakannya juga terorganisir dengan baik. Akar-akar itu seakan mengelilingi bukit ini sehingga ia bisa bergerak bebas tanpa terhambat sama sekali.
"Jangan lupakan aku!"
Saat aku sedang terfokus dengan akar yang mengejar dari belakangku, Astaroth muncul dari depan secara tiba-tiba dan mencoba menyerangku dari dua arah. Ia membuat dua buah bola energi yang ia lemparkan di kedua tangannya dan melemparnya kearahku.
Tapi aku berhasil menepisnya ke kanan dan ke kiri sehingga membuat dua buah ledakan di tanah. Aku pun melesat ke arah Astaroth lalu menangkap tangannya, setelah itu aku melemparnya ke arah akar-akar pohon yang mengejarku berharap agar ia terkena serangannya sendiri.
Tapi harapanku sia-sia, akar-akar pohon itu seakan mengenali siapa pemiliknya. Akar-akar tadi membelah dan menyingkirkan sisi tajamnya lalu membiarkan Astaroth jatuh di bagian yang datar.
"Hehehe … mau membunuhku dengan seranganku sendiri?"
"Cih!"
Ia kembali melesat kearahku diikuti oleh banyak akar pohon dibelakangnya. Merespon pergerakannya, aku memperbesar salah satu Invisible Hands milikku menjadi dua kali besar dan lebar ukuran tubuhku, meninggalkan lubang yang besar di bagian depan.
Braakk… Kraaakk…
Aku berhasil menghancurkan semua akar pohon yang mengejarku dalam satu kali serangan, Invisible Hands bekerja dengan sangat baik. Tapi masih ada satu masalah besar yang tidak bisa aku abaikan, yaitu aku tidak bisa menemukan Astaroth saat ini.
Lagi-lagi dia menghilangkan keberadaannya. Tapi sepertinya ia tidak belajar dari pengalaman, aku hanya perlu untuk mengaktifkan Unique Skill milikku saja untuk mengetahui lokasi pastinya.
Aku memejamkan mataku untuk mencari keberadaannya, tapi aku terkejut karena saat aku menyadari keberadaan Astaroth, ia sudah berada sangat dekat di belakangku. Aku menengok ke belakang tapi hal itu percuma karena tinjunya sudah terlebih dahulu memukul ke arah daguku.
Buuaakh…
Aku terlempar ke atas cukup jauh akibat pukulan Astaroth. Invisible Hands milikku melemah ketika aku terkena serangan dari Astaroth.
Swuushh… Swuushh…
Astaroth dengan cepat bergerak seakan menaiki tangga dengan udara sebagai pijakannya. Ia dapat bergerak dengan bebas seakan berjalan di tanah dengan kemampuan kontrol kekuatannya yang baik.
Meskipun begitu, aku tidak diam begitu saja dan memperbaiki posisiku agar tidak menjadi samsak untuk Astaroth. Walaupun aku tidak bisa terbang dan bergerak bebas di udara seperti Mei-chan, tapi dengan kekuatanku setidaknya aku tidak akan kalah dari Astaroth dalam pertarungan udara saat ini.
Aku mengarahkan Invisible Hands ke arah Astaroth secara bertubi-tubi, tapi ia masih dengan mudah dapat menghindarinya dan ketika jaraknya sudah dekat denganku, ia kembali mencoba memukulku. Tapi aku mengadunya dengan Invisible Hands.
"Sudah kuduga! Kekuatanmu itu terjadi atas kesadaranmu. Tapi karena insting gila yang kau miliki, seakan membuatnya terlihat seperti memiliki pikirannya sendiri, apa aku benar?!"
Aku memberikan seringai atas penjelasan yang diberikan oleh Astaroth tentang kemampuanku. Tebakannya hampir benar meskipun ini adalah pertama kalinya kami bertarung setelah sekian lama.
"Benar sekali! Kau hampir menebaknya dengan benar! Tapi tidak ada gunanya meskipun kau mengetahuinya, karena aku akan membunuhmu disini!"
"Ahahaha …! Akhirnya kau mengatakannya!"
Swuushh… Braakhh… Swuuushh… Daaakkh…
__ADS_1
Sekarang langit Kyoto adalah tempat pertarungan kami berdua. Di malam yang cerah dan sedikit awan saat ini, dengan api yang membakar sebagian perumahan di bawah kami dan banyak rumah-rumah yang telah hancur akibat pertarungan lainnya.
Dan sekarang di langit juga terjadi pertarungan yang besar. Seperti kilatan-kilatan petir yang menyambar dan berkilau di malam hari, dan jika dilihat dari bawah pertarungan kami bagaikan pertunjukan kembang api yang menyala tanpa henti.
Kecepatan kami berdua sudah tidak dapat diikuti dan kami seakan berpindah-pindah tempat dan baru terlihat ketika kami mengadu pukulan ataupun serangan. Dengan teriakan yang kami keluarkan yang hampir tidak terdengar karena kencangnya angin di atas stratosfer.
Kami bertarung sekitar 20 menit dimana hampir ribuan bahkan puluhan ribu pukulan terjadi antara kami berdua. Membuat tentu saja kami berdua kelelahan dan akhirnya berhenti untuk sesaat dengan jarak yang cukup jauh untuk mengambil nafas.
"Hah … lumayan juga kau bisa mengimbangi kecepatanku," ucap Astaroth.
"Hehe … perkembangan selama tujuh tahunku ternyata tidak sia-sia."
"Tapi sekarang sudah jam segini …."
"Apa maksudmu?"
Astaroth kemudian mengambil HP yang ada di kantong celananya, cukup ajaib juga karena benda itu tidak hancur saat pertarungan denganku tadi. Ia menghubungi seseorang dan kemudian berbicara dengannya.
"Lennova, apa semuanya sudah siap? … Bagus kalau begitu, sekarang kau bisa menghubungi Baram dan Ivis untuk melakukannya secara bersamaan … baiklah."
Ia kemudian menutup teleponnya dan kembali fokus kepadaku. Aku yang masih bingung dengan arah pembicaraannya pun hanya bisa waspada, tapi tadi ia menyebut nama Lennova, Ivis, dan Baram yang semuanya adalah anggota Assassin lainnya.
"Apa yang kau rencanakan?"
"Sambutlah kejutan yang aku berikan kepada kalian!"
Aku masih tidak mengerti dengan apa yang dia lakukan sampai tiba-tiba HP ku berdering. Aku mengambil dan kemudian mengangkatnya, ternyata yang menelepon adalah Ryuzaki.
"Ada apa Ryuzaki? Saat ini aku sedang sibuk."
"Mungkin kau tidak percaya dengan yang aku katakan saat ini, tapi …."
Ucapan Ryuzaki menggantung dan membuatku penasaran tentang apa yang membuatnya menelepon tiba-tiba begini.
Sementara itu di Tokyo, Ryuzaki sedang menatap ke arah luar dari dalam ruang kerja Red Flame. Sambil menelepon Oita-san, ia kemudian keluar dari dalam ruang kerjanya dan melompat naik ke atap dojo agar mendapat penglihatan yang lebih luas dan jelas.
Dan ia pun melihatnya.
Sebuah kerangka manusia raksasa yang biasanya hanya ada di dalam mitos-mitos Jepang. Tapi saat ini Ryuzaki melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau itu adalah yang asli. Dengan tinggi sekitar 90 kaki atau hampir 28 meter, ia berjalan dengan bebas diantara bangunan-bangunan tinggi di kota Tokyo. Ia mulai menghancurkan bangunan-bangunan itu dan menyerang orang-orang yang sedang lewat.
"Makhluk itu … Gashadokuro," gumam Ryuzaki.
Gashadokuro—Sosok The Unseen yang biasa ada di mitologi Jepang. Berbentuk seperti kerangka manusia dengan tinggi hampir 30 meter.
Saat Ryuzaki sedang bingung dan heran dengan makhluk besar yang ia lihat saat ini, tiba-tiba datang Hayashi Satou melaporkan keadaan darurat kota Tokyo saat ini.
"Lapor, Ryuzaki-san," ucap Hayashi-san.
"Ada apa?"
"Monster-monster berkeliaran dan mulai menyerang orang-orang yang ada di jalan."
"Monster?"
Ryuzaki sempat berpikir sebentar dan menganggap kalau ini ada hubungannya dengan percobaan yang dilakukan oleh Ayakashi Corp. tapi ia menyingkirkan pikiran itu terlebih dahulu dan lebih mementingkan kondisi saat ini.
"Fokus untuk menyelamatkan para warga terlebih dahulu, panggil semua Exception yang ada di Tokyo untuk membantu dalam misi kali ini. Bilang kepada mereka kalau ini adalah misi darurat."
"Baik!"
Hayashi Satou pun pergi dari sana. Sementara Ryuzaki yang dari tadi sedang menerima telepon Oita-san. Ia pun tidak mengatakan apa-apa lagi dan langsung menutup teleponnya dan segera bergegas pergi dari atas atap untuk mempersiapkan pertarungan.
Bukan hanya di daerah Tokyo saja, daerah Kuni no Hashira lainnya yaitu daerah Osaka dan Nagoya juga mengalami penyerangan yang sama. Banyak monster-monster berukuran tiga meter yang berkeliaran dan menyerang warga-warga tak bersalah.
Organisasi di Osaka, yaitu Yellow Thunder saat ini juga sedang sibuk untuk menyelamatkan warga dan menghadapi monster-monster tadi. Tapi ia juga menghadapi masalah yang lebih besar yang juga dialami oleh Tokyo, yaitu kemunculan makhluk besar yang memporak-porandakan kota Osaka.
Gerakannya yang gesit dan lincah ditambah dengan tubuhnya yang besar membuat dengan mudahnya menghancurkan apapun yang ia lewati. Sisik berwarna hijau gelap seakan menjadi mimpi buruk bagi kota Osaka malam itu. Makhluk sepanjang 25 meter itu melata dengan desisan yang dapat dengan jelas terdengar.
"Ular raksasa?" ucap Yukimura Ren, pemimpin dari Yellow Thunder.
Sama dengan daerah Osaka dan Tokyo, daerah Nagoya juga tidak luput dari serangan makhluk besar dan monster-monster. Makhluk besar itu seakan menjadi penguasa langit dan sekaligus mimpi buruk bagi warga-warga di Nagoya.
Kadal itu memiliki sayap yang lebar dan jika dibentangkan dapat menghalangi bulan yang terlihat dari bumi. Dengan nafasnya yang dapat mengeluarkan api, ia membakar apapun yang ia lihat dan menyebabkan teror yang seperti neraka bagi kota Osaka. Makhluk yang dimaksud adalah naga, makhluk mitologi yang ia pikir hanya ada dalam dongeng.
"Naga, ya? Kukira itu hanya ada di buku cerita," ucap Mushino Aoda, pemimpin dari White Cloud.
Kembali ke pertarungan antara Murasaki Oita dan Astaroth. Yap, kembali ke pertarunganku. Sepertinya keadaan yang gawat juga sedang terjadi di bagian tiga daerah Kuni no Hashira lainnya. Ryuzaki langsung menutup teleponnya tanpa mengatakan apa-apa lagi dan aku pun juga langsung menaruh teleponku di kantong celanaku.
"Apa yang sudah kau lakukan?" tanyaku.
"Subject A, Gashadokuro menyerang Tokyo. Lalu ada Subject B1, yaitu World Serpent yang menyerang Osaka dan Subject B2, Wyvern yang menyerang daerah Nagoya. Dan ada juga Subject D, yaitu Delta yang menyerang Kyoto."
"Apa?"
"Sebenarnya aku ingin menggunakan Subject C untuk menyerang Kyoto, tapi karena ia sudah kabur aku mencari pengganti untuknya dan akhirnya aku menemukan Delta. Aku juga akan merebut kembali Subject C dari anak itu," ucap Astaroth.
Pertarungan ini menjadi lebih besar dari yang dibayangkan. Kali ini bukan hanya menyerang satu kota saja, melainkan empat kota sekaligus yang diserang secara bersamaan.
Bersambung
__ADS_1