
Kejadian penyerangan di salah satu mall di kota Kyoto tersebar dengan cepat. Acara berita TV menayangkan siaran langsung dari tempat kejadian. Banyak masyarakat yang mengira ini adalah bagian dari serangan ter0ris, ada juga yang menganggap ini adalah kelakuan orang iseng.
Tapi yang bilang ini adalah perbuatan orang iseng hanyalah orang bodoh, masalahnya orang iseng macam apa yang berani meledakkan mall.
Sudah banyak juga polisi yang datang dan berjaga di sekitar area mall. Garis polisi melintang di depan pintu utama mall yang membuat seluruh aktivitas mall berhenti total.
Para wartawan juga tidak ketinggalan datang mengerubungi mall dan mewawancarai saksi mata yang bisa mereka temui. Bagi mereka ini adalah berita yang bisa membuat perusahaan mereka untung besar.
Sementara saat seluruh kekacauan itu terjadi di mall, saat ini aku dengan santainya malah minum kopi sambil menonton berita tersebut di Haiiro Cafe.
Sebelum ramai orang yang datang ke mall tersebut, kami sudah pergi duluan dari sana agar tidak menjadi tersangka. Padahal tubuhku sudah sangat lelah dan ingin segera pulang, tapi Herlin bilang ada yang ingin dibicarakan oleh Oita-san.
"Herlin, sebenarnya apa yang sedang kita tunggu?"
"Oita-san. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dia bicarakan dengan kita," ucapnya yang masih fokus dengan HP-nya.
Aku memperhatikan kondisi Herlin saat ini. Pelipisnya yang tadi berdarah kini sudah ditutup dengan plester dan selebihnya lukanya hanyalah lecet biasa.
Kriiett...
Dan kemudian seseorang membuka pintu dari ruangan Oita-san—yang tentu saja itu adalah Oita-san. Ia masih mengeluarkan senyum ramah seperti biasanya dan aku berpikir kalau ini adalah pembicaraan biasa yang menyangkut tentang penyerangan barusan.
Kami berdua disuruh masuk ke dalam ruangannya dan Oita-san pun langsung duduk di kursinya. Keheningan canggung sempat menyerang kami bertiga dan tidak ada yang mau membuka obrolan. Jadi pada akhirnya, akulah yang membuka obrolan.
"Jadi, apa yang ingin anda bicarakan?" tanyaku.
"Sepertinya kalian berdua melakukan sesuatu yang tidak kuketahui, ya?"
Sesuatu yang tidak Oita-san ketahui? Tunggu, jadi ini bukan tentang penyerangan barusan. Lagipula apa Herlin ada hubungannya dengan hal ini. Aku sama sekali tidak ingat.
"Apa ada hal yang seperti itu?"
"Herlin-chan, aku ingin mendengar penjelasannya darimu," ucap Oita-san.
Aku menengok ke arah Herlin dan ia pun menghela nafas lemas seperti orang yang sudah ketahuan melakukan sesuatu. Dan di sini aku masih bingung apa yang sebenarnya kita lakukan.
"Sepertinya aku sudah tidak bisa menutupinya lagi. Ya, cepat atau lambat memang pasti ketahuan sih."
"Herlin, sebenarnya apa yang sudah kita lakukan?" bisikku.
"Para Beast yang menyerang sekolahmu. Apa kau lupa, Iraya-kun?" tanya Oita-san.
"Gekh—!"
"Apakah kau tahu kalau mereka mengetahui keberadaanmu dengan serangan The Beast itu?"
"I-itu ...."
Jadi soal itu, ya. Aku tidak menyangka perbuatanku waktu itu akan mengakibatkan masalah di masa depan. Tapi waktu itu aku hanya fokus pada balas dendamku pada Hasuki-san, sih.
"Kalau begitu, akan aku ceritakan semuanya."
Kemudian Herlin pun menceritakan penyerangan The Beast di sekolah beberapa bulan lalu. Jantungku berdebar menunggu cerita Herlin selesai. Oita-san pasti akan menghukumku karena akibatnya jadi sebesar ini.
".. Jadi begitulah ceritanya."
"Hah ...."
Oita-san hanya menghela nafas setelah mendengar semua yang diceritakan oleh Herlin. Saat sedang tegang menunggu hukuman apa yang diberikan oleh Oita-san, tiba-tiba ia mengangkat kedua tangannya dan melambai beberapa kali seolah menyuruh kami mendekat.
Ctaak... Ctaak...
"Aduu—!"
"Kenapa aku juga kena?" ucap Herlin.
Oita-san menyentil dahi kami berdua yang membuat kami kesakitan dan memegangi dahi kami berdua yang memerah. Herlin juga terlihat terkejut karena dirinya juga ikut menerima hukuman yang sama denganku.
"Iraya-kun."
"I-iya?""
"... Apa kau tau kenapa para Assassin dari perusahaan itu mendatangi kalian?"
"Karena keributan yang Herlin buat di sekolah?"
"Oi! Jangan buat seakan-akan semua itu salahku," ucap Herlin menyela.
"Kalian berdua ini belum terlalu kuat untuk melawan para Assassin itu. Terutama kau, Iraya-kun. Kau masuk kesini karena punya tujuan untuk balas dendam pada mereka, kan?"
"Benar."
"Setidaknya latih dirimu sampai kau yakin kau bisa menang dengan para Assassin itu dalam pertarungan satu lawan satu."
"Aku mengerti."
"Dan juga kau Herlin ...."
"... Aku tau kau memiliki kemampuan untuk melawan mereka, tapi aku tidak menyangka kau membantu Iraya-kun dalam hal seperti itu."
"Ma-maaf. Aku pikir aku bisa membantunya dengan cepat menggunakan cara ini."
"Hah ... sepertinya sentilan di dahi itu belum cukup untuk hukuman kalian kali ini. Besok aku akan ikut datang ke latihan kalian, aku yang akan mengetes kalian secara langsung."
__ADS_1
"Baik," ucap kami berdua bersamaan.
**
Dan keesokan harinya setelah kami pulang sekolah, Oita-san benar-benar datang ke bukit belakang untuk memperhatikan latihan kami. Dan nampaknya ia tidak sekedar hanya memperhatikan saja, tapi juga ikut melatih kami berdua.
"Hah ... Hah ... Hah ...."
"Ada apa? Apa kalian sudah lelah? Padahal yang aku berikan hanya serangan ringan saja."
"Hah ... ma-maaf."
Serangan ringan apanya dan ini sudah tiga jam! Tiga jam aku dan Herlin melakukan sparing dengan Oita-san tanpa istirahat sedikitpun. Ini bukan sparing lagi namanya, ini siksaan, woi!
Tapi aku hanya bisa berteriak dalam hati. Aku rasa ini adalah hukuman yang harus aku dan Herlin jalani akibat penyerangan The Beast di sekolahku waktu itu. Tapi sepertinya ini sudah terlalu berlebihan, bahkan sebuah keajaiban aku masih bisa berdiri dan tidak pingsan.
"Ehehe ... mana stamina yang kau bilang adalah kekuatanmu?" ucap Cecilia meledek.
"Diam. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu."
Aku melirik ke arah Herlin yang ada di sebelahku, sedang memasang kuda-kuda bertahan. Aku tidak bisa melihat ekspresi kelelahan dari dirinya, tapi keringat tentu membasahi wajah dan tubuhnya saat ini.
"He-Herlin—"
"Jangan bicara. Fokus pada serangan Oita-san selanjutnya."
Ini adalah pertama kalinya aku melihat Herlin sangat serius di sebuah sparing biasa. Kemampuan Oita-san benar-benar diluar jangkauan kami berdua.
Sebenarnya selain sparing selama tiga jam tanpa henti yang membuat stamina kami terkuras, aura mengintimidasi yang dikeluarkan oleh Oita-san juga menjadi salah satu penyebab kami berdua cepat kelelahan.
Aura hitam keunguan yang membuatku ingin muntah ketika didekati. Beruntungnya Oita-san tidak mengeluarkannya terlalu banyak atau hal itu akan menjadi hal yang gawat.
"Ini yang terakhir! Bersiaplah!" teriak Oita-san.
Ini adalah serangan terakhir Oita-san. Aura yang ia keluarkan kali ini lebih besar dan pekat dari yang sebelumnya. Untuk melindungi tubuhku, aku mengeluarkan aura yang aku gunakan untuk melapisi seluruh tubuhku—Begitu juga dengan Herlin.
"Aku datang!"
Oita-san melesat dengan cepat ke arah kami berdua. Tapi aku dan Herlin untuk kali ini tidak menghindar, melainkan maju berniat untuk mengadu kekuatan dengan kekuatan yang kami miliki.
Zwuushh... Zwuushh... Blaaarrrr...
Saat itu, suara ledakan dapat terdengar sampai jarak sekitar satu kilometer di sekitar area bukit belakang.
Glek... Glek...
Aku dan Herlin sedang duduk bersandar di bawah pohon sambil meminum air yang dibawakan oleh Oita-san. Keringat bercucuran dari wajah kami berdua tapi Oita-san tidak terlihat kelelahan meskipun setelah mengeluarkan aura yang banyak seperti tadi. Stamina orang ini benar-benar tidak waras.
Kami berdua tidak menjawab karena masih mencoba menghilangkan rasa lelah yang menguasai aku dan Herlin saat ini. Oita-san kemudian tersenyum memperhatikannya dan kemudian berjalan pergi.
"Anda mau kemana, Oita-san?" tanyaku.
"Aku memiliki janji dengan seseorang malam ini, jadi aku pamit pergi duluan," ucap Oita-san yang kembali melanjutkan langkahnya.
Sepertinya ia benar-benar orang yang sibuk. Tanpa beristirahat lebih lama di sini, Oita-san langsung pergi menuju ke tujuan lainnya. Orang sibuk memang beda. Tapi saat aku sedang berpikir tentang Oita-san, Herlin berdiri lalu melihat ke arahku.
"Hmm? Ada apa?
"Sebelum pulang, aku ingin kau menunjukkannya kepadaku."
"Me-Menunjukkan apa?!"
"Spirit milikmu, memangnya apa lagi yang bisa kau tunjukkan?" ucapnya polos.
Ah seperti itu ya, aku kira dia ingin melihat sesuatu yang lain. Ternyata hanya melihat Cecilia. Kata-katanya ambigu, sih.
"Hentai," ucap Cecilia di dalam kepalaku.
"Diam kau."
Herlin sepertinya menyadari ucapanku barusan dengan Cecilia. "Apa kau mengatakan sesuatu? Apa jangan-jangan latihan tadi juga membuatmu jadi tidak waras?"
"Bu-Bukan begitu ...."
Masalahnya bukan aku tidak mau menunjukkannya atau tidak, tapi ini semua berada di tangan Cecilia yang tidak bisa aku campuri. Aku harap dia bisa mendengar suara hatiku ini dan keluar dengan sendirinya.
"Heh~ Pada akhirnya kau memohon padaku? Setelah perilaku buruk yang kau lakukan kepadaku?"
Ternyata ia memang jago kalau soal membaca suara hati. Tapi aku tidak ingat kalau aku pernah berbuat buruk padanya. Aku mohon Cecilia, aku harap kau bisa menuruti permintaanku yang satu ini.
"Kumohon."
"Hn?" Herlin tentu saja bingung ketika aku kembali bicara sendiri. Tapi saat ini aku sedang tidak bicara dengannya.
"Hah ... kalau soal memohon kau memang tidak ada lawannya."
Syiing...
Tiba-tiba setelah aku memohon, tubuhku bersinar terang yang membuat Herlin memicingkan matanya dan sedikit mundur. Sinar itu lama kelamaan berubah menjadi kehijauan dan partikel-partikel cahaya tadi berkumpul di sebelahku dan menumpuk menjadi sosok manusia.
Sinar kehijauan tadi kemudian menghilang dan kali ini tubuh Cecilia muncul secara utuh dan sempurna. Rambut panjang hijau dan baju terusan putih polos. Sudah lama sekali aku tidak melihat wujudnya secara langsung, biasanya aku hanya mendengar omelan berisiknya saja.
"Jadi, apa yang kau inginkan dariku?" ucap Cecilia dengan sedikit judes.
__ADS_1
Setelah cahayanya menghilang, Herlin kemudian berjalan mendekati Cecilia dan memperhatikan tubuhnya dari atas sampai bawah, sebelum ia mengucapkan sesuatu.
"Jadi ini yang kau ambil dari perusahaan itu? Kelihatannya tidak meyakinkan."
"Hah?! Kau mau ngajak ribut?! Aku ini adalah kumpulan banyak Spirit!"
"Benarkah? Tapi aku tidak yakin kau bisa mengalahkanku."
"Mau coba sini, bocah?!"
"Ka-kalian berdua ...."
Padahal mereka baru bertemu beberapa menit, tapi sudah langsung berkelahi seperti ini. Sepertinya mereka berdua memang tidak cocok untuk bicara satu sama lain.
"Iraya, aku rasa kau tidak perlu mengandalkan dia lagi. Aku sendiri cukup untuk membuatmu bertambah kuat."
"Kau memang banyak membantuku, sih. Tapi—"
Cecilia kemudian langsung memotong pembicaraanku. "Hah! Bicaralah sesukamu, tapi anak ini tidak akan bisa bertahan hidup sampai sekarang jika bukan karena bantuanku."
"Bukankah kau yang memaksa masuk ke tubuhnya?"
"Aku memilihnya karena dia menarik menurutku, bertemu denganmu hanya sebuah kebetulan saja. Sebenarnya aku ingin dia diajari oleh laki-laki itu, tapi dia malah memasangkannya denganmu," ucap Cecilia.
"Oita-san tidak perlu turun tangan langsung, karena aku saja sudah bisa mengajarinya."
Mereka berdua bertengkar entah apa yang mereka bicarakan. Entah kenapa aku dapat melihat kilat imajiner yang menandakan permusuhan mereka.
"Ini pertama kali kalian bertemu, hei."
"Hmph!" Mereka kemudian membuang muka secara bersamaan. Tapi Cecilia berbicara lagi kepada Herlin. "Aku sudah menunjukkan diriku, sekarang waktunya menunjukkan The Unseen milikmu."
"The Unseen?"
"Oh iya, aku juga penasaran. Apa aku bisa melihatnya secara langsung?"
"Bukan masalah, karena pada dasarnya ia selalu bersamaku. Hanya tidak kelihatan saja."
"Jadi aku boleh melihatnya?"
Herlin mengangguk. Tapi sebelum itu ia sempat melirik ke arah Cecilia. "Aku mau karena ini adalah permintaan Iraya, bukan untuk makhluk rendahan sepertimu."
"Grrhh ...!"
Lagi-lagi kilatan petir muncul di belakang mereka berdua dan yang bisa aku lakukan hanya tertawa lalu memisahkannya saja. Apa kedepannya mereka berdua akan baik-baik saja, ya.
"Banshee ...."
Swuushh...
Tapi setelah itu, Herlin benar-benar memanggil The Unseen itu. Sesosok wanita berkulit pucat muncul dan melayang tepat di belakang tubuh Herlin. Wujud wanita berambut putih itu sangat anggun dan menawan. Benar-benar bentuk tubuh wanita sempurna.
"Cantik sekali." Tanpa sadar aku mengatakan hal seperti itu.
"Jadi dia yang selalu membantumu membunuh monster?" tanyaku.
"Ya, begitulah."
"Entah kenapa aku merasa aneh membayangkan perempuan secantik ini membunuh musuhnya secara kejam."
"Hmph! Hanya Sadako berambut putih biasa, memangnya bisa apa dia?" ucap Cecilia seolah tidak mau kalah.
"Setidaknya dia lebih berguna darimu."
"Kau ...!"
Prok... Prok...
Aku menepuk tanganku untuk memisahkan mereka berdua. "Sudah, sudah, kalian berdua. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik ke depannya, ya?"
"Hmph! Sampai jumpa, bocah."
Setelah puas menunjukkan tubuhnya, Cecilia memutuskan untuk kembali ke dalam tubuhku. The Unseen milik Herlin—Banshee juga kembali ke dalam mode tak terlihatnya.
"Kalau begitu, ayo kita pulang."
"Iya."
Saat sedang berjalan pulang, kami sempat berbicara sedikit. "Jadi dia yang membuatku dapat bertemu denganmu, ya?" gumam Herlin.
"Nn? Herlin?"
"Karena makhluk yang ada di dalam tubuhmu itu, kita jadi berjalan pulang dari bukit belakang sekarang."
"Aah~ Kurasa kau benar. Pertemuan pertama kita kalau tidak salah saat aku dikepung monster kecil, kan? Setelah itu, semuanya berjalan menjadi seperti sekarang. Masa depan itu ... benar-benar tidak bisa diprediksi, ya?"
"Ya. Tapi sepertinya, aku menyukai masa depan yang ini."
Aku berhenti berjalan karena shock dan melihat Herlin yang terus berjalan meninggalkanku. Tanpa sadar, wajahku memerah dan jantungku berdebar kencang karena memikirkan kata-kata Herlin barusan.
"Hah ... jangan membuatku salah paham, dong," gumamku.
Bersambung
__ADS_1