Crisis World XX

Crisis World XX
Chapter 129 : Fase Kedua


__ADS_3

Arisu berhasil menyembuhkan sebagian kecil orang di dalam dome berkat ucapan serta aura miliknya. Tapi sayangnya, itu belum cukup untuk menyembuhkan semuanya.


Arisu dapat menyembuhkan kira-kira kurang dari lima puluh orang dengan sekali ucapannya. Meski begitu, masih ada belasan hingga puluhan ribu yang terinfeksi dan terkena efek cuci otaknya.


Arisu tahu kalau itu jauh dari kata efektif, tapi karena tidak ada cara lain yang bisa ia lakukan maka dia akan terus melakukannya. Saat ia sudah bertekad seperti itu, tiba-tiba datang bantuan lain yang tidak terduga.


Dalam keadaan berantakan dan penuh luka, Nigiyaka-san memapah Mei-senpai dan Akihito-san yang tidak sadarkan diri. Ia membawa sebuah kartu remi bergambar Joker dengan aura aneh disekitarnya.


"Apa ini?" tanya Herlin.


"Aku tidak tahu, tapi orang yang menyebabkan kekacauan ini bilang kalau kartu itu bisa menghentikannya."


"Kau bertemu dengan orang yang membuat kekacauan ini?!" tanya Arisu. Dia lebih mendekati Nigiyaka-san yang sepertinya tahu sesuatu. "Apa aku bisa bertanya langsung padanya?" lanjutnya.


"Sayangnya itu mustahil."


"Apa?! Kenapa tidak bisa?!"


"Tenang dulu, Arisu." Oukami menenangkan Arisu yang terlihat terburu-buru.


Sebenarnya aku juga ingin lebih cepat menemuinya dan mengakhiri kekacauan ini, tapi sepertinya Nigiyaka-san punya alasannya tersendiri. "Apa kau tidak kenal siapa dia? Dia adalah Assassin yang terkenal di dunia bawah, Katana yang menghasilkan panas neraka dan ledakan tak berhenti. Sang iblis kebal api," ucap Oukami.


"Tidak mungkin, jangan bilang kalau kau ...."


"Benar, itu julukanku. Namaku adalah Nimis." Nigiyaka-san melanjutkan ucapan menggantung Arisu.


Aku tahu kalau Nigiyaka-san terkenal saat menjadi Assassin sebelumnya. Tapi tidak kusangka dia juga punya julukan. Apa-apaan julukan kerennya itu? Aku juga mau punya!


Kira-kira apa ya yang cocok denganku? Sang Petir Coklat? Atau mungkin Emerald yang menyambar? Kau tahu karena ketika aku bersatu dengan Cecilia saat itu, rambutku berubah menjadi warna hijau dengan listrik-listrik menyambar di sekitar tubuhku. Kurasa itu adalah yang paling cocok denganku. Hehehe ....


Aku kembali fokus pada keadaan saat ini, tidak ada waktu untuk memikirkan hal seperti itu saat ini. Arisu kelihatan bingung ketika mengetahui orang seperti Nigiyaka-san berada di sini.


"Lalu apa yang kau lakukan di sini? Apa kau berniat untuk membunuh semua orang yang ada di sini?"


"Tidak. Aku tidak akan membunuh seseorang selain kalau seseorang membayarku, lagipula aku bergabung menjadi salah satu bodyguard kalian. Jadi tugasku saat ini adalah melindungimu."


"Jadi begitu, kau menjadi salah satu anggota Black Rain, ya?" Setelah diberi penjelasannya, Arisu menjadi lebih tenang. Aku tahu masih banyak pertanyaan di dalam kepalanya tentang ini, tapi dia menahannya dan beralih ke topik yang lebih penting.


"Jadi, apa yang ada di tanganmu itu? Dan kenapa orang yang membuat kekacauan ini tidak bisa kita temui?" Arisu menunjuk ke arah kartu yang dipegang oleh Nigiyaka-san.


"Aku sudah membunuhnya."


"Apa?!" Semua orang terkejut ketika Nigiyaka-san mengucapkan hal itu.


"Ia pernah berada satu organisasi denganku di bawah Heiwa Pharmacy yang dipimpin oleh Astaroth, tapi aku keluar dan kami bertiga berhadapan dengannya tadi."


"Lalu kau membunuhnya? Temanmu?"


"Teman? Meskipun aku pernah berada satu organisasi dengannya, bukan berarti kalau kami berteman. Ya, meskipun tadi pertarungan yang aku lakukan cukup menyulitkan."


Begitulah yang aku dengar darinya. Di dunia bawah, tidak peduli sedekat apapun kalian, tidak ada jaminan kalau kami akan aman. Bahkan saling membunuh pun bisa terjadi pada mereka. Mengerikan.


Tapi entah imajinasiku atau apa. Aku bisa melihat sekelebat sorot mata kesedihan yang langsung menghilang diakhir kalimatnya. Mungkin itu hanya imajinasiku saja.


"Lupakan hal itu, kartu ini katanya bisa menghentikan kekacauan ini. Meskipun aku tidak tahu cara menggunakannya." Nigiyaka-san memberikan kartu itu pada Arisu.


Ia membolak-balikkan kartu itu dan dari penampilannya itu hanyalah sebuah kartu remi Joker biasa. Tapi bagi para Exception, mereka bisa merasakan aura familiar pada kartu ini. Aura yang paling banyak berada di sini— bahkan di kota ini.


"Ini bukan perasaanku saja, kan?" ucap Arisu ragu.


"Benar, aura di kartu ini ... sama dengan aura yang menyelimuti para warga yang sedang terinfeksi," lanjut Herlin.


Aku bisa tahu kalau itu adalah kartu asli. Aura yang diciptakan oleh manusia berbeda-beda dan tidak bisa persis sama kecuali menggunakan suatu skill, jadi kartu itu memang berasal dari orang yang menciptakan semua kekacauan ini.


Tapi aku masih bingung, apa hubungannya kartu itu dan menghentikan semua ini? Yang dibutuhkan oleh Arisu sekarang adalah sesuatu yang dapat membuat aura dan suaranya sampai pada orang-orang yang terinfeksi, dengan begitu mereka secara otomatis akan sembuh. Tapi dia malah memberikan kartu itu.


"Ohoakh!"


Saat aku sedang berpikir, kami semua dikejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba memuntahkan darah dan jatuh tersungkur ke lantai. Pupil matanya mengarah ke atas dan tubuhnya kejang-kejang.


"Siapapun cepat beri bantuan medis!" Salah satu anggota White Cloud memeriksa keadaan orang yang tiba-tiba jatuh tersebut.


Setelah itu dalam selang waktu beberapa detik, puluhan orang lainnya mengalami hal yang sama. Semuanya berjatuhan layaknya diserang oleh sesuatu. Caramel yang mengurung mereka di dalam kubus transparan buatannya pun kemudian melepaskannya untuk diberikan perawatan lebih lanjut.


Tapi muntah darah mereka menjadi tak terkendali, bahkan salah satu dari mereka memuntahkan darah ke wajah anggota White Cloud. Setelah itu ia pun tidak bergerak lagi dan nafasnya pun berhenti.


"Infeksinya memiliki batas waktu? Sebelum akhirnya tubuh mereka mencapai batas ... dan tewas?" ucap Arisu.


Kami yang berada di dekat panggung tidak bisa berbuat banyak, kejadian ini berlangsung terlalu tiba-tiba dan berakhir dengan sangat cepat hingga kami tidak memiliki waktu untuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi.


"Kita harus membantu mereka!"


"Tunggu!"

__ADS_1


"Apa yang perlu kita tunggu lagi?!"


Caramel menghadang Oukami yang ingin mendekati orang-orang yang sudah mencapai batasnya itu. Sepertinya ia bisa merasakan sesuatu yang tidak bisa kami rasakan, mengingat kubus transparan itu terhubung langsung dengan dirinya.


Caramel terus memperhatikan mereka— terutama anggota White Cloud yang terkena muntahan darah. Sampai pada akhirnya, ia mencapai sebuah kesimpulan yang membuat matanya melebar.


"Semuanya! Naik ke atas panggung!" Tiba-tiba Caramel berteriak memperingatkan semuanya.


Aku masih belum tahu apa yang terjadi. Tapi teriakan Caramel barusan merupakan pertanda yang tidak baik. Aku langsung melompat ke atas panggung seperti yang Caramel suruh, sementara yang lainnya juga demikian.


Herlin juga menggendong Mei-senpai sementara Ishikawa-san memapah Akihito-san yang sedang tidak sadarkan diri. Kami semua dan beberapa anggota White Cloud berhasil naik ke atas panggung dengan cepat.


Langkah selanjutnya dilakukan oleh Caramel. Ia menghilangkan ratusan kubus kecil buatannya yang membebaskan semua orang-orang yang sedang terinfeksi itu. Setelah itu ia membuat sebuah kubus transparan besar yang mengelilingi seluruh panggung ini.


"Apa kau mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi saat ini?!" Oukami terlihat sangat marah karena Caramel melakukannya tanpa menjelaskan apapun kepada kami semua.


Setelah mengatur nafas, Caramel kemudian menjelaskannya pada kami. "Ada yang aneh sebelum mereka mati. Darah yang mereka keluarkan mengandung aura yang sama dengan kartu itu."


"Lalu kenapa kau mengurung kami semua di sini?!"


"Itu karena—"


"??!!"


Sebelum Caramel menyelesaikan kata-katanya, anggota White Cloud yang terkena muntahan darah di wajah tiba-tiba berteriak dan bertingkah aneh. Ia memegangi lehernya seakan ada sesuatu yang masuk ke dalam tubuhnya dan setelah itu ia berhenti bergerak sambil berdiri.


"Oi?! Kau tidak apa-apa?!" Salah satu temannya yang tidak sempat masuk ke dalam kubus Caramel bertanya padanya. Tapi tidak ada jawaban verbal yang diberikan padanya. Yang ia terima hanyalah jawaban menggunakan serangan.


Kepalanya terpisah dari tubuhnya bahkan sebelum ia menyadarinya. Itu dilakukan oleh anggota White Cloud yang terinfeksi itu. Kesadarannya kini benar-benar sudah hilang dan dia kini bersikap agresif seperti orang-orang sebelumnya.


"A-Apa? Exception ... juga bisa terinfeksi?" ucap Oukami.


"Kita sepertinya lolos dari fase pertama, tapi setelah masuk ke tubuh seseorang. 'Sesuatu' ini menjadi lebih kuat dan bisa mempengaruhi Exception, dan itu adalah fase keduanya," jelas Herlin.


"Apa?"


"Tentu saja itu hanya dugaanku, tapi yang perlu kita lakukan sekarang adalah mencari kegunaan kartu itu."


"Kau masih mau mencoba memanfaatkan kartu bodoh itu?! Di saat teman-temanku saling membunuh satu sama lain?! Apa kau sudah gila?!" Oukami mendekati Herlin dan menarik kerah kemejanya. Sementara wajah Herlin masih biasa dan hanya menatap Oukami saja.


"Oi, Oukami." Arisu mencoba menenangkannya tapi sepertinya itu tidak berhasil.


"Tentu saja aku bersimpati pada mereka, tapi aku mencoba memanfaatkan informasi yang ada. Karena ini jadi lebih buruk dari yang aku duga."


"Itulah yang sedang aku cari tahu."


"Oukami, Herlin! Awas!"


"??!!"


Di belakang Herlin ternyata salah satu anggota White Cloud juga terinfeksi dan berusaha menyerang Herlin serta Oukami. Mereka tidak memiliki waktu untuk menghindar, tapi tiba-tiba orang yang menyerang mereka tercincang menjadi bagian-bagian kecil daging ketika berada di udara.


"Apa yang ... kau lakukan?"


"Jika kau terus membuang waktuku, mungkin akan lebih banyak temanmu yang akan berakhir seperti dia."


"Tch!"


Meskipun sulit untuk menerimanya, tapi Oukami melepaskan kerah Herlin dengan kasar. Setelah merapikannya lagi, Herlin kemudian berjalan mendekati Arisu lalu memberikan kartunya.


"A-ada apa?"


"Aku sudah menemukan fungsi kartunya."


"Eh? Sejak kapan?"


"Saat orang itu menyerangku, aku menyadari sesuatu. Kalau kartu itu sebenarnya adalah perantara."


"Perantara?"


"Benar. Aura mu tidak mungkin mencapai seluruh kota dalam satu waktu, bahkan aku ragu kalau Oita-san— yang jauh lebih kuat dari kalian pun bisa melakukannya. Di situlah kartu itu berguna, dia akan menjadi perantara yang membuat auramu terhubung dengan aura kartu ini yang dengan kata lain adalah orang-orang yang terinfeksi."


"Jadi maksudmu hal ini sesederhana 'suaraku sampai kepada mereka, tapi tidak dengan auraku'. Begitu?"


"Jika kau simpulkan begitu ..., ya benar."


"Dia benar-benar hebat, ya?" Cecilia berbicara di dalam kepalaku. "Dia bisa berpikir dengan cepat dan memanfaatkan petunjuk yang ia miliki dengan sangat baik," lanjutnya.


Aku juga berpikir begitu. Meskipun aku tahu kalau prakteknya tidak akan semudah itu, tapi Herlin dengan hati-hati menuntun semua informasi dan petunjuk yang ia miliki ke arah yang benar.


"Tapi ada satu masalah yang cukup merepotkan."


"Apa itu?"

__ADS_1


"Apa kau lupa, ada sebagian orang yang kau sadarkan sebelumnya?"


"Benar juga! Bagaimana kondisi mere—"


Arisu baru ingat kalau ada beberapa puluh orang yang berhasil lepas dari infeksinya— aku juga lupa sih sebenarnya. Tapi matanya melebar ketika melihat kondisi mereka. Anggota White Cloud yang terinfeksi membunuh mereka semua dengan brutal.


Tidak ada yang tersisa. Sama sekali. Semuanya dibunuh oleh para Exception yang seharusnya melindungi mereka. Dinding kubus transparan buatan Caramel yang memisahkan kami pun juga penuh dengan cipratan darah para korban.


"Tidak mungkin ...." Arisu jatuh terlutut lemas karena terlambat menyelamatkan mereka.


"Aku takut yang lainnya akan berakhir seperti mereka."


"Tunggu, tunggu, tunggu sebentar. Jadi maksudmu ... kita terjebak di sini? Mereka juga tidak punya banyak waktu, lho. Orang-orang biasa akan segera mati memuntahkan darah jika sudah sampai batas tubuhnya, tapi jika kau menyembuhkan mereka sekarang, mereka juga akan dibunuh oleh para Exception." Caramel menjelaskan situasi sulit yang kita miliki saat ini.


Hening sempat menyerang kami semua saat ini. Tentu saja. Keadaannya jadi lebih rumit dari yang kami semua duga, apalagi kita punya batas waktu acak yang mempertaruhkan nyawa para manusia yang tidak berdosa itu.


"Buka barrier-nya." Tapi aku. Tiba-tiba malah berbicara sesuatu yang konyol saat ini.


"Eh?"


"Apa?"


Tentu saja semuanya terkejut. Tapi bagiku tidak ada waktu lagi untuk ragu. Aku mengeluarkan pedangku yang ku taruh di punggungku. "Tetsu." Lalu memanggil Tetsu keluar.


Tetsu kemudian keluar setelah aku panggil. "Kau memanggilku, Iraya?"


"Ya, maafkan aku karena membuatmu keluar, tapi kami sedang kekurangan orang saat ini."


"Santai, santai. Aku sudah biasa berada di luar inangku karena pekerjaan rumah yang biasa aku kerjakan di rumah."


"Benar juga."


"Iraya, sebenarnya apa yang ingin kau lakukan?" tanya Herlin.


"Sederhana saja, aku akan melawan para Exception itu. Kalian bisa membantuku dengan menyelamatkan para warga."


"Tapi jumlah mereka lebih dari seratus orang! Terlebih lagi mereka adalah Exception yang sudah melewati tes sulit untuk masuk ke White Cloud!"


"Ya, terus?"


"Eh?"


"Aku tidak tahu sekuat apa mereka, tapi yang aku tahu adalah aku tidak sendirian."


Arisu sepertinya menyadarinya. Ia melihat ke belakang dan ada anggota Black Rain lainnya. Ishikawa-san terlihat geleng-geleng tidak percaya, tapi aku bisa melihat senyum di wajahnya. Oukami juga sepertinya berpihak padaku dan membentuk sebuah morningstar dengan auranya.


"Ingat satu hal, Iraya. Jangan bunuh mereka," ucap Oukami.


"Akan kuingat hal itu."


Sementara Caramel berjalan ke arahku dan menempel padaku. "Kau tahu, aku selalu berpihak pada anak ini apapun yang terjadi. Jadi ... maaf saja, ya."


"Nigiyaka-san, bagaimana denganmu?"


"Aku akan berjaga di sini sambil menunggu mereka berdua sadar. Jadi lakukan saja sesukamu."


Arisu kali ini kalah dalam voting suara. Jadi dia tidak bisa apa-apa dan mau tidak mau menuruti permintaan kami. Tapi aku yakin ini adalah pilihan terbaik daripada harus terjebak dalam kebingungan tanpa akhir.


Arisu tersenyum kecil tapi juga terlihat bersyukur. "Ya ampun, kalian orang desa memang benar-benar barbar. Aku akan menyembuhkan mereka semua, tugas kalian adalah melindungi mereka!"


"Serahkan pada kami. Kalau begitu buka barrier-nya, Caramel."


Arisu mundur beberapa langkah untuk mendapatkan ruang. Sementara kami semua bersiap di pinggir panggung, kami harus berhati-hati agar tidak membunuhnya.


Aku mengambil gagang pedang tanpa bilah yang aku gantungkan di pinggangku, lalu setelah itu aku mengalirkan auraku kesana dan menciptakan sebuah bilah pedang bersinar berwarna hijau. Sementara Tetsu memegang Pedang Tetsu seperti biasa. Setelah siap, tiba-tiba di sampingku Herlin berdiri bersiap menghadap ke depan juga. "Herlin?" panggilku.


"Kau ini benar-benar bodoh, kau tahu?"


"Hehehe ... maaf, ya."


"Tapi aku tidak akan melarang tindakan bodohmu ini. Ingatlah agar sebisa mungkin darah mereka tidak masuk ke dalam tubuhmu bahkan lewat luka."


"Aku mengerti."


Barrier Caramel perlahan-lahan menghilang dari atas ke bawah dan aura Arisu juga sudah mulai mengelilingi tubuhnya. Ia mengangkat tinggi-tinggi kartu itu dengan dijepit oleh kedua jarinya.


"Sekarang semuanya ...." Aku dan Arisu tanpa sadar mengucapkan hal yang sama.


"... Serang!"


"... Sadarlah!"


Sekali lagi pertarungan besar serta tidak singkat terjadi di dalam dome penuh dengan puluhan ribu orang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2