Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 63 : Rekan Rahasia


__ADS_3

"Yo …. Lama juga kalian sampainya."


"Kali ini apa rencanamu, Murasaki Oita?"


Ketika namanya disebut, Oita-san langsung mengeluarkan seringai misterius kepada mereka berdua.


"Bagaimana kalau kalian duduk dulu disini? Kita akan membahas hal itu secara santai."


"Kita lupakan saja soal basa-basinya."


"Hn?"


Meskipun Oita-san mencoba bersikap ramah dengan mereka, tapi Nimis dan Ardenter tidak bisa mempercayai Oita-san. Apalagi mereka berada di dua pihak yang berbeda. Tapi saat itu, dalam usaha penculikan inang Subject C yang pertama kalinya, Oita-san datang secara tiba-tiba dan menawarkan mereka sesuatu.


Nimis menyipitkan matanya karena curiga dengan senyuman yang dibuat oleh Oita-san. Ia yang bertindak sebagai wakil dari kedatangan mereka berdua pun kemudian bertanya tentang apa yang sebenarnya sedang mereka bicarakan disini.


"Saat itu kau berpesan 'Aku akan membebaskan kalian disini. Tapi jika aku menghubungi kalian, kalian harus menyanggupinya.', apa aku salah?"


"Tidak. Malahan aku sangat menghargai keputusan kalian yang tidak mengingkari janji kalian padaku."


"Apa yang kau harapkan dari kami berdua? Kami adalah musuhmu saat ini!"


"Oleh karena itu, kalian adalah orang yang tepat bagi rencanaku."


"Apa-apaan itu? Apa kau berniat untuk memanfaatkan kami berdua?!"


"Memanfaatkan kalian? Tentu saja tidak. Jika aku ingin memanfaatkan kalian, maka aku tidak perlu repot-repot untuk memanggil kalian dan mengadakan pertemuan ini."


"Lalu apa tujuanmu?!"


Nimis semakin kesal dengan Oita-san karena ia belum memberitahukan tujuan sebenarnya yang ia maksudkan. Tapi Oita-san dengan tenangnya memejamkan matanya dan menengok keatas seakan membayangkan kejadian yang telah berlalu. Ia pun kemudian mulai berbicara.


"Waktu itu aku pergi ke Tokyo dengan para anggota Black Rain lainnya …."


"Apa?"


Oita-san mulai menceritakan pengalamannya saat ia diundang oleh organisasi Red Flame.


"… Saat itu kami mendapatkan undangan dari Red Flame yang katanya tertarik dengan kekuatan Iraya-kun setelah melihatnya bertanding di Turnamen The One. Setelah datang kesana, kami berbincang-bincang sebentar dan tiba-tiba Ryuzaki mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.


'Bubarkan Black Rain dan bergabunglah denganku.' Permintaan tidak masuk akal itu keluar dari mulutnya begitu saja tanpa beban. Tentu saja aku akan menolaknya, tapi untuk mencegah konflik yang berkepanjangan antar organisasi, akhirnya kami membuat sebuah pertaruhan …."


"Pertaruhan? Sebenarnya apa yang sedang kau bicarakan disini? Berhenti mengoceh yang tidak jelas dan—!"


Oita-san mengangkat tangannya dan membuat gestur 'Stop' untuk membuat Nimis berhenti berbicara. Nimis pun berhenti berbicara dan Oita-san kembali melanjutkan ceritanya.


"… Pertaruhannya adalah 'Jika Iraya-kun kalah dalam pertandingan melawan Hayashi-san, maka Black Rain akan dibubarkan dan kami semua akan bergabung dengan mereka. Tapi jika Iraya-kun menang, maka Red Flame akan memberikan bantuan kepada Black Rain dalam menjalankan misi-misi berikutnya.'"


"…?!"


Nimis dan Ardenter terkejut karena mendengar pertaruhan tak masuk akal itu. Mereka tau kalau Subject C adalah makhluk yang kuat, tapi berbeda dengan inangnya yang sebelum bertemu dengan Subject C hanyalah manusia biasa yang tidak memiliki pengalaman bertarung. Nimis kemudian berpikir lagi dan mencari alasan yang masuk akal dalam kasus ini.


Dan ia pun menemukan sesuatu.


Sebelumnya saat ia sedang mencari tentang pengendali The Beast yang menyerang sekolah Inang Subject C—Iraya, mereka menemukan bahwa ia sedang melakukan latih tanding dengan Ririsaka Herlin. Hal itu pun membuatnya bergumam sendiri.


"Ririsaka Herlin melatih Inang Subject C?" gumam Nimis.


"Hoo~… kau sudah tau soal hal itu?"


"Aku menemukan mereka berdua sedang latihan berdua di bukit belakang. Jadi mungkin itulah alasannya Inang Subject C bisa menang melawan Hayashi Satou."


Oita-san tersenyum mendengar penjelasan dari Nimis yang sudah setengah benar. Tapi Oita-san kembali berbicara untuk membenarkan sesuatu.


"Memang benar kalau Herlin-chan telah melatihnya, tapi bukan hanya dia saja …."


"…?"


"Subject C … dengan kata lain hasil percobaan kalian sendiri juga membantunya dalam banyak hal. Aku beberapa kali mendapati kalau Iraya sedang berbicara sendiri, awalnya aku tidak mengerti dengan apa yang dia lakukan. Tapi sekarang aku paham, kalau dia berteman dengannya."


"Berteman …, katamu? Berteman?! Dengan monster seperti itu?! Jangan membuatku tertawa!"


"Aku tidak mengerti kenapa kau marah begitu. Tapi Herlin-chan pernah melihatnya sendiri kalau Subject C itu mau disuruh keluar dari tubuhnya oleh Iraya-kun."


"Keluar dari tubuhnya? Dari inangnya?"


Nimis terlihat sangat terkejut mendengar hal itu. Karena dari segi manapun, ia tidak bisa membayangkan kalau monster seperti itu ingin diajak berkompromi dengan manusia. Ia sangat tau hal itu. Karena ia pernah melihatnya sendiri.


**


*Beberapa Bulan Lalu*


Nimis datang bersama Ardenter menuju ke Heiwa Pharmacy karena dipanggil oleh CEO Ayakashi Corp. itu sendiri—Hasuki Nakamura. Setelah sampai disana, enam anggota Assassin lainnya juga sudah berkumpul disana dan mereka berdua adalah yang datang paling akhir.


Karena terus-menerus berduaan, Caramel sedikit menggoda mereka yang baru saja datang.


"Ara, ara, akhirnya kalian datang juga. Apa kalian sedang berkencan sampai-sampai telat datang kesini?"


"Berisik sekali, apa kau tidak ada kerjaan lain selain menggoda kami terus?"


"Aku sedang tidak ada kerjaan, tehe~"


Caramel bertingkah sok imut dan menyebalkan disaat yang bersamaan. Tapi Nimis sedang tidak ingin untuk meladeni candaannya tersebut. Malah ia lebih penasaran dengan alasan mereka dipanggil kesini.


"Ngomong-ngomong, apa kau tau alasan kenapa kita dipanggil kesini?"


"Ahh itu …, sepertinya mereka mau melakukan percobaan dengan subyek yang ketiga. Subject C."


"Subject C?"


"Diamlah dan perhatikan itu."

__ADS_1


Saat mereka sedang berbincang, Ardenter menghentikan mereka berdua dan menyuruh mereka untuk fokus dengan yang ada di depannya. Sebuah ruangan serba putih yang dipisahkan dengan kaca anti peluru dengan ruangan tempat para Assassin itu berdiri.


Di dalam ruang putih tersebut, terdapat seseorang yang sedang di dudukkan di kursi dengan tangan dan kaki yang terikat dengan kursi, serta matanya yang tertutup.


Beberapa peneliti kemudian datang menghampirinya sambil membawa sebuah tabung kaca yang di dalamnya terdapat satu orang lainnya. Seorang wanita berkulit pucat dengan rambut hijau yang panjang berantakan. Ia memakai baju pasien lab berwarna putih polos.


Peneliti itu kemudian menyuntikkan sebuah suntikan yang terhubung dengan tabung kaca yang terisi orang tadi dan kemudian dengan cepat mereka keluar dari ruangan itu.


Hampir satu menit telah berlalu tapi masih belum terjadi hal apapun.


"Apa mereka gagal?"


Syiiingg…


Tiba-tiba sebuah cahaya kehijauan muncul dari dalam tabung yang berisi wanita tadi. Cahaya itu semakin lama semakin terang sampai membuat Nimis dan yang lainnya menutupi matanya karena silaunya. Dan setelah beberapa saat, cahaya tersebut menghilang dan bersamaan dengan hali itu, wanita tadi juga menghilang.


"Wah hebat! Dia menghilang! Apa ini sulap atau semacamnya?"


Anak kecil dengan stiker berbentuk hati di pipinya—Lennova, sangat bersemangat dengan hal itu. Sementara yang lainnya hanya terdiam dan terkejut dengan kejadian barusan.


"Kemana perginya dia?"


"Ke dalam tubuh orang itu."


"Eh?"


Tiba-tiba seseorang menjawab gumaman Nimis. Ia adalah CEO Ayakashi Corp. sekaligus pemilik laboratorium ini—Hasuki Nakamura.


"Sekarang … apa tubuh orang itu akan bertahan?" gumam Nakamura.


Para peneliti yang sibuk memantau kondisi orang tersebut lewat monitor, tiba-tiba terkejut dengan perubahan drastis yang terjadi pada orang tersebut.


"Ini gawat! 50° Celcius! Tubuhnya mengalami demam yang tinggi dan suhu tubuhnya terus naik! Segera lakukan pengeluaran Subject C atau dia akan mati!"


"Arrgh …!! Akkhh …! Gakkhh …!!"


Orang itu meringis dan meronta kesakitan. Tubuhnya terus mengeluarkan keringat dan lama kelamaan berubah menjadi merah. Seakan-akan ruangan tersebut adalah pemanggang yang sangat panas.


"Cepat keluarkan!"


"Tubuhnya tidak bereaksi, Pak! Kondisinya tidak stabil dan kami tidak bisa mengeluarkannya dengan mudah."


"Cepat berikan dia obat penenang! …!!"


Sebelum sempat diberikan obat penenang, orang tersebut tiba-tiba terdiam. Suhu tubuhnya sangat tinggi berkisar di angka 67° Celcius. Tubuhnya sudah sangat memerah dan gemetaran di tubuhnya yang tadinya sangat hebat tiba-tiba ikut berhenti.


Piip… Piip… Piip…


Monitor salah satu peneliti tadi tiba-tiba berbunyi dan menunjukkan detak jantung orang itu berdetak sangat kencang dan suhu tubuhnya tidak mau menurun.


"Kita sudah kehilangan dia …."


Duuuuaaarrrr…


Tubuhnya terbakar dan meledak yang menyebabkan darah dan anggota tubuhnya berpencar ke seluruh ruangan itu dan ada juga yang menempel di kaca tempat mereka melihatnya. Darahnya terlihat lebih sedikit karena panas dari dalam tubuhnya telah mendidihkan darahnya.


Diatas kursi yang telah gosong itu berdiri sesosok wanita berambut hijau yang sebelumnya berada di dalam tabung. Wajah, baju, serta rambutnya dipenuhi darah yang membuatnya terlihat seperti pembunuh berantai.


Swuuushh…


Wanita itu—Subject C itu kemudian melihat kearah jendela tempat Nimis dan yang lainnya berdiri. Ia melesat dengan kecepatan tinggi dan mendaratkan tangannya di kaca anti peluru itu, tepat di depan wajah Nimis.


Dibalik rambut hijau bercampur darah yang hampir menutupi seluruh bagian wajahnya. Disela-sela rambutnya, mata Subject C dan Nimis bertatapan secara langsung. Ia melihatnya secara langsung, iris mata oranye terang yang seakan dapat membunuhmu. Tatapan mata tajam darinya tanpa sadar membuat Nimis merasakan hawa dingin di leher belakangnya.


Kraakk…


Subject C mencengkeram kaca anti peluru itu dengan sangat kuat sampai membuatnya retak. Para peneliti yang melihat itu tidak tinggal diam dan segera melakukan sesuatu.


"Cepat tembakkan obat biusnya!"


Mereka kemudian mengetik dengan cepat dan beberapa jenis senjata merespon pergerakan dari ketikan para peneliti itu yang langsung menembak kearah Subject C.


Psyuu… Psyuu… Psyuu…


Rentetan tembakan itu mengarah tepat ke punggung, betis, dan kepala bagian belakang Subject C yang membuatnya mulai sedikit melemah. Dan lama kelamaan cengkeramannya melemah dan jatuh pingsan. Tapi sebelum pingsan, ia sempat mengatakan sesuatu dengan suara yang menyeramkan.


"Kalian akan menyesali hal ini …, manusia."


**


Kenangan mengerikan yang terlintas dipikirannya tentang Subject C saat ini membuat Nimis termenung untuk sesaat. Tapi kemudian ia menggelengkan kepalanya untuk mengembalikan kesadarannya lalu kembali berbicara dengan Oita-san.


"Ehem … dengan kata lain, untuk misi kedepannya kau bisa terus meminta bantuan dari Red Flame karena memenangkan pertaruhan itu?"


"Benar. Suatu pertaruhan yang tidak buruk, bukan?"


"Ya, dan juga merepotkan bagi kami."


Oita-san tersenyum menanggapi reaksi dari Nimis. Ia tidak menyangkal hal itu, malah itulah yang Oita-san inginkan dari pertaruhan itu. Lalu Nimis kembali bertanya.


"Sebenarnya apa tujuanmu menceritakan hal itu?"


"Tujuanku? Sederhana saja. Aku menginginkan kepercayaan kalian."


"Kepercayaan?"


"Benar. Jika aku ingin mendapatkan sesuatu, aku harus mengorbankan sesuatu juga. Maka aku akan mengorbankan informasiku tentang bagaimana caranya aku bisa bekerja sama dengan Red Flame."


"Dan yang kau inginkan dari kami adalah informasi yang sepadan dengan itu?"


"Benar sekali. Aku senang kalau kalian cepat paham."

__ADS_1


Nimis tidak langsung menjawabnya, ia sempat melirik kearah Ardenter yang daritadi hanya diam saja. Tapi Ardenter seakan tidak peduli dengan apapun. Wajahnya menunjukkan kalau ia tidak nyaman dan ingin segera pulang lalu tidur. Nimis hanya bisa menghela nafasnya dan kemudian menjawab pertanyaan Oita-san.


"Aku ingin bertanya satu hal lagi."


"Apa itu?"


"Siapa perempuan yang ikut dalam misi sebelumnya? Apa dia juga bagian dari Organisasi Black Rain?"


"Ahh dia, ya? Iya kau benar, dia adalah anggota baru kami. Namanya adalah Kurobane Mei."


Nimis sudah mengetahui namanya. Meskipun awalnya ia ragu dengan informasi dari Delta, tapi kini ia yakin bahwa itu adalah nama aslinya.


"Kau sudah menjawab semua pertanyaanku. Sekarang apa yang ingin kau tanyakan?"


"Orang baru di kelompokmu. Aku ingin tahu soal dia."


"Namanya Delta …, dan dia adalah Subject D."


"Subject D?"


Oita-san terkejut dengan hal yang Nimis katakan. Ia hanya mendapat informasi bahwa terdapat tiga subyek percobaan. Tapi ia tidak pernah mendengar bahwa ada yang keempat.


"Begitu ya? Aku senang mendapatkan informasi itu."


"Apa hanya itu saja? Kalau begitu kami permisi dulu."


"Kenapa buru-buru sekali? Bagaimana kalau segelas dulu sebelum pergi?"


"Aku tidak bisa melakukannya. Jika kami terlalu lama disini, anggota yang lain akan menemukan kami dan mencap kami sebagai pengkhianat."


"Begitu ya? Sayang sekali."


Setelah urusannya disini selesai, Nimis dan Ardenter pergi dari Cafe itu. Tapi sebelum keluar dari pintu, Oita-san menghentikan mereka.


"Ah! Tunggu sebentar!"


Ia mengambil sesuatu dari kantong bajunya yang ternyata adalah sebuah bungkus rokok yang masih baru dan tersegel dengan rapi. Oita-san kemudian melemparkannya kearah Ardenter dan ditangkap dengan baik olehnya.


"Terima kasih untuk informasi sebelumnya."


"Apa yang telah kalian lakukan dibelakang ku?"


"Tidak ada!"


Ardenter kemudian keluar dari Cafe itu. Meskipun masih bingung dengan yang terjadi barusan, tapi akhirnya Nimis keluar dari Cafe itu juga menyusul Ardenter. Sebelum keluar Nimis sempat memperingatkan Oita-san tentang satu hal.


"Satu hal lagi. Inang itu—tidak, Satou Iraya, jangan sampai kau melonggarkan pengawasanmu darinya."


"Baiklah, terima kasih atas sarannya."


Setelah mereka berdua keluar, Oita-san kemudian menggumamkan sesuatu.


"Senang bekerjasama dengan kalian, rekan rahasia ku."


**


Sementara itu Nimis berusaha menyusul Ardenter yang sudah berjalan duluan. Tapi Ardenter tidak memperdulikannya dan malah mulai membuka segel bungkus rokok tadi.


"Tunggu dulu! Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan?"


"Tidak ada, aku hanya memberitahunya kalau saat ini anggota kita sedang tidak lengkap."


"Kau … jangan-jangan kau yang memberinya informasi itu?"


"Ya begitulah. Bos itu orangnya membosankan, jadi aku sedang mencari hiburan baru."


Ardenter seakan tidak peduli dengan apa yang akan terjadi kedepannya untuk organisasi mereka. Ia dengan santainya menarik satu batang rokok dan ingin menyalakannya dengan korek. Tapi sebelum korek itu membakar ujung rokoknya, Nimis mengehentikannya terlebih dahulu.


"Oi … siapa yang bilang kalau kau boleh merokok? Berikan itu, aku akan menyitanya."


"Hah …! Enak saja! Ini hasil kerja kerasku. Jadi aku berhak memakainya."


Tapi Nimis tidak ingin mendengar alasan apapun. Ia mengulurkan tangannya dan menunggu Ardenter untuk menaruh rokok itu di telapak tangannya.


"Cepat berikan."


"Tidak mau!"


"Ardenter."


"Tidak akan pernah!"


Ardenter tidak ingin memberikan hasil kerja kerasnya kepada Nimis begitu saja. Kemudian Nimis menatap tajam Ardenter dan memanggilnya untuk sekali lagi.


"Akihito …. Cepat berikan kepadaku."


Mendengar nama aslinya dipanggil, Ardenter refleks menengok karena terkejut akan hal itu. Dan ia pun bertatapan langsung dengan mata Nimis. Meski sempat bersikeras untuk menolak, tapi pada akhirnya Ardenter menyerah dan merelakan rokok itu untuk disita oleh Nimis. Ia pun berjalan dengan cepat sambil sedikit menggerutu.


"Tch! Dasar nenek cerewet!"


Melihat Ardenter yang seperti itu, Nimis merasa kalau sikapnya berlebihan. Jadi ia memanggil kembali Ardenter lalu melemparkan satu batang rokok kepadanya.


"Mungkin satu kali sehari tidak apa-apa."


"Heh …! Jangan menceramahiku. Kau bukan ibuku!"


"Apa mau kusita lagi?"


Mereka pun berjalan bersama lalu pulang kerumahnya masing-masing.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2