Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 130 : Perjalanan Menuju Stasiun Radio


__ADS_3

Beberapa saat sebelumnya, saat fase kedua baru saja dimulai. Ada seseorang yang memperhatikan semuanya dengan seringai di wajahnya. Ia tidak bisa menyembunyikan senyum jahatnya yang menyadari kalau situasinya akan menjadi lebih menyenangkan bagi dirinya.


Orang itu tidak lain adalah Astaroth.


"Apa kalian pikir hanya itu? Kau pikir auranya tidak bisa menular?! Yang menciptakannya adalah orang yang berada di bawah pengawasanku sendiri! Karena tujuanku adalah ... melemahkan Exception di negara ini dengan membuatnya saling membunuh satu sama lain!"


Teriakannya terbawa angin kencang di bagian rooftop gedung saat ini sehingga tidak ada satu pun yang bisa mendengarnya. Tapi itu sudah cukup baginya, terlebih seringai juga belum hilang dari wajahnya. Ia akan menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Sekarang, apa yang akan kau lakukan ... Black Rain?"


Dalam kepuasan melihat mereka kesusahan, Astaroth melirik ke arah stasiun radio yang berjarak sekitar sepuluh kilometer dari dome tempat para anggota Black Rain kini berada.


"Aku menantikannya."


**


Satou Iraya PoV


Aku sedang fokus saat ini. Hanya aku saja yang sedang waspada. Kuda-kudaku juga belum melemah dari tadi karena masih ada satu orang lagi di depanku saat ini.


Jika kalian melihat ke sekitarku, kebanyakan orang-orang biasa sudah sadar dan yang lainnya juga membantu mereka untuk dipindahkan ke tempat yang lebih aman.


Meskipun keadaan di sini sangat berantakan. Penuh darah dan mayat-mayat korban yang terlambat kami selamatkan, tapi tidak ada waktu bagi kami untuk menyesalinya dan harus terus menatap ke depan.


Salah satu contohnya adalah saat ini.


Yang lainnya sudah selesai bertarung dan tinggal menyisakan aku yang juga akan selesai jika aku telah mengalahkan orang ini. Dia mungkin Exception paling kuat yang sudah terinfeksi wabah cuci otak ini. Makanya aku juga tidak bisa sembrono dalam melawannya.


Dia menggunakan Katana sebagai senjatanya. Dan dia adalah tipe Physical Strength, terlebih lagi kekuatan serta kecepatannya juga tidak main-main. Aku tidak kenal dengan orang ini, tapi sepertinya dia adalah salah satu teman dekat Oukami.


Aku sempat melirik ke arah Oukami sebentar sebelumnya dan wajahnya terlihat kesal tapi juga tidak percaya. Dari sana aku tahu kalau ia mungkin punya hubungan yang dekat dengan orang yang sedang aku lawan saat ini.


Makanya sebisa mungkin aku tidak mau membunuhnya. Para Exception yang terinfeksi perlu dilemahkan dahulu— dan jawaban yang paling tepat adalah dengan membuatnya tidak sadar. Baru setelah itu Arisu bisa melakukan penyembuhan seperti biasa. Dasar merepotkan.


Srkk...


Dia mulai bergerak. Dengan cepat ia melesat ke arahku dan menebaskan Katana ke leherku. Tapi aku dapat menahannya sebelum hal itu terjadi dan membuat pedang kami beradu.


Ia tidak berhenti sampai di situ. Ia langsung menarik Katana-nya dan mengincar bagian tubuhku yang lain. Kali ini ia mencoba menusuk lurus ke dadaku tepat ke jantungku, dan aku juga tidak kalah cepat darinya. Bilah pedang auraku memiliki celah di tengahnya dan bilah Katana miliknya melewati tanpa hambatan.


Tapi sebelum dia mengenaiku, aku memutar pedangku dan arah Katana-nya berubah dan meleset. Di saat ia terkejut dan lengah itu aku memanfaatkannya dengan sebuah adu kepala yang aku lakukan dengan kepalanya.


Genggamannya melemah dan aku pun berhasil menjauhkan Katana-nya dari dirinya. Pengguna senjata tanpa senjatanya kemampuan bertarungnya berkurang hingga lima puluh persen— ini hanya perkiraanku saja.


Tapi selain itu, aku memiliki kesempatan kali ini. Kuda-kudanya terbuka lebar dan keseimbangannya sedang tidak baik. Kali ini akan aku habisi dia. Pedangku menuju lurus ke arah jantungnya dan siap menghabisinya.


"Jangan bunuh mereka, Iraya."


"??!!"


Tiba-tiba ucapan Oukami sebelumnya terngiang di dalam kepalaku dan membuat pedangku berhenti tepat sebelum aku menembus dadanya. Sampai detik terakhir aku lupa kalau aku tidak boleh membunuhnya, tapi dia terlalu kuat bagiku saat ini untuk aku lumpuhkan.


"... Ya!"


Bagaimana caranya aku harus melakukan hal itu? Apa aku aku harus memukul tengkuknya agar dia kehilangan kesadarannya? Atau apa mungkin ada hal lainnya yang bisa aku lakukan?


"... Raya!"


Pokoknya aku harus mencari jawabannya selagi bertarung dengannya. Lagipula dia juga sudah tidak memiliki pedangnya, jadi akan lebih banyak pilihan bagiku untuk mengalahkannya.


"Iraya!"


"Eh?"


Teriakan Caramel menyadarkanku dari lamunanku. Aku lupa kalau aku sedang berada di tengah pertarungan, dan aku melihat bayangan yang menutupi sinar lampu tepat di atas kepalaku. Saat aku melihatnya, itu adalah lawanku yang sedang memegang pisau kecil.


Darimana dia mendapatkan itu?! Aku kira dia sudah tidak punya senjata lagi. Lupakan soal itu. Aku tidak bisa menghindar!


Craashh...


Aku membuka mataku ketika bunyi benturan dan darah itu tercipta. Aku bisa merasakan kalau darah jatuh ke wajahku tapi itu bukanlah darahku. Aku juga terkejut ketika senjata morningstar menghantam wajahnya dan langsung membuatnya tewas di tempat.


Setelah itu aku melihat ke belakang dengan masih sedikit terkejut. Oukami mendekatiku dengan wajah marah, ia adalah orang yang memegang morningstar penuh darah itu. Setelah itu, ia menarik bagian kerah bajuku dengan kasar— meskipun bajuku tidak memiliki kerah, tapi kalian pasti tahu apa yang aku maksud.


"Apa yang kau lakukan?! Apa kau ingin mati?!"


"Kau tadi barusan ... membunu—"


"Kau pikir itu salah siapa?! Bisa-bisanya kau melamun saat sedang bertarung! Bahkan bodoh pun ada batasannya!"


Aku tidak mengerti dengannya. Tadi padahal dia bilang kalau aku tidak boleh membunuh mereka, aku sudah berusaha melakukannya tapi dia malah marah. Terlebih lagi dia malah membunuhnya.


"Hah?! Kau menyalahkanku?! Aku sudah berusaha menahan diriku agar tidak melakukannya, tapi kau malah kesal! Kau pikir itu mudah!"


Aku tidak mau kalah dengannya begitu saja dan membalas dengan juga menarik kerah pakaiannya. Ia hening sebentar. Benar! Pikirkan perkataanku itu, dasar orang bodoh!


"Kalau kau mati, semuanya jadi tidak ada gunanya." Oukami berbicara dengan nada lebih kecil dari sebelumnya.


"A-apa?"


"Tch! Aku akan lebih kesal jika kau yang mati! Kau paham itu?!"


Itu membuatku sedikit terkejut. Aku tidak menyangka kalau dia akan mengatakan itu secara langsung, mengingat sikapnya yang keras kepala dan tidak bisa mengungkapkan perasaannya secara langsung, alias tsundere.


Tapi aku menghargai itu. Jujur aku juga merasa sedikit senang. Meskipun aku tidak bisa mengatakan hal itu secara langsung seperti dirinya. Aku melihat ke arah lain sebelum berbicara. "A-aku mengerti. Maafkan aku." Dan setelah itu aku melepaskan cengkeramanku dari kerahnya.


"Dan mereka berdua hidup bahagia selamanya. Tamat." Caramel tiba-tiba berada di samping kami tanpa terdeteksi.


"Mana ada!" Teriak kami berdua bersamaan. Ia kemudian tertawa kecil karena telah menjahili kami.


Meskipun begitu, aku kagum dengan kemampuannya yang dapat mencairkan suasana secara cepat— meskipun dengan cara-cara yang aneh. Setelah suasananya membaik, kami semua akhirnya berkumpul.


"Apa semuanya selamat?" tanya Herlin.


"Ya, hampir saja."


Aku melihat ke arah Pedang Tetsu yang tergeletak di tanah dan mengambilnya. Setelah mendekatkan telingaku di bilahnya, aku dapat mendengar suara dengkuran orang tertidur dari sana.


"Syukurlah." Aku tersenyum. Aku tidak terlalu memperhatikan pertarungan yang lainnya, tapi aku lega karena Tetsu yang lainnya baik-baik saja.


Para penonton serta Exception yang tadinya terkena cuci otak kini sudah sadar sepenuhnya meskipun dalam keadaan lemah dan penuh luka, tapi nyawa mereka tidak terancam.

__ADS_1


Tapi mereka masih belum bisa keluar dari sini, karena keadaan diluar lebih kacau dari di dalam sini. Jadi mereka semua beristirahat di dalam dome sampai keadaannya membaik.


Ya meskipun keadaan di sini tidak kalah kacau, sih. Mayat berserakan di mana-mana, darah berceceran yang meninggalkan bau tidak sedap, dan juga tidak semua orang terbiasa dengan melihat mayat— apalagi yang kondisinya mengenaskan.


Jadi di sini juga tidak bisa dibilang sepenuhnya nyaman. Yang bisa mereka lakukan sekarang adalah menjauhi mayat-mayat itu dan istirahat di tempat paling bersih yang bisa mereka temukan.


"Tenaga kalian masih ada, kan? Karena kita akan masuk ke rencana selanjutnya."


"Tunggu!"


"Ada apa?"


"Kita akan langsung ke rencana berikutnya? Apa tidak ada waktu untuk istirahat?" tanya Oukami.


"Aku juga maunya begitu. Tapi ...."


"Waktu yang kita miliki tidak banyak dan nyawa orang diluar sana masih terancam bahaya," ucap Arisu melanjutkan perkataan Herlin.


"Benar."


Kita benar-benar dikejar waktu, ya? Sepertinya Herlin sudah memiliki rencana lainnya. Wajahnya kelihatan tenang— tidak, dia emang tidak bisa berekspresi dengan benar, sih. Jadi aku salah mencoba untuk menebak ekspresi wajahnya.


"Jadi, apa rencanamu?" tanya Caramel.


"Arisu tetap menjadi kunci utamanya di sini. Tapi cara yang akan ia gunakan sedikit berbeda dari sebelumnya."


"Maksudnya?" Arisu memiringkan kepalanya tidak paham.


Tidak apa-apa, Arisu-san. Aku mengerti perasaanmu karena aku juga kadang tidak paham dengan apa yang dia bicarakan.


"Sebelumnya kau memegang kartunya dan tinggal berteriak sekeras-kerasnya, itu bisa digunakan di sini karena kedua syaratnya terpenuhi."


Aku sedikit paham dengan apa yang dikatakan oleh Herlin— kalian bisa puji aku jika mau. Jadi syarat yang diperlukan untuk menyembuhkan para korban ada dua, yang pertama adalah aura Arisu harus sampai kepada orang yang ingin ia sembuhkan. Lalu syarat kedua adalah suara Arisu juga harus dapat terdengar oleh orang yang ingin disembuhkan.


Dome ini termasuk kecil karena Arisu bisa berteriak dan menggunakan mic. Dan untuk masalah aura? Kartu itu adalah jawabannya. Tapi permasalahannya saat ini adalah aura Arisu bisa sampai kepada orang yang ingin disembuhkan, tapi tidak dengan suaranya.


Karena yang terkena cuci otaknya hampir seluruh kota Nagoya. Jadi kita butuh sesuatu yang bisa membuat suara Arisu didengar oleh seluruh orang di kota ini.


"Jadi kau mau membuat suaraku terdengar di seluruh kota?"


"Benar."


"Dan bagaimana kau akan melakukannya?"


"Soal itu, pertama-tama ... kita harus keluar dari sini."


Yap. Itu dia. Rencana gila yang tentunya akan ditolak oleh semua orang. Tapi Herlin tetap teguh pada rencananya dan berkata tidak ada cara lain, Arisu juga tidak bisa melakukannya di sini.


"Lalu kau ingin membuat kita pergi keluar sana?! Ke tempat yang tidak ada jaminan untuk selamat itu?!" teriak Arisu.


"Tidak ada cara lain lagi, aku berjanji akan membawamu ke tempatnya dengan aman," ucap Herlin tenang.


"Ke tempatnya? Ke mana?"


"Ke stasiun radio."


"Eh?"


"Stasiun radio adalah satu-satunya yang bisa membuat suaramu didengar oleh semua orang di kota. Kita benar-benar tidak ada cara lain lagi selain pergi kesana."


Arisu sepertinya juga mengerti maksud Herlin. Tapi dia terlalu takut untuk keluar saat ini. Tidak ada yang menjamin kalau mereka bisa selamat sampai tujuan. Itu terlihat jelas dari raut ragu di wajahnya.


"Kami akan menjagamu."


"Apa?"


"Kami akan menjaga keselamatanmu, Arisu. Kau bisa mempercayakan hal itu pada kami karena kami adalah bodyguard-mu."


"Kenapa? Kenapa kau bisa sangat yakin dengan hal itu?"


"Karena seseorang pernah memberitahuku. Asalkan kita berusaha, semuanya akan baik-baik saja."


Oita-san. Jika Anda melihat ini dari atas sana. Anda tidak perlu khawatir pada Herlin. Karena dia tumbuh menjadi lebih kuat dan lebih kuat setiap harinya. Kata-katanya barusan adalah kata-kata yang biasa digunakan oleh Oita-san. Aku tidak akan pernah lupa dengan hal itu.


Dan berkat kata-kata itu, kini Arisu nampak menyerah. Ia sepertinya sudah tidak bisa menghentikan lagi Herlin yang tekadnya sudah bulat sempurna.


"Baiklah. Jika kau bilang begitu." Dan pada akhirnya, Arisu setuju untuk ikut dengan kami keluar.


"Terima kasih karena sudah percaya padaku. Aku pasti akan menghentikan bencana ini." Herlin mengulurkan tinjunya pada Arisu dan ia pun membalasnya.


"Sekarang saatnya menentukan siapa saja yang ikut keluar."


Herlin melihat ke arah kami semua. Sepertinya semua yang bertarung tadi akan ikut keluar. "Kecuali Ishikawa-san, semuanya ikut keluar." Ternyata aku sedikit salah.


"Eh? Aku tidak ikut bersama kalian?" Ishikawa-san terlihat kecewa dengan hal itu. Tidak, seharusnya kau bersyukur karena tidak perlu keluar, Ishikawa-san. Kalau mau aku yang akan menggantikan posisimu.


"Kita perlu seseorang yang mengatur tempat ini, dan Anda adalah orang yang tepat untuk itu."


"Be-begitu, ya?" Meskipun kecewa, tapi Ishikawa-san tidak bisa menolak rencana Herlin karena itu adalah jalan paling masuk akal.


Yang sadar selain kami hanyalah Nigiyaka-san yang kondisinya juga belum pulih sepenuhnya. Dia tidak bisa mengurus puluhan ribu orang di dalam dome ini sendirian, makanya Ishikawa-san kami tinggal di sini.


"Ada sedikit masalah di sini, dari yang aku cari di internet. Jarak dome ini dengan stasiun radio terdekat sekitar 10 km, meskipun berlari dengan kecepatan penuh tentu saja akan memakan waktu. Terlebih lagi kita juga harus menghemat tenaga untuk berjaga-jaga," ucap Caramel.


"Benar. Itu yang menjadi masalah kita. Andaikan saja ada kendaraan yang bisa kita gunakan."


"Bagaimana dengan mobil?" tanyaku.


"Tidak, mobil terlalu besar dan kita pasti akan menabrak orang-orang yang sedang agresif itu."


Saat Herlin dan Caramel sedang berpikir. Arisu teringat sesuatu yang sepertinya menjadi jawaban dari masalah mereka. "Oh! Kalau soal itu ...."


"Hnm?"


**


Kami berjalan menuju ke parkiran dome ini. Dan diantara mobil-mobil sedan hitam yang biasa digunakan oleh para bodyguard, ada dua motor ninja yang tersedia di sini.


"Uwooh! Keren sekali!"


Ya, ini memang keren sekali. Dan membayangkannya harus melewati cobaan dan rintangan yang tidak sesuai batasnya, entah kenapa membuatku menangis sambil mengelus body motor ninja ini.

__ADS_1


"Apa segitu kerennya sampai membuatmu menangis? tanya Caramel.


"Tidak, aku kasihan dengan takdir yang akan dihadapi oleh motor ini."


"Hn?" Caramel bingung dengan kata-kataku.


Aku dan Oukami yang mengendarai mereka, sementara mereka bertiga akan ikut dengan salah satu dari kita berdua. Aku ingin segera mencoba pengalaman baru mengendarai ini.


Tapi semuanya tidak berjalan sesuai perkiraanku.


"Anoo ...."


"Ayo berangkat!" Caramel mengangkat tangannya ceria karena sudah dapat tempat duduk yang dia inginkan.


"Ayo berangkat, matamu! Kenapa kau duduk di sini?!"


"Apa maksudmu? Ini sudah yang paling tepat." Herlin menimpali pertanyaanku.


Sekarang posisinya adalah Caramel duduk di bagian depan dekat tangki bensin, sementara Herlin duduk di bangku belakang. Aku melihat Oukami di sebelahku yang duduk normal dua orang bersama Arisu. Sialan, aku iri!


"Sudahlah, sudahlah, tidak usah memperdulikan detail-detail kecil," ucap Caramel.


"Hah ... sepertinya aku tidak akan mendapatkan pengalaman menyenangkan," ucapku pasrah.


Tapi mereka tidak peduli dengan hal itu. Kami pun menyalakan motor dan langsung melaju keluar dari lahan parkir bawah tanah ini.


Saat sudah diluar, suasananya benar-benar seperti neraka. Banyak orang-orang yang dicuci otak berkeliaran tanpa tujuan mondar-mandir mencari sesuatu yang bisa diserang, api dan asap dari kendaraan yang terbakar, dan tentu saja ada orang-orang yang sudah mencapai batasnya dan mati tergeletak di jalan begitu saja.


"Mengerikan," gumamku.


"Fokus saja pada jalannya. Mereka mulai mengincar kita."


Suara berisik dari motor ninja ini menarik perhatian mereka dan mulai mengejar kami. Jika aku bisa mendeskripsikannya, pemandangan ini seperti film zombie yang aku tonton di TV, tapi sekarang terjadi padaku secara langsung.


Karena aku naik motor, mereka tidak bisa menyamai kecepatanku yang sedang dalam kecepatan tinggi. Aku melihat ke belakang dan menyadari kalau mereka mulai tertinggal jauh. Tanpa aku sadari dua kilometer pertama sudah aku lewati.


"Awas!"


Aku melihat ke depan karena peringatan Caramel dan ada seseorang yang mencoba menghadang kami dengan melompat dari samping jalan. Tapi sebelum mencapai kami, tubuhnya sudah tercincang terlebih dahulu.


"Jangan berhenti!" Tentu saja itu karena Herlin.


Aku fokus dan menaikkan kecepatanku lagi, meninggalkan Oukami dan Arisu dibelakang yang juga sedang diserang. Maaf, aku tidak bisa banyak membantu.


Beberapa kilometer ke depan dipenuhi dengan orang-orang yang mencoba menghadang kami, ada juga beberapa belokan tajam karena Herlin baru bilang arahnya pada detik-detik terakhir. Tapi selain itu, perjalanan kami berjalan 'lumayan' lancar.


Di tiga kilometer terakhir, aku bisa melihat menara radio yang berdiri menjulang di samping stasiun radionya, itu adalah tempat yang kami incar. Tapi ada tantangan terakhir yang harus kami lalui.


"Sialan." Tidak sengaja kata-kata itu keluar dari mulutku melihat kerumunan satu kilometer di depanku.


"Oi! Jangan tinggalkan aku, sialan!" Oukami berhasil menyusul kami dan berada di samping kami.


"Lupakan itu! Lihat di depan kita sekarang!"


"Di depan? Sial! Mereka terlalu banyak!"


Kerumunan orang yang terinfeksi menutupi jalan kami menuju ke stasiun radio. Jalan yang kami gunakan adalah jalan tercepat, tidak ada waktu lagi untuk menggunakan jalan memutar. Karena sepanjang perjalanan, aku banyak melihat orang yang jatuh dan memuntahkan darah karena sudah pada batas mereka.


"Apa kalian punya rencana?!" Aku bertanya pada Herlin dan Caramel.


"Aku punya!"


"Caramel?! Apa rencanamu aman?!" tanyaku.


"Kau berbicara seperti aku selalu membahayakan nyawamu saja."


"Memang! Tapi akan aku dengarkan rencanamu."


"Rencanaku mudah. Oukami!" Caramel memanggil Oukami di sebelahku. "Hah?!" Dia menjawab singkat, karena angin kencang akibat kecepatan kami juga mengurangi kemampuan pendengaran kami.


"Tekan gasnya sampai penuh dan jangan pernah berbelok! Apa kau mengerti?!"


"Apa?! Kau ingin aku lurus menabrak mereka?! Apa kau sudah gila?!"


"Tidak! Ini akan berhasil! Percaya padaku!"


"Gkhh! Tch, baiklah!" Oukami menekan gasnya dan melaju mendahuluiku.


"Kau juga, Iraya!"


"Jatah makanmu akan aku kurangi setengah jika ini tidak berhasil!" Tapi aku tetap menurutinya dan menekan gas sampai kecepatan lebih dari 150 km/jam.


Tentu saja orang-orang itu menyadari kami dan mulai berlari ke arah kami dari depan. Butir keringat muncul di pipiku ketika mereka semakin mendekat.


"Tunggu ...."


"Caramel!"


"Belum saatnya ...."


"Caramel!"


"Ini dia!"


Dia melakukan gestur mengangkat ke atas dengan dua jari telunjuknya dan beberapa meter sebelum kami bertabrakan, tiba-tiba roda depan motor kami berjalan ke atas seolah ada jalan transparan menuju ke atas. Dan setelah itu, kami berdua berjalan lurus saat sudah berada kira-kira lima meter di atas mereka.


"Fyuuh ... berhasil." Caramel mengelap dahinya sebagai tanda lega.


"Gila ... tadi benar-benar gila."


Aku dan Oukami terengah-engah karena tidak menyangka itu bisa berhasil. "Ternyata lumayan tebal juga kerumunannya," ucap Caramel sambil melihat ke bawah.


Setelah melewati kerumunan itu, kami jatuh kembali ke tanah dan di depan kami sudah terpampang gedung stasiun radio dan langsung berhenti di depannya.


"Ki-kita benar-benar berhasil," ucap Arisu yang masih belum benar-benar percaya.


"Ayo sekarang kita masuk ke dalam," ucap Herlin.


"Baik!" Kami semua menurut dan masuk melewati gerbang depan stasiun radio ini.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2