Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 52 : Sesuatu Di Dalam Pedang


__ADS_3

Setelah taruhan gila yang dilakukan oleh kubu Red Flame dan Black Rain telah disepakati oleh Oita-san. Orang yang menanggung beban paling besar disini adalah aku, karena jika aku kalah maka Black Rain akan menghilang. Sial.


"Kau sudah siap, kan?" tanya Cecilia.


"Tentu saja!"


Tentu saja tidak, bodoh. Aku belum mengetahui kekuatannya, aku juga sama sekali tidak mengetahui bagaimana pola serangannya. Bagaimana bisa aku bilang kalau aku ini sudah siap.


"Bersiap!"


Ryuzaki mengangkat tangannya dan bersiap untuk memulai pertandingan ini. Tatapan Hayashi juga sangat fokus mengarah kepadaku. Aku juga bisa merasakan aura yang kuat disekitarnya. Aku mengeluarkan butiran-butiran keringat dari dahiku. Rasa gugupku sudah mencapai puncaknya.


Sebelum Ryuzaki menjatuhkan tangannya, terdengar suara anak kecil yang tiba-tiba memerintahku entah dari mana.


"Hei, kau! Lindungi lengan kananmu!"


"Eh?" Aku dan Cecilia mengeluarkan respon yang sama terhadap suara yang kami dengar barusan.


"Mulai!"


Swuuushh…


Hayashi melesat dengan cepat. Kecepatan lesatannya membuat hembusan angin yang sangat kuat yang membuat orang diluar arena harus melindungi matanya.


Sementara aku yang masih bingung dengan suara yang aku dengar tadi, langsung mengikutinya tanpa pikir panjang.


Triiing…


Suara kedua pedang yang beradu menggema di dalam ruangan itu. Membuat penonton yang melihat dari luar arena tersadar dengan apa yang sedang terjadi. Aku berhasil menahan tebasan pedangnya yang mengincar lengan kananku.


"… !!! Kau bisa menahannya?" tanya Hayashi.


"Y-Ya begitulah."


Dari ekspresi wajahnya, sepertinya dia sangat terkejut karena aku berhasil menahannya. Jangankan dia, aku saja tidak percaya kalau aku bisa menahannya. Saat kami sedang beradu, aku melancarkan tendanganku kearah perut Hayashi. Tapi dia masih bisa menghindarinya dan lompat menjauh ke belakang.


Tanpa kusadari, Ryuzaki ikut memicingkan matanya. Sepertinya dia juga terkejut dengan refleks ku untuk menangkis serangan Hayashi barusan.


Hayashi terdiam sebentar. Ia mencoba memikirkan jawaban yang paling tepat untuk kejadian tadi. Tapi ia tidak bisa memikirkan alasan lain selain 'itu hanyalah sebuah kebetulan'. Ia yakin bahwa kecepatannya tadi melebihi kecepatan peluru. Hayashi kembali dalam posisi kuda-kuda menyerang. Dia membuang semua perasaan ragunya dan bersiap untuk kembali menyerang.


"Itu tadi pasti hanya kebetulan," gumamnya.


Sementara aku masih terkejut sekaligus bingung dengan apa yang terjadi barusan.


"Hei Cecilia, apa kau mendengarnya barusan?"


"Aku dengar. Tapi darimana asalnya?"


"Aku disini, loh."


Suara itu terdengar lagi. Aku kemudian menengok kearah sumber suara. Suara tersebut berasal dari pedang yang aku pegang sekarang.


"Pedang ini bicara?"


"Ah… akhirnya kau menyadarinya. Tapi untuk sekarang, aku sarankan kau untuk melindungi jantungmu."


"Ha?"


Aku yang segera menyadari kalau aku sedang berada di tengah pertandingan pun kemudian kembali mengarahkan fokusku ke arah Hayashi yang sudah melesat kearahku dengan kecepatan yang lebih cepat lagi.


Swuuushh… Triiingg…


Tapi aku lagi-lagi bisa menahan serangan Hayashi yang berniat untuk menusuk tepat kearah jantungku.


"Setelah ini dia akan mengincar lengan kirimu, lalu perut sebelah kananmu. Ah… dia ingin mengincar kepalamu, kau bisa menghindari yang satu itu."


Triiingg… Triiingg… Swuuushh…


Semua tebakannya benar. Aku benar-benar bisa menahan dan menghindari semua serangan Hayashi. Juga tidak terlepas karena Herlin yang melatih tubuhku dengan sangat keras sebelum ini. Entah kenapa aku memiliki perasaan yang kuat, kalau aku akan memenangkan pertandingan ini. Sebuah senyum kecil terbentuk di sudut bibirku.


Sementara Herlin dan Kurobane-senpai terkejut dengan apa yang terjadi di atas arena. Bukan hanya mereka berdua, hampir seluruh orang yang ada di dalam ruangan itu terkejut.


"D-Dia hebat sekali…" ucap Kurobane-senpai.


"Aku tidak menduganya."


"Eh? Bukankah kau percaya padanya tadi?"


"Aku memang percaya padanya. Tapi ini melebihi ekspektasiku, dia bahkan belum terluka sama sekali. Kenapa dia bisa jadi sekuat ini?" ucap Herlin.


Kurobane-senpai terdiam melihat respon Herlin. Orang yang ia kira hanya akan menjadi beban baginya jika ia bergabung nanti, ternyata lebih hebat dari yang ia duga.


"Hah… Ternyata tidak ada yang perlu aku khawatirkan," gumam Oita-san dengan sebuah senyum lega di wajahnya.


Triiingg… Triiingg…


Selama pertandingan berjalan, aku hanya terus-terusan menghindar dan menangkis serangan Hayashi tanpa membalasnya. Aku belum memiliki kesempatan untuk menyerangnya balik.


Hayashi kemudian mengganti kuda-kudanya. Ia menebaskan pedangnya beberapa kali ke depan dan menciptakan hembusan angin tajam yang dapat melukaiku jika terkena hembusannya.


Swuuushh… Swuuushh… Swuuushh…


Aku berusaha untuk menghindarinya. Tapi lebar arena yang kecil serta jangkauan serangannya yang luas membuatku memilih untuk melindungi bagian yang penting seperti mata dan kepalaku. Sementara yang lainnya terlihat bekas sayatan yang besar dan membuat robek di bagian celana, baju, dan lainnya. Bahkan sarung pedang yang melingkari tubuhku juga putus karena serangannya. Sial, ini tidak ada habisnya.


"Oi, pedang!"


"Hn?"


"Apa tidak ada celah yang bisa kumanfaatkan dari orang ini?"


"Sejauh ini aku belum menemukannya. Tapi apa kau mau tahu cara agar dia bisa memberi celah? Kau bisa terluka, loh."


"Tidak apa! Cepat katakan saja! Cecilia! Bantu aku dengan penyembuhannya."


"Serahkan padaku!" ucap Cecilia.


"Kalau begitu terjang hembusan angin ini lalu ketika sudah mendekatinya, arahkan tangan kirimu ke perut bagian kanan dan setelah itu hantamkan kepalamu dengan keras ke depan."


"Baiklah."


Aku kemudian mengikuti apa yang ia instruksikan dan menerjang hembusan angin tajam ini. Setelah aku mendekat, hembusan angin ini berhenti dan ia berusaha untuk menusuk perutku.


Craasshh…


Telapak tangan kiriku tertusuk cukup dalam walaupun tidak sampai menembus ke arah perut. Aku menggenggam besi pedang yang tertancap di tangan kiriku yang membuatnya tidak bisa bergerak kemana-mana kecuali dengan melepas pedangnya.


"Ap—"


"Skakmat!"


Duuukkk…

__ADS_1


Hantaman kepala ke kepala yang aku lakukan membuat kening kami berdua berdarah. Hayashi terhuyung dan genggaman pada pedangnya melemah. Dengan cepat aku menarik pedang Hayashi yang masih menancap di telapak tanganku menjauh dan menebas lengan kanan bagian atasnya.


Craasshh…


Bagian itu adalah yang paling tepat untuk diincar. Karena tidak membahayakan nyawanya tapi merebut kemampuan bertarungnya untuk saat ini. Hayashi kemudian terlutut sambil memegangi lengan kanannya yang terluka.


Aku kemudian mencabut pedang Hayashi yang tertancap di tanganku dan kemudian melihat kearah belakang arena. Tembok yang berada di belakangku rusak berat dan hampir roboh akibat serangan dari Hayashi.


Lalu aku melihat ke arah Ryuzaki. Ia memasang wajah datar. Meskipun dia berhasil menutupi ekspresinya, tapi dia tidak bisa menutupi fakta kalau kami berhasil memenangi taruhan.


Ryuzaki mengangkat tangannya dan berteriak dengan keras. "Pemenang pertandingan ini, Iraya-kun!"


Setelah memastikan kemenanganku, aku kemudian berbicara dengan pedangku. Tanpa dia mungkin aku akan kalah di pertandingan tadi.


"Hei, pedang! Kita perlu bicara nanti, tapi terima kasih atas bantuannya. Tanpamu mungkin aku akan kalah dalam pertandingan tadi."


"Hn? Ya tidak masalah, kalau begitu aku ingin tidur dulu."


"Dan tentu saja terimakasih Cecilia, meskipun kau menyebalkan tapi aku tidak akan bisa melakukannya tanpamu."


"Apa kau benar-benar berterima kasih padaku?" ucapnya datar.


Setelah selesai bicara, aku kemudian berjalan menghampiri yang lainnya. Aku mau memamerkan kemenanganku kepada Herlin. Kita lihat bagaimana ekspresinya nanti.


"Hehe… bagaimana?!"


"Nn, kerja bagus. Kau berhasil menyelamatkan organisasi ini, Iraya-kun," ucap Oita-san.


Oita-san menyenggol tangan Herlin agar dia melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Herlin yang sadar dengan maksud Oita-san kemudian membuka mulutnya.


"Ah, Nn, Kau melakukannya dengan baik. Aku tidak tau kenapa kau bisa sekuat ini. Tapi kerja bagus."


"Yap! Kerja bagus!" ucap Ishikawa-san.


Mm… entah kenapa ucapan selamat dari mereka terasa hambar. Tapi biarlah, yang terpenting adalah keutuhan organisasi ini.


Setelah merayakan kemenanganku sebentar, kami semua secara serempak menengok ke arah Kurobane-senpai yang membuatnya merasa canggung.


"A-Ada apa?"


"…"


Kami semua hanya diam. Aku tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi. Aku hanya tinggal menunggu jawabannya saja. Kurobane-senpai yang sadar kalau jawabannya ditunggu oleh kami semua, akhirnya membuat sebuah keputusan.


"Hah… baiklah, aku akan bergabung. Tapi aku akan menempatkan keselamatanku sendiri diatas segalanya. Apa kalian semua dengar itu?"


Mendengar jawabannya, kami semua kecuali Herlin tersenyum puas. Anggota Black Rain kembali bertambah dan tentu saja kekuatannya semakin besar.


"Dengan begini kita bisa lebih sering melakukan misi-misi berbahaya," ucap Ishikawa-san.


"Ya, setidaknya ada satu orang yang bisa kita jadikan tumbal jika musuh kita terlalu kuat," ucap Herlin.


"Kalian ini…"


"Oi! Kalian dengar apa yang baru saja kukatakan, kan? Oi!"


"Mereka hanya bercanda."


Tawa lepas terdengar dalam kelompok kami. Seakan menjadi penyambut datangnya anggota baru Black Rain.


Sementara Ryuzaki menghampiri Hayashi yang masih terlutut sambil memegangi lukanya. Ia kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu Hayashi berdiri.


"Hn?"


"Bahkan di momen-momen terakhir, dia menerjang serangan yang kuciptakan dan mengorbankan tangan kirinya agar bisa membuat celah."


"Yah…"


Hayashi menerima uluran tangan dari Ryuzaki dan kemudian berdiri. Mereka berdua melihat ke arah Iraya yang sedang bersenda gurau dengan yang lainnya.


"… Mungkin dia memang benar-benar spesial," gumam Ryuzaki.


**


Setelah mendapat beberapa perawatan dan perban dari anggota Red Flame bagian medis, aku akhirnya bisa pulang dengan cukup banyak perban yang melilit di sekujur tubuhku.


Hari yang melelahkan bagiku, apalagi pakaianku sampai robek dan hampir tidak bisa kugunakan lagi. Yah, walaupun mereka juga menawarkan pakaian yang hampir sama kepadaku. Dan mereka juga akan menyiapkan sarung pedang agar aku mudah membawa pedang baruku ini. Tentu saja aku menerima semua itu dengan senang hati.


Saat malam sudah sangat larut, kami akhirnya sampai di depan Himawari Orphanage dan setelah itu aku akan berjalan kaki sampai ke rumah. Sebelum pulang, aku sempat melakukan perbincangan dengan Herlin.


"Hei, Iraya."


"Hn?"


"Apa kau baik-baik saja soal itu? Apa tidak akan dimarahi nanti?"


Herlin melihat kearah perban yang ada di kepala dan tangan kiriku. Dia berpikir kalau ibuku akan khawatir jika aku pulang dengan luka yang begitu banyak.


"Ya tenang saja! Aku akan mencari alasan soal hal ini nanti. Hehe…" Aku hanya bisa memasang tawa palsu yang langsung sirna begitu saja.


"Begitu ya. Oh iya, aku juga berterima kasih padamu."


"Untuk apa?"


"Aku memang mempercayaimu, tapi di dalam hatiku aku masih memiliki keraguan dengan kekuatanmu saat ini. Tapi setelah melihat pertandingan tadi, sepertinya aku bisa menghilangkan keraguan itu."


"Ah, itu, ya? Tadi itu benar-benar brutal sekali sih. Mungkin karena tekad untuk menang ku saat itu sangat tinggi, jadi aku bisa bertambah kuat. Hehe…"


Aku sebenarnya ingin memberitahu kalau pedang yang aku pakai bisa bicara dan membantuku. Tapi nanti saja deh.


"Dan juga…"


"Dan juga…?" tanya Herlin.


"… Aku tidak ingin kehilangan rumahku lagi," gumamku.


Setelah kehilangan ibuku, aku tidak akan membiarkan rumah keduaku—Black Rain hancur. Apapun yang terjadi.


"Hmm? Kau barusan bilang apa?" gumamanku barusan terlalu kecil untuk didengar Herlin.


"Ah, tidak, tidak! Pokoknya kita harus menjaga rumah kita. Jangan biarkan siapapun merebut atau menghancurkannya!"


"Nn, mari jaga rumah kita bersama-sama."


"Bersama-sama."


Tanpa disadari oleh mereka berdua, Kurobane-senpai yang telah selesai menguping pembicaraan Herlin dan Iraya langsung beranjak pergi dari tempat itu.


**


Tap… Tap… Cekrek…

__ADS_1


"Aku pulang."


Aku masuk ke dalam rumah, kondisinya gelap karena lampu di dalam sama sekali belum kunyalakan. Piring-piring sisa makan kemarin juga belum kucuci, masih berserakan diatas meja dan rak cuci piring.


Aku meninggalkan itu semua dan langsung berjalan ke arah kamar mandi. Tubuhku terlalu lelah untuk membereskannya.


Setelah mandi, aku langsung berjalan ke kamar dan merebahkan diri di kasur. Aku masih bisa merasakan sakit di sekujur tubuhku bekas pertandingan tadi. Aku mengangkat tangan kiriku yang di perban keatas.


"Aku sudah menyembuhkan kepalamu, kau bisa melepaskan perbannya sekarang. Tapi tangan kirimu masih dalam tahap penyembuhan," ucap Cecilia.


Aku membuka perban yang ada di kepalaku dan menaruhnya secara sembarangan di lantai.


"Terima kasih, Cecilia."


Dalam hening, aku sempat memikirkan satu hal. Lalu aku terduduk dan memanggil Cecilia.


"Nee… Cecilia, bisa kau keluar sebentar dari dalam tubuhku?"


"Hm? Kau mau apa?"


"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan."


"Memangnya tidak bisa jika seperti ini saja?"


Syiiinng…


Diiringi suara berisiknya, cahaya yang menyilaukan muncul memenuhi ruangan ini dan tak lama mereda dan muncullah sesosok Spirit dengan rambut hijau panjang—Cecilia.


"Apa yang ingin kau bicarakan?"


"Jika Spirit sepertimu membutuhkan inang untuk bertahan hidup. Berarti suara itu…"


"…!! Jangan-jangan…!"


Kami berdua menengok kearah pedang yang aku sandarkan di tembok. Aku kemudian mendekati pedang itu dan mencoba berbicara padanya.


"Hei, pedang! Apa kau mendengarku?"


"Hn? Hoam… kau memanggilku?" Pedang tersebut meresponku.


Sepertinya dia benar-benar tidur dari tadi.


"Apa kau bisa keluar dari situ sebentar? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu."


"Hn… baiklah."


Syiiinng…


"Hhoaaamm… apa kau memanggilku?"


Dari dalam pedang itu, keluar seorang gadis kecil dengan perawakan sekitar 13-14 tahun. Dengan rambut abu-abu panjang bergelombang selutut. Tidak salah lagi, dia adalah sebuah Spirit.


"K-Kau Spirit? Tapi kau tinggal di dalam pedang? Bagaimana caranya kau bisa hidup disana?"


"Ah… kau mengetahui jenisku? Salam kenal ya, manusia. Dan sepertinya aku bukan satu-satunya Spirit disini," Spirit itu melihat kearah Cecilia.


"Ya begitulah. Tapi sebelum itu aku memiliki banyak pertanyaan untukmu."


Spirit kecil itu melompat ke kasur dengan wajah menghadap ke kasur. Dia menggoyangkan kedua kakinya seperti sedang bermain. Kelakuannya menunjukkan kalau Spirit ini masih seperti anak kecil.


"Silahkan saja~" jawabnya dengan suara yang kecil karena menghadap kasur.


"Jadi bagaimana caramu untuk hidup di dalam pedang itu? Bukankah Spirit memerlukan nutrisi makhluk hidup untuk tetap bertahan hidup?"


"Aku menyerap zat besi yang terdapat pada logam pedang. Oh iya, aku juga suka menyerap karbon."


"Karbon?"


"Nn, di tubuh manusia misalnya, kebanyakan tubuh mereka mengandung protein dan karbohidrat. Lain-lainnya seperti vitamin, mineral, fosfor, dan semacamnya. Sementara kandungan karbon dan zat besi sangatlah sedikit. Lalu aku mencari benda-benda yang mengandung banyak zat besi dan karbon. Salah satu kesukaanku adalah besi.


Sebenarnya ada benda lainnya yang mengandung karbon seperti permata atau pensil. Tapi besi adalah favoritku, terutama besi pada bilah pedang. Mereka digunakan untuk membunuh dan menusukkan ke tubuh musuh. Bekas-bekas darah yang tertinggal di bilah pedang itu adalah kesukaanku karena banyak mengandung zat besi. Jadi kesimpulannya, aku tinggal di pedang karena aku mencari makanan yang kusuka."


Spirit itu bercerita panjang lebar sambil berkeliling kamarku dan memeriksa apa saja yang ada di atas meja belajarku. Rasa penasaran yang sama seperti yang dimiliki oleh anak kecil.


"Apa ada yang seperti itu?" tanyaku kepada Cecilia.


"Aku pun tidak tahu." Cecilia hanya bisa menggelengkan kepalanya karena baru pertama kali mendengar hal seperti itu.


"Pokoknya Spirit-chan, mulai saat ini kau akan tinggal bersamaku, kan?"


"Ya begitulah. Lagipula sekarang kau adalah pemilik pedang itu, jadi mau tidak mau aku akan bersamamu."


"Apa kau sudah memiliki nama? Biasanya Spirit sepertimu tidak memiliki nama, kan?"


"Nama? Sepertinya aku sudah memilikinya kalau aku tidak salah ingat." Spirit itu menyentuh dagunya dengan jari telunjuk untuk membantunya mengingat sesuatu.


"Benarkah?"


"Ya, saat aku tinggal di salah satu pedang sebelum ini, orang-orang banyak menyebutku Masamune."


"Masamune? Itu kan salah satu Katana terkenal di Jepang. Kau pernah tinggal di dalamnya?"


"Ya, cukup lama pula. Orang yang menggunakannya sangat hebat, sehingga aku bisa mendapat banyak makanan berkatnya. Jadi aku membalas jasanya dengan membuat pedangnya menjadi awet dan tahan lama. Tapi itu sudah lama sekali, aku juga sudah bosan memakai nama itu. Jadi kau boleh memberikanku nama lain."


"Begitu ya! Baiklah, aku akan berusaha!"


"Ternyata kau memang menyukai hal seperti ini ya?" ucap Cecilia datar.


Kalau dari yang terlihat warna rambutnya berwarna abu-abu, dia juga merupakan Spirit yang tinggal di pedang, dia menyukai besi… besi… besi…


"Tetsu?"


"Tetsu?" Cecilia dan Spirit itu merespon bersamaan.


"Nn! Mulai sekarang namamu adalah Tetsu!"


"Tetsu… Tetsu… Tetsu… aku menyukainya! Mulai sekarang panggil aku Tetsu!" ucapnya ceria.


"Hah… apa itu nama terbaik yang berada di dalam pikiranmu? Ngomong-ngomong namaku Cecilia. Salam kenal ya, Tetsu."


"Nn! Salam kenal juga, Cecilia!"


Dengan begitu, aku memiliki dua Spirit yang tinggal satu rumah bersamaku. Sebenarnya aku masih memiliki banyak pertanyaan di kepalaku, tapi aku akan meninggalkannya untuk sekarang.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


#Info


Tetsu, artinya besi dalam bahasa Jepang

__ADS_1


__ADS_2