Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 112 : Satu Orang Tambahan


__ADS_3

Pagi ini aku, Herlin, Caramel, Akihito-san, Nigiyaka-san, dan Mei-senpai—secara harfiah semuanya, dikumpulkan di Haiiro Cafe yang belum buka oleh Ishikawa-san.


Aku bisa melihat ekspresi kegembiraan dari wajah Ishikawa-san yang berada di depan kami. Dan ketika kami semua sudah berkumpul, Ishikawa-san kemudian memulai percakapan dengan sebuah pertanyaan.


"Kalian semua, apa kalian tahu kenapa kalian semua dikumpulkan sepagi ini?"


"Kau mengundurkan diri?"


"Cafe ini bangkrut?"


"Mau meminjam uang?"


"Mengganggu jam tidurku?"


"Apa ada makanan enak di sini?"


"Bukan, oi! Kenapa kalian sangat pesimis ketika aku sudah berbicara?"


Mereka semua kecuali aku memberikan jawaban yang merupakan kemungkinan alasan mereka semua dipanggil pagi ini. Tapi sayangnya, jawabannya tidak ada yang waras—tapi di sini juga tidak pernah ada yang waras, sih.


Ishikawa-san kemudian melihat ke arahku yang belum memberikan jawabannya. Sebenarnya aku juga ingin menjawab dengan asal sih, cuma karena aku melihat wajah Ishikawa-san yang seperti berharap dan memohon agar aku waras membuatku mengurungkan hal itu.


"Ki-kita dapat misi baru?"


Ekspresinya kembali cerah ketika aku bilang seperti itu. "Benar sekali, Iraya-kun! Tujuanku mengumpulkan kalian semua di sini adalah karena kita akan mendapat misi baru!" ucap Ishikawa-san dengan penuh semangat.


"Hee ...." Tapi lagi-lagi mereka semua merespon biasa saja.


"Kenapa reaksi kalian biasa saja?!"


"Habisnya, bukankah itu hal yang biasa?" ucap Mei-senpai.


"Malah aneh jika kita baru mendapatkan misi hari ini," lanjut Caramel.


"Ta-tapi, kan ...." Dan Ishikawa-san kemudian duduk memojok di tembok sambil memeluk kedua lututnya. Aku bisa merasakan kalau ia terlihat sangat suram saat ini. "Tidak ada yang menghargai kerja kerasku," gumamnya.


"Yosh ... yosh .... Kerja bagus, Ishikawa-san." Sementara yang bisa aku lakukan hanyalah menyemangatinya dan mengelus-elus kepalanya saat ia sedang suram saat ini.


"Ngomong-ngomong, misi seperti yang akan kita jalani kali ini?" tanya Herlin.


Ishikawa-san mengelap air mata suramnya terlebih dahulu sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Herlin dengan semangat lagi. "Kita akan menjadi bodyguard!"


"Wah ... dia sudah tidak sedih lagi," ucap Caramel.


"Cepatnya," lanjut Mei-senpai.


Tapi tentang menjadi bodyguard, ini adalah pertama kalinya bagiku mendapat misi seperti ini. Sepertinya ini akan menjadi misi yang menyenangkan bagiku.


"Menjadi bodyguard? Di mana?"


"Yang menghubungiku saat itu adalah ketua dari White Cloud di Nagoya. Jadi kita akan pergi ke sana sekitar satu minggu lagi. Tapi masih ada yang tidak aku mengerti dengan salah satu ucapannya waktu itu."


"Apa itu?"


"Apa kalian tahu apa maksudnya 'Rainbow Cookies'?"


"Kue?"


"Aku juga berpikir seperti itu, tapi sepertinya ini tidak ada hubungannya dengan makanan."


Kami semua berpikir dan mencoba mencari tahu apa yang dimaksud 'Rainbow Cookies' itu selain makanan. Aku menengok ke arah Herlin dan ia juga mengangkat kedua bahunya yang menandakan kalau dia juga tidak tahu.


"Apa mungkin maksudnya grup idol?" Tiba-tiba Akihito-san menjawab dengan jawaban yang tidak biasa.


"Oh! Maksudmu grup idol yang terkenal itu? Kalau tidak salah nama grupnya juga adalah Rainbow Cookies."


Jadi itu yang dia maksud. Tiba-tiba aku teringat teman sekelasku yang berbicara sesuatu tentang idol yang akan konser di Nagoya, jadi yang dimaksud oleh mereka adalah grup Rainbow Cookies ini.


Kalau aku bilang aku bekerja dengan mereka sebagai bodyguard apa mereka akan iri, ya? Tapi tiba-tiba aku tersenyum karena pemikiranku sendiri barusan. Oh iya, aku lupa kalau teman-teman kelasku sudah beda, pikirku.


"Ngomong-ngomong, bagaimana kalian bisa tahu soal grup idol itu?"


"Saat kami sedang menjalankan misi, salah satu target kami tidak sengaja membawa sarung bantal yang merupakan anggota dari Rainbow Cookies. Jadi kami tahu dari sana," ucap Nimis.


"Kalau begitu kita akan berkumpul lagi di sini dan berangkat ke Nagoya lewat kereta cepat pada hari Jumat."


"Baik~"


Dengan begitu, pertemuan Black Rain singkat kali ini telah selesai dan kami akan berkumpul lagi pada hari Jumat.


**


Dan pada hari Jumat-nya, kami semua berkumpul pada sekitar pukul 6 pagi. Aku dan Caramel yang satu rumah tentu saja berangkat bersama. Bangun jam segini rupanya masih sulit untukku.


"Hoaamm ... jangan lupa kunci pintunya," ucapku pada Caramel.


"Iya~"


Karena aku malas membawa kunci rumah, jadi aku memberikan tanggung jawab untuk menyimpan kunci rumah utama pada Caramel. Sementara yang cadangan aku tinggal di bawah pot bunga.


Setelah mengunci rumah, Caramel berjalan menyusulku dan kami pun berjalan bersama menuju ke Cafe.


"Apa kau masih ngantuk?"


"Hnm? Ya begitulah, aku sampai izin absen sekolah untuk misi kali ini. Tapi bangun sepagi ini masih merepotkan bagiku."


"Kalau begitu Herlin dan Mei juga tidak sekolah hari ini?"


"Ya begitulah. Tunggu sebentar ... barusan kau memanggil Mei-senpai dengan sebutan 'Mei' saja? Mana sopan santunmu, oi."


"Ara, apa kau tidak tahu? Aku ini lebih tua dari kalian bertiga. Tapi aku senang karena kau berpikir kalau wajahku setara dengan anak kelas satu SMA, itu berarti aku awet muda."

__ADS_1


"Ti-tidak mungkin ...." Aku baru tahu kalau dia lebih tua dariku. Bahkan dia juga sudah lulus sekolah, apa-apaan perbedaan umurnya itu denganku. "Aku hanya bertanya saja, tapi umurmu yang sebenarnya ...?"


"Tahun ini aku ulang tahun ke-20."


"Hah?! Kau berbohong, ya?!"


"Oh, ayolah. Bahkan Tetsu yang lebih tua dariku saja masih kelihatan seperti anak berumur 12 tahun. Ya kan, Tetsu?"


Tetsu kemudian keluar dari pedang di punggungku dan ikut berjalan di sampingku juga. Ia dengan cerianya melompat-lompat kecil seperti seorang anak kecil yang pertama kali diajak jalan keluar oleh orang tuanya.


"Benar sekali! Umurku ini hampir 500 tahun, lho!"


"Yey! Kita lebih tua dari Iraya!"


"Yey!"


Mereka berdua dengan senangnya melakukan tos di depanku seakan umur yang lebih tua adalah pemenang. Tapi aku bukanlah yang paling muda, di sini. Masih ada Cecilia yang jauh lebih muda dariku.


"Saat aku bersatu memang aku berumur tidak lebih dari setahun, tapi kalau aku memakai salah satu ingatan tertua yang aku miliki, usiaku kira-kira sekitar 3000-an tahun."


"Ap-apa?!"


"Oh? Sepertinya dia juga kalah dari Cecilia soal umurnya." Caramel seakan bisa menebaknya lewat ekspresi terkejut dari wajahku.


"Iraya juara terakhir, yey!"


"Hah ... lagipula siapa yang memulai pertandingan umur ini?" Tetsu dan Caramel hanya tertawa mendengar suara lemasku. "Tetsu, nanti saat di kereta kau masuk kembali ke dalam pedang, ya?"


"Baik~!"


Dan tanpa kami sadari, kami sudah sampai di depan Haiiro Cafe dimana kami menjadi yang terakhir sampai. Semuanya sudah menunggu dengan beberapa dari mereka wajahnya masih mengantuk, yaitu Ishikawa-san dan Mei-senpai.


"Kalian terlambat! Bukankah kita janjian pukul enam pas?" ucap Herlin memarahi kami.


Aku melihat ke arah jam di HP milikku dan ternyata jam digital itu menunjukkan pukul 06:10. "Aku cuma terlambat 10 menit, oi!"


"Terlambat tetaplah terlambat, nanti saat latihan akan aku tambahi porsinya. Mei-senpai juga."


"Eh?! Aku juga kena?!" Mei-senpai yang tadi mengantuk langsung segar ketika mendengar porsi latihannya di tambah.


Kami berdua kemudian protes ke Herlin yang selalu kejam seperti biasanya. Tapi saat kami protes, tatapan tajam mengintimidasi Herlin membuat tubuh kami refleks untuk bersimpuh.


"Porsi latihan kalian ditambah. Mengerti?" ucap Herlin yang tidak mungkin lagi kami ganggu gugat.


"Baik ...."


"Kenapa aku juga ikut bersimpuh? Padahal aku ini kakak kelas."


Ishikawa-san kemudian menghibur kami berdua dengan janji traktiran saat kami sudah sampai di Nagoya. Dan dengan begitu, akhirnya kami pun berangkat.


Perjalanan menggunakan kereta cepat memakan waktu sekitar 35 menit. Lebih cepat dua jam daripada naik mobil—lebih murah pula. Tapi meski begitu, kami harus melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki karena kantor utama White Cloud masih lumayan jauh.


"Berisik."


"Memangnya kami siapa? Anak SD?"


Lagi-lagi jawaban yang lain membuat Ishikawa-san suram. Setelah aku bujuk dan tenangkan, akhirnya Ishikawa-san mau berjalan lagi.


Sebenarnya ini pertama kalinya aku ke Nagoya, jadi aku juga tidak bisa menjamin kalau aku tidak akan tersesat jika terpisah, makanya sebisa mungkin aku tidak terpisah dengan yang lain.


"Kau dengar itu, Herlin?"


"Aku tahu."


"Wah! Iraya, lihat itu!"


"Caramel?! Tung—Uwoogh!"


"Sudah kubilang jangan jalan sendiri-sendiri, oi!"


Padahal baru saja diperingatkan oleh Ishikawa-san untuk tetap bersama, tapi Caramel berlari ke salah satu toko yang menarik di matanya. Masalahnya dia menarik tanganku secara paksa untuk ikut bersamanya.


"Kalau begitu, mumpung lagi ada di sini aku juga akan pergi ke suatu tempat."


"Aku juga."


"Senpai, ayo ikuti mereka. Sepertinya mereka menemukan sesuatu yang menarik."


"Oi! Dengarkan aku!"


Tapi tidak ada yang mendengarkan. Mereka semua secara satu per satu pergi meninggalkan Ishikawa-san yang sekarang tinggal sendiri. Padahal mereka belum diberi tahu soal lokasi markas White Cloud.


"Rasanya aku ingin keluar dari organisasi ini," gumam Ishikawa-san.


Dan pada akhirnya kami pun membentuk menjadi dua kelompok. Nigiyaka-san dan Akihito-san katanya ingin mengunjungi suatu tempat, sementara aku dan yang lainnya menuju ke tempat-tempat menyenangkan yang bisa ditemukan di sini.


Sepertinya Ishikawa-san sudah menyerah pada kami dan HP kami semua menerima sebuah pesan dengan peta yang menunjukkan jalan menuju ke markas White Cloud.


'Sebelum jam 12 pastikan kalian semua sudah berkumpul di sini. Atau kita kehilangan misi pertama kita.' Begitulah kira-kira pesan putus asa yang dikirim oleh Ishikawa-san.


"Yosh." Adalah respon pertama dari Caramel ketika melihat pesan dari Ishikawa-san dan sepertinya tidak terlalu ia pedulikan.


"Jangan 'yosh' doang, apa kau mau kehilangan misi penting ini?"


"Ah, Iraya, kau tidak perlu terlalu serius begitu. Wah! Lihat itu! Kelihatannya enak!"


Caramel sepertinya benar-benar tidak peduli tentang misi kali ini, yang ia lakukan hanya keliling dan mencoba semua makanan di sini.


"Iraya! Coba ini!"


"Sudah kubilang! Aku—!" Belum sempat aku selesai bicara, Caramel langsung menyuapiku sebuah roti yang terpaksa harus ku kunyah terlebih dahulu sebelum bicara.

__ADS_1


Tapi ternyata roti ini lumayan juga. Potongan buah asli dan coklat serta keju di dalamnya membuatku sedikit terlena akan rasanya.


"Bagaimana?"


"Enak sekali—Eh? Bukan itu maksudku! Aku bilang kalau kita harus serius!"


"Dengar, kok. Tapi ngomong-ngomong, yang lain di mana, ya?"


Aku baru sadar kalau kami hanya berdua di dalam distrik perbelanjaan yang ramai dan sempit ini. Kami kehilangan jejak dari Herlin dan Mei-senpai.


"Gawat. Apa jangan-jangan kita tersesat?" tanyaku.


"Tenang saja, kita kan punya peta."


"Tapi tetap saja aku khawatir."


Aku mencoba berjinjit dan melihat dengan lebih jelas dari pandangan yang lebih tinggi. Dan aku melihat seorang perempuan memakai Hoodie hitam tapi tudungnya terpasang. Ia jalan menuju ke luar distrik perbelanjaan ini.


"Sepertinya aku menemukannya, ayo ikuti aku!"


"Iraya? Tunggu sebentar, aku ingin menghubungi mereka dulu."


Tapi karena berisik dan keramaian ini, aku jadi tidak bisa mendengar suara Caramel dengan jelas. Aku terus mengikuti orang yang aku kira Herlin itu dan dia berbelok ke jalan yang lebih sepi. Kini sudah lumayan sepi dan akhirnya aku pun bisa menyusulnya.


"Akhirnya aku bisa menyusulmu, Her—"


Ziinng... Swuuushh...


"...?!!"


Saat aku ingin menyentuh pundaknya dari belakang, tiba-tiba aku seperti merasakan sebuah kejutan yang membuat tanganku terpental dan aku langsung melompat mundur ke belakang.


"Iraya! Kau tidak apa-apa?!" Caramel yang berlari mengejarku langsung waspada ketika melihat yang terjadi padaku.


"A-apa-apaan itu?"


Tapi karena yang terjadi barusan juga mengibarkan tudung Hoodie dan memperlihatkan rambut orang itu. Rambut coklat sepundak dan ia pun menengok ke belakang dengan ekspresi bingung.


"Bu-bukan Herlin?"


Tapi kalau diperhatikan lebih baik lagi, warna Hoodie-nya adalah biru gelap dan ia juga memakai celana panjang. Ternyata aku memang salah orang.


"Siapa kau? Apa kalian stalker yang mengikutiku ke sini?! Menjijikkan sekali!" ucapnya.


Dia jelas terlihat seperti wanita normal yang ketakutan. Tapi aku masih penasaran dengan daya kejut yang tadi aku rasakan saat menyentuhnya.


"Ma-maaf ... aku salah mengira kalau kau adalah temanku. Aku benar-benar minta maaf."


Aku sedikit menunduk dan meminta maaf karena mau bagaimanapun, yang aku lakukan tadi cukup tidak sopan. Tapi dia malah terlihat bingung dan terkejut.


"Ka-kalian jangan-jangan ... tidak mengenalku?"


Tiba-tiba dia bertanya seperti itu. Jika ditanya seperti itu, tentu saja aku tidak tahu. Aku menengok ke arah Caramel dan ia sepertinya juga tidak tahu.


Tapi dengan Hoodie, kacamata hitam, lalu celana panjang yang ia pakai, sepertinya dia adalah orang terkenal yang sedang menyamar. Tapi aku benar-benar jarang menonton TV, jadi aku tidak tahu siapa saja orang-orang terkenal saat ini.


"Yang benar saja. Kalian masih muda dan tidak mengenalku?"


"Sayangnya begitu."


Wajah kekecewaan terlihat di wajahnya, tapi dia tidak memperdulikannya lebih jauh lagi. "Ya terserah lah, rahasiakan saja pertemuan kita di sini pada siapapun. Jika ketahuan, nanti aku bisa dimarahi manajerku."


"Baik?"


"Sampai jumpa."


Ia pun kemudian berjalan pergi dari sini. Dan saat perempuan itu sudah hilang dari pandangan kami berdua, seseorang memanggil kami dari belakang.


"Itu dia! Aku mencari kalian kemana-mana!"


"Mei-senpai?"


Yang memanggil kami adalah Mei-senpai, ada juga Herlin di belakangnya. Kami berdua sempat dimarahi olehnya dan setelah meminta maaf, kami pun bersama menuju ke markas White Cloud.


Dan lagi-lagi setelah sampai di sana, kami dimarahi oleh Ishikawa-san. Entah kenapa hari ini orang-orang jadi sering memarahiku. Kami pun masuk ke ruangan ketua White Cloud, Mushino Aoda yang sudah menunggu di sana.


"Akhirnya kalian datang juga."


"Maafkan aku! Karena beberapa kejadian kami jadi terlambat!" Ishikawa-san menundukkan kepalanya pada Mushino Aoda.


"Ya sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan. Tapi komposisi organisasi kalian cukup menarik, ya?"


"Apa?"


"Aku kira hal itu cuma rumor ...." Mushino-san kemudian melihat ke arah dua orang Assassin yang berada di dalam kelompok kami "... Tapi ternyata kalian benar-benar merekrut Assassin ke dalam organisasi kalian."


"Apa ada masalah dengan itu?" Nigiyaka-san bertanya dengan tatapan tajam.


"Tidak, kalian malah membuatku semakin tertarik. Oh iya, sebelum kita memulai membahas misinya, ada seseorang yang akan bergabung dengan kalian dalam misi kali ini."


"Bergabung?"


Setelah dipersilahkan masuk oleh Mushino-san, orang itu kemudian masuk ke dalam. Seseorang yang tidak asing bagiku, seseorang yang sempat aku lawan saat di turnamen The One. Mata kami bertatapan dan dia juga sama terkejutnya denganku.


"Oukami Yuu, dia akan bergabung dengan kalian selama misi ini."


"Ka-kau?!"


Aku dan Oukami sama-sama berteriak saat melihat satu sama lain. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Tapi sepertinya akan menjadi sesuatu yang merepotkan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2