Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 41 : Ucapan 'Selamat'


__ADS_3

"A-apa kau bercanda?!"


Sementara di tribun terpisah komentator, kedua komentator — Mitsu dan Caramel, terutama Mitsu masih tidak percaya kalau yang memenangkan pertandingan pertama adalah seorang debutan. Ia mengambil kertas biodata Satou Iraya yang ada di meja.


"Siapa sebenarnya anak ini?! Padahal cuma seorang bocah 16 tahun."


Mitsu memperhatikannya dengan detail. Memang tidak ada detail kekuatan yang tertulis di sana, hanya ada sebuah foto dan biodata biasa saja. Dan ada juga dari mana dia berasal.


"Black Rain. Itu berarti Murasaki Oita, si pemilik Cafe rambut klimis itu. Aku tidak mengerti darimana dia menemukan bocah-bocah yang bisa tiba-tiba jadi kuat begini. Tapi kalau dipikir lagi, selain kekuatannya, dia juga orang aneh yang misterius."


Mitsu kembali menaruh biodata Iraya dan membayangkan wajah Oita-san yang ada dalam bayangannya. Seseorang dengan senyuman ramah tapi tetap menyembunyikan sesuatu yang tidak biasa.


Mitsu hanya menggerutu tak jelas sambil memutar-mutar kursi putarnya. Sementara Caramel yang daritadi diam sambil memperhatikan Mitsu, kemudian beranjak dari kursinya lalu berjalan keluar dari ruangan.


"Oi, mau kemana? Pertandingan selanjutnya akan segera dimulai."


"Ke kamar mandi sebentar." Caramel menjawab sambil terus berjalan keluar.


Dan Mitsu tidak bisa menghentikannya. Ia juga tidak mengerti kenapa orang seperti itu bisa lolos menjadi seorang komentator. "Anak baru itu ... pendiam sekali," gumamnya.


Ia mengurut dahinya pusing karena tahun ini seakan dia yang harus melakukan semuanya sendirian. "Hah ... Kenapa turnamen tahun ini penuh dengan anak baru, sih?! Dari peserta bahkan komentatornya juga!"


Ia berteriak frustasi. Beruntungnya, ruangan ini adalah ruang kedap suara. Jadi sekeras apapun ia berteriak tetap tidak akan ada yang mendengarnya, mendengar raungan frustasi miliknya.


**


Satou Iraya PoV


Akhirnya! Kemenangan pertama berhasil aku dapatkan! Hehehe ... Bagaimana? Bagaimana? Apa aku terlihat keren tadi? Itu sih sudah pasti! Peserta debutan yang datang entah dari mana tiba-tiba mengalahkan semifinalis tahun lalu?! Sudah jelas jadi berita besar.


Ekspresi penonton juga kurang lebih seperti dugaanku. Mereka tidak menyangka kalau aku bisa mengalahkan Hayate, tapi berkat kemampuanku dan Cecilia yang untungnya ingat saran Herlin, akhirnya aku bisa menang.


Memang sedikit curang karena aku memiliki Cecilia di dalam tubuhku, tapi selama tidak ketahuan, itu tidak melanggar peraturan. Jadi aku tetap menang secara adil!


Aku berjalan menuju tribun yang ditempati oleh Herlin dan Oita-san. Dengan langkah percaya diri dan senyum sumringah, aku pun menghampiri mereka yang menonton dari tadi.


"Selamat atas kemenangan pertamamu, Iraya-kun," ucap Oita-san.


"Hehe ... Terima kasih banyak."


Lalu sekarang aku fokus ke Herlin. Senyuman sombong tercipta di mulutku. Aku sudah membalaskan dendam mu dua tahun lalu, lho. Mungkin setidaknya kau bisa berterima kasih atau bilang 'Kyaa! Iraya keren banget!'. Walau aku yakin kalau dia tidak akan mengatakannya.


Tapi dia belum bicara apa-apa sejak aku menatapnya. Ia sadar kalau aku ingin sombong di depannya dan terganggu karena hal itu.


"Apa?"


"Yah ... Aku sudah membalaskan dendam orang yang mengalahkan mu dua tahun lalu, jadi mungkin ada kata-kata yang ingin kau ucapkan kepadaku?" ucapku.


"Kau ingin aku mengomentari soal pertandingan tadi?"


"Kira-kira begitulah."


"Komentar ku adalah, lambat sekali, dasar bodoh."


"Eh?"


"Kenapa kau tidak menggunakan perluasan aura dari awal, malah sok menyerangnya langsung dari depan. Kau terpancing karena provokasinya? Atau mau terlihat keren? Apa terlihat keren bisa membuatmu menang?"


"Eh ... i-itu—"


"Padahal sudah aku ajarkan untuk tetap fokus dan gunakan energi seefektif mungkin. Konteksnya sekarang teknik perluasan aura adalah yang terbaik, tapi kau malah melakukan pergerakan sia-sia dan kelelahan sekarang."


"Entah kenapa, maaf ...."


Baik. Itu dia. Sepertinya yang dari awal salah adalah diriku karena terlalu banyak berharap pujian padanya, tapi setidaknya bisa kah memberiku semangat karena kemenanganku? Ini pertandingan debut ku, lho.


"Kau salah mengharapkan pujian darinya," ucap Cecilia.


"Hah ... kau benar."


Sepertinya hari ini aku tidak akan dapat pujian darinya, jadi aku memutuskan untuk berbalik badan dengan lesu dan menyingkir sejenak. Kurasa toilet adalah tempat terbaik untukku saat ini.


"Mau kemana, Iraya-kun?" tanya Oita-san.


"Toilet."


Sebelum benar-benar pergi, aku sempat menengok ke arah Herlin dan Oita-san sempat melakukan perbincangan tanpa diriku. Aku juga tidak bisa mendengarnya karena mereka terlalu jauh.


Saat di toilet, aku hanya berdiri di depan cermin wastafel sambil membiarkan air keran menyala, memperhatikan pantulan diriku di cermin. Luka-luka di tubuhku perlahan mulai menghilang, tentu saja itu berkat Cecilia.


Tapi tetap saja aku masih memikirkan tentang omelan Herlin barusan. Dia itu ... meskipun bukan pujian, setidaknya berikan aku kata-kata motivasi, kek. Dasar perempuan es batu yang tidak peka dengan sekelilingnya!


"Hah ... Dasar Herlin itu, apa aku memang harus dimarahi seperti itu? Dia menganggap kalau yang aku lakukan sebelumnya mudah!"


"Tapi kurasa baginya memang mudah," timpal Cecilia.

__ADS_1


"Iya, sih. Argh! Tapi bukan itu masalahnya sekarang!"


Aku membasuh wajahku berkali-kali sampai cipratan air nya mencapai ke cermin di depan. Mungkin memang berlebihan, tapi rasanya sedikit sedih padahal aku sudah berjuang keras tapi tidak diapresiasi.


"... Setidaknya ucapkan selamat atau sejenisnya, kek." Aku menggumam pelan. Atau mungkin tidak perlu dimarahi saja kali ini sudah cukup.


Pikiranku terlalu fokus dan kacau saat ini sampai tidak sadar kalau seseorang berada di sampingku. Tapi ada sesuatu yang salah dari orang di sampingku sekarang. Yap, dia perempuan. Aku menengok ke arahnya dalam diam, sementara dia juga menengok setelah membasuh wajahnya.


Hening cukup lama terjadi saat kami saling memandang. Tidak, bagaimana caraku memecahkan situasi ini? Sudah jelas ini kamar mandi laki-laki, apa dia tidak bisa membaca papan pemberitahuan di depan pintu apa?


"Apa masih ada sabun di wajahku?" Dia berbicara duluan.


"Bukan itu masalahnya sekarang! Ini toilet laki-laki, woi!"


"Benarkah?"


"Kau ini buta atau gimana? Cepat keluar dari sini!"


Gadis ini ... Tingginya tidak lebih tinggi dari telingaku dan memiliki rambut sepundak seputih susu dengan gaya rambut double hair buns. Kulit seputih salju menjadi nilai plus bagi kecantikannya, meskipun ada salah satu bagian tubuh yang menjadi bagian minus baginya. Yang ku maksud adalah bagian dadanya.


"Maaf, tapi aku orang baru di sini."


"Itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan kondisi kita saat ini," ucapku datar.


Dia memiringkan kepalanya seperti orang kebingungan. Padahal aku yakin ucapanku barusan mudah untuk dimengerti. "Pokoknya lebih baik kau cepat keluar, bisa jadi masalah jika orang lain melihatmu di sini."


"Baik ...."


Tapi dia tidak langsung keluar. Gadis itu kembali memperhatikan wajahku dalam diam, yang membuat pipiku memerah karena salah tingkah.


"A-ada apa?"


"Ngomong-ngomong, selamat atas kemenangannya, ya. Namamu kalau tidak salah ...." Dia memegang dagu dan berpikir mencoba mengingatnya. Setelah beberapa saat diam, ia berbicara lagi karena mungkin sudah ingat.


"... Urushihara?" Malah melenceng jauh!


"Siapa itu?! Namaku Satou Iraya!"


Aku cuma bisa menggelengkan kepalaku tidak percaya. Tapi meski begitu, bahkan orang asing pun memberiku selamat. Apa-apaan Herlin itu? Cuma bisa memarahiku saja.


"Tapi terima kasih, ya." Aku membalas. "Mmm ... Namamu?"


"Kau bisa memanggilku Caramel."


"Caramel?"


"Ah! Kau komentator yang memanggil namaku, kan?" Akhirnya aku bisa ingat. "Lalu kenapa kau bisa lupa namaku?" Tapi dia juga aneh karena lupa namaku. Meskipun dari awal dia memang kelihatan aneh, sih.


Sebelum gadis itu — Caramel menjawab pertanyaanku, tiba-tiba suara dengungan mic menggema di udara dan suaranya sampai ke toilet karena speaker yang di pasang di atas pintu. Yang menandakan kalau dia juga harus segera kembali bekerja.


"Semuanya! Pertandingan kedua akan segera dimulai! Apa kalian semua siap untuk pertandingan seru lainnya?!"


"YEEEAAAAAHHHH !!"


Disambut dengan sorakan dan teriakan penonton, pertandingan kedua akan segera dimulai. Caramel kemudian menengok ke arah speaker tadi dan berbicara lagi.


"Aku harus segera kembali. Sampai juga lagi, Urushihara-san." Setelah itu dia keluar.


"... Padahal sudah kubilang namaku Satou Iraya."


Aku pun juga ikut keluar dari toilet sambil mengingat perempuan aneh tadi. Bisa-bisanya dia salah masuk toilet dan lupa namaku secara bersamaan, dia itu bodoh atau bagaimana?


"Ya ampun, ada-ada saja perempuan itu. Hmm?"


Tapi ada hal lain yang membuatku terkejut. Herlin berdiri di depan pintu toilet pria. Ada apa ini? Apa semua orang tidak bisa membaca kalau ini adalah toilet pria? Atau sebenarnya aku yang salah dari tadi?


Membuang pikiran itu, aku bertanya pada Herlin. "Herlin? Kenapa kau kesini?"


"Kau ... Urushihara-san?" tanya Herlin.


"Sudah kubilang namaku Satou Iraya!" Bahkan Herlin juga merubah namaku. Sialan kau, gadis aneh! "Hah ... Apa kau bertemu dengan gadis aneh itu juga?"


"Iya, dia baru saja pergi tadi."


"Lalu, apa yang kau lakukan di sini? Apa kau juga ingin menggunakan toilet?"


"Tidak, itu ...."


Eh? Gerak-geriknya sedikit aneh. Dia tampak gelisah dan tidak bersikap tenang seperti biasanya. Ah ... apa ini ada hubungannya dengan obrolannya dengan Oita-san yang tidak ku dengar sebelumnya, ya? Aku sempat melihatnya saat ingin ke toilet.


"Tadi ... Oita-san bilang kalau aku harus mengatakan sesuatu kepadamu. Bukan ceramah atau komentar tidak penting, dia bilang yang 'seharusnya' aku katakan. Tapi aku tidak mengerti maksudnya, jadi ...."


Aku mengerti sekarang. Aku tidak bisa berharap banyak padanya kalau soal beginian, ya? Sebenarnya bukan karena dia tidak mau, tapi dia tidak tahu cara untuk melakukannya. Seharusnya aku sudah tahu itu.


Entah kenapa melihatnya kikuk dan gelisah begitu membuat ujung bibirku melengkung. Ia nampak seperti gadis biasa jika sedang seperti ini. "Bagaimana kalau satu kata mudah terlebih dahulu?" Aku memberinya arahan.

__ADS_1


"Contohnya?"


"Misalnya saja ... 'Selamat', begitu?"


Herlin termenung sebentar dan mulai mengulang kata-kata yang aku ucapkan. "Se-Selamat." Dengan nada sedatar robot.


"Co-Coba jika kau beri nada sedikit."


"Selamat?"


"Kenapa kesannya kau jadi bertanya kepadaku?"


"Selamat!" Dengan nada kesal.


"Okay, kau kesal." Apa-apaan ini, ternyata seru juga mengajarinya. Sebenarnya aku masih mau menjahilinya lebih lama lagi, tapi untuk sekarang sepertinya sudah cukup.


"Yah, walaupun masih terdengar sedikit aneh, yang penting kau sudah berhasil mengucapkannya. Terima kasih ya, Herlin."


"...." Dia tidak menjawab ucapan terima kasih ku, melainkan malah langsung berbalik badan dan berjalan duluan. "Kalau begitu ayo kita segera kembali ke tribun."


"Hah ... iya, iya."


Tapi memang seperti inilah dia, gadis kikuk yang tidak pandai berkomunikasi. Aku yakin dia akan semakin berkembang jika dia mau, lagipula masih banyak ruang baginya untuk tumbuh. Dalam hal interaksi dengan orang lain.


Kami kembali ke tribun tempat kami sebelumnya. Saat melihat kami berdua, Oita-san yang menunggu di tempat yang sama dari tadi tampak tersenyum melihat kami datang.


"Selamat datang kembali kalian berdua, apa dia sudah mengatakannya, Iraya-kun?"


Tanpa ragu Oita-san langsung bertanya. Ternyata memang benar kalau ada sesuatu yang mereka bicarakan saat aku ke toilet sebelumnya. Dan respon ku pada pertanyaan itu adalah sebuah acungan jempol ke atas.


"Meskipun masih agak aneh, tapi dia sudah mengucapkannya."


"Bagus kalau begitu."


Dengingan mic kembali menggema lewat speaker yang terpasang di ruangan ini. "Baiklah para penonton! Pertandingan kedua akan berlangsung dan yang akan bertarung adalah ...!" kata-kata Mitsu menggantung dan kemudian dilempar ke Caramel.


"... Oukami Yuu dan Kurobane Mei, silahkan mempersiapkan diri dan segera menuju ke arena pertandingan."


Setelah dipanggil oleh Caramel, kedua peserta naik ke atas arena diiringi oleh sorakan riuh para penonton. Tapi aku jadi kesal karena salah satu dari peserta adalah pria aneh yang sebelumnya ngajak ribut itu, aku bahkan sudah lupa dengan namanya.


"Pria aneh itu akan bertanding, ya? Tidak terlalu peduli dengannya sih, tapi aku harap dia kalah dan di cincang-cincang oleh lawannya," gumamku.


"Sepertinya itu akan sulit jadi kenyataan."


"Kenapa?"


"Coba lihat lawannya."


Herlin menunjuk ke lawan Oukami Yuu. Dia adalah seorang perempuan muda. Seumuran? Tidak, sepertinya lebih tua satu atau dua tahun. Rambut panjang hitam yang tergerai dan tatapan serius pada matanya menunjukkan kalau dia sudah siap untuk bertarung.


Tapi ada satu hal yang menjadi perhatianku. Meski aku tidak terlalu ahli dalam hal ini, tapi berkat pelatihan dari Herlin, aku bisa tahu kalau kuda-kuda perempuan itu agak ....


"Amatir?" Kata-kata yang aku cari untuk mendeskripsikan kuda-kudanya secara tak sengaja terselip keluar dari mulutku.


"Kau menyadarinya juga? Ternyata pelatihan ku tidak sia-sia."


"Siapapun pasti bisa mengingatnya jika sudah disiksa seperti waktu dulu," ucapku merespon Herlin.


Dan saat pertandingan baru saja ingin dimulai, seseorang tiba-tiba menghampiri kami bertiga. Dia adalah Kurayami Ryuzaki, seseorang yang berasal dari organisasi Red Flame.


"Oita, semuanya sudah berkumpul. Ayo segera kesana."


"Baiklah, aku akan segera kesana."


Sepertinya dia memiliki urusan dengan Oita-san. Setelah menyampaikan tujuannya, Kurayami-san langsung berbalik badan dan pergi dari sini tanpa basa basi sepertinya sebelumnya. Aku juga tidak mengharapkannya sih, tapi perubahan sikapnya menunjukkan kalau urusan mereka cukup penting.


"Apa anda memiliki urusan penting dengannya, Oita-san?"


"Iya, bisa dibilang cukup penting. Kalau begitu aku akan pergi sebentar, kalian berdua jangan bertengkar dengan orang asing saat aku tidak mengawasi kalian, ya?"


"Tenang saja! Aku akan menjaganya agar tidak membuat masalah!"


"Oi, bukannya aku yang seharusnya bilang begitu?"


"Tentu saja tidak."


Oita-san hanya tersenyum melihat kami berdua dan berjalan menuju ke tempat yang ingin ia tuju. Sambil memperhatikan punggungnya yang semakin menjauh, aku kemudian bertanya pada Herlin.


"Nee, Herlin ... Apa kau tahu kira-kira urusan penting apa yang ingin Oita-san lakukan?"


"Entahlah, tapi jika sudah harus melibatkan Oita-san, aku rasa itu tidak akan jauh dari kata 'merepotkan'."


"Eh~? Yang benar saja?"


kami kembali menonton pertandingan kedua, wasit juga sudah mengangkat tangannya dan bersiap untuk memulai pertandingan. Kedua peserta sudah memasang kuda-kuda mereka masing-masing. Lalu suara Mitsu yang menggema semangat kemudian mengiringi dimulainya pertandingan kedua.

__ADS_1


"MULAI !!!"


Bersambung


__ADS_2