
"SEMUANYA MENUNDUK !!!"
Mei-senpai kemudian menarik Kuromichi-san kebawah menghindari semburan api tadi. Sementara aku menarik Kudou dan Hira kebawah. Tapi sayangnya, teman-temanku yang lain tidak sempat bereaksi dan mereka semua langsung terbakar hidup-hidup.
"Ap-Apa yang sebenarnya terjadi …? Siapa yang melakukan ini?"
"Bukan saatnya bingung! Ayo cepat kita keluar dari sini!"
Saat aku masih belum mengerti tentang apa yang terjadi, teriakan Mei-senpai membangunkanku dari lamunanku. Aku bergegas menarik tangan Kudou dan Hira menerjang asap hitam tebal yang seketika memenuhi ruangan ini.
Syuuushh…
Senpai menggunakan kekuatannya untuk menghilangkan asap hitam ini dan memudahkan kami untuk keluar dari kelas. Setelah keluar, kami beristirahat sebentar dan menghirup nafas segar sebanyak-banyaknya karena di dalam kami sangat kesulitan bernafas.
"Kalian semua tidak apa-apa?" tanya Mei-senpai.
"Aku tidak apa-apa."
"Kami bertiga juga."
Aku melihat ke dalam ruangan kelas. Tapi Ketua Kelas, Wakil Ketua, Si Maniak itu, dan teman kelasku yang lainnya berbeda nasib dengan kami berlima. Mereka semua tidak sempat menghindari semburan api awal yang membakar semuanya. Bahkan karya 3D kami juga ikut terbakar.
Aku menggemertakkan gigiku. Amarahku tidak bisa terbendung saat ini. Kelas kami yang awalnya dipenuhi canda dan tawa tiba-tiba berubah menjadi kobaran api dengan teman-temanku terbakar di dalamnya.
Bzztt… Bzztt…
Orang yang melakukannya harus membayar semua ini. Berkali-kali lipat! Percikan-percikan listrik tiba-tiba mengelilingi tubuhku tanpa sadar yang disadari oleh Cecilia.
"Iraya, jangan hilang kendali!"
"Aku tahu! Meski begitu … meskipun aku menahannya sekuat yang kubisa, tapi amarahku tidak bisa pergi begitu saja!"
"Aku tahu itu! Pertama tarik nafas lalu tenangkan pikiranmu dulu. Bukankah itu yang selalu kuajarkan padamu jika menghadapi situasi seperti ini?"
Aku kemudian mencoba mengontrol emosiku. Lalu setelah beberapa saat, aku sudah menjadi lebih tenang dan bisa berpikir jernih. Setelah itu aku bertanya kepada Kudou dan Hira tentang keadaannya.
"Apa kalian berdua tidak apa-apa?"
"A-Aku tidak apa-apa. Tapi yang lainnya …."
Kudou sedikit melirik kearah dalam kelas. Tapi ia tidak bisa melihat terlalu lama karena perutnya langsung mual melihat kejadian di dalam. Tubuhnya juga gemetaran dan sepertinya dia mengalami trauma yang hebat.
"Berkatmu aku selamat, Iraya. Tapi apa yang terjadi sebenarnya? Apa terjadi konslet listrik?"
Sementara Hira terlihat lebih tenang. Ia masih bisa berpikir tentang penyebab kebakaran ini. Melihatnya begitu tenang dan dingin membuatku menjadi sedikit lebih tenang.
"Dia hanya berusaha menutupinya, Iraya. Perhatikan tangan dan kakinya."
Cecilia tiba-tiba berbicara. Aku kemudian mengikuti arahan dari Cecilia dan melihat kearah tangan dan kaki Hira. Tangan dan kakinya meskipun sedikit sulit, tapi Hira juga gemetaran. Itu sudah sewajarnya. Tidak ada yang tidak takut melihat kematian di depan matanya.
Saat aku sedang memperhatikan keadaan Hira, tiba-tiba pundakku disentuh dari belakang. Orang yang menyentuhku adalah Mei-senpai. Ia kemudian mendekatkan mulutnya ke telingaku dan mulai berbisik.
"Apa ini perbuatan mereka?"
"Kemungkinan besar begitu, tapi ini terlalu cepat untuk serangan balasan."
Dan juga disaat seperti ini Herlin malah belum kembali. Apa terjadi sesuatu dengannya? Aku memikirkan hal itu nanti dan untuk sekarang kami harus menjauh dari api ini dan keluar dari gedung sekolah.
Alarm kebakaran sekolah juga sudah berbunyi. Lalu pemadam api yang berada di atap kelas kami menyala karena mendeteksi asap di ruangan kelas. Murid-murid dari kelas lain juga terlihat panik dan ingin segera keluar dari gedung sekolah karena telah terjadi kebakaran. Suasana benar-benar kacau dan mencekam saat ini.
"Ayo kita bergabung dengan yang lainnya," ucapku.
"Ya …."
Wajah Kudou, Hira, dan Kuromichi-san saat ini sangat suram dan masih penuh dengan ketakutan. Aku pun kemudian mencoba menghibur dan menenangkan mereka.
"Kudou, Hira, dan Kuromichi-san juga …, aku berjanji kalau kita akan keluar dengan selamat. Aku janji."
Mereka mengangguk dengan lemah. Setelah sedikit tenang, kami pun memutuskan untuk berjalan dan bergabung dengan murid lainnya. Tapi tiba-tiba dari tangga, muncul dua orang yang wajahnya tidak asing bagiku.
Aku mengalirkan auraku ke seluruh tubuh untuk berjaga-jaga jika saja aku akan bertarung. Melihat wajahnya saja sudah membuatku marah sampai ke kepala. Dua orang itu kemudian berdiri menghalangi jalan kami untuk turun ke tangga.
"Apa kalian yang melakukan ini?" tanyaku dengan penuh amarah.
"Ikutlah dengan kami baik-baik, jika kau tidak ingin ada korban lebih banyak dari ini."
Dua orang itu—Ardenter dan Delta, sepertinya dugaanku benar. Mereka datang kesini untuk menculikku dan berniat mengeluarkan Cecilia dari dalam tubuhku. Aku mencengkram dadaku erat dan kemudian menatapnya dengan penuh kebencian.
Bzzt… Swuuushh…
Aku melesat dengan cepat kearah Ardenter dan mencoba memukul tepat diwajahnya. Tapi dengan sigap dia masih bisa menahannya dengan kedua lengannya membuat kami berdua dalam posisi beradu sekarang.
"Ambil saja kalau bisa, sialan!"
"Bocah sombong …!"
"Senpai! Bawa yang lainnya keluar dari sini! Aku akan menahan mereka disini!"
"Tapi …!"
"Tidak apa-apa!"
Aku mengeluarkan senyuman dan tatapan optimis kearah Senpai. Meyakinkannya kalau aku bisa mengatasi semua ini. Lalu Mei-senpai, meskipun dengan berat hati akhirnya meninggalkanku sendirian dan berlari lewat tangga lainnya.
Delta mengarahkan tangannya dan berusaha menyerang Mei-senpai dan yang lainnya dengan semburan api yang keluar dari tangannya. Tapi sebelum itu terjadi, dengan cepat aku menendang tangannya sehingga semburan api itu malah mengarah keluar.
"Lawan kalian adalah aku!"
Bzztt…
Dalam posisi masih beradu dengan Ardenter, aku mengarahkan tendanganku ke arah dagunya tapi masih bisa dihindari olehnya dan ia pun melompat ke belakang diikuti oleh Delta dan aku yang juga melompat mundur untuk menjaga jarak.
Aku sedang dalam posisi yang tidak menguntungkan. Dua lawan satu dengan orang yang lebih kuat dariku. Aku juga tidak membawa Tetsu saat ini. Aku juga tidak yakin jika pedang buatanku bisa banyak membantu. Tch! Benar-benar hari yang sial bagiku.
**
Sementara itu di tempat Herlin dan Hasuki-san, mereka masih belum bisa bergerak dari tempatnya masing-masing. Hasuki-san masih dalam posisi ditodong dengan katana oleh Nimis, sementara Herlin berada dalam sebuah kotak transparan yang diciptakan oleh Caramel.
Di dalam kotak ini, Herlin tidak bisa menahan pergerakan baik Nimis maupun Caramel karena terhalang oleh kotak ini. Jadi selama masih ada di dalam kotak, tidak banyak yang bisa dilakukan Herlin.
__ADS_1
Ia memeriksa material dari kotak transparan ini, tapi hasilnya tidak menguntungkannya. Kotak ini sangat solid sehingga memastikan tidak ada aura yang bisa keluar dari dalamnya.
Herlin melirik kearah Caramel yang sedang tidak awas kepadanya. Setelah tau kalau pengawasan terhadapnya lengah, ia menggali tanah pelan dengan bagian ujung sepatunya dan menemukan kalau bagian bawah kotak ini berlubang. Itu berarti Herlin bisa mengeluarkan auranya lewat bawah.
Dan yang sekarang harus dilakukan olehnya adalah melakukannya dengan hati-hati dan tanpa ketahuan.
"Iraya pasti bisa mengalahkan mereka berdua," ucap Herlin.
"Hmm? Apa itu adalah teriakan keputusasaan mu?" balas Caramel dengan sebuah seringai.
"Jangan remehkan perkembangan anak itu atau kau akan menyesal."
"Hehem …. Kalau itu benar-benar terjadi, bukankah itu akan jadi lebih menarik? Aku menantikannya loh, Ririsaka Herlin."
Herlin masih terus menggali tanah sedikit demi sedikit secara perlahan. Setelah pembicaraan singkatnya dengan Caramel selesai, Herlin mengalihkan pandangannya ke arah Hasuki-san.
Wajahnya sangat ketakutan karena jarak lehernya dengan katana milik Nimis sangat dekat. Air mata sudah hampir jatuh ke pipinya. Herlin mendecakkan lidahnya, ia tidak bisa melupakan keberadaan Hasuki-san begitu saja. Sedikit saja ia melakukan hal gegabah nyawa Hasuki-san bisa dalam bahaya.
"Sial."
Posisi Nimis dan Hasuki-san berada cukup jauh dari Herlin, sementara posisi Caramel lebih dekat. Itu berarti dia harus melumpuhkan Caramel dulu lalu menjadikannya sandera agar ia bisa membuat Nimis lengah. Setidaknya itu adalah rencana yang sudah terpikirkan di kepala Herlin.
Dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk melaksanakannya.
**
Sementara itu Iraya masih berhadapan dengan Ardenter dan Delta. Kedua kubu belum saling menyerang dan hanya waspada pada pergerakan masing-masing.
"Sadar akan posisimu, bocah! Kau tidak bisa menang melawan kami! Menyerahlah dan ikut dengan kami!" ucap Ardenter.
"Jangan bercanda! Jika harus melawan kalian semua untuk melindunginya, aku akan melakukannya!"
"Bocah sialan …!"
Sayangnya aku hanya menggertak. Seperti yang Ardenter katakan, kesempatan menangku sangat kecil saat ini. Tapi aku tidak boleh kalah. Kalau tidak, akan terjadi sesuatu yang tidak kuinginkan pada Cecilia.
Menurut cerita Nimis-san, Cecilia yang dulu tidak seperti sekarang. Aku masih belum mempercayainya, tapi di satu sisi aku sama sekali tidak mengenal masa lalu Cecilia. Aku tidak akan membiarkan Cecilia direbut! Tidak akan!
"Kau bermulut besar juga ya, Iraya," goda Cecilia.
"Berisik! Lebih baik kau bantu aku, wanita cerewet!"
"Dengarkan aku baik-baik, ini adalah satu-satunya cara bagimu untuk menang. Tapi untuk saat ini aku sangat tidak merekomendasikannya."
"Apapun itu jika bisa dipakai untuk melawannya sekarang, aku akan melakukannya!"
"Tekadmu sudah bulat, ya? Tapi aku sarankan padamu satu hal. Tahan rasa sakitnya, ya?"
"Apa?"
Cecilia tidak berbicara lagi. Aku yang masih tidak mengerti dengan perkataannya tadi tiba-tiba dikejutkan dengan tubuhku yang mengeluarkan aura berwarna hijau yang bisa dilihat oleh mata telanjang—bahkan oleh Ardenter dan Delta.
Diiringi dengan aura yang mengelilingi tubuhku itu, rasa sakit yang sangat hebat menyerang setiap inci dari tubuhku. Sensasi panas yang hebat seakan api telah membakarku hidup-hidup. Jadi ini yang Cecilia maksud tahan rasa sakitnya?
"AaaArRggghh …!!!"
"Apa-apaan itu?" ucap Ardenter.
Mereka berdua belum mengambil tindakan karena bingung dengan yang terjadi padaku.
Sementara rasa sakitnya yang tidak kunjung hilang, keringat keluar sangat banyak memenuhi tubuhku. Pandanganku mulai kabur dan tubuhku melemas. Apa aku akan pingsan?
"Ohooek …!!"
Aku memuntahkan darah cukup banyak dari mulutku. Meski begitu, aku tidak boleh menyerah! Aku harus tetap tersadar dan menghadapi mereka berdua. Jika tidak, Cecilia akan ….
"Ahhaakh …!!"
Darah lagi-lagi keluar dari mulutku. Dan kali ini bukan hanya dari mulutku, aku merasakan pipiku seperti terkena suatu cairan kental. Kedua mataku juga ikut meneteskan darah.
Rasa sakitnya tidak kunjung hilang, malahan semakin bertambah dan tubuhku serasa mau meledak karena panasnya. Aku sudah tidak kuat lagi. Pandanganku mulai menghitam dan tubuhku sudah hampir ambruk.
"Iraya …!"
Apa? Ada seseorang yang memanggilku? Suaranya sangat familiar di telingaku tapi aku tidak bisa mengingatnya.
"Jangan menyerah, Iraya …!"
Lagi-lagi suara itu memanggilku. Aku mencoba melihatnya dengan penglihatan buramku saat ini. Orang itu sedang berdiri di depanku sambil memanggil namaku, tapi aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Pandanganku terlalu buram.
"Kumohon jangan menyerah, Iraya! Banyak orang yang membutuhkanmu!"
Suara siapa itu? Siapa itu? Siapa itu? Aku mengenal suaranya tapi tidak bisa mengingatnya. Siapa itu? Siapa itu? Siapa itu? Siapa yang memanggilku? Siapa?
"Aku yang memanggilmu, Iraya."
Tiba-tiba kata-katanya yang terakhir mengubah segalanya. Pandanganku menjadi normal semula dan rasa panas yang seakan membakarku dari tadi menghilang. Yang tersisa saat ini adalah kehangatan yang membuatku sangat nyaman.
Aku mengingat suaranya sekarang. Lalu aku melihatnya sosoknya dengan jelas sedang berdiri di depanku.
"Apa kau yang memanggilku, Herlin?"
"Tentu saja, tega sekali kau melupakanku hanya karena rasa sakit yang tidak seberapa itu."
"Jangan bilang 'tidak seberapa', oi! Ini sakit sekali, tau."
Aku tertawa sebentar karena hal itu, Herlin juga ikut tersenyum sedikit. Tapi berkatnya aku bisa melupakan rasa sakit ini. Aku kemudian berdiri dan kembali berbicara kepadanya.
"Terima kasih ya, Cecilia."
"Bagaimana kau bisa mengetahuinya hanya dari melihatku sih? Hah ... membosankan."
Tiba-tiba tubuh Herlin yang berada di depanku perlahan menghilang seiring dengan sosok Cecilia yang menggantikan tempatnya.
"Herlin itu tidak mungkin tersenyum semudah itu."
"Kau menyadari perbedaannya dari kebiasaan buruknya? Aneh sekali."
"Ahaha ... tapi berkatmu aku sudah merasa lebih baik sekarang."
__ADS_1
"Sebenarnya aku ingin kau menyelesaikannya sendiri, tapi berkat ingatan serta keinginanmu yang kuat, tercipta bayangan milik Herlin. Meskipun itu buram dan kau tidak bisa mengingatnya karena rasa sakit yang kau rasakan itu sih. Jadi yang kulakukan hanyalah membantumu mengingatnya saja."
Jadi itu semua karena tekadku, ya? Ya tidak buruk juga untuk seorang diriku. Tapi aku masih bingung dengan rasa sakitnya yang tiba-tiba menghilang.
"Lalu bagaimana dengan rasa sakitnya?"
"Kalau itu, rasa sakitnya menghilang karena kau sudah melewati prosesnya."
"Prosesnya?"
"Akan aku jelaskan nanti. Untuk sekarang bukankah ada sesuatu yang harus kau lakukan?"
"Kau benar. Kalau begitu aku pergi dulu."
Meski belum menjawab semua pertanyaan di kepalaku. Tapi untuk saat ini ada yang lebih penting daripada rasa penasaranku.
"Semoga beruntung, bocah aneh."
Sementara itu Ardenter dan Delta yang masih diam karena tidak tau apa yang terjadi. Saat ini mulai bergerak. Ia tidak tau apa yang terjadi, tapi jika dia melawan Ardenter akan langsung menghajarnya.
Ia berjalan mendekati tubuh Iraya yang sedang terlutut tidak bergerak dan dikelilingi oleh aura hijau. Ardenter kemudian bermaksud menarik kerah baju bagian belakang Iraya dan membawanya pergi. Tapi terjadi sesuatu yang tidak ia duga.
"…?!"
Duuuuaaarrrr…
Sebuah ledakan terjadi tepat di tempat Iraya terlutut saat Ardenter ingin menyentuhnya. Beruntung Ardenter masih bisa melompat ke belakang menghindari ledakan itu. Lalu dari balik kepulan asap bekas ledakan itu, terdengar sebuah suara.
"Tidak semudah itu mengalahkanku, kau tau."
Zwuusshh…
Aku menebas kepulan asap yang menghalangi pandanganku dengan pedang yang terbuat dari aura gabungan milikku dan Cecilia. Ini seperti versi tingkat yang lebih tinggi dari pedang aura sebelumnya.
Dan juga aku merasa ada yang berbeda dari penampilanku. Aku berkaca pada bilah pedang berwarna hijau yang bersinar. Aku melihat mataku yang mengeluarkan darah dan juga iris mataku yang tadinya hitam berubah jadi oranye, sama seperti iris mata dari Cecilia.
"Kenapa bisa seperti ini?"
"Kau …! Tidak ada gunanya melawan! Cepat menyerah baik-baik dan ikut dengan kami! Ini adalah peringatan terakhirmu!" perintah Ardenter.
"Apa kau pikir setelah kau membunuh teman-temanku, aku akan menurutimu begitu saja?"
Aku mengelap pipi dan mulutku yang ternodai darah lalu memasang kuda-kuda menyerang.
"Ini jawaban terakhirku. Ambil saja kalau bisa, sialan!"
"Dasar bocah sombong …!"
Ardenter mengeluarkan sarung tangan dengan punggung tangan besi miliknya lalu memakainya. Aura disekelilingnya menjadi lebih besar lagi dan sepertinya ia sudah mulai serius.
Tap… Swuuushh…
Ia melesat dengan cepat kearahku, lebih cepat dari biasanya. Tapi mataku entah kenapa bisa menyesuaikannya dengan baik dan aku dapat menahan pukulan Ardenter sehingga kami kembali beradu.
Triiingg…
Disaat posisi kami beradu dan terkunci, Delta langsung membuat jarum es yang tak terhitung jumlahnya. Ia menembakkan semua jarum es dan bisa mengontrolnya dengan baik sehingga tidak ada satupun jarum es yang mengenai Ardenter.
Triiingg… Triiingg… Triiingg… Zwuusshh…
Aku berhasil menahan dan menghindari semua serangan Delta. Tanpa jeda, aku langsung menghilang dan melesat melewati Ardenter untuk menyerang Delta terlebih dahulu.
"Cepat sekali," gumam Ardenter.
"Kau yang membakar teman-temanku kan, sialan?! Kau akan membayarnya!"
Sryiiingg…
Aku berhasil membelah tubuhnya menjadi dua bagian, tapi tidak ada darah yang keluar dari mayatnya. Setelah aku melihatnya dengan lebih jeli, ternyata yang kutebas adalah klon buatannya. Sementara orang aslinya berada di belakang klonnya.
Klon tersebut menghilang dan saat menghilang, tubuh asli Delta sedang mengarahkan tanganku dan bersiap untuk menyemburkan api.
Blaaaaaarrr…
Lagi-lagi aku bisa bereaksi dengan cepat dan memotong semburan api itu sehingga tidak ada yang mengenaiku. Padahal jarakku dengan Delta tidak lebih dari satu meter. Apa ini kemampuan baru mata ini?
Sryiiingg…
Setelah menebas api itu, aku berniat untuk menebas Delta tepat di lehernya. Tapi aku merasakan aura membunuh yang besar di belakangku yang membuatku mengarahkan pedangku ke punggungku dan kugunakan sebagai pelindung.
Triiingg…
Serangan kejutan yang coba dilancarkan Ardenter berhasil kutahan. Aku mengarahkan tenaga lebih untuk mendorongnya jauh ke belakang.
"Jangan menggangguku terus, sialan!"
Ardenter berhasil kupukul mundur sehingga ia terlempar jauh ke belakang. Tapi tiba-tiba aku mendengar suara gerakan tanah dari depanku. Aku menengok kearah Delta yang berada di depanku dan ia menggerakkan tanah di bawah kakinya yang ia arahkan tepat ke wajahku.
Braakkhh…
Aku terkena sedikit serangannya di bagian daguku, meskipun aku langsung melompat untuk memperbesar jarak. Serangannya cukup terasa menyakitkan sehingga membuat mulutku sedikit berdarah.
"Sepertinya cara lembut tidak bisa berguna lagi kepadamu."
"Lembut?! Setelah kau membunuh teman-temanku kau bilang itu lembut?!"
Ardenter dan Delta berada di sisi berlawanan yang membuat fokusku terbagi. Tapi itu tidak terlalu menyulitkanku karena kecepatanku yang telah melampaui mereka berdua. Jadi dua lawan satu bukan masalah bagiku.
"Aku akan meladeni kalian sampai puas!"
"Cukup sampai disitu!"
Tapi tiba-tiba teriakan seseorang menyita perhatian kami semua dan langsung menengok kearah sumber suara. Seseorang naik dari bawah tangga dengan santainya. Seorang laki-laki dewasa berambut pirang dengan iris mata berwarna hijau berniat menghentikan pertarungan kami.
"Siapa kau?"
Orang itu tidak membalas pertanyaanku dan hanya menatapku dengan tatapan tajam dan serius. Siapa pria ini sebenarnya?
Bersambung
__ADS_1