Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 145 : Membuat Keributan Di Bar


__ADS_3

Aura telah menyebar di seluruh tubuhku, sehingga aku tidak akan langsung mati jika terkena serangan dadakan. Ini adalah salah satu pelajaran yang diberikan oleh Nigiyaka-san. Selalu fokus apapun yang terjadi.


Nigiyaka-san dan Akihito-san juga melakukan hal yang sama. Mereka kemudian berjalan masuk duluan lalu aku mengikutinya.


"Wajah tempat persembunyian mereka adalah bar dan tempat hiburan malam, jadi kita harus masuk terlebih dahulu ke sana," jelas Nigiyaka-san.


"Target kita adalah bosnya, kan?"


"Benar. Tapi kalau ada anak buahnya yang mencoba menghalangi dan melawan balik, jangan ragu-ragu. Bunuh semuanya."


"Apa kau tahu ciri-ciri bosnya?"


"Aku dapat deskripsinya, tapi tidak dengan fotonya," Akihito-san menjawab pertanyaanku. "Deskripsi yang paling mencolok adalah dia memiliki tubuh berotot yang tinggi dan besar," lanjutnya.


Deskripsinya tidak jelas sama sekali. Bagaimana kalau kita tiba-tiba salah orang dan tanpa sengaja malah membunuh seseorang yang baru pulang dari gym? Itu pasti akan menimbulkan suasana canggung yang tidak bisa aku bayangkan.


Dan juga, apa mereka selalu menerima misi seperti ini dengan deskripsi target seminim itu? Hebat juga jika mereka selalu berhasil menyelesaikan misinya, terlebih aku dengar mereka itu jarang gagal.


"Etto ... bagaimana kalau misalnya kita salah orang?"


"Itu artinya kau orang bodoh."


"Hah?"


"Tidak, aku hanya bercanda. Tentu saja kau harus memperhatikan seluruh penampilan dan sifatnya. Tidak semua pria berotot dan tinggi besar adalah bos geng mafia. Bisa saja mereka orang yang baru pulang dari gym."


Itu yang aku pikirkan tadi.


"Lihat sekitarnya dan perhatikan gerak geriknya. Jika kau sudah berpengalaman, menemukan target yang dimaksud tidak sesulit yang dibayangkan."


"Be-begitu, kah?"


Aku tidak menyangka kalau mereka benar-benar memperhatikan setiap detailnya. Assassin berpengalaman memang hebat, aku jadi merasa bersalah karena sempat menganggap mereka hanya bisa bertarung tanpa berpikir.


Aku tanpa sadar memandangi Nigiyaka-san cukup lama dan dia mengetahui hal itu. "Aku tahu kau sedang mengejekku di dalam hati."


"Ba—?!"


Dia cenayang! Bagaimana bisa dia tahu apa yang aku pikirkan?! Tapi Akihito-san menghentikan pembicaraan kami karena sudah dekat dengan pintu masuknya.


Rencana awalnya adalah mula-mula aku dan Nigiyaka-san akan menyamar sebagai pelanggan, sementara Akihito-san tidak masuk lewat pintu depan dan mencoba mencari informasi tentang tempat ini.


"Kalau begitu, kita berpisah."


Setelah menyusun rencana dengan matang, akhirnya kami berpisah dengan Akihito-san dan mendekati pintu masuk tempat tersebut. Anehnya, tidak ada yang menjaga pintunya dari depan.


Biasanya akan ada laki-laki dengan jas hitam dan kacamata hitam yang berdiri untuk membukakan pintu, tapi di sini tidak ada sama sekali. Lalu pintunya juga tidak terbuat dari kaca tembus pandang, melainkan dari besi yang kokoh. Sebenarnya orang yang mengelola tempat ini niat enggak, sih?


Nigiyaka-san pun mendorong pintu besi itu, tapi sebelum tangannya menyentuhnya, pintunya sudah terbuka duluan seolah tahu kalau kami akan membuka pintu.


Tanpa memikirkannya terlalu lama, kami berdua pun masuk ke dalam dan langsung disuguhi pemandangan normal yang biasa ada di tempat hiburan malam. Kalian tahu, bola disko kelap-kelip, lampu RGB, orang-orang yang berdansa, dan lain semacamnya. Ternyata mereka niat, toh.


Benar-benar tempat yang paling tidak ingin aku datangi. Alasannya? Karena sudah pasti harga makanan dan minuman di sini mahal-mahal! Dengan porsinya yang tidak seberapa dan rasanya juga tidak terlalu istimewa, sungguh penawaran paling buruk.


Ekhem. Mari kita fokus pada misi dan melupakan pemikiranku yang barusan, nanti orang-orang akan mencap ku sebagai orang pelit. Padahal aku hanya irit.


"Senjata."


"Hnm?"


Seseorang dengan jas hitam dan kacamata hitam tiba-tiba berbicara kepada kami, kepalanya juga botak, btw. Ternyata tempat ini juga punya bodyguard. Aku rasa aku akan menarik kata-kataku tentang pengelola tempat ini yang tidak niat.


"Kenapa?" tanya Nigiyaka-san.


"Tidak boleh membawa senjata selama ada di sini," ucapnya datar.


Sepertinya ini memang hal yang lumrah karena Nigiyaka-san memamerkan Katana di pinggangnya, siapa juga yang boleh membiarkannya masuk dengan hal itu.


Jadi, Nigiyaka-san hanya bisa menghela nafas dan menitipkan Katana miliknya pada orang itu. Tapi sebelum melepaskan tangannya dari Katana, ia memberikan satu peringatan terakhir pada laki-laki itu.


"Jika kau sampai merusaknya, aku akan membunuhmu. Ingat itu."


Seram. Padahal dia hanya menjalankan tugasnya, aku jadi sedikit kasihan dengan dia. Tapi pada akhirnya kami tetap masuk tanpa membawa senjata. Sementara aku sendiri lolos, karena memang tidak bawa senjata sama sekali.


"Apa kau yakin?" tanyaku.


"Bukan berarti aku tidak bisa bertarung tanpanya, tidak perlu mengkhawatirkanku. Fokus saja pada misi."


"Baik."


Setelah beberapa saat memperhatikan sekitar, kami berdua menyimpulkan kalau tidak ada yang mencurigakan di tempat ini. Pasti bagian ini hanya wajah penyamaran mereka dan wajah sebenarnya tersembunyi di ruangan lain.


Karena tidak berhasil menemukan apapun, aku memutuskan duduk dan memesan sebuah minuman. Dan setelah datang, sudah kuduga kalau rasanya biasa saja dan harganya mahal gila! Aku juga tidak tahu kenapa beli ini.

__ADS_1


"Hah ...." Aku menghela nafas atas kebodohanku sendiri.


"Menemukan sesuatu?" Nigiyaka-san datang dan duduk di sebelahku.


"Sayangnya tidak. Aku juga tidak menemukan apapun yang mencurigakan, seakan ini hanya tempat hiburan malam biasa. Apa markas mereka benar-benar ada di sini?"


"Dia itu ... aku tidak percaya kalau dia memberiku informasi palsu. Meskipun dia menyebalkan, aku akui kalau dia informan yang paling bisa aku percayai saat ini."


"Informan? Siapa yang sebenarnya kau maksud?"


Tanpa menjawab pertanyaanku, Nigiyaka-san mengeluarkan HP-nya dan kemudian menelepon seseorang. Dia merubahnya menjadi mode speaker supaya aku juga bisa mendengarnya, dan setelah beberapa saat akhirnya ada seseorang yang menjawab.


"Halo? Bukankah sudah kubilang kalau jangan menelepon di jam-jam segini, aku sudah mau tidur."


Aku terkejut karena suara orang yang menjawab adalah suara orang yang sudah lama sekali tidak kudengar. "Caramel?!" Sampai spontan memanggil namanya.


"Hn? Ada Mei juga di sana? Yahoo! Sudah lama sekali, kau masih hidup setelah berlatih bersama Nimis?" tanya Caramel.


"Ya, entah bagaimana caranya aku masih hidup."


Oh iya, alasan kenapa aku bilang kalau aku sudah tidak mendengar suara Caramel sejak lama adalah karena Black Rain itu sendiri.


Ishikawa-san memutuskan untuk menghentikan seluruh kegiatan Black Rain setelah Herlin-chan pergi, dan semuanya setuju. Pada akhirnya, aku berlatih dengan Duo Assassin. Sementara Iraya-kun memutuskan untuk berlatih sendiri dan masih bekerja di Haiiro Cafe.


Aku sempat menemuinya beberapa kali setelah lulus sekolah dan bersyukur karena dirinya tidak banyak berubah setelah kejadian itu. Kepergian Herlin-chan yang tiba-tiba pasti berat baginya.


Lalu untuk Caramel sendiri, aku dengar kalau dia sudah keluar dari dunia Assassin, tapi tidak menyangka kalau tetap menjadi informan dari Nigiyaka-san dan Akihito-san.


"Jadi, kenapa meneleponku?" Pertanyaan Caramel mengembalikan aku dari lamunan.


"Aku hanya ingin bertanya tentang informasi yang kau berikan asli atau tidak. Aku tidak menemukan petunjuk adanya geng mafia ataupun bosnya."


"Apa kau mengejekku? Aku tidak pernah memberikan informasi palsu."


"Aku hanya bertanya."


"Hah ... perempuan ini masih sama bodohnya seperti dahulu."


Kami bisa mendengarmu, Caramel-san! Jika ingin mengejek seseorang, kecilkan suaramu.


"Kau bilang sesuatu?" tanya Nigiyaka-san.


"Tidak. Tapi aku memang dengar kalau mereka sangat ahli dalam menyembunyikan keberadaan mereka. Jadi tanpa sesuatu yang besar, aku rasa mereka tidak akan menunjukkan diri."


"Saran? Aku rasa Nimis sudah mengerti apa yang harus dia lakukan. Menggunakan cara lama seorang Assassin."


"A-apa?"


"Aku sudah menjawab pertanyaanmu, sekarang aku mau tidur. Iraya-kun bisa marah jika aku berisik di jam segini. Bye~"


"A-ah! Tung—"


Tapi dia tidak menunggu berbicara sedikit lagi, padahal aku hanya ingin menyampaikan salamku pada Iraya-kun saja. Yah ... mungkin aku bisa memiliki kesempatan untuk itu nanti, sekarang aku harus fokus pada misiku.


"Jadi, apa maksudnya menggunakan cara lama seorang Assassin?"


"Sudah jelas, bukan?"


Nigiyaka-san kemudian mengambil minumanku yang belum habis, lalu satu kakinya menjegal seorang laki-laki yang sedang berjalan di sampingnya sehingga dia kehilangan keseimbangan, beruntung dia tidak jatuh.


"Oi! Kakimu menghalangi jalan!"


"Maaf, aku tidak lihat. Soalnya kakimu tertutupi sinar dari kepalamu."


Nigiyaka-san ... Caranya membuat keributan entah kenapa seperti anak kecil. Meskipun aku tahu kalau yang ia jegal kepalanya botak licin, tetap saja itu membuatku berekspresi datar tak percaya dengan provokasinya.


Walaupun begitu, dia tetap terpancing dan marah ke Nigiyaka-san.


"Hah?! Apa katamu?!"


Lalu ketika pria botak itu berteriak ke arah Nigiyaka-san, dia menyiram wajahnya dengan minumanku. Tidak! Minuman mahalku! Aku pasti akan membuat siapapun mengganti minuman itu.


"Ups ... tanganku licin."


"Ka-kau!"


Dan dia terpancing. Dia mengarahkan pukulannya terlebih dahulu ke Nigiyaka-san. Aku tahu kalau Nigiyaka-san membuatnya terlihat bersalah jika dilihat di CCTV, ia selalu melakukan hal itu. Tapi apa itu penting untuk sekarang?


Nigiyaka-san dengan mudah menghindari tinjunya dan membalasnya dengan pukulan telak di perut yang membuatnya terpental cukup jauh sampai menabrak salah satu meja dan membuatnya berantakan.


"Kyaaa!"


"Apa ... apa yang terjadi?"

__ADS_1


"Ada keributan?"


Berbagai reaksi dari pengunjung lainnya yang tidak tahu apa yang terjadi dan hanya melihat seorang laki-laki terpental. Tapi semuanya tidak berhenti sampai di sana, beberapa pria yang sepertinya teman dari orang yang Nigiyaka-san pukul tadi tiba-tiba datang menghampiri kami.


"Apa-apaan kau ini? Mencoba mencari ribut?!"


Kumpulan pria itu langsung mengepung dan mengelilingi kami. Tapi aku tidak terlalu peduli dengan hal itu, ada hal menarik lain dari mereka yang membuatku bahkan spontan merespon.


"Hebat. Kepalanya botak semua."


"Tch! Serang mereka berdua!"


Dan seperti yang sudah kalian duga, keributan pun tidak bisa dihindarkan.


Beberapa orang mendekatiku, tapi gerakan mereka terlihat lambat di mataku. Jadi sebelum pukulannya sampai kepadaku, aku sudah menghajar mereka semua dan mementalkannya.


Oh! Kali ini serangannya jadi lebih kreatif. Bagus, bagus. Satu orang mengambil sebuah bangku bar sementara yang lainnya memecahkan botol dan membuatnya jadi senjata. Aku dikepung dari depan dan belakang.


Sebuah seringai tercipta pada wajahku. "Jika kalian merasa bisa menyerangku secara bersamaan, kenapa tidak kalian coba?" Aku menantang mereka.


"Dasar bocah sombong!"


Mereka berdua kemudian menyerangku bersamaan. Aku berhasil menghindari serangan botol dari belakang, sehingga dia hampir memukul temannya sendiri. Sementara yang memegang kursi juga terlampau kesal dan akhirnya melemparkan kursi itu sekuat tenaga ke arahku.


"Wow!" Aku sedikit terkejut karena kekuatannya.


"A-apa?!"


Tapi dia juga terkejut. Karena kursi yang ia lemparkan ternyata malah melayang di udara. Hehe! Tentu saja dia bingung, ini semua berkat kemampuanku. "Terima ini!" Dan mereka pun tidak bisa menghindarinya.


Sepertinya sudah berakhir. Hanya aku yang berdiri di sini diantara para pengunjung yang semuanya terbaring kesakitan di lantai. Oh iya! Saking serunya aku sampai melupakan Nigiyaka-san! Aku harus segera membantunya.


"Nigiyaka-san! Apa kau perlu bantu—"


Sepertinya tidak perlu.


Bahkan tanpa Katana miliknya, Nigiyaka-san masih bisa menghadapi orang yang banyaknya dua kali lipat dari yang aku hajar. Assassin ternama memang bisa diandalkan.


Dia kemudian berjalan mendekatiku, tapi sebelum Nigiyaka-san bisa berbicara apa-apa, sebuah pintu terbuka dan dari dalamnya muncul banyak sekali orang dari sana. Tidak semua dari mereka berotot, tapi yang pasti mereka semua jauh lebih kuat dari semua orang yang ada di bar ini.


"Baiklah ... aku jadi bersemangat."


"Jangan lakukan apapun."


"Eh?"


"Apapun yang mereka lakukan padamu, jangan melawan."


Aku masih tidak mengerti apa maksud dari Nigiyaka-san, tapi berkat kebingungan yang ia hasilkan, aku jadi lengah dan semuanya berubah menjadi gelap. Hal terakhir yang aku rasakan adalah sebuah hantaman benda tumpul dari belakang kepalaku. Aduh, sakit.


**


"Hakh!"


Aku membuka mataku. Sepertinya aku sudah tertidur cukup lama, dibuat pingsan? Ya, mungkin saja. Aku tidak terlalu mengingatnya tapi aku merasakan sakit di bagian kepala belakangku.


Lalu setelah itu aku mencoba untuk bangun, tapi rasanya sesak sekali. Seperti ada sesuatu yang menahan kaki dan tanganku untuk tidak boleh bergerak. Ahh ... ternyata mereka mengikatnya.


"Kau sudah bangun?"


Suara di sampingku mengejutkanku dan membuatku seketika waspada, tapi ternyata itu hanyalah Nigiyaka-san. Dan kondisinya juga tidak jauh berbeda denganku.


"Nimis! Kau juga tertangkap?!"


"Ya, dan juga kecilkan suaramu."


"Ma-maaf." Aku keceplosan. "Jadi, ada rencana untuk kabur sekarang?" tanyaku dengan suara yang jauh lebih kecil.


"Tidak ada, yang perlu kita lakukan hanyalah menunggu saja."


Kalau diperhatikan lagi, ruangan ini cukup gelap. Hanya ada satu sumber pencahayaan yang berada di atas kami berdua, dan sisa ruangan ini tak nampak apa-apa.


Ini seperti ruangan interogasi yang biasa aku lihat di film-film. Bedanya kalau di film, ada meja dan beberapa orang yang sudah siap bertanya-tanya tentang kami. Sementara di sini benar-benar kosong dan hanya ada kami berdua serta seutas tali yang mengikat kami.


"Nee, Nimis. Mau sampai kapan kita menunggu? Apa mereka akan menyiksa kita? Yang kita lakukan hanya mengacau di bar, kan?"


"Jangan lupa kalau kita juga memukul pelanggan, jadi pasti kita akan keluar dengan beberapa luka. Lagipula ... tujuanku bukan hanya keluar dari sini."


Tiba-tiba, suara pintu terbuka menggelegar dan terdengar suara hak sepatu seseorang yang akan mendekati kami.


"Wah, wah, wah. Tidak kusangka akhirnya aku mendapat giliran untuk menginterogasi pengacau."


Sekarang aku bisa melihatnya dengan jelas, seorang wanita dengan pakaian sipir dan rok ketat yang menutupi sampai paha. Ini ... Ini persis seperti di film-film!

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2