Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 120 : Kerusuhan Menyebar


__ADS_3

"Akhirnya dimulai juga."


Astaroth yang memperhatikan kerusuhan yang sudah mulai terjadi di dalam. Bersama dengan Baram, Oita-san, Seana, Dillon, dan Delta mereka akan segera bergabung ke dalam kekacauan itu.


"Jadi, siapa yang akan turun ke dalam kekacauan ini?" tanya Astaroth.


Mendengar pertanyaan itu, Seana dengan antusias mengangkat tangannya. "Aku! Aku akan turun langsung!"


"Tidak."


"Eh?"


Tiba-tiba Dillon menyelak dan mengganggu rasa antusiasme dari Seana. Ia berjalan ke depannya dan segera memberitahukan alasannya.


"Sama besarnya seperti rasa keinginan saya untuk melihat Anda berkembang, tapi untuk sekarang kejadian ini masih terlalu dini untuk Anda, Seana-sama. Apa Anda setuju, Griffin-sama?"


"Kurasa Dillon benar. Dan panggil aku dengan nama Astaroth saat berada di sini, Dillon."


"Maafkan aku, Astaroth-sama!"


"Tapi Paman—!"


"Tapi walaupun aku bilang begitu, aku akan tetap membiarkanmu melihat dari dekat dalam pengawasan Oita dan Dillon."


Astaroth kembali memotong perkataan Seana. Tapi kali ini dengan jawaban yang menurutnya paling masuk akal untuk saat ini dan ia juga melihat ke arah Oita-san.


"Aku? Kau menyuruhku mengawasi anak ini? Jangan salahkan aku kalau dia tidak sengaja terbunuh, ya?"


Oita-san mengancam Astaroth dengan tatapan tajam kepadanya. Dillon dan Seana sedikit terkejut dan waspada terhadap peringatan itu, yang lainnya juga tidak menganggap hal itu bercanda karena yang bicara saat ini adalah Murasaki Oita. Kecuali Astaroth yang tidak terpengaruh sama sekali.


Ia menenangkan yang lainnya dan menanggapi perkataannya. "Jangan bertindak bodoh, Oita. Aku tahu kau tidak peduli dengan hidupmu sendiri, tapi jangan lupakan kalau anak-anak itu masih memiliki masa depan." Tentu saja Astaroth merujuk ke Herlin dan yang lainnya di Black Rain.


"Ada kemungkinan kau akan mati di tangan mereka seperti yang kau inginkan, dan itu adalah jarak yang tepat bagi Seana untuk menonton," lanjutnya.


Hening canggung dan menegangkan terjadi dari mereka berdua yang masih saling menatap tajam. Tapi pada akhirnya Oita-san sendiri yang memecahkannya dengan berhenti menatap mata Astaroth dan itu dianggap sebagai jawaban setuju bagi Astaroth.


"Baik, Delta dan Baram akan berpisah dan pergi ke arah lainnya."


Baram dan Delta dengan patuh mengangguk yang itu artinya rencana ini bisa segera dimulai. Lalu mereka semua bergerak menuju ke tempatnya masing-masing meninggalkan Astaroth sendiri yang terus memperhatikan kekacauan di bawah.


Dalam kesendiriannya saat ini, ia sempat berpikir anggota Black Rain yang secara kebetulan bekerja di sini. Astaroth kemudian menghadap ke atas lalu melebarkan kedua tangannya.


"Ini pasti takdir!"


**


Selain di dalam dan sekitar dome, kekacauan juga terjadi hampir di setiap bagian kota Nagoya. Jangkauan cuci otak yang dihasilkan oleh obat buatan Seana ternyata benar-benar bisa mencapai hampir semua orang biasa di kota ini.


Apalagi konser Rainbow Cookies disiarkan secara luas di seluruh Jepang. Ini juga yang menjadi incaran dari Seana dan Lennova karena syarat yang dibutuhkan hanyalah mendengar dan kekuatannya di bawah orang yang akan mencuci otaknya saja.


Bahkan tidak sedikit Exception yang kemampuannya berada di bawah Seana juga ikut terpengaruh meskipun itu tidak mempengaruhi mereka dalam waktu yang lama.


Tapi tetap saja, perbedaan jumlah Exception dan warga biasa di daerah Nagoya terlalu drastis. Jadi walaupun mereka hanyalah manusia biasa, tetap saja para Exception yang lebih kuat dari mereka dibuat kerepotan.


Sementara di luar kota Nagoya yang jauh dari pengaruh obat cuci otak Seana. Mereka para penggemar yang ingin menonton konser Rainbow Cookies juga dibuat kebingungan, salah satunya adalah Kudou.


Ia yang sedang live streaming di dalam kamarnya kali ini terperangah ketika melihat kejadian diluar dugaannya, padahal saat ini ia sedang memegang light stick dan memakai headband bertuliskan Rainbow Cookies.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" ucap Kudou terkejut sekaligus merinding melihat tayangan live stream konser Rainbow Cookies saat ini.


Kamera yang tidak bergerak sedari tadi menunjukkan kalau tidak ada siapa pun yang mengaturnya dan Kudou melihat seseorang yang ia kenal.


"Iraya?!"


Dan setelah melihat Iraya yang sedang mencoba melerai para penonton yang rusuh satu sama lain, sambungan live streaming untuk daerah di luar Nagoya pun terputus.


Kembali ke dalam kota Nagoya, kali ini di dalam kantor White Cloud. Mereka sedang dalam keadaan kacau karena tiba-tiba semua orang menjadi gila dan menyerang satu sama lain. Dan mereka lah yang paling mengetahui keadaan saat ini. Benar. Ini adalah ulah Exception.


"Lapor, Ketua Mushino! Kondisi di sekitar kantor juga sama! Para warga juga tidak bisa mengontrol dirinya sendiri dan bertindak agresif."


Tililit...


Selain seseorang yang datang ke ruangannya, ia juga mendapat sebuah telepon yang langsung ia angkat dan dengarkan. Dan itu juga merupakan laporan dari anggota White Cloud yang lainnya.


"Lapor, Ketua! Kami saat ini sedang berada sekitar 30 Km dari dome dan para warga juga mulai mengamuk. Kumohon berikan perintah secepatnya!"

__ADS_1


"Tetap lakukan sesuai yang aku perintahkan. Ikat mereka dan pisahkan agar mereka tidak saling melukai! Jika sudah sangat terpaksa, buat mereka tidak sadarkan diri!"


"Baik!" Lalu ia pun menutup teleponnya. Mushino juga melihat ke arah orang yang saat ini berada di ruangannya menunggu perintah. "Perintah itu juga berlaku untukmu. Cepat lakukan!"


"Baik!" Dan ia pun pergi dari sana.


Mushino yang saat ini sendirian di ruangannya hanya bisa berpikir dalam diam. Meskipun ia menduga kalau ini adalah perbuatan Exception, tapi menyerang dengan skala sebesar ini memerlukan kemampuan dan persiapan yang luar biasa.


Semuanya berawal dari dome tempat konser Rainbow Cookies, jadi ia menganggap kalau mereka mengincar salah satu dari anggota Rainbow Cookies. Karena para warga yang bersikap agresif meneriakkan kata 'Lindungi Rainbow Cookies'.


"Tapi tetap saja, orang yang melakukan hal ini terlalu nekat," gumamnya tersenyum miris.


Lalu Mushino menduga komplotan yang selalu menyebabkan masalah di Jepang, Astaroth dan anak buahnya. Ia sempat dengar kalau Astaroth berhasil dibunuh oleh Oita-san meskipun harus sampai mengorbankan nyawanya, tapi berbeda dengan para anak buahnya yang menghilang tanpa kabar.


Mereka bisa saja menggantikan posisi Astaroth sebagai pemimpin dan melakukan penyerangan ini. Tapi penyerangan ini terlalu dini dan buru-buru karena mereka baru saja kehilangan pemimpin mereka.


"Arrgh! Kepalaku pusing!" Mushino berteriak menyerah untuk memikirkan motif mereka yang sebenarnya.


"Entah mereka ini bodoh atau pemikiranku yang tidak sampai, yang jelas aku harus menghentikan kericuhan terlebih dahulu. Kalau tidak, bisa-bisa aku jadi bahan ejekan Ryuzaki pada pertemuan berikutnya," lanjutnya.


Dan kebetulan sekali saat ia berhenti memikirkan segala kemungkinan yang ada, anggota White Cloud lainnya datang ke ruangannya dengan panik.


"Lapor, Ketua!"


"Ada apa?"


"Pasukan kita yang sedang menahan para warga agar tidak saling melukai telah diserang!"


"Ada berapa orang?"


"Soal itu ... ada dua orang, Ketua!"


"Tidak mungkin! Lima puluh dari kalian kewalahan hanya karena menghadapi dua orang?"


"Ma-maafkan saya!"


Mushino kemudian bangkit dari kursinya dan berjalan keluar ruangan melewati anggota White Cloud tadi. "Apa yang kau tunggu? Cepat antarkan aku ke mereka!"


"Ba-baik!"


Delta menyemburkan api lewat tangannya yang membakar baju beberapa anggota White Cloud dan membuat mereka panik dan berlari secara acak. Sementara Baram berhasil melumpuhkan dan menghabisi sepuluh lawannya sekaligus hanya dengan tangan kosongnya saja yang membuat wajah dan bajunya penuh dengan darah."


"Apa kau sudah selesai?"


"Ya."


"???" Perhatian mereka berdua kemudian teralihkan dengan kedatangan dua orang yang salah satunya mereka kenal dengan baik.


"Dia ...." Ucapan Delta tergantung ketika dia mengenal orang yang datang tapi masih sedikit ragu. "... Tidak salah lagi, dia adalah Mushino Aoda," lanjut Baram.


"Jadi kalian yang membuat masalah di sini?" Mushino memperhatikan mereka berdua dengan lebih teliti. Ia mengenal laki-laki bertubuh besar itu, tapi tidak dengan orang dengan topeng dan jubah.


"Ternyata dugaanku benar, kalian yang menyebabkan masalah ini. Apa kalian sudah mendapatkan pengganti Astaroth atau semacamnya sampai berani melakukan hal sebesar ini?"


Tapi mereka tidak menjawab pertanyaan Mushino. Setelah hening sesaat, Delta malah bergerak beberapa langkah ke depan Baram. "Bolehkah aku urus yang disini sendiri? Kau bisa pergi ke tempat Seana dan yang lainnya," ucap Delta.


"Tapi, Bos bilang—"


"Aku akan baik-baik saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, lagipula aku harus membuktikan kekuatanku agar orang-orang dapat mengakui kemampuanku. Dan ini adalah saat yang tepat."


Meskipun ditutup oleh topeng, tapi Baram seakan dapat melihat wajah penuh keyakinan di baliknya. Hal itu membuatnya tidak bisa menolak lebih jauh lagi.


"Aku mengerti." Dan dalam diam, Baram pun pergi menjauh meninggalkan Delta sendirian. Membiarkannya menghadapi pemimpin White Cloud.


Delta pun tersenyum tipis di dalam topengnya. "Ya, aku akan membuktikan kekuatanku di sini." Dan setelah gumamannya itu, fokusnya kali ini tertuju pada lawan yang ada di depannya—Mushino Aoda.


**


Kembali ke dalam dome. Yap, suasana tiba-tiba menjadi kacau dan orang-orang mulai bersikap aneh layaknya zombie. Mereka menyerang dan melukai satu sama lain sambil menggumamkan kata 'Lindungi Rainbow Cookies' berulang-ulang kali.


"Ayolah kalian kenapa, sih?! Bersikap normal sedikit!" teriakku kepada mereka.


Tapi sepertinya mereka tidak mendengarkan peringatanku. Malahan mereka melirik ke arahku dan seperti menargetkanku semua. "Si-sial."


Ratusan orang mulai bergerak ke arahku dan mencoba menyerangku. Aku tidak punya pilihan lain selain menghindar, karena mereka hanya warga biasa yang kehilangan kesadaran. Jadi aku masih tidak boleh menyerangnya—Setidaknya itu yang menjadi kesimpulanku saat ini.

__ADS_1


Aku berlari menuju ke dinding dome dan mencoba meraih gorden yang akan aku gunakan untuk naik menghindari mereka semua. Haha! Kalian memang banyak, tapi aku punya strategi saat ini.


"Eh?"


Perayaan kecilku langsung terpotong karena salah satu dari mereka berhasil meraih kakiku dan mencoba menarikku ke bawah. Dan karena satu orang telah berhasil meraihku, orang yang lain juga menjadi lebih mudah dan ikut menarikku.


"Gordennya!"


Gorden kain yang sudah tidak kuat menahan tarikan ratusan orang pun akhirnya menyerah dan sobek membuatku jatuh ke atas ratusan dari mereka.


"Si-siapapun tolong aku!"


Bagian pinggang ke bawah tubuhku kali ini sudah mulai berat karena mereka saling bertindihan dan aku sudah semakin tidak bisa bergerak. Aku hanya bisa merangkak dan mencoba meraih siapapun yang bisa menolongku.


Dan saat aku sudah mulai putus asa, tiba-tiba aku melihat kaki seseorang yang berjalan mendekatiku dan rasa berat di tubuh bagian bawahku perlahan menghilang. Aku mencoba melihat ke atas siapa pahlawan yang menyelamatkanku.


"Herlin?"


"Apa yang kau tunggu lagi? Cepat bangun."


Aku tidak berpindah dari posisiku saat ini untuk beberapa saat. Lalu setelahnya, aku pun mengomentari tentang hal yang aku lihat.


"Apa kau selalu serata itu kalau dilihat dari bawah?"


Buaaghh...


Sebuah tendangan mengarah tepat, tajam, dan akurat ke arah wajahku yang membuatku terpental beberapa meter. Dan setelah itu aku langsung bangun meskipun masih sedikit pusing akibat tendangan Herlin.


Orang-orang yang tadi menindihku sekarang sedang melayang akibat kemampuan Herlin dengan bantuan elemen angin milik Mei-senpai. Lalu kemudian dengan sigap dan cekatan, Nigiyaka-san langsung mengikat mereka agar tidak menyerang kami atau satu sama lain.


Lalu ada Caramel yang mengurung mereka menjadi kurungan-kurungan kecil yang hanya cukup untuk beberapa orang, Ishikawa-san dan Akihito-san juga membantu banyak.


Pihak White Cloud juga sudah memberitahukan lewat telepon kalau tidak ada yang boleh melukai para warga, jadi aku dan yang lainnya melakukan kontak fisik seminim mungkin. Kerja sama kami sebagai organisasi benar-benar berjalan mulus dan setelah belasan menit kemudian, keributan di dalam dome berhasil mereda.


"Yosh. Ini yang terakhir." Aku mengikat orang terakhir dengan tali agar mereka tidak bertindak agresif.


"Apa sudah semua?" tanya Ishikawa-san.


Sebagian besar dari kami memberikan respon positif. Kecuali Akihito-san dan Nigiyaka-san yang seperti masih terasa terganggu. Dan sepertinya dugaannya tepat ketika sebuah kartu remi terbang ke arahnya.


Nigiyaka-san dapat menangkapnya dengan baik dan melihat kartu remi yang terdapat pesan di salah satu sisinya. Setelah membacanya, ia pun kemudian mengajak Akihito-san dan Mei-senpai ikut bersamanya.


"Akihito, Mei, cepat ikut aku."


Mereka mengangguk. "Baik."


"Aku serahkan pada kalian yang ada di sini, kami bertiga ada urusan sebentar."


Setelah mereka pergi dengan terburu-buru, kali ini fokusku sedang berada pada Arisu yang berada di atas panggung. Ia sedang menghadapi—lebih tepatnya menghindari serangan agresif dari anggota Rainbow Cookies lainnya.


"Apa yang terjadi pada kalian?! Apa kalian lupa siapa aku?!"


Tapi mereka berempat tidak memperdulikannya dan terus menyerang Arisu. Sorotan mata mereka terlihat seperti sedang dikendalikan sama seperti korban lainnya.


Saat Arisu terus mencoba dan tidak ada kemajuan, ia terkejut ketika seseorang bergerak dengan cepat dan memukul tengkuk mereka berempat yang membuat mereka tidak sadarkan diri, yaitu Herlin.


"Apa yang kau lakukan?! Jangan sakiti mereka!"


Plaak... Zwuushh...


Tapi kemudian Herlin berjalan mendekati Arisu lalu menamparnya, meskipun hal itu tidak berhasil karena ada sesuatu yang menghalangi wajahnya. Tapi Herlin tidak terlalu memperdulikannya.


"Tenangkan dirimu, aku hanya membuatnya pingsan. Kau ini juga seorang Exception, kan?" Herlin melihat telapak tangannya yang memerah setelah mencoba menampar Arisu. "Kalau begitu kau seharusnya juga tahu kalau kau harus tenang di situasi seperti ini."


"Tapi—!"


"Aku tahu kalau mereka temanmu yang berharga, tapi kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Dan itu adalah tugas kita untuk mencari tahu."


Arisu menelan kenyataan itu dalam diam. Ia memang sedikit tidak tenang tadi karena teman-temannya terlibat di dalamnya, tapi berkat Herlin kini ia sudah merasa lebih tenang.


"Aku mengerti. Maafkan aku, sekarang ayo kita bawa mereka berempat ke ruangan istirahat."


Herlin pun mengangguk dan akhirnya membawa mereka ke belakang panggung. ia juga memanggilku untuk membantu menggendong anggota Rainbow Cookies lainnya yang sedang tidak sadarkan diri.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2