Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 69 : Menuju ke Rumah Iraya


__ADS_3

Ia tengah menyeret tubuhnya yang lemah karena terluka mendekati tubuh temannya yang lama kelamaan berubah memucat bersamaan dengan darah yang terus mengalir deras dari luka yang berada di lehernya.


Meskipun pandangannya buram dan tubuhnya terus merasakan dingin karena darah yang keluar banyak dari lukanya sendiri, itu tidak membuatnya berhenti untuk meraih tubuh temannya itu.


Di belakang temannya, samar-samar terlihat kaki orang yang berdiri sedang memegang Katana yang pada bilahnya terdapat bekas darah seseorang. Ia tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas, karena sudah tidak memiliki tenaga untuk mendongak ke atas.


Yang saat ini ia prioritaskan adalah bagaimanapun, dengan sisa tenaganya ia harus mencapai tubuh temannya. Tapi ia sudah tidak kuat lagi, tubuhnya terlalu banyak mengeluarkan darah. Ia hanya bisa meraih tangan temannya saja. Dan mengeluarkan kata-kata terakhir sebelum akhirnya ia tidak sadarkan diri.


"Bertahanlah … Hasuki … san."


**


Herlin kemudian membuka matanya. Saat ini ia sedang terbaring di sebuah tempat tidur rumah sakit. Ia terduduk secara perlahan dan melihat kearah sekitarnya. Terdapat tirai berwarna hijau yang menutupi sekitarnya ditambah dengan infus yang menempel di bagian pembuluh vena nya menandakan kalau ada seseorang yang membawanya ke rumah sakit saat ia tidak sadarkan diri.


Ia menggerakkan tubuhnya sedikit dan mencoba turun dari tempat tidur. Tapi tiba-tiba ia merasakan sakit di pinggang bagian kirinya. Ia kemudian memeriksa di balik baju hijau pasien yang ia kenakan dan menemukan bahwa perban melingkari seluruh bagian perutnya dan masih terdapat sedikit darah timbul dari balik perban itu.


Setelah melihat lukanya, ia kemudian teringat sesuatu. Alasan dia terluka dan alasan dia bisa terbaring di tempat tidur rumah sakit sekarang. Ia baru mengingat kalau sekolahnya diserang oleh para Assassin Ayakashi Corp. dan mencoba menculik Iraya.


Dan ia juga mengingat Hasuki-san yang diserang oleh Nimis saat itu.


Tanpa memperdulikan rasa sakit pada lukanya, ia kemudian turun dari tempat tidurnya dan membuka tirai itu. Dan di sebelah tempat tidurnya terdapat satu tempat tidur lain yang berisikan banyak orang yang ia kenal.


"Senpai?"


Selain Mei-senpai yang terbaring di tempat tidurnya, ada juga Tooru Hira, Takushi Kudou, dan juga Michi-chan yang sedang duduk di samping Mei-senpai.


"Herlin-chan?! Kau sudah sadar?! Bagaimana dengan lukamu?!"


"A-Aku tidak apa-apa."


Senpai terlihat begitu khawatir pada kondisi Herlin. Karena saat ditemukan, luka Herlin sangat dalam seperti tertusuk oleh sesuatu. Melihatnya sekarang bisa berjalan sudah membuatnya sedikit lega, tapi tetap saja masih khawatir.


"Herlin-san, kau tidak boleh banyak bergerak dulu. Nanti lukamu bisa terbuka lagi."


"Dia benar, Ririsaka-san. Lukamu sangat parah dan kau baru bangun setelah dua hari tidak sadarkan diri."


"Du-Dua hari?"


Ia baru tau kalau ternyata ia sudah tidur selama dua hari. Jadi selama dua hari itu, ia sudah melewatkan banyak kejadian dan juga masih belum tau bagaimana keadaannya Iraya.


"Iraya bagaimana …?"


"Apa?"


"Bagaimana dengan Iraya? Apa dia ada disini? Lalu Hasuki-san … lukanya sangat parah dan dia kehilangan banyak darah. Bagaimana dengan—"


Suasana menjadi sepi. Tidak ada yang menjawab pertanyaan Herlin dan lebih memilih diam. Mereka semua menundukkan kepalanya dan menunjukkan ekspresi murung.


"Nee, kenapa kalian tidak menjawabku …?"


Semuanya tidak ada yang berani menjawab, seakan menjadi pertanda buruk bagi Herlin yang tidak tau apa-apa. Lalu setelah beberapa saat diam, Mei-senpai kemudian menceritakan apa yang terjadi kepada Herlin.


"Saat aku sadar, Iraya sudah dibawa oleh mereka. Aku sempat bertarung dengan pria berambut pirang itu, tapi aku dengan mudahnya dikalahkan."


"Orang berambut pirang?"


Ia mengingat orang itu. Dia adalah pemimpin dari Assassin Ayakashi Corp., Astaroth. Herlin kemudian memaklumi kalau Mei-senpai kalah dengannya. Bisa dibilang untuk saat ini, hanya Oita-san saja yang bisa menyaingi kekuatannya.


"Lalu soal Hasuki-san …."


Hira kemudian melanjutkan penjelasan yang dilakukan oleh Mei-senpai.


"… Nyawanya tidak bisa diselamatkan."


Herlin membelalakkan matanya. Meskipun ia tidak bereaksi berlebihan seperti menangis atau berteriak, tapi semua orang tau seberapa dalam kesedihan yang ia rasakan.


Herlin mengepalkan tangannya, kemudian menggigit bibirnya sampai berdarah. Padahal ia sudah tau kalau tidak ada kesempatan lagi menyelamatkannya, tapi tetap saja ia merasakan kesedihan yang membuat hatinya sakit.


"He-Herlin-san …, kau tidak apa-apa?"


Herlin menyadari kalau teman-temannya melihat ekspresinya tadi. Ia kemudian berhenti mengepalkan tangannya dan mengelap darah di bibirnya. Dan ia sudah berekspresi tenang seperti biasa lagi.


"Aku tidak apa-apa, Michi-chan."


"Apa kau yakin?"


"Nn, tapi aku punya sesuatu yang harus aku lakukan. Jadi aku permisi dulu."


Herlin kemudian pergi dari ruangan itu. Meskipun masih ada infus yang menempel di lengannya, dia tidak memperdulikan hal itu dan tetap berjalan. Tapi tiba-tiba ia dihentikan oleh Mei-senpai.


"Tunggu Herlin-chan, dengan kondisi seperti itu kau mau pergi kemana?"


"Aku ingin menemui Oita-san dan menyusun serangan balasan."


"Tu-Tunggu sebentar!"


Mei-senpai dengan cepat turun dari tempat tidurnya yang kemudian memegang tangan Herlin dan menahannya yang ingin pergi.


"Aku bilang tunggu sebentar."


"Lepaskan, Senpai."


"Tidak akan kulepaskan sampai kau tenang."


"Kita tidak punya banyak waktu lagi. Dan juga kita tidak tahu apa yang terjadi dengan Iraya disana."


"Lalu dengan kondisimu sekarang apa kau berpikir bisa banyak membantu?"


"A-Ano …."


Herlin dan Mei-senpai serentak menengok kearah Michi-chan yang memanggil mereka. Mereka berdua berdebat sampai lupa kalau ada tiga orang yang melihat mereka dari tadi.


"Bi-Bisakah kalian berdua tenang sedikit? Me-Meskipun aku tau kalau kalian sedang dalam keadaan gawat, tapi bu-bukankah berdebat malah membuang banyak waktu?"


Herlin dan Senpai mengerti akan hal itu. Jadi mereka berdua menjadi lebih tenang dan menghentikan perdebatan tidak penting itu. Senpai juga melepaskan genggamannya dari lengan Herlin.


"Kau benar. Maafkan aku, Herlin-chan."


"Aku juga. Maafkan aku juga karena membuat kalian cemas."


Herlin kemudian melihat karena Michi-chan. Ia juga ingin berterima kasih padanya karena telah memenangkan keadaan ini.


"Terima kasih ya, Michi-chan."


"A-Ah, tidak … aku hanya … membantu sedikit saja …," ucap Michi-chan yang suaranya semakin mengecil karena malu.


"Jadi sebenarnya ada apa ini? Kenapa Iraya bisa sampai diculik? Apa kau akan memberitahukannya kepada kami, Ririsaka-san?" tanya Hira.


"Sebenarnya sebisa mungkin aku ingin orang biasa tidak terlibat dalam masalah ini. Tapi karena mereka sudah berbuat sejauh ini kepada teman-teman kita. Apa boleh buat …."


Sebelum menjelaskannya, Herlin sempat memastikannya sekali lagi dengan tatapan tajam dan apakah mereka sudah yakin dengan hal ini.


"Apa kalian benar-benar ingin tau?"


"Aku sudah membulatkan tekadku. Tolong beritahu aku, Ririsaka-san."


"Aku juga, ini menyangkut temanku. Aku tidak mau diam saja tanpa tau apa-apa," ucap Kudou.

__ADS_1


"A-Aku juga."


"Michi-chan, kau tidak perlu memaksakan diri. Tindakanmu tadi yang sudah membuat kami tenang saja sudah sangat—"


"Aku bilang aku juga ingin tau!"


"Eh? Michi-chan?"


"Aku selalu merasa kalau Herlin-san sangat jauh dari jangkauanku. Meskipun aku sudah mendapatkan biodatamu dan banyak informasi lainnya, entah kenapa aku masih merasa jauh darimu. Ternyata perasaanku benar, kalau ada sesuatu yang Herlin-san sembunyikan. Maka dari itu, aku tidak ingin merasa ditinggal lagi olehmu, Herlin-san."


"Michi-chan …. Baiklah jika itu maumu."


Herlin kemudian mulai menjelaskan dari awal sekali yaitu dari penjelasan kalau dia, Iraya, dan Mei-senpai bukanlah manusia biasa.


"Aku, Iraya, dan Mei-senpai sebenarnya bukanlah manusia biasa. Kami menyebut diri kami sebagai Exception."


"Exception …?"


"Saat itu kalian melihatnya sendiri, bukan? Ada seseorang yang menyemburkan api ke dalam kelas?"


"Soal itu …, memang benar."


Mereka bertiga membayangkan kembali kejadian tidak mengenakkan itu. Kenangan buruk itu membuat mereka semua menjadi pucat dan gemetaran.


"Mei-senpai dan aku juga bisa melakukan hal seperti itu. Mei-senpai bisa mengeluarkan hembusan angin sebagai kemampuannya. Sementara aku bisa menggunakan kekuatan ESPer."


Ctiik… Swuuushh…


Mei-senpai menjentikkan jarinya lalu keluarlah sebuah hembusan angin lembut yang tiba-tiba terarah ke mereka. Membuat rambut mereka sedikit terkibar.


"Ini contohnya jika kalian tidak percaya," ucap Mei-senpai.


"Hembusan angin sungguhan …."


"Itu benar-benar asli."


"Apa sekarang kalian percaya kalau aku tidak hanya asal bicara?"


"Nn, sekarang aku percaya. Tapi apa hubungannya hal itu dengan penculikan Iraya oleh mereka?"


Herlin menundukkan wajahnya seakan memendam perasaan bersalah. Ia kembali mengepalkan tangannya erat-erat. Tapi ia tetap memberitahukannya kepada mereka.


"Kalau soal itu, mereka mengincar Iraya karena dia memiliki apa yang sebenarnya milik orang lain di dalam tubuhnya."


"Di dalam tubuhnya? Apa dia memiliki sesuatu yang berharga di dalam tubuhnya?"


"Itu …."


Herlin sulit menjelaskannya kepada orang yang tidak tau sama sekali dengan dunia ini. Tapi tiba-tiba ia menemukan kata-kata yang cocok untuk mendeskripsikan Cecilia pada mereka.


"Ia memiliki 'hantu' di dalam dirinya. Tapi itu bukan 'hantu' biasa, karena 'hantu' itu bisa memberikan kekuatan pada seseorang."


"'Hantu'?"


"Sebut saja begitu, karena kenyataannya memang mirip. Meskipun aku belum melihatnya secara langsung, sih."


"Dan 'hantu' itu yang diincar oleh mereka. 'Hantu' itu secara tidak sengaja masuk ke dalam tubuh Iraya, jadi dia juga ikut mengejar Iraya. Apa kalian sekarang sudah mengerti?"


"Walaupun aku masih belum tau kenapa Iraya bisa memiliki makhluk seperti itu di dalam dirinya, tapi secara garis besar aku sudah mengerti."


"Maka dari itu aku harus pergi sekarang."


"Tapi lukamu …."


"Tenang saja Senpai, saat ini aku sudah lebih tenang. Aku tidak akan berbuat sesuatu yang ceroboh."


"Ya ampun, kau ini benar-benar adik kelas yang merepotkan."


"Maafkan aku soal itu."


"Kalau begitu pergilah …, dan panggil aku jika kalian ingin melakukan serangan balasan."


"Baik. Aku pergi dulu."


Tanpa menunggu jawaban dari Senpai, Herlin pergi dari ruangan itu. Ia tidak lupa mencabut infus yang berada di lengannya dan kemudian berlari menuju ke Haiiro Cafe.


Saat Herlin sudah pergi, Mei-senpai dengan yang lainnya sempat berbincang-bincang sedikit.


"A-Apa Herlin-san akan baik-baik saja, ya?"


"Aku yakin dia akan baik-baik saja."


"Be-Benarkah?"


"Semoga saja begitu."


"Senpai kau membuatku tidak tenang …!"


"Ahaha … tenang saja, tenang saja. Karena dia pasti akan baik-baik saja."


**


Herlin yang masih mengenakan baju pasien berwarna hijau itu terus berlari dan bergegas menuju ke Haiiro Cafe. Ia tidak memedulikan lukanya yang saat ini masih terasa sangat sakit.


Dan setelah beberapa saat berlari, ia kemudian sampai di depan pintu Haiiro Cafe dan membukanya dengan tergesa-gesa sampai orang-orang yang berada di dalam Cafe bingung melihatnya.


Herlin yang berdiri sambil terengah-engah di depan pintu Cafe kemudian disadari keberadaannya oleh Yuuki-san yang sedang melayani pelanggan disitu. Ia pun kemudian menghampirinya.


"Herlin-chan?! Kau tidak apa-apa?! Apa yang terjadi?!"


"Oita-san … apa Oita-san ada disini?! Akh—!"


Herlin kemudian melihat luka di pinggang kirinya. Darah tiba-tiba menembus baju pasien hijaunya yang menandakan kalau lukanya terbuka lagi akibat banyak bergerak tadi.


Melihat darah banyak menembus bajunya, Yuuki-san langsung membawanya ke dalam dan kembali menutup luka tadi dengan perban. Meskipun tidak terlalu menutupinya, tapi setidaknya itu bisa mengurangi darah yang keluar sekaligus mengurangi rasa sakitnya.


Setelah itu, Yuuki-san kembali mengajak ngobrol Herlin yang sudah sedikit lebih tenang.


"Yosh. Sudah selesai."


"Terima kasih, Yuuki-san. Apa Oita-san—"


"Dia ada di dalam ruangannya. Kau bisa menemuinya disana."


Seakan sudah mengetahui pertanyaan Herlin, Yuuki-san langsung menunjukkan kalau Oita-san berada di dalam ruangan seperti biasanya. Herlin pun kemudian masuk ke dalam situ dan menemui Oita-san.


"Kau masih belum boleh banyak bergerak, Herlin-chan."


Saat Herlin masuk ke dalam, kata-kata kekhawatiran yang pertama dikeluarkan oleh Oita-san pada kondisi Herlin.


"Aku sudah tidak apa-apa, Oita-san. Lukaku sudah mulai sembuh dan hanya tinggal proses pemulihannya saja."


"Oh begitu? Jika kau bilang tidak apa-apa, maka baiklah. Jadi apa ada urusan sampai kau datang kesini dengan kondisi begitu?"


"Ayo kita menyusun strategi penyelamatan Iraya sekarang."


"Tidak bisa."

__ADS_1


"Apa maksudnya tidak bisa?!"


"Kita tidak bisa menyerangnya secara terburu-buru. Jika tidak, malah kita yang akan dihancurkan."


"Tapi bukankah kita memiliki perjanjian dengan Red Flame?! Kita bisa meminta bantuannya seperti pada misi sebelumnya, kan?"


"Sayangnya tidak semudah itu. Red Flame juga memiliki kesibukannya tersendiri, apalagi dia adalah organisasi terbesar di Jepang. Tidak akan mudah untuk meminta bantuannya tanpa mengatur jadwal terlebih dahulu."


"Tidak mungkin …."


Herlin tertunduk lemas dan menahan amarahnya dengan menggigit bibirnya. Oita-san yang menyadari hal itu menghampirinya dan kemudian memeluknya dan mengelus-elus kepalanya.


"O-Oita-san?"


"Kau mengingatkanku pada Iraya saat ia sedang panik seperti ini juga. Dia saat itu dan kau saat ini benar-benar mirip."


Herlin meremas baju Oita-san karena merasa kesal dengan ketidakmampuannya sendiri. Ia merasa kalau dirinya sangat lemah dan tidak bisa melindungi orang-orang yang ada didekatnya.


"Apa yang harus kulakukan?"


"Mungkin kau harus bersabar sedikit lebih lama lagi. Karena aku sedang mengusahakannya."


"Jadi anda bilang kalau aku harus duduk diam dan menunggu saja?"


"Tidak, aku tidak pernah bilang begitu. Ada satu tugas yang hanya kau yang bisa melakukannya."


"Tugas?"


"Benar, tapi tugas ini tidaklah mudah."


"Apa itu?"


"Kau harus pergi ke rumah Iraya dan memikirkan alasan yang tepat untuk menjelaskan kenapa Iraya tidak pulang selama tiga hari ini."


"Rumah … Iraya …?"


Setelah mendengar tugas yang diberikan oleh Oita-san, Herlin tiba-tiba teringat saat ia meminta izin kepada orang tua Iraya untuk pergi ke turnamen. Ia juga ingat soal sentuhan hangat yang diberikan oleh ibunya Iraya yang mengingatkannya pada masa kecilnya.


Sekarang dia harus memikirkan alasan kenapa Iraya tidak pulang kerumah belakangan ini.


"Bagaimana, apa kau bisa?"


Herlin sebenarnya tidak tau alasan yang harus ia berikan kepadanya, tapi jika hanya ini yang bisa dia lakukan untuk saat ini maka dia akan melakukannya.


"Baiklah, aku akan pergi ke rumah Iraya."


"Bagus kalau begitu."


Herlin kemudian keluar dari ruangan itu. Saat ia sudah keluar, Oita-san mengambil smartphone di mejanya dan ia juga menggumamkan sesuatu.


"Baiklah …, saatnya bekerja."


Sementara itu Herlin bertemu Yuuki-san yang sedang menyambut pelanggan yang datang saat ia ingin keluar dari Cafe.


"Herlin-chan, kau ingin pergi kemana?*


"Aku ingin ke rumah Iraya, aku harus memberitahukan kepada ibunya alasan kenapa ia tidak pulang beberapa hari ini."


Yuuki-san yang mendengar itu memasang ekspresi terkejut yang disadari oleh Herlin. Tapi Herlin tidak mengetahui kenapa Yuuki-san memasang ekspresi seperti itu.


"Ada apa, Yuuki-san?"


"Tidak apa-apa. Sebaiknya kau pulang dulu lalu ganti baju sebelum pergi ke rumah Iraya."


Herlin melihat pakaiannya yang saat ini ia kenakan. Ia lupa kalau saat ini ia sedang memakai baju pasien rumah sakit. Apalagi ada bekas darah di bagian pinggang kirinya.


"Anda benar. Kalau begitu aku pergi dulu, Yuuki-san."


"Selamat jalan."


**


Sementara itu di sebuah bangunan tua yang hampir roboh. Tempat yang mirip seperti sebuah gereja tua yang habis terbakar dan hanya tinggal menyisakan kerangka-kerangka bangunannya saja.


Di tengah bangunan itu, terdapat seseorang yang tengah duduk di kursi dengan tangan dan kaki terikat tali. Dengan mulut yang ditutup dengan plester membuatnya tidak bisa berteriak minta tolong.


Jangankan berteriak minta tolong, ingin makan saja rasanya susah sekali dan harus disuapi. Orang itu pun dikelilingi oleh beberapa orang yang terlihat seperti orang yang menculiknya dan menunggu uang tebusan.


Dan orang bernasib sial itu adalah aku.


"Mmhh …."


"Diamlah, kau baru saja makan tadi. Jangan merengek minta makan lagi," ucap Nimis.


Mereka mengira aku lapar. Padahal aku sedang meratapi hidupku yang sangat tidak beruntung ini. Bahkan aku yang ingin mendesah pasrah pun tidak bisa melakukannya.


Tapi aku bingung dengan yang sebenarnya mereka akan lakukan. Mereka memberiku makan dan tidak menyiksaku seperti kebanyakan tahanan lainnya. Sebenarnya apa yang mereka pikirkan, sih? Ya bukan berarti aku mau disiksa sih. Aku juga bukan masokis. Tapi aku hanya merasa janggal saja.


Saat aku sedang berpikir, tiba-tiba Caramel datang mendekatiku. Ia mendekatiku dengan jarak yang sangat dekat, bahkan hidung kami hampir bersentuhan. Ia memperhatikan iris mataku dan kemudian mengomentarinya.


"Iraya-kun, sejak kapan iris matamu berwarna oranye?"


"Mmhh … fmmhh … hhmm …."


'Aku baru saja memakai lensa kontak. Bagaimana? Bagus, kan?' tadinya aku ingin bicara begitu. Tapi karena mulutku ditutup, jadi yang keluar hanyalah suara Nezuko saja.


"Ehehe … aku tidak mengerti apa yang kau katakan."


"Jangan dekat-dekat dengannya, Caramel. Kau bisa saja dicium olehnya," ucap Ardenter.


"Hehehe … kalau itu sih aku tidak masalah."


Kau memperingati orang yang salah, oi! Seharusnya aku yang harus kau peringati begitu! Tapi selama beberapa hari berada disini dan melihat mereka, aku jadi tau beberapa kebiasaan mereka.


Pertama adalah Nimis yang selalu membentak atau berbicara kasar dengan Caramel. Sepertinya dia benar-benar membenci dan tidak suka dengan Caramel.


Lalu yang kedua adalah kedekatan Ardenter dengan Nimis. Nampaknya mereka berdua sangat dekat, seperti seorang kekasih. Tapi aku merasa kalau Ardenter takut dengan Nimis. Ia selalu saja menuruti apa yang dikatakan oleh Nimis.


Lalu yang ketiga. Aku menengok kearah satu orang yang misterius bagiku. Namanya Delta, ia mengganti topengnya karena topengnya dulu hancur karena seranganku. Ia tidak pernah bicara sama sekali. Aku bahkan bingung dia ini perempuan atau laki-laki. Tapi dugaanku sih dia itu adalah om-om berjenggot.


Dan yang terakhir adalah ketuanya. Ia biasa dipanggil bos disini, tapi aku yakin itu bukan nama aslinya. Setelah membawaku kesini, saat aku bangun aku tidak pernah melihatnya lagi. Apa dia sedang melakukan sesuatu?


Tiiing… Tiiing…


"Hn? Dari bos?"


Tiba-tiba smartphone Caramel berbunyi. Ia kemudian mengangkatnya. Ia menjauh dariku untuk berbicara. Dari yang dia bilang kalau yang menelponnya adalah bos itu.


"Halo …. Nn, semuanya terkendali …. Baiklah, aku akan menyuruh yang lain untuk bersiap …. Baik …. Dah~ …."


Setelah Caramel menutup telponnya, ia kemudian menyuruh teman-temannya bersiap untuk menyambut kedatangan bos. Apa akan terjadi sesuatu nanti? Aku tidak tau apa yang dia bicarakan tadi. Caramel kemudian melihat kearahku dan menghampiriku dengan sebuah seringai di wajahnya.


"Tunggu sebentar lagi ya, Iraya-kun."


Setelah itu ia keluar dari gedung bersama dengan anggota Assassin lainnya meninggalkanku sendiri di dalam sini. Sepertinya akan terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan bagiku. Aku menelan ludah kering karena sudah membayangkan yang tidak-tidak terjadi pada diriku.


"Semoga aku baik-baik saja," gumamku.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2