Crisis World XX

Crisis World XX
Chap. 44 : Wanita Aneh Masuk ke Kamarku


__ADS_3

"C-Caramel-san?"


Seorang gadis muda — Caramel, datang ke kamarku pada larut malam. Lalu ia menutup pintu kamar dan menguncinya rapat-rapat. Tidak sampai disitu. Benar! Tidak sampai disitu!


Senyumannya! Senyuman mencurigakan keluar dari bibir kecil nan ranum miliknya. Ada apa ini?! Apa yang sebenarnya akan terjadi padaku?! Dia secara perlahan berjalan mendekati kasur dengan senyuman yang masih belum hilang.


Tunggu sebentar!


Kumohon tunggu sebentar!


Berikan aku waktu untuk mencerna semua ini! Malah lebih baik jika ini tidak diteruskan lebih jauh, karena kesalahpahaman yang sangat besar akan terjadi jika hal ini tidak segera dihentikan.


Mari kita tenang sebentar, okay? Jika tidak tenang, otakku tidak bisa berjalan dengan benar. Kalau Caramel ingin melanjutkan apapun hal yang aku pikirkan saat ini, maka aku harus segera keluar dari sini.


Tapi ruangan ini tidak memiliki jendela. Terlebih berada di bawah tanah, aku tidak tahu seberapa besar dampaknya jika aku memakai kekerasan dengan menerobos dinding. Kemungkinan besar di sampingku adalah kamar lain, dengan kata lain, menggunakan kekerasan adalah NO besar.


Juga kunci kamarku dipegang oleh Herlin. Jangan tanya kenapa itu bisa ada di tangannya, dia mengurungku di sini dan menyuruhku istirahat untuk besok.


Lalu bagaimana caranya Caramel bisa masuk ke kamarku, kalian bertanya? Aku juga tidak tahu. Siapa tahu ia memiliki kunci cadangan setiap kamar. Berarti aku tidak bisa kemana-mana kecuali menggunakan kekerasan.


Bagaimana ini? Aku tidak bisa berpikir jernih jika hanya berdua dengan perempuan di kamar terkunci begini.


Hmm ...? Tunggu dulu, kamar terkunci? Itu dia! Jika sejak awal orang lain tidak tahu kalau ada Caramel di dalam kamarku, berarti itu masih YES bagiku.


Dan andaikan saja aku bisa menjaga jarak sampai sebuah keajaiban terjadi — misalnya Herlin datang ke kamarku, itu akan menjadi sebuah YES besar! Jika jaraknya benar, penjelasan apapun pasti masih bisa diterima.


Baiklah! Aku sudah menentukan rencanaku, tapi tanpa sadar juga sejak tadi aku tidak melihat wajahnya. Jadi sekarang saatnya fokus padanya dan menunggu apa yang akan ia lakukan.


Caramel menelengkan kepalanya menggoda, seolah mencari jawaban dari sikap aneh yang aku tunjukkan dari tadi. Mata indah serta senyum mencurigakan miliknya menusuk tepat ke jantungku dan membuatnya berdebar-debar.


Tidak bisa! Tidak bisa! Tidak bisa! Ini mustahil!


Menatap wajahnya terlalu lama sama dengan bunuh diri. Aku menggelengkan kepalaku untuk mengusir pikiran aneh yang dari tadi menari di pikiranku, butir keringat meluncur deras pada dahiku, ludah kering juga sudah ku telan berulang kali. Suasananya terlalu aneh!


"Ca-Caramel-san? Apa yang kau lakukan malam-malam begini di sini?"


Akhirnya aku bertanya padanya — meski tidak menatap matanya langsung.


Tapi tidak ada jawaban. Suasananya lebih hening daripada di kuburan. Aku tidak tahu ekspresi apa yang dikeluarkan olehnya sekarang, tapi meskipun mau tahu, aku juga tidak berani! Benar-benar kehilangan arah dengan perempuan satu ini!


"J-jika bisa ... Apa kau bisa k-keluar dari sini ...? Karena besok masih ada pertandingan ... d-dan aku ingin istirahat." Meski terbata-bata, tapi aku berhasil menyampaikan maksudku dan yang lebih penting adalah mengusirnya keluar.


Jadi yang tersisa sekarang adalah respon darinya. Untuk kali ini saja! Untuk kali ini, aku akan melihat wajahnya. Semoga saja semua fantasi bodoh yang aku pikirkan dari tadi tidak akan terjadi.


"Jadi, Caram— Wuooh!?"


Terlalu dekat! Wajahnya terlalu dekat sampai membuatku terjungkal ke belakang di atas tempat tidur. Wajahku juga semerah udang rebus saat ini. Bagaimana mungkin dia bisa berada sangat dekat dengan ku dalam waktu secepat itu?!


"Nee ...."


"I-iya?"


"Kenapa panik sekali? Apa jangan-jangan ... kau memikirkan hal kotor ketika wajah kita berdekatan tadi?"


"K-kotor?!"


Tidak, tidak, tidak! Tenangkan dirimu, Satou Iraya! Kau harus bisa menjernihkan pikiran. Dari tadi kau hanya panik karena pikiranmu sendiri, jadi sudah saatnya untuk serius. Lagipula, aku juga benar-benar butuh tidur sekarang.


"Sudah cukup main-mainnya. Ku mohon Caramel-san, masih ada pertandingan yang harus ku jalani besok. Aku sudah lelah dan ingin istirahat."


"Main-main?" Dia bergerak semakin dekat hingga lutut kami bersentuhan. Ia memposisikan tubuhnya dan wajah kami kembali dalam posisi yang berbahaya — dalam taraf kesalahpahaman. "Apa aku terlihat main-main dari tadi?"


"T-tidak ... i-itu ...? Maaf!"


Jika diteruskan akan berbahaya. Aku mencoba mendorong Caramel dengan cukup keras agar ia bisa menjauh dariku.


"Eh?"


"Tertangkap~"


Tapi yang selanjutnya terjadi mengejutkan ku. Ia menahan kedua pergelangan lenganku dan membuatku tidak bisa bergerak, meskipun sudah memakai tenaga tapi itu percuma. Ini tidak biasa. Kekuatan seperti ini tidak mungkin dimiliki gadis sepertinya.


"Caramel-san, apa mungkin kau seorang Exception?"


"Ahh ..., ketahuan, kah? Tepat sekali. Aku seorang Exception tipe Transformation."

__ADS_1


Ternyata benar. Tapi kesampingkan dulu hal itu, posisi kami saat ini benar-benar berbahaya, woi!


Salah satu kakinya memanjat ke pahaku sementara tangannya menahan kedua pergelangan tanganku. Dia juga menahan berat tubuhnya agar kami berdua tidak jatuh ke belakang.


Terlebih, wajah kami sangat dekat. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya dengan jelas. Dalam jarak segini, aku bisa melihat semuanya dengan tanpa halangan.


Kulit seputih dan lembut layaknya salju, bibir merah muda yang mungil nan sehat, lalu juga kaos yang tidak menutup sempurna pada bagian dadanya, membuat sesuatu nampak mengintip dari sana. Lalu harum tubuhnya juga semakin menyesatkan ku.


Ini bagus.


Tidak! Kalian jangan salah paham!


Jika ini terjadi beberapa tahun lagi, ini akan menjadi hal yang bagus. Tapi kalau sekarang, aku akan dibunuh oleh Herlin. Itu sudah pasti. Tidak usah ditanya lagi. Skenario menjaga jarak yang sebelumnya aku rencanakan di dalam kepalaku juga langsung menjadi tidak berguna.


Apa yang harus ku lakukan? Cecilia? Oh iya, ada Cecilia! Itu mungkin bisa jadi jawaban yang tepat. Tapi tunggu dulu ....


"Aku tidak akan muncul." Dan Cecilia meruntuhkan harapanku.


Meminta bantuan Cecilia menjadi tidak mungkin dalam situasi ini karena keberadaannya adalah rahasia. Caramel adalah Exception, jadi dia mungkin tahu tentang Ayakashi Corp. dan Subject C — yang adalah Cecilia.


"Ca-Caramel-san?!"


Mari lupakan hal-hal yang tidak bisa aku andalkan. Wajah Caramel terus mendekat dan tidak ada hal besar yang bisa ku lakukan. Berontak? Sudah kucoba dari tadi! Tapi anehnya tubuhku kaku, rasanya persis seperti saat pertama kali bertemu Cecilia di dalam tubuhku.


"Ca—!"


"Psst ...." Dia menaruh jari telunjuknya di bibirku, menyuruh untuk diam. "Diam dan nikmati saja." Lalu semuanya menjadi diluar kendali.


Caramel mendekatkan bibirnya pada bibirku dan aku mau tidak mau menerimanya begitu saja. Ingat! Ini karena aku sedang tidak bisa bergerak! Bukan karena aku menikmati atau semacamnya.


Ia dengan terampil memainkan lidahnya di dalam mulutku, saling berkaitan dan tanpa kesalahan. Rasanya hangat. Hanya itu yang bisa aku katakan. Jika bisa melihat wajahku sendiri, aku yakin kalau itu sudah berwarna merah tak karuan.


Kata orang-orang, laki-laki adalah makhluk yang sederhana. Dengan sedikit kata-kata manis dan perlakuan baik, ia akan menjadi penurut. Dan aku — meski tidak mau menerimanya, dalam hatiku setuju. Karena pada akhirnya, tubuhku juga menikmati ciuman ini.


"??!!"


Disaat sedang terbuai, aku bisa mendengar seseorang tiba-tiba membuka kunci pintu kamarku.


Gawat! Ini bencana!


Hanya satu orang yang memegang kunci kamarku, dan jika ia melihatku dalam situasi begini, tidak ada kata selamat di hidupku. Aku menggeliat berusaha berubah dari posisi saat ini. Tapi percuma, tubuhku serasa terkunci dan akhirnya orang yang memegang kunci — Herlin, masuk ke dalam.


Ucapannya terhenti saat melihat kami berdua, dalam posisi yang sangat sulit untuk dicerna. Herlin kemudian menjatuhkan cemilan di genggamannya. Mulutnya menganga dan matanya melebar terkejut, tidak ada teriakan atau kata-kata tajam seperti yang ku kira akan keluar dari mulutnya.


Ini tidak boleh dibiarkan!


Tidak ada cara lain lagi selain mengeluarkan auraku sedikit dan akhirnya memberontak melepas genggamannya. Caramel juga terdorong keras sampai terduduk di lantai.


"Herlin! Dengarkan aku dulu! Ini tidak seperti yang kau bayangkan!"


Dia tidak menjawab. Wajahnya masih terkejut dan sepertinya bingung ingin berbicara apa. "Jangan menyentuhku ...." Tapi kemudian dia berbicara, tanpa melihat ke arahku.


"He-Herlin ...."


"Jangan menyentuhku, dasar brengsek!"


Herlin kemudian pergi dari kamarku, meninggalkan makanan yang masih jatuh berserakan di lantai. Sebelum pergi, dia sedikit melirik ke arah Caramel yang masih terduduk di lantai dan Caramel hanya tersenyum menanggapi hal itu.


Caramel berjalan mendekatiku perlahan. "Urushihara-san ...?" Dia mencoba meraih tanganku dari belakang dan menggenggamnya. Tapi aku tidak membiarkannya. Menghempaskan tangannya yang sontak membuat matanya melebar terkejut.


"Apa ini rencanamu sebenarnya?!"


"Eh? T-tidak, itu—"


"Ekspresinya tadi, ekspresi Herlin tadi ...!"


Dia tidak pernah merespon seperti itu. Meskipun biasanya ucapannya tajam, tapi kata-katanya tidak pernah kasar. Selain itu, aku sempat melihat ekspresi wajahnya. Dia memang marah, tapi aku juga bisa melihat sorotan mata sedih dan kecewa.


"Ini tidak lucu lagi. Keluar dari kamarku sekarang!"


Aku mengeluarkan ledakan aura di sekitarku yang membuktikan kalau waktu main-main telah berakhir. Jika Caramel tidak keluar sekarang, maka tidak segan-segan aku akan mengeluarkannya secara paksa.


Ledakan aura itu menciptakan hembusan angin yang mengibarkan rambut dan baju Caramel kuat. Tapi reaksinya cukup santai, tidak bermain-main lagi, tapi juga tidak terlihat takut padaku.


Ia bahkan mengeluarkan sebuah senyum simpul yang membuktikan sikap santainya.

__ADS_1


"Namamu Satou Iraya, kan? Sebenarnya aku datang kesini bukan untuk menggodamu — yah, sedikit terbesit untuk hal itu, sih. Tapi yang pasti di masa depan, kedudukan kita berdua akan berubah. Entah menjadi teman, kekasih, atau istri, dan mungkin ...."


Senyum hilang dari wajahnya dan kata-katanya menggantung sebentar, tapi itu tidak berlangsung lama karrna Caramel langsung melanjutkan perkataannya.


"... Dan mungkin hal-hal lainnya. Oh iya, karena urusanku di sini telah selesai, makanya aku pamit dulu."


Dia kemudian berjalan melewatiku dan keluar dari kamar ini. Aku sempat mendengar ucapan 'Sampai bertemu lagi.' lembut berbisik di samping telingaku saat ia berjalan, tapi aku terlalu marah untuk menganggapinya.


Dan kini aku sendirian. Keheningan yang ada di sini sekarang sangat berbeda dengan ribut-ribut sebelumnya. Sekarang aku juga memiliki kesempatan untuk melihat cemilan yang dibawakan oleh Herlin sebelumnya — yang kini sudah berantakan di lantai.


Beberapa onigiri dengan nasi yang sudah berantakan dan menampilkan variasi isinya, serta potongan buah siap lahap di sana.


"Iraya! Apa yang kau lakukan?!" teriak Cecilia.


Aku membenturkan dahiku ke tembok yang membuatnya mengucurkan darah segar. Melihat bekal itu membuatku teringat dengan ekspresi Herlin sebelumnya. Sialan.


Setidaknya ini yang bisa kulakukan untuk sekarang untuk membalas kebodohanku. Jika tidak ada pertandingan besok, mungkin membenturkan kepala ke tembok lebih dari sekali adalah hal yang akan ku lakukan. Tapi aku mengurungkan niat itu dan memilih pergi rebahan di kasur.


Mematikan lampu kamar dan memejamkan mata. Semoga saja aku bisa tidur malam ini.


**


Jam digital di HP-ku sudah menunjukkan pukul 09.40 pagi. Tapi itu bukan masalah yang sebenarnya.


"Sama sekali tidak bisa tidur," gumamku.


Benar. Mataku sama sekali tidak mau beristirahat bahkan untuk sedetik saja. Aku melihat ke pantulan bayangan hitam pada HP yang tidak menyala. Kantung mata tercipta di bawah mata dan penampilan ku sudah seperti zombie.


"Kenapa kau tidak mengajakku berbicara jika tidak bisa tidur semalaman?" tanya Cecilia.


Tidak, terima kasih.


Aku masih kesal dengan Cecilia yang tidak bisa menghentikan Caramel malam tadi. Walaupun alasan yang ia miliki sangat masuk akal sampai membuatku kesal karena tidak bisa apa-apa.


Jadi yang bisa ku lakukan sekarang adalah bangun dari kasur dan melihat sekitar. Tidak ada yang berubah walaupun itu siang atau malam, kamar ini berada di bawah tanah dan sinar matahari tidak bisa masuk.


Semuanya normal sampai di tempat makanan berserakan dekat pintu. Aku menggelengkan kepala karena hal itu mengingatkan ku pada kejadian semalam, tapi aku juga tidak bisa meninggalkannya berantakan begitu saja. Jadi aku memutuskan membereskannya.


"Aduh ...!"


Saat sedang dibereskan, seseorang tiba-tiba membuka pintu dan tanpa sengaja membentur kepalaku. Ketika mendongak ke atas, ternyata ada dua orang dari balik pintu.


"Selamat pagi, Iraya-kun, kau sudah bangun ternyata."


"Murasaki-san! Dan juga ...."


Tapi Murasaki-san tidak datang sendiri, di sebelahnya ada Herlin yang masih tidak mau menatapku langsung. Tentu saja kejadian kemarin tidak akan hilang dalam semalam, karena aku juga tidak bisa menatapnya secara langsung.


"Hmm ...? Apa terjadi sesuatu dengan kalian berdua?" ucap Murasaki-san bingung.


"K-kami baik-baik saja, kok. Ehehehe ...." Terpaksa aku yang harus menjawabnya karena Herlin hanya diam, meskipun dengan jawaban ceria yang dipaksakan.


"Yah ... kalau begitu ayo sarapan dulu, siang nanti kau akan menjalani pertandingan kedua, kan?"


"Ah, iya, benar sekali."


Kami bertiga pun berjalan menuju ke ruang restoran yang berada di lantai lainnya. Tempat ini benar-benar hampir memiliki segalanya, interiornya juga tidak main-main, seperti setiap lantai dikhususkan untuk hal yang berbeda-beda.


Tapi megahnya ruangan ini tidak mampu mencairkan suasana dingin antara aku dan Herlin. Kami berdua makan dalam diam. Hening. Tanpa ada satu perkataan pun keluar dari mulut kami berdua.


Sarapan lalu menunggu pertandingan akan dimulai berlalu secepat kilat. Setelah sarapan, Herlin langsung pergi dan menghilang. Dia sepertinya tidak akan menonton pertandingan ku kali ini. Yah ... sepertinya keinginanku untuk bertarung juga sedikit memudar.


Saat menunggu namaku dipanggil untuk naik ke arena, suara seseorang yang aku kenal memanggilku dari belakang. Dia adalah orang menyebalkan yang sialnya akan bertarung denganku di babak kedua ini.


"Hahaha! Akhirnya kita bertemu. Aku akan menghabisi dan menghajarmu sampai tidak bisa dikenali!" ucap Oukami.


"Ah, iya." Aku membalas singkat, tidak tertarik dengan provokasinya, bahkan menatap matanya pun tidak. Pikiranku masih melayang di tempat lain tentang apa yang harus ku lakukan jika ingin memulai pembicaraan dengan Herlin setelah ini.


"Sialan! Beraninya kau mengabaikanku!"


Oukami mengangkat kerah bajuku sampai tubuhku sedikit terangkat. Tapi itu terhenti karena panggilan kepada kami berdua untuk segera naik ke arena. Dan dia langsung melepaskannya dan naik ke arena dengan gerutu kesal.


"Tch! Mengganggu saja."


Sementara diriku? Entahlah, bung. Aku sedang tidak nafsu untuk bertarung saat ini, naik ke arena pun enggan — meskipun akhirnya tetap naik juga. Mencoba melihat ke arah tribun .... Ternyata Herlin masih ada di sana, menontonku.

__ADS_1


Tapi ketika mata kami bertemu, dia langsung membuang muka. Yah, sudah kuduga, sih. Untuk sekarang mungkin lebih baik untuk fokus pada yang ada di depanku dulu. Pertarungan melawan Oukami Yuu.


Bersambung


__ADS_2