Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 100 : Membangkitkan Satu Orang Lagi


__ADS_3

Seana telah berhasil menyelesaikan misi utamanya saat datang ke Jepang, yaitu menghidupkan kembali pamannya. Awalnya ia memang tidak serius tapi itu hanya karena banyak hal baru yang dilihat Seana di sini, membuat perhatian Seana sedikit teralihkan.


Tapi di dalam hatinya, ia tidak pernah lupa tujuan awalnya datang kesini. Dan sekarang hal itu telah ia lakukan.


Setelah memulihkan tenaga sekitar lima belas menitan, Astaroth pun akhirnya dapat berdiri dan berbicara lebih jauh dengan Seana dan juga Dillon. Ia juga menanyakan bagaimana mereka bisa datang kesini dan menemukan tubuhnya.


"Apa paman sudah bisa berdiri?" tanya Seana.


"Ya, aku sudah tidak apa-apa. Jadi kau datang kesini berdua dengan Dillon? Apa ibumu mengizinkannya?"


"Benar. Ibu sangat baik karena mengizinkanku untuk mengunjungi paman yang berada di Jepang, aku juga bilang kalau aku tidak akan mengganggu penelitianmu."


"Jadi begitu, hanya kau yang mengetahui soal kematianku, kan?"


"Paman benar-benar paham diriku, ya? Beruntung dulu paman mau memberikan darahmu kepadaku, jadi aku bisa membuat boneka dan selalu mengawasimu meskipun dari jauh."


"Aku sudah dengar soal kekuatanmu itu."


Seana tersenyum bangga ketika mendapat pujian yang tidak terdengar seperti pujian dari pamannya. Lalu Astaroth melihat ke arah Dillon yang membuat Dillon langsung menaruh tangan kanannya di dada dan menundukkan kepalanya.


"Kerja bagus karena sudah mau direpotkan olehnya, Dillon."


"Tidak. Itu memang sudah jadi tugasku jadi itu sama sekali tidak masalah."


"Tapi kau mengakuinya kalau Seana kadang-kadang jadi biang masalah, kan?"


"Itu ...."


Dillon sempat ragu untuk menjawabnya dan ada jeda sebentar. Tapi ia pun terus melanjutkannya dan menjawabnya tanpa ragu.


"... Terkadang memang benar."


"Dillon! Kau jahat sekali kepadaku, sih!"


Seana sedikit kesal dan menggembungkan pipinya karena jawaban dari Dillon, sementara Astaroth hanya tersenyum melihat mereka berdua.


Tapi reuni hangat serta candaan singkat itu segera mereka hilangkan. Karena saat ini Seana sedang ingin membicarakan hal yang lebih serius dengan pamannya.


"Paman, aku ingin bicara denganmu."


"Ada apa?"


"Tentang orang yang membunuhmu, apa mereka masih berkeliaran di sekitar sini?"


"Benar juga, kemampuanku saat ini belum kembali seutuhnya, jadi aku tidak cukup kuat untuk membalas mereka. Tapi untuk menjawab pertanyaanmu ... benar, mereka ada di kota ini."


Pemikiran Seana kini berjalan kemana-mana. Karena ada satu orang yang ia temui sebelumya saat di kuil yang memiliki aura yang cukup kuat dan dapat mengalahkan monster besar dengan mudah.


Tapi ia tidak bisa menyimpulkan kalau orang itu terlibat dalam pembunuhan Astaroth, bisa jadi kalau orang itu hanyalah Exception yang memang berada di sini. Jadi dugaannya masih belum kuat.


Melihat Seana yang melamun dan seperti banyak pikiran membuat Astaroth bertanya padanya. Sementara Dillon hanya memperhatikan Seana dalam diam saja.


"Seana? Ada apa?"


"Eh? Ah ... aku tidak apa-apa, apa Paman ingat siapa saja yang terlibat dalam pembunuhan Paman?"


"Oh iya berhubungan soal itu, boleh aku minta tolong sesuatu padamu, Seana?"


"Minta tolong?"


Sebelum Astaroth menjawab pertanyaan Seana, ia terlebih dahulu meminta tolong sesuatu padanya.


Mereka pergi ke suatu tempat yang letaknya cukup jauh dari Family Mart tadi. Sebuah reruntuhan gereja yang sudah tidak dikenali lagi kerangkanya.


Astaroth yang masih dalam keadaan belum fit sempurna, mencoba mencari sesuatu di balik reruntuhan-reruntuhan serta serpihan gereja itu yang membuat keduanya bingung.


"Paman, sebenarnya apa yang sedang kau cari?"


Tapi Astaroth tidak menjawab pertanyaan Seana dan terus fokus pada pencariannya yang berlangsung cukup lama. Seana dan Dillon yang tidak tahu apa yang sedang dicari oleh Astaroth tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya diam berdiri menunggu.


"Ketemu!"


Setelah bersusah payah mencari di antara puing-puing gereja itu, akhirnya Astaroth menemukan sesuatu yang dicarinya. Ia mengangkat tinggi-tinggi benda itu dan ternyata yang ia cari dari tadi adalah sebuah jas ungu.


Itu bukanlah jas ungu biasa. Karena bentuknya yang sudah banyak yang robek, bolong, dan kotor serta darah hampir menutupi seluruh bagian jas itu terutama bagian punggungnya.


Astaroth pun kemudian turun dari reruntuhan puing gereja tadi dan berjalan mendekati Seana dan Dillon.


"Akhirnya aku menemukannya."


"Pakaian kotor itu, apa yang akan Paman lakukan dengannya?"


"Orang ini yang hampir berhasil membunuhku dan aku mengakui kekuatannya hampir setara denganku. Seana, kau bisa menghidupkan orang mati, kan? Apa kau bisa menghidupkannya juga?"


"Jadi dia ... yang ada di dalam penglihatanku waktu itu?" gumam Seana.


Seana kemudian ingat pakaian yang sama yang ada di dalam penglihatannya. Jadi orang ini yang kekuatannya setara dengan Astaroth.


Tapi meskipun pamannya sangat bersemangat saat ini, sayangnya Seana harus menjawabnya dengan jawaban yang mengecewakan.


"Maaf Paman, aku tidak bisa menghidupkannya kembali."


"Apa? Apa ada syarat tertentu untuk melakukannya?"


"Ya, tubuh orang yang aku hidupkan tidak boleh terjadi kerusakan berlebihan di sana. Jika seperti itu, kemampuanku tidak akan bekerja."


Yang tersisa saat ini hanyalah darah kering yang tersebar di seluruh jas ungu itu. Dengan tidak ada bagian tubuh sedikitpun, membuat Seana tidak bisa berbuat apa-apa saat ini.


"Begitu, ya? Jadi kau memerlukan tubuh yang baik untuk melakukan prosesnya."


Tep...


"Hn?"


Saat rasa kecewa sedang dirasakan oleh Astaroth, tiba-tiba kumpulan orang datang ke tempat mereka dan bingung dengan keberadaan Seana dan yang lainnya.


"Ha? Ada orang di daerahku?" ucap salah satu dari mereka.


Mereka memakai sebuah pakaian yang seragam dengan penampilan yang menyeramkan. Telinga yang di tindik, tubuh besar dan berotot yang dipenuhi tato. Rambut pirang milik mereka juga tidak terlihat alami dan bekas di cat rambut.


Mereka adalah sebuah geng jalanan yang mengklaim tempat ini setelah pertarungan antara Astaroth dengan Black Rain terjadi. Orang yang berbicara sebelumnya pun kemudian berbicara kepada mereka bertiga tanpa perasaan takut.


"Cepat pergi dari sini, sialan! Apa kau tidak tahu kalau ini adalah kawasan Geng Arapaima?!"

__ADS_1


"...."


"Apa lagi yang kau lihat?! Apa kau tidak kenal siapa aku?!"


Mereka bertiga tidak merasa terintimidasi sama sekali dan justru malah menganggap mereka hanyalah sekumpulan orang-orang bodoh. Tapi bagi Astaroth, mereka adalah sebuah harta karena ia baru menyadari sesuatu.


"Seana ... kau bilang kau butuh tubuh utuh untuk melakukan prosesnya, kan?"


"Ah iya, prosesnya tidak akan berjalan sempurna tanpa tubuh yang dalam kondisi baik."


"Kebetulan sekali kalau begitu."


"Paman?"


Astaroth dengan santainya berjalan ke kumpulan geng tadi dan berhenti ketika sudah dekat sekali dengan pemimpinnya.


"Kau boleh menyerangku sekali, setelah itu aku akan menghabisi kalian semua," ucap Astaroth.


"Mau jadi pahlawan di depan temanmu, hah?"


"Entahlah. Ayo, aku menunggu serangan terbaikmu."


Astaroth menunjuk ke arah pipinya sendiri dan menandakan kalau ia siap untuk diserang tanpa melakukan perlawanan untuk awal-awal. Bos geng tersebut pun tidak bisa menahan amarahnya karena diremehkan oleh Astaroth.


"Mati kau, brengsek!"


Buughh...


Pemimpin geng itu mencoba memukul Astaroth dengan sekuat tenaga, tapi Astaroth sama sekali tidak bergeming dan kepalanya tidak bergerak menerima pukulan darinya.


Ia melihat ke arah tinju yang masih menempel di pipinya dan tersenyum tipis. Sementara pemimpin geng dan anak buahnya terkejut dengan ketahanan dari Astaroth.


"Ti-tidak mungkin!"


"Pukulan bos ... tidak membuatnya bergerak."


"Kuat sekali!"


"Heh! Sudah selesai kagumnya?"


Astaroth mengejek mereka semua dengan senyuman menyebalkan yang membuat pemimpin geng itu tambah marah. Tapi kali ini sudah selesai kesempatan baginya menyerang, sekarang giliran Astaroth untuk membantai mereka semua.


"Begini caranya ...."


Braakkhh... Crasshh...


"... Memukul dengan benar!"


Meskipun dalam keadaan terlemahnya, tapi Astaroth masih mampu mengungguli orang biasa dari segi kekuatan. Buktinya saat ini ia memukul pemimpin geng tadi tepat di wajah sampai menembus ke belakang kepalanya.


Pemimpin geng itu pun mati seketika dan anggota geng yang lainnya terkejut serta ketakutan setengah mati. Mereka berusaha untuk kabur dari tempat ini tapi sayang usaha mereka sia-sia.


"B-bos ...."


"Cepat kabur dari sini!"


"Aku tidak mau mati!"


Zwuushh...


Astaroth dengan cepat melesat mendahului mereka dan menghalangi jalan keluarnya. Astaroth tidak akan membiarkan satu pun dari mereka kabur dari sini hidup-hidup, tapi ia sempat melihat tinjunya yang penuh dengan darah.


"Hmm ... mungkin aku harus lebih lembut," gumam Astaroth.


"Mi-minggir, sialan!" Mereka mencoba untuk menyuruh Astaroth pergi dari jalannya.


"Hn? Hehehe ... tenang saja, kalian tidak akan berakhir seperti tadi."


Zwuushh... Craashh... Craashh...


Dengan cepat dan rapi, Astaroth mulai menghilangkan nyawa mereka satu persatu. Teriakan dari orang-orang itu mendominasi suara di malam ini yang berlangsung selama beberapa menit.


Dan setelah orang terakhir dihabisi oleh Astaroth, ia pun menyeret dan membawa semua mayat tadi ke dekat Seana dan Dillon.


"Apa kau bisa melakukannya, Seana?"


"Aku? Maksud paman?"


"Kau bilang kau butuh tubuh untuk membangkitkan seseorang, kan? Aku sudah membawakan banyak untukmu, jadi kau tinggal memilihnya saja."


"Maksud paman, untuk membangkitkan orang yang paman inginkan, aku menggunakan tubuh orang-orang ini?"


"Iya, apa kau tidak bisa melakukannya?"


"Aku ... belum pernah mencobanya."


Seana melihat kearah Dillon dan mencoba mencari jawaban dari melihat wajah Dillon, tapi Dillon hanya tersenyum dan menunduk memberi hormat seperti biasa.


"Kau boleh melakukan sesuatu sesuai keinginan anda, Seana-sama," ucap Dillon.


Mendengar jawaban itu membuat Seana sedikit lega dan tersenyum. Ia pun menarik nafas dan meyakinkan dirinya sendiri kali ini.


"Aku akan melakukannya," ucap Seana mantap.


Astaroth pun mengangguk puas dan Dillon juga sepenuhnya percaya kepada keputusan Seana, dia akan selalu menemani Seana kemanapun dia pergi dan menuruti semua keinginannya apabila itu baik bagi dirinya.


Seana kemudian berjalan dan memperhatikan mayat-mayat itu. Ia mencari dengan kondisi yang paling baik dan luka yang paling sedikit, tapi kebanyakan kondisinya memang sudah parah semua akibat kekuatan Astaroth.


Terutama sang pemimpin geng itu yang bagian wajahnya sudah tidak bisa dikenali karena sudah berlubang sampai ke bagian belakang.


"Hah ... Paman sama sekali tidak bisa menahan diri, ya?"


"Maaf, itu pertama kalinya aku bertarung setelah bangkit dari kematian. Aku masih harus menyesuaikan diri lagi."


Seana kemudian memilih salah satu mayat yang memiliki luka dengan goresan besar di leher serta beberapa luka mayor lainnya di bagian tubuh lain. Kondisinya lebih mendingan daripada yang lainnya.


"Aku akan memulai prosesnya."


Flaap...


Sayap kembali keluar dari kedua punggung Seana dan proses akan segera kembali dimulai. Ia menaruh jas ungu tadi di atas mayat dan sedikit mencampurkan darahnya serta darah kering di jas itu ke dalam mayat lewat lukanya.


Syiing....

__ADS_1


Cahaya menyilaukan muncul dari sekitar tubuh Seana dan prosesnya kali ini sedang berjalan. Sementara Astaroth dan Dillon memperhatikan dari jarak yang cukup jauh.


"Ini pertama kalinya aku melihat prosesnya berjalan, benar-benar indah," ucap Astaroth.


"Aku sudah pernah melihatnya beberapa kali, tapi aku masih merasa kagum saat melihatnya."


"Ahaakh ...! Ohookh ... hokh!"


"?!!"


Tiba-tiba Seana batuk dengan keras dan sinar serta sayap yang ada di punggungnya juga ikut menghilang. Dillon tanpa basa basi langsung menghampirinya dan memeriksa keadaannya.


"Seana-sama! Apa yang terjadi?!"


"A-aku tidak apa-apa, Dillon."


Mata Dillon melebar ketika melihat Seana mengeluarkan darah pada batuknya dan dari hidungnya juga mengalir sedikit darah.


"Apa yang anda maksud tidak apa-apa?!"


"Aku benar-benar tidak apa-apa, prosesnya gagal karena tubuh yang aku pakai tidak tepat dan ini adalah efek sampingnya."


"Ta-tapi—"


"Te-tenang saja, kau bisa membantuku dengan memilihkanku mayat yang lebih baik. Ini adalah saat dimana aku bisa berkembang, jadi aku tidak akan menyia-nyiakannya."


Dillon terdiam melihat keteguhan hati Seana. Ia jadi tidak bisa protes lebih banyak lagi dan hanya bisa menuruti permintaannya saja.


Ia kemudian memilihkan satu mayat lainnya dan membiarkan Seana melakukan prosesnya lagi. Sementara Dillon kembali menjaga jarak darinya.


Sebenarnya Dillon masih sangat khawatir yang terlihat jelas dari wajahnya, tapi kegigihan dari Seana yang membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa.


"Kau pasti selalu kerepotan, ya? Mengurus anak bodoh sepertinya," ucap Astaroth.


"Tapi aku percaya ...."


"Hn?"


"... Suatu saat nanti kebodohannya akan menjadi hasil yang baik bagi dirinya."


Syiiing...


Prosesnya kembali dimulai. Kali ini mencoba meningkatkan fokusnya lebih tinggi lagi. Ia telah melakukan semua langkahnya dengan benar dan tinggal kecakapan dirinya saja yang menentukannya.


Beberapa menit telah berlalu dan kali ini prosesnya berjalan lebih lama dari pada saat pembangkitan Astaroth yang mulai membuat Dillon khawatir.


"Apa dia berhasil?"


Craashh...


"Ohookh ...!!! Ahaakh ... ahaakh ... Haakh!"


Sinar dan sayap pada tubuh Seana kembali menghilang. Ternyata meskipun memakan waktu yang lebih lama, prosesnya masih belum juga bisa berhasil.


Dan darah yang keluar dari tubuh Seana kali ini jadi lebih banyak lagi. Sekarang bukan hanya dari hidung dan mulutnya saja, tapi mata serta telinganya juga ikut mengeluarkan darah.


"Se—!"


Saat Dillon menghampirinya, ia langsung dihentikan oleh Seana dengan gimmick tangan 'stop'. Dengan nafas yang terengah-engah serta wajah yang pucat, ia berbicara kepada Dillon.


"Tinggal sedikit lagi ... aku hampir bisa melakukannya ...."


"Tapi ...!"


"Dillon! Aku hampir bisa melakukannya! Apa kau tidak dengar itu?! Sekarang bawakan aku satu mayat lagi untuk prosesnya karena aku yakin yang satu ini akan berhasil! Aku janji padamu!"


Dillon sebenarnya sedikit ragu untuk mematuhi perintah Seana yang satu ini, karena Seana sudah kehilangan banyak darah dan tubuhnya juga sudah mulai melemas.


Tapi jika ia tidak melakukannya, maka ia yakin Seana akan membencinya selamanya dan Dillon juga tahu kalau ini adalah saat yang tepat bagi Seana untuk berkembang.


Jadi Dillon pun memilih untuk menuruti perintah dari Seana dan membawakan satu mayat lagi. Tapi ia berjanji pada dirinya sendiri di dalam hati kalau ini adalah yang terakhir. Jika proses yang ini gagal, tanpa menunggu perintah dari Seana ia akan langsung menghentikan prosesnya.


Syiiing...


Seana melakukan prosesnya sekali lagi setelah tadi dua kali gagal. Dengan tubuh yang sudah melemah dan proses yang memakan banyak sekali tenaga, Seana masih tidak menyerah untuk membangkitkan orang ini dari kematian.


Cahaya kembali bersinar dari sayap dan tubuh Seana selama beberapa menit prosesnya berlangsung. Dillon yang khawatir dan Astaroth yang penasaran dengan hasilnya menunggu dengan sabar.


Dan setelah beberapa saat prosesnya berlangsung, mata dari mayat itu mulai mengedip dan menunjukkan pergerakan yang membuat Seana semakin bersemangat dan fokus.


"Ayo!"


Syuut...


Cahaya dan sayap itu kemudian menghilang dan Seana terdiam sebentar tidak bergerak sebelum akhirnya menengok ke arah Dillon dan Astaroth. Ia menunjukkan senyum lemah sebelum akhirnya kehilangan kesadarannya.


Tapi dengan cepat Dillon menangkap Seana sebelum kepalanya jatuh ke tanah dan memperhatikan keadaannya. Ia hanya pingsan karena kelelahan dan tidak ada sesuatu yang mengancam nyawanya, meskipun Seana juga kekurangan banyak darah.


Sementara mayat yang berada di depan Dillon dan Seana perlahan membuka matanya dan duduk dalam keadaan bingung.


"Anak itu benar-benar berhasil," gumam Astaroth.


Astaroth kemudian berjalan orang yang sudah berhasil bangkit itu. Dengan wajah dan tubuh yang berbeda, Astaroth menanyakan pertanyaan kepadanya.


"Apa kau ingat denganku?"


"Kau ... Astaroth? Kau masih hidup? Lalu aku juga?"


"Benar. Selamat datang kembali di dunia ini, Murasaki Oita."


Setelah berhasil membangkitkan Murasaki Oita, Astaroth berencana untuk melakukan serangan balasan kepada anggota Kuni no Hashira yang telah membuat rencananya gagal total. Apalagi kali ini ia memiliki orang dengan kekuatan yang hebat.


"Apa yang anda akan anda lakukan setelah ini, Griffin-sama?" tanya Dillon.


"Griffin? Nama aneh macam apa itu?" tanya Oita.


"Itu nama asliku, Astaroth hanya nama samaran yang aku pakai ketika aku di Jepang."


"Kau memang punya selera nama yang buruk."


"Setelah ini aku akan menemui kelompok lamaku terlebih dahulu, kau dan Seana boleh ikut denganku karena itu lebih aman bagi kalian."


"Aku mengerti."

__ADS_1


Astaroth berencana untuk menemui para Assassin lainnya yang keberadaannya berada di luar kota Kyoto. Ia akan menyusun ulang rencana penyerangan agar lebih terstruktur dan ia yakin tidak akan gagal lagi.


Bersambung


__ADS_2