
Kejadian penyerangan yang dilakukan Astaroth benar-benar menggemparkan satu negara Jepang. Berita di TV, laman-laman internet, koran, bahkan pembicaraan dari mulut ke mulut semuanya tentang penyerangan itu.
Aku dan yang lainnya langsung pergi meninggalkan tempat kejadian agar tidak terdeteksi oleh media dan polisi yang akan datang ke tempat kejadian. Sebenarnya hal ini sudah tidak bisa ditutup-tutupi lagi karena dampaknya yang sangat besar.
Tapi Ishikawa-san membuat keputusan kalau sebisa mungkin identitas kami sebagai Exception tidak ketahuan oleh orang-orang. Biasanya yang menangani hal seperti ini adalah Oita-san yang menghindari pertanyaan mereka dengan berbagai alasan, tapi karena beliau sudah tidak ada makanya bersembunyi adalah keputusan yang paling tepat.
Dan yang mengurus media dan kepolisian adalah organisasi terbesar di Kuni no Hashira, yaitu Red Flame. Masyarakat saat ini lebih mempercayai para anggota Kuni no Hashira dan Exception daripada pihak kepolisian yang dinilai lambat dalam menangani sesuatu.
Pemimpin Red Flame, Kurayami Ryuzaki berjalan keluar dari ruangannya dan disambut oleh Hayashi yang memang sudah menunggu dari tadi. Terdengar sayup-sayup keributan yang berasal dari gerbang depan Dojo Red Flame.
"Ryuzaki-san, mereka dari tadi menunggu di luar. Apa perlu kuusir?" tanya Hayashi.
"Media, ya? Kita harus bersikap baik di depan kamera dan tidak perlu menggunakan kekerasan. Hal ini biar aku yang urus."
"Baik."
Ryuzaki berjalan menuju ke depan pintu gerbang dimana sudah banyak orang yang menunggu untuk mewawancarainya. Dan saat para wartawan tadi melihat Ryuzaki, mereka langsung ramai dan mencoba mendekati Ryuzaki untuk menanyakan beberapa pertanyaan kepadanya.
"Pemirsa, malam ini kami sedang berada di depan Dojo Red Flame. Banyak orang yang bilang kalau merekalah orang yang bertanggung jawab dalam menghentikan insiden monster di kota Tokyo ini."
Jepret… Jepret… Jepret…
Suara jepretan kamera mulai banyak tercipta ketika Ryuzaki keluar dari dalam Dojo. Wartawan tadi pun tertarik perhatiannya dan langsung menghampiri Ryuzaki.
"Permisi! Permisi! Boleh bertanya sesuatu?"
"Silahkan."
"Siapa nama anda dan apa kedudukan anda di sini?"
"Nama saya adalah Kurayami Ryuzaki dan saya adalah pemimpin dari organisasi bernama Red Flame ini."
"Kurayami-san! Apakah anda yang bertanggung jawab dalam menghentikan serangan beberapa hari yang lalu di Tokyo?" tanya wartawan lainnya.
"Aku dan anak buahku di Red Flame yang menghentikannya, kami berusaha sebisa mungkin untuk menyelamatkan nyawa orang-orang kota ini."
"Kurayami-san! Kurayami-san! Ada beberapa pertanyaan lagi!"
Ryuzaki terus menjawab pertanyaan-pertanyaan wartawan tadi dengan baik dan normal. Sejauh ini pertanyaan yang mereka berikan normal dan tidak ada yang aneh-aneh, sampai salah satu wartawan menanyakan sesuatu yang membuat Ryuzaki agak kesal.
"Kurayami-san! Bagaimana dengan korban-korban yang berjatuhan pada serangan kali ini? Bukankah kalian memiliki kekuatan super, apa kalian tidak bisa mencegah jatuhnya korban?"
Ryuzaki kemudian menghampiri wartawan yang menanyakan hal itu. Ia melihat wartawan tadi dengan sinis yang membuat dia sedikit ketakutan, Ryuzaki kemudian mengambil mic yang dipegangnya dan mulai berbicara.
"Dengar baik-baik, dasar orang bodoh. Diberikan kekuatan yang besar bukan berarti aku bisa menyelamatkan semua orang. Sama saja kau menyuruh seorang dokter untuk menyembuhkan pasien kanker stadium akhir dan menyalahkan dokter itu ketika pasiennya mati.
Ada sesuatu yang tidak bisa dicapai oleh seseorang bahkan dengan kekuatan yang besar. Jika kalian melihat statistik di TV tentang jumlah korban jiwa, kota Tokyo hanya kalah dari Kyoto yang memang warganya lebih sedikit dan ada seseorang yang hebat di sana.
Tapi yang kudengar kalau orang itu sudah mati …."
Ryuzaki sempat mengecilkan suaranya saat mengucapkan kata-kata bahwa Oita-san telah meninggal dengan tatapan sedih. Setelah itu ia kembali melanjutkan menjawab pertanyaan wartawan tadi.
"… Kami itu bukan dewa atau semacamnya. Kami memiliki kekuatan yang besar ditakdirkan untuk menyelamatkan nyawa orang-orang yang lebih lemah. Jika kau tidak bisa mengerti hal itu, berarti kau tidak pantas untuk menyalahkan orang-orang kuat itu dan lebih baik kau mati saja!
Tapi meski begitu, kami akan tetap terus melindungi kota ini dari ancaman yang mungkin akan datang di masa depan, kami juga turut menyesali atas jatuhnya korban jiwa."
Para wartawan yang ada di sana terdiam mendengarkan kata-kata Ryuzaki. Mereka seakan ditampar oleh perkataan Ryuzaki yang seakan meminta mereka untuk mengintrospeksi diri.
"Kurayami-san! Kurayami-san!"
Ryuzaki kemudian mengembalikan mic tadi ke wartawan dan berjalan kembali ke dalam. Ia sebenarnya sudah tidak ingin menjawab pertanyaan lagi, tapi ada pertanyaan yang menarik perhatian Ryuzaki dan sekaligus menjadi pertanyaan terakhir malam itu.
"Kurayami-san! Apakah anda bisa membuktikan kekuatan anda? Di sini juga di depan kamera?"
Ryuzaki tidak menjawabnya. Ia malah melihat ke arah langit malam yang tidak berawan. Para wartawan yang bingung dengan Ryuzaki hanya bisa mengikutinya dan kemudian menengok ke langit juga.
Blaaaaaarrr…
"UWAAHH !!!"
Tiba-tiba Ryuzaki mengeluarkan semburan api dari tangannya dengan ukuran yang tidak terlalu besar tapi tetap saja membuat kaget para wartawan. Tidak ada yang menyangka kalau Ryuzaki akan langsung memeragakannya seperti tadi.
Dan setelah Ryuzaki memeragakan kemampuan Exception, ia langsung berbalik dan masuk ke dalam Dojo nya lagi menghiraukan semua pertanyaan yang masih diberikan oleh para wartawan.
**
Piip…
Seseorang mematikan TV soal berita dari Tokyo yang memberitakan tentang serangan di Tokyo beberapa hari lalu, dan orang yang mematikannya adalah Ishikawa-san.
"Keren sekali, mengakhiri wawancara dengan gaya," ucapku kagum.
"Apa yang begitu bisa dibilang keren?" tanya Herlin.
"Tentu saja! Hmm … apa nanti aku juga akan diwawancarai seperti itu, ya? Lalu di akhir wawancara aku akan—"
"Tidak usah berkhayal. Jika ada media yang datang aku akan membuatmu pingsan agar kau tidak macam-macam."
"Tch."
Harapanku untuk tampil keren di depan TV langsung dipatahkan Herlin dengan cepat. Ngomong-ngomong beberapa hari telah berlalu setelah kejadian mengerikan yang menimpa kota Kyoto dan sekarang Ishikawa-san meminta kami semua untuk berkumpul pada malam hari ini.
"Ishikawa-san, aku punya pertanyaan untukmu."
"Ada apa?"
"Kita kan memang akan berkumpul di sini, tapi …."
"Memang begitu, tapi kenapa?"
"… Tapi kenapa mereka juga ada di sini?"
Aku menunjuk ke dua orang yang bukan bagian dari Black Rain. Mereka juga bukan pelanggan Haiiro Cafe, mereka berdua adalah Nimis dan Ardenter. Ketua kelompok mereka memang sudah berhasil Herlin bunuh, tapi kenapa mereka ikut berkumpul di sini.
Dan mereka berdua hanya duduk diam sambil meminum kopi yang dihidangkan oleh Aiza-san. Lagipula kenapa Aiza-san juga baik ke mereka, apa ada sesuatu yang aku tidak tahu di sini.
"Baca ini."
Herlin memberikanku selembar kertas dan tertulis sebuah tulisan tangan yang sepertinya aku kenal, ini adalah tulisan tangan Oita-san. Ia sepertinya tahu kalau hal seperti ini akan terjadi, makanya dia menulis surat seperti ini.
"Surat dari Oita-san?"
"Jika kalian membaca surat ini berarti Astaroth sudah berhasil dikalahkan, bagus sekali. Oh iya, soal dua orang Assassin itu kalian boleh memasukkannya ke dalam organisasi Black Rain. Sudah dulu ya, dadah❤️. Tertanda, Murasaki Oita."
Aku membaca surat itu di dalam hati. Dan setelah selesai membacanya aku hanya menghela nafas pasrah lalu membanting surat itu ke lantai.
"Apa-apaan surat ini?! Lagipula ada emote love nya di akhir suratnya! Menjijikkan!"
"Tenanglah sedikit, Satou Iraya," ucap Nimis.
"Bagaimana aku bisa tenang?!"
"Apa kau ingat bagaimana pertama kali kau bertemu dengan kami?"
"Pertama kali?"
Aku mencoba menajamkan pemikiranku sedikit untuk mengingat tentang masa lalu. Pertama kali aku bertemu dengan mereka adalah saat di Mall, mereka meledakkannya untuk menangkapku saat itu, beruntung ada Oita-san yang datang tepat waktu.
"Waktu di Mall?"
"Benar. Saat itu tanpa kalian ketahui aku membuat perjanjian dengan Murasaki Oita."
"Perjanjian?"
"Jika dia bisa membunuh bos kami, maka aku dan Ardenter akan masuk ke Black Rain."
"Be-Benarkah?"
"Sayangnya itu benar," sela Ishikawa-san.
Aku menengok ke arah Ishikawa-san, ia terlihat mengangguk-angguk kalau cerita yang diceritakan oleh Nimis itu adalah kebenaran. Lalu ke arah Herlin, dia juga tidak terlihat keberatan dengan masuknya Nimis dan Ardenter ke dalam Black Rain.
"Herlin, apa tidak apa-apa?"
"Jika ini keputusan yang dibuat Oita-san, aku akan menurutinya."
Aku menghela nafas. Sepertinya tidak ada lagi yang bisa aku lakukan, Mei-senpai juga sepertinya setuju dengan hal ini. Walaupun sebenarnya ini adalah hal bagus sih karena kekuatan organisasi kami bertambah, tapi aku takut kalau nanti ada yang tidak setuju kalau dia bergabung.
__ADS_1
Melupakan pemikiran liarku tadi, aku pun kemudian menghampiri mereka berdua dan mereka melihat ke arahku. Aku mengulurkan tanganku dan mencoba untuk mengulang semuanya dari awal, dan semua itu dimulai dari perkenalan diri.
"Salam kenal, namaku Satou Iraya. Aku adalah seorang Elemental listrik dan memiliki sebuah Spirit di dalam tubuhku, aku memberi nama Spirit itu Cecilia."
Suasana hening seketika dan entah kenapa ruangan ini berubah jadi canggung. Nimis dan Ardenter melihatku dengan tatapan aneh dan bingung. Sial! Sepertinya aku tidak perlu melakukan ini deh, aku cuma mempermalukan diriku sendiri.
"Pfft …! Ahaha …! Kau lucu juga ya, Satou Iraya."
Suasana canggung itu dipecahkan oleh Nimis dengan sebuah gelak tawa. Ia tertawa seolah hal yang aku lakukan adalah lawakan baginya padahal saat ini aku sedang menahan malu sampai ingin mati. Nimis kemudian berdiri dari tempat duduknya dan membalas jabatan tanganku.
"Namaku Nimi—tidak, sepertinya aku tidak memerlukan nama itu lagi."
"Eh?"
"Namaku Nigiyaka, aku adalah seorang Elemental api. Salam kenal, Satou Iraya. Atau bisa aku panggil Iraya-kun?"
"Namaku Akihito, kalian bisa membuang nama Ardenter pemberian bos dan memanggilku dengan nama itu."
Mereka menyambut dengan baik sambutan canggung yang aku berikan itu. Syukurlah! Aku pikir aku akan mati karena malu, dan sepertinya mereka sudah kembali menggunakan nama asli mereka. Aku tersenyum mendengar hal itu.
"Senang bertemu denganmu, Nigiyaka-san, Akihito-san."
"Ya."
Sryiing…
Tiba-tiba Nigiyaka-san menjadi siaga dan seperti akan menghadapi satu pertarungan. Ia mengeluarkan pedang dari dalam sarungnya dan mengacungkannya ke arah pintu masuk Cafe. Kami semua yang bingung dengan hal itu kemudian bertanya padanya.
"Ni-Nigiyaka-san … apa ada yang salah?"
"Ada yang menguping."
"Menguping?"
"Ehehem … seperti biasa instingmu tajam ya, Nimis?"
Seseorang masuk ke dalam Cafe dengan pakaian jubah putih yang menutupi seluruh tubuhnya dan aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tapi yang pasti aku mengenali suara itu, orang asing itu kemudian membuka penutup kepala jubahnya dan menampilkan wajah serta rambut putihnya.
"Kenapa kau di sini, Caramel?" tanya Nigiyaka-san.
"Aku menagih janji dari seseorang, itu saja."
"Menagih janji?"
"Eh?"
"Iraya, apa yang kau lakukan?" tanya Herlin.
Mereka semua terkejut ketika aku berjalan dan melindungi Caramel di balik punggungku. Benar, ini adalah masalah yang aku maksud tadi. Aku masih memiliki janji dengan anak ini. Aku tidak menjawab pertanyaan Herlin, tapi aku ingin menjelaskan hal yang terjadi sebenarnya pada mereka.
"Sebenarnya …." Aku pun mulai bercerita.
**
Beberapa waktu lalu saat aku sedang diikat di dalam reruntuhan gereja malam itu, aku mengobrol dengan Caramel mencoba merayunya agar ia bisa melepaskan ikatan ini.
Aku bisa melihat sorotan mata kesedihan yang dipancarkan oleh Caramel saat ia mengingat tentang masa lalu dan ceritanya saat ini. Dan ini adalah kesempatanku.
"Hei, Caramel. Dengarkan aku baik-baik.”
"Hn?"
"Bagaimana kalau kita membuat perjanjian?"
"Perjanjian?"
"Benar, jika kau melepaskan aku sekarang, aku akan mengalahkan Astaroth untukmu dan memberikan rumah baru untukmu."
"Me-Mengalahkan Astaroth? Maksudmu bos?"
"Iya. Jika kau melepaskan ikatanku sekarang, aku berjanji akan melepaskan ikatanmu dengan Astaroth sialan itu. Kau bilang kau kesepian, kan? Aku akan memberikan rumah dan arti keluarga yang sesungguhnya padamu."
"Kau …."
Apa kata-kataku sudah bisa melumpuhkan hatinya. Aku juga tidak tahu, lagipula hanya ini cara yang bisa aku lakukan karena jalan kekerasan sudah tidak ada harapan lagi. Aku menunggu jawaban Caramel yang masih terkejut dengan pernyataanku tadi.
Dan dia pun menertawakannya. Dengan sangat puas seakan menganggap konyol rencanaku. Sepertinya cara ini tidak berhasil, ya.
"Hah … kau benar-benar menghiburku, tahu? Mengalahkan monster bernama Astaroth itu tidak semudah mengucapkannya. Lalu bagaimana kalau kau gagal?"
"A-Aku tidak akan gagal!"
"Benarkah? Dari pandanganmu saja kau sudah ragu, apa kau benar-benar bisa mengalahkannya?"
Caramel ada benarnya juga. Yang aku tahu hanya Oita-san yang setara dengan dirinya, sedangkan aku di sini malah berbicara omong kosong mau mengalahkannya sendirian. Saat aku sedang kebingungan, Caramel kemudian berbicara lagi.
"Sungguh, ya? Kau ini benar-benar memberiku harapan yang tinggi."
"Ca-Caramel?"
Praaankk…
Borgol kubus yang menyegel tanganku tiba-tiba pecah berkeping-keping dan kedua tanganku pun bisa bergerak bebas. Aku mengecek sekali lagi apakah ini sebuah jebakan atau bukan dan setelah memeriksanya, tanganku sudah benar-benar bebas.
"Apa yang kau lakukan?" tanyaku.
"Kalau kau kalah, kita akan sama-sama mati. Tapi misalnya saja, ada suatu keajaiban …."
Caramel berjalan mendekatiku dan menyentuh ujung hidungku dengan telunjuknya. Aku masih tidak percaya kalau aku benar-benar berhasil bebas dengan cara ini. Tidak! Ini bukan saatnya kagum, bodoh! Aku harus segera keluar dari sini dan membantu yang lainnya.
"Apa lagi yang kau tunggu?!"
"Eh?"
"Segelmu sudah kulepaskan, sekarang pergi dari sini dan hajar bos bodohku itu!"
Caramel tersenyum sambil menjauhkan telunjuknya dari hidungku dan membiarkanku lewat. Aku tersenyum dan tanpa basa-basi lagi langsung melesat meninggalkan Caramel sendirian di ruangan itu.
"Aku pergi dulu."
Ia tidak menjawab salam perpisahanku. Dan saat ini hanya ada Caramel seorang diri di ruangan itu, ruangan yang gelap, dingin, dan sepi. Dalam keheningan ruangan dan sayup-sayup suara pertempuran di luar, Caramel mengambil sebuah jubah berwarna putih yang tergantung di pojok ruangan lalu memakainya.
"Misalnya saja ada suatu keajaiban dan kau menang …. Aku ingin kau menunjukkan apa itu 'keluarga', Satou Iraya."
Caramel pun kemudian pergi meninggalkan reruntuhan gereja itu dan bergabung dengan para pengungsi lain menuju ke tempat yang lebih aman.
**
Aku pun selesai bercerita. Meskipun ceritaku sudah selesai, tapi yang lainnya masih belum mengendurkan sikap waspadanya pada Caramel. Sebenarnya aku mengerti sih kenapa mereka bersikap begitu dan sekarang adalah tugasku untuk meyakinkan mereka.
"… Begitulah ceritanya."
"Jadi maksudmu dia membiarkanmu pergi begitu saja? Aku tidak percaya," ucap Nigiyaka-san.
"Kenapa?!"
"Sejak awal bertemu dengannya, aku selalu tahu kalau dia adalah penipu handal dengan wajah dan sikapnya. Bukannya kau pernah mengalaminya sendiri?"
Nigiyaka-san membuatku mengingat pertemuan pertama kaliku dengan Caramel. Memang benar kalau dia bisa merubah sifatnya jadi 180 derajat. Tapi aku tidak percaya kalau sorotan mata kesedihannya itu juga sebuah tipuan.
"Itu … memang benar, sih."
"Kalau begitu tidak ada yang perlu dibicarakan lagi."
"Tapi jika dia tidak mengeluarkanku, bisa saja kalian semua terbunuh malam itu."
Nigiyaka-san terdiam karena pernyataan yang aku berikan memang benar. Jika aku masih di segel mungkin saja kita semua mati tertimpa meteor Astaroth. Karena menurutnya menyelesaikan masalah ini dengan jalur kekerasan tidak bisa, Nigiyaka-san kemudian bertanya pada Herlin.
"Bagaimana menurutmu, Ririsaka Herlin? Apa yang akan kau lakukan?"
"Tentu saja aku akan menolaknya."
"Herlin!"
"Tapi jika dia tidak melepaskan Iraya saat itu, mungkin aku sudah mati."
Herlin tidak bisa berbuat tega begitu saja kepada Caramel karena secara tidak langsung dia yang menyelamatkan nyawanya waktu itu. Jadi Herlin tidak bisa memutuskannya secara terburu-buru.
__ADS_1
Sementara aku yang masih bingung kemudian menengok ke arah Caramel. Ia malah tersenyum saat aku melihatnya. Dia tidak membantu sama sekali, woi! Bantu aku sedikit kek!
"Aku sudah menduganya kalau tidak akan semudah itu," ucap Caramel berbisik.
"Hmm?"
"Aku masih menunggu janjimu loh, Iraya-kun. Kau akan memberikanku rumah dan memperlihatkan arti 'keluarga' untukku, kan?"
Hah … dia malah membuatku semakin tertekan. Tapi janji adalah janji, sebagai seorang lelaki aku harus menepati janjiku apapun yang terjadi. Aku mencoba meyakinkan lainnya dengan cara lainnya, kali ini aku harus berhasil.
Aku kemudian memotong pembicaraan Herlin dan Nigiyaka-san yang semakin memanas. Lagipula ini masalah yang aku buat sendiri sih, jadi mau tidak mau aku yang harus menyelesaikannya sendiri.
"Yakin tidak mau bantuan?" ucap Cecilia tiba-tiba.
"Tidak terima kasih, kali ini biar aku sendiri saja."
"Baiklah kalau begitu."
"Herlin, Nigiyaka-san."
"Hmm?"
"Ada apa?"
"Aku tahu kalau permintaanku ini egois, tapi untuk saat ini memasukkannya ke dalam Black Rain menurutku adalah pilihan terbaik. Selain menambah kekuatan kita, aku juga ingin memberikan rumah baginya. Rumahnya yang sebelumnya sudah aku hancurkan, aku hanya ingin memberinya tempat untuk pulang. Aku mohon pada kalian semua!"
Aku menundukkan kepalaku untuk memohon. Tapi Nigiyaka-san masih bersikeras untuk menolak permintaanku, dia bilang kalau hal itu adalah urusan lain dan tidak bisa dihubungkan dengan diterimanya Caramel di Black Rain.
Prook…
"Baiklah, baiklah, tidak baik untuk ribut-ribut di dalam Cafe seperti ini."
Tiba-tiba Aiza-san menepuk tangannya sekali dan keributan tadi langsung hilang seketika. Aiza-san memang hebat, tapi dia tidak berhenti di situ saja, ia kemudian berjalan menghampiri Caramel tanpa ada rasa takut.
"Yuuki-san, jangan—!"
"Tidak apa-apa Herlin-chan, aku baik-baik saja. Namamu Caramel, kan?" tanya Aiza-san kepada Caramel.
"Benar."
"Apa kau tidak punya tempat untuk pulang?"
"Iraya-kun bilang kalau dia bisa mencarikan tempat untukku pulang. Aku datang kesini hanya untuk menagih janjinya."
"Begitu, ya."
Aiza-san kemudian berbalik badan dan menghadap ke arah kami semua dan ingin berbicara sesuatu.
"Aku rasa tidak apa-apa jika dia masuk ke Black Rain."
"Apa?!"
"Iraya-kun, kau akan mengawasinya, kan? Dia bilang kalau kau akan menepati janjimu."
"Tentu saja, aku yang akan bertanggungjawab jika dia berbuat sesuatu nanti."
"Kalau begitu seharusnya sudah tidak ada masalah lagi. Benar kan, Ishikawa-san?"
"Y-Ya begitulah, lagipula jika dia berbuat masalah, dia sendiri tidak akan mungkin kuat untuk menghadapi kita semua. Jadi selama berada dalam pengawasan Iraya, aku rasa tidak akan ada masalah."
Entah kenapa itu berjalan dengan sangat baik. Aiza-san bisa dengan mudahnya membuat kami setuju. Meskipun awalnya Nigiyaka-san dan Akihito-san masih tidak bisa menerimanya dengan mudah, tapi mereka akan langsung mengeksekusi Caramel jika ia berbuat macam-macam nanti. Ternyata jiwa Assassin mereka masih ada.
Tapi meski begitu, satu masalah kini sudah terselesaikan. Aku tidak tahu hal apa yang akan terjadi ke depan tapi untuk sekarang aku ingin pulang dan tidur.
"Oh iya, Caramel-chan. Apa kau memiliki tempat untuk tidur? Kalau tidak ada kau boleh—"
"Ah, tenang saja. Aku akan tidur di tempat Iraya mulai sekarang."
"Benar, dia akan tidur di tempatku. Eh? Eh?!!"
Caramel lagi-lagi mengatakan sesuatu yang bodoh di depan semuanya, terutama Herlin. Aku tidak tahu reaksi seperti apa yang akan dia berikan saat ia mendengar hal itu, tapi aku yakin kalau yang keluar pasti tidak bagus.
"Banshee …."
"Reaksinya terlalu ekstrim, woi! Te-Tenang dulu Herlin. Caramel tidak akan melakukan yang aneh-aneh, kan?"
Caramel tidak menjawab dan hanya tersenyum yang menjadikan hal itu menjadi jawaban ambigu dan membuatnya jadi punya beribu makna.
"Ka-Kau tidak akan melakukan yang aneh-aneh, kan?"
Malam itu aku kembali melihat Banshee yang sedang dalam keadaan marah dan membuatku hampir terbang ke surga.
**
Tap… Tap…
"Selamat datang di rumahku."
Akhirnya aku bisa pulang ke rumah, tapi kali ini aku kedatangan tamu. Dengan sedikit paksaan dan rayuan maut, akhirnya Herlin setuju kalau Caramel akan tinggal di rumahku. Sebenarnya Aiza-san menyarankan Caramel untuk tinggal di panti asuhan, tapi Herlin juga menolaknya.
"Jadi ini rumahmu?" Caramel memperhatikan rumahku lumayan lama.
"Apa yang kau tunggu lagi? Ayo masuk."
Kami berdua pun masuk ke dalam. Kondisi rumah sudah rapi meskipun kondisinya gelap karena lampunya dimatikan, kemungkinan besar setelah beres-beres, Tetsu langsung tidur.
"Tidak ada yang spesial di sini, tapi karena aku punya kamar kosong jadi kau boleh memakainya. Akan aku tunjukkan kamarmu."
"Baik."
Kami berdua naik ke lantai dua, di samping kamarku ada kamar ibuku yang sudah tidak ditempati lagi semenjak kepergiannya. Jadi Caramel yang akan menempatinya mulai sekarang.
"Kamar siapa ini?"
"Ini kamar ibuku, sekarang ini jadi kamarmu. Pakai sesuka hatimu asal jangan berisik saja."
"Aku mengerti."
Aku pun meninggalkannya dan berjalan ke kamarku karena sudah lelah untuk segera tidur. Sementara Caramel masih berkeliling kamar barunya dan memeriksanya cukup lama.
Kamar yang terbilang cukup biasa. Terdiri dari satu tempat tidur besar, lalu ada lemari baju dan juga meja rias. Selain itu ada beberapa meja kecil lainnya untuk menaruh foto-foto keluarga di atasnya. Caramel kemudian melihat salah satunya di mana ada foto aku bersama dengan ibuku, penuh dengan kebahagiaan di foto itu.
"Caramel."
"A-Ada apa?"
Dia sepertinya terkejut karena aku memanggilnya secara tiba-tiba dari belakang. Lalu aku menyadari kalau dia sedang memegang salah satu fotoku bersama ibuku.
"Jika kau ingin mandi, ini baju ganti untukmu."
"Terima kasih."
"Ada apa? Foto itu …."
Caramel kembali melihat ke arah foto itu.
"Jadi dia dibunuh oleh Delta, ya?"
"Ya, itu yang membuatku masih berada di sisi dunia ini. Untuk membalas dendam kematiannya, tapi siapa sangka kalau Delta adalah teman sekelasku sendiri."
"Lalu apa yang akan kau lakukan? Apa kau mau membiarkannya hidup begitu saja?"
"Tentu saja tidak, tapi aku juga tidak tahu. Dia bukan seseorang yang aku kenal lagi."
Aku masih mengingat tatapan benci dan iri Hasuki-san malam itu. Tapi aku segera melupakannya dan memotong pembicaraan malam hari ini. Aku sudah terlalu lelah untuk pembicaraan berat seperti itu.
"Hoaamm … aku kembali ke kamar dulu, aku ngantuk."
"Baiklah, selamat tidur."
"Iya, iya."
Setelah aku keluar, Caramel kemudian menaruh foto tadi di tempatnya semula dan melihat baju yang aku berikan kepadanya.
Itu adalah baju Herlin yang lupa aku kembalikan saat kehujanan dulu, untuk saat ini aku akan meminjamkannya. Lalu Caramel mengganti bajunya dan menutup matanya.
Bersambung
__ADS_1