
Saat aku sedang bersantai, tiba-tiba aku merasakan hal yang membuatku merasakan ada bahaya yang akan datang.
Degh…
Jantungku berdebar kencang dan seketika bulu kudukku berdiri. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi rasanya benar-benar aneh. Perasaanku benar-benar tidak enak saat ini.
Tapi kelihatannya bukan aku saja yang merasakan hal itu. Yang lainnya juga merasakan hal yang sama karena kami semua terdiam secara bersamaan. Ekspresi yang lain juga seperti terkejut dan melebarkan matanya, aku juga bisa merasakan butiran-butiran keringat dari mereka.
Dan seakan mengetahui asalnya dari mana, kami semua melihat ke arah yang sama. Melihat ke arah langit, tempat pertarungan Oita-san dan Astaroth sedang bertarung.
"Apa-apaan perasaan aneh ini?" ucap Ishikawa-san.
"Eh?! Ishikawa-san juga merasakannya?!" tanyaku.
"Aku rasa bukan hanya kalian yang merasakannya …," ucap Herlin.
"… Ya, kita semua merasakan perasaan yang sama. Tidak salah lagi, perasaan merinding ini datangnya dari sana," ucap Nimis melanjutkan perkataan Herlin.
Ternyata benar bukan hanya aku saja yang merasakannya. Dan perasaan aneh ini semakin jelas asalnya ketika Nimis menunjuk ke arah langit tempat Oita-san dan Astaroth bertarung. Saat aku sedang bingung, tiba-tiba Cecilia berbicara sesuatu kepadaku.
"Hati-hati, Iraya."
"Eh?"
Aku tidak tahu kenapa ia tiba-tiba memperingatkanku begitu, tapi jika Cecilia sudah berbicara dengan nada serius seperti saat ini, itu berarti aku harus benar-benar mendengarkannya.
"Aku mengerti," gumamku kecil.
**
Sementara itu saat mereka semua sedang waspada dan ketakutan. Di atas langit, tempat Oita-san dan Astaroth bertarung mereka masih melanjutkan pertarungan mereka sampai sekarang.
Entah sudah berapa puluh ribu serangan yang mereka hasilkan masing-masing tapi keduanya masih sama-sama bisa bertahan.
Adu pukulan, adu tendangan, dan yang lainnya semua sudah dilakukan oleh mereka. Semua serangan Astaroth berhasil ditahan oleh Oita-san dengan Invisible Hands miliknya, sementara serangan Oita-san yang mengenai Astaroth seakan tidak berdampak apa-apa karena dirinya yang bisa terus beregenerasi.
Rasa lelah juga tidak mungkin tidak ada di dalam diri mereka saat ini, sekuat apapun orang itu pasti mereka akan merasa kelelahan jika bertarung dua jam tanpa henti dengan sekuat tenaga.
Buuummm… Craaassh…
Adu pukulan kembali dilakukan oleh mereka. Tapi kali ini pukulan Oita-san lebih kuat sehingga berhasil menghancurkan tinju dari Astaroth sehingga darah tersembur hebat dari tangannya.
Meskipun mendapat luka hebat yang bisa mengancam nyawa orang lain, tapi bagi Astaroth itu hanyalah sebuah luka gores karena dirinya bisa langsung beregenerasi dan tangannya kembali utuh seperti semula.
Melihat hal itu berulang kali membuat Oita-san mundur ke belakang sebentar yang membuat Astaroth heran dan seringai hilang dari wajahnya berganti dengan ekspresi kebingungan.
"Hmm? Kenapa kau mundur?"
"Hei, apa kau menyadari suatu hal?"
"Apa?"
"Pertarungan kita bisa menjadi pertarungan tanpa akhir, kau tahu? Apa kau tidak bosan dengan hal itu?"
"Hahaha …! Bosan?! Tentu saja tidak, mungkin karena hal itu lah aku dilahirkan. Ditakdirkan sebagai seorang petarung, itu artinya aku akan terus bertarung sampai mati!"
Jawaban yang sudah bisa diduga oleh Oita-san keluar dari mulut Astaroth. Dari wajahnya saja ia bisa tahu, kalau lawannya saat ini adalah orang yang gila akan pertarungan. Penelitian dan ciptaan-ciptaannya itu hanya menjadi pengisi waktu luang di kala bosan saat tidak ada musuh kuat yang bisa dilawannya.
Benar-benar tidak waras, pikir Oita-san. Ya lagipula dari dulu ia memang berpikir kalau Astaroth adalah orang yang tidak waras. Tanpa sadar Oita-san mengeluarkan senyuman miris yang disadari oleh Astaroth.
"Apanya yang lucu?"
"Tidak ada, aku merasa bodoh karena menanyakanmu pertanyaan itu."
"Kalau kau sudah tahu itu, sekarang ayo kita lanjutkan pertarungan kita!"
"Tidak …."
"Eh?"
Oita-san menolak ajakan Astaroth yang sudah siap untuk bertarung lagi. Senyumannya malah makin lebar karena menganggap Astaroth melupakan sesuatu yang penting dan hanya terfokus kepadanya saat ini.
"Apa kau melupakan sesuatu, Astaroth? Selagi kau menghabiskan staminamu di sini untuk bertarung denganku, Exception yang lain sedang menghancurkan manusia-manusia monster ciptaanmu itu. Oh iya, aku lupa soal raksasa yang kau buat, tapi sepertinya mereka juga sudah berhasil mengalahkannya."
"Apa maksudmu? Tidak mungkin mereka bisa mengalahkan mereka semua sambil menyelamatkan orang-orang."
"Aku tidak bilang kalau tidak akan ada korban jiwa, tapi yang pasti mereka akan berusaha menguranginya."
"Berhenti mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi, kau akan menyesal nantinya."
Oita-san tidak menanggapi perkataan Astaroth barusan, ia malah mengeluarkan ponselnya dari kantong celananya. Ia kemudian melihat ke arah jam digital yang ada di HP-nya menunjukkan pukul 04.23 pagi. Sudah dua jam lebih pertarungan mereka berlangsung.
"Aku rasa sebentar lagi mereka akan selesai."
"Selesai? Sebenarnya apa yang sedang kau—"
Zzztt… Zzztt…
Tiba-tiba bunyi panggilan telepon memotong ucapan Astaroth. Ia bingung dengan panggilan itu tapi Oita-san mempersilahkan Astaroth untuk mengangkat teleponnya dulu sebelum melanjutkan percakapan mereka.
"Halo …?"
"Bos, sepertinya rencana kita gagal."
"Gagal?! Apa maksudmu?!"
Orang yang menelepon Astaroth adalah Lennova yang berada di salah satu gang kecil antar gedung di Tokyo. Selain mengabarkan kegagalannya, ia juga mendapat pesan dari Ivis dan Baram kalau rencananya di Osaka dan Nagoya juga gagal.
"Monster-monster kita berhasil dikalahkan oleh para Exception yang ada di kota masing-masing. Lalu para Subject juga berhasil dikalahkan oleh para pemimpin Kuni no Hashira," lanjut Lennova.
"…."
Astaroth tidak bisa berkata apa-apa lagi. Matanya menjadi gelap padahal tadi ia merasa sangat hidup dan bersemangat. Lennova yang sadar kalau Astaroth tidak berbicara apa-apa kemudian memanggilnya lagi.
"Bos, apa anda masih ada di situ?"
"Ya."
"Apa rencana selanjutnya setelah ini?"
"Untuk sekarang, perintahkan Ivis dan Baram untuk tidak mendekati kota Kyoto, perintah itu berlaku juga untukmu."
__ADS_1
"Aku mengerti. Tapi apa yang akan anda lakukan? Bos …? Bos …?"
Tiit…
Astaroth langsung mematikan panggilan teleponnya tanpa menjawab pertanyaan dari Lennova. Sementara Oita-san yang bisa menebak apa yang terjadi lewat ekspresi Astaroth pun hanya bisa tersenyum sambil menanyakannya sesuatu.
"Bagaimana? Dapat kabar bagus?"
Tapi Astaroth hanya diam seribu bahasa. Tidak bisa menjawab pertanyaan Oita-san dan hanya menunduk sambil memegang HP-nya.
"Dilihat dari ekspresi wajahmu, aku rasa beritanya tidak terlalu bagus, ya?"
Kraakk…
Astaroth menghancurkan HP yang ada di genggamannya menjadi berkeping-keping. Ia lalu membersihkan sisa-sisa HP tadi dari tangannya dan menggumamkan sesuatu.
"Negara ini … dan orang-orang di dalamnya … semuanya tidak berguna."
Angin malam yang tadinya tenang tiba-tiba bergerak seakan menuju ke suatu tempat, yaitu Astaroth sekarang berada. Lama-lama angin yang bergerak menuju ke Astaroth semakin lama semakin banyak dan bergerak lebih cepat sampai mengibarkan rambut dan pakaian Oita-san.
"Aku akan menghancurkanmu bersama dengan kota dan orang-orang yang kau cintai ini."
Awalnya Oita-san hanya menunggu apa yang akan dilakukan oleh Astaroth setelah mengucapkan kata-kata itu. Tapi seketika matanya melebar saat angin yang berhembus kencang tadi berubah menjadi bola energi besar di atas kepala Astaroth.
"Oi! Apa yang mau kau lakukan?!"
"Aku ingin melihat wajah putus asamu, Murasaki Oita. Selain itu aku sudah muak bermain-main denganmu."
"Bodoh! Ada anak buahmu di bawah sana! Apa kau lupa?!"
"Mereka adalah orang Jepang, aku tidak memerlukan orang yang tidak berguna di dalam hidupku."
Selama berbicara dengan Oita-san, Astaroth mengangkat satu tangannya dan terus mengumpulkan energi yang membuat bola energi di atasnya semakin besar. Dan tidak hanya satu bola saja yang ia buat, melainkan tiga buah.
Angin yang berhembus pun semakin kencang dan saking besarnya bola energi itu sampai menutupi cahaya bulan yang membuat kota jadi gelap.
Lama kelamaan bola energi yang tadinya berbentuk plasma memadat dan menjadi layaknya sebuah batu raksasa. Dan jika dijatuhkan ke permukaan oleh Astaroth, maka hal itu akan lebih seperti jatuhnya meteor.
Setelah dirasa cukup besar karena memang sudah terlampau besar ukuran bola energi itu, diameter satu buahnya hampir berukuran sekitar 100 m. Dengan tatapan dingin dan kejam itu, ia mengucapkan satu kata sebelum akhirnya menjatuhkan bola energi itu ke permukaan bumi.
"Mati."
**
Sementara di permukaan, tiga buah bola yang bagaikan meteor itu secara perlahan tertarik oleh gravitasi bumi dan turun menuju ke kota Kyoto. Ribuan warga yang sedang mengungsi menjauhi kota dapat dengan jelas melihat tiga meteor itu turun ke tempat tinggal mereka sebelumnya.
Tidak ada yang bisa mereka lakukan saat ini. Hanya bisa menganga dan terdiam. Banyak yang berdoa untuk keselamatannya masing-masing, ada juga yang menangis ketakutan, berbagai macam ekspresi dapat dilihat dari wajah mereka. Tidak terkecuali Yuuki-san dan anak-anak panti lainnya.
Mereka yang juga merupakan salah satu pengungsi hanya bisa mendoakan keselamatan teman-teman mereka di Black Rain, terutama Yuuki-san yang merapatkan kedua tangannya dan berdoa. Lalu salah satu anak panti bertanya kepada Yuuki-san.
"Bibi, Herlin-neechan ada di mana?"
Pertanyaan polos itu keluar dari mulut anak perempuan yang bahkan belum masuk ke sekolah dasar. Tapi dengan tenang dan senyum ramah, Yuuki-san menjawab pertanyaannya.
"Ia sedang ada urusan saat ini, tapi bibi yakin setelah ini dia pasti akan segera berkumpul lagi dengan kita."
"Benar begitu?"
Kembali ke tempat Iraya dan yang lainnya berada saat ini. Yap, kembali bersamaku lagi di sini. Tubuhku tidak bisa bergerak karena tepat di atas kepalaku saat ini, sebuah meteor besar sedang menuju ke arahku.
"Si-Siapa yang melakukan hal itu?" tanya Ishikawa-san ragu.
"Aku tidak tahu. Tapi kemungkinan besar … Bos kami," ucap Nimis.
"Bos kalian? Oi yang benar saja! Apa dia lupa kalau kalian ada di sini?!"
"Kemungkinan besar dia tidak lupa, dia memang sengaja melakukannya," jawab Ardenter.
"Lupakan dulu soal hal itu! Sekarang apa ada yang bisa kita lakukan?!" tanyaku.
Tapi tidak ada yang menjawab. Semuanya memasang wajah pasrah dan seakan sudah siap menerima kematiannya di sini. Aku memandangi wajah mereka masing-masing tapi semuanya percuma, lalu yang terakhir aku bertanya kepada Herlin.
"Herlin?! Apa tidak ada yang bisa kau lakukan?!"
"Mungkin jika hanya satu buah aku masih bisa menahannya, meski hanya selama beberapa menit. Tapi kalau tiga … aku tidak begitu yakin."
Herlin juga sama pasrahnya dengan mereka. Meskipun ia memberikan jawaban, tapi ternyata itu tidak terlalu membantu banyak. Sial! Apa aku benar-benar akan mati di sini? Aku bahkan belum membalaskan dendam ibuku. Orang yang membunuhnya masih berkeliaran bebas sekarang. Sial! Sial! Sial!
Saat aku sedang berpikir dan mengutuk diriku sendiri karena terlalu lemah, Cecilia tiba-tiba berteriak dan memberitahukanku sesuatu. Sesuatu telah terjadi di atas langit.
"Iraya, coba alirkan auramu ke matamu dan lihat ke atas!"
Aku mengikuti instruksi Cecilia saat ini dan yang kulihat membuatku terkejut. Dua buah tangan hitam raksasa berhasil menahan dua meteor yang sedang jatuh. Bahkan ada satu tangan tambahan lagi yang mencoba untuk menahan satu meteor lagi, meskipun tidak berhasil.
"Itu …."
"Meteornya berhenti turun?"
"Ada sesuatu yang menahannya, Oita-san …."
"Maksudmu Murasaki Oita menghentikan dua meteor itu sendirian?" tanya Nimis.
"Ya, tidak salah lagi."
Semuanya terkejut dengan apa yang mereka lihat saat ini. Mereka sadar kalau harapan mereka untuk hidup belum benar-benar hilang. Lalu aku menyadari sesuatu saat melihat hal itu.
"Herlin!"
"Ada apa?"
"Kau bilang kau bisa menahan satu meteor selama beberapa menit?"
"Benar."
"Kau bisa melakukannya sekarang, kan?!"
Herlin kemudian menyadari kalau hal itu memang bisa ia lakukan. Lalu ia mencari sesuatu dan menghampiri Mei-senpai yang sedang terduduk di pinggir jalan.
"Mei-senpai, bisa bantu aku sesuatu?"
"A-akan kulakukan sebisaku!"
__ADS_1
"Bisa buat aku terbang dengan kemampuan anginmu? Aku akan belajar menyeimbangkan sekarang juga."
"Aku mengerti."
Swuushh…
Mei-senpai kemudian membuat sebuah pusaran angin yang bisa dinaiki oleh Herlin. Lalu Herlin pun naik ke atasnya, meskipun awalnya ia masih sulit untuk menyeimbangkan dirinya, tapi hanya dalam waktu beberapa detik saja ia sudah bisa mengendalikannya dengan baik.
"He-Hebat," puji Mei-senpai.
"Tidak ada waktu untuk kagum, kalian semua bantu aku untuk menghancurkannya selagi aku menahannya. Apa kalian mengerti?"
Kami semua mengangguk secara serentak tanda paham. Lalu Herlin pun berangkat menuju ke atas ke satu meteor yang lolos dari Oita-san. Ia mengangkat tangannya ke atas dan kemudian menyentuh bagian bawah meteor itu.
Herlin kemudian menahan nafas dan mulai mengalirkan aura yang ada di seluruh tubuhnya ke telapak tangannya. Ia mengeluarkan semua yang ia miliki saat ini untuk menahan beratnya batu meteor yang ada di atasnya.
"HAAAKKKHHHH !!!"
Teriakan melengking kerasnya yang hampir tidak pernah ia keluarkan sebelumnya keluar saat ini membuktikan betapa beratnya batu berdiameter 100 meter itu. Lalu setelah beberapa saat berusaha, pergerakan batu meteor itu pun melambat dan sepenuhnya berhenti.
"Be-Berhasil …."
Gumamanku yang mengiringi keberhasilan Herlin saat ini, meskipun harus mengeluarkan semua tenaganya. Herlin dengan nafas terengah-engah berhasil menghentikan pergerakannya untuk sementara waktu.
"Sekarang!"
Craasshh…
Teriakan yang bersamaan dengan keluarnya darah dari hidung dan mulut Herlin akibat harus menahan beban yang berada di luar kemampuannya. Aku tidak bisa membiarkannya lebih lama lagi atau ia akan mencapai batasnya.
Aku memasang kuda-kuda dan mengalirkan aura lebih banyak ke arah kaki dan kemudian melesat menuju ke arah batu meteor itu.
Dengan bantuan aura Cecilia yang aku lapisi ke pedang Tetsu, aku mencoba membelah batu raksasa itu dan menghunuskan pedangku sekuat yang aku bisa.
"Maju, Iraya!" teriak Tetsu dan Cecilia bersamaan.
Triiingg…
Diluar dugaanku, aku tidak bisa menembus batu ini dan berhenti saat bersentuhan dengan batu itu. Walaupun awalnya aku berpikir kalau tebasanku belum cukup kuat karena aku tidak bisa menembusnya, tapi untungnya dugaanku salah.
Kraakk… Kraaakk… Kraaakk…
Bagian yang aku coba tebas perlahan-lahan mulai menunjukkan retakan yang semakin lama semakin besar dan menyebar ke seluruh bagian batu itu. Tapi sayang karena retakannya berhenti sebelum menyebar ke seluruh bagian batu itu.
Aku yang sudah kehilangan tenagaku lalu jatuh kembali ke permukaan bersama dengan pecahan-pecahan batu yang berasal dari retakan yang aku buat. Saat terjatuh, aku melihat Herlin yang wajahnya terlihat kacau karena banyak darah yang mengalir dari hidung dan mulutnya.
Aku sempat menggerakkan bibirku dua kali yang coba ia baca dan berhasil. Aku mengatakan kata-kata 'maaf' karena aku masih belum bisa menghancurkan semua bagian batunya. Hanya sekitar sepertiga bagian saja.
Tapi Herlin yang menjawabnya tidak menjawab kata-kata maafku. Justru ia malah berteriak seolah menabuh genderang perang bagi yang lainnya.
"Maju!"
Swuushh…
Mataku melebar saat ada seseorang yang melesat dengan sangat cepat melewatiku yang sedang terjatuh. Ia adalah Nimis yang masuk ke dalam bagian batu lewat retakan yang aku buat.
"Apa yang dia lakukan?" tanya Cecilia.
Tapi aku tidak bisa menjawabnya karena aku sendiri tidak tahu. Meskipun begitu, aku harap apapun yang ia rencanakan berhasil.
Swuuushh… Swuuushh…
Lalu ada dua orang lagi yang melesat menghampiriku dan Herlin. Ishikawa-san menghampiriku sementara Ardenter membantu Herlin, mereka membawa kami turun menjauh dari batu meteor itu dan meninggalkan Nimis sendirian di dalamnya.
"Ishikawa-san? Kita tidak bisa meninggalkan dia sendirian di sana," ucapku lemah.
"Dia punya rencana, perempuan itu menyuruhku untuk membawamu dan Herlin-chan menjauh darinya."
"Begitu."
Sementara Nimis yang sudah berada di inti meteor itu kemudian memejamkan matanya untuk berkonsentrasi mengumpulkan aura. Ia akan melakukan jurusnya sekali lagi, untuk meledakkan batu ini dari dalam. Setelah persiapannya selesai, Nimis membuka matanya dan merapalkan jurusnya.
"Hinokami no Chikara : Explosion!"
Buuummm… Duaaarrrr… Duaaarrrr…
Ledakan terjadi dan menghancurkan batu meteor itu dari dalam. Meskipun sisa-sisanya masih terus berjatuhan ke tanah dan menimpa perumahan-perumahan di bawahnya, tetapi setidaknya itu mengurangi dampak kerusakannya.
Aku yang menyaksikannya hanya bisa menghalangi sinar yang masuk terlalu terang ke mataku dengan tangan. Ledakan yang sangat besar, dan yang ada di pikiranku hanya satu.
"Di-Dia meledakkan diri?!"
"Sepertinya tidak begitu. Dia bilang kalau rencananya tidak akan memakan korban jiwa, jadi aku mengiyakannya saja," jelas Ishikawa-san.
"Tapi … ledakan itu …."
Kami berdua akhirnya sampai di permukaan dan Ishikawa-san membaringkanku. Aku sebenarnya masih bisa melakukan penyembuhan dengan aura Cecilia, tapi aku tidak tahu dengan yang lainnya. Aku ingat jika Cecilia memperingatkanku kalau tidak semua orang cocok dengan auranya.
Bersamaan dengan pemikiranku yang barusan, Ardenter turun dengan Herlin yang berada di gendongannya. Aku pun kemudian menghampirinya dan memeriksa keadaannya.
"Herlin?!"
"Dia pingsan karena kelelahan, tapi nyawanya tidak terancam," ucap Ardenter.
Herlin saat ini seperti orang yang sedang tidur tapi dengan hidung dan mulut yang mengeluarkan banyak darah. Beruntung nyawanya tidak terancam, lalu kemudian datang seseorang lagi yang menyelamatkan kami semua.
"Sepertinya rencananya berhasil," ucap Nimis yang baru datang.
Nimis datang tanpa luka bakar sedikitpun meski dia berada di dalam ledakan api yang sangat besar. Ya walaupun pakaiannya sekarang sangat kacau karena ledakan tadi. Menyadari hal itu, Ardenter langsung membuka jaket kulitnya dan memakaikannya ke Nimis untuk menutupi tubuhnya yang sedikit terbuka.
"Untuk saat ini, satu masalah dapat terselesaikan."
"Kau benar."
Aku juga baru menyadari kalau dua meteor yang ditahan oleh Oita-san juga sudah hancur tak bersisa-sisa, meskipun aku tidak tahu sekarang Oita-san sedang berada di mana.
Zwuusshh… Brraaakkhh…
Tiba-tiba sesuatu jatuh dengan sangat cepat di dekat kami dan menimbulkan debu yang tinggi. Saat debu itu menghilang, aku kemudian dapat dengan jelas melihat ada dua orang lain di sana. Mereka adalah Oita-san dan Astaroth.
Bersambung
__ADS_1