
Setelah sparing yang tidak biasa kemarin dan aku yang juga tidak percaya kalau aku bisa kalah melawan Herlin dalam pertarungan pedang, kami pun mendapat dua kesimpulan
Kesimpulannya adalah jika aku belum bisa meningkatkan kapasitas staminaku, maka itu belum saatnya untuk melakukan serangan destruktif yang memiliki daya hancur yang tinggi.
Karena tentu saja hal itu membutuhkan stamina yang besar dan akurasi yang tinggi. Dan untuk sekarang aku akan mengandalkan kemampuan berpedang serta kelincahan gerakan yang selalu menjadi andalanku.
Lalu kesimpulan kedua tidak berhubungan dengan sparing kemarin, sih. Tapi kami memutuskan untuk mengikuti teman kelas kami yang terlihat mencurigakan, namanya kalau tidak salah adalah Hanasaki Yurei.
Herlin—lalu kami semua tertarik kepadanya karena dia membuat pertanyaan yang aneh kepada Herlin.
"Makhluk yang selalu mengikutimu itu ... apa dia milikmu?"
Berkat pertanyaannya itu, kami akhirnya mengikutinya pada saat jam istirahat kali ini.
**
Hanasaki-san seperti biasa saat jam istirahat dia duduk di depan sendirian dan tidak memiliki teman yang bisa ia ajak mengobrol. Lalu setelah beberapa saat ia hanya diam duduk, ia mulai melakukan pergerakan dan mengambil bentonya lalu berjalan keluar kelas.
"Dia bergerak. Ayo, Herlin."
"Ya."
Hanasaki-san berjalan di lorong menuju ke tangga bawah dan kami berjalan di belakangnya dari jarak yang lumayan jauh. Kami mengintip pada belokan lorong sehingga hanya kepala kami saja yang keluar, dan saat ini ada empat kepala yang sedang mengintip.
"Senpai kenapa ikut-ikut, sih?" tanyaku.
"Ehehehe ... kelihatannya seru, makanya aku jadi tertarik."
Kami semua menatap datar ke arah Mei-senpai yang menunjukkan senyum tak bersalah. "Jadi itu anak yang kalian maksud? Kelihatannya normal-normal saja," ucap Mei-senpai melihat Hanasaki-san yang berjalan menjauh.
"Tentu saja kalau dari luar memang seperti orang normal, apa Senpai ini bodoh?"
Jleb...
Ucapan Herlin lagi-lagi menusuk tepat ke jantung Mei-senpai. Darah juga keluar dari mulut Mei-senpai yang terlihat ingin mati karena diejek oleh orang yang lebih muda darinya.
"Maaf ...," ucap Mei-senpai lemas.
"Senpai jangan mati sekarang, Black Rain lagi kekurangan orang, lho," ucapku.
Sementara Anna-san yang juga ikut mengikuti Hanasaki-san dan dari tadi memperhatikan kami hanya bisa tertawa pelan melihat kelakuan kami bertiga. Dan tanpa kami sadari, Hanasaki-san sudah berjalan cukup jauh saat kami sedang bercanda.
"Sudah hentikan, nanti kita kehilangan jejaknya," ucap Herlin.
"Kau benar."
Akhirnya kami berdua kembali mengikuti Hanasaki-san sampai turun ke bawah dan keluar dari gedung utama sekolah. Jarang sekali orang yang makan sampai keluar gedung sekolah, setahuku hanya Hanasaki-san saja yang seperti ini.
Lalu Hanasaki-san pun berhenti di parkiran tempat biasa para siswa memarkirkan sepedanya. Ia mencari tempat yang kosong di antara sepeda yang di parkirkan dan menemukannya.
Ia mulai membuka bekal makanannya dan menikmati jam istirahatnya yang tenang dan sepi. Ini tentu saja bukan tempat terbaik untuk makan, tapi masih bisa dipakai karena ada atap yang terbuat dari mika hitam yang membuat cahaya matahari terhalang sehingga siapapun yang ada di bawahnya tidak kepanasan.
Sudah beberapa menit kami menunggunya memakan bekalnya, tapi tidak ada yang aneh dari gerak-gerik dan perilakunya. Mungkin Hanasaki-san memang sedikit aneh, meski begitu ia tidak menunjukkan kalau dirinya adalah seorang Exception atau apapun.
"Sepertinya dia bukan Exception," gumamku.
"Ya, tidak ada yang aneh darinya."
"Nampaknya aku hanya curiga tanpa arti."
Mei-senpai dan Herlin juga menyetujui pendapatku. Sepertinya penyelidikan ini berakhir tanpa jawaban yang kami semua inginkan, perutku bahkan juga keroncongan karena belum makan sejak bel istirahat berbunyi.
"Ayo kita kembali ke kelas," ajakku.
"Ayo~"
"Tidak boleh!"
"Hn? Anna-san?" Saat kami semua ingin kembali, tiba-tiba Anna-san berteriak menghentikan kami.
"Kita tidak boleh meninggalkannya begitu saja, apa kalian tidak lihat kalau Hanasaki-san sedang makan sendirian? Kita harus mengajaknya juga."
Jadi begitu. Anna-san tidak ingin meninggalkan Hanasaki-san sendirian dan ingin mengajaknya makan bersama kami.
"Tapi apa kau yakin jika tiba-tiba kita langsung mengajaknya begitu saja?" tanya Herlin.
"Itu ... tentu saja tidak apa-apa, kan?"
"Aku rasa dia memiliki alasannya sendiri." Mei-senpai kemudian menambahkan kata-kata dari Herlin. "Dan kita juga tidak bisa memaksanya begitu saja."
"So-soal itu ...."
Anna-san akhirnya mengurungkan niatnya. Aku tahu sebenarnya ia berniat baik, tapi niat baik bagi kita belum tentu baik bagi orang lain. Kita juga harus mendengarkan pendapat dari orang yang ingin kita tolong itu. Ya, setidaknya itu menurutku.
Tapi saat kami ingin kembali ke kelas untuk makan, rombongan orang datang dari arah lain menuju ke Hanasaki-san. Rombongan perempuan yang wajahnya tidak asing bagiku—karena mereka adalah teman sekelasku.
Hanasaki-san yang sebenarnya sudah menyadari keberadaan mereka semua tapi seolah tidak menggubris dan tetap menikmati makanannya, dan tentu saja itu tidak disenangi oleh mereka.
__ADS_1
Braakhh...
"??!!"
Salah satu dari mereka tiba-tiba menghempaskan bekal yang ada di genggaman Hanasaki-san sehingga jatuh ke aspal dan lauk serta nasi di dalamnya berhamburan kemana-mana.
Tidak berhenti sampai disitu, orang yang sama kemudian menarik kerah baju Hanasaki-san sehingga kakinya menjinjit. Mei-senpai yang melihatnya tidak mau diam saja dan ingin langsung keluar lalu menghajar mereka semua, tapi Herlin menahannya.
"Sialan itu ...! Dia kira dia hebat! Hn—?!"
"Jangan dulu, Senpai."
"Apa kau diam saja saat melihat dia diperlakukan seperti itu?!"
"Aku mohon tunggu sebentar lagi."
Mei-senpai tidak mengerti kenapa Herlin menyuruhnya untuk diam di sini, aku juga sebenarnya sama. Tapi Mei-senpai akhirnya mengalah dan kembali memperhatikan dari jauh.
Kembali ke Hanasaki-san, wajahnya cukup tenang dan bahkan tidak berekspresi saat ia diperlakukan seperti itu. Lalu perempuan yang memegang kerahnya mulai berbicara kepadanya.
"Beraninya kau menghiraukanku!"
"...."
"Tch! Kau sudah tahu kalau aku ingin uangmu, jika kau langsung memberikannya kepadaku, hal ini tidak akan terjadi!"
"Aku tidak ada uang," jawab Hanasaki-san pelan.
"Apa?! Oi! Cepat periksa dia!"
Temannya yang lain kemudian menuruti perintahnya dan mulai memeriksa berbagai kantong pakaian Hanasaki-san, tapi memang tidak ada uang sama sekali.
"Dia benar-benar tidak punya uang."
"Tch!"
Bruukh...
Setelah mengetahui hal itu, perempuan tadi langsung melepaskan kerah Hanasaki-san dengan kasar yang membuat ia jatuh terduduk di tanah dan mereka semua meninggalkannya begitu saja.
Sementara kami semua tidak melakukan apa-apa dan masih bersembunyi di sini. Mei-senpai sudah sangat kesal dan ingin segera keluar, berbeda dengan Anna-san yang terlihat ketakutan dengan kumpulan perempuan tadi.
Dan meskipun diperlakukan seperti itu, Hanasaki-san tidak membalasnya dan berdiri lalu membersihkan roknya yang kotor. Ia juga mengambil kembali kotak makannya yang sudah kosong karena isinya telah berceceran di tanah.
"Apa kalian ingin terus-terusan sembunyi disitu?"
"Kau tahu?" tanya Herlin.
"Obrolan kalian keras sekali, bagaimana mungkin aku tidak tahu." Hanasaki-san masih terus membersihkan sisa-sisa tanah yang menempel di kotak bekalnya.
"Tapi mereka tidak bisa mendengarnya."
"Entahlah, itu bukan urusanku."
Setelah kotak bekalnya bersih, Hanasaki-san berjalan pergi dari sini dan meninggalkan kami semua yang masih memiliki pertanyaan di benak kami.
"Kalau kau tahu, kenapa tidak teriak minta bantuan?!" tanya Mei-senpai.
"...." Hanasaki-san yang sudah berjalan cukup jauh tidak menjawab. Tapi langkahnya terhenti seolah ingin bilang sesuatu.
"Apa kau rela diperlakukan seperti itu oleh mereka?!"
"...."
"Kau tahu kan kalau kami memiliki kekuatan yang cukup?!"
"... Tidak perlu."
"Hn?"
"Aku tidak butuh bantuan kalian. Aku tidak butuh kekuatan kalian. Aku bisa mengurus urusanku sendiri."
"Hah?! 'Bisa', katamu?! Dengan penampilan yang kacau seperti itu kau bilang 'bisa'?!"
Dalam posisi membelakangi kami, Hanasaki-san yang wajahnya tidak terlihat jelas kemudian menggemeretakkan giginya seolah menahan amarah. Ia seharusnya tahu kalau kekuatannya sendiri tidak cukup untuk melawan mereka semua.
Tapi Hanasaki-san tidak menjawab pertanyaan Mei-senpai dan hanya bisa memendam semua perasaannya sendirian. Sampai saat Anna-san mulai memanggil namanya.
"Ha-Hanasaki-san, aku—"
"Jangan bicara padaku! Jangan berani-beraninya kau bicara padaku!"
Hanasaki-san menengok ke belakang dan melihat Anna-san dengan tatapan tajam, meskipun kami semua bisa melihat linangan air mata di ujung matanya. Anna-san yang ditatap seperti itu tentu saja kaget dan ketakutan.
Tapi tatapan mata itu tidak lama dan Hanasaki-san kembali menyembunyikan wajahnya sambil beberapa kali mengusap air mata yang belum jatuh dengan tangannya.
"Oi! Kenapa tiba-tiba kau membentak Anna-san?"
__ADS_1
"Aku tidak butuh bantuan kalian. Jika kalian membantuku tapi tidak sampai ke akarnya, lebih baik kalian tidak membantuku sama sekali."
Setelah bicara seperti itu, Hanasaki-san kemudian berjalan cepat meninggalkan kami semua di tempat parkir ini.
"Kau tidak apa, Anna-san? Apa-apaan sih dia itu?"
"A-aku tidak apa-apa."
Dan malah terjadi perdebatan yang tidak diperlukan. Kami semua tidak mendapat jawaban apakah dia itu Exception atau bukan, dan sekarang sepertinya akan lebih sulit untuk mendekatinya.
"Bagaimana ini, Herlin?"
"Entahlah, ini jadi lebih rumit dari yang aku kira."
Penyelidikan kecil-kecilan ini pun berakhir dengan hasil nihil. Jawaban tak di dapat, waktu istirahat pun ter-cut. Hah ... benar-benar tidak beruntung.
**
Bel pulang sekolah telah berbunyi, anak-anak di kelas B juga sudah bersiap untuk pulang dan membereskan mejanya masing-masing—begitu juga Hanasaki-san.
Dengan cepat dan tanpa menunggu orang lain setelah ia beberes, ia langsung keluar dari kelas dan pulang ke rumah.
Pulang sendiri. Ini sudah biasa ia lakukan sejak lama, karena Hanasaki-san selalu sendiri dan tidak punya teman. Di hari yang hampir senja ini dan dikelilingi oleh para murid dari sekolahnya maupun dari sekolah lain, ia terus berjalan tanpa memperdulikan mereka.
Sampai pada akhirnya ia sampai ke sebuah taman terbuka.
"Sepertinya aku bisa mencucinya di sini," gumamnya.
Ia kemudian langsung menuju ke wastafel taman dan mencuci bekal makanan yang dari tadi ia bawa dalam keadaan kotor. Dalam keheningan dan suasana sepi di taman yang kosong ini, ia sempat melamun sebentar.
Dirinya teringat kejadian tadi saat dimana ada teman sekelasnya yang menghampirinya dan mencoba membantunya. Tapi saat ia mengingat wajah Anna-san, ia langsung mendecakkan lidahnya kesal. Hanya dengan muncul dalam ingatannya saja, sudah membuatnya kesal.
"Semua itu salahnya."
"Meong~"
"Hn?"
Lamunannya langsung buyar saat mendengar suara kucing. Hanasaki-san mencoba mencari sumber suara tersebut dan menemukan beberapa anak kucing yang kemudian lari bersembunyi ke dalam semak-semak.
Setelah memastikan kotak bekalnya bersih, Hanasaki-san menaruhnya sebentar di atas wastafel dan menghampiri anak kucing tadi. Dan saat membuka semak-semak itu, terlihat tiga ekor anak kucing di dalam sebuah kardus.
Ia kemudian berjongkok dan menunduk mengulurkan tangannya. Meskipun sempat ketakutan, tapi setelah menyadari kalau Hanasaki-san tidak berbahaya, para anak kucing tadi langsung menjilati tangan Hanasaki-san.
"Sepertinya kalian di buang oleh seseorang, ya? Maaf, tapi aku tidak bisa membawa kalian pulang."
Srrk... Srrk...
Ada suara aneh yang berada tepat di depan Hanasaki-san dan saat ia menengok ke depannya, ada sesuatu tepat berada di depan matanya.
Seseorang dengan wajah yang hancur dan darah keluar dari hidung, mulut, dan matanya menatap balik Hanasaki-san yang berjarak tidak sampai sepuluh sentimeter.
"Mereka ... milikku ...." Makhluk itu mencoba berbicara kepada Hanasaki-san.
"Jadi kau pemiliknya?"
Tapi Hanasaki-san tidak takut sama sekali dan malah bertanya balik kepada makhluk itu.
"Kau ... bisa melihatku ...?"
Tidak ada jawaban dari Hanasaki-san dan ia langsung berdiri dan berniat pergi dari sana. Tapi sebelum itu, ia sempat berbicara kepadanya sekali lagi dan memberikan senyum lembut kepadanya.
"Aku mengerti. Jaga mereka baik-baik, ya?"
"I ... Iya ...."
Hanasaki-san kemudian mengambil kembali kotak makannya yang sudah kering dan melanjutkan perjalanan pulangnya. Tapi tanpa ia sadari, ada seseorang yang memperhatikannya dari jarak yang cukup jauh.
"Ternyata dia memang bukan Exception, hanya seseorang yang bisa melihat hantu biasa," ucap Herlin.
Ia kemudian mengambil Smartphone-nya dan menelepon seseorang. Seseorang yang jarang sekali ia telepon dan hubungi. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya orang itu mengangkat teleponnya.
"Halo ... Herlin? Tumben sekali kau meneleponku."
"Caramel, apa hari Minggu nanti kau senggang? Ada sesuatu yang ingin aku lakukan dan butuh bantuanmu." Orang yang Herlin telepon ternyata adalah Caramel.
"Bantuan? Lebih tumben lagi. Apa kau tidak bisa minta bantuan Iraya?"
"Tidak, kekuatanmu lebih berguna untuk urusan yang satu ini. Lagipula ini urusan perempuan."
"Urusan wanita? Ya, aku tidak keberatan sih. Kau tinggal bilang saja apa yang kau butuhkan."
"Aku mengerti."
Herlin pun kemudian mematikan teleponnya. Kali ini, ia mencoba untuk menyelesaikan urusan ini tanpa bantuan Iraya. Karena ia yakin kalau Hanasaki-san memiliki alasan karena membenci Anna-san.
Bersambung
__ADS_1