Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 22 : Menyusun Rencana Balas Dendam


__ADS_3

Setelah kejadian diluar dugaanku terjadi di sekolah beberapa hari yang lalu, yaitu kepindahan Herlin ke sekolah ini. Aku masih belum mendapat petunjuk darinya tentang apa yang akan dia lakukan untuk membantuku. Ia masih bertingkah seperti anak SMA lainnya.


Saat ini pelajaran sedang berlangsung dan tidak ada hal-hal luar biasa yang dilakukan oleh Herlin, apa dia lupa dengan tujuan awalnya kesini? Atau dia masuk ke sekolah ini hanya untuk kesenangan saja. Kalau benar seperti itu, bikin kesal juga sih. Sebaiknya aku coba kirim pesan dulu.


Aku pun mencoba memberi pesan kepada Herlin. Aku pun mengeluarkan ponselku dari kolong mejaku dengan hati-hati agar guru yang sedang mengajar tidak tahu kalau aku sedang memainkan HP. Bisa gawat kalau aku ketahuan.


Aku memberi pesan kepada Herlin lewat LINE yang isi pesannya adalah untuk bertemu di atap sekolah nanti saat jam istirahat. Aku membaca ulang pesan tersebut sebelum dikirim dan akhirnya aku mengirimnya. Tiba-tiba suasana kelas yang sedang hening dikagetkan dengan satu suara.


LINE~


Sebuah suara notifikasi pesan masuk berbunyi dari smartphone Herlin. Anak kelas yang lain pun sontak ikut menengok kearah Herlin. Guru yang sedang mengajar pun menghampiri sumber suara tadi yaitu Herlin.


Sementara aku dengan cepat langsung menaruh Smartphone ku kembali ke kolong meja tanpa rasa bersalah. Ini bukan salahku yang mengirim pesan kepadanya, tapi salahnya karena lupa menonaktifkan suara notifikasinya. Aku berpikir seperti itu untuk membuatku tidak mempunyai rasa bersalah atas kejadian ini.


"Tidak, itu tetap salahmu," ucap Cecilia.


"Berisik," ucapku cepat sambil berbisik.


Setelah sampai di tempat duduk Herlin, guru tadi pun kemudian berbicara kepadanya.


"Ririsaka-san, apa kamu lupa kalau seorang murid tidak boleh memainkan smartphone saat pelajaran?"


"Maafkan aku, pak."


"Hah … karena kau murid baru disini aku akan memaafkan mu untuk yang satu ini, biasanya aku akan langsung menyitanya. Nonaktifkan notifikasi smartphone mu saat pelajaran, ya?"


"Baik pak."


"Kalau begitu, kita lanjut ke pelajarannya …."


Anak itu selamat. Entah kenapa aku yang merasa lega dengan keselamatan Herlin tadi. Aku sedikit mengelus dada dan bernafas lega ketika smartphone miliknya tidak jadi disita. Aku melihat kearah tempat duduk Herlin yang sedang menunduk memeriksa HP-nya dan tiba-tiba dia melirik tajam kearah ku. Dia menggerakkan mulutnya seakan menyuruhku untuk membaca pergerakan mulutnya.


"Bo-doh …."


**


Bel istirahat telah berbunyi dan suasana kelas langsung menjadi ramai. Tempat duduk Herlin lagi-lagi dipenuhi oleh para anak perempuan. Mereka kemudian menanyakan sesuatu kepadanya. Sebelum menuju ke atap, aku sempat menguping sebentar pembicaraan mereka di depan pintu kelas.


"Nee … Ririsaka-san, apa tadi kau lupa untuk menonaktifkan notifikasi mu tadi?"


"Iya, aku lupa."


"Kau beruntung sekali karena smartphone mu tidak disita. Biasanya guru-guru langsung menyitanya ketika ketahuan bermain hp di dalam kelas."


"Benar, aku sangat beruntung."


"Lalu, lalu, siapa yang memberi pesan padamu tadi? Apa jangan-jangan pacarmu?"


"Eh?! Apa itu benar, Ririsaka-san?!"


"Bukan."


"Lalu siapa? Apakah dia perempuan atau laki-laki?"


"Dia kenalanku. Dan juga dia laki-laki."


"Serius?! Wah …! Bagaimana orangnya? Apakah dia tampan?"


"Tidak juga, bisa dibilang dia itu … bodoh, tidak bisa diandalkan, dan masih banyak sifat buruknya lagi."


Jleb… Jleb… Jleb…


Lagi-lagi aku tertusuk panah imajiner gara-gara ucapan tajamnya. Sepertinya sebuah kesalahan karena menguping pembicaraannya, lagipula kenapa aku sangat penasaran? Bukankah ini hanya obrolan anak perempuan biasa.


Aku pun langsung menuju ke atap sambil membawa dua onigiri dan satu teh oolong. Herlin sekilas melihat kepergian keluar kelas dan tiba-tiba dia berdiri dari tempat duduknya.


"Eh, Ririsaka-san? Kau mau pergi kemana?"


"Aku ada urusan sebentar, permisi dulu."


Ia pun pergi keluar kelas sambil membawa bento miliknya. Sementara aku sudah berjalan menuju ke atap dan saat sudah sampai, ternyata sudah ada dua orang yang mendahuluiku menuju ke atap, mereka adalah Kudou dan Hira.


"Cepat sekali kalian berdua disini."


"Ya begitulah."

__ADS_1


Aku pun langsung duduk bersandar di pinggiran atap sambil membuka onigiri ku dan kemudian memakannya. Hira tiba-tiba menanyakan sesuatu kepadaku.


"Jadi, bagaimana caramu untuk mengatasi gosip itu?"


"Aku masih belum tau, tapi aku memiliki seseorang yang mengetahui caranya."


"Seseorang? Memangnya kau punya sesuatu seperti itu disini selain kami berdua?" tanya Kudou.


"Tentu saja ada! Dia adalah bantuan yang tak terduga. Jadi jangan pikir aku berbohong."


"Iya, iya."


Tap… Tap…


Tiba-tiba seseorang datang dari pintu masuk menuju ke atap, langkah kakinya sudah terdengar dari sini dan kami semua sudah menunggu siapa yang akan datang. Saat orang itu menunjukkan wajahnya, Kudou dan Hira tidak bisa menutupi rasa keterkejutannya.


"Gekhh …?! A-Anak baru? Yang benar saja …," ucap keduanya.


Herlin yang baru datang sambil membawa bekal bento ditangannya memiringkan kepalanya karena heran kenapa ada dua orang lain disini.


"Iraya, katanya kita cuma berdua disini."


"I-I-Iraya?!! Gadis itu memanggilmu dengan sebutan Iraya?!!"


"Oi! Cepat jelaskan ini! Apa kau sedang bercanda? Ada seorang perempuan yang memanggilmu Iraya!"


"Cepat jelaskan!"


Keduanya berteriak dengan sangat keras secara bersamaan dan mulai meminta penjelasan tentang apa yang sedang terjadi disini. Aku mengerti mengapa mereka terkejut seperti itu sih.


"Tenanglah, tidak usah terkejut sampai sebegitunya. Ngomong-ngomong, dia Ririsaka Herlin. Ya meskipun waktu perkenalan kalian sudah mengenalnya, sih."


"Na-namaku Tooru Hira, dan dia Takushi Kudou. Sa-salam kenal."


Hira berkenalan sambil sedikit menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat lalu Kudou juga mengikuti gerakan Hira.


"Aku juga."


"Ini tidak seperti dugaanku, aku tidak menyangka kalau kau akan membawa bekal ke sekolah."


"Heh~…."


Sepertinya Kudou dan Hira masih sulit mempercayai hal yang terjadi di depan matanya saat ini. Wajar saja sih. Selama dekat dengan mereka, aku belum pernah dekat dengan wanita. Meskipun pernah, pasti akan selalu gagal.


Tiba-tiba Herlin menyuruhku untuk mendekatkan telingaku kearahnya. Sepertinya dia ingin membisikkan sesuatu kepadaku. Aku pun langsung melakukannya.


"Apa tidak apa-apa, mereka berdua mendengar rencananya? Asal kau tau saja, rencana ini cukup besar untuk didengar oleh mereka."


"Begitukah? Kalau begitu, aku memiliki rencana agar mereka mau turun tanpa dipaksa. Dengarkan baik-baik."


Aku pun memberitahukan rencanaku kepadanya. Setelah mendengarnya, Herlin hanya diam dan entah hanya imajinasiku saja atau bukan, mulut Herlin sempat menggumamkan kata 'menjijikan sekali'. Tapi sepertinya dia mau melakukannya.


Herlin lalu kembali memakan bentonya seperti biasa. Dia menyuapkan nasi ke mulutnya dengan sangat sedikit dan elegan menggunakan sumpit. Tapi tiba-tiba dia melakukan sesuatu.


Tiba-tiba dia menyodorkanku sumpit yang sedang menjepit sebuah sosis merah berbentuk gurita. Tentu saja Kudou dan Hira terkejut melihatnya. Bahkan Kudou sampai tersedak onigiri nya sendiri karena melihat Herlin yang melakukan hal seperti itu.


"Cepat buka mulutmu, perutku sudah tidak kuat untuk makan lagi."


Aku menengok ke arah Kudou dan Hira yang dari tadi memperhatikanku. Lalu aku memberikan senyuman sombong kepada mereka. Tentu saja wajah mereka langsung berubah menjadi sangat iri dan kesal.


"Kalau begitu, aamm …."


Aku memakan sosis dari suapan Herlin, entah kenapa rasanya seperti mimpi. Aku yang dekat dengan wanita saja selalu gagal, sekarang disuapi oleh loli keturunan barat. Meskipun ini hanya bagian dari rencana untuk membuat Kudou dan Hira turun, tapi tetap saja ini menjadi satu kemenangan tersendiri bagiku.


"Ehehem …. Kalau begitu kami berdua turun dulu, entah kenapa disini jadi terasa sedikit panas."


Hira dan Kudou kemudian turun dengan wajah yang masih kesal. Maafkan aku teman-temanku, itu hanya bohongan! Aku masih single sama seperti kalian semua. Setelah mereka turun, aku langsung membicarakan hal yang menjadi topik utama kali ini.


"Jadi rencana sebenarnya seperti apa?"


"Aku akan menaklukkan beberapa Beast lalu aku akan membuat mereka menyerang sekolah ini. Setelah itu kau yang menyelamatkan seisi sekolah. Dengan begitu, reputasi mu akan kembali membaik dengan sendirinya."


"Apa bisa seperti itu?"


"Menurut pengalamanku, orang yang sudah diselamatkan nyawanya, tidak mungkin akan berpikiran jahat lagi kepadamu. Dengan begitu kau bisa memanfaatkan mereka sesuai keinginanmu."

__ADS_1


"Kau ini iblis, ya?"


"… Tapi itu terdengar seperti sebuah rencana yang bagus. Jika dipikir-pikir lagi, rasanya sedikit memalukan. Dan juga, Beast seperti apa yang akan menjadi lawanku?"


"Kalau menurut hasil latihanmu ke belakang, sepertinya aku akan menaklukkan makhluk yang memiliki tingkat kegesitan yang tinggi dan daya serang yang lemah."


Tingkat kegesitan yang tinggi. Memang benar aku memiliki refleks dan kecepatan diatas orang normal. Bukannya sombong tapi itu adalah sebuah kenyataan. Tehe ….


"Baiklah, aku mengerti."


Herlin pun menganggukkan kepalanya. Lalu kami kembali hening untuk menghabiskan makanan kami. Aku sedikit memerhatikannya saat makan dan jika kupikir lagi, pantas saja Kudou dan Hira marah. Orang yang menyuapiku ternyata gadis secantik ini.


"Apa ada yang aneh di wajahku?"


"A-Ah …! Ti-Tidak ada apa-apa!"


**


Sementara itu di kelas lain, ada seseorang yang sedang berlari di lorong dengan terburu-buru. Ia menuju ke sebuah kelas dengan papan nama Kelas 12-A.


Setelah masuk, ia kemudian menghampiri seorang murid dengan perawakan sangar yang dikelilingi oleh murid-murid lainnya.


"Boss, apa kau sudah dengar rumor yang beredar di kelas 10?" ucapnya.


"Ha? Rumor? Memangnya rumor tentang apa? Jika bukan tentang kesayanganku Hasuki-chan, aku sama sekali tidak tertarik dengan kelas 10."


"Sa-Sayangnya itu tentang dia, boss."


Setelah tau kalau rumor tadi berhubungan dengan Hasuki, orang yang disebut boss itu tiba-tiba saja berdiri dan menghampiri orang yang berbicara tadi. Dia mengangkat kerah orang itu sampai membuatnya tercekik.


"Cepat ceritakan! Ada rumor apa yang tentang dia?!


"Ba-Baik!"


Orang itupun menceritakan secara detail dan rinci apa yang dirumorkan tentang Hasuki, ciri-ciri orang yang ingin memperkosanya, dan sebagainya. Setelah selesai mendengar ceritanya, muka si Boss kelihatan sangat marah.


"Heh~ benar-benar rumor yang menarik."


Buukk…


Si Boss itu kemudian tidak bisa menahan amarahnya dan memukul orang yang membawa rumor itu tepat di hidung sampai membuatnya jatuh tersungkur kesakitan.


"Sialan …! Orang yang melakukan itu … siapa nama orang yang melakukan itu?!"


"Ka-Kalau tidak salah … Sa-Satou Iraya …."


"Satou Iraya …."


"Jika kau tau lalu kau mau apa, Tanaka?" ucap seorang gadis berambut coklat terang yang sepertinya teman dekat dari si Boss.


"Diamlah, Nabe! Aku akan menghajarnya sampai dia tidak bisa merasakan rasa sakit lagi. Lihat saja!"


**


Saat aku sedang berjalan di lorong bersama Herlin untuk kembali ke kelas, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang membuatku menengok kearah atas.


"Hn?"


"Ada apa?"


"Entahlah. Mungkin cuma perasaanku saja."


Herlin diam sebentar dan kemudian menutup matanya. Ia mengeluarkan sedikit auranya yang seketika membuatku sedikit merinding. Setelah beberapa saat, ia kemudian membuka mata lagi.


"Jika yang kau maksud monster, tidak ada yang seperti itu disini," ucapnya.


"Begitu. Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan tadi?"


"Aku mencoba mendeteksi apa ada aura berbahaya dan kuat. Dan saat kau bilang seperti itu, aku mencoba mencarinya dan tidak menemukan apa-apa."


"Begitu ya. Kalau begitu itu hanya perasaanku saja."


Dan jika bukan perasaanku saja, mau apapun itu yang datang kesini, aku akan menghajarnya!


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2