Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 64 : Kompetisi Internal Kelas


__ADS_3

Angin pada pagi-pagi buta ini begitu dingin dan menusuk tulang, begitu juga dengan matahari yang belum menampakkan wujudnya. Kebanyakan manusia juga masih terlena dengan mimpinya. Tapi ada satu makhluk yang pada pagi ini, tidak biasanya bangun sepagi ini.


*05.00*


Di sebuah ruangan yang hampir seluruh penjuru tempatnya gelap dan hanya ada satu sumber cahaya yang menyinarinya. Di tempat yang tersinari cahaya tersebut, terdapat seorang anak kecil yang masih tertidur dengan tidak rapi. Ia sedang tidur di futon dengan satu kakinya keluar dari selimut.


"Darah …. Mmm …."


Ia mengigaukan hal yang ia sukai sampai terbawa ke dalam mimpinya. Tapi tiba-tiba ia terbangun tanpa alasan yang jelas dan kemudian duduk di futon-nya. Ia mengumpulkan kesadarannya sebentar lalu setelah itu memeriksa sekitarnya.


"Jam berapa sekarang …?" gumamnya dengan setengah sadar.


Ia kemudian menyadari kalau orang di luar ruangan itu juga sedang tertidur. Ia mengetahui hal itu dari alur pernafasannya yang stabil dan tenang. Rasa kantuknya tiba-tiba hilang digantikan dengan rasa senang yang ia tunjukkan dengan mengepalkan tangannya.


"Yosh! Hari ini aku menang lagi dari Iraya!"


Ia kemudian melompat dari futon-nya dengan penuh semangat. Seketika futon, selimut, dan bantal yang ia pakai sebelumnya mengeluarkan sebuah cahaya menyilaukan yang lama kelamaan menghilang dari pandangannya bersamaan dengan alat-alat tidur tadi.


Bagian leher ke bawahnya juga bersinar dan baju tidur yang ia pakai sebelumnya tiba-tiba berubah menjadi pakaian sehari-hari miliknya lengkap dengan celemek kuning yang ia dapatkan dari Iraya.


"Tetsu …! Siap bekerja!"


Setelah keluar dari pedangnya, secara perlahan Tetsu berjalan keluar kamar Iraya supaya tidak membuatnya terbangun. Tidak lupa ia mengambil sebatang pensil yang belum diserut dan langsung memasukkannya ke dalam mulutnya. Setelah turun, ia kemudian melihat keluar rumah dan menyadari kalau matahari belum terbit.


"Hn … pantas saja Iraya belum bangun. Ternyata aku yang bangun kepagian!"


Ia kemudian sedikit melakukan peregangan mengingat hari yang masih sangat pagi.


"Satu, satu, dua, dua, …."


Setelah peregangan sedikit, Tetsu kemudian masuk ke dalam rumah dan serta lanjut membersihkan sisa makan malam kemarin. Sebenarnya, akhir-akhir ini ia hanya membersihkan bungkus ramen instan atau cup ramen saja. Ia merasa kalau hal-hal seperti ini terlalu mudah dibersihkan dan ingin sesuatu yang lebih menantang.


Tapi sebelum itu, ia mengambil seember air di kamar mandi dan kemudian mengepel seluruh ruangan dari atas sampai ke bawah dengan gesit dan cekatan. Tetsu tidak membiarkan ada debu sedikit pun di tempat yang ia tinggali.


Setelah bersih, Tetsu kemudian melihat kearah jam dan tidak sadar kalau ia sudah membersihkan seisi rumah selama satu jam. Ia kemudian memeriksa kembali lantai yang ia telah pel, semuanya terlihat berkilau dan wangi. Entah kenapa ia sangat menyukai suasana dan harum seperti ini.


Karena di gudang senjata sebelumnya, ia tidak memiliki kesempatan untuk membersihkan tempat dimana pedangnya disimpan. Selalu ada orang yang mengawasi tempat itu hampir setiap jam. Bukan berarti Tetsu takut dengan mereka, hanya saja ia tidak menyukai ketika ada seseorang yang melihatnya saat ia melakukan sesuatu. Itu akan membuatnya risih.


Tetsu kemudian duduk di sofa ruang tamu untuk bersantai sebentar. Ia memikirkan hal apa lagi yang bisa ia lakukan di waktu pagi-pagi seperti ini. Dan dia teringat tentang cup ramen itu.


"Benar juga! Sesuatu yang lebih menantang!"


Tetsu kemudian pergi ke dapur dan memeriksa di rak-rak piring dan di kabinet-kabinet untuk mencari sesuatu. Dan pada kabinet majalah, ia akhirnya menemukannya.


"Ketemu!"


Ia mengangkat buku itu tinggi-tinggi yang ternyata adalah buku resep masakan. Tetsu membolak-balikkan halaman buku itu dan mencari sesuatu yang biasa ia lihat di TV untuk dimakan saat pagi dan saat siang.


Untuk masakan pagi atau sarapan, ia menemukan kalau kebanyakan anak sekolah membawa bento karena praktis dan juga komposisi menunya lengkap dan mengenyangkan. Ia mengangguk-anggukan kepalanya seolah mengerti tentang apa yang harus ia lakukan.


"Bento, ya? Baiklah, baiklah."


Lalu Tetsu membalik lagi halaman mencari menu yang tepat untuk dijadikan makan malam. Dan kemudian ia menemukan menu bernama kari. Ia sangat tertarik dengan menu itu karena warnanya yang setengah coklat dan setengah putih.


"Wooo …! Makanan ini berbentuk seperti yin & yang!"


Karena menurutnya menarik, akhirnya ia menentukan kalau makan malam hari ini adalah kari.


"Baiklah …, ayo kita mulai!"


Tetsu mengambil bahan-bahannya di kulkas dan nasi di rice cooker. Dengan tangannya yang terampil, ia kemudian memasak seluruh bahan-bahannya sambil sesekali melihat ke buku resep.


Pertama-tama ia menaruh nasi putih hangat yang kompak dengan wadah tempat makannya, tidak lupa ia menaburi Nori atau rumput laut kering tabur diatas nasinya. Kemudian ia memasak dua butir telur. Setelah cukup matang, ia pun menggulung telur itu beberapa kali menggunakan sumpit lalu memotongnya menjadi lima bagian.


Tetsu menyusun telur-telur tadi dengan rapi di samping nasi tersebut yang sebelumnya sudah dialasi oleh selada air yang masih segar. Lanjut dengan tomatnya, ia memotong tomat itu menjadi dua bagian dan menyusunnya disamping telur tapi masih diatas selada air.


Bagian selanjutnya adalah menggoreng sosisnya. Tetsu memakai satu buah sosis yang ia potong menjadi dua bagian. Kemudian ia memotong bagian bawahnya menjadi seperti tentakel gurita dan tidak lupa menambahkan dua biji wijen yang dibentuk sebagai mata.


Dua sosis itu kemudian ditaruh bersamaan dengan telur dan tomat yang berada diatas selada air tadi. Dan bento buatan Tetsu pun selesai.


"Yosh! Sudah jadi!"


"Selamat pagi, Tetsu."


"Hn? Ahh Iraya! Selamat pagi!"


Setelah Tetsu selesai menyiapkan bento nya, Iraya baru bangun tidur dan turun dari kamarnya sambil mengusap-usap matanya karena masih sedikit mengantuk. Tetsu dengan semangat berlari menuju Iraya dan menunjukkan bento yang ia buat sejak tadi pagi.


"Iraya, Iraya! Lihat ini, aku membuatnya sendiri! Ini untukmu!"


"Kau bisa membuat bento? Kau pintar sekali! Terima kasih ya, Tetsu."


"Nn!"


Setelah itu, Tetsu menyalami Iraya yang ingin pergi ke sekolah dan akhirnya ia sendirian dirumah. Karena rumah sudah bersih dan tidak ada yang bisa ia lakukan lagi. Akhirnya Tetsu menyalakan TV dan menunggu Iraya pulang.


Dengan begitu, pagi yang sibuk dan menyenangkan bagi Tetsu pun berakhir dengan bahagia.


**


Sementara itu, saat ini aku sedang berjalan untuk menuju ke sekolah sambil berpikir keras.


"Bagaimana caranya aku menolak bekal Herlin lagi?"


Jika aku menolak lagi, ini sudah kali kedua aku melakukannya. Aku merasa tidak enak dengan Herlin dan Yuuki-san jika aku menolak lagi. Coba kita pikirkan dulu. Saat aku sedang memikirkannya tiba-tiba pundak ku ditepuk oleh seseorang yang membuatku terkejut.


"Iraya …."


"Wooaahh …!"


"Apa-apaan kau ini? Kau seperti kakek-kakek yang jantungan, tau."


Aku menengok ke belakang dan yang kulihat ternyata adalah Herlin. Ia memiringkan kepalanya dengan ekspresi jengkel karena teriakanku.


"Ah maaf, maaf … aku hanya sedang berpikir tadi."


"Kau sedang berpikir apa?"


"…."


Aku tidak menjawabnya untuk beberapa saat. Aku masih belum tau cara untuk menolaknya. Tapi ini harus dilakukan, kalau tidak bekal yang dibuat oleh Tetsu akan jadi sia-sia.


Tunggu sebentar. Bukankah jika aku melakukan hal yang sama maka bekal Herlin juga akan sia-sia? Argh! Kenapa ini sulit sekali untuk dilakukan?! Aku kemudian menarik nafas panjang untuk menenangkan diri dan akhirnya memberanikan diri untuk mengatakannya kepada Herlin.


"Herlin."


"Ada apa?"


"Ma-Maafkan aku, tapi tadi aku bangun kepagian …. Jadi aku mencoba membuat bekal sendiri, dan setelah itu—"

__ADS_1


"Kalau begitu mau bagaimana lagi."


"Eh? Kau tidak marah?"


"Untuk apa? Selama bekal buatan Yuuki-san habis, aku tidak terlalu peduli siapa yang memakannya. Mungkin aku akan memberikannya pada salah satu anak di kelas nanti."


"Be-Begitu ya …."


Entah kenapa mendengarnya mengatakan hal itu tanpa beban membuat hatiku sakit. Tapi syukurlah, beruntung Herlin tidak marah karena hal ini. Dan dengan berakhirnya percakapan itu, tidak ada percakapan lagi sampai kami sampai di sekolah.


**


Setelah sampai di kelas, kami duduk seperti biasanya sambil menunggu guru untuk masuk ke kelas. Tapi anehnya, sudah hampir setengah jam pelajaran berjalan, masih belum ada guru yang masuk ke kelas. Apa mereka sedang rapat, ya?


Ya apapun alasan mereka, ini tetaplah suatu kesempatan yang bagus untuk bersantai sedikit dari lelahnya menimba ilmu pengetahuan. Karena bosan, aku pun melihat keluar kelas lewat jendela dan melihat banyak sekali murid-murid yang berada diluar kelas padahal jam pelajaran masih berlangsung.


"Apa kelas lainnya juga sama?" gumamku.


"Sepertinya begitu."


Herlin tiba-tiba berada di samping tempat duduk ku yang membuatku terkejut. Aku tidak menyadari keberadaannya sama sekali tadi.


"Kau ini …, berhenti menggunakan kekuatanmu untuk menjahili ku."


"Aku tidak menggunakannya, kok."


"Tapi bagaimana aku bisa tidak tahu kalau ada kau disini?"


"Itu karena kau saja yang bodoh."


"Ap— Hah … ya terserah kau saja, lah."


Aku berhenti untuk berdebat dengannya. Karena pemenangnya sudah bisa dipastikan dari awal. Jadi aku tidak mau membuang-buang waktuku. Aku kemudian lanjut melihat kearah murid-murid yang sedang bermain di lapangan.


Hening yang lama itu membuat Herlin sepertinya bosan dan kemudian mengajakku berbicara lagi.


"Nee, Iraya …."


"Hn?"


"Aku mau lihat bekal buatan mu."


"Eh? Kenapa?"


"Tapi sebelum itu …."


Herlin mengeluarkan satu bento yang seharusnya milikku, tapi karena aku sudah punya milik Tetsu jadi Herlin berniat untuk memberikannya ke teman-teman sekelas ku. Dan disaat seperti ini lah, kelas akan ….


Ciiing… Ciiing… Ciiing…


Mata para anak laki-laki langsung tertuju kepada bento yang dikeluarkan oleh Herlin. Mereka seperti melihat sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya dan ingin segera memilikinya. Dan ketika Herlin bertanya, maka kelas akan ….


"Ada yang mau?"


Gubraakk… Praaang… Gumpraaang… Syiiingg… Duaaarrr… Boonkk…


"Itu milikku!"


"Tidak! Ririsaka-chan memberikannya untukku!"


"Heh! Para rakyat jelata ini … tentu saja yang pantas menerimanya adalah aku! Utusan dari Dewi Berambut Pirang! Jadi itu adalah milikku!"


"Dewi Berambut Pirang?" gumam Herlin.


"Itu adalah panggilan yang mereka berikan untukmu."


"Chifu-san?"


"Tapi kalian berdua ini akrab sekali, ya? Siapapun pasti akan salah paham pada kalian jika kalian seakrab ini. Bahkan sampai membuatkan bekal untuknya, kalian ini seperti suami istri."


"Suami …."


"… Istri?"


Kami berdua saling memandang satu sama lain dan memikirkan kata-kata dari Hasuki-san. Setelah lama bertatapan, kami pun menjawab pernyataan Hasuki-san secara datar dan bersamaan.


"Tidak, itu tidak mungkin terjadi."


"Heh … tapi kalian itu cocok sekali tau."


"Tidak sama sekali."


Kami menjawabnya secara bersamaan lagi. Tidak mungkin bagiku untuk menjadi pasangan Herlin. Ia selalu meremehkanku dan omongannya juga tajam. Aku tidak mungkin tahan dengan orang sepertinya.


Herlin juga dalam hatinya berpikiran kalau berhubungan dengan Iraya adalah satu hal yang paling mustahil. Ia tidak bisa diandalkan, berisik, dan juga ceroboh. Wajahnya juga pas-pasan. Jadi tidak mungkin baginya untuk menjadi pasangannya.


Tapi ….


Csss…


Asap keluar dari kepala kami berdua bersamaan dengan wajah kami yang merah padam. Aku tidak boleh berpikir yang aneh-aneh! Itu adalah hal yang mustahil. Jangan berpikir yang aneh-aneh dasar bodoh! Untuk sekarang tarik nafas lalu keluarkan.


"A-Aku …. I-Ingin ke toilet sebentar …. Ji-Jika ada guru datang … bilang saja aku ke toilet, o-okey?"


Aku mencoba untuk bersikap tenang tapi yang terjadi malah sebaliknya. Untuk menghindari kondisi yang semakin tidak kondusif ini, aku bermaksud untuk keluar kelas dan lari dari kejadian ini. Tapi tiba-tiba aku dihalang oleh seseorang.


"Tunggu, Satou-kun!"


"Eh? Siapa?"


Orang itu berdiri di depan kelas dan menghentikanku seperti ingin menyampaikan sesuatu.


"Aku ini ketua kelas sini, apa kau tidak tau?"


"Mana kutahu! Kau tidak pernah muncul di cerita dan tiba-tiba berperan jadi ketua kelas?!"


"Benar sekali, ini adalah debut ku yang berharga. Jadi jangan mengacaukannya, Satou-kun."


"Benar sekali."


"Kau siapa lagi?!"


Di samping ketua kelas, berdiri seorang laki-laki yang menanggapinya dengan suara lemas sambil membawa sebuah kotak dengan ukuran yang cukup besar.


"Aku wakil ketua kelas."


"Sejak kapan?!"


Prok… Prok…

__ADS_1


Ketua kelas kemudian menepuk tangannya untuk mendapat perhatian seisi kelas dan setelah diam, ia mulai berbicara.


"Baiklah, baiklah …. Karena untuk dua hari ke depan guru sedang tidak ada akibat rapat, maka kita akan mengadakan sebuah kompetisi di dalam kelas untuk merayakan hal yang jarang terjadi ini."


"Kompetisi?"


Aku tidak mengerti sama sekali jalan pikirannya. Dan juga, apa jam kosong begini memang jarang sekali di sekolah ini sampai-sampai harus dirayakan semeriah ini?


"Kompetisinya adalah …!"


Glek…


Semuanya menelan ludah ketika ketua kelas akan mengumumkan kompetisi apa yang akan kelas kita lakukan. Dan setelah menunggu, ternyata yang mengumumkannya adalah wakil ketua kelas dengan suara yang datar dan lemas.


"… Membuat karakter tiga dimensi."


"Benar sekali. Peraturannya sangat sederhana. Pertama, kita akan membagi kelompok dengan masing-masing kelompok berisi tiga orang.


Kedua, kerajinan yang dibuat haruslah makhluk hidup, boleh makhluk halus atau makhluk mitologi.


Dan yang terakhir, kelompok yang memenangkan kompetisi kelas ini akan mendapatkan …!"


Glek…


Lagi-lagi ketua kelas membuat nada menggantung yang membuat semua orang tegang sekaligus penasaran. Tapi dengan nada bicara ketua kelas yang semangat dan membara, ia malah memberikan kata-kata terakhirnya kepada wakil ketua kelas yang berbicara dengan nada datar dan membuat orang mengantuk.


"… Bento dari Ririsaka-san."


"Ap—!"


"WoooOooOooAaaahhhHhh …!!!"


Suasana kelas menjadi gila karena hadiah yang disebutkan oleh wakil ketua kelas. Tapi ketua kelas menenangkan seluruh kelas dan mengalihkan pandangannya ke arah Herlin.


"Apakah boleh, Ririsaka-san?"


"Ya, boleh saja."


"Herlin?!"


"WoooOooOooAaaahhhHhh …!!!"


Suasana lagi-lagi menjadi gila karena jawaban tak terduga dari Herlin. Bahkan ada yang naik ke meja kelas dan ada yang bahkan hampir membuang bangku ke jendela luar. Kalian semua terlalu berlebihan! Berlebihan!


Sementara itu, ketua kelas masih memikirkan satu hal penting lainnya.


"Hmm … kita harus memilih jurinya. Tapi orang yang menjadi juri haruslah orang yang dapat dituruti oleh anak-anak kelas ini," gumamnya.


Tok… Tok…


"Permisi. Apa aku mengganggu?"


Tiba-tiba datang seseorang yang sepertinya juga akan menambah masalah baru. Dan juga orang yang tepat untuk menjadi juri bagi kompetisi patung tiga dimensi ini. Yap, siapa lagi kalau bukan Mei-senpai.


"Sepertinya aku mengganggu—"


"Senpai!"


"Eh?!"


Para anak laki-laki kemudian berlutut di depan Senpai yang tidak tahu apa-apa. Ketua kelas dan wakilnya menjadi yang paling depan berlutut dan kemudian berbicara dengan Senpai.


"Kurobane-senpai, maukah Senpai untuk menjadi juri dalam kompetisi kelas kami besok?"


Ketua kelas meminta Senpai seakan-akan ingin melamarnya. Sementara Senpai yang bingung dan tidak tau apa-apa menengok kearahku untuk mencari penjelasan. Aku hanya menggelengkan kepala dan biarkan Senpai menolak ajakan mereka saja.


Setelah itu, Senpai yang masih tidak yakin kemudian melihat kearah Herlin. Dan Herlin hanya membalasnya dengan satu kali anggukan seakan mengatakan 'Lakukan saja!'.


"Baiklah, aku mau."


Dasar pengkhianat! Senpai pengkhianat!


"Bagaimana denganmu yang disana? Apa kau juga ingin menjadi juri?"


Ternyata ada satu orang lagi yang sedang bersembunyi di belakang pintu. Sepertinya kelas kami membuatnya takut. Lalu ia memberanikan diri untuk menampakkan dirinya dan Herlin pun mengenalinya.


"Michi-chan?"


Ia bingung karena diberi pertanyaan seperti itu. Lalu ia menengok kearah Herlin. Reaksi Herlin juga masih sama seperti kepada Mei-senpai tadi. Pada akhirnya Kuromichi pun juga ikut bergabung dalam kompetisi internal kelas kami.


"Sekarang bagian pengundiannya! Silahkan berbaris dan ambil satu kertas yang ada di dalam kotak ini!"


Kami pun berbaris dan dengan rapi mengambil satu kertas yang ada di dalam kotak besar yang dibawa oleh wakil ketua kelas. Setelah semua sudah mendapat kertas, ketua kelas mempersilahkan kami membuka kertasnya.


"Silahkan dibuka!"


Aku membukanya dan yang aku dapatkan adalah gambar pisang. Sepertinya aku masuk kelompok pisang, ya? Oh iya! Bagaimana dengan Kudou dan Hira?! Aku harus mengecek apakah dia masuk ke kelompok pisang atau—


"Kami berdua kelompok apel."


Mereka berdua menjawabnya secara bersamaan seakan bisa membaca pikiranku. Kenapa aku selalu ditinggal sendiri oleh mereka? Hah …. Aku mencoba menghadapi kenyataan dan mencari anggota kelompok yang lainnya.


"Ririsaka-san, kau dapat apa?"


"Leci, bukan? Leci, ya? Pasti leci, kan?!"


"Tidak, Dewi dan utusannya sudah pasti selalu bersama. Apa Ririsaka-chan dapat pepaya?"


Mereka semua terlalu bersemangat. Dan juga apa-apaan utusan dari Dewi Berambut Pirang itu? Kenapa teman kelasku aneh semua.


"Maaf, tapi aku dapat pisang."


"Ah! Aku juga pisang."


Tidak mungkin. Herlin dan Hasuki-san mendapatkan kelompok yang sama denganku. Ini pasti akan menjadi masalah besar. Pasti! Aku sudah yakin itu.


"Iraya, kau dapat apa?"


Aku yang sedang sibuk menyalahkan takdir tiba-tiba disadarkan oleh pertanyaan Herlin.


"Hn? Aku dapat pisang."


"Begitu ya? Kalau begitu kita satu kelompok."


"Mohon bantuannya ya, Iraya-kun."


"Y-Ya …."


Disertai dengan tatapan cemburu anak laki-laki yang lainnya. Aku hanya bisa menghela nafas dengan kejadian hari ini. Dengan begitu, aku akan bersama dengan Herlin dan Hasuki-san dalam kompetisi besok.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2