
Cecilia kemudian mengangkat wajah Astaroth yang menunduk dan membuatnya menatap matanya secara paksa. Astaroth yang masih mencoba beregenerasi meskipun kecepatan regenerasinya menurun drastis, hanya pasrah menatap mata Cecilia.
"Tatap mataku … dan rasakan neraka yang kau ciptakan sendiri."
Aku yang sedang berada di ruangan Cecilia pun tidak tahu rencana apa yang dimiliki olehnya saat ini, yang bisa aku lakukan hanyalah percaya padanya.
Astaroth menatap mata Cecilia dalam. Ia menatap iris mata oranye itu dan kemudian mulai masuk ke dalam sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, sebuah halusinasi yang diciptakan oleh Cecilia khusus untuk Astaroth.
Saat Cecilia sedang melakukan sesuatu, Ishikawa-san dan Mei-senpai yang tadi terpental jauh karena menahan serangan Astaroth, kembali ke dalam Family Mart dan menghampiri Herlin yang sedang memegangi lehernya akibat dicekik barusan.
"Herlin-chan, kau tidak apa-apa?" tanya Ishikawa-san.
Herlin tidak menjawab, ia menghentikan mereka berdua yang berniat untuk menghampirinya dengan gestur 'stop' menggunakan tangannya. Herlin kemudian menunjuk ke arah Banshee dan membuat mereka mengerti kalau untuk saat ini mereka berdua tidak boleh mendekat.
Banshee sedang dalam mode waspada sekarang dan ia akan menganggap siapapun yang mendekati Herlin sebagai ancaman.
"Aku … tidak apa-apa, hanya sedikit goresan saja."
"Aku mengerti."
Secara perlahan Ishikawa-san kemudian mundur bersama dengan Mei-senpai. Mereka mengerti keadaannya dan memutuskan untuk melihat apa yang dilakukan Cecilia saja dari jauh.
Tetsu yang juga terpental ke salah satu kulkas di Family Mart bangun dan mengusap kepala belakangnya yang terbentur cukup keras.
"Adududuh … aku kira aku akan mati."
"Inang Subject C …, sepertinya ia memiliki rencana."
"Hmm …?"
Nimis dan Ardenter yang sebelumnya juga kalah berdiri di samping Tetsu memperhatikan keadaan. Sementara Tetsu masih bingung dan bertanya-tanya dalam hati apa mereka sebenarnya musuh atau bukan.
"Jadi kalian tidak akan menyerang Iraya lagi?"
"Tidak, untuk sekarang tidak …. Dan mungkin untuk seterusnya juga," jawab Nimis.
Tetsu menganggap kalau jawaban Nimis barusan menandakan kalau mereka sudah tidak berbahaya lagi, jadi ia bisa sedikit tenang saat ini. Dengan luka dan tenaga yang ia miliki saat ini, Tetsu juga sudah tidak bisa bertarung di luar Pedang Iraya lagi. Ia hanya bisa jadi penonton sekarang.
Saat Nimis dan Ardenter sedang melihat Cecilia dan Astaroth yang sedang dalam keadaan pasif, tiba-tiba Tetsu mengucapkan sesuatu.
"Itu bukan Iraya," ucap Tetsu
"Apa? Apa kau bilang sesuatu?"
"Orang yang sedang memegang kepala Ketua Kelompok kalian itu bukan Iraya …, dia adalah Cecilia."
"Cecilia?"
Nimis seperti pernah mendengar nama itu. Dan ia pun ingat kalau itu adalah nama yang diberikan oleh Inang Subject C kepada Subject C. Orang bodoh yang memberikan bahan eksperimen sebuah nama, dan nama yang ia berikan adalah Cecilia.
"Maksudmu dia menukar kesadarannya dengan Subject C itu?!"
"Iya."
"Apa dia gila?! Subject C bisa saja mengambil kesadarannya seutuhnya dan mengendalikan tubuhnya sesuka hatinya."
"Mungkin saja, tapi aku yakin kalau dia tidak akan melakukannya."
"Apa?! Bagaimana kau bisa seyakin itu?!"
"Kita lihat saja nanti."
Percakapan antara Tetsu dan Nimis pun selesai. Nimis masih tidak bisa percaya sepenuhnya dengan apa yang aku lakukan, karena dia belum mengetahui hubunganku dengan Cecilia. Tapi ya itu wajar saja mengingat Cecilia adalah monster yang menyeramkan sebelumnya.
Dan sekarang aku bisa melihat jelas, halusinasi yang dibuat oleh Cecilia yang akan membuat Astaroth menyerah dan mati. Aku mempercayakan semuanya padamu, Cecilia!
**
Astaroth membuka matanya. Ia sedikit menyipitkan matanya karena tiba-tiba matahari sedang berada pada puncaknya, padahal sebelumnya ia yakin kalau pertarungan terjadi pada pagi-pagi buta.
"Apa ini?"
Dengan perasaan yang masih bingung bercampur penasaran, Astaroth mulai berjalan lurus tanpa tujuan yang jelas. Ia sadar kalau dirinya juga sedang tidak berada di Family Mart dan anggota Black Rain lainnya tidak ada di sini.
Sambil berjalan, ia memeriksa tubuhnya sendiri. Semuanya bersih, pakaiannya tidak ada yang kotor atau robek-robek, tidak ada luka bekas pertarungan, atau bekas darah kering sedikitpun. Pertarungan itu seakan tidak pernah terjadi bagi dirinya.
Ia terus berjalan sampai pada akhirnya ia menemukan sebuah tempat dengan banyak orang dan banyaknya bola-bola sinar sebesar bola pingpong. Seakan terisolasi dari dunia luar karena berada di tengah hutan belantara dan ditutupi oleh rimbunnya pepohonan hutan.
Orang-orang yang berada di sana terlihat bahagia menikmati hidup mereka. Meskipun tidak ada tempat tinggal yang bisa disebut sebagai rumah, tapi itu tidak masalah bagi mereka. Pria, wanita, bahkan anak-anak kecil semuanya tersenyum dan tertawa.
Di tengah tempat itu, terdapat pohon yang lebih besar dari pohon-pohon lainnya di sekitarnya. Banyak juga bola cahaya dan manusia yang berada di pohon itu.
Dengan rambut warna-warni yang jarang dimiliki oleh manusia secara lahir. Warna biru muda, hijau gelap, pink gelap, ungu, dan lainnya semuanya ada di sini. Dan karena hal itu, Astaroth menyadari satu hal yang penting setelah melihatnya.
"Mereka bukan manusia, mereka ini …."
Ucapan Astaroth terhenti ketika melihat salah satu bola cahaya tadi turun dari atas pohon. Saat sudah sampai di tanah, perlahan-lahan cahayanya mulai bersinar lebih terang dan membesar lalu beberapa menit kemudian muncul seorang pria dewasa yang langsung menghampiri salah satu anak kecil dan memeluknya.
"… Spirit," lanjut Astaroth yang sebelumnya sempat terhenti.
Meskipun sudah mengetahui fakta itu, tapi Astaroth masih belum mengerti kenapa ia bisa berada di sini. Ia yang dari tadi bersembunyi di balik salah satu pohon pun kemudian berdiri dan berniat untuk pergi dari sana.
"Aku tidak punya waktu untuk menangkap Spirit sekarang, aku harus menghancurkan Black Rain."
Duaaarrrr… Duaaarrrr… Brraaakkhh…
"??!!!"
Tiba-tiba rentetan ledakan terjadi menghancurkan pepohonan dan membuat para Spirit tadi panik. Mereka yang masih memproses apa yang sedang terjadi diberikan kesempatan untuk berpikir ketika serangan selanjutnya datang.
Blaaaaaarrr… Blaaaaaarrr… Doorrr… Doorrr…
Orang-orang dengan armor anti peluru, senjata api berkaliber tinggi, serta masker tempur yang mereka pakai masuk menerobos kedamaian para Spirit itu. Mereka semua secara drastis mengubah tempat bak surga ini menjadi neraka.
Para Spirit itu kemudian ditembak dan ditusuk dengan pisau, ada juga yang dibakar hidup-hidup. Setelah para Spirit itu terkena luka yang cukup parah, mereka semua berubah menjadi bola cahaya dan orang-orang berseragam lengkap tadi menangkap mereka dan menaruhnya di dalam tabung kaca transparan.
Teriakan serta tangisan ketakutan menjadi suasana yang mendominasi tempat itu ketika mereka datang. Tapi mereka tidak pasrah begitu saja ketika dibantai, ada seseorang yang melawan dan mulai menyerang pasukan bersenjata tadi.
"Haaakhh …!! Gaakkhh …!!"
Beberapa orang bersenjata tadi mati terkena serangan seorang Spirit itu, pria dewasa dengan wajah marah serta air mata yang berlinang tidak jatuh ke pipinya ketika melihat Spirit-Spirit lainnya dibantai.
Ia dengan gagahnya menghabisi hampir semua pasukan bersenjata itu sendirian. Astaroth tidak melakukan apa-apa ketika melihat hal itu, ia yang awalnya ingin pergi pada akhirnya penasaran dan menyaksikan semuanya. Ia seperti familiar dan tidak asing dengan suasana ini.
Dan rasa herannya kemudian hilang berganti dengan rasa terkejut saat melihat seseorang datang berhadapan dengan Spirit pria itu. Matanya melebar ketika ia melihat seseorang yang ia kenal di sana, seseorang yang tidak ia sangka-sangka sama sekali.
"Kenapa … diriku bisa ada di sana?"
Astaroth lainnya berdiri di depan Spirit dewasa itu. Ia sama sekali tidak takut dengan Spirit itu dan hanya berdiri santai menunggunya menyerang. Sementara Spirit tadi dengan perasaan yang dibutakan amarah, berlari menerjang Astaroth lainnya dan mulai menyerangnya.
Craaasshh…
Tapi Spirit itu tidak memiliki kesempatan sama sekali di hadapan Astaroth lainnya. Saat dia menerjang, Astaroth lainnya dengan mudahnya menghindari serangan Spirit itu dan menusuk dada Spirit itu dengan tangannya.
Syiiing…
__ADS_1
Tidak ada darah yang keluar dari Spirit itu, karena Spirit memang tidak memilikinya. Dengan lukanya yang parah tersebut, tubuh Spirit tadi kemudian bersinar dan akhirnya menghilang berubah menjadi bola cahaya yang Astaroth lainnya tangkap dan ia masukkan ke dalam tabung kaca transparan berukuran botol minum biasa bersama dengan Spirit lainnya.
"Jangan bilang … kalau ini adalah ingatanku …?"
Astaroth lainnya kemudian menengok ke arah Astaroth yang sekarang. Astaroth yang sekarang hanya terkejut dan diam ketika matanya bertatapan dengan dirinya sendiri. Wajah Astaroth lainnya terlihat lebih segar dari pada Astaroth yang sekarang.
"Heh …!"
Ujung bibir Astaroth lainnya terangkat ketika ia melihat Astaroth yang sekarang sedang bersembunyi. Lalu setelah itu Astaroth yang sekarang tanpa sadar berkedip dan dirinya sudah pindah ke tempat lainnya.
Degh…
"Ap—? Sekarang dimana aku?"
Kali ini Astaroth berada di sebuah gedung laboratorium di malam hari. Gedung laboratorium yang sudah ia sangat kenal, karena ini adalah laboratorium miliknya sebelum dihancurkan oleh Black Rain dan Red Flame.
"Ternyata benar, aku sedang berada dalam ingatanku sendiri. Apa aku terkena jurus musuh?"
Pemikiran-pemikiran liar terus tercipta di kepala Astaroth saat ini, tapi ia memutuskan untuk mengikuti alur kemana ingatannya ini akan membawanya. Dia kembali mengendap-endap dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Beberapa orang masuk ke dalam sebuah ruangan yang sebelumnya sudah ditempati oleh Astaroth, jadi dia tinggal bersembunyi saja. Ruangan ini adalah ruangan luas dengan sebuah tabung kaca berukuran 2 meter di tengahnya, lalu ada ratusan tabung kaca kecil berukuran sebesar botol minum yang didalamnya telah terisi banyak bola-bola cahaya.
Tabung-tabung kaca kecil itu dihubungkan dengan kabel tebal yang langsung tertuju pada tabung besar di tengah. Beberapa orang yang tadi masuk ke dalam ruangan kemudian mulai memeriksa untuk segera melakukan percobaannya.
"Suhu stabil, kelembaban udara juga baik, kita bisa memulainya sekarang!" ucap salah satu orang dengan jas lab yang merupakan seorang peneliti.
"Aku mengerti!"
Setelah mereka rasa semuanya sudah siap, salah satu peneliti yang berada di ruangan lain sedang mengawasi lewat kaca anti peluru mulai menjalankan programnya. Ia menekan banyak tombol dan akhirnya menekan sebuah tombol merah bulat yang lebih besar dari tombol lainnya.
Piip…
Astaroth yang sedang bersembunyi kemudian menyadari kalau salah satu dari para peneliti itu adalah dirinya. Astaroth lainnya memperhatikan tabung kaca besar yang kosong itu dan kemudian ia ditanya oleh salah satu peneliti.
"Bos, berapa banyak Spirit yang dipakai untuk membuat makhluk ini?"
Tanpa menengok kearahnya, Astaroth lainnya menjawab pertanyaan peneliti tadi dengan tenang tapi juga bangga pada dirinya sendiri.
"378.443 Spirit yang aku tangkap dari 200 tempat yang berbeda. Perjuanganku selama dua tahun di negeri ini akhirnya telah membuahkan hasil, aku memang sudah membuat Subject A dan Subject B sebelumnya. Tapi ini … akan menjadi mahakarya yang sesungguhnya."
Prosesnya sudah dimulai. Spirit-Spirit yang berada di dalam tabung kaca kecil mulai bergerak menuju ke tabung kaca terbesar di tengah lewat kabel-kabel yang terhubung di sana.
Syiiing… Syiiing…
Spirit-Spirit berbentuk bola cahaya itu mulai masuk dan mulai berkumpul menghasilkan sinar yang lumayan terang. Peneliti yang berada di balik tembok kaca anti peluru terus memeriksa statistik keadaan Spirit baru mereka.
"Suhu mulai meninggi …. 30 … 40 … 50° Celsius … dan terus berjalan."
Peneliti-peneliti yang berada di dekat Astaroth lainnya mulai ketakutan karena suhu yang semakin tinggi yang bisa saja meledakkan tempat ini, tapi Astaroth lainnya sama sekali tidak peduli dengan hal itu dan terus melihat mahakaryanya dengan bangga.
"A-Aku keluar dari sini!"
Semakin banyak Spirit-Spirit yang masuk ke dalam tabung kaca besar, semakin tinggi juga suhu yang dihasilkan. Kali ini sudah setengah perjalanan dan Spirit-Spirit tadi masih terus bersatu.
Kraaakk… Kraaakk…
"200 … 250 … 300 …. Bos! Kita harus menghentikannya, kalau tidak tempat ini akan meledak!"
"Lanjutkan!"
"Ta-tapi …."
"Tidak usah pedulikan yang lain. Lanjutkan saja seperti apa yang aku bilang."
"Ba-Baik."
Tabung kaca kecil yang sudah kosong kemudian pecah karena tidak kuat menahan panas yang terus meningkat. Begitu juga dengan tabung kaca besar yang sudah mulai terlihat retakannya.
"Ayo terus … kalian pasti bisa."
Tiiiit…
"Prosesnya berhasil terlaksana, awas ledakan!"
Praaankk… Blaaaaaarrr…
Setelah prosesnya berhasil, tabung kaca itu sudah tidak kuat menahan panas yang hampir mencapai seribu derajat Celcius. Ledakan juga terjadi dan langsung menghancurkan dan melelehkan ruangan itu, kecuali Astaroth lainnya.
Ia masih berdiri dengan santainya di sana, dengan luka bakar yang parah tapi mulai beregenerasi kembali. Ia menjadi saksi pertama suksesnya penelitian miliknya sendiri.
Seorang Spirit bertubuh wanita dengan rambut sepanjang punggung dan iris mata berwarna oranye muncul dari tengah-tengah ledakan tadi tanpa busana dan menatap langsung ke arah Astaroth lainnya. Tatapannya sangat tajam dan dirinya terlihat begitu anggun juga indah.
"Selamat datang, wahai ciptaanku."
Astaroth yang sekarang yang juga menyaksikan dari tempat tersembunyi juga ikut merasa bangga dengan yang dilihatnya, karena mau bagaimana pun dirinyalah yang membuat Subject C menjadi hidup.
"Kenapa musuh membuatku mengingat hal yang paling aku senangi?"
Degh…
Subject C tiba-tiba melihat ke arah Astaroth yang sekarang yang sedang bersembunyi. Tatapan membunuh darinya itu membuat jantungnya sedikit berdebar, tapi masih bisa ia hadapi dengan tenang.
"Aku berpindah lagi?"
Ia tanpa sadar mengedipkan matanya dan saat membukanya, dirinya sudah berada di tempat lainnya lagi. Kali ini ia berada di sebuah padang rumput yang luas dan langit biru muda yang cerah.
Tidak ada yang lainnya sepanjang mata memandang, hanya padang rumput biasa dan tidak ada yang aneh juga. Astaroth yang bingung kemudian mulai berjalan lagi berharap menemukan sesuatu.
Ia sudah berjalan selama lima menit, tapi tidak ada perubahan yang signifikan. Semuanya masih terlihat sama saja, Astaroth mulai merasa kalau usahanya sia-sia sampai ia mendengar sesuatu dari belakangnya.
Tap…
"Hmm?"
Saat ia menengok ke belakang, ada seseorang di belakangnya. Wajah yang tidak asing baginya tapi juga tidak terlalu dikenalinya. Dia adalah Spirit pria yang dikalahkan oleh Astaroth saat itu.
"Kau …? Apa yang—?!"
Mata Astaroth melebar ketika melihat satu demi satu Spirit-Spirit yang ia tangkap dulu muncul di hadapannya. Spirit-Spirit itu mengelilinginya dan membuatnya berada di tengah-tengah 378.443 Spirit yang marah. Seketika padang rumput yang luas tadi ditutupi oleh Spirit-Spirit yang bermunculan barusan.
"Apa yang kalian lakukan di sini? Bukankah kalian seharusnya sudah mati?!"
"…."
Tidak ada jawaban. Hanya tatapan penuh kebencian dan amarah yang mereka tunjukkan pada Astaroth. Astaroth yang merasa dirinya lebih diunggulkan dari segi kekuatan masih menyombongkan dirinya sendiri meskipun lawannya sangat banyak.
"Seharusnya kalian tahu tempat kalian, dasar makhluk percobaan!"
Astaroth mengarahkan telapak tangannya ke arah Spirit-Spirit itu. Ia mencoba mengumpulkan auranya dan menyerang mereka. Tapi setelah lama menunggu, tidak ada apapun yang terjadi, ia malah melihat ke arah telapak tangannya sendiri sambil kebingungan.
"Kekuatanku … tidak ingin keluar?"
Craaasshh…
Saat Astaroth masih dalam keadaan bingung, tiba-tiba pandangannya menjadi lebih pendek dari sebelumnya dan seakan dijatuhkan oleh seseorang. Tapi bukannya dijatuhkan, melainkan kepalanya terpisah dari tubuhnya karena ia bisa melihat tubuhnya dan ia menyadari kalau kepalanya menggelinding menjauh.
__ADS_1
"A-Apa yang sebenarnya terjadi?"
Degh…
Setelah memenggal kepala Astaroth, Spirit pria tadi menghilang menjadi bola cahaya kecil lalu terbang ke langit. Meskipun bagi mereka sudah selesai, tapi tidak untuk Astaroth.
Pandangannya kembali lurus dan tingginya kembali sama. Kepalanya kembali utuh dan berada di tempatnya yang semestinya. Ia juga memegang lehernya untuk memastikan hal itu dan mendapatkan kalau tidak ada bekas penggalan di lehernya.
"Aku sudah sembuh?"
Srrkk… Srrrkk… Braaakhh…
Walaupun kepalanya sudah kembali seperti semula, tapi gerombolan Spirit-Spirit marah itu masih belum terpuaskan. Kali ini giliran tanah pijakan di bawah Astaroth yang runtuh dan membuatnya terjatuh, entah kenapa kekuatannya tidak bisa digunakan sepenuhnya di sini.
"Si-Sial!"
Astaroth mencoba meraih sesuatu agar ia tidak jatuh ke bawah, tapi tidak ada yang bisa ia raih dan akhirnya jatuh ke dalam kolam lava yang bisa melelehkan apapun yang terjatuh ke dalamnya.
"AaaArrRgghh …!!!!"
Teriakan Astaroth terdengar seiring dengan kulitnya yang mulai terkelupas dan tulangnya yang mulai meleleh menghilang dipanaskan oleh lava dibawahnya. Dan setelah beberapa detik kemudian, semua bagian tubuh Astaroth sudah menghilang dan meleleh sempurna dengan lava.
Degh…
Astaroth membuka matanya lagi dan tubuhnya sudah kembali seperti normal lagi. Salah satu Spirit kemudian berubah menjadi bola cahaya dan terbang ke langit sama seperti yang sebelumnya.
Astaroth menyentuh tubuhnya yang sudah tidak apa-apa dan masih utuh, tapi meski begitu masih ada ratusan ribu kemarahan Spirit yang belum terpuaskan. Jadi Astaroth harus menghadapi bermacam-macam siksaan yang dipilih oleh masing-masing Spirit itu.
Dan kemudian penyiksaan untuk Astaroth terus berlanjut yang masih ia harus rasakan sebanyak 378.441 kali lagi.
**
Kembali ke Family Mart, beberapa menit telah berlalu saat Cecilia yang mengambil kesadaranku memegang kepala Astaroth dan membuatnya menatap mata Cecilia secara paksa.
Keheningan terjadi dan tidak ada satupun dari mereka yang berani untuk mendekat. Tapi hanya ada satu orang yang mulai bergerak mendekati Cecilia, dia adalah Herlin. Ia terlalu penasaran untuk hanya diam dan menonton saja, jadi ia datang mendekatinya.
"Banshee … kembali."
Tapi sebelum ia mulai bergerak, Herlin memerintahkan Banshee untuk kembali ke dalam mode tidak terlihatnya agar tidak membahayakan teman-temannya. Banshee pun kemudian menghilang dan Herlin berjalan menghampiri Cecilia.
"Cecilia, apa yang sedang kau lakukan?"
"Aku sedang melakukan pembalasan padanya—tidak, lebih tepatnya ratusan ribu Spirit yang ada di dalam tubuhku sedang melakukan pembalasan padanya."
"Pembalasan?"
"Benar, dan sekarang prosesnya sedang berjalan."
Herlin yang sudah mengetahui maksud perbuatan Cecilia pun tidak ingin tinggal diam. Ia melirik ke arah pedang Iraya yang tergeletak tepat di sampingnya dan ia merencanakan sesuatu dengan hal itu.
**
Sementara bagi Astaroth sendiri, waktu di sini sudah berjalan selama lebih dari dua Minggu. Dan selama periode waktu itu, siksaan demi siksaan terus diberikan tanpa henti padanya. Dan kemudian datanglah siksaan terakhir karena yang lainnya sudah menghilang menjadi bola cahaya.
Spirit terakhir yang tersisa adalah seorang anak kecil yang memegang dua belati di tangannya. Ia berjalan pelan menuju ke Astaroth yang sudah terlutut dan tertunduk lemas akibat siksaan yang tak kunjung berhenti.
Astaroth mengangkat kepalanya lemah ke arah Spirit kecil itu, dengan tatapan marah dan menahan tangisannya, Spirit kecil itu dengan sekuat tenaga menusukkan dua belati yang ia pegang secara bersamaan ke kedua mata Astaroth.
"HIIYYAAAHH !!"
Craaasshh…
Kedua belati itu menusuk tepat ke bola mata Astaroth sampai menembus tengkoraknya dan ikut melukai otaknya. Astaroth pun kemudian jatuh tersungkur dan mati seketika. Spirit kecil itu kemudian bergabung dengan Spirit lainnya menjadi bola cahaya dan terbang ke langit.
Degh…
Astaroth yang tadi mati akhirnya kembali hidup lagi dan kembali ke posisi terlututnya. Ia sudah lelah dengan kematian yang tidak ada habisnya dan wajahnya pun sudah menunjukkan kalau ia ingin semua ini berakhir. Lagipula dia sudah mati sebanyak 378.443 kali, jadi wajar kalau ia kelelahan.
Tap… Tap… Tap…
Walaupun ia yakin kalau penyiksaan yang ia rasakan sudah selesai, tapi samar-samar ia mendengar suara langkah kaki mendekatinya. Kibaran rambut hijau yang terkena angin membuat Astaroth dengan cepat mengenali orang yang mendekatinya.
"Akhirnya kau sendiri yang datang, wahai ciptaanku."
"…."
"Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu setelah membunuhku ratusan ribu kali?"
Cecilia tidak menjawabnya. Astaroth yang penasaran kenapa dia tidak menjawab kemudian mengangkat kepalanya dan melihat Cecilia yang sedang membawa pedang Iraya yang telah hancur.
"Pedang itu …?"
"Benar, ini pedang milik Iraya."
Praaankk…
Pemandangan padang rumput dan langit biru yang luas kemudian perlahan menghilang dan pecah bagaikan kaca. Astaroth sudah kembali ke Family Mart tempat ia memang seharusnya berada dan dihadapannya bukanlah Cecilia, melainkan Herlin.
Regenerasi Astaroth berhenti dan sepertinya ia sudah tidak memiliki kemampuan itu lagi karena sudah kelelahan saat di alam ilusi tadi. Tapi itu tidak penting bagi Astaroth, karena ia penasaran dengan orang yang ada di depannya saat ini.
Ia memperhatikan wajah Herlin dengan teliti. Rambut pirang lurus dan iris mata hijau, seakan mengingatkannya pada sesuatu. Lalu mata Astaroth melebar, ia merasa dirinya sangat bodoh karena tidak menyadarinya dari lama. Ia pun bertanya pada Herlin untuk memastikannya sendiri.
"Kau … lalu Banshee itu, jangan-jangan …."
"Hm?"
"Keluarga Blaircass … Herlinia …?"
Mata Herlin melebar saat Astaroth menyebut nama itu. Sekelebat ia kembali mengingat mimpinya saat ada seseorang yang memanggilnya dengan nama yang sama. Meskipun bingung dan penasaran, tapi Herlin memutuskan untuk menenangkan dirinya lalu menutup mata serta menarik nafas dalam-dalam.
Setelah tenang, ia kemudian membuka matanya perlahan dan melihat ke arah wajah Astaroth yang masih penasaran dengan identitas asli Herlin. Tapi Herlin menjawab pertanyaan Astaroth itu dengan jawaban yang sudah pasti.
"Bukan, namaku Ririsaka Herlin."
Craaasshh…
Setelah menjawab pertanyaan Astaroth, Herlin kemudian memenggal kepala Astaroth dan pada akhirnya membuatnya mati sungguhan kali ini bersamaan dengan tubuhnya yang juga ambruk ke tanah.
"Kau boleh keluar sekarang," ucap Cecilia.
Aku pun kembali bisa mengendalikan tubuhku. Rambut dan iris mataku juga sudah kembali normal. Aku kemudian menghampiri Herlin yang menjatuhkan pedangku yang sudah hampir tidak bisa dipakai lagi.
"Sudah berakhir," ucap Herlin.
"Benar."
Saat aku ingin menghampirinya, Herlin malah bergerak ke arahku dan dengan erat memelukku. Ia memelukku sangat erat dan tentunya membuatku salah tingkah, tapi tiba-tiba Herlin melirihkan sesuatu pelan yang tidak sengaja bisa kudengar.
"Kita menang, Oita-san."
Aku mengerti sekarang. Dia hanya bersyukur karena semuanya sudah selesai dan ingin memberitahukannya kepada Oita-san yang sudah tidak ada, jadi dia melampiaskannya padaku. Aku yang sempat ragu untuk membalas pelukannya akhirnya memeluknya erat dan mencoba menenangkannya.
"Sudah, sudah, semuanya sudah baik-baik saja."
Bersamaan dengan matahari yang mulai terbit, hasil pertarungan sengitu antara Black Rain melawan Astaroth sudah terlihat, yaitu kemenangan bagi kami.
__ADS_1
Bersambung