Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 147 : Target Yang Familiar


__ADS_3

Beruntungnya, kami bisa keluar. Tapi perasaan tidak enak masih menyelimuti tubuhku sekarang. Padahal sebenarnya aku bisa membantu Nigiyaka-san, tapi aku malah menangis seperti bayi cengeng.


Pada akhirnya, yang menyelesaikan semua masalahnya adalah Nigiyaka-san. Bahkan dia sempat menolongku dan membiarkan dirinya sendiri dihajar.


Nigiyaka-san bilang kalau dia tidak perlu permintaan maafku. Jadi begitu ... bahkan permintaan maafku tidak berguna baginya. Tch! Apanya yang seorang Assassin! Aku masih sama seperti dua tahun lalu, gadis lemah yang tak bisa apa-apa.


Aku mengepalkan tanganku dan menggertakkan gigiku kesal. Tapi tiba-tiba Nigiyaka-san berhenti bergerak ketika kami sedang mencari informasi dimana Bos mafia target kami. "A-ada apa? Sudah ketemu?" tanyaku.


"Aku tidak marah."


"Apa?"


"Kelihatan sekali kalau kau masih memikirkan yang barusan."


Dia bisa membaca ekspresiku, ya? Aku juga tidak merasa kalau ekspresiku dari tadi tertutup dengan benar. "Karena kebodohanku ..., kau jadi harus di pecut berkali-kali."


"Aku tidak terlalu memikirkannya. Bukankah sudah kubilang kalau kita memang harus menahannya sebentar saja? Jadi semua luka di tubuhku sekarang adalah tanggung jawabku," jelas Nigiyaka-san.


"Tapi waktu itu, kau terlihat sangat terganggu saat aku menjawab pertanyaan sipir tadi."


"Ah ... soal itu, aku hanya kesal karena kau menjawabnya dengan terlalu jujur."


"Eh? Hanya itu?"


"Jika kau menjadi tidak kooperatif sedikit saja, mungkin kita akan mendapat informasi lebih banyak lagi. Tapi sekarang informasi ku sudah mulai terkumpul dan aku bisa mengira-ngira siapa sebenarnya target kita."


Dari interogasi tadi, dia bisa mendapat sebuah informasi? Bagaimana dia bisa berpikir setenang itu padahal aku saja sedang mencari cara untuk menyelamatkan diri.


"Jadikan ini sebagai pelajaran bagimu. Menerima beberapa luka untuk harga informasi adalah hal yang menguntungkan, jangan takut untuk terluka, karena kita seorang Assassin. Kita sudah sering melukai orang lain — bahkan membunuhnya. Jadi anggap saja ini bayaran untuk dosa yang telah kita perbuat," lanjut Nigiyaka-san.


"...."


"Kau mengerti? Aku tidak marah. Memprioritaskan dirimu sendiri adalah hal wajar, malah aku memerintahkan mu untuk begitu ketika menghadapi lawan yang lebih kuat darimu saat menjalankan misi. Jadi jangan terlalu dipikirkan."


Aku mengangguk dalam diam. Mulutnya memang bilang begitu, padahal sebelumnya dia menolongku ketika aku ingin disiksa. Bicara tentang seorang tsundere.


"Baik, Eiko-san. Ups—?!" Aku tanpa sadar memanggilnya dengan nama miliknya dan langsung menutup mulutku. Mata Nigiyaka-san juga melebar karena terkejut aku memanggilnya begitu.


"Ma-ma-ma-maaf ...! Aku keceplosan! Maaf karena tiba-tiba jadi sok akrab begitu!"


"...." Dia tidak menanggapinya lebih jauh dan langsung berbalik badan lalu kembali berjalan. "Panggil aku dengan nama samaran saat menjalankan misi." Respon singkat dari Nigiyaka-san. Aku pikir responnya akan lebih marah atau heboh, gitu.


Tapi itu tidak mengganggu kami terlalu lama dan langsung kembali fokus pada misi. Kami tidak mengetahui lokasi tepatnya sekarang berada, karena sebelumnya datang dalam keadaan pingsan dan langsung dibawa ke ruangan itu.


Tempat ini bisa dikatakan sebuah lorong. Memiliki banyak pintu masuk di kedua sisinya, kami juga keluar dari salah satu pintu tadi, entah seluruh ruangan di balik pintu ini adalah ruang penyiksaan atau bukan.


Tujuan pertama kami setelah keluar dari ruangan tadi adalah mencari Katana Nigiyaka-san. Itu adalah prioritas supaya Nigiyaka-san bisa bertarung dengan performa terbaiknya, tapi bukan berarti itu adalah hal yang mudah juga, sih.


"Itu mereka! Jangan biarkan lolos!"


"Sial!"


Beberapa orang mengejar dan kami langsung berlari menjauh. Apa-apaan ini?! Kenapa mereka bisa tahu kalau kita kabur?!


"Kok mereka bisa tahu, sih?! Bukankah seharusnya tidak ada saksi kalau kita lolos tadi?!"


"CCTV. Aku lupa memeriksa kalau ruangan itu punya CCTV atau tidak, tapi kemungkinan besar mereka punya," jelas Nigiyaka-san.


"Kenapa tidak kita lawan saja?"


"Sebisa mungkin untuk menghemat tenaga untuk melawan target kita, karena aku punya merasa kalau target kita cukup merepotkan nantinya."


Aku tidak mengerti kenapa Nigiyaka-san bisa bilang seperti itu, tapi untuk sekarang aku akan menurutinya. Kami masih berlari dan masuk ke sebuah pintu yang hampir tak ada bedanya dengan yang lainnya.


Dan di dalam juga tidak istimewa, tempat kotor dan banyak debu dengan banyak barang di dalamnya — mungkin sebuah gudang atau semacamnya. Saat Nigiyaka-san berjaga di pintu memastikan apa mereka masih mengejar, aku mencoba untuk berkeliling.


Mencari sesuatu. Tapi tidak ada sesuatu yang kutemukan berguna, seperti senjata atau semacamnya. Malah aku menemukan sebuah boneka monyet yang terbuat dari plastik, memegang simbal di kedua tangannya. Kedua matanya melotot membuat mainan ini terlihat cukup seram.


Mainan anak-anak? Kenapa itu bisa ada di sini?


Tapi bukannya terjawab, kepala boneka monyet tadi malah menoleh dan matanya menyala merah. Ditambah mulutnya kini terbuka dan mengeluarkan suara keras seperti monyet sedang ribut.


"Apa yang kau lakukan?!" tanya Nigiyaka-san.


"A-aku tidak tahu! Aku hanya menyentuhnya saja!"

__ADS_1


"Di situ kalian rupanya."


"??!!"


Suara seseorang menggema di ruangan ini. Suaranya begitu keras sampai kami kebingungan mencari sumber suaranya, walaupun pada akhirnya kami menemukannya. Ada sebuah speaker di sudut atas ruangan ini bersama dengan CCTV terpasang di sana.


"Kelihatannya kalian berhasil kabur dari ruang penyiksaan. Aku berpikir siapa orang yang bisa melakukan itu, ternyata pelakunya adalah Sang Assassin Legendaris yang terkenal itu, ya?"


Dia membicarakan Nigiyaka-san. Tentu saja orang-orang mengenalnya, tapi itu tidak penting. Kemungkinan besar kami akan dikepung setelah mereka mengetahui keberadaan kami. Jadi harus pergi secepatnya dari sini!


"Siapa kau?" tanya Nigiyaka-san.


"Kau tidak mengenalku, tapi kurasa aku bisa menebak tujuan kalian kesini."


Dia diam sebentar. Tapi aku bisa mendengar desah nafas bercampur seringai yang dikeluarkan ketika mengatakan hal yang selanjutnya. "Kalian ingin membunuh Bos kami, kan?" lanjutnya.


"Benar. Aku dikirim oleh seseorang untuk menghabisinya."


"Sudah kuduga. Pertumbuhan bisnis kami yang terlalu pesat dalam waktu singkat membuat banyak pesaing iri dan pada akhirnya menyewa Assassin seperti kalian. Tapi tidak kusangka kalau mereka langsung menyewa yang paling top."


Orang itu kembali mengoceh, walaupun aku tidak terlalu mendengarkannya. Nigiyaka-san memberi isyarat kepadaku untuk mencari solusi agar kita bisa pergi dari ruangan ini.


Tapi sejauh penglihatanku, ini hanya sebuah ruangan biasa. Pintu keluar satu-satunya juga tiba-tiba terkunci dengan sendirinya dan membuat kami harus menggunakan kekerasan jika ingin keluar dari sini.


Dan sekali lagi, sebisa mungkin Nigiyaka-san ingin menyimpan tenaga dari hal-hal yang tidak diperlukan. Karena saat aku tanya kenapa, dia hanya bilang kalau dia punya firasat buruk tentang target kami.


Aku masih mencoba mencari ke segala penjuru ruangan secuil celah yang bisa kami gunakan untuk keluar dari ruangan ini. Tapi percuma, semuanya tertutup rapat. Jadi aku menginformasikan hal itu kepada Nigiyaka-san dengan sebuah isyarat gelengan kepala.


"Jadi begitu."


"Hn? Kau bilang sesuatu?" Suara dari speaker tadi bertanya karena Nigiyaka-san tiba-tiba bicara.


Tapi Nigiyaka-san tidak menjawabnya dan malah mengepalkan tangannya. Aku bisa merasakan energi yang sangat kuat berputar mengelilingi kepalannya dan kemudian Nigiyaka-san menghantamkannya ke dinding di depannya.


Efek yang dihasilkan begitu keras sampai semua benda di tempat ini terpental dan aku harus menutup mataku dan melindunginya dengan lengan supaya menetralisir dampaknya. Selain dentuman keras, api menggelegar juga tercipta dari tumbukan Nigiyaka-san.


Beberapa detik singkat tumbukan terjadi, hasilnya mengejutkanku. Itu tidak hancur — retak kecil pun tidak ada. Hanya efek gosong bekas panas api tercipta di sana. Tapi sesuatu yang tidak biasa kembali terjadi, efek gosong tadi perlahan menghilang dan pulih seolah tidak pernah terjadi apa-apa di sana.


"Di-dindingnya memperbaiki diri sendiri?!" ucapku.


"...."


"Maksudmu kami terjebak di sini selamanya, begitu?!" Aku bertanya padanya dengan nada tinggi.


"Jangan terprovokasi, Dantalion."


Nigiyaka-san memang benar. Kehilangan kesabaran adalah hal yang paling harus kuhindari. Aku adalah Dantalion, Assassin yang berada di bawah pengawasan langsung Nimis dan Ardenter. Kontrol emosimu, Dantalion.


"Etto ... aku memang bilang kalian tidak bisa keluar baik pakai kekerasan atau tidak, tapi bukan berarti kalian akan terjebak di sana selamanya ...."


Nada ucapannya terus menerus menggantung sejak awal membuat emosiku terpancing, seakan dia memegang kendali atas kami berdua. Aku benci itu.


"... Kalian berdua bisa keluar dari ruangan itu jika aku memberi kalian izin. Contohnya, sekarang."


Terdengar sebuah jentikan jari dari speaker. Dan setelah itu, ruangan serta semua barang di tempat ini tiba-tiba mulai bergetar — seperti terjadi gempa. Keanehannya tidak berhenti sampai di situ, pandanganku mulai mengabur dengan cepat.


Aku yakin sekali kalau mataku tidak bermasalah. Tapi semua kekaburan dan getaran hebat tadi mulai berhenti, hanya untuk sadar kalau kami berada di tempat yang benar-benar berbeda. Tidak ada lagi ruangan seperti gudang — mainan monyet pun juga menghilang.


Kini kami berada di sebuah ruangan yang cukup luas dan tanpa ada barang-barang aneh seperti sebelumnya. Bagian yang diterangi lampu adalah bagian tengah, kebetulan kami sekarang berada di tengah di bagian paling terang ruangan ini.


"Dantalion, kau tidak apa-apa?" tanya Nigiyaka-san yang beruntungnya masih bersama denganku.


"I-iya ..., tapi sepertinya mataku mulai bermasalah. Tiba-tiba pandanganku mengabur tadi."


"Itu bukan matamu. Aku juga mengalaminya, dan sepertinya kita sudah tidak berada di tempat seperti gudang tadi."


Aku belum terlalu memahami situasinya, tapi sepertinya ini adalah ulah musuh yang kemungkinan besar pelakunya adalah seseorang di balik suara di speaker tadi.


Dan saat aku sedang berandai-andai, suara langkah kaki dapat terdengar dari sisi gelap ruangan yang membuat kami langsung fokus pada sumber suara. Yang keluar adalah seorang pria berkacamata dengan senyum sombong menghias wajahnya.


"Akhirnya aku bisa bertemu dengan salah satu Assassin legendaris yang Bos selalu bicarakan itu."


Tidak salah lagi. Ini adalah suara orang yang berada di balik speaker tadi! Orang kurang ajar ini, padahal penampilannya biasa saja, tapi berani-beraninya mempermainkan ku! Aku mengepal tanganku keras yang kemudian disadari olehnya.


"Lalu yang satunya ... Hn? Aku tidak terlalu ingat, itu berarti kau tidak terlalu kuat, ya?"

__ADS_1


"Gkh! Baiklah, cukup sampai di sana!"


Urat kemarahan muncul di dahiku dan menggertakkan gigiku. Aku sudah tidak bisa menahan kesabaranku lebih dari ini, lalu kemudian memfokuskan aura dan hembusan angin kencang mulai mengelilingi tubuh serta mengibarkan rambutku secara kasar.


Angin tadi kemudian menyempit tanpa memperlambat hembusannya dan mulai menyesuaikan bentuk seperti selendang yang aku kontrol di kedua tangan dan lenganku.


"Tu-tunggu! Jangan gegabah!"


Aku langsung menerjangnya tanpa menghiraukan peringatan Nigiyaka-san. Malam ini terlalu menyebalkan untukku dan kesabaranku telah sampai pada puncaknya.


Jarak kami menjadi sempit dengan cepat dan dia sudah berada dalam jarak serang ku. Tanganku kemudian menghempas ke arahnya, dengan bantuan selendang angin membuat jarak serang ku menjadi lebih panjang.


Dia kembali menjentikkan jarinya dan pandanganku mulai mengabur lagi. Apa dia akan memindahkanku sama seperti sebelumnya?! Kaburnya pandangan tadi hanya terjadi sepersekian detik, tapi itu sudah cukup membuat seranganku meleset.


Tidak.


Itu bahkan tidak bisa disebut meleset.


Mataku melebar ketika yang ada di depanku saat ini adalah Nigiyaka-san. Padahal dia seharusnya berada di samping dan seranganku juga tidak mungkin mengarah kepadanya. Sepertinya Nigiyaka-san juga terkejut dengan hal itu, meskipun dirinya masih bisa menghindari serangan sekaligus menangkap tubuhku.


"A-apa yang terjadi?"


"Tenang sedikit, dong. Tidak sopan sekali menyerang saat aku sedang bicara." Ia menggaruk kepalanya layaknya orang tak bersalah. Sialan, orang ini benar-benar membuatku kesal! Dan secara tak acuh dengan seranganku tadi, ia kembali melanjutkan pembicaraannya.


"Seperti yang aku bilang sebelumnya, jika kalian memang ingin membunuh Bos, maka aku harus menghentikan kalian di sini."


"Menghentikan? Apa maksudmu kau mau melawan kami berdua?" tanyaku.


"Kalau memang harus begitu pada akhirnya, maka akan ku lakukan. Lagipula berbeda dengan kalian, aku bisa keluar kapanpun aku mau."


"...."


Kemudian senyuman sombong di wajah pria itu hilang, kini hanya wajah serius yang tertinggal di sana. "Meski dengan taruhan nyawa, tidak akan aku biarkan kalian membunuh Bos ku yang berharga," ucapnya.


Kali ini dia benar-benar serius. 'Bos' — dengan kata lain target kami sepertinya orang yang sangat dihormati di sini, mereka sampai mau mengorbankan nyawa jika perlu demi Bos mereka.


"Sudah cukup."


"??!!"


Suara lainnya muncul di ruangan ini. Kami semua terkejut dan langsung waspada, tapi yang paling terkejut di sini adalah Nigiyaka-san — pria itu juga sama, tapi dia lebih ke arah tidak menyangka.


"Bos?! Apa yang Anda lakukan di sini?! Anda tidak perlu turun langsung menghadapi mereka!"


Bos? Jadi orang di belakangku adalah target kami?! Tanpa basa basi, aku langsung menengok dan melihatnya. Dan wow, dia orang berotot tinggi besar yang tidak biasa. Tingginya saja mungkin bisa sampai tiga meter.


Tapi aku seperti pernah mendengarnya di suatu tempat ...? Atau hanya perasaanku saja?


"Sudah lama sekali, Nimis."


"Ternyata memang benar itu kau."


Eh? Mereka saling kenal? Bagaimana bisa?! Apa aku ketinggalan sesuatu atau seperti apa? Tapi wajah Nigiyaka-san jadi lebih waspada dan serius dari sebelumnya, yang berarti memang target kami adalah seseorang yang berbahaya.


"Kau mengenalnya, Nimis?"


"Ya. Kau juga pernah melihatnya di suatu tempat, kan?"


"Memang benar kalau dia terlihat familiar."


"Katakan, bagaimana rasanya menjadi seorang pengkhianat, Nimis?"


"Cukup manis. Rasa yang tak pernah aku bayangkan dari sebuah pengkhianatan, mungkin aku harus melakukannya lebih awal dari dulu."


Dia menghela nafas, sepertinya kecewa. "Sepertinya pengkhianatan itu membuatmu kehilangan jiwa ksatria mu, kau menjadi Nimis yang tidak aku kenal."


"Oi, Nimis! Bisa beritahu aku siapa dia?!"


"Dia adalah seorang petarung, ksatria sejati. Seseorang yang bahkan aku sendiri mengakui kemampuannya. Tanpa persiapan dan mengeluarkan semua yang aku miliki, aku tidak mungkin menang darinya."


Dari dulu? Itu berarti mereka berdua sudah kenal sejak lama. Dan pengakuan yang diberikan oleh Assassin paling kuat yang pernah aku kenal kepada lawannya, membuat bulu kudukku berdiri.


"Dia adalah rekan ku saat masih bersama Astaroth dulu. Namanya adalah Baram."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2