
Aku mencekik Herlin dengan keras saat ini sampai membuatnya kesulitan berbicara dan bernafas. Tubuhku tidak bisa kukendalikan seperti ada sesuatu yang mencoba untuk menguasai tubuhku dari dalam.
Herlin mencoba melepaskan tanganku dari lehernya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memukul-mukul lenganku dengan gagang pedang. Tapi itu semua percuma, tidak ada satupun dari usahanya yang berhasil.
Cekikanku melemahkan Herlin dengan cepat, terlihat dari ekspresi kesakitan dan kesulitan bernafas yang ia tunjukkan. Juga pukulannya semakin lama semakin lemah dan ia pun menyerah.
Pedang Tetsu yang ia pegang pun terlepas dari genggamannya yang sudah melemah.
Sreeett… Craaassh…
Sebelum pedang itu jatuh ke tanah, Tetsu dengan cepat menyambarnya dan kemudian memotong tanganku yang masih mencekik Herlin. Darah dari tanganku yang terputus itu mengotori baju dan wajah Herlin serta Tetsu, lalu setelah itu juga Tetsu menggendong Herlin menjauh dariku.
"Ahakh … ahakh … ahakh …." Herlin terbatuk sambil memegangi lehernya yang menampilkan bekas saking kencangnya aku mencekiknya.
"Kau tidak apa-apa, Herlin?"
"Aku tidak apa-apa …, tapi apa yang kau lakukan kepada Iraya?"
"Aku tidak ada pilihan lain. Jika pemilikku sendiri kehilangan kendali, maka biar aku sendiri yang mengakhiri nyawanya," ucap Tetsu dengan wajah serius.
"Tapi …."
Mereka berdua memperhatikanku yang sedang kesakitan sambil memegangi tanganku yang sudah hilang satu. Sementara itu dari dalam tubuh Herlin tiba-tiba ia bersinar tanpa alasan yang jelas dan kemudian muncullah Cecilia.
"Cecilia?! Apa yang kau lakukan?!"
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan, untuk sekarang lebih baik lindungi aku sampai menuju tubuh Iraya."
Setelah bicara seperti itu tanpa menjelaskannya lebih jauh lagi, Cecilia langsung berlari menuju ke arahku yang tentu saja disadari oleh Delta—atau mungkin sekarang akan kusebut dia Hasuki-san saja.
"Subject C? Selama ini dia tidak ada di tubuh Iraya? Ya, itu tidak penting, aku hanya perlu menangkapnya lagi."
Hasuki-san mengarahkan tangan kirinya ke atas Cecilia yang sedang berlari. Lalu ia membuat sebuah kubah dari es yang cukup besar untuk mengurung Cecilia di dalamnya. Lalu ia pun menjatuhkannya dengan cepat.
"Si—!!"
Sryiiingg… Sryiiingg… Sryiiingg… Braakkhh…
Saat Cecilia sudah hampir pasti terjebak di dalam kubah es buatan Hasuki-san, tiba-tiba datang Tetsu yang melesat dengan cepat ke atas kepala Cecilia dan menebas kubah es itu hingga menjadi potongan-potongan es kecil yang tidak berbentuk.
"Tetsu?!"
"Aku tidak tahu apa yang sedang kau rencanakan, tapi cepat tolong Iraya!"
Cecilia langsung merubah wajah terkejutnya menjadi wajah serius dan menganggukkan kepalanya. Ia pun berusaha untuk tidak memperdulikan serangan yang datang dari Hasuki-san, karena ia percaya pada Tetsu.
Sementara Tetsu yang kemudian mendarat sempurna di tanah setelah menebas kubah es tadi, memasang kuda-kuda dan menghadang Hasuki-san yang mencoba mengganggu aku dan Cecilia.
"Lawanmu adalah aku!"
"Spirit rendahan tidak usah menggangguku."
Kliink… Kliink…
Hasuki-san kemudian membuat jarum-jarum es yang langsung ia tujukan kepada Tetsu. Tapi kali ini Tetsu memasang kuda-kuda yang berbeda, ia tidak memakai kuda-kuda Herlin sebelumnya.
Kraank… Kraank…
Lalu setelah itu ia melakukan tebasan sebelum jarum-jarum es itu menghampiri dirinya dan kemudian tercipta angin kencang yang membuyarkan semua jarum-jarum es dan tidak melukai Tetsu sedikit pun.
"Aku memang tidak sekuat Cecilia, tapi kau tidak boleh meremehkanku, loh!"
"Tch!"
Akhirnya mau tidak mau Hasuki-san harus menyerang Tetsu terlebih dahulu yang mengganggunya untuk sampai kepada Cecilia. Sementara itu Cecilia sudah sampai ke tempatku yang sedang kesakitan dan tidak bisa mengendalikan tubuhku.
"Iraya! Sekarang tenang dan dengarkan aku! Aku akan berusaha mencoba mengurangi sakitnya, makanya tenang dulu!"
Tapi aku tidak bisa mendengar suara Cecilia dengan jelas. Saat ini fokusku hanyalah untuk menghilangkan rasa sakit yang terasa di seluruh tubuhku. Aku memegangi kepalaku dan memberontak membuat Cecilia sulit untuk mendekatiku.
"Arrgghh …!!"
"Iraya?! Tenanglah!"
Cecilia kemudian mengerti kalau menggunakan cara biasa tidak akan berhasil, lalu setelah itu ia menunggu kesempatan yang tepat saat aku sedang membuka pertahananku.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya terbuka juga sebuah kesempatan bagi Cecilia untuk mendekatiku dan ia tidak menyia-nyiakannya sama sekali lalu kemudian memegang dahiku dan mendorongnya ke tanah sehingga aku terjatuh dengan keras.
Cecilia memfokuskan dirinya agar bisa masuk ke dalam tubuhku lagi saat ini. Dan setelah menunggu beberapa saat, tubuh Cecilia mulai bersinar terang dan ia pun menghilang dari depanku. Hasuki-san yang melihatnya kemudian terkejut sekaligus tidak terima saat Cecilia kembali masuk ke dalam tubuhku.
"Subject C?! Dia masuk lagi ke tubuhnya?!"
Sryiiingg…
Tapi Tetsu tidak membiarkan Hasuki-san bahkan untuk melamun sebentar saja. Ia benar-benar membuatnya fokus seratus persen terhadap pertarungannya dengan Tetsu.
Beruntung Hasuki-san masih bisa menghindari tebasan vertikal yang dilakukan Tetsu ke arahnya. Tapi itu membuatnya semakin kesal kepada Tetsu.
"Kau …!"
"Masih berani untuk menghiraukanku?"
Tetsu memberikan senyuman percaya diri kepada Hasuki-san yang membuatnya terlihat tidak takut sama sekali terhadapnya. Tapi bertarung begini baginya dalam waktu yang lama bukanlah hal yang bagus, mengingat dirinya adalah sebuah Spirit.
Semakin banyak sebuah Spirit mengeluarkan energi, semakin pendek juga waktunya berada di luar inangnya. Dan hal itu sekarang terjadi pada Tetsu. Dengan luka tusukan yang diterimanya sebelumnya juga membuat waktunya semakin singkat.
__ADS_1
Tetsu saat ini sudah mulai kelelahan dan ia menyadari kalau waktunya sudah tidak banyak. Ia pun memanggil Herlin yang dari tadi sedang diam sambil memperhatikan pertarungan mereka berdua. Menurut Tetsu, seharusnya tenaga Herlin sudah kembali lagi dan ia harusnya sudah bisa bertarung lagi.
"Herlin! Apa kau sudah bisa bertarung?!"
"Aku siap!" ucap Herlin yakin.
"Baguslah kalau begitu."
Tetsu kemudian berjalan mundur tetapi masih tetap menjaga kuda-kudanya serta memasang fokus pada lawannya yang berada di depannya. Tapi setelah berada di dekat Herlin yang sudah berdiri dan siap untuk bertarung, ia melepaskan kuda-kudanya dan berbicara pada Herlin.
"Ehehe … kadang aku iri pada manusia yang bisa terus bebas tanpa harus bergantung pada inangnya. Sisanya kuserahkan padamu ya, Herlin!"
"Aku mengerti."
Lalu dari tubuh Tetsu keluar cahaya yang bersinar terang dan kemudian tubuhnya pun menghilang, meninggalkan pedang itu sendiri jatuh ke tanah. Herlin mengambil pedang itu dan kemudian menaruhnya di dalam sarungnya di punggungnya.
"Istirahat saja, Tetsu. Kali ini giliran aku yang bertarung."
"Kali ini kau yang melawanku?" tanya Hasuki-san.
"Chifu-san …, apa kau tidak merasakan apa-apa saat membunuh teman-teman kelas kita waktu itu?"
"Waktu itu? Ah … yang waktu itu ya …."
Hasuki-san berandai-andai dan mengingat peristiwa memilukan yang terjadi waktu itu. Yang membakar kelas waktu itu adalah Hasuki-san, jadi Herlin menanyakan hal itu pada Hasuki-san. Setelah berpikir sebentar, Hasuki-san pun kemudian menjawab.
"… Entahlah, tapi sayang sekali kalau mereka semua mati. Tadinya aku hanya ingin melemahkan Iraya agar lebih mudah kami menangkapnya, ternyata merembet ke seluruh kelas."
Mata Herlin sedikit melebar, tapi tidak seperti sebelumnya. Meskipun terkejut, tapi ia sudah bisa menduga kalau hal itu yang akan dikeluarkan oleh Hasuki-san.
Sebenarnya itu bukanlah jawaban yang diinginkan oleh Herlin tapi untuk saat ini ia akan menyimpan kemarahannya dan akan melawan Hasuki-san sekali lagi.
"Begitu ya, tapi sayang sekali jawabanmu salah, Hasuki-san."
Ziiing…
Aura besar keluar dari tubuh Herlin yang menciptakan angin cukup kencang dan menerbangkan kerikil-kerikil di sekitarnya.
"Aku yang sekarang berbeda lho dari yang tadi."
"Tidak apa-apa, aku malah sempat bingung karena kau memakai pedang."
Pertarungan mereka akan kembali dimulai lagi. Tapi kali ini dengan kondisi yang berbeda dimana kedua belah pihak sudah bisa mengeluarkan seluruh kekuatannya masing-masing.
**
Sementara itu Cecilia yang sudah berhasil masuk ke dalam tubuhku langsung bergegas untuk melakukan sesuatu agar ia bisa menghilangkan rasa sakit di dalam tubuhku. Tapi Cecilia menyadari suatu hal.
"Barrier nya menghilang?"
Tidak ada lagi barrier yang menghalangi untuk mengalirkan kekuatan Cecilia ke seluruh tubuhku. Rantai-rantai yang dulu mengurungnya dan membatasi pergerakannya juga sudah tidak ada lagi.
Cecilia kemudian berkonsentrasi dan mencoba untuk menyembuhkan luka yang ada di dalam tubuhku. Tapi ia juga menyadari kalau ada sesuatu yang mirip dengan auranya yang memenuhi tubuhku saat ini, meskipun itu bukan berasal dari dirinya.
Srrttt…
Cecilia kemudian melihat keluar tubuhku kearah tanganku yang dipotong oleh Tetsu tadi. Tiba-tiba ia beregenerasi dengan sangat cepat dan sembuh seolah tidak terjadi apa-apa. Mulai dari tulang, daging, lalu kulitnya semuanya menjadi normal kembali.
"Tangannya sembuh?! Sial! Terlalu banyak hal yang tidak kumengerti, aku akan meminta penjelasan darinya nanti."
Ia kembali fokus untuk menyebarkan auranya ke seluruh tubuhku dan pada akhirnya menemukan sesuatu yang membuatku kesakitan.
Gyuut… Gyuut…
Setelah ditemukan oleh Cecilia, aura asing itu kemudian berubah bentuk menjadi cairan slime hijau yang bisa bergerak dan mulai menyerang kearah Cecilia. Tapi ia tidak tinggal diam begitu saja dan melancarkan serangan balik kepadanya.
Craaassh…
Slime hijau itu cukup lemah dan mudah dihancurkan, tapi kemampuan regenerasi miliknya tidak bisa Cecilia remehkan. Seakan tidak ada habis-habisnya, ia terus bergerak ke arah Cecilia walaupun sudah diserang terus menerus.
Lalu ruangan ini pun juga sudah hampir dipenuhi oleh slime hijau itu. Semuanya bergerak ke arah tengah-tengah yang terdapat Cecilia disana. Meski begitu, Cecilia tidak terlihat khawatir dan justru kelihatan marah.
"Kau pikir kau hebat, ya?"
Craaassh… Craaassh…
Cairan slime hijau itu seketika hancur ketika mendekati Cecilia. Ia seperti dikelilingi oleh pelindung yang melarang apapun masuk ke dalamnya.
"Aku asumsikan kalau kau adalah cairan buatan Ayakashi Corp. juga. Tapi kau hanyalah sebuah ketidaksempurnaan. Berani-beraninya makhluk sepertimu mendekati aku yang sempurna ini!"
Cecilia terus berjalan santai ke arah aura besar yang ia sudah rasakan dari tadi. Semua slime hijau yang mendekatinya seakan terpental dan hancur ketika mencoba mendekati Cecilia. Lalu setelah beberapa saat, ia sampai ke pusat cairan slime itu.
"Jadi kau, ya?"
Di depan Cecilia kali ini nampak sebuah makhluk hijau berbentuk wanita dewasa dengan keseluruhan tubuhnya berwarna hijau, dari ujung kepala sampai kaki.
Mata mereka berdua saling bertatapan. Wanita hijau itu menempel di sebuah pilar yang terbuat dari cairan hijau juga. Rambutnya yang seakan memiliki pikiran sendiri kemudian mencoba menyerang Cecilia yang berusaha mendekat. Tapi usahanya gagal.
Wanita hijau itu berteriak sambil membuka mulutnya lebar-lebar seakan ingin memakan Cecilia. Tapi tidak ada perasaan takut di dalam diri Cecilia, perasaan yang ia rasakan saat ini adalah satu, yaitu rasa jijik.
"Raaawrgghh …!!"
"Menjijikkan."
Craaassh…
__ADS_1
Pilar, rambut, serta semua slime hijau yang berada di dekat Cecilia mencoba menyerangnya secara bersamaan. Tapi semua usahanya sia-sia saat Cecilia dengan cepat memotong kepala wanita hijau itu yang menggelinding ke dekat kaki Cecilia.
"Graaaawwghhh …!!!"
Itu adalah teriakan terakhirnya sebelum ia berubah menjadi butiran-butiran kecil yang mengambang di udara dan kemudian menghilang. Seakan seperti gerbong kereta yang mengikuti kepalanya, sisa slime hijau yang lain juga ikut menghilang dan tempat ini pun menjadi bersih seperti semula.
Cecilia sedikit menghela nafas karena ia telah berhasil menghilangkan masalah utamanya. Dan sekarang tidak ada lagi yang bisa ia lakukan, sisanya tergantung padaku.
Sementara aku yang sedang bergelut dengan rasa sakitku tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh. Sesuatu yang seakan mendobrak keluar dari dalam tubuhku dalam satu kali dorongan.
Hal itu membuatku mengeluarkan semua yang ada di dalam tubuhku. Darah keluar bersamaan dari mulut, mata, telinga, serta hidungku membuatku terlihat seperti habis mandi darah. Rambutku yang seluruhnya tadi berwarna hijau, kini sudah kembali normal bersamaan juga dengan iris mataku yang sudah tidak oranye lagi.
"Iraya?! Kau tidak apa-apa?!" tanya Herlin.
"Kau melihat kemana?!"
Herlin yang sedang memeriksa keadaanku tiba-tiba diserang oleh Hasuki-san dengan semburan apinya. Beruntung ia masih bisa menahannya dengan kekuatannya.
Teriakan Herlin di telingaku tak terlalu terdengar karena darah yang keluar dari tubuhku terlalu banyak sehingga membuat kepalaku jadi pusing. Setelah pandanganku memudar, aku kembali jatuh pingsan.
Saat membuka mata, aku tersadar kalau aku tidak sedang berada di medan pertarungan. Aku ada di sebuah ruangan putih bersih tak berujung yang terasa nostalgia bagiku.
Aku pun menyadari sesuatu, kalau aku sedang berada di dalam pikiranku. Di tempat biasanya aku bertemu dengan Cecilia.
"Apa kau sudah sadar, Iraya?"
Seakan dibenarkan oleh suara yang memanggilku tadi. Aku pun bangun dari tengkurapku dan melihat ke arah Cecilia yang sedang berdiri dengan indahnya.
"Ce-Cecilia? Kau ada disini?"
"Rasanya lama sekali ya tidak bertemu denganmu. Padahal baru dua mingguan saja kita tidak bersama."
"Jika kau berada disini, berarti cara yang kuberikan waktu itu berhasil?"
"Yap, bisa kubilang setengah berhasil. Meskipun selama berada di dalam tubuh Herlin, ia jadi tidak bisa menggunakan kemampuannya."
"Begitu, ya? Aku lega mendengarnya."
"Iraya, aku ingin tanya sesuatu."
"A-Ada apa?"
Tiba-tiba Cecilia memasang wajah serius kepadaku seakan ingin menginterogasiku. Entah kenapa aku jadi takut setelah lama tidak melihatnya.
"Apa telah terjadi sesuatu saat kau disandera?"
Jadi itu yang ditanyakan. Aku khawatir kalau dia akan bertanya yang aneh-aneh, tapi ternyata dia hanya mengkhawatirkanku.
"Mereka menyuntikkanku dengan cairan hijau sebanyak tiga kali."
"Cairan hijau? Lalu apa yang terjadi pada tubuhmu setelah itu?"
"Rasanya seperti ada sesuatu yang hidup yang masuk ke dalam tubuhku. Sesuatu itu berusaha untuk mengambil alih tubuhku dan menggunakannya semau mereka, tapi untung saja aku bisa menahannya, jadi hanya penampilanku saja yang berubah."
"Penampilan? Aku rasa tidak ada yang berubah sama sekali," ucap Cecilia bingung.
"Eh?! Benarkah? Tapi aku yakin kalau rambutku—"
Aku mencabut beberapa helai rambutku untuk memastikan kalau rambut yang kumiliki sekarang adalah berwarna hijau. Tapi ternyata aku salah, rambutku sudah kembali coklat seperti sebelumnya.
"Eh? Aneh sekali. Lalu iris mataku bagaimana?" Aku menunjuk kearah mataku.
"Sudah kembali hitam juga."
"Seriusan?"
"Iya."
"Aneh sekali, tapi kurasa lebih keren jika aku punya rambut berwarna hijau, ya? Ehehe ...," gumamku.
"Masih bisa bercanda ...?" tanya Cecilia datar.
"... Ya kurasa itu tidak penting. Sekarang apa yang akan kau lakukan menghadapi situasi seperti ini?" lanjutnya.
"Tentu saja tidak aku tidak akan tinggal diam. Aku akan mengalahkan bos mereka dan menyadarkan Hasuki-san."
"Impian yang bagus Iraya, tapi apa kau sadar dengan kondisi tubuhmu?"
"Gekh …!"
Seperti yang dibilang oleh Cecilia, kondisiku saat ini sedang sangat tidak baik. Kekurangan darah adalah hal yang paling parah yang sedang aku alami saat ini, karenanya tenaga dan kemampuan bertarungku jadi menurun drastis. Aku pun menundukkan kepalaku dan memohon pada Cecilia.
"Aku mohon! Tolong sembuhkan aku!"
"Hah …. Untung saja ada aku disini," desah Cecilia seakan menghadapi sesuatu yang merepotkan.
"Cecilia memang malaikat! Aku tidak bisa hidup tanpamu!" Pujiku pada Cecilia.
"Kita lewatkan saja pujiannya, sekarang cepat sadar dan bersiaplah bertarung."
"Baik!"
Tubuhku bersinar dan lama kelamaan memudar meninggalkan Cecilia sendirian di ruangan ini. Lalu setelah itu aku membuka mataku dan kembali tersadar di dunia nyata. Aku sedang tengkurap dengan alas darahku sendiri, membuat wajahku kotor.
Aku pun berdiri. Aku juga bisa merasakan kalau Cecilia sedang melakukan pekerjaannya yaitu mengembalikan staminaku. Senyum kecil tercipta di ujung bibirku, rasa optimisku kali ini sangat tinggi.
__ADS_1
"Aku siap!"
Bersambung