Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 23 : Masalah Kecil Sebelum Bencana Besar


__ADS_3

"Hah?! Apa yang—"


Saat aku membuka mata, tanpa tau apapun aku saat ini sedang berada di lorong depan kelasku berada. Entah apa yang terjadi sampai aku bisa sampai disini, tapi suasana disini benar-benar sepi.


Aku mengecek plakat diatas pintu masuk untuk memastikan apakah aku berada di kelas yang benar dan ternyata aku benar. Setelah memastikan kebenarannya, aku masuk ke dalam kelas.


"Ap—! Apa yang terjadi disini …?"


Kelas dipenuhi dengan bercak-bercak darah yang hampir menutupi seluruh bagian kelas. Teman-teman sekelas ku juga semuanya telah tewas entah karena apa. Aku masuk kedalam lagi untuk melihat lebih jelas apakah ini kenyataan atau bukan.


Di bagian belakang kelas, aku menemukan tubuh Kudou dan Hira yang sudah bersimbah darah. Aku menghampiri mereka dan mencoba menyadarkannya.


"Oi! Kalian berdua! Bangun! Sebenarnya apa yang sedang terjadi disini?!"


Tapi percuma, mereka berdua sudah tak bernyawa lagi. Disaat momen-momen kemarahan dan kebingunganku itu, aku mendengar suara geraman di belakang tubuhku. Aku membalikkan badanku dan melihat hal yang tidak kuduga.


"Grrr …!!"


"Tidak mungkin …. Kalian seharusnya sudah mati."


Para Inuijin yang seharusnya sudah kukalahkan tiba-tiba berada disekolah dan membunuh semua orang yang ada di kelas. Aku juga mendengar langkah kaki yang berat dan nyaring ketika ia melangkah mendekat kesini. Lalu saat sesuatu yang menciptakan suara langkah kaki itu masuk ke dalam kelas, ia adalah sosok Inuijin yang lebih besar dari para Inuijin pada umumnya.


Di mulutnya ia sedang menggigit dan menyeret seseorang dengan rambut pirang yang sudah bercampur dengan merahnya darah. Inuijin besar itu membuang orang yang sedang ia gigit tadi ke lantai dengan kasar.


"Ini bohong, kan? Oi Herlin! Jangan bercanda!"


Setelah melemparkan Herlin begitu saja. Dengan mulut yang masih bersimbah darah, Inuijin besar bersama dengan para Inuijin kecil lainnya menghadap kearahku.


"Ka-Kau …!!"


Aku tidak mengerti apa yang terjadi saat ini. Tapi aku akan mengalahkan mereka terlebih dahulu.


"Grrghh …. I … I …."


Barusan aku mendengar kalau Inuijin paling besar itu hendak berbicara. I …? Apa dia ingin mengatakan sesuatu?


"I … Iraya! Cepat bangun!!"


Aku kemudian membuka mataku lagi dan saat memeriksa sekitar, aku tersadar kalau aku sedang berada di kamarku dengan ibuku yang sedang membangunkan ku. Ternyata yang barusan hanya sebuah mimpi.


"Mau sampai kapan kamu terus tidur seperti itu?!" teriak ibu.


"Ibu …?"


"Tentu saja ini ibumu! Cepat sana mandi lalu sarapan!"


"Hah … iya, bu. Aku akan segera mandi."


Setelah berjalan beberapa langkah, aku menghentikan langkahku. Aku melihat ke belakang dan menatap wajah ibuku. Benar. Suasana seperti ini lah yang akan kulindungi sekuat tenaga.


Aku tanpa sadar melamun menatap ibuku sambil tersenyum. Ibu pun menyadari tingkah laku anehku dan kembali berteriak lagi.


"Kenapa kau malah senyum-senyum?! Cepat mandi!"


"I-Iya, Bu."


**


Matahari sudah hampir menyilaukan sinar maksimalnya. Sepertinya hari ini aku berangkat terlalu siang. Aku mencoba mempercepat langkah ku agar tidak terlambat. Akan gawat jika aku terus-terusan datang terlambat.


Tapi tiba-tiba ada seseorang yang menyapaku dari belakang. "Pagi." Orang itu adalah Herlin. Ia ternyata juga berangkat sesiang ini.


"Pagi."


Aku memperhatikan penampilan Herlin yang saat ini. Dengan ponytail dan kacamata itu, membuatnya seakan adalah murid pintar yang menghabiskan kehidupan masa mudanya hanya untuk belajar. Tapi ini merupakan perubahan yang bagus, aku tidak bisa memungkiri kalau ia menjadi lebih cantik dibanding yang biasanya.


"Herlin, darimana kau mendapat ide ponytail ini?"


"Yuuki-san yang memberitahuku kalau lebih mudah jika pergi ke sekolah dengan penampilan seperti ini."


"Begitu, ya. Oh iya, soal rencana itu—"


Tiba-tiba dari belakang seseorang memanggilku dan memotong pembicaraanku yang ingin membahas tentang rencana kami.


"Oi, Iraya!"


Mereka adalah Kudou dan Hira yang berlari menyusul ku. Tapi mereka seketika kaget karena ada Herlin juga disini.


"Gekh …! Anak baru! Se-Selamat pagi," ucap Hira.


"Juga," ucap Herlin dengan singkat.


"Jangan memanggilku sambil berteriak seperti itu, tau. Bisa-bisa kalian ikut dijauhi sama sepertiku."


"Heh … kau mengkhawatirkan kami berdua? Tenang saja, aku akan buktikan kalau kau tidak bersalah!" ucap Kudou dengan penuh semangat.


"Teruslah berjuang, ya."


Kami berempat berjalan bersama sampai depan gerbang sekolah. Dan saat di depan gerbang sekolah, ada beberapa orang yang menghadang kami masuk.


"Tunggu dulu!" ucap salah satu dari mereka.


Mereka berjumlah lima orang. Semuanya tampak seperti berandalan dan sepertinya berasal dari kelas 12 karena perawakan yang lebih tua dariku.


"Siapa?" tanyaku.


"Dia orangnya, boss," ucap salah satu dari mereka menunjuk kearahku.


Tiba-tiba suasana disini menjadi tegang. Murid-murid lain yang sedang menuju ke gerbang sekolah seketika berhenti seakan kami adalah sebuah pertunjukan dadakan yang layak untuk ditonton. Ada juga yang berjalan tidak peduli dan ingin menghindari masalah.


"Ayo kita masuk."


Aku mengajak teman-teman ku untuk segera masuk ke sekolah dan menghiraukan orang-orang yang tidak kukenal ini.

__ADS_1


Swuushh…


Tapi, orang yang disebut Boss mencoba meninju wajahku yang masih bisa kuhindari dengan mudah. Aku memberikan tatapan tajam kepadanya. Aku tidak mengenal orang ini dan tidak pernah melihatnya. Apa masalahnya denganku?


"Apa maumu?"


"Lebih baik kau ikut kami, atau teman-temanmu akan dalam masalah," ucapnya sambil menunjuk kearah Kudou, Hira, dan Herlin.


"Baiklah." Aku langsung mengiyakannya tanpa ragu saat mereka mengajakku.


"Iraya, apa kau yakin?" tanya Kudou.


"Tidak apa, kalian duluan saja, aku masih ada urusan disini."


"Tapi—"


Herlin memegang pundak Kudou sekaligus memotong kata-katanya. Ia mencoba meyakinkan Kudou kalau semuanya akan baik-baik saja. Herlin juga menengok kearah Hira yang mengerti akan maksudnya. Lalu mereka semua pergi dari tempat itu dan masuk ke dalam gedung sekolah.


Setelah mereka pergi, berandalan yang dipanggil bos itu mengeluarkan seringai.


"Bagus sekali, sekarang ikuti kami."


Mereka mengajakku ke sebuah gudang di belakang sekolah. Suasana disini sangat sepi dan tidak ada kamera pengawas, cocok bagi mereka yang ingin melakukan perkelahian atau semacamnya.


"Bolehkah aku bertanya kepadamu, apa sebenarnya urusanmu denganku? Aku bahkan tidak mengenalmu."


"Kau …. Apa kau yang sudah berani macam-macam dengan Hasuki-chan milikku?" ucapnya dengan nada kesal.


Ternyata begitu. Rumornya sudah menyebar sampai ke kelas tingkatan atas. Tanpa sadar ujung bibirku terangkat dengan sendirinya. Rumor sampah itu membuatku ingin tertawa.


**


Sementara itu, Kudou, Hira, dan Herlin baru saja sampai di depan pintu kelas. Mereka berdua khawatir dengan apa yang terjadi dengan Iraya. Sementara Herlin terlihat tidak peduli dengannya dan langsung duduk di tempatnya.


"Kudou, bagaimana ini?" tanya Hira yang berjalan menuju ke tempat duduknya.


"Entahlah, kenapa jadi seperti ini?"


Tiba-tiba seorang siswa masuk dengan terburu-buru ke dalam kelas. Dia membuka pintu dengan kencang dan kemudian berteriak kepada seluruh anak yang ada di dalam kelas.


Blaam…


"Dengar sini semua! Satou Iraya sedang berurusan dengan anak berandalan kelas 12!" ucap anak itu.


Setelah pengumuman mendadak dari siswa itu, suasana kelas langsung berubah menjadi ramai. Banyak anak kelas yang menghubungkan kejadian ini dengan rumor yang belakangan ini beredar. Hasuki yang mendengarnya tiba-tiba tersenyum yang disadari oleh temannya.


"Chifu-san, apa ada yang lucu?"


"Tidak …."


Ia kemudian berdiri dan berjalan keluar kelas saat anak-anak yang lain sedang riuh. Tanpa Hasuki-san sadari, Herlin secara diam-diam memperhatikannya keluar kelas dan ingin berbuat sesuatu dengan hal itu.


"Nee … Hira, bagaimana kalau kita tanya anak baru itu? Dia terlihat dekat dengan Iraya."


Mereka berdua kemudian berniat untuk menanyakan hal ini kepada Herlin. Tapi saat mereka berdua menengok ke tempat duduk Herlin, mereka tidak bisa menemukannya.


"Dia menghilang," ucap mereka berdua berbarengan.


**


Herlin pergi dari kelas dan saat ini berada di atap gedung sekolah untuk mencari dimana kiranya Iraya akan berkelahi. Ia sangat yakin kalau mereka akan berkelahi. Angin yang kencang membuat rambut Herlin berkibar. Ia memperhatikan sekitar area sekolah, tapi tidak menemukan apa-apa.


"Apa aku harus menggunakan kekuatanku? Tidak, hal ini tidak penting, jadi kurasa tidak perlu," gumam Herlin.


Saat Herlin ingin turun untuk mencari dari bawah, samar-samar ia mendengar suara riuh perempuan dari bawah. Awalnya ia tidak peduli, tapi yang membuatnya penasaran adalah ada satu perempuan yang kelihatan ketakutan. Mereka pergi ke sebuah area pinggiran sekolah yang kosong.


Di satu sisi, ia ingin mencari Iraya dan melihatnya berkelahi. Tapi disisi lain, ia merasa kalau ada yang tidak beres dengan kumpulan murid perempuan tadi. Herlin sedikit menghela nafas dan akhirnya membuat keputusannya.


"Ya, dia tidak akan mati juga."


Herlin pun kemudian mengikuti kumpulan murid itu ke area sekolah yang kosong.


**


Sementara itu di area gudang sekolah, Iraya masih belum memulai perkelahiannya dengan lima orang itu. Mereka masih berbincang-bincang santai saja.


"Aku sarankan lebih baik kita hentikan saja, tidak ada untungnya melakukan hal seperti ini."


"Jangan pikir kau bisa lari dari kami semua."


Bos itu mengepalkan tangannya dan memukul telapak tangannya sendiri sebagai tanda kalau ia sudah siap berkelahi. Keempat orang lainnya juga sudah siap untuk membantu Bos itu.


"Ya sudahlah, kita hadapi saja. Dihentikan juga sudah tidak bisa," gumamku pasrah.


Si Bos berlari dengan cepat kearahku dan mencoba memukulku. Tapi aku bisa menghindarinya dengan mudah dan membiarkannya melewati tempatku berpijak.


Sebenarnya aku bisa saja menyerang balik, tapi untuk saat ini aku akan sedikit bermain-main dengannya. Aku mundur beberapa langkah ke belakang untuk mengambil jarak.


Tapi yang lainnya tidak tinggal diam dan secara bersamaan menyerangku secara acak dan tanpa rencana. Dengan beberapa langkah kecil dan efektif, aku bisa menghindari semua serangan mereka. Aku bahkan belum bergerak jauh dari tempatku berpijak sebelumnya.


Aku kemudian menyadari sesuatu yang penting saat mereka menyerangku. Aku bisa melihat pergerakan mereka dengan jelas. Semuanya terlihat lambat saat berada di dekatku. Bagaikan kamera yang diaktifkan ke dalam mode slow mo. Aku juga bisa merasakan orang yang ingin menyerangku dari titik butaku seakan melihatnya secara langsung. Apa ini salah satu kemampuan Exception?


"Benar. Sekarang apa kau menyadari kehebatannya menjadi manusia spesial?" tanya Cecilia.


Aku tersenyum karena hal itu. Lalu aku menangkap pukulan salah satu dari mereka dengan tangan kiri dan satu lagi dengan tangan kanan. Aku memegangnya dengan erat sehingga mereka tidak bisa lepas dengan mudah.


Aku juga merasakan ada seseorang yang ingin menyerangku dari belakang dan berhasil menghindarinya. Secara bersamaan aku juga menendang selangkangannya dengan menggunakan tumit yang membuatnya tidak berdaya.


"Akkhh …!"


Seorang lainnya ingin menyerangku langsung dari depan tapi aku melemparkan orang yang sedang kutahan dengan tangan kiriku dan menabraknya yang membuat mereka terjatuh. Orang yang sedang kupegang dengan tangan kanan pun saat sedang berusaha melepaskan tangannya, aku kemudian juga menendang selangkangannya dan membuatnya terlutut dan memegangi selangkangannya yang sudah kutendang.


Si Bos yang menyaksikannya hanya diam saat melihat teman-temannya dikalahkan. Wajahnya terlihat kesal seakan ingin membunuhku. Aku kemudian memasang wajah sombong kepadanya.

__ADS_1


"Apa masih mau dilanjutkan?"


"SIALAN !!"


Ia kemudian berlari dengan tangan mengepal dan bersiap untuk meninjuku, aku tidak merasakan jika ia akan melakukan tipuan apapun. Hah … merepotkan.


Braakkhh…


Sebelum pukulannya sampai ke wajahku. Aku mengarahkan kakiku dengan kencang kearah telinga kiri orang itu. Ia langsung terjatuh dan tidak bangun lagi. Sepertinya aku menendangnya terlalu keras sampai membuatnya tidak sadarkan diri.


"Berteriak seperti itu tidak akan membantu apapun," gumamku.


Setelah melihat sekelilingku dan lima orang yang kulawan tadi sudah kalah, aku berniat untuk kembali ke kelas karena jam pelajaran pertama sudah hampir dimulai. Tapi tiba-tiba ada seseorang yang datang menghampiriku.


"Kau tidak memberi mereka kesempatan sedikitpun ya, Satou-kun?"


"Apa yang kau inginkan?"


Orang itu adalah Hasuki-san. Dialah yang menyebabkan semua kekacauan yang aku alami saat ini. Aku kemudian menatapnya dengan tatapan tajam.


"Jangan tegang begitu, aku hanya ingin melihatmu saja."


Hasuki-san lalu menghampiri si Bos yang pingsan itu dan berjongkok untuk memeriksa keadaanya.


"Apa orang-orang ini adalah suruhanmu?"


"Tidak, aku bahkan tidak mengenalnya. Sepertinya mereka adalah satu dari banyak orang yang menyukaiku di sekolah ini."


Setelah memeriksa keadaannya sebentar, Hasuki-san kemudian berdiri dan berjalan pergi dari sini. Tapi sebelum pergi, ia sempat mengatakan sesuatu kepadaku.


"Jika kau menerima tawaranku, semuanya tidak akan menjadi serumit ini, kau tau."


Mau dipaksa seperti apapun aku juga tetap tidak mau. Tapi orang sepertinya rasanya harus diberi sedikit pelajaran. Nantikan lah hal itu, Hasuki-san! Bagaimana rasanya jika kau sangat dekat dengan kematian.


**


Sementara di sisi gedung sekolah yang lain, tiga orang perempuan sedang mengerubungi satu siswi yang terlihat ketakutan.


"Nee, Michi, bisa pinjamkan kami uang lagi? yang kemarin sudah habis," ucapnya kepada gadis yang sedang dipojokkan ke tembok itu.


"A-Aku sudah tidak punya uang lagi," ucapnya yang sedikit menahan tangis.


"Tapi kami sedang butuh sekarang. Kalau tidak, kau tau akibatnya, kan?"


Salah satu dari mereka mengeluarkan gunting dari saku rok nya. Lalu kemudian mengarahkan gunting itu ke rambut perempuan tadi sebagai sebuah ancaman.


"Ku-Kumohon! Aku sudah tidak punya uang lagi!"


"Cih, dasar keras kepala!"


Perempuan itu bersiap untuk menggunting rambutnya. Teman-temannya yang lain juga hanya tertawa melihatnya ketakutan. Tapi tiba-tiba seseorang datang menghentikannya.


"Ano …."


Herlin datang disaat yang tepat sebelum mereka berhasil menggunting rambut perempuan itu. Karena hal itu, perhatian semua orang yang ada disana tertuju kepadanya.


"Siapa kau? Apa kau tidak lihat kalau kami sedang sibuk?"


Tapi Herlin tidak menghiraukannya dan justru malah berbicara kepada gadis yang sedang mereka pojokkan. Ia bahkan menganggap kalau tidak ada orang lain selain gadis yang terpojok itu.


"Kau … bisa kesini sebentar?" ucap Herlin.


"Eh? Aku?"


"Beraninya kau menghiraukanku?!"


Perempuan yang membawa gunting itu kemudian menghampiri Herlin dan mengangkat kerahnya. Ia mengancam Herlin dengan mengarahkan gunting ke lehernya.


"Apa sekarang kau masih menghiraukanku?!"


"Apa kau yakin …."


"Eh?"


"… Ingin melakukannya?"


Herlin memberikan tatapan tajam kepada perempuan yang mengancamnya. Ia seakan menantangnya untuk menusuk leher Herlin jika berani. Tapi perempuan itu sadar kalau dia sedang berurusan dengan orang yang salah, ia pun melepaskan cengkramannya lalu mengajak teman-temannya pergi dari sana.


"Me-Mereka pergi?"


Setelah berhasil mengusir mereka, Herlin melirik sedikit kearah gadis itu dan kemudian pergi meninggalkannya. Ia merasa kalau ia sudah melakukan apa yang harus ia lakukan dan tidak ada yang perlu ia lakukan lagi disini. Tapi tiba-tiba ia dihadang olehnya.


"Tu-Tunggu sebentar! Terima kasih, karena telah menyelamatkanku!"


Gadis itu menundukkan kepalanya sebagai tanda terima kasihnya karena telah menolongnya. Tapi Herlin hanya membalas dengan kata-kata dingin.


"Sebaiknya kau cepat kembali ke kelas, pelajaran pertama akan segera dimulai."


"Etto …. Na-Namaku Kuromichi! Sekali lagi terima kasih karena telah menolongku!"


Ia tersenyum dalam diam melihat penolongnya pergi begitu saja. Ia berjanji kepada dirinya sendiri kalau ia akan membalas kebaikannya.


**


Aku yang berniat untuk kembali ke kelas tiba-tiba bertemu dengan Herlin di jalan. Aku tidak tau dia habis darimana, tapi aku langsung menghampirinya dan menyapanya.


"Herlin?! Apa yang sedang kau lakukan diluar kelas?"


"Tidak ada. Ngomong-ngomong Iraya …."


"Hn?"


"Setelah pulang sekolah nanti, ayo kita mencari sesuatu untuk bahan rencana kita."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2