
Setelah ditentukannya kompetisi internal dalam kelas yang tiba-tiba, seharusnya itu menjadi saat yang menyenangkan. Tapi tidak untukku.
Aku hanya ingin bersenang-senang dengan dua temanku, tapi kenapa aku harus satu kelompok dengan dua perempuan. Arrgh!! Mana yang disebut dengan takdir itu? Aku mau bertemu dengannya dan protes tentang banyak hal.
"Wajahmu mulai suram lagi, loh."
"Apa kau sedang memikirkan sesuatu, Iraya-kun?"
Herlin dan Mei-senpai yang sedang berjalan disampingku ternyata menyadari kalau aku memasang wajah seperti dunia sudah kiamat. Aku dengan segera mencoba berekspresi seperti biasa lagi dan di dalam hatiku mengatakan kalau aku harus menerima semua ini.
"Tidak, tidak ada apa-apa. Aku hanya lapar saja."
Aku beralasan lapar dan menyembunyikan pikiranku sebenarnya karena jika aku memberitahunya kepada mereka. Aku harus bersiap-siap dengan omongan tajam yang keluar dari mulut Herlin, jadi aku memutuskan untuk berbohong saja. Lagipula saat ini aku juga sedang lapar—jadi itu tidak sepenuhnya kebohongan.
"Benar juga, ya? Kita belum makan siang sekarang. Apa mau mampir ke Family Mart terlebih dahulu?"
Aku dan Herlin langsung mengiyakan ajakan Senpai dengan sebuah anggukan. Walaupun awalnya kita mau langsung ke tempat latihan. Tapi mumpung lagi bersama, tidak ada salahnya untuk mampir terlebih dahulu. Kami pun kemudian pergi ke Family Mart dan mengobrol tentang latihan berikutnya.
Setelah makanan kami semua telah datang, dengan lahap kami menyantapnya bersama-sama. Disela-sela makan itu, Herlin kemudian memberitahu tentang latihan selanjutnya, yaitu kombinasi.
"Kwombwinasi?"
"Jangan berbicara saat mulut penuh, soalnya kedengaran menyebalkan."
Aku menelan makanan yang ada di mulutku lalu kemudian kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama.
"Kombinasi? Apa maksudmu?"
"Sekarang kau sudah tidak sendirian lagi, Iraya, sudah ada Mei-senpai sekarang. Jadi aku ingin melatih kerja sama kalian supaya nantinya jika berhadapan dengan lawan yang kuat, kemungkinan menangnya menjadi besar."
"Begitu. Ya, aku sih tidak keberatan. Bagaimana dengan Senpai?"
"Aku juga tidak masalah. Tapi yang aku pikirkan sekarang adalah bagaimana bentuk kerja sama kami nantinya."
"Aku sudah memikirkan hal itu."
Herlin kemudian mengambil dua buah kentang goreng yang kemudian ia taruh di atas piring bekas makan kami dan digunakan sebagai contoh.
"Iraya adalah petarung jarak dekat, jadi dia yang bertugas untuk menyerang lawan yang datang. Sementara Senpai adalah petarung jarak jauh yang menyerang dari jarak yang aman. Tugas Senpai adalah membantu Iraya jika ia kesusahan. Oh iya, Senpai bisa terbang, kan? Berapa lama Senpai bisa terbang di udara?"
"Tergantung staminaku, dulu aku hanya bisa terbang selama sepuluh menit. Tapi karena latihan yang kau berikan, durasinya meningkat menjadi tiga belas menit."
"Jadi tidak terlalu lama, ya? Apa harus kulatih lebih keras lagi?" gumam Herlin.
"Kumohon jangan. Latihan itu sudah seperti neraka, jangan membuatnya lebih buruk lagi."
Senpai baru merasakan latihan yang Herlin berikan awal-awal kepadaku. Tapi dia sudah menyebut hal itu seperti neraka. Aku tidak tahu kedepannya apakah Senpai masih bisa hidup atau tidak. Aku hanya bisa mengeluarkan senyum iba kepada Senpai.
"Oi, Iraya-kun! Jangan cuma tersenyum saja. Latihanku itu sudah sangat berat, kan?"
"Ya … itu …."
Aku tidak yakin jika aku memberitahu kebenarannya, apakah Senpai tetap mau latihan bersama dengan kami lagi atau tidak.
"Iraya-kun?"
"Se-Sebenarnya … masih ada yang lebih buruk lagi daripada itu," ucapku pelan sambil mengingat kembali neraka yang diberikan oleh Herlin waktu itu.
"Jadi masih ada yang lebih berat lagi?"
"Tenang saja, aku akan melakukan hal itu untuk lain waktu. Untuk sekarang kita akan melakukan latihan kombinasi terlebih dahulu."
"Ba-Baiklah …."
Aku dan Senpai menjawab dengan nada dan tatapan seperti orang mati. Secara mental.
Senpai kemudian mengganti topik menjadi hal yang lebih santai dan layaknya orang normal. Sepertinya dia ingin menghilangkan traumanya dengan berpura-pura menjadi orang normal. Aku mengerti perasaannya, tapi itu tidak akan bertahan lama.
"Ngomong-ngomong, apa yang sedang kelas kalian lakukan? Tiba-tiba aku jadi tertarik ke dalam situ."
"Ahh itu … kelas kami mengadakan kompetisi membuat replika 3D makhluk hidup. Aku juga tidak tahu kenapa begitu, tapi mereka bilang untuk merayakan jam kosong dua hari ini."
"Apa itu sesuatu yang harus dirayakan?"
"Aku juga berpikir seperti itu."
"Tapi bukankah ini hal yang bagus?"
Herlin kemudian menyelak pembicaraan kami berdua.
"Tidak ada salahnya untuk melakukan hal ini sekali-kali. Bersenang-senang bersama teman, bukankah itu hal yang paling penting?"
Aku tersenyum mendengar pernyataan Herlin. Benar juga, akhir-akhir ini aku selalu berhadapan dengan Spirit, Beast, maupun Exception. Sekali-kali aku ingin kembali ke kehidupanku yang normal dulu. Jadi seperti yang dibilang Herlin, ini adalah hal yang bagus.
Dan aku ingat kalau kami sudah berjanji dengan Hasuki-san sebentar lagi untuk belanja keperluan besok.
"Oi Herlin!"
"Ada apa?"
"Bukankah kita harusnya belanja bersama Hasuki-san sekarang?"
Herlin yang sedang menghabiskan minumannya yang tinggal sedikit lagi kemudian terdiam. Ia mengalihkan pandangannya keatas dan mencoba mengingat hal itu. Lalu setelah beberapa saat, ia kemudian tersadar.
"Kau benar …."
"Lalu kenapa kita malah santai-santai disini?!"
"Aku 'kan lupa."
Aku pun menghabiskan hamburger dan kentang goreng milikku dengan cepat. Lalu kemudian berdiri dan menarik Herlin untuk keluar dari sini. Aku dan Herlin pun segera menuju ke tempat yang telah dijanjikan sebelumnya.
"Lalu latihannya bagaimana?" tanya Mei-senpai.
"Besok! Besok kita akan mulai latihan kombinasinya ya, Senpai! Sampai jumpa!"
Aku mengeraskan suaraku karena sudah berlari jauh dari Mei-senpai. Sementara Mei-senpai yang ditinggal sendirian oleh kami berdua, hanya bisa menggembungkan pipinya dan menggerutu karena kesal.
Ia kemudian berniat untuk pergi dari tempat itu juga. Tapi salah satu staf Family Mart itu memberhentikannya.
"Apa ada yang bisa kubantu?"
"Kalian bertiga belum membayar makanannya."
"Ap—?! Da-Dasar … ANAK-ANAK KURANG AJAR …!!!"
Meskipun berteriak kesal begitu, tapi Mei-senpai tidak bisa lari dari kenyataan yang kejam. Akhirnya ia membayar makanannya sekaligus membayar makanan Iraya dan Herlin.
**
*Rumah Hasuki Chifu*
Sementara itu di rumah Hasuki-san, ia yang baru saja pulang ke rumah langsung disambut oleh jajaran pelayan miliknya.
__ADS_1
"Selamat datang, Chifu-sama."
Tapi Hasuki-san tidak terlalu menanggapinya karena ini adalah hal yang setiap hari ia alami. Makanya ia sudah bosan dengan sambutan seperti ini. Ia kemudian memberikan tas sekolahnya untuk dibawa oleh salah satu pelayannya.
Pelayan lainnya kemudian menanyakan sesuatu kepada Hasuki-san.
"Chifu-sama, apa anda ingin makan sesuatu saat ini?"
"Nn? Tidak perlu. Untuk saat ini lebih baik kau siapkan baju untukku pakai keluar."
"Baik, Chifu-sama. Kami akan menyiapkan mobil secepatnya."
"Okey."
Setelah itu Hasuki-san pergi ke ruangan penuh baju pribadi miliknya dan disana terdapat beberapa pelayan perempuan yang sudah memilihkan beberapa baju untuknya. Ia kemudian memilih salah satu dari beberapa baju yang dipilihkan oleh pelayan tadi dan segera memakainya di ruang ganti.
Setelah selesai, ia kemudian keluar dengan baju casual yang cocok dipakai untuk acara-acara santai seperti bertemu teman dan lainnya. Hasuki-san kemudian duduk di sofa dan menunggu mobilnya siap di ruang tamu.
Ia sempat membayangkan hal-hal menarik yang akan terjadi nanti saat mereka berbelanja bersama sampai tidak sadar kalau sebuah senyuman terbentuk di mulutnya.
"Iraya-kun … Ririsaka-san …," gumamnya.
"Kelihatannya hari ini kau senang sekali, Chifu."
Tiba-tiba ada suara laki-laki berat yang menghilangkan khayalan Hasuki-san. Dia adalah ayah Hasuki-san—Hasuki Nakamura. Pria itu kemudian duduk di samping Hasuki-san.
"Ayah? Ya begitulah, hari ini aku ingin berbelanja bersama temanku. Aku sedang menunggu mobil disiapkan saat ini."
"Begitu. Kalau boleh tau, siapa nama temanmu?"
"Ayah sudah mengenalnya, bukan? Dia adalah Satou Iraya dan Ririsaka Herlin."
Setelah mendengar nama itu, ekspresi Nakamura berubah menjadi kaku. Tapi tak lama ekspresi kaku itu berubah menjadi sebuah senyuman kecil yang hampir tidak terlihat. Hasuki-san yang bingung dengan perilaku ayahnya, kemudian bertanya kepadanya.
"Apa ada yang salah, Ayah?"
"Chifu-sama, mobilnya sudah siap."
Sebelum Nakamura menjawabnya, salah seorang pelayan menyelaknya dan memberitahu Hasuki-san kalau mobil yang akan dipakai sudah siap. Nakamura kemudian mengelus kepala anak perempuannya yang manis itu lalu berkata sesuatu.
"Tidak ada apa-apa, sekarang pergilah dan bersenang-senang bersama temanmu itu."
"Baiklah, aku pergi dulu, Ayah."
"Sampai jumpa."
Setelah Hasuki-san telah pergi dan sepenuhnya hilang dari pandangannya. Nakamura sempat bergumam dan tanpa sadar mengeluarkan seringai di akhir katanya.
"Benar. Bersenang-senanglah, Chifu. Selagi kau masih bisa melihat kedua temanmu itu."
**
Sementara itu, kami berdua menunggu di depan mall tempat kami dan Hasuki-san akan bertemu. Masih memakai seragam dan Herlin juga masih memakai gaya rambut ponytail dan kacamatanya.
"Apa benar kita janjian bertemu disini?"
"Seharusnya sih disini, tapi dia memberitahukan kalau sepulang sekolah kita langsung kesini."
"Sepertinya kita terlalu cepat datang."
"Sepertinya."
Hening menyerang kami berdua sambil sesekali mengecek apakah Hasuki-san sudah datang atau belum. Aku kemudian melihat kearah Herlin, ia malah sibuk memainkan smartphone nya. Dasar anak zaman sekarang. Jika sudah kena smartphone, pasti lupa dunia.
"Nee, Herlin …."
"Apa?"
"Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan daritadi?"
"Aku sedang perang sticker dengan Michi-chan."
Gak penting banget! Tapi tadi ia menyebutkan nama 'Michi-chan'. Aku mencoba mengingat gadis yang bernama Michi-chan. Kalau tidak salah dia yang telah memberikan kami informasi tentang alamat Mei-senpai.
"Jadi kau benar-benar berteman dengannya?"
Herlin terdiam. Ia juga berhenti mengirim spam sticker ke Michi-chan dan kemudian mematikan smartphone nya. Lalu setelah itu menengok kearahku.
"A-Ada apa?"
"Tentu saja aku berteman dengannya. Jangan samakan aku denganmu."
Jleb…
Panah imajiner yang sudah lama tidak muncul, tiba-tiba menusuk tepat kearah jantungku. Aku kira dia ingin bicara apa, ternyata hanya menghinaku. Herlin sialan. Aku mengepalkan tanganku dan bergetar menahan amarah.
"K-Kau …."
"Ahh! Itu dia!"
"Nn?"
Tiba-tiba seseorang berteriak kearah kami berdua. Ia adalah orang yang sudah kami tunggu-tunggu dari tadi. Hasuki-san kemudian menghampiri kami.
"Maaf membuat kalian menunggu."
"Pantas saja kau lama, ternyata kau pulang dulu, ya?"
"Hn? Bukankah memang seharusnya seperti itu?"
"Ya sudahlah, karena semua sudah berkumpul ayo kita segera membeli bahan-bahannya."
Kami kemudian masuk ke dalam mall. Tapi tiba-tiba Hasuki-san mengajukan pertanyaan yang membuat langkahku berhenti.
"Oh iya, apa yang akan kita buat?"
"Gekh …!"
"Kau belum memikirkannya?" tanya Herlin.
Aku lupa memikirkan hal yang paling penting. Bagaimana mau membeli bahan-bahan jika kita belum tau apa yang akan kita buat. Aku kemudian membiarkan mereka berdua untuk memikirkannya.
"Ap-Apa ada saran?"
"Bagaimana denganmu, Ririsaka-san?"
"Aku apa saja tidak masalah, asalkan tidak merepotkan."
"Hmm … apa saja, ya …."
Hasuki-san melihat ke sekitar untuk mencari sesuatu yang bisa ia jadikan referensi. Ia kemudian melihat seseorang yang sedang membawa anjingnya jalan-jalan dan Hasuki-san pun menemukan suatu ide.
"Bagaimana kalau seekor anak anjing?!"
__ADS_1
"A-Anjing …?"
Aku kemudian melihat kearah Herlin dan Herlin pun menanggapi saran dari Hasuki-san.
"Aku tidak keberatan."
"Baiklah, sudah diputuskan! Kita akan membuat replika anak anjing."
Kami pun masuk kali ini benar-benar masuk ke dalam mall. Kami pergi ke sebuah outlet yang menjual bahan-bahan mentah seperti kardus, lem, gunting, dll.
Hasuki-san mengambil sebuah cat dan kuas yang nanti digunakan sebagai pewarna bagi anak anjingnya. Sementara aku mencari sesuatu yang bisa digunakan sebagai hiasan lainnya. Aku membeli sebuah mata buatan untuk anjingnya nanti. Sementara itu Herlin tiba-tiba menghampiriku.
"Apa kau sudah menemukan hiasannya?"
"Aku menemukan ini."
Criing… Criing…
Ia membeli sebuah lonceng kecil yang bisa digunakan di kalung anak anjingnya nanti. Bagus Herlin! Kali ini pilihanmu benar-benar membantu!
Setelah mendapatkan semua bahan yang kita butuhkan, kami keluar dari outlet tersebut.
"Semua sudah dibeli. Jadi, apa ada yang masih ingin kalian lakukan disini?"
"Hmm …. Kita lihat dulu …."
Hasuki-san melihat ke sekitar dan melihat outlet-outlet yang dipenuhi oleh pengunjung. Tapi perhatiannya terhenti pada sebuah outlet baju. Ia kemudian menarik tangan Herlin dan dengan cepat menuju kesana.
"Ayo kita belanja, Ririsaka-san!"
"Eh? Tidak, aku tidak perluuoo—!"
Aku yang ditinggal oleh mereka kemudian hanya menunggu mereka dari dalam outlet itu yang sedang memilih-milih baju. Dari jauh, aku sedikit tersenyum melihat keakraban mereka yang jarang aku lihat. Padahal awal Herlin masuk kesini karena ingin membantuku membalas dendam kepada Hasuki-san. Tapi sekarang malahan mereka yang kelihatan akrab.
Hasuki-san yang menyadari kalau aku diam menunggu diluar kemudian mengajakku masuk ke dalam untuk menilai mana baju yang bagus untuk mereka. Aku pun masuk ke dalam sana meskipun sedikit memalukan.
"Kalau begitu, nilai kami dengan jujur ya, Iraya-kun?!"
"Kenapa aku harus ikut mencobanya?"
Mereka berdua masuk ke dalam ruang ganti dan mencoba pakaian itu. Meskipun terus menggerutu, tapi Herlin tetap mencoba pakaian yang ia rasa bagus. Apa-apaan itu, ternyata kau juga menikmati ini, kan?
Setelah beberapa lama di dalam akhirnya Herlin dan Hasuki-san keluar dengan baju yang sebelumnya mereka pilih.
"Bagaimana, Iraya-kun?"
"Itu terlihat sangat cocok denganmu."
"Terima kasih, Iraya-kun. Aku senang mendengarnya."
Bagaimana apanya? Apapun yang kau pakai, kau akan tetap terlihat cantik, Hasuki-san! Lalu kemudian aku melihat kearah Herlin. Ia memilih baju casual lengan pendek dengan warna yang kalem. Serta rok selutut yang membuatnya tampak feminim. Tidak ada kata lain selain 'SUPER IMUT!". Tapi ….
"Ya, itu kelihatan bagus," ucapku dengan suara dan wajah yang datar.
"Entah kenapa aku sangat ingin memukulmu saat ini."
"Baiklah! Aku akan membayar baju yang Ririsaka-san ingin beli."
"Eh? Tidak, itu tidak perlu—"
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Ini adalah pertama kalinya aku belanja denganmu, jadi anggap saja ini sebagai hadiah, ya?"
"Ba-Baik …."
Orang kaya memang beda! Tapi sepertinya Hasuki-san masih belum puas hanya dengan berbelanja. Ia kelihatan masih ingin pergi ke suatu tempat dari wajahnya yang memikirkan sesuatu.
"Nee, aku lapar sekarang. Ayo kita makan dulu sebelum pulang."
"Aku sudah makan, jadi—"
"Ayo kita makan."
Herlin menghentikanku yang sedang ingin menjelaskan kalau kita baru saja makan tadi. Tapi kenapa dia masih mau makan? Dan juga wajah Hasuki-san kelihatan senang sekali.
Pada akhirnya kami tetap pergi menuju ke restoran untuk makan. Hah … makanan yang kami pesan juga sama. Ini pertama kalinya aku makan hamburger dalam kurun waktu kurang dari dua jam.
"Wah! Ini pertama kalinya aku makan makanan seperti ini."
"Apa sebelumnya tidak pernah?"
"Ya, koki keluarga kami selalu menyiapkan makanan untukku. Jadi aku tidak pernah punya kesempatan untuk makan makanan seperti ini."
"Heh~"
Hasuki-san kembali memakan hamburger itu dengan gembira. Tanpa sadar itu membuat makanannya terlihat sangat enak. Aku kemudian mencoba milikku dan rasanya masih sama saja seperti hamburger biasa.
Setelah makanan kami habis, tiba-tiba smartphone Hasuki-san berdering. Ia melihat kontak yang menelponnya dan wajahnya langsung kelihatan tidak senang. Ia kemudian mengangkat telepon itu agak jauh dari sehingga aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
"… Baik, aku akan segera pulang …."
Hasuki-san kemudian kembali ke tempat duduknya. Tapi kali ini wajahnya terlihat berbeda, wajahnya nampak lebih suram daripada yang biasanya. Aku pun mencoba untuk menanyakan keadaannya.
"Hasuki-san, apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Tidak ada apa-apa, kok."
Hening sebentar membuat suasananya tiba-tiba dingin. Lalu Hasuki-san kembali mengatakan sesuatu.
"Nee, Iraya-kun, Ririsaka-san. Maaf aku tidak bisa pulang bersama kalian. Mobilku sudah menjemputku."
"Ahh, nn, baiklah."
Hasuki-san kemudian berdiri dan segera meninggalkan restoran ini. Tapi sebelum keluar, ia sempat mengatakan sesuatu kepada kami.
"Terima kasih atas hari ini, itu tadi sangat menyenangkan. Sampai jumpa di sekolah nanti, Iraya-kun, Ririsaka-san."
Ia melambaikan tangannya pelan yang disambut oleh kami berdua lalu kemudian pergi dari sini. Aku tidak tau kenapa, tapi senyumannya tadi seperti dipaksakan olehnya. Dan juga kata-katanya terdengar sangat sedih dan dalam.
"Jangan terlalu dipikirkan."
"Eh? Herlin?"
"Apapun yang kau pikirkan tadi, yang pasti kau khawatir kepadanya, kan?"
"Ya, begitulah."
"Tidak usah khawatir, karena jika ada sesuatu yang menimpanya …."
Herlin melihat kearah tas belanja yang di dalamnya terdapat baju yang dibelikan oleh Hasuki-san tadi.
"… Aku pasti akan membalas budiku."
Bersambung
__ADS_1