Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 140 : Tidak Berubah


__ADS_3

Di sore yang sejuk setelah pulang sekolah di Haiiro Cafe, suasana di sini juga tidak terlalu ramai karena hanya ada beberapa pengunjung saja. Pengunjungnya pun bisa dibilang adalah teman kami— Hira, Kudou, Anna-san, dan Hanasaki-san.


Tapi ada pemandangan yang sedikit berbeda. Yap. Para anggota Black Rain memandangiku dengan tatapan datar, para pengunjung juga terlihat tidak ingin ikut campur dengan urusan kami— meskipun mereka masih sedikit penasaran.


Mereka menengok ke arah kami terdiam sambil mulutnya menempel dengan sedotan, tidak menyedot minumannya. "Apa mereka sudah biasa begini?" tanya Hanasaki-san.


"Ti-tidak juga, aku rasa tidak pernah," ucap Anna-san.


Benar. Ini adalah pemandangan yang jarang terlihat di sini. Aku sedang melakukan sujud dogeza di hadapan mereka semua. Meminta ampun atas semua dosa dan kelakuan yang pernah aku lakukan selama hidupku.


"Ma-maafkan semua dosaku!" ucapku sambil dogeza.


"Kau pikir dengan minta maaf kau bisa lolos?" ucap Herlin dingin.


Baiklah, baiklah. Mari kita mundur sedikit dan menjelaskan kejadian sebelum aku ditatap layaknya cucian kotor oleh mereka. Lalu juga, bagaimana aku bisa berakhir dalam kondisi seperti ini.


**


Dua minggu telah berlalu semenjak bencana tak terduga yang menimpa Nagoya. Hal itu menjadi pembicaraan paling hangat di negara ini. Tidak ada orang yang tidak membicarakan hal itu saat ini. Bahkan di kelasku pun juga tidak ketinggalan.


Tapi untukku, jujur saja aku tidak ingin mendengar tentang hal itu lagi. Nyawa kami semua benar-benar di ujung tanduk saat itu dan bahkan harus bertarung dengan Assassin. Jika itu mimpi buruk bagi mereka yang jauh dari tempat kejadian, bagi kami yang berada di sana, mungkin akan meninggalkan trauma.


Anggota Black Rain kecuali Ishikawa-san juga kebanyakan harus dirawat di rumah sakit rata-rata seminggu bahkan ada yang lebih— orang itu adalah Mei-senpai.


Jadi meskipun sudah keluar dari rumah sakit saat ini, kondisinya belum sembuh sempurna. Tapi dia malah datang kesini karena beralasan kalau di rumah sakit membosankan dan tidak ada yang bisa ia lakukan.


Memangnya dia anak kecil? Aku tidak mengerti dengan Mei-senpai. Kadang dia bisa menjadi wanita yang begitu anggun, kadang menjadi kakak kelas yang bisa diandalkan, tapi kadang juga bisa iseng dan bersikap kekanak-kanakan.


Lalu kembali lagi ke bencana Nagoya itu, walaupun aku bilang kalau itu adalah hal yang dapat membuat trauma lama di dalam tubuhku ....


Tapi!


Ada tapinya!


Bayaran yang kami dapatkan setelah menjadi bodyguard dan juga membantu White Cloud dalam menangani bencana di sana dapat dengan mudah menutupi traumaku.


Bayangkan saja, keuntungan karena membantu mereka melipatgandakan bayaran kami menjadi hampir lima kali lipat dari bayaran menjadi bodyguard Rainbow Cookies. Jadi aku menjadi lebih tenang dari biasanya dan cengar-cengir sendiri dari tadi.


Akhirnya Haiiro Cafe tidak jadi bangkrut dan organisasi ini bisa terus berjalan. Aku juga mendapat gaji dari Ishikawa-san. Hehehe ... kehidupan miskinku akan segera berubah!


"Maaf membuat kalian menunggu!" ucapku semangat.


Bel pintu masuk berbunyi ketika aku membuka pintu kaca Haiiro Cafe. Di sana ternyata semuanya telah berkumpul, hanya aku dan Herlin saja yang baru datang karena kami juga baru pulang sekolah.


Itu benar. Aku sudah bersekolah lagi dan sejauh ini— dan semoga saja, tidak ada kejadian aneh lagi terjadi di sana. Oh iya, selain aku dan Herlin, duo Kudou dan Hira lalu Anna-san juga bersama kami. Ditambah satu orang baru yang masuk ke geng kami.


"Heh~ Jadi kalian biasa nongkrong di sini."


"Nn! Herlin-san serta Iraya-san juga kerja sampingan di sini!" Anna-san menjelaskan dengan semangat.


Orang yang matanya sedang mondar-mandir melihat dekorasi Cafe ini adalah Hanasaki Yurei. Semenjak kejadian itu, sepertinya Anna-san berhasil berteman dengannya dan bahkan sampai mengajaknya nongkrong di sini.


"Iraya! Aku dan Hira pesan seperti biasa!" Kalau yang lainnya, Kudou juga masih berisik seperti biasanya.


"Aku baru sampai, lho."


Aku hanya menggelengkan kepalaku, dan Hira cuma bisa meminta maaf kepada Yuuki-san karena Kudou telah teriak-teriak keras di dalam Cafe— Yuuki-san langsung memaafkannya, kok.


Sementara tanpa aku sadari, Herlin berpisah dan mengambil segelas air putih lalu duduk di kursi pelanggan. Caramel tiba-tiba menghampirinya entah dari mana dan mengajaknya bicara.


"Oi, kampret."


"Ha?" Herlin melirik sinis.


Petir permusuhan kembali dapat terlihat di belakang mereka berdua. Tapi meski begitu, Caramel secara cepat menghapusnya. "Beraninya kau mengubah kubusku menjadi kebun binatang pribadimu," ucap Caramel.


"Apa maksudmu?"


"Dulu kau pernah memasukkan satu jenis The Unseen ke dalam sana, kan? Tapi kenapa sekarang malah tambah banyak?!"


"Tch, ketahuan," gumam Herlin kecil. "Tidak, bukan aku yang melakukannya. Itu pasti The Unseen nyasar yang tidak sengaja masuk kesana." Mata Herlin menghindari Caramel saat berbicara.


"Tuh, kan! Jelas-jelas kau bilang 'tch ketahuan'! Kau pikir aku tidak dengar?!" Caramel menunjuk Herlin sampai jari telunjuknya menyentuh pipinya lalu memutar-mutarnya kesal.


"Jangan sentuh aku!" Herlin menyingkirkan jari telunjuk Caramel dan berdiri menghadapinya. "Iya! Aku memasukkannya! Memangnya kenapa?! Apa satu ada dua jenis lainnya tidak sanggup kau tangani? Maaf saja ya kalau kau terlalu lemah!"


"Hah?! Ternyata memang kau?! Lagipula kenapa kau menaruhnya di tempatku?! Jika kau begitu kuat, kenapa tidak kau simpan saja mereka semua di tempatmu? Kau tidak mampu, kan? Bilang saja tidak mampu!"


Nigiyaka-san dan Akihito-san melihat perkelahian mereka berdua dengan malas. "Mereka jadi akrab," ucap Nigiyaka-san.


"Hiraukan saja, mereka hanya orang bodoh." Sementara Akihito-san tidak terlalu memperhatikannya dan lanjut memakan kue coklat yang ada di depannya.


Tapi Mei-senpai tidak membiarkannya begitu. Ia datang ke tengah mereka berdua dan mengangkat kedua bagian leher baju belakang mereka dan memisahkan mereka seperti anak kucing. "Sudah, sudah."


Aku juga menghiraukan mereka berdua. Itu adalah rutinitas dan bukti keakraban mereka, jadi tidak ada yang perlu aku khawatirkan. Sekarang aku sedang mengantarkan empat pesanan teman-temanku ke mejanya.


"Oh iya, Iraya!" ucap Kudou.


"Kecilkan suaramu."


"Bagaimana rasanya menjadi bodyguard Rainbow Cookies? Pastinya enak karena terus bisa berdekatan dengan Arisu-chan!"


"Rasanya ...?"


Aku jadi memikirkan lagi soal pekerjaanku. Jika tidak ada bencana itu, aku kira pekerjaanku tidak terlalu sulit. Dan untuk Arisu, di belakang panggung dia cukup dewasa dan juga leader yang bisa diandalkan bagi member lainnya. Tapi aku tidak terlalu memikirkan soal mendekatinya, karena aku lebih fokus pada bayarannya.


"Kukuku ... kau terlalu polos, Kudou." Aku tiba-tiba menjadi bijak dan tertawa seperti seorang slime terkenal.


"Huh?"


"Bertemu dengan Arisu dan anggota Rainbow Cookies memang menyenangkan, tapi itu hanyalah bonusnya! Yang paling enak adalah bayarannya! Bayarannya! Aku bahkan bisa mentraktir kalian berempat di sini sepuasnya! Bayangkan itu! Gakhahaha!"


Aku membuat Kudou menyadari apa yang sebenarnya penting. Tapi dia sepertinya tidak terlalu peduli dengan hal itu. "Wah ... sejak kapan kau jadi seperti ini? Kau pasti sangat kesusahan, ya? Iraya yang malang." Kudou malah kasihan padaku.


"Kapan-kapan aku traktir makan, deh." Hira juga ikut mengasihaniku.


"Kenapa kalian jadi mengasihaniku?" ucapku datar.

__ADS_1


"Sayangnya tidak semudah itu." Saat kami semua sedang ribut sendiri-sendiri di sini, tiba-tiba Ishikawa-san keluar dari ruangannya dengan wajah muram sambil membawa sebuah amplop.


"Memangnya kenapa? Kita dapat bayaran, kan?" tanya Herlin.


Ishikawa-san menghela nafas berat sebelum menjelaskannya. "Tentu saja kita dapat bayaran, tapi ada satu masalah ...." Tanpa menunggu, Ishikawa-san membuka amplop yang ia pegang dan membacakan isinya keras-keras.


"Kepada organisasi Black Rain, terima kasih atas kerja keras kalian dalam menjalankan misi dari organisasi White Cloud yaitu menjadi bodyguard Rainbow Cookies selama tiga hari.


Kemudian karena ada hal-hal yang tidak terduga diluar kesepakatan dan kalian melakukan hal yang luar biasa. Maka bayaran kalian akan ada penambahan dalam bayaran yang sebelumnya sudah disepakati ...."


Sejauh ini isi suratnya sesuai dugaanku, sih. Terlebih lagi karena ada aku disini. Aku membusungkan dadaku dan menaruh kedua tanganku di pinggang. Orang yang membunuh Okita adalah aku, jadi aku harusnya mendapat bayaran tambahan.


Atau mungkin itu dugaanku awalnya.


"Tetapi ...."


"Eh?" Aku terkejut karena Ishikawa-san masih membaca isi surat itu yang aku kira sudah selesai. Terlebih lagi, wajahnya makin lama makin lemas dan pasrah.


"... Karena ada kejadian tidak terduga, yaitu seseorang dari organisasi Black Rain yang entah secara sengaja atau tidak, menghancurkan properti White Cloud. Jadi kami akan memotong sebagian dari bayaran yang seharusnya diberikan."


"Tunggu! Apa maksudnya itu?! Memangnya siapa yang menghancurkan properti White Cloud?! Apa orangnya benar-benar berasal dari Black Rain?! Pasti ada kesalahan!"


Aku protes. Tentu saja aku protes. Tapi tidak ada yang menjawab keluhanku atau membantuku. Mereka semua malah menatap tajam dan datar ke arahku.


"Ma-mau bagaimana lagi, kan? Itu tidak bisa dihindari. Kita telah menyelamatkan kota Nagoya, jadi aku rasa dendanya tidak terlalu besar," jelas Mei-senpai.


Mei-senpai! Kau bagaikan cahaya dikala gelap. Harapan dikala rentetan rantai putus asa membelenggu. Kau benar-benar pahlawanku! Malaikatku! Mei-senpai— tidak, Kurobane Mei-sama!


"Hah ... aku awalnya juga berharap begitu. Tapi mereka juga butuh waktu pemulihan pasca bencana itu dan sebagian besar uang kita disalurkan kesana. Jadi uang yang kita terima saat ini hanya satu per lima dari yang seharusnya, tanpa bonus."


Kata-kata Ishikawa-san seakan mencabut nyawaku. Aku menengok ke arah Mei-senpai dan dia sudah berhenti membelaku. Malaikatku meninggalkanku sendiri. Tapi bukan itu yang membuatku takut, melainkan yang akan aku hadapi selanjutnya yang akan lebih mengerikan.


Blaarr...


"Hikh ...!!"


Aku dapat merasakan api kemarahan dari orang di belakangku. Dan tanpa melihatnya pun, aku sudah tahu itu adalah api kemarahan siapa.


Aku menengok ke belakang perlahan. "He-Herlin ... dengarkan aku dulu." Kata-kataku terbata-bata.


"Kau masih berani bicara kepadaku?"


"Ma-maafkan semua dosaku!"


"Kau pikir dengan minta maaf kau bisa lolos?"


Begitulah cerita bagaimana aku bisa dogeza di depan semua orang saat ini. Aku tidak berani berbicara, bernafas, bahkan menggerakkan kepalaku sedikitpun. Aku hanya dogeza saja. Diam, seperti batu.


"Lalu selanjutnya bagaimana?" Nigiyaka-san bertanya menghiraukan aku yang sedang dogeza dihadapan Herlin yang marah besar.


"Aku rasa jawabannya hanya kita harus berusaha lebih keras dari yang biasanya." Ishikawa-san mengangkat bahunya.


Rasanya tidak enak. Ini semua kesalahanku dan mereka tidak memperdulikannya seperti yang seharusnya. Harusnya mereka jadi lebih marah kepadaku. Tapi bukan berarti aku ingin dimarahi.


"Kau ini ribet banget, ya?" ucap Cecilia.


"Ha?" Herlin mendengarku menjawab Cecilia dan merinding yang aku rasakan jadi lebih ngeri.


"Hiikh ...!! Maafkan aku!"


"Siapa yang menyuruhmu bicara?"


"Ti-tidak ada!"


"Siapa yang menyuruhmu menjawab?"


Aku tidak melihat wajah Herlin, aku juga sekarang tidak ingin melihat wajahnya, karena kalau aku mendongak ke atas sekarang, mataku pasti dicolok pakai sumpit olehnya. Tapi bagaikan keajaiban yang datang menyelamatkanku. Bunyi bel pintu masuk berdenting tanda pelanggan datang.


"Ah! Selamat datang ...?" Yuuki-san yang menyambut pelanggan kebingungan karena penampilannya yang mencurigakan dengan masker, kacamata hitam, dan Hoodie hitam.


Tapi Herlin yang melihat pelanggan tersebut langsung menyadarinya dan memanggil dengan nama aslinya. "Aku tidak menyangka kalau kau akan kesini, Arisu."


"Eh?! Koyomi Arisu dari Rainbow Cookies itu?!" Yang lainnya terkejut dan jadi ribut ketika menyadarinya, terutama Kudou.


Dia membuka masker dan kacamata hitamnya. "Sepertinya penyamaran ini sudah tidak berguna lagi, ya?" Lalu kemudian tersenyum.


**


Aku berhasil lolos dari skema 'dogeza seharian' karena Arisu datang. Kelihatannya dia punya urusan denganku dan Herlin. Teman sekolahku jadi penasaran karena bisa melihat langsung Arisu yang terkenal itu, terutama Kudou.


"Terima kasih." Arisu berterima kasih karena suguhan teh yang diberikan oleh Yuuki-san. Lalu meminumnya seteguk.


"Jadi, ada urusan apa? Aku pikir kau ini orang yang sibuk."


"Aku tidak akan lama, kok. Hanya mampir saja."


Dia melihat ke seluruh kafe ini, lalu juga Kudou yang sadar kalau Arisu melihatnya dan dia langsung pura-pura tidak lihat. Juga anggota Black Rain lain yang sedang sibuk masing-masing.


"Aku dengar kalian sedang kesusahan, ya?"


"Ya, karena si bodoh ini." Herlin menunjuk ke arahku.


"Ehehehe ... tapi kalian tidak terlihat seperti itu. Semuanya masih bisa bersenang-senang dan tertawa. Oleh karena itu, aku ingin berterima kasih kepada kalian berdua."


"Eh? Kami?" Aku dan Herlin bicara bersamaan.


"Ya, aku bersyukur karena kalian yang jadi bodyguard-ku. Berkat kalian, aku jadi lebih dekat dengan teman-temanku dan menyadari kelemahan diriku sendiri. Aku juga jadi lebih rileks, meskipun agak aneh aku bilang begitu setelah bencana besar yang melanda kotaku."


Sepertinya hubungannya dengan member Rainbow Cookies lain jadi lebih dekat karena dia membuka rahasia besarnya kepada teman-temannya itu. Dan aku rasa mereka tidak masalah dengan itu, yang membuat Arisu lega.


"Terima kasih, Herlin-chan."


"Eh ... tidak, aku hanya melakukan tugasku saja."


"Saat kau bilang untuk melepaskan perasaanku di atas rooftop tempo hari lalu, kau membuatku mengingat perasaan yang sudah lama aku lupakan sejak aku kecil. Makanya aku berterima kasih padamu."


"I-Itu ...." Herlin sepertinya tersipu. Ia menjadi kikuk ketika dipuji seseorang. Dan membuatku tanpa sadar tersenyum.

__ADS_1


"Aku juga harus berterimakasih padamu, Satou-kun."


"Aku juga?"


"Jangan pikir aku tidak tahu kalau kau membuat rencana agar aku dan Oukami bermain di taman hiburan. Berkat hal itu, Oukami jadi lebih terbuka padaku.


Ya ... dia memang selalu mudah dibaca, sih. Meskipun aku belum membalas perasaannya. Tapi sekarang dia lagi gembira karena aku dengari dia baru saja memiliki Unique Skill dan selalu pamer ke orang-orang di sekitarnya."


"U-Unique Skill?" Bahkan orang seperti Oukami bisa mengaktifkan Unique Skill miliknya sendiri. Padahal dia hanya seorang yang polos dan otak otot saja.


"Hah ...! Karena tujuanku sudah tercapai, aku rasa sudah saatnya aku pergi. Apa kalian masih ingin bicara sesuatu?" Arisu meregangkan tubuhnya yang kaku karena dari tadi duduk.


"Aku sih tidak ada, bagaimana denganmu, Iraya?"


"Eh? Ah ...." Aku tersadar dari lamunanku. Aku akan memikirkan soal Unique Skill itu nanti. "Aku juga tidak ada—" Saat aku sudah yakin kalau tidak ada yang kelupaan, tiba-tiba aku ingat janji yang sebelumnya sempat aku lupakan pada seseorang.


**


"Uwoooghhh!!! Ini benar-benar tanda tangan Koyomi Arisu! Dan ditujukan khusus untukku! Apa ini mimpi?! Iraya, apa ini mimpi?!"


"Ini bukan mimpi. Dan juga kecilkan suaramu."


"Anak laki-laki memang suka yang seperti itu, ya?" ucap Hanasaki-san melihat tingkah Kudou. Sementara Anna-san hanya bisa tertawa mendengar komentarnya dan Hira menunduk menunduk minta maaf karena Kudou lagi-lagi membuat keributan.


Ini sebenarnya bukan apa-apa, sih. Aku dulu sempat janji minta tanda tangan Arisu untuk Kudou. Untung saja aku mengingatnya, karena aku tidak tahu lagi kapan akan bertemu dengan orang sibuk seperti Arisu. Dan ternyata Arisu bukan orang yang pelit atau semacamnya soal hal seperti ini.


Seperti yang selalu ia bilang, Idol selalu mengerti kemauan penggemarnya.


"Kalau begitu, aku pergi dulu."


"Hati-hati di jalan." Herlin mengantar kepergian Arisu di depan pintu, sementara aku terlalu sibuk untuk memenangkan Kudou yang sedang kegirangan saat ini.


Sebelum benar-benar pergi dan naik ke mobilnya, Arisu sempat berbicara satu hal lagi dengan Herlin. "Oh iya, aku lupa satu hal."


"Apa masih ada yang ketinggalan?"


"Tidak, tapi aku sarankan untuk bersiap-siap, Herlin-chan. Karena aku punya satu hadiah kecil lagi untuk kalian."


"Hadiah kecil ...?"


Arisu tersenyum tanpa menjawab dan tidak menjelaskannya lebih lanjut. Dia langsung masuk ke dalam mobilnya dan mobilnya pun berjalan menjauh, sementara Herlin juga kembali masuk ke Cafe sambil terus memikirkan perkataan Arisu.


"Apa Arisu sudah pergi?" tanyaku. Aku masih sibuk menenangkan Kudou dibantu Hira.


"Ya, tapi dia bilang kalau dia memberi kita satu hadiah kecil lagi. Apa kau menerima sesuatu darinya?"


Hadiah kecil?


"Seingatku aku tidak menerima apapun darinya, apa kau menerima sesuatu?" Tapi Herlin juga menggelengkan kepalanya karena tidak menerima apa-apa. Apa ada sesuatu yang tidak kami sadari telah ia berikan?


Dan saat kami sedang kebingungan tentang apa yang telah Arisu berikan, tiba-tiba perhatian kami teralihkan pada bunyi bel pintu masuk yang tiba-tiba berisik karena beberapa pelanggan secara berbondong-bondong.


"Selamat datang."


"Ano! Apa ini benar Haiiro Cafe?!"


"Eh? Ah, iya benar."


"Ternyata benar! Akhirnya! Aku menemukan Cafe yang direkomendasikan langsung oleh Arisu-chan!"


"Permisi! Aku ingin pesan satu kopi!"


"Aku ingin pesan dua!"


"Apa kalian memiliki makanan rekomendasi di sini?"


Kudou langsung berhenti berteriak. Sementara aku dan anggota Black Rain yang lain terdiam kebingungan dan terkejut melihat pelanggan yang tiba-tiba datang membeludak sampai mengantri panjang.


Saat Herlin sedang kebingungan, tiba-tiba notifikasi HP-nya berbunyi dan ia mendapat sebuah pesan langsung dari Arisu. 'Hanya itu yang bisa aku lakukan'. Dengan emote orang berpose 'tehe' sambil menjulurkan lidahnya di pesan selanjutnya.


"Ya ampun, dia melakukan hal yang tidak penting." Herlin terdiam sebentar dan kemudian menarik nafas panjang lalu menampar pipinya sendiri sampai memerah. "Tap sepertinya aku berhutang satu hal lagi kepadanya," gumam Herlin.


"Iraya! Bantu aku menyusun mejanya dan bagikan menu ke setiap meja!"


"Baik!"


"Caramel dan Mei-senpai! Daripada kalian hanya duduk diam di sini, lebih baik kalian bantu kami!"


"Siap, bos!" Mei-senpai hormat tanda akan melaksanakan tugas yang diberikan oleh Herlin. "Eh~ Aku kan tidak kerja di sini. Ngapain harus bantu kalian?" Sementara Caramel memberi respon malas.


"Tidak apa-apa, kan? Menggerakkan tubuhmu itu juga kadang penting," ucap Mei-senpai yang kemudian mulai mengambil pesanan dari para pelanggan. Dan Caramel meskipun dengan malas tapi pada akhirnya ikut membantu juga. "Ya ... sekali-kali sepertinya boleh saja," gumamnya.


Lalu Nigiyaka-san dan Akihito-san berdiri dari tempat duduknya setelah menghabiskan makanan dan minumannya. "Sepertinya kami juga tidak bisa duduk diam saja," ucap Nigiyaka-san.


"Ya, melihat mereka yang bersemangat seperti itu membuatku merasa bersalah jika tidak ikut banting tulang," ucap Ishikawa-san. "Kalau begitu, selagi aku cari misi, kalian juga lakukan tugas kalian," lanjutnya.


"Ya, kami pergi dulu." Lalu mereka berdua pergi dari Cafe.


Sementara aku tidak terlalu memperhatikan percakapan mereka karena setelah satu meja kosong, ada orang lain yang langsung mengisinya dan jika aku melihat keluar, antrian juga lumayan mengular dan membuat hari ini sepertinya akan cukup panjang.


"Iraya, pesanan meja nomor lima," ucap Herlin.


"Siap!"


"Iraya, apa kau tahu takaran gula dari teh susu ini?" tanya Caramel.


"Ah, itu sekitar satu batu gula dan segelas susu."


"Okey~"


Meskipun sibuk, tapi entah kenapa aku menikmati hal ini. Membuat tubuhku rileks karena melakukan sesuatu yang normal untuk beberapa saat. Dan aku berharap kalau pemandangan ini tidak akan pernah berubah.


"Iraya! Kenapa kau diam saja? Cepat antar ini ke meja nomor tiga!" protes Herlin.


"Iya, iya."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2