Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 93 : Puncak Pertarungan


__ADS_3

Brraaakkhh…


Momen-momen damai itu tidak berlangsung lama karena tiba-tiba tembok Family Mart yang kami tempati saat ini tiba-tiba rubuh seperti ada sesuatu yang menghantamnya dari luar. Dan bersamaan dengan rubuhnya tembok itu, aku bisa melihat wajah Astaroth dibaliknya.


"Akhirnya aku menemukan kalian."


Beruntung aku masih bisa menghindar dan selamat, meskipun pedang Tetsu menjadi korbannya. Setengah bilahnya berhasil dihancurkan oleh Astaroth, walaupun begitu aku masih terus mengacungkan pedangku.


Tetsu bilang kalau ia tidak apa-apa menjadi salah satu keberuntungan lainnya bagiku. Untungnya hancurnya pedangku tidak begitu berpengaruh pada Tetsu.


Tapi masalah sebenarnya adalah orang yang ada di depanku ini. Kemampuannya mungkin sedikit berada di bawah Oita-san, tapi kemampuan regenerasinya itu yang membuatnya terlihat seperti abadi. Mau menebas tangannya atau menusuk jantungnya juga tidak terlalu berpengaruh baginya.


"Sial."


Jarak kami saat ini dengan Astaroth kira-kira sekitar 5 meter. Jarak itu hampir tidak berarti bagi Astaroth karena kecepatan yang ia miliki. Tapi meski begitu, saat ini ia tidak langsung menyerang. Ia heran dengan formasi kami saat ini.


Astaroth melihat ada sesuatu yang janggal dari Black Rain. Benar. Dua anggota Assassin juga ikut bertarung bersama Black Rain melawan dirinya yang membuatnya bingung dan sedikit terkekeh.


"Ahaha …! Kalian berdua akhirnya menampakkan wujud asli kalian, dasar pengkhianat!" Astaroth berbicara pada Nimis dan Ardenter.


"Benar juga …, kalau begini terus aku akan menjadi pengkhianat sungguhan," ucap Nimis.


"Hmm …?" Astaroth bertanya dalam diam.


Meskipun dalam kondisi yang tidak menguntungkan, Nimis masih bisa berbicara dengan biasanya disaat kami semua waspada dan sedikit takut.


"Aku dan Ardenter! Keluar dari kelompok Assassin bentukanmu!"


Nimis mengatakan hal itu dengan lantang dan keras yang membuat kami terkejut dengan keputusannya. Ishikawa-san sempat melihat ke arah Ardenter, tapi ia hanya diam saja dan seakan setuju dengan apa yang dikatakan oleh Nimis.


"Kau bilang kau tidak suka dengan negeri ini dan orang-orang di dalamnya? Kalau begitu aku juga akan mengucapkan hal yang sama denganmu …. Pergi dari negeriku, dasar penjajah!"


Astaroth tidak langsung menanggapi Nimis. Ia sepertinya juga terkejut dengan keputusan yang Nimis buat. Tapi sepertinya itu tidak menjadi sebuah masalah yang besar bagi Astaroth, karena setelah diam sebentar, ia malah tertawa.


"Ahaha … AHAHAHAHA …!!! Kau benar-benar mengatakan hal itu padaku?! Baiklah …, kalian semua memang pantas untuk dibasmi."


Seringai keluar dari mulut Astaroth seiringan dengan aura besar yang dapat kami rasakan berasal darinya. Waspada kami kembali meningkat tinggi saat merasakan hal itu.


Zwuusshh…


"Pertama-tama kita basmi dulu hama yang paling lemah!"


Astaroth bergerak dengan sangat cepat menuju Mei-senpai dan sudah berada dalam jarak untuk menyerangnya. Ia sudah bersiap untuk memotong lehernya dengan tangannya, sementara Mei-senpai masih belum bisa mencerna apa yang terjadi karena gerakan Astaroth terlalu cepat bagi penglihatannya.


Triiingg…


"Hoho … kau lumayan juga."


"Tidak akan kubiarkan kau menyentuhnya!"


Mei-senpai yang sudah tidak bisa menghindar dan hanya bisa melebarkan matanya pasrah, beruntung masih ada Ishikawa-san yang dengan cepat menangkisnya dengan perisai buatannya.


"Tapi kau terlalu lemah."


"Si-Sial!"


Brraaakkhh…


Astaroth mendorong mereka berdua dengan sangat keras sampai terpental jauh dan menghancurkan tembok Family Mart ini. Tapi untungnya mereka berdua tidak mengalami luka yang serius.


"Ishikawa-san! Mei-senpai! Ka—!"


Mataku melebar saat tiba-tiba Astaroth sudah berada di depan wajahku. Padahal sebelumnya ia berada dalam jarak yang cukup jauh denganku, tubuhku tidak bisa bergerak karena terkejut dengan kehadirannya.


"Kau seharusnya tidak memperdulikan orang lain saat dirimu sendiri dalam bahaya, inang Subject C."


Graabb…


"Ahaakkh …!!"


Astaroth mencekikku dengan genggamannya yang kuat dan mengangkatku tinggi. Saking kuat genggamannya, membuat kukunya yang tajam itu menembus kulit leherku dan hampir menyentuh tulang tenggorokanku.


"ArrRrgghhh …!!"


Aku berusaha memberontak dan mencoba berbagai cara untuk melepaskan tangannya dari leherku. Tapi meskipun aku bisa menyembuhkan diriku sendiri dari luka berat, tercekik dan dalam kondisi tanpa oksigen cukup lama membuatku lemas dan pusing.


"Iraya!"


Teriakan Tetsu terdengar dari dalam pedang yang sudah aku tidak genggam dengan kuat lagi. Dan pada akhirnya, aku melepaskan genggamanku dari pedang Tetsu dan membiarkannya jatuh ke bawah.


"Jangan mati, Iraya!"


Saat berada di udara, Pedang Tetsu bersinar dan keluar Tetsu dari dalam pedang itu yang tanpa jeda langsung menyerang Astaroth dan mengincar tepat ke arah lehernya.


Craaasshh…


"A-Apa?!"


"Hmm … siapa kau? Spirit? Kau lebih kuat dari Spirit yang biasa kutemui, tapi sayangnya aku tidak punya waktu untuk bermain denganmu sekarang."


Braakkhh…


"Ahaakkh …!!"


Tetsu yang mencoba menebas leher Astaroth, terkejut karena tebasannya hanya bisa menembus sedikit saja bagian kulit Astaroth. Seolah kulitnya terbuat dari besi yang tidak bisa ditembus oleh pedang.


Astaroth kemudian langsung menendang jauh Tetsu dan terpental menuju ke salah satu kulkas kaca Family Mart yang rusak karena bertabrakan dengan Tetsu.


"Si-Sialan kau …, As-Astaroth!"


Hinokami no Chikara : Hi no Zangeki, Ichinen!"


Blaaaaaarrr… Craaassh…


Serangan kejutan dikeluarkan oleh Nimis yang mengarahkan tebasan apinya menuju ke tangan Astaroth yang sedang mencekikku. Ia pun berhasil memutusnya dan aku pun jatuh ke tanah sambil memegangi leherku yang akhirnya bebas, meskipun harus batuk parah setelah itu.


"Hmm …? Kau benar-benar menyerangku?"


Swuuushh… Buugghh… Buuugghh…


Saat Astaroth masih mencoba meregenerasi tangannya lagi, Ardenter tidak memberikan waktu untuk istirahat baginya. Ia langsung melesat dan beradu pukulan dengan Astaroth.


Dengan senyuman di wajahnya, Astaroth masih bisa sedikit dilampaui oleh Ardenter soal adu pukulan dan serangan. Tapi itu tidak berlangsung lama ketika Astaroth sudah mulai sedikit serius.


Buuaakkhh…


"Tcih!"


Satu serangan telak ke perut membuat gerakan Ardenter sedikit melambat, tanpa menyia-nyiakan hal itu pun Astaroth langsung menyerangnya balik dan melampaui Ardenter dengan mudah.


Sryiing… Sryiiingg…


"Sekarang apa lagi?"


Ardenter sedikit melompat mundur dan bergerak ke samping membiarkan Nimis menyerangnya dari titik buta Astaroth barusan. Kerjasama mereka berdua benar-benar tersinkronisasi dengan baik sehingga membuat Astaroth sedikit kerepotan.


Saat Astaroth ingin menyerang Nimis, selalu ada Ardenter yang menangkis atau pun menyerangnya duluan sehingga Nimis tidak terluka, begitu juga sebaliknya.


Astaroth menyerang Ardenter kali ini, ia mencoba menusuk tepat ke jantung Ardenter dengan tangan dan kuku tajamnya. Tapi sebelum itu terjadi, Ardenter menahan serangan Astaroth dengan kedua tangannya sekaligus menguncinya sehingga tangan kanannya itu tidak bisa bergerak.


Tapi tangan kirinya masih bebas dan ia berniat untuk memenggal kepala Ardenter.


Craaasshh…


Nimis benar-benar tidak membiarkan itu terjadi. Ia langsung membelah telapak tangan Astaroth sampai ke lengannya, sehingga tangan kirinya kali ini mekar seperti sebuah bunga.


"Hehehem … harus kuakui, kerjasama kalian memang sangat baik. Tapi …."

__ADS_1


"?!!!"


"?!!!"


Syiiing…


Tiba-tiba mata Astaroth bersinar dengan sangat terang yang membuat mereka berdua harus menutup matanya.


Baaagghh… Baaagghh…


"OhhoOokHh …!!"


Tapi memang itu yang diincar oleh Astaroth karena saat Ardenter dan Nimis sedang tidak siap, ia langsung menendang perut keduanya secara bergantian dengan sangat keras sampai terpental jauh.


Ardenter dan Nimis terpental sampai menghancurkan bagian tembok Family Mart lainnya. Dan kali ini tinggal tersisa aku dan Herlin yang sedang tidak fit saja.


Astaroth kemudian berjalan santai sambil seringai dari mulutnya yang tidak pernah berhenti turun sejak awal pertarungan. Nimis, Ardenter, Ishikawa-san, Mei-senpai, bahkan Tetsu pun sudah dikalahkan olehnya dengan mudah. Apa-apaan kekuatan orang ini.


"Iraya, jangan lengah!" teriak Cecilia.


"Aku tahu!"


Sebelum sampai ke jarak yang bisa untuk menyerangku, Astaroth berhenti sebentar dan melihat tepat ke arahku. Ia seakan ingin berbicara kepadaku, sementara aku hanya waspada saja sambil mengambil pedangku yang jatuh dan mengalirkan aura Cecilia ke Pedang Tetsu yang rusak.


Ziiing… Klaaank…


Setelah beberapa saat, aura hijau tadi berhasil menggantikan setengah dari bilah pedang yang rusak tersebut dan pedang ini bisa digunakan kembali. Astaroth juga sadar dengan hal itu dan memujiku karena bisa melakukan hal seperti ini.


"Kau tentunya punya bakat untuk ini, Inang Subject C."


"…."


"… Tapi sayangnya kau terlalu naif. Itulah kenapa orang-orang di sekitarmu selalu mati dan meninggalkanmu. Andai saja kau mau bekerjasama denganku lebih awal, pasti sampai sekarang keluarga dan teman-teman yang kau sayangi itu masih utuh."


"…!!"


"Jangan dengarkan dia, Iraya!"


Cecilia mencoba menyadarkanku. Dia benar, jika saja aku bisa lebih kuat sejak awal, pasti semuanya tidak akan menjadi buruk seperti ini. Tapi itu semua telah berlalu dan tidak ada yang bisa aku lakukan untuk merubahnya.


Dan ini saatnya bagiku untuk menatap masa depan dan melindungi orang-orang yang masih bisa aku lindungi. Pemikiran itu telah tertanam di dalam pikiranku saat ini, jadi apapun yang ia katakan tidak akan berpengaruh lagi padaku.


Aku menatap Astaroth dengan tatapan tajam dan optimis. Persis seperti tatapan yang biasa aku keluarkan sejak dulu. Astaroth yang menyadari kalau rencananya gagal pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


"Tidak berhasil, ya? Kalau begitu aku hanya perlu untuk—Hmm …?"


Astaroth mencoba kembali berjalan, tapi ia sadar kalau ia tidak bisa melakukannya. Seolah dirinya sedang diikat oleh sesuatu yang tidak terlihat, ia mencoba untuk memberontak sedikit tapi masih tidak bisa dan akhirnya ia sadar kalau ini adalah ulah kekuatan Mind Power milik Herlin.


"Kau …," ucap Astaroth bingung sekaligus kesal.


"Iraya, sekarang!"


Swuuushh…


Tanpa menyia-nyiakan kesempatan yang Herlin berikan, aku langsung melesat menuju ke Astaroth dan mencoba untuk menebas lehernya dalam sekali serangan. Astaroth melebarkan matanya saat aku ingin memenggalnya, tapi disaat-saat terakhir aku bisa melihatnya, kalau ia mengeluarkan sebuah senyuman.


Praaankk…


"Heh …."


Sryiiingg…


Aku mendarat dengan sempurna setelah menebas leher Astaroth. Atau kupikir begitu. Aku terkejut karena tidak ada darah di sekitarku atau setidaknya di pedang yang kupakai untuk menebasnya. Entah kenapa aku juga tidak merasa kalau aku telah menebas sesuatu, itu berarti ….


"Kau gagal."


"Ap—?!"


Aku menengok ke belakangku. Astaroth sudah berada di hadapan Herlin dan sedang memegang serta meraba dagu Herlin lembut. Sementara Herlin hanya diam dan tidak berbuat apa-apa karena masih terkejut dengan semua yang terjadi, Astaroth berhasil keluar dari Mind Power Herlin dan bergerak cepat menghindari seranganku.


"Wajahmu benar-benar indah, Ririsaka Herlin … terutama warna matamu."


Astaroth masih terus menyentuh dan meraba wajah Herlin sebelum akhirnya ia mencekik dan mengangkatnya tinggi keatas. Aku yang tidak ingin diam saja melihat hal itu kemudian kembali berdiri dan menyerang Astaroth lagi.


Tapi Astaroth menggunakan cara licik, ia menggunakan Herlin sebagai tamengnya sendiri yang membuatku berhenti sesaat sebelum pedangku menembus dada Herlin.


Baakkhh… Buugghh… Graabb…


Astaroth kemudian dengan cepat menendangku di perut yang membuatku menunduk, lalu di belakang leher dengan tumit sepatunya yang membuatku bersujud, dan akhirnya mencekikku lagi dengan tangan satunya.


Aku dan Herlin yang saat ini sedang diangkat keatas oleh Astaroth, tidak bisa berbuat banyak dan hanya bisa sedikit memberontak. Tapi itu semua percuma karena kekuatan Astaroth jauh di atas kami berdua.


"Ahaakkh …!!"


Herlin yang memang belum fit kembali memuntahkan darah dari mulutnya. Tubuhnya sudah terlalu lemah sebelumnya. Sial! Jika ini dibiarkan terus maka nyawa Herlin bisa dalam bahaya. Aku harus melakukan sesuatu secepatnya!


Cecilia! Wanita itu, apa dia tidak punya rencana. Biasanya disaat seperti ini ia akan langsung melindungiku dan membuatku selamat apapun yang terjadi. Tapi aku tidak menduganya, jawaban yang diucapkan oleh Cecilia.


"Aku akan keluar dari tubuhmu dan menyerahkan diri. Ini adalah satu-satunya cara agar kalian semua bisa selamat."


Bukan itu yang aku maksud, dasar wanita bodoh! Semua rencana ini aku buat agar kau tidak kembali ke tangan Astaroth. Bukan malah menyerahkan diri seperti itu.


"Tapi jika aku tidak keluar sekarang, kalian semua akan terbunuh. Ini adalah cara terakhir yang bisa aku pikirkan saat ini, kau tidak bisa menghentikanku," ucap Cecilia keras kepala.


Sial! Wanita ini. Kenapa malah sekarang dia bersikap bodoh. Tubuhku mulai bersinar berwarna kehijauan, Cecilia benar-benar serius dengan keegoisannya kali ini.


"Tu-tunggu … Cecilia …."


"Apa yang terjadi padamu? Apa kau ingin meledakkan diri? Asal kau tahu saja, ledakan tidak bisa membunuhku."


Sial! Kau tidak boleh keluar sekarang. Jika kau keluar, kondisinya tidak akan bedanya dengan kalah. Tapi dia tidak menjawab lagi, Cecilia sudah bersiap untuk keluar dari dalam tubuhku dan menyerahkan diri.


"Jangan … keluar … Cecilia …."


"Sebenarnya apa yang kau gumamkan dari tadi?"


"Tunggu!"


Tiba-tiba Cecilia berbicara dengan keras membuat perhatian aku, Astaroth, dan Cecilia tertuju padanya. Sinar dari tubuhku juga perlahan meredup menandakan kalau Cecilia tidak jadi keluar dan menunggu rencana Herlin.


Aku melihat ke arah Herlin dan ia memberikan tatapan yang sudah lama tidak aku lihat. Tatapan yang ia pancarkan saat awal-awal aku bertemu dengannya, tatapan seorang pembunuh. Entah kenapa aku merasa merinding ketika melihatnya dengan tatapan itu.


"Lagi-lagi tatapanmu itu … apa yang akan kau lakukan?"


"Tidak kusangka aku akan memanggilmu lagi …," gumam Herlin.


"Hmm?"


"… Banshee."


Nama yang disebut Herlin. Itu adalah nama The Unseen miliknya. Itu berarti makhluk itu akan datang. Aku tidak tahu apa dia bisa membantu atau tidak, tapi aku harap dia bisa menjadi solusi dari kebuntuan ini.


Degh… Degh…


Tiba-tiba bulu kudukku dan Astaroth berdiri. Ada sesuatu yang mendekat dengan aura yang dingin dan mengerikan. Sesuatu itu sedang menuju kesini … dengan sangat cepat. Astaroth yang sadar kalau dirinya sedang dalam bahaya langsung melepaskan cekikannya dan melompat ke belakang.


"Uhuukh … hah … sial aku tidak bisa bernafas. Herlin, kau tidak apa … apa?"


Saat aku ingin menyelesaikan ucapanku, tiba-tiba sesosok wanita muncul di depan kami berdua seolah menghalangi Astaroth dan melindungi kami. Wanita itu tidak menapakkan kakinya ke tanah dan terbang dengan anggunnya. Ini adalah The Unseen milik Herlin. Banshee.


Banshee melihat ke arahku. Bulu kudukku berdiri ketika mata kami bertatapan, ia mencoba memastikan apakah aku ini musuh atau bukan dan sepertinya ia mengingat wajahku. Aku kemudian melihat ke arah Herlin yang masih kesulitan bernafas dan menghampirinya.


"Kau tidak apa-apa?" tanyaku.


"Ya, tapi untuk sekarang jangan dekati aku dulu. Itu bisa memancing kemarahannya."


"Kemarahannya?"

__ADS_1


Aku melihat ke arah Banshee yang sudah menatapku dengan tatapan membunuh yang mengerikan. Perlahan aku mundur menjauh dari Herlin dan lama kelamaan wajahnya kembali normal.


"Apa itu? Makhluk kontrak? Waktu itu dia juga sempat memanggilnya, tapi dia langsung kabur setelah itu. Apa kali ini ia akan menggunakannya untuk melawanku?"


Banyak pertanyaan yang berada di kepala Astaroth saat ini. Tapi yang menjadi pertanyaan terbesarnya adalah nama makhluk itu. Banshee. Ia pernah mendengar nama itu sebelumnya jauh sebelum ia datang ke Jepang.


"Banshee …."


Herlin memanggil Banshee dan ia pun mendekatkan telinganya ke mulut Herlin agar ia bisa mendengarnya dengan lebih jelas. Lalu Herlin menunjuk ke arah Astaroth dan memberikan perintah pada Banshee.


"… Hancurkan orang itu."


Perintah dari Herlin terdengar jelas dan Banshee pun bersiap untuk menjalankan perintah Herlin.


"AaaaAaAAarrRRRRrrRrGggggGgghhHhh !!!!!!!"


Teriakan yang sangat keras dilantangkan oleh Banshee hingga semua orang yang ada disini harus menutup telinga mereka saking kerasnya. Wajah Banshee kemudian berubah menjadi mengerikan dan kukunya juga memanjang. Tidak ada lagi perempuan anggun seperti sebelumnya, hanya monster mengerikan yang tersisa.


Swuuushh… Swuuushh…


Banshee mulai bergerak. Ia menghilang karena kecepatannya yang sangat tinggi. Sementara Astaroth yang sadar kalau dirinya jadi target Banshee langsung waspada lagi. Ia melirik ke kanan dan kiri karena matanya kesulitan untuk mengetahui pergerakan Banshee.


Zwuusshh… Sryiiingg… Srraaakkk…


Banshee berhasil mengenai dada Astaroth meskipun ia berusaha menghindarinya. Empat bekas cakaran terukir di dadanya yang mulai mengeluarkan darah segar. Aku bahkan tidak bisa melihat pergerakan Banshee dan Astaroth bisa menghindarinya.


"Tch! The Unseen memang merepotkan kalau memiliki tuan."


Ada yang aneh dengan luka Astaroth kali ini. Regenerasi miliknya melambat tidak seperti sebelumnya. Sepertinya serangan Banshee bisa memperlambat regenerasi Astaroth.


"Ce-Cepat … dan juga kuat," gumamku.


"Memang seperti itu kekuatan Banshee. Ia adalah The Unseen yang ditugaskan untuk menjagaku."


"Ditugaskan? Ditugaskan oleh siapa?"


"Kalau itu, bisa dibilang … oleh orang tuaku."


"O-Orang tuamu?"


Banshee kembali menyerang Astaroth secara bertubi-tubi. Ia tidak memberikan kesempatan sedikitpun bagi Astaroth untuk menyerang balik, kemampuan aneh yang dimiliki Banshee yang bisa memperlambat regenerasi Astaroth benar-benar membuatnya unggul.


"Sialan!"


Blaaaaaarrr…


Astaroth mengeluarkan bola api besar yang langsung diarahkan kepada Banshee. Tapi itu tidak berpengaruh baginya dan justru membuatnya semakin marah. Banshee menangkisnya dan mengirim bola api tadi ke arah lain, sayangnya itu menuju ke arah Herlin.


Sryiiingg…


Untungnya aku masih bisa membelah bola api besar tadi dengan pedangku sehingga tidak ada sedikitpun yang mengenai Herlin. Banshee yang merasa kalau dirinya melukai Herlin kehilangan fokus bertarungnya dan Astaroth memanfaatkan hal itu.


"Kena kau sekarang!"


Bzztt… Bzzztt… Blaaaaaarrr…


"AaaaAaAAarrRRRRrrRrGggggGgghhHhh !!!!"


Teriakan keras kembali dibuat oleh Banshee. Tapi kali ini lebih kearah teriakan kesakitan, ia terkena serangan telak dari Astaroth yang membuatnya kesakitan. Tubuhnya tersetrum oleh Astaroth dan Banshee seketika terdiam.


"Hmph …! The Unseen sialan. Dia membuat regenerasiku jadi lambat, apa-apaan kemampuannya itu? Menjijikkan sekali," gumam Astaroth.


Degh…


Kali ini Astaroth kembali merasakan rasa sakit di dadanya. Ini bukan karena serangan Banshee, ia juga merasakan hal ini sebelumnya. Rasa sakit aneh seperti ada yang menusuk-nusuk jantungnya.


Degh… Degh…


"AaaAargghh !!!"


Craaasshh…


Astaroth berteriak keras saat ada sesuatu yang merangsek keluar dari dalam dadanya. Ia melubangi kulit dadanya dan menunjukkan sesuatu yang melakukan hal itu padanya dan aku mengenali hal itu.


"Apa yang terjadi padanya? Apa Banshee yang melakukan itu?"


"Tidak, Banshee tidak bisa melakukan hal seperti itu."


"Tunggu, itu …. Bukankah itu tangan hitam yang sama dengan milik Oita-san?"


"Tangan hitam?"


Herlin mencoba melihatnya dengan lebih jelas lagi. Dan ia bisa melihatnya kali ini kalau ada tangan hitam yang merangsek keluar dan melubangi dada Astaroth. Ini kesempatan yang langka bagi mereka dan Herlin tidak ingin menyia-nyiakan hal ini.


"Kau benar. Haah … Banshee! Serang dia sampai tidak bisa beregenerasi lagi!"


Herlin menarik nafas dalam dan berteriak sekuatnya. Ia memerintahkan Banshee untuk kembali menghajar Astaroth yang sedang kesusahan menghadapi tangan hitam itu.


"AaaAarrggHhh !!"


Banshee mulai bergerak kembali. Serangan Astaroth sebelumnya mungkin berpengaruh baginya, tapi ia masih bisa melakukan tugasnya untuk melindungi Herlin saat ini.


Craaasshh… Craaassh… Craaassh…


Serangan dan cakaran bertubi-tubi terkena telak pada Astaroth yang masih berkutat pada rasa sakit di dadanya. Tubuhnya tercabik-cabik parah tapi anehnya ia masih hidup dan masih menjerit kesakitan.


"Di-Dia tidak mati juga," gumamku.


"Iraya!"


"Ada apa, Cecilia?"


"Tukar tempat denganku sekarang, aku ingin melakukan sesuatu padanya."


"Hah? Memangnya apa yang kau bisa lakukan?"


"Sudahlah cepat lakukan saja!"


"Baiklah, baiklah."


Aku pun bertukar kesadaran dengan Cecilia dan kali ini aku berada di tempatnya, di ruangan putih bersih dengan sedikit cahaya penerangan. Aku yakin kalau dia tidak berniat untuk mengambil kesadaranku seutuhnya karena aku sudah menaklukkan Spirit-Spirit itu sebelumnya.


"Hah … apa-apaan sih dia itu," ucapku yang kemudian duduk di atas lantai putih ini.


Penampilanku pun kembali berubah. Rambutku kembali sepenuhnya berwarna hijau dan iris mataku berwarna oranye, sama seperti milik Cecilia. Cecilia yang mengambil kesadaranku pun kemudian berbicara pada Herlin.


"Herlin!"


"Iraya—tidak, Cecilia?"


"Benar, saat aku suruh untuk menarik The Unseen milikmu itu. Lakukan, ya? Aku memiliki suatu rencana untuk mengalahkannya."


"Rencana? Aku tidak terlalu mengerti maksudmu tapi baiklah."


Herlin mengangguk dan menyetujui rencana Cecilia meskipun ia tidak terlalu mengerti. Lalu mereka pun kembali fokus lagi pada pertarungan Banshee dan Astaroth yang mulai berpihak pada Banshee.


Astaroth masih kesakitan dengan serangan Banshee dan juga tangan hitam yang melubangi dadanya. Sementara Banshee juga tidak berhenti untuk menyerang Astaroth dengan cakar tajamnya. Tapi sudah cukup bagi Banshee saat ini, karena Herlin telah memanggilnya.


"Banshee! Mundur sekarang juga!"


"??!!!"


Banshee pun menuruti perintah Herlin dan terbang mundur ke sebelah Herlin. Sementara tubuhku yang saat ini sedang dikendalikan Cecilia, berjalan perlahan menuju Astaroth yang sedang terlutut kesakitan.


Ia mengangkat wajah Astaroth yang menunduk dan membuatnya menatap matanya secara paksa. Astaroth yang masih mencoba meregenerasi meskipun kecepatan regenerasinya menurun drastis hanya pasrah menatap mata Cecilia.


"Tatap mataku … dan rasakan neraka yang kau ciptakan sendiri."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2