Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 56 : Bertemu Dengan Lawan Masing-Masing


__ADS_3

Aku, Herlin, dan Kurobane-senpai malam ini sedang menuju ke tempat kami menjalankan misi. Kalau tidak salah nama tempatnya adalah Heiwa Pharmacy. Benar, sesuatu seperti itulah.


Tapi ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku. Kami sempat berbicara dengan Oita-san di depan Cafe sebelum kami berangkat. Ada kata-katanya yang masih membuatku kepikiran.


"Kalau begitu kami pergi dulu," ucap Herlin.


"Nn." Oita-san mengangguk mengerti.


"Apa anda tidak ikut, Murasaki-san?"


"Aku tidak perlu ikut untuk misi kali ini. Karena semuanya akan baik-baik saja."


"Lalu bagaimana jika kami bertemu dengan musuh yang lebih kuat dari kami?"


"Tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja."


Saat itu ia bilang kalau semuanya akan baik-baik saja. Tapi menyerang sebuah pabrik besar dengan tiga orang. Ditambah lagi yang menyerangnya adalah anak-anak SMA. Untuk ukuran sebuah lelucon, ini sama sekali tidak lucu.


"Hah …."


Aku mengeluarkan nafas berat karena banyak hal yang tidak menguntungkan yang kami miliki.


"Kau harus secepat mungkin menghilangkan sifat pesimismu itu, Iraya," ucap Cecilia.


"Aku bukan pesimis, aku realistis."


"Apa itu berbeda?" tanya Cecilia datar.


"Akhirnya~! Aku bisa meminum darah lagi~! Darah~ Darah~ Darah~!" Tetsu bersenandung bahagia.


Pada misi kali ini aku membawa pedang Tetsu ini bersamaku—aku menamai pedangku begitu. Tetsu terdengar sangat bahagia ketika dia bisa menyerap darah lagi setelah sekian lama. Karena akhir-akhir ini aku selalu memberinya pensil sebagai upahnya karena telah membersihkan rumah, tidak heran jika ia sangat bersemangat dalam misi kali ini.


"Kita sampai," ucap Herlin.


Setelah beberapa lama berjalan, kami akhirnya sampai di sebuah pabrik obat besar. Kami pun bersembunyi di balik sebuah rumah yang berada tak jauh dari pabrik tersebut.


Sebelum masuk, kami mengatur strategi untuk menyergap dan dapat melakukan misi ini seefektif mungkin dan kalau bisa, sebisa mungkin tidak menimbulkan banyak korban jiwa.


"Baiklah, mulai dari sini yang akan maju adalah kalian berdua," ucap Herlin.


"Hah?! Bagaimana denganmu?"


"Aku yang berdiam disini dan membantu kalian dari jarak ini. Aku akan sebisa mungkin menahan pergerakan mereka dengan kekuatan gravitasi ku. Jadi dengan begitu, kalian akan bebas masuk dan menghancurkan eksperimen mereka."


Herlin menjelaskan panjang lebar tentang strategi yang ia pakai kali ini. Aku sedikit mengintip ke arah pabrik itu dan melihat banyak penjaga dengan seragam tempur lengkap dan persenjataan yang tidak bisa diremehkan.


Kemudian aku berpikir kembali dan akhirnya menyetujui rencana Herlin. Karena ini adalah rencana yang paling efektif daripada harus membuang tenaga melawan mereka. Senpai pun juga mengangguk setuju dengan rencana itu.


"Aku rasa itu yang terbaik," ucap Senpai.


"Kalau begitu …."


Herlin kemudian menengok ke kanan dan kiri seperti mencari sesuatu. Ia kemudian menemukan sebuah pohon yang berukuran lumayan besar dan berjalan kearahnya.


"Aku akan melakukannya dari sini. Ini membutuhkan sedikit waktu, jadi aku akan memberitahukan kepada kalian jika prosesnya sudah selesai."


Kami berdua pun mengangguk. Setelah itu, Herlin menaruh satu lututnya di tanah dan berdiam dalam posisi terlutut. Ia kemudian memejamkan matanya dan bersiap memulai prosesnya.


Setelah beberapa menit berlalu, aku dan Kurobane-senpai mulai merasakan aura yang sangat besar sedang melesat di bawah pijakan kami. Selain itu, aku juga sudah tidak merasakan hawa keberadaan Herlin lagi dan berfokus ke aura yang secara masif melesat ke bawah dari pabrik tersebut.


"Perempuan ini hebat sekali! Aku jadi ingin meminum darahnya~!" ucap Tetsu.


"Dia menghilangkan hawa keberadaannya dengan sempurna dan secara bersamaan mengalirkan aura yang super besar ke bawah gedung itu. Dia benar-benar hebat," puji Cecilia.


Dua Spirit ini—Cecilia dan Tetsu yang biasanya sombong dan meninggikan dirinya sendiri tiba-tiba memuji Herlin. Berarti apa yang dilakukan Herlin saat ini benar-benar hebat.


Herlin mengernyitkan dahinya dan memeriksa banyaknya orang yang ada di pabrik itu. Ia bisa memastikan jumlah orang yang berada di area pabrik itu dengan mengecek getaran yang dilakukan oleh manusia tersebut. Apalagi dengan aura yang Herlin alirkan dibawah pabrik ini, membuatnya semakin memudahkannya untuk mengetahui jumlah orang yang ada disitu.


"Delapan pulu—tidak, kira-kira ada seratus orang yang berada di dalam pabrik itu. Kebanyakan dari mereka adalah orang biasa. Tapi …." Kata-katanya tergantung.


Ia mendeteksi kalau ada satu orang yang memiliki aura yang sangat kuat. Tidak salah lagi, ia adalah seorang Exception menurutnya. Setelah beberapa saat, Herlin membuka matanya secara perlahan.


"Kalian bisa berangkat sekarang. Aku akan membantu kalian dari sini."


Kami berdua mengangguk dan memandang satu sama lain lalu kemudian tersenyum.


"Misi pertamaku …."


"Misi ketigaku …."


Prok…


"… Dimulai!"


Kami mengucapkan itu secara bersamaan dan mengakhirinya dengan tos sebelum akhirnya berangkat. Herlin yang melihat hal itu hanya bisa memandangi tingkah mereka berdua saja. Ia kemudian menghela nafas berat.


"Sekali-kali saja mungkin tidak apa-apa," gumamnya.


**


Para penjaga pabrik saat ini sedang sangat fokus. Mereka tidak ingin ada penyusup yang berhasil masuk ke dalam pabrik ini tanpa sepengetahuan mereka seperti beberapa hari lalu. Dengan memegang senjata api dan peralatan lengkap, setidaknya itu bisa menakuti orang yang melihatnya. Setidaknya itu yang mereka harapkan.


Tapi para penjaga itu terkejut ketika siluet seseorang muncul dari dalam kegelapan malam. Para penjaga gerbang yang terdiri dari tiga orang itu mulai bersiap dengan senjatanya.


Siluet itu berjalan semakin mendekat dan ketika sorot lampu mengarah kepadanya, barulah sosoknya terlihat. Seorang laki-laki remaja dengan sebuah pedang di punggungnya—Iraya.


"Apa yang kau lakukan disini, nak? Cepat pulang sana!" ucap salah satu penjaga itu sambil mengarahkan senjata apinya.


"Yah… sebenarnya aku ingin sekali untuk pulang dan tidur, tapi ada hal merepotkan yang harus ku selesaikan. Jadi aku mohon kerjasamanya, ya."


"Dasar bocah! Kami tidak main-main!"


Jari telunjuk para penjaga itu telah mendekat kearah pelatuk senjatanya masing-masing dan bisa kapan saja menembakiku.


Tapi aku masih santai dan dengan tenangnya menarik pedangku dari sarungnya. Tetsu sudah bersemangat dan sangat menantikan hal ini. Ia pun tidak bisa menyembunyikan rasa gembiranya dan kemudian berteriak.


"Selamat makan!"

__ADS_1


Sryiiingg…


Aku melesat dengan sangat cepat menuju ke arah mereka. Para penjaga itu tidak tinggal diam dan ingin segera menembakiku. Tapi jarinya tidak bisa menarik pelatuk senjatanya dan seperti tertahan oleh sesuatu.


"Ap— Apa yang terjadi?!"


"Tu-Tubuhku … tidak bisa bergerak!"


Dari tempat yang aman, Herlin yang sedang fokus merasakan aura Iraya yang melesat dengan cepat kearah tiga orang. Ia pun langsung menahan pergerakan ketiga orang tersebut dan membuat Iraya bebas menyerangnya.


Craasshh… Craasshh…


Sementara Iraya, dengan mudahnya menebas senjata api mereka menjadi potongan-potongan kecil dan menusuk serta menebas bagian tubuh seperti tangan dan kaki agar mereka tidak bisa bergerak, tapi sangat menghindari bagian vital.


"AarrgGhh…!"


"Maafkan aku! Aku sudah berusaha selembut mungkin!"


Teriakan-teriakan para penjaga itu menjadi suara yang mendominasi di malam itu. Para penjaga yang mendekati Iraya semuanya langsung tidak bisa bergerak karena ditahan pergerakannya oleh Herlin dari jarak yang tidak bisa mereka serang.


Tiit… Tiit… Tiit…


Sirine peringatan kembali berbunyi malam itu dan membuat para peneliti yang ada di dalam gedung panik dan berada dalam kekacauan.


"Apa yang terjadi?!"


"Kita diserang!"


"Lagi? Kali ini ada berapa orang yang menyerang kita?"


"Satu!"


"Satu?! Apa kau bercanda?! Apa yang dilakukan para penjaga itu diluar?"


"Hampir keseluruhan dari penjaga kita telah dikalahkan oleh orang itu."


"Sial! Orang-orang itu tidak berguna! Oi Delta! Apa yang sedang kau lakukan?! Cepat pergi kesana dan kalahkan orang itu!"


Orang berjubah itu—Delta yang dari tadi hanya diam memperhatikan para peneliti itu panik, setelah disuruh ia menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda permisi dan kemudian dengan cepat pergi dari tempat itu.


Sementara tanpa para peneliti itu sadari, Kurobane-senpai bersembunyi di ventilasi udara dan sedang memperhatikan mereka dari tadi. Ia memeriksa ke sekitar ruangan itu dan melihat ada banyak sekali tabung-tabung kaca yang berisikan manusia.


"Jadi ini eksperimen yang mereka maksud?" gumamnya.


Klaang…


Setelah memastikan kalau orang berjubah itu telah pergi dari ruangan itu, Kurobane-senpai langsung menendang penutup ventilasi yang berongga itu dan langsung berada tepat dihadapan para peneliti tadi.


"Hup!"


"Ka-Kau… Siapa kau?!"


Peneliti itu terlihat ketakutan saat melihat kedatangan Kurobane-senpai yang tiba-tiba. Tapi Kurobane-senpai membalas ekspresi ketakutan mereka dengan sebuah senyum manis.


"Maafkan aku, tapi sepertinya anda harus tidur lebih cepat."


Buukk… Buukk…


Kedua peneliti itu jatuh pingsan ketika mendapatkan dua pukulan telak tepat ke arah perutnya. Setelah melakukan sedikit peregangan dan mengusap tangan ia pakai untuk memukul tadi, Kurobane-senpai berjalan menuju tabung-tabung kaca itu untuk memeriksanya.


Ia melihat manusia-manusia yang ada di dalamnya. Menutup matanya seperti sedang tertidur pulas tanpa memakai busana sehelai pun. Ia mendecakkan lidahnya dan mengutuk orang yang melakukan hal ini.


"Mengerikan."


Ia mengatakan hal itu tapi di lain sisi juga merasa iba dengan mereka. Tanpa tahu apa-apa, mereka terseret ke sisi dunia ini.


Kurobane-senpai memeriksa apakah ada sesuatu yang ia bisa gunakan untuk membebaskan mereka. Ia kemudian melihat sebuah papan dengan banyak sekali tombol disana. Ia lalu menghampirinya.


Ia melihat kearah tombol-tombol itu dan mulai berpikir ingin menekan yang mana. Tapi ia tidak bisa melakukannya secara sembarangan. Karena jika ia salah memencet tombol, maka bisa saja terjadi hal yang tidak diinginkannya.


Kurobane-senpai kemudian menekan sebuah tombol yang dibawahnya terdapat tulisan 'Release'. Tapi tabung-tabung itu tidak bereaksi apa-apa dan malah mengarahkannya ke tombol-tombol lain dengan angka-angka di bawahnya.


"I-Ini …."


Kurobane-senpai saat ini sangat ragu dengan apa yang sedang ia lakukan. Tapi meski begitu dengan tekad yang kuat, ia meningkatkan keberaniannya dan terus melanjutkannya.


"Wajarkan kalau aku takut salah? Eheheh … Tapi, Bagaimana kalau kita coba satu dulu … boleh?"


Ia lalu memencet tombol dengan angka satu dibawahnya. Dan kemudian sebuah tabung kaca bereaksi.


Jesss… Bluub… Bluub…


Tabung kaca itu sedikit demi sedikit air di dalamnya mulai berkurang dan setelah semua hilang, kaca tabung tersebut terbuka dan membuat manusia di dalamnya jatuh ke bawah.


"Berhasil!" ucap Kurobane-senpai.


"Kalau sudah begini, kita tinggal menekan tombol angka sesuai dengan jumlah tabungnya dan—"


Blaaaarrr…


Sebuah semburan api melesat ke arah Kurobane-senpai yang sedang sibuk menekan tombol-tombol tadi. Tapi dengan refleks nya yang cepat, Ia berhasil menghindari serangan api itu dengan sempurna.


"Siapa disana?!"


Tap… Tap… Tap…


Kurobane-senpai berteriak untuk memastikan siapa orang yang menyerangnya. Sebuah siluet kemudian berjalan mendekat kearahnya secara perlahan. Dan setelah terkena cahaya lampu yang cukup, barulah ia bisa melihatnya dengan jelas. Kalau yang menyerangnya adalah orang berjubah yang seharusnya pergi ke tempat Iraya saat ini.


"Jadi kau tidak jadi pergi ke tempat Satou-kun, ya?"


"U-Urrgh …."


Salah satu peneliti itu telah sadar dari pingsannya dan kemudian ia melihat Delta disana.


"Ah! Delta! Ada penyusup lainnya disini! Ciri-cirinya adalaAKhh—!"


Sebelum peneliti itu menyelesaikan kata-katanya, Kurobane-senpai mengarahkan angin yang cukup kencang ke arah kepalanya yang membuat kepalanya terbentur lantai dan kemudian pingsan lagi.

__ADS_1


"Kau tidur saja lagi."


Delta yang melihat apa yang dilakukan Kurobane-senpai hanya melirik sedikit dan kemudian kembali fokus kepada Kurobane-senpai. Ia seperti tidak peduli dengan apa yang terjadi kepada peneliti tadi.


Kurobane-senpai kemudian sudah melakukan kuda-kuda dan bersiap untuk menghadapi Delta. Sementara Delta hanya berdiri saja, tapi sepertinya ia sudah sangat fokus dari tadi. Pertarungan mereka akan segera dimulai.


Di waktu yang bersamaan tanpa mereka berdua sadari, orang yang telah Kurobane-senpai keluar dari tabung tiba-tiba tersadar dan membuka matanya sedikit.


"Di-Dimana … ini …?"


**


Sementara itu di area luar pabrik, Iraya sedang menghadapi puluhan penjaga bersenjata sendirian—tidak sendirian juga, sih. Pertama, ia dibantu oleh Cecilia dan Tetsu, lalu juga ada Herlin yang membantu menghentikan pergerakan yang lainnya. Jadi dia sama sekali tidak sendirian.


Craasshh…


"GAaakKkh…!"


Satu orang penjaga terakhir telah dikalahkan olehku barusan. Jadi total aku telah melumpuhkan kira-kira 76 orang penjaga. Jika dari pengamatan Herlin tadi ada kira-kira 100 orang, berarti masih ada 24 orang lagi. Apa sisanya adalah peneliti semua ya? Ya bisa jadi sih.


"Iraya!"


"A-Ada apa sih, Tetsu?! Jangan teriak tiba-tiba gitu dong."


"Darahnya kurang! Aku belum kenyang! Aku masih mau makan!" rengek Tetsu.


Aku paham kenapa dia merengek begitu. Karena aku hanya menebas senjata dan sedikit anggota gerak tubuh mereka. Jadi tentu saja darah yang didapatkan Tetsu sangat kurang.


"Mau lagi! Aku mau lagi! Mau lagi! Mau lagi!"


"Baiklah! Baiklah! Aku akan mencari orang lagi, jadi jangan berteriak-teriak lagi, oke?"


"Huu… Oke …."


Dari nada suaranya, sepertinya dia menangis lagi. Tapi dia sudah menjawab "Oke" tadi. Jadi untuk sementara waktu aku akan aman dari teriakannya.


"Dasar pembuat nangis anak orang," ucap Cecilia tiba-tiba.


"Apa kau ingin ngajak berantem sekarang?" balasku datar.


Saat kami bertiga sedang dalam perdebatan internal, tiba-tiba ada orang aneh yang mendekati kami. Orang dengan jubah panjang dan topeng aneh. Ia kemudian berhenti beberapa meter di depanku.


Aku yang bingung dengan gelagat orang berpakaian aneh ini hanya bisa menyapanya dengan canggung.


"Etto … H-Hallo, mungkin?"


"Kau ini ucap 'hallo' aja tidak benar, bagaimana mau dapat teman baru nanti?"


"Berisik," balasku cepat.


Ia terdiam dan tidak membalas sapaanku. Apa jangan-jangan dia ini musuh? Aku langsung memasang posisi waspada dan bersiap apabila ia melakukan serangan tiba-tiba.


Orang berjubah itu tiba-tiba mengangkat tangannya setara dada. Apa dia mau mengeluarkan sesuatu lewat telapak tangannya?


"Iraya hati-hati, aura yang ia miliki lumayan kuat," ucap Cecilia.


Jadi dia musuh? Aku kemudian mengeluarkan auraku dan bersiap jika ia akan menyerangku. Tapi tiba-tiba, ia melambaikan tangannya dan seolah membalas ucapan 'hallo' ku tadi.


"Eh?" Aku dan Cecilia terkejut secara bersamaan.


Orang berjubah itu melakukan sesuatu yang tidak terduga. Apa dia itu bukan musuh? Apa dia itu korban eksperimen? Aku tidak paham maksud dari tingkah lakunya sama sekali.


Kliink… Kliink… Kliink…


Tapi setelah itu, ia mengangkat tangannya tinggi dan diatasnya tercipta ratusan jarum es yang siap untuk menghujaniku. Aku yang sempat lengah secara cepat kemudian kembali dalam posisi siaga.


"D-Dia musuh?!"


"Lompat ke kiri sekarang! Atau kau akan mati! Cepatlah!"


Daarr… Daarr… Daarr…


Teriakan Tetsu yang memperingatkanku seirama dengan lompatan ku yang cukup jauh ke arah kiri dan berhasil menghindarinya. Bekas dari serangannya benar-benar menghancurkan pijakanku sebelumnya.


"Dia kuat juga. Tapi …."


Aku kemudian berdiri dan kembali mengambil kuda-kuda menyerang.


"… Kali ini aku yang akan menyerang. Apa kalian berdua siap?!"


"Ya!" ucap Cecilia dan Tetsu bersamaan.


**


Sementara itu di tempat Herlin, ia masih fokus untuk mengamati Iraya dan Kurobane-senpai dari tempat yang aman. kali ini ia yang akan mengambil peran sebagai support dan mempercayakan sepenuhnya kepada mereka berdua.


"Di dalam pabrik, Senpai sedang melawan satu-satunya orang kuat yang terdeteksi olehku tadi. Dan Iraya …."


Dia mengernyitkan dahinya dan menemukan suatu fakta yang membuatnya cukup terkejut.


"Auranya sama dengan yang dilawan Senpai, tapi ia lebih kuat. Apa mereka orang yang sama—tidak, itu adalah klonnya?" gumam Herlin.


"Benar sekali."


"…?!!"


Herlin terkejut karena ada seseorang yang membalas gumamannya. Ia sedikit kehilangan fokus untuk sementara tapi sesaat kemudian, ia bisa kembali mengontrol fokus dan kekuatannya. Setelah tenang, ia kemudian menengok ke sumber suara.


Tap… Tap…


"Selamat malam. Apa yang sedang kau lakukan disini malam-malam begini?" ucapnya dengan sopan.


Herlin tidak merasakan keberadaannya saat ia mendekat kesini. Dan dia berhasil mengetahui keberadaannya walaupun ia sudah menutupi hawa keberadaannya.


Siapa dia sebenarnya?


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2