Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 121 : Solusi


__ADS_3

Setelah sedikit berhasil menenangkan situasi dan mengurus orang-orang yang bertindak agresif, aku dan Herlin kali ini sedang berada di ruang tunggu karena para member Rainbow Cookies yang lain juga tidak lepas dari kejadian misterius ini, kecuali Arisu yang memang seorang Exception.


Arisu terlihat sangat khawatir melihat teman-temannya yang sedang terbaring tidak sadarkan diri. Padahal awalnya semua berjalan normal sebelum penerobos itu masuk dan ingin menyerang Ria.


"Apa tidak ada yang bisa kita lakukan?!" tanya Arisu.


"Aku tidak tahu penyebab pastinya, jadi aku tidak ingin melakukan sesuatu yang gegabah. Untuk saat ini yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu."


"Kalau begitu, apa mereka akan kembali seperti semula setelah mereka siuman?"


"Aku tidak tahu."


"Atau ada kemungkinan kalau mereka tidak akan bersikap agresif lagi?"


"Aku tidak bisa memastikannya."


Jawaban Herlin sama sekali tidak memberikan rasa tenang bagi Arisu saat ini. Aku yang sudah mengenalnya memaklumi hal itu karena Herlin adalah orang yang lebih mengedepankan hal logis daripada perasaan.


Tapi untuk untuk orang yang baru mengenalnya, tentu saja hasilnya tidak baik. Aku melihat kepalan tangan Arisu yang semakin menguat dan kemudian ia pun berdiri.


"Kalau begitu, akan aku cari sendiri caranya!"


"Tunggu sebentar, kau tidak boleh melakukannya." Herlin menghalangi pintu keluar dari Arisu.


"Minggir!"


"Tidak mau."


"Aku bilang minggir! Kau tidak membantu sama sekali!"


"Aku akan membantumu, tapi untuk saat ini yang perlu kau lakukan hanyalah duduk diam di sini bersama dengan teman-temanmu."


Mereka berdua sama-sama tidak ada yang mau mengalah, yang satunya panik dan yang satunya tidak peka. Aku tidak terkejut kalau hasilnya pasti akan begini.


"Kau tidak mau membantu?" tanya Cecilia.


"Aku ingin sekali membantu, tapi sayangnya aku juga tidak tahu harus berbuat apa."


Saat keduanya masih tidak mau mengalah, akhirnya Arisu duluan yang mengambil langkah. "Baiklah kalau begitu, sepertinya aku harus minta maaf pada Ria-chan dan Edna-chan nanti," gumam Arisu.


"Apa? E—?!"


Arisu melakukan inisiatif duluan dengan mencoba melakukan tendangan putaran horizontal pada Herlin. Biasanya serangan seperti itu tidak mempan pada Herlin, tapi ditambah dengan kemampuan aneh dari Arisu membuat Herlin yang menahannya terpental ke tembok sampai hancur.


"Herlin?! Oi! Bukankah itu sudah terlalu berlebihan!"


"Dia yang memintanya, padahal aku sudah berusaha menahan agar tidak menggunakan kekerasan. Kau juga!"


"Aku?"


"Jika kau juga menghalangiku, aku juga akan melakukan hal yang sama untukmu! Hh—!"


Tapi dari balik debu tembok yang hancur tadi, Herlin melesat dan menubruk tubuh Arisu dan Herlin kali ini berlutut di atas punggung Arisu sambil menahannya.


"Kau benar-benar membuatku terkejut, tapi aku tidak selemah yang kau pikirkan," ucap Herlin. Meskipun wajah dan bajunya sedikit kotor.


"Kau ... kenapa kau tidak—"


"Kenapa aku tidak terpental saat bersentuhan denganmu? Itu mudah saja."


Lah, benar juga. Aku baru sadar setelah aku perhatikan dengan baik, Herlin tidak terkena efek yang sama seperti padaku dan padanya sebelumnya.


"Aku melapisi tubuhku dengan barrier tipis transparan, barrier ini memang tidak melukai atau hal lainnya, tapi untuk sekarang ini lebih dari cukup."


"Barrier? Sejak kapan?"


"Sejak tadi."


Suara orang lain menanggapi pertanyaan Arisu, dia datang dari balik tembok yang bolong dan kemudian masuk ke dalam, terlebih lagi dia juga tidak sendirian.


"Ca-Caramel?! Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku.


"Urusan di stage utama sudah selesai dan tidak ada lagi yang bisa aku lakukan di sana, jadi aku datang kesini dan kebetulan mendengar kalian ribut."


"Kalau boleh tahu, sejauh mana kau dengar?"


"Dari sejak Herlin menghalangi pintu."


"Itu sama saja dari awal, oi!"


Dia sudah ada di sini dari awal, tapi tidak memilih untuk masuk dan malah menguping. Benar-benar tidak bisa dipercaya.


Aku kemudian melihat ke arah Herlin, padahal dia baru terkena kekuatan Arisu sekali, tapi dia dengan cepat sudah bisa menemukan solusinya dan bekerja sama dengan Caramel.


"Arisu!"


Oh iya, aku sampai lupa dengan Oukami yang juga datang bersama dengan Caramel. Dia berlari ke arahnya dan mencoba menolongnya, tapi tatapan tajam Herlin membuatnya mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Jadi kalian belum menemukan penyebabnya?" tanya Caramel.


"Ya begitulah, mereka semua sedang tidak sadarkan diri saat ini. Tapi aku tidak tahu bagaimana kondisi mereka saat bangun nanti," ucapku.


"Heh~" Caramel kemudian berjongkok dan melihat ke arah Arisu lalu bertanya padanya. "Memangnya ada yang bisa kau lakukan jika kau keluar sekarang?"


"A-Apa?!"


"Maksudku lebih baik kau berada di sini menemani mereka daripada keluyuran tidak jelas di luar. Keadaannya sedang kacau di luar dome sekarang."


"Meski begitu! Aku tidak bisa tenang jika hanya diam di sini, mungkin saja ada yang bisa aku lakukan di luar sana."


"Contohnya?"


"A—" Arisu terdiam saat ditanya Caramel. Ternyata benar dugaanku, dia memang tidak tahu harus berbuat apa saat ini.


"A-aku bisa pergi ke kantor White Cloud, lalu bertanya pada Aoda tentang yang sebenarnya terjadi. Aku yakin dia tahu sesuatu tentang kejadian ini."


"Soal itu .... Aku sudah mencoba menghubungi Ketua Aoda, tapi sampai sekarang masih belum ada jawaban darinya. Kemungkinan dia juga sedang sibuk saat ini."


Oukami memperlihatkan layar HP-nya ke Arisu dan kami semua yang terdapat sepuluh lebih panggilan terabaikan dari Mushino-san.


"Lalu jarak dari sini ke kantor White Cloud cukup jauh. Tanpa melukai para warga, pergi kesana adalah hal yang mustahil."


"Tuh, lihat. Sepertinya satu rencanamu gagal. Apa kau punya rencana cadangan?"


"I-itu ...."


"Tidak ada, ya? Sudah kuduga."


"Lalu bagaimana denganmu?! Kau terlihat sangat tenang dan santai, memangnya kau punya rencana?!"


"Tidak ada. Tapi tidak ada orang yang aku kenal di sini, jadi jika saja keadaannya bertambah buruk, aku tidak akan segan melakukannya." Caramel berdiri lalu berbalik badan dan melihat ke arah member Rainbow Cookies lainnya.


"Oi! Apa yang ingin kau lakukan?! Aku akan membunuhmu jika kau mendekati mereka!"


"Caramel!"


"Aku bercanda, kok. Ehe!"


Aku beneran tidak tahu kapan dia bercanda dan kapan dia serius. Saat aku menegurnya, ia tersenyum dan menjulurkan lidahnya jahil kepadaku tanda kalau dia hanya sedang iseng.


"Tapi sepertinya tidak ada yang menanggapi candaanku jadi ku hentikan saja."


"Akhhkh! Haakhk!"


"Ria-chan!"


Arisu memberontak dari Herlin ketika mendengar erangan Ria, sementara Herlin langsung melepasnya dan membiarkannya mendekati Ria.


"Ria-chan! Ria-chan! Apa kau bisa mendengarku?!"


Mata Ria terbuka dan melotot melihat ke arah Arisu. Tanpa jeda, ia langsung mencakar wajah Arisu yang tidak mengaktifkan kemampuannya sehingga bekas cakarannya tertinggal di sana.


"Akkhhk! Kakkhhk!"


"Ri-Ria-chan ...?"


Saat Ria ingin melancarkan cakaran kedua, Herlin telah terlebih dahulu menahan kedua tangannya dan menjauhkannya dari Arisu.


"Dia masih belum sadar. Aku harus membuatnya tidur lagi," ucap Herlin.


Tapi sebelum ia melakukannya, ia melihat ke arah Arisu yang wajahnya nampak lesu dan tidak percaya. Jadi untuk sementara waktu, ia menundanya dan membiarkan Arisu bicara dengan Ria—meskipun Herlin menahan Ria yang masih mencoba melepaskan diri.


"Kenapa ... kenapa kau tidak mengingatku, Ria-chan?! Apa kau lupa siapa aku?! Aku ini Senpai mu, idolamu! Orang yang merekrutmu masuk ke dalam Rainbow Cookies bersama dengan Edna lewat audisi! Apa kau ingat? Saat pertama kali kau bertemu denganku secara langsung, kau terlihat sangat gembira dan bilang kalau kau adalah penggemar beratku.


Apa kau juga ingat saat pertama kali aku mentraktirmu? Kau berterima kasih padaku dan bilang kalau kau akan membalasnya suatu hari nanti. Lalu saat konser pertama kita, kau juga bilang kalau akhirnya mimpimu berada di panggung yang sama denganku akhirnya bisa terwujud.


Aku masih mengingatnya dengan jelas, di antara wajah lelah dan penuh keringatmu kau masih bisa tersenyum lebar meskipun pada akhirnya kau langsung tidur di pangkuanku saat perjalanan pulang ...."


Arisu terus berbicara dan secara tak sadar ia juga mengeluarkan auranya ke seluruh ruangan ini. Air matanya juga perlahan keluar dan suaranya mulai bergetar.


"... Oleh karena itu, aku mohon padamu .... Kembalilah padaku, Ria-chan! Kembalilah normal seperti sebelumnya! Kembalilah ke dirimu yang berisik dan ceria seperti dulu! Aku mohon!"


Hembusan aura tercipta dari tubuh Arisu dan menyebar ke seluruh ruangan ini sampai sedikit mengibarkan rambut dan pakaian kami. Tapi meski begitu, tidak ada yang berubah dari kondisi Ria.


"Sepertinya membuatnya mengingat kenangan masa lalu tidak berhasil. Kita harus memikirkan—"


"Arisu ... Senpai?"


"Eh?!"


Kami semua yang ada di dalam ruangan itu terkejut ketika mendengar suara lembut dari mulut Ria, padahal sebelumnya yang keluar hanyalah erangan dan teriakan saja.


"Ria-chan! Syukurlah, kau sudah kembali."


"Kembali? Memangnya aku habis pergi darimana?"

__ADS_1


Tanpa basa basi, Arisu langsung memeluk Ria yang masih dalam keadaan bingung dan linglung. Air mata kesedihan Arisu langsung berubah menjadi air mata kebahagiaan karena akhirnya ia berhasil mengembalikan Ria menjadi seperti semula.


Di sela-sela reuni mengharukan itu, aku memperhatikan Herlin yang sedang merenung sambil melihat Arisu dan Ria.


"Apa kau paham sesuatu?" tanyaku.


"Ternyata benar kalau penawarnya adalah Arisu."


"Aku juga berpikir begitu, tapi apa dia harus bicara panjang lebar seperti tadi ke setiap individu di kota ini untuk menyembuhkan semua orang?" ucap Caramel.


"Tidak mungkin! Itu bisa menghabiskan waktu selamanya!" ucap spontan Oukami.


"Aku rasa tidak harus semuanya ...."


Herlin berbicara menggantung yang membuat semua orang penasaran, lalu ia berjalan mendekati Ria yang baru sadar.


"Ria-chan, kau sudah tidak apa-apa?"


"Herlin, Senpai bilang kalau dia kira aku tidak akan kembali. Padahal aku sendiri tidak ingat pernah pergi ke suatu tempat yang jauh."


"Begitu, ya. Lalu apa yang kau ingat sebelum berada di sini?"


"Yang aku ingat ...?" Ria mencoba mengingat apa saja yang ia ketahui. Beberapa saat telah berlalu dan Ria pun mengeluarkan jawabannya. "Aku ... tidak tahu. Ingatan terakhirku adalah saat aku masih di atas panggung lalu tiba-tiba semuanya menjadi gelap," lanjut Ria.


"Dia tidak ingat saat dirinya dikendalikan?"


"Kurasa itu hal yang wajar, seseorang yang dikendalikan biasanya tidak memiliki ingatan ketika dirinya dikendalikan."


Caramel dan Oukami memaklumi hal itu dan merasa kalau itu adalah pengetahuan umum yang diketahui oleh semua orang. Tapi bagi Ria, ia tidak tahu apa-apa soal yang beginian.


"Dikendalikan?"


"Tidak usah dengarkan mereka, mereka hanya orang aneh," ucap Herlin.


"Oi!"


Dan keduanya memberi respon yang sama di waktu yang bersamaan. Herlin tidak menanggapi respon mereka berdua dan masih terus menanyai apa yang diingat oleh Ria.


"Lalu apa yang membuatmu bangun, apa kau merasakan sesuatu yang aneh di tubuhmu?"


"Sesuatu ... yang aneh?"


Ria kembali berpikir sejenak sampai akhirnya ia mengingatnya. "Ada! Meskipun tidak terdengar dengan jelas, tapi aku bisa mendengar seseorang terus memanggil namaku. Lalu tiba-tiba tubuhku terasa hangat, kehangatannya membuatku merasa nyaman dan rileks. Setelah itu, aku baru sadar kalau yang berbicara dari tadi adalah Senpai."


"Hangat dan nyaman?"


"Tidak salah lagi itu adalah efek dari aura yang kau keluarkan, Arisu. Berkat suara dan auramu, kau berhasil menyadarkan Ria-chan dari efek kendali otaknya."


"Be-begitukah?"


Herlin mengangguk. Dia berhasil menemukan solusinya dalam waktu yang sangat singkat dengan petunjuk yang terbatas, meskipun pada awalnya itu hanyalah pemikirannya saja. Tapi tetap saja orang ini benar-benar mengerikan.


Tidak seperti yang lainnya yang mengeluarkan pendapat dan alibinya, aku di sini tidak tahu apa-apa dan hanya bisa menunggu seseorang mendapatkan jawabannya. Dan itu sudah Herlin lakukan dengan sangat baik.


Entah kenapa rasanya mengesalkan.


Aku mengepalkan tanganku dalam diam. Tapi tanpa aku sadari, Caramel mengetahui tingkah anehku dan melihat wajahku. Aku yang terlalu fokus berpikir bahkan tidak menyadari lirikan Caramel kepadaku.


"Baiklah, sekarang saatnya percobaan kedua."


Herlin lalu berjalan mendekati Edna dan kemudian menepuk-nepuk pipinya lembut. Hal itu cukup untuk membuatnya bangun dari pingsannya. Tapi sama seperti Ria sebelumnya, tingkahnya masih agresif dan menyerang siapapun yang ia lihat.


Dan dengan cekatan serta hati-hati, Herlin memegangi Edna sama seperti ia memegangi Ria sebelumnya.


"Cepat, lakukan seperti yang kau lakukan sebelumnya!"


"Ba-baik."


Arisu kemudian melepaskan pelukannya dari Ria sebentar dan berlutut di depan Edna yang mencoba menyerangnya.


"Edna? A-apa aku juga seperti itu sebelumnya?"


Tapi tidak ada yang menjawab pertanyaan Ria. Semuanya fokus pada Arisu yang masih diam menyusun kata-kata yang akan dikeluarkan olehnya. Perlahan aku juga bisa merasakan aura yang keluar dari seluruh tubuh Arisu.


"Edna-chan ... maafkan aku karena telah menyeretmu ke dalam situasi yang menyulitkan seperti ini. Tapi sekarang sudah tidak apa-apa, karena aku sudah tahu cara mengatasinya. Maka dari itu, Edna-chan ...."


Arisu menarik nafas lebih dalam sebelum menyelesaikan kata-katanya. "Kembalilah pada Senpai bodohmu ini, Edna-chan!"


Teriakan Arisu dapat terdengar dengan keras dan jelas, aku juga bisa merasakan perasaan yang kuat di dalam teriakannya barusan. Dan setelah teriakan itu, perlahan namun pasti Edna sudah mulai tidak memberontak dan pada akhirnya sinar kehidupan di matanya kembali.


"Senpai ...? Aku ada di mana?" tanya Edna linglung.


Herlin perlahan melepaskan Edna yang sudah sadar, membiarkannya membiasakan diri karena baru siuman dari teknik pengendalian otak. Tapi yang pasti, kami semua sudah menemukannya.


"Aku sudah menemukannya ...." Arisu mengepalkan tangannya dan tersenyum. Matanya penuh ambisi untuk segera menghentikan kekacauan ini. "... Solusi kekacauan ini!"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2