Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 106 : Sparing


__ADS_3

"Aku tidak pernah melihatmu menggunakan pedang."


"Kalau begitu kau akan terkejut."


Herlin memasang kuda-kuda. Tapi kuda-kudanya berbeda dengan kuda-kuda milikku. Meskipun ia meremehkanku, tapi kalau soal berpedang ... aku tidak akan kalah darinya.


"Heh! Coba saja."


"Kalau begitu, tiga ... dua ... satu! Mulai!"


Dan sparing antara aku dan Herlin yang kali ini sedikit berbeda pun dimulai.


Zwuushh... Triiing...


Aku melesat dengan cepat menuju ke arah Herlin yang masih berdiri diam di tempat yang sama dan saat aku menyerangnya, ia pun berhasil menahannya dengan baik.


"Boleh juga, tapi bagaimana dengan yang ini!"


Aku kembali membombardirnya dengan belasan tebasan yang semuanya masih dapat ditahan oleh Herlin. Seperti biasanya, ia masih bisa menahan dan menghindari semuanya. Seperti yang diharapkan dari orang sepertinya.


Tapi aku tidak akan memberikannya kesempatan untuk berpikir. Ia adalah tipe orang yang jenius dan mampu berpikir tenang dan cepat dalam pertarungan, yang perlu aku lakukan saat ini adalah terus memojokkannya.


Ini juga pertama kalinya aku menggunakan gagang pedang yang diberikan oleh Kenshin-san. Rasanya begitu nyaman dan rasa terbakar yang biasanya aku rasakan kini hampir sudah tidak ada lagi. Benar-benar membantuku dalam pertarungan.


Herlin masih terus fokus dalam menangkis dan belum menyerang sama sekali. Aku belum pernah melihatnya bertarung menggunakan pedang sebelumnya, jadi aku yakin kalau aku akan menang.


"Apa kau akan terus seperti itu?!"


Zrrtt...


"Ap—?!"


Saat aku sedang fokus menyerangnya, tiba-tiba tanganku berhenti di udara seperti ada sesuatu yang menahannya. Tidak salah lagi, ini adalah kemampuan milik Herlin.


Sementara Herlin yang tidak menyia-nyiakan kesempatan itu langsung mengganti kuda-kuda bertahannya menjadi menyerang dan bersiap untuk melakukan tebasan horizontal ke arah leherku.


"Kena kau!"


Bzzt... Triiing...


Meskipun ia menghentikan pergerakanku, tapi pada detik terakhir aku berhasil bergerak dan menahannya yang membuatnya terkejut. Herlin memang tidak pernah bilang soal kelemahan kemampuan Mind Power-nya, tapi aku mengetahuinya sendiri saat penyerangan ke Heiwa Pharmacy.


Aku mengeluarkan seringai puas karena berhasil membuat Herlin terkejut. Dan setelah itu, aku mencoba menendang dagunya secara vertikal. Meskipun itu masih bisa dihindari olehnya dengan melompat salto ke belakang.


Setelah mendarat dengan sempurna, Herlin bertanya padaku soal bagaimana caraku untuk lepas dari pengaruh kemampuannya.


"Bagaimana caranya?"


"Apanya?"


"Cara kau lepas dari kemampuanku. Bagaimana caranya?"


"Hehehe ... entahlah."


Aku tidak ingin memberitahukannya begitu saja. Sebenarnya itu adalah hasil hipotesisku semata yang kebetulan berhasil, jadi aku akan membiarkan Herlin untuk memikirkannya sendiri.


Tapi aku salah jika mengajaknya adu kepintaran, ia bisa langsung tahu dalam sekejap mata saja. Herlin melihat ke arah telapak tangan kanannya dan menyadari kalau bagian itu gemetaran.


"Jadi begitu. Kau mengalirkan energi listrik ke pedangmu dan konduksi pada pedangku yang langsung sampai pada tanganku. Jadi itu kenapa aku terasa sedikit tersetrum tadi."


"Hah ... kenapa kau bisa menebaknya dengan begitu mudah, sih?" ucapku kecewa.


"Tapi tidak buruk juga. Aku terkejut karena kau mengetahui kelemahan Mind Power milikku."


Aku tersenyum. "Itu mudah saja! Seperti namanya, semua kendali serangannya berasal dari otakmu, jadi aku hanya akan terus menyerangmu sampai menang."


"Ya, kau benar sekali. Tapi jangan pikir kalau aku akan membiarkannya begitu saja."


"Kalau begitu aku akan pakai cara yang sedikit kasar."


Zwuushh...


Kami berdua kembali menyerang satu sama lain. Tapi selain kami, Cecilia dan Tetsu yang menonton kami juga mengomentari pertarungan ini.


"Hah ... mau bagaimana pun anak itu hanyalah seorang amatir," gumam Cecilia. "Gerakannya hanya berdasarkan insting dan intuisinya saja, tapi pengalamannya masih sangat kurang," lanjutnya.


"Benar sekali! Jika aku melawan Iraya, aku pasti akan menang mudah!" ucap Tetsu percaya diri.


Mereka berdua setuju kalau Iraya memang masih amatir dan kurang pengalaman dan itu adalah tugas mereka berdua untuk membimbingnya agar setidaknya bisa melindungi dirinya sendiri. Dan sekarang perhatian mereka berdua tertuju pada Herlin.


Sorotan mata tajam dan fokus yang tinggi. Gerakannya yang efektif serta kelincahannya dalam menghindar serta menangkis membuat orang yang melihatnya mungkin tidak percaya kalau Herlin baru belajar berpedang sekitar dua minggu saja.


"Dan kalau kita lihat lawannya, benar-benar jauh berbeda," gumam Cecilia.


"Nn! Lagipula ... aku yang turun langsung mengajarinya."


Sekejap nada suara Tetsu berubah menjadi lebih serius dan sombong yang tidak pernah Cecilia rasakan sebelumnya. Tidak ada keraguan dalam kata-katanya tadi sebagai seseorang yang sudah lama bersama ahli pedang.


"Kalau begitu Tetsu, menurutmu siapa yang akan menang dalam sparing ini?"


"Tentu saja Herlin!"


"Begitu, ya? Kalau begitu aku akan memilih Iraya."


"Eh? Bukannya kau yang bilang sendiri kalau Herlin unggul dalam semua bidang dari Iraya?"


"Aku tahu itu, tapi kau tahu sendiri Iraya, kan ...."


"Hn?"


"... Dia selalu memberi kejutan kepada kita."


Triiing... Triiing...


Lupakan obrolan Tetsu dan Cecilia di pinggir sana, kali ini aku sedang fokus bertarung melawan Herlin. Penentuan siapa yang menangnya juga tidak jelas, jadi aku pikir orang yang menyerah duluan akan dianggap kalah.


Tapi saat ini kami berdua tidak ada yang mau mengalah. Sama sekali.

__ADS_1


Herlin melesat ke arahku dan mencoba menyerangku dengan beberapa tusukan. Kuda-kuda bertahan yang selama ini ia tunjukan—memegang gagang pedang dengan dua tangan dan menunggu lawan datang, kini sudah berubah.


Tapi aku tidak mau kalah. Ini adalah salah satu kemampuan terbaikku jadi setidaknya aku tidak akan kalah dalam duel yang satu ini.


Triiing...


Pedang kami kembali beradu. Entah sudah berapa kali ini terjadi namun masih belum ada tanda-tanda sparing ini akan selesai. Keringat di wajah dan tubuhku juga sudah mulai bercucuran dan nafasku juga sudah mulai terengah-engah.


Aku melihat ke arah Herlin. Ia terlihat lebih tenang dan nafasnya juga tidak terlalu terengah-engah, keringatnya juga tidak keluar banyak membuktikan kalau perbedaanku dengannya masih sangat jauh dengannya.


"Hah ... hah ... sejak kapan kau belajar berpedang?" tanyaku.


"Sejak kau diculik waktu itu. Terima kasih karenamu aku jadi tidak bisa mengeluarkan auraku."


"Eh? Gara-gara aku?"


"Tentu saja, bodoh. Apa kau lupa kau pernah menitipkan Cecilia ke dalam tubuhku? Karena aura kami berdua tidak cocok, jadi aku tidak bisa mengeluarkan auraku dan terpaksa belajar berpedang."


"Ah~ itu, ya." Ternyata tanpa aku sadari, akulah yang membuatnya belajar berpedang.


"Lalu siapa yang mengajari kuda-kuda dan hal lainnya?" lanjut tanyaku.


"Kalau itu Tetsu yang melakukannya, dia benar-benar guru yang bisa diandalkan. Kemampuanku berkembang pesat berkat ajaran darinya."


Dengan kekurangan yang dia miliki. Ia tidak ragu untuk belajar hal baru dan mengambil resiko besar pada dirinya sendiri. Kalau menurutku kau sudah layak Herlin, kau sudah pantas menjadi seorang guru. Tapi aku tidak mengatakannya secara langsung, aku hanya tersenyum saja.


"Tapi beruntung semuanya berjalan lancar, ya?" ucapku.


"'Lancar', ya? Oh iya, aku belum mengucapkan hal ini ya padamu."


"Mengucapkan apa?"


"Terima kasih karena telah menyelamatkan nyawaku."


"Eh?"


"Waktu aku sudah pasrah dengan serangan Hasuki-san, kau tiba-tiba datang menyelamatkanku. Dan untuk pertama kalinya, saat aku berada dalam gendonganmu dan tatapan matamu menatap fokus pada Hasuki-san waktu itu, kau terlihat keren di mataku."


"Herlin ...?"


Pipiku memerah saat Herlin bilang seperti itu padaku. Ia membuatku tersipu bukan hanya karena membuatku teringat pada kejadian malam itu, tapi juga ini adalah pertama kalinya—setidaknya yang aku ingat, Herlin memujiku pada hal seperti itu.


Karena tidak tahan lagi menatap matanya terlalu lama, aku kemudian membuang muka karena tidak ingin memperlihatkan wajahku yang merah merona seperti saat ini.


"Kau tidak perlu bilang seperti itu, itu sudah menjadi tugasku untuk melindungimu," ucapku sambil memalingkan wajah.


Setidaknya aku senang karena aku bisa menepati janjiku pada Oita-san. Sebagai seorang laki-laki, meskipun saat ini Herlin lebih kuat dariku, tapi aku akan tetap berusaha melindunginya.


"Begitu, ya."


"Y-ya."


"Tapi Iraya, kau juga harus mengingat yang satu ini."


"Apa itu?"


"Eeh—Wuoogh!!"


Bruukkhh...


Herlin tiba-tiba menyapu kakiku dengan keras yang membuatku kehilangan keseimbangan. Lalu tanpa jeda, ia mencoba menusukku tepat di bagian ulu hati.


Triiing...


Tapi dengan cepat aku masih bisa menahannya dengan bagian tengah pedangku yang berlubang. Karena lebar pedang Herlin yang terlalu besar serta posisi menusuknya yang salah, aku bisa selamat. Meskipun Herlin langsung mendorongku jauh ke belakang.


"Oi! Apa yang kau lakukan?!"


"Aku memanfaatkan kelengahanmu."


"Kau ini ...! Hah ... tidak bisakah kau membaca situasinya sedikit?" ucapku.


Orang yang satu ini memang tidak bisa diandalkan. Yang ia pikirkan hanyalah celah dan menyerangku lalu mengalahkanku, dan setelah itu menceramahiku panjang lebar sampai telingaku berasap.


Aku yang tadi mendarat dengan tidak terlalu mulus kemudian berdiri dan membersihkan bagian punggung tubuhku. Sementara Cecilia yang ada di samping arena sparing pun hanya menepuk wajahnya kecewa.


"Sepertinya aku terlalu berharap padanya."


"Tidak apa-apa, kan? Kadang-kadang seru juga melihat mereka seperti ini," ucap Tetsu.


Kembali ke arena, aku menatap fokus pada Herlin yang juga melakukan hal yang sama. Dengan senyuman percaya diri di wajahku, aku akan mengakhiri sparing ini sekarang. Kebetulan aku juga sudah mulai haus, jadi akan aku buat dia membelikanku minuman.


Ziiing...


Saat Herlin sedang dalam posisi kuda-kuda, tiba-tiba kumpulan batu berukuran sedang melayang di belakangnya. Ia sudah mulai memakai kemampuannya.


"Curang! Kau bilang kau tidak akan menggunakan kekuatanmu!"


"Aku cuma bilang kalau aku akan memakai pedang dalam sparing ini, tapi tidak pernah bilang tidak akan menggunakan kekuatanku."


"Ada saja alasanmu. Tapi kalau begitu ...."


Bzzt... Bzzt... Bzzt...


"... Aku juga tidak akan tinggal diam."


Swuuushh...


Aku juga tidak mau kalah dengannya dan mengeluarkan elemen listrikku. Lalu kami pun melesat dan menyerang satu sama lain. Berbagai macam serangan kami berdua lancarkan satu sama lain yang mulai berdampak pada kami berdua.


Herlin yang sedang beradu pedang denganku juga melakukan hal lain yaitu mengendalikan batu melayangnya untuk menyerangku di saat bersamaan dengan tujuan memecah konsentrasiku.


Oleh karena itu aku memilih melompat salto ke belakang lalu mendarat dengan sempurna. Dan setelah itu aku mengarahkan pedangku ke arah Herlin.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Herlin.


"Hehehe ... jurus modifikasi dari teknik sebelumnya."

__ADS_1


"Hn?"


"Usui Tenrai!"


Aku memusatkan auraku pada pedangku dan menjadikannya sebagai sebuah meriam yang langsung menembakkan energi listrik lurus ke depan dengan kecepatan tinggi.


Ini adalah versi modifikasi dari Hanasaku Tenrai yang memerlukan media padat sebagai konduktornya dan bersifat menyebar. Sementara Usui Tenrai bisa melesat pada media udara dan bersifat lurus sejajar dengan arah ujung pedangku, makanya aku namakan Usui alias ramping.


Herlin yang melihat itu sedikit terkejut dan matanya melebar sebelum kemudian ia dapat menghindarinya. Ia sedikit melirik ke belakang dan melihat dampak dari tembakan energi barusan. Itu menghancurkan semua yang ia lewati dalam radius jarak seratus meter.


"Bahaya sekali kalau aku kena hal itu," ucap Herlin.


"Hah ... hah ... aku sudah menduganya kalau kau bisa menghindarinya."


"Karena serangan barusan kau kelelahan? Ya sepertinya ini juga sudah saatnya kau membelikanku minum."


"Tidak akan kubiarkan."


Zwuushh...


"Ap—?!"


Aku tahu aku memang kelelahan, tapi tiba-tiba pergerakannya yang ia lakukan saat ini tidak bisa aku lihat ikuti sama sekali. Saat aku sedang mencoba mencari pergerakan Herlin, tiba-tiba ia sudah berada di depanku lalu mengarahkan tendangan telak ke arah daguku dengan keras yang membuatku jatuh.


Buuaaghh...


Lalu setelah itu ia mengarahkan ujung pedangnya ke wajahku yang membuatku sudah pasti mati jika ini pertarungan sungguhan.


"Selesai! Pemenangnya Herlin!" ucap Tetsu.


"Hah ... bahkan dalam pertarungan pedang aku masih kalah denganmu," gumamku.


"Ternyata memang benar kalau kekuatan destruktif tidak cocok untuk dirimu. Apalagi dengan staminamu yang masih sangat rendah itu."


"Maksudmu?"


"Dengar ya, tidak ada gunanya mengeluarkan satu serangan besar yang tidak ada jaminan akan mengenai musuh, apalagi setelah itu kau langsung kelelahan karenanya."


"Te-terus aku harus bagaimana?"


"Jawabannya mudah. Ubah gaya bertarungmu dan tingkatkan staminamu, dua hal itu masih belum kau kuasai. Untungnya aku yang jadi gurumu."


Herlin sepertinya terlihat kecewa karena meskipun aku sudah mulai berkembang dalam teknik bertarung, tapi kapasitas stamina yang aku miliki tidak bisa berkata bohong.


Herlin kemudian mengembalikan pedang yang ia pegang kepadaku dan sekaligus membantuku berdiri. Lalu Cecilia dan Tetsu kemudian menghampiri kami berdua.


"Padahal aku mendukungmu, tapi kau masih saja kalah," ucap Cecilia.


"Benarkah? Maaf kalau begitu."


"Herlin memang hebat! Seperti yang diharapkan dari murid ajaranku!"


"Terima kasih."


Lalu Banshee juga menghampiri Herlin dan ingin kembali ke dalam mode tidak terlihatnya. Tapi aku menyadari kalau Herlin seperti kepikiran sesuatu saat melihat Banshee yang perlahan menghilang.


"Ada apa?"


"Tidak, aku jadi teringat dengan anak pendiam di kelas itu."


"Oh ... yang duduk di pojok depan itu. Kalau tidak salah namanya Yurei apalah itu."


"Iya anak itu, dia pernah bilang sesuatu yang membuatku terpikirkan sampai sekarang."


"Dan itu adalah ...?"


"Makhluk yang selalu mengikutimu itu ... apa dia milikmu?"


"Dia bilang begitu? Apa mungkin dia seorang Exception? Tapi dia hebat juga bisa menyadari keberadaan Banshee."


"Entahlah."


Herlin sepertinya masih kepikiran soal anak itu. Tentu saja akan kepikiran, orang asing yang tiba-tiba mengetahui rahasia terbesarmu tentu saja sangat mencurigakan.


"Bagaimana kalau kita selidiki?" ucapku.


"Selidiki?"


"Penyelidikan biasa saja, kita akan pastikan dia itu Exception atau bukan."


"Hmm ...."


Herlin masih memikirkan hal itu. Ya ini memang tidak bisa ditentukan hari ini juga jadi aku akan biarkan dia untuk berpikir dulu. Tapi tiba-tiba ia bicara sesuatu yang sudah berusaha aku hindari.


"Ngomong-ngomong Iraya, jangan pikir aku lupa kalau kau harus membelikanku minum."


"Gekh!"


"Kau yang kalah, ingat itu."


"Hah ... baiklah, baiklah."


Ingatannya kuat sekali. Mau tidak mau aku harus membelikannya meskipun aku sangat malas melakukannya, sih. Dan saat aku ingin turun, datanglah malaikat harapan di waktu yang tepat.


"Kami kembali!" Mei-senpai dan Anna-san kembali sambil membawa kantung plastik penuh dengan minuman kalengan dingin.


"Padahal sudah aku bilang tidak usah, tapi dia masih memaksanya," ucap Mei-senpai.


"Tenang saja! Kalian sudah bekerja keras hari ini, jadi biarkan aku memanjakan kalian sedikit dengan ini."


"Malaikat."


"Dewi."


Herlin dan aku tiba-tiba menggumamkan kata-kata untuk menggambarkan kebaikan Anna-san. Tubuhnya seakan memancarkan sinar yang sangat terang karena kebaikan yang selalu ia lakukan selama ini. Tapi berkat dirinya juga, aku terbebas dari hukuman Herlin. Yey.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2