
"Selamat malam, …."
Gerakan bibir terakhirnya dapat terbaca oleh gadis kecil itu, menyebutkan nama aslinya yang sudah tidak pernah ia pakai lagi. Ia kemudian melihat wanita dewasa itu menyelimutinya lembut dan dengan penuh kasih sayang lalu terakhir memberikan ciuman selamat malam di dahinya.
Setelah itu, wanita dewasa itu pergi dari kamarnya dan menutup pintunya. Sayangnya gadis kecil tadi matanya masih segar dan belum mengantuk sama sekali, jadi ia hanya menatap kosong langit-langit kamarnya yang kotor.
Setelah beberapa saat melamun, rasa kantuk akhirnya menyerangnya juga dan matanya sudah tidak sanggup lagi untuk terbuka. Jadi ia pun menutup matanya.
Braaakhh…
Saat gadis kecil tadi sudah ingin tidur, tiba-tiba dari luar kamarnya terdengar suara ribut seperti bantingan dan lemparan banyak benda. Mata gadis kecil itu langsung terbuka lagi dan kini rasa kantuknya tergantikan dengan rasa takut.
Terdengar sayup-sayup suara wanita dewasa dan pria dewasa beradu argumen dari luar kamar gadis kecil itu. Sementara gadis kecil itu hanya bisa menarik selimutnya sampai ke atas hidungnya mencoba bersembunyi dalam ketakutan.
Braakkhh… Braakkhh…
Suaranya semakin keras mendekati kamar gadis kecil itu dan membuatnya semakin ketakutan. Dan akhirnya puncak ketakutannya terjadi ketika pintu kamarnya terdobrak dan wanita dewasa tadi terdorong sampai jatuh ke pinggir tempat tidur gadis kecil itu.
Gadis kecil itu dengan cepat merubah posisinya dari tiduran menjadi duduk sambil tetap bersembunyi dalam selimutnya. Ia melihat wajah wanita dewasa tadi yang berderai air mata dan ada bekas lebam pada wajahnya.
Gadis kecil itu mencoba mengeluarkan suaranya tapi tidak bisa karena terlalu takut. Ia ingin menolong wanita dewasa itu tapi tubuh kecilnya hanya bisa gemetaran saat ini.
Lalu seorang pria dewasa datang sambil membawa sebuah botol bir murah yang sudah kosong. Tapi cara pria dewasa itu memegang leher botol birnya itu berbeda, ia memegangnya seperti ingin memukulkannya pada seseorang.
Dan tebakan gadis kecil itu benar, pria dewasa itu sudah mengambil aba-aba untuk memukul wanita dewasa tadi. Dengan seluruh keberanian yang ia miliki saat itu dan tenaganya yang sedikit, ia melompat menuju wanita dewasa itu sambil berteriak.
"Ayah, jangan!"
**
Caramel membuka matanya. Dan yang pertama ia lihat saat ini adalah langit-langit rumah Iraya, jauh lebih bagus dari langit-langit rumahnya dulu. Ia menyalakan lampu tidur di meja kecil samping tempat tidurnya dan duduk untuk mengumpulkan nyawa.
Caramel kemudian melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 5 pagi dan matahari juga belum terbit. Ia bangun dari tempat tidurnya dan melakukan sedikit peregangan sebelum berjalan keluar kamar.
Suasana diluar kamar juga masih sepi dan gelap. Orang yang tinggal di sini sepertinya masih tidur dan Caramel kali ini lebih bebas untuk mengelilingi rumah.
"Keliling sedikit mungkin tidak apa."
Semuanya terlihat normal dan nampak seperti rumah pada umumnya, meskipun rumah ini jauh lebih bagus dari rumahnya terdahulu. Caramel pun kemudian turun ke bawah dan ingin berkeliling di bawah. Tapi dia mendengar sesuatu di dapur.
"Hmm?"
"Kali ini aku mau coba buat yang lain, ah!"
Seorang anak kecil berbicara sendiri sambil sibuk mengeluarkan bahan-bahan makanan yang akan ia siapkan untuk dijadikan sarapan nanti, dia adalah Tetsu. Tetsu membuka buku resep lagi dan mencari resep makanan yang akan ia buat saat ini.
"Ini dia!"
"Ano …."
"Kyaaa! Siapa itu?!"
Tetsu terkejut karena ada seseorang yang memanggilnya. Ia berteriak dan langsung menengok ke belakang sambil reflek menodongkan pisau ke orang yang mengagetkannya. Sementara Caramel hanya mengangkat tangannya bukti kalau ia tidak bersalah.
"I-Ini aku, loh."
"Ohh … kau sudah bangun, jangan mengejutkanku seperti itu."
"Ma-Maaf."
"Oh iya, siapa namamu tadi?"
"Namaku Caramel. Ngomong-ngomong, apa yang sedang kau lakukan?"
"Aku sedang membuat sarapan … dan kau bisa memanggilku Tetsu."
"Tetsu, ya?"
Tetsu mengangguk dan kembali sibuk untuk mempersiapkan sarapan lagi. Melihat Tetsu yang sedang tidak bisa diganggu, Caramel tiba-tiba memiliki sebuah ide di dalam kepalanya yang membuatnya menyeringai. Ia kemudian menghampiri Tetsu sambil mengambil pisau di atas meja.
"Hey, Tetsu."
"Ada ap—? Oi?! Apa yang mau kau lakukan dengan pisau itu?! Oi!"
**
Kriiing… Kriiing…
Sementara itu di kamar Iraya, ia terbangun saat jam alarmnya berbunyi pada pukul 6 pagi. Seperti pada pagi-pagi lainnya, ia tidak melakukan apa-apa karena ia masih libur sekolah juga, lebih tepatnya dia, Herlin, Kudou, dan Hira yang libur karena insiden di kelasnya.
"Kau sudah bangun?"
"Hmm? Ya begitulah … hoaamm … aku rasa aku ingin tidur lagi."
"Bangun, dasar pemalas! Jangan pikir karena kau tidak sekolah kau bisa tidur sampai siang."
"Hahaha … ucapanmu tadi mengingatkanku pada ucapan ibuku. Baiklah, baiklah, aku bangun."
Karena dipaksa Cecilia akhirnya aku bangun dari tempat tidurku meskipun masih dalam keadaan setengah sadar. Aku berjalan menuruni tangga dan menemukan kalau semua ruangan di bawah sudah bersih dan mengkilap, itu menandakan kalau Tetsu sudah bangun.
Tapi ada yang membuatku terkejut saat melihat ke arah dapur. Dari arah pintu dapur aku bisa melihat pisau dan cairan merah berceceran di lantai dapur, aku yang tadinya masih setengah sadar langsung bangun dan berlari ke arah dapur.
Aku khawatir dengan Tetsu yang biasanya ada di dapur pada jam segini. Apa ada pencuri yang masuk ke rumahku? Harusnya Tetsu bisa langsung membangunkanku.
"Tetsu! Apa kau baik-baik saja?! Eh?"
"Oh, Iraya! Kau sudah bangun!"
"Yahou."
"Caramel? Tetsu?"
Memang ada Tetsu di dapur, tapi tidak ada pencuri dan hanya ada Caramel di sana. Aku melihat ke arah cairan merah tadi lagi dan ternyata itu hanyalah saus tomat dan sebuah pisau di lantai saja.
"Ya ampun, aku kira ada apa."
"Iraya, Iraya! Tadi aku membuat omurice bersama Caramel! Coba kau lihat!"
Aku pun melihat dua buah omurice yang sudah jadi di atas meja. Dua-duanya sama-sama berantakan dan tidak rapi sama sekali, lalu ada tulisan namaku dan nama Caramel di atasnya. Jadi mereka membuat ini sampai dapur berantakan.
__ADS_1
Aku juga melihat baju mereka yang kotor dengan noda saus dan minyak, meskipun Tetsu lebih beruntung karena ia memakai celemek. Aku hanya bisa menghela nafas, wajah mereka berdua menunjukkan keceriaan layaknya adik kakak.
"Karena kalian sudah susah-susah membuatnya, ayo kita makan."
"Ayo!"
Kami pun makan bersama—lebih tepatnya aku dan Caramel, sih. Aku mencoba suapan pertama dan ternyata rasanya tidak seburuk penampilannya, malah bisa dibilang rasanya enak. Ternyata mereka berdua memang memiliki bakat untuk memasak, ya.
Tanpa aku sadari, Caramel dan Tetsu dengan senyum senang melihatku yang sedang sibuk menyantap masakan mereka. Mereka terlihat senang dengan hasilnya. Dan Caramel pun juga ikut memakannya.
"Kau juga makan, dong," ucap Tetsu.
"Kau benar. Selamat makan."
Caramel memakan suapan pertamanya, setelah beberapa saat mengunyah ia kemudian melihat ke arah Tetsu dan mengangguk tanda kalau masakan mereka berdua memang enak.
"Ehehehe … aku memang hebat sih jadi wajar makananku enak. Tapi aku berterima kasih dengan bantuanmu juga, Caramel."
Caramel hanya tersenyum dengan mulut penuh yang sedang mengunyah. Ia sudah lama tidak merasakan rasanya makan bersama seperti ini, saat bersama bos semuanya terasa dingin dan tidak ada saat-saat menyenangkan seperti ini.
Tapi sekarang berbeda. Caramel bisa merasakan rasa hangat dari interaksi makan bersama saat ini. Seakan ia tidak menyesal sama sekali karena telah memilih untuk melepaskan Iraya saat itu. Tapi karena rasa hangat ini ia juga tidak sengaja mengingat tentang masa lalunya, masa lalu bersama orang tuanya.
Sesi makan pun selesai dengan cepat dan bahagia. Tetsu yang tidak bisa menahan rasa laparnya akhirnya mengambil pensil di meja belajarku dan ikut makan bersama kami. Aku kemudian bangun dan ingin mencuci piring kami.
"Baiklah, aku cuci piring dulu."
"Mau kubantu?" tanya Caramel.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri."
"Sudahlah, biarkan aku membantumu."
Caramel merebut piring yang ada di genggamanku dan membawanya ke dapur. Aku kadang tidak mengerti dengan pola pikirnya, jadi aku biarkan saja dia melakukannya. Dan kami akhirnya mencuci piring bersama.
Saat mencuci piring, Caramel tiba-tiba mengajakku bicara.
"Nee, Iraya."
"Apa lagi?"
"Aku 'kan sudah membantumu mencuci piring, jadi aku boleh meminta balas budi darimu, kan?"
"Aku tahu kau pasti merencanakan sesuatu."
Caramel hanya tersenyum mengetahui rasa curigaku. Tapi lagi-lagi aku melihat ratapan kesedihan yang ia pancarkan dari matanya, yang membuatku mau tidak mau harus menurutinya.
"Hah … baiklah, kau mau minta apa?"
"Nanti temani aku ke suatu tempat, ya."
"Mau kemana?"
"Nanti kau juga tahu. Banyak tanya, ah."
Dan begitulah akhirnya kami berdua pergi menuju ke tempat yang Caramel ingin tuju. Awalnya aku kira ia ingin pergi menemui salah satu teman Assassin nya atau ke tempat mewah lain, tapi ternyata dugaanku salah. Saat ini kami malah sedang berada di depan sebuah kos-kosan yang terlihat kotor dan tidak terurus.
"Kalau mereka masih ada di sini, seharusnya ini tempat yang tepat, sih. Oh iya Iraya, apa kau bisa berjanji satu hal?"
"Janji apa?"
"Bisa janji tidak?"
"Baiklah, baiklah, aku janji! Memangnya apa yang mau kau lakukan, sih?"
"Ehehehe … saat kita menemui orang yang di dalam, cukup lihat saja dan jangan lakukan apapun, ya?"
Karena sudah berjanji, mau tidak mau aku harus menuruti permintaannya. Dan Caramel mengetuk pintu kos-kosan itu, bunyinya yang keras menandakan kalau pintunya tipis dan gampang rusak. Lalu setelah menunggu beberapa saat, seseorang keluar dari dalam rumah.
"Iya, siapa ya?"
Yang membukakan pintu adalah seorang wanita dewasa berambut putih yang sudah memiliki sedikit kerutan di wajahnya. Wanita itu tampak bingung dengan kehadiranku dan Caramel, tapi Caramel menyapanya dan membuatnya menyadari siapa orang di depannya saat ini.
"Halo, Mama. Apa Mama sehat-sehat saja?"
Wanita itu terkejut dengan ucapan yang dikeluarkan Herlin. Ia menutup mulutnya dengan tangannya bersamaan dengan kedua matanya yang mulai berlinang air mata. Wanita itu langsung memeluk Caramel dan mengeluarkan tangis bahagia.
"Kemana saja kau selama ini? Kau sudah besar sekarang."
Dari dalam rumah juga terlihat seorang pria dewasa yang sama terkejutnya dan langsung ikut memeluk Caramel juga. Reuni yang telah lama dinanti-nantikan oleh Caramel dan ia kembali bisa merasakan pelukan kedua orang tuanya setelah sekian lama.
"Dari mana saja kau? Ayah sangat merindukanmu."
"Maafkan aku, Ayah. Aku pergi tanpa izin waktu itu."
"Tidak apa-apa, asal kau sudah kembali kami berdua pasti akan memaafkanmu."
Mereka berdua kemudian melepaskan pelukannya dan mulai memandangi Caramel lagi. Aku yang menjadi saksi reuni mereka hanya bisa tersenyum dan menunggu, seharusnya aku tidak perlu ikut tadi.
"Selamat datang, …."
Orang tua Caramel menyebutkan nama asli Caramel yang baru saja aku ketahui saat ini. Nama yang sangat biasa tapi juga indah, benar-benar menggambarkan sosok Caramel. Tapi Caramel tidak tersenyum setelah ia dipanggil dengan nama aslinya.
"Ayah, Mama, ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan kalian."
"Apa itu, sayang? Kita bisa bicarakan hal itu di dalam."
"Tidak, itu tidak perlu."
"Memangnya ada apa?"
"Aku masih memiliki hal yang harus diurus."
"Apa itu lebih penting dari kami?"
Mata Caramel melebar saat ditanya seperti itu. Tentu saja tidak ada yang lebih penting dari kedua orang tuanya bagi Caramel. Tapi ia tidak bisa mengungkapkannya secara langsung.
"Iya, begitulah," ucap Caramel.
Air mata Caramel mulai berlinang dan ia mulai menghapusnya sesekali. Ia kemudian berbicara meskipun dengan nada yang sesenggukan.
__ADS_1
"Maafkan aku … aku hanya ingin melihat kalian bahagia …, hanya ingin kita seperti keluarga yang lainnya."
"Kalau begitu mari kita memulainya lagi."
"Benar juga, ayo kita jadi keluarga yang normal mulai sekarang."
Kedua orang tua Caramel mengulurkan tangan mereka dan menerima apapun keadaan Caramel. Lagipula dia itu adalah anak perempuannya, jadi keduanya akan selalu menyambutnya saat pulang.
"Terima kasih … terima kasih banyak, Mama, Ayah. Bahkan setelah aku pergi, kalian masih menerimaku kembali."
"Apa yang kau bicarakan? Kau ini masih anak kami berdua, tentu saja kami akan menerimamu."
"Ayahmu benar."
"Benar … benar juga. Mama, Ayah … terima kasih untuk segalanya. Dan maafkan aku."
Craaasshh… Craaassh…
Dua buah aura transparan menembus perut orang tua Caramel dari arah punggung mereka. Tidak ada yang menyangka hal itu, bahkan aku sendiri ingin langsung menyelamatkan mereka tapi tiba-tiba Cecilia berbicara.
"Apa yang kau—!"
"Hentikan, Iraya! Kau sudah berjanji untuk tidak melakukan apa-apa, kan?"
"Tapi tetap saja …!"
"Aku tahu, aku juga sama terkejutnya. Tapi aku yakin dia pasti punya alasan."
Kedua orang tua Caramel yang sedang sekarat dan mencoba untuk melepas aura transparan itu dari perut mereka tidak bisa berbuat terlalu banyak, dan pada akhirnya mereka berdua menghembuskan nafas terakhir karena kehabisan darah saat Caramel balik memeluk keduanya.
"Aku benar-benar … minta maaf …."
Syiiing…
Suaranya bergetar seperti menahan tangisan. Lalu Caramel membuat sebuah kubus yang ia gunakan untuk menaruh kedua orang tuanya dan memadatkannya menjadi seukuran bola kelereng dan ada juga tali yang menempel pada kubus itu dan Caramel pun memakai itu sebagai kalung di lehernya.
Setelah melakukan semua itu, Caramel kemudian berbalik dan berbicara kepadaku. Meskipun matanya masih sembab tapi air matanya sudah mengering.
"Urusanku di sini sudah selesai."
"Apa yang kau lakukan?! Mereka itu orang tuamu, kan?! Kenapa kau membunuh mereka?!"
"Apa kau tidak lihat tubuh ibuku tadi? Penuh luka memar dan lebam. Sejak dulu sebelum aku meninggalkan rumah, mereka memang tidak pernah akur. Aku tidak tega melihat mereka berdua terus seperti itu, itu membuatku sedih."
"Tapi apa harus dengan cara itu?!"
"Sekarang mereka abadi di dalam kubus ini, mereka akan terus bersamaku sampai aku mati. Aku tidak bisa menyuruh ayahku untuk berhenti memukuli ibuku, ia adalah seorang pemabuk. Semua yang kau lihat saat ini mungkin saja bisa berubah pada malam nanti, aku hanya tidak bisa melihat mereka bertengkar lagi, jadi aku melakukan hal egois ini."
"…."
"Oh iya, aku sangat berterima kasih padamu karena tidak ikut campur dalam urusan ini. Aku sangat menghargai hal itu."
"Aku tidak bisa melakukan apa-apa, lagipula … aku sudah berjanji."
Caramel tersenyum saat mendengar hal itu. Ia kemudian mengomentari pakaiannya yang kotor dengan bekas masakan dan darah orang tuanya.
"Mumpung kita lagi di luar, bagaimana kalau kita belanja ke mall? Aku perlu baju baru untuk tinggal di rumahmu."
"Tapi uangku sisa sedikit."
"Tenang saja, aku masih punya banyak. Ayo kita jalan!"
Caramel menunjukkan kartu kredit miliknya kepadaku. Dan mau tidak mau aku mengikutinya di belakang saat ia sudah berjalan duluan dengan cepat. Tapi saat sudah berjalan cukup jauh, Caramel tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Nee, Iraya. Tiba-tiba aku kepikiran sesuatu."
"Ada apa lagi?"
"Apa kau mau jadi pacarku?"
"Ap—?! Apa yang kau bicarakan tiba-tiba?!"
Seketika wajahku memerah dan jantungku berdetak kencang mendengar pernyataan tiba-tiba dari Caramel. Aku tidak menyangka dia akan mengatakan hal itu disaat seperti ini.
"Kau tahu sendiri, aku sudah menjadi yatim piatu dan mulai sekarang aku akan tinggal di rumahmu. Bukankah skenario itu terlalu bagus untuk hanya jadi seorang teman?"
"Ta-ta-tapi tetap saja ini terlalu tiba-tiba! A-Apa kau serius? Kau tidak sedang merencanakan sesuatu, kan?"
"Tidak ada, ini murni perasaanku. Kau ingin menunjukkan apa itu 'keluarga' kepadaku, kan? Kenapa tidak kita coba dari situ."
Dia mengatakan hal itu dengan sangat enteng dan tanpa beban. Wajahnya bahkan tidak memerah saat mengucapkan hal memalukan seperti tadi. Meski ini adalah kesempatan seumur hidupku dan mungkin tidak akan terulang lagi, tapi entah kenapa sejak awal aku sudah tahu jawabannya.
"Maaf, aku tidak bisa menerimanya. Tapi aku tetap akan bertanggungjawab pada janjiku dan akan membuatmu mengerti apa itu 'keluarga'!"
"Sudah kuduga."
"Eh? Jadi kau sudah tahu jawabannya dari awal?"
"Ya begitulah, kurang lebih aku sudah bisa menebaknya. Dan aku sudah siap dengan hal itu."
"Tapi kenapa kau masih …."
Caramel tersenyum dan berbalik badan. Ia kemudian melanjutkan langkahnya dan meninggalkanku lagi. Aku benar-benar tidak tahu apa yang ada di pikirannya.
"Apa lagi yang kau tunggu? Ayo kita ke mall!" ajak Caramel.
"Hah …. Tunggu aku, oi!"
"Oh iya, satu hal lagi."
Caramel tiba-tiba melempar sesuatu yang dapat kutangkap dengan sempurna. Aku kemudian memperhatikannya dan menyadari kalau ini adalah gantungan kunci berbentuk panda yang ingin kuberikan untuk Herlin dulu.
"Ke-Kenapa ini bisa ada bersamamu?"
"Waktu itu aku mengambilnya tanpa kau sadari. Sudahlah ayo cepat jalan."
Aku menaruh gantungan kunci tadi di kantong celana lalu menyusul Caramel dan perjalanan kami hari ini pun berlanjut.
Bersambung
__ADS_1