
Kriing… Kriing…
Alarm yang sudah berbunyi sedang berusaha memaksaku untuk bangun pagi. Benar, ini adalah hari pertama sekolah setelah libur musim panas berakhir. Setelah melamun sebentar untuk mengumpulkan kesadaranku, aku bangun dan langsung bersiap-siap untuk berangkat sekolah.
Setelah sedikit berkaca di depan cermin agar memastikan seragamku rapi, aku menghampiri foto ibu yang berada di meja samping tempat tidurku. Aku mengangkat tanganku dan berdoa sebentar untuk kedamaiannya di sana.
Aku tidak boleh terus merenung dan terus berkubang dalam kesedihan, aku harus mencari pelaku pembunuh ibuku. Hanya itu yang bisa kulakukan untuknya. Aku tersenyum kearah foto ibuku lalu berbicara padanya.
"Kalau begitu, aku berangkat dulu, Bu."
Aku pun kemudian berangkat sekolah.
**
Di tengah perjalanan, karena tidak sempat sarapan aku pun membeli sebuah onigiri isi ayam yang harganya cukup murah. Selain murah, porsinya yang pas untuk makan pagi juga menjadi alasan kenapa aku membelinya.
"Fuwa fuwa time~"
Sambil bersenandung pelan, aku menikmati jalan santai dan damaiku menuju sekolah. Tapi tiba-tiba seseorang menyapaku dari belakang.
"Pagi."
Aku menghentikan langkahku dan menengok kebelakang. Orang yang menyapaku adalah Herlin. Dengan penampilan anak sekolahnya, aura yang dipancarkannya sangat berbeda. Seperti seorang kutu buku pintar keturunan barat.
"Kenapa kau melihatku begitu?" tanya Herlin karena aku memandanginya dengan tatapan aneh yang lama.
"Ah, tidak. Aku hanya bingung saja …," ucapku sambil melanjutkan langkah.
"Bingung kenapa?" Herlin kemudian menyamakan posisinya dengan cepat dan sudah berada di sampingku.
"Kenapa kau masih pergi ke sekolah?"
"Apa itu masalah bagimu?" tanya Herlin datar.
"Tidak, bukan begitu. Bukankah urusanmu dengan sekolahku sudah selesai? Apa jangan-jangan kau ketagihan dengan pelajaran sekolahan?"
"Tidak, aku sama sekali tidak ketagihan, justru itu kadang-kadang malah merepotkanku. Aku masih pergi ke sekolah karena kita masih punya urusan, apa kau lupa?"
"Urusan?"
Aku mencoba memikirkan urusan apa yang Herlin maksud. Aku berusaha mencarinya di serpihan-serpihan ingatan yang ada di otakku, tapi aku tidak menemukannya sama sekali. Lagipula pikiranku saat ini sedang penuh dengan pikiran lain.
"Apa ada urusan seperti itu?" tanyaku.
"Aku tidak menyangka kau melupakan hal sepenting itu. Kau ini bodoh, ya?"
"Oi! Aku tidak sebodoh itu!"
"Mau bagaimana lagi, aku harus menyesuaikan ucapanku agar otakmu yang kecil itu bisa menangkapnya."
"Ka-Kau ini …!"
Dia ini …. Aku tidak tau dimana dia mengasah mulutnya sampai bisa setajam itu, tapi kata-katanya itu benar-benar membuatku kesal.
"Alasan aku masih bersekolah disini, karena kita akan—"
Sebelum Herlin menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba ada orang yang mendekati kami dari belakang. "Yo! Lama tidak bertemu, Iraya!" Ternyata mereka adalah Kudou dan Hira.
"Ah, hanya Kudou dan Hira."
"'hanya', ya? Kau sudah menganggap kami berdua tidak spesial lagi, ya?" ucap Hira.
"Benar tuh, benar tuh! Apa jangan-jangan sudah ada seseorang yang spesial di hatimu?" Kudou berbicara seperti itu sambil melirik kearah Herlin.
"Jangan berbicara yang aneh-aneh." Aku hanya menanggapi perkataan Kudou itu secara datar.
"Maaf, Takushi-san. Apa kau benar-benar berpikir kalau seseorang seperti laki-laki di sampingku ini bisa disukai oleh seorang perempuan?" tanya Herlin.
Oi! Ucapannya semakin tajam. Yang tadi itu sudah bukan ucapan lagi, itu lebih terdengar seperti sebuah kutukan. Kutukan yang sangat menyeramkan.
"Hmm …. Kau benar juga."
Jangan mengiyakan kutukan itu, Kudou! Perempuan ini … kembalikan sikap manisnya kemarin. Kenapa sifatnya berubah menjadi dirinya yang biasa.
"Ngomong-ngomong, selamat pagi Ririsaka-san," sapa Hira yang rasanya sudah sangat terlambat.
"Nn, pagi juga."
"Ayo kita bersama berangkat ke sekolah."
"Ayo!"
Setelah percakapan singkat itu, kami pun berjalan bersama menuju ke sekolah. Tapi aku masih belum tau tujuan sebenarnya dari Herlin.
**
Teng… Neng… Neng…
Pelajaran kali ini terlalu membosankan. Aku hampir beberapa kali tertidur saat guru sedang menjelaskan. Setelah merenggangkan badanku yang kaku, aku berniat untuk berjalan ke kantin dan membeli beberapa onigiri dan roti isi. Tapi Herlin tiba-tiba menahanku.
"Mau kemana kau?"
"Aku mau ke kantin, memangnya mau kemana lagi?"
"Kau tidak perlu ke kantin lagi."
"Hn?"
Herlin kemudian mengeluarkan dua bungkusan bento dari dalam tasnya. Dia kemudian memberikan salah satunya kepadaku. Aku pun langsung menerimanya.
"Kenapa kau bawa dua?"
"Aku juga tidak mengerti. Yuuki-san hanya bilang kalau yang satunya untukmu. Jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa."
__ADS_1
Ah … Yuuki-san, ya? Aku berpikir kalau ini ada hubungannya dengan yang waktu itu. Saat aku berkunjung ke panti asuhan saat malam hari karena hujan. Yah itu tidak penting, sih.
Kami berdua pun akhirnya memakan bento itu di dalam kelas. Meskipun ada segelintir tatapan aneh dari beberapa siswi di kelas, tapi aku berusaha mengabaikannya. Dan saat sedang asik makan, tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri kami.
"Yahoo! Boleh aku ikut gabung?"
Orang tersebut adalah Hasuki-san.
"Hasuki-san? Ya boleh saja sih. Boleh kan, Herlin?"
"Ya tentu," ucap Herlin dengan mulut yang masih penuh dengan nasi.
Rasanya sudah lama aku tidak melihat Hasuki-san, entah kenapa penampilannya saat ini sedikit lebih pucat dan terdapat kantung mata di bawah matanya. Terlebih lagi ada bekas luka di bagian kanan lehernya. Apa terjadi sesuatu dengannya?
Sepertinya Hasuki menyadari kalau aku memperhatikan bekas lukanya dan langsung menutupinya dengan tangan.
"Asyik! Makan bersama!"
Hasuki duduk di sebelahku saat ini sementara Herlin duduk di depanku. Aku sebenarnya tidak masalah jika makan bersama seperti ini, tapi yang jadi masalah adalah pandangan seluruh murid di kelas. Mereka sepertinya berniat untuk memusuhiku lagi. Bahkan Kudou dan Hira juga berpandangan sama.
Tapi itu sepertinya hanyalah tatapan iri dari para laki-laki di kelas saja. Aku pun berusaha untuk mengabaikannya dengan lebih keras sekali lagi. Ya, meskipun tidak mudah sih.
**
Waktu istirahat tinggal sedikit lagi dan aku sudah menyelesaikan makananku. Kali ini aku dan Herlin berada di depan kelas 12-A untuk mencari orang yang kami butuhkan di dalam Black Rain.
"Apa ini tempatnya?" tanyaku.
"Ya, tidak salah lagi, aku sudah melihatnya di buku absen sekolah dan aku menemukan namanya di kelas ini."
"Baiklah kalau begitu."
Aku kemudian mengarahkan tanganku. Tapi entah kenapa rasanya berat sekali. Ini adalah pertama kalinya aku masuk ke kelas 12. Bagaimana pandangan mereka jika aku langsung masuk dan mencari seseorang di dalamnya. Pasti akan sangat aneh.
"Apa yang kau lakukan? Cepat buka pintunya," ucap Herlin.
"A-Aku sedang mencobanya! Ja-Jangan menyuruhku buru-buru!"
Saat aku sedang berjuang melawan rasa maluku untuk membuka pintu, tiba-tiba ada sebuah suara yang familiar di telingaku. Meskipun dengan kesan yang buruk.
Braaakkk…
"Hah! Saat itu aku hanya— Hn?"
Orang itu menggeser pintunya dan terlihat beberapa orang lelaki bertubuh besar dan seorang perempuan dengan permen pop di mulutnya.
"E-Etto …."
Aku berusaha berbicara tapi tidak bisa keluar dari mulutku. Aku juga tidak tahu kata-kata apa yang harus aku keluarkan. Mataku dan bos itu saling bertemu dan bertukar pandang cukup lama. Tapi, perempuan dengan permen pop di mulutnya memecahkan suasana canggung ini.
"Ah! Kau anak kelas 10 yang menghajar Tanaka sampai babak belur itu!" ucap perempuan itu.
"Diam kau, Nabe!" orang yang bernama Tanaka itu dengan cepat meneriaki perempuan itu. Tapi tidak dipedulikan olehnya.
Perempuan ini sangat berisik. Dia berusaha memprovokasi orang bernama Tanaka ini agar berkelahi lagi denganku. Tapi Herlin dengan tenang kemudian berbicara.
"Kami mencari Kurobane-senpai, apa dia ada?"
"Hn? Mei? Tunggu sebentar …," ucapnya.
"Oi, Mei! Ada seseorang yang mencarimu! Sepertinya dia ingin menyatakan cinta padamu atau semacamnya!"
Perempuan itu memanggil nama orang yang kami cari tapi dengan alasan yang tidak masuk akal.
"Ap—! Tu-Tunggu …! Itu bukan tujuan kami kesini!"
"Oh, bukan itu?"
"Ya ampun kau ini ribut sekali, Nabe-san."
Tiba-tiba seseorang datang menghampiri kami. Seorang perempuan dengan tinggi yang hampir sama denganku, mempunyai rambut hitam panjang lurus sepinggang dan tubuh yang bisa membuat siapapun tergoda dalam sekali lihat.
"Kurobane-senpai?" tanyaku.
"Ada apa? Dan juga siapa kalian berdua ini?"
Meskipun kata-katanya tajam, tapi suara lembutnya bisa mentolerir hal itu dan masih tetap nyaman masuk ke dalam telinga.
"Kita perlu bicara, tapi bukan disini," ucap Herlin.
"Hmm?"
Meskipun awalnya Kurobane-senpai masih belum mengerti maksud tujuan kami memanggilnya, tapi dia tetap menuruti permintaan kami untuk berbicara di tempat yang sepi. Yaitu di rooftop sekolah.
"Jadi, kalian siapa? Dan ada urusan apa sampai repot-repot mengajakku berbicara disini. Disini cukup panas kalian tau."
Kurobane-senpai berbicara sambil menghalangi cahaya matahari berlebihan yang masuk ke matanya dengan tangannya.
"Sebelum itu, apa Senpai tau tentang kejadian ledakan disini?" tanyaku.
"Tentu saja aku tahu."
"Apa ada sesuatu yang aneh menurutmu, Senpai?"
"Tidak juga, lagipula pihak sekolah juga sudah memberi pengumuman kalau penyebabnya adalah gas meledak," jawabnya dengan pasti.
"Lalu pertanyaan berikutnya …." Herlin kemudian melanjutkan pembicaraannya.
"… Apa Senpai tahu makhluk-makhluk yang menyerang sekolah waktu itu? Orang ini melihatmu menghempaskan makhluk itu dengan tidak wajar." Herlin menunjuk ke arahku.
"Entahlah, mungkin itu adalah makhluk jenis baru. Dan sepertinya temanmu salah lihat. Aku memang mempelajari beberapa jenis beladiri, jadi wajar aku bisa melindungi diriku sendiri saat itu."
"Apa benar seperti itu?" lanjut Herlin.
__ADS_1
"Ya."
"Hmm …."
Sejauh ini belum ada yang mencurigakan dan menunjukkan kalau ia adalah orang yang sama yang kami temui di Turnamen The One waktu itu. Semua jawaban dari pertanyaan kami ia jawab dengan masuk akal. Herlin kemudian menanyakan satu pertanyaan lagi kepada Kurobane-senpai.
"Satu hal lagi Senpai … apa yang kau lakukan selama libur musim panas kemarin?"
Dia terdiam sebentar setelah mendengar pertanyaan dari Herlin. Matanya menyipit curiga seolah ada sesuatu yang aneh dengan pertanyaan yang barusan Herlin berikan.
"Apa maksudmu?" tanya Kurobane-senpai.
"Ya, aku hanya bertanya saja. Apa saat liburan musim panas Senpai pergi ke sebuah turnamen atau semacamnya?"
Herlin mengalihkan perhatiannya ke sebuah kerikil yang berada di dekatnya lalu mengambilnya.
"Turnamen? Sebenarnya apa yang sedang kau katakan?"
"Tidak usah berpura-pura lagi, Senpai. Tentu saja yang kumaksud Turnamen The One. Apa aku perlu menjelaskan semuanya?"
Kurobane-senpai terkejut dengan pernyataan Herlin. Sepertinya dia tidak menyangka kalau ada seseorang yang tahu dia pergi ke turnamen tersebut saat libur musim panas. Lagipula tidak ada yang patut dicurigai dari perempuan sepertinya.
Ziiing…
Herlin kemudian menerbangkan kerikil yang dari tadi ia pegang sedikit di atas telapak tangannya yang membuat Kurobane-senpai semakin terkejut.
"Ka-Kau …. Siapa sebenarnya kau?"
"Bukan hanya ini …," ucap Herlin.
Menyadari maksud dari perkataan Herlin, Kurobane-senpai menengok ke belakang dan melihat kumpulan kerikil-kerikil yang sedang terbang diatas kepalanya.
"Apa Senpai sudah mengerti sekarang? Kami sama sepertimu, jadi Senpai tidak perlu menutup-nutupinya lagi," ucapku.
"…. Apa yang kalian berdua inginkan dariku? Apa kalian mau merebut kekuatanku?"
"Aku tidak pernah bilang seperti itu, aku hanya ingin Senpai bergabung dengan—"
"Aku menolak!" Kurobane-senpai langsung menolak dengan tegas tawaran yang bahkan sebelum Herlin sempat menyelesaikan kata-katanya.
"Kalian ingin aku bergabung dengan kalian, 'kan?! Benar begitu?!"
"Ya, benar sekali."
"Kalau begitu aku menolaknya! Aku sudah berjanji untuk tidak menggunakan kemampuan ini jika tidak dalam keadaan darurat!"
Herlin dan aku terdiam melihatnya menolak kami seperti itu. Dan tiba-tiba Herlin bergumam.
"Wah, dia mengingatkanku dengan seseorang."
"Jika yang kau maksud adalah aku, maka kumohon hentikan," balasku datar.
"Lalu jika begitu, apa yang kau lakukan di turnamen waktu itu? Apa kau ingin melanggar janjimu sendiri?"
"Ka-Kalau itu …."
"Apa kau memiliki suatu alasan dibalik hal itu? Alasan darurat yang membuatmu harus menggunakan kemampuanmu? Apa sebegitu pentingnya?!"
"DIAM …!!"
Swuuushh…
Bersamaan dengan teriakannya, hembusan angin kuat tercipta dari sekitar Kurobane-senpai menerjang ke segala arah yang membuat kerikil-kerikil yang beterbangan tadi terhempas.
"Kumohon … diam. Kau tidak akan mengerti, tidak akan pernah …."
Kurobane-senpai menutup telinganya dan memohon agar Herlin berhenti bicara. Ia seperti mengingat kembali sebuah kenangan buruk yang tidak ingin ia ingat kembali.
Sepertinya Herlin sudah terlalu berlebihan. Kata-katanya telah menusuk ke dalam hati Kurobane-senpai. Herlin yang melihat Kurobane-senpai seperti itu kemudian berjalan meninggalkannya sendirian, setidaknya untuk saat ini. Aku kemudian mengikuti Herlin dari belakang, karena aku juga tidak bisa melakukan apa-apa lagi terhadapnya.
"Kami akan datang lagi nanti," gumam Herlin sambil terus berjalan.
Sementara Kurobane-senpai masih menutup telinganya sembari dengan air mata yang keluar dari matanya. Ia berjongkok dan belum bergerak sedikitpun dari tempatnya saat terakhir aku melihatnya sebelum pergi.
**
Setelah itu kami berdua kembali ke kelas karena jam istirahat telah selesai. Sebelum masuk kami sempat berbicara sedikit. Herlin mendapat panggilan dari Murasaki-san. Sepertinya dia ingin membahasnya disini.
"Hari Minggu nanti, kita akan pergi ke Tokyo," ucap Herlin.
"Ha? Tokyo? Memangnya ada apa?"
"Sepertinya ketua dari organisasi Red Flame ingin bertemu denganmu."
"Red Flame?"
Aku sempat mendengar nama itu. Itu adalah nama sebuah organisasi besar di bawah naungan Kuni no Hashira yang beroperasi di Tokyo. Ada urusan apa dia denganku.
"Dan kita juga akan mengajaknya."
"Eh? Mengajak siapa?"
"Sudah jelas, bukan? Tentu saja Kurobane-senpai."
Apa aku tidak salah dengar. Barusan dia menangis karena kata-katamu dan sekarang kau ingin mengajaknya dengan kita? Sepertinya dia sedang bercanda. Oi! Siapa saja tolong katakan kalau perempuan bodoh ini sedang bercanda.
"Dia tidak bercanda, kau tahu," ucap Cecilia memastikan.
Aku menghela nafasku dan kemudian bergumam tepat di depan wajahnya.
"Dasar perempuan bodoh."
"Eh?"
__ADS_1
Bersambung